<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Samurai Jagoan &#187; toko baju</title>
	<atom:link href="http://www.samuraijagoan.com/tag/toko-baju/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://www.samuraijagoan.com</link>
	<description></description>
	<lastBuildDate>Mon, 30 Aug 2010 07:44:39 +0000</lastBuildDate>
	<generator>http://wordpress.org/?v=2.8.6</generator>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
			<item>
		<title>selalu di perdebatkan</title>
		<link>http://www.samuraijagoan.com/2009/06/17/selalu-didebatkan/</link>
		<comments>http://www.samuraijagoan.com/2009/06/17/selalu-didebatkan/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 17 Jun 2009 18:25:38 +0000</pubDate>
		<dc:creator>samurai</dc:creator>
				<category><![CDATA[Artikel Menarik]]></category>
		<category><![CDATA[bank]]></category>
		<category><![CDATA[bisnis]]></category>
		<category><![CDATA[entrepreneur bodoh]]></category>
		<category><![CDATA[hutang]]></category>
		<category><![CDATA[kartu kredit]]></category>
		<category><![CDATA[kredit]]></category>
		<category><![CDATA[kredit tanpa agunan]]></category>
		<category><![CDATA[personal loan]]></category>
		<category><![CDATA[toko baju]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.samuraijagoan.com/?p=483</guid>
		<description><![CDATA[pada saat saya membuka FB-nya mr. danton prabawanto seorang kawan baik saya, ada sesuatu yang menarik perhatian disana, disitu dalam kalimat di salah satu status-nya berbunyi &#8216;ingat tujuan utama adalah punya bisnis, bukan banyak2 kan hutang&#8230;&#8217; 

kalimat status ini sangat menarik perhatian saya,  bukan karena apa-apa, tapi lebih karena hampir  lima tahun terakhir ini saya [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p class="UIIntentionalStory_Message" style="text-align: justify;">pada saat saya membuka FB-nya mr. danton prabawanto seorang kawan baik saya, ada sesuatu yang menarik perhatian disana, disitu dalam kalimat di salah satu status-nya berbunyi <span style="color: #ff0000;">&#8216;ingat tujuan utama adalah punya bisnis, bukan banyak2 kan hutang&#8230;&#8217; </span><a href="http://sekitarkita.com/wp-content/uploads/2009/05/monumenhutang.jpg"><img class="alignright" src="http://sekitarkita.com/wp-content/uploads/2009/05/monumenhutang.jpg" alt="" width="195" height="205" /></a><span id="more-483"></span></p>
<p style="text-align: justify;">
<p style="text-align: justify;">kalimat status ini sangat menarik perhatian saya,  bukan karena apa-apa, tapi lebih karena hampir  lima tahun terakhir ini saya akrab sekali dengan hutang atau kredit setelah selesai pelatihan entrepreneur.</p>
<p style="text-align: justify;">memang pada awalnya saya atau kita tertarik dengan hutang karena tidak punya modal uang buat usaha. lha kalo gak punya duit mau usaha apaan, gitu pikiran saya saat itu. pikiran polos seorang pemula.  ternyata kemudian dalam pelatihan itu saya dapat sesi tentang tips dan trik bagaimana mencari kredit. nah ini sangat menarik, karena saya mengalami sendiri bagaimana sulitnya mendapatkan kredit bank. dalam pikiran polos saya membayangkan suatu saat nanti jika dapat duit kredit dari bank tentunya saya akan bisa bikin usaha baru untuk menggantikan usaha leasing saya yang gagal.</p>
<p style="text-align: justify;">hutang untuk bisnis atau bisnis untuk hutang, memang sesuatu yang ribet untuk dipilih mana yang harus didahulukan atau mana yang lebih diutamakan.  tapi yang jelas pada awalnya sebagai seorang pemula yang polos dan lugu yang tertarik mengikuti pelatihan entrepreneur, saya pastinya pingin sekali punya bisnis  sendiri setelah selesai menjalani masa pelatihan.  karena pingin punya bisnis itulah makanya saya tertarik ikut pelatihan, dan berdasarkan pengalaman pribadi saya, terasa banget susahnya kalo gak punya duit dalam menjalankan bisnis.</p>
<p style="text-align: justify;">menurut saya keduanya saling berkaitan, saling bersahabat dan saling mendukung satu sama lainnya. pada kenyataannya di lapangan memang tidak ada bank yang mau memberikan kredit pada kita jika kita tidak punya bisnis, dan kalo sudah punya pun masih harus ada kriteria tertentu yaitu lamanya menjalankan usaha minimal antara satu sampai dua tahun. bank jarang sekali mau memberikan kredit pada bisnis yang baru dirintis, lha kalo kondisinya seperti ini, seorang pemula seperti saya kapan bisanya memulai bisnis. karena seorang pemula selalu berpikiran bisnis itu hanya bisa dijalankan hanya jika punya modal duit yang salah satunya didapat dari hutang bank.</p>
<p style="text-align: justify;">ruwet kan&#8230;.. <a href="http://langkahpertama.com/wp-content/uploads/2009/05/hutang-225x300.jpg"><img class="alignnone" src="http://langkahpertama.com/wp-content/uploads/2009/05/hutang-225x300.jpg" alt="" width="181" height="200" /></a></p>
<p style="text-align: justify;">untungnya dalam pelatihan tersebut diajarkan cara-cara yang simpel dan praktis dalam mengajukan kredit. nah karena otak polos saya bilang yang saya utamakan harus duit dulu, ya kemudian semua langkah-langkah dan semua daya upaya, saya fokuskan kearah mencari kredit bank. semua trik yang saya dapatkan dari pelatihan saya terapkan apa adanya sesuai yang diajarkan, dan itu saya lakukan setiap hari, diantara waktu saya mengantar dan menjemput istri saya berangkat dan pulang dari tempatnya bekerja. pikiran saya cuman satu, kalo saya lakukan semuanya sesuai prosedur dan saya percaya bahwa hal itu akan berhasil maka pada suatu saat pasti akan berhasil beneran. tapi beneran dan sungguhan dalam otak polos saya, sama sekali tidak muncul suatu bayangkan pun yang menyatakan kapan semua yang saya kerjakan ini akan menampakkan hasilnya.</p>
<p style="text-align: justify;">saya sudah lupa mungkin tiga sampai enam bulan saya lakukan semua metode yang diajarkan setiap harinya, kemudian disela-sela waktu yang ada,  yang saya lakukan juga adalah belajar dan menganalisa segala sesuatu yang nanti jika saya sudah dapat uang dari hutang  bank langsung bisa saya puterkan disitu sebagai bisnis saya. saat itupun otak polos saya juga belum mendapatkan bayangan apapapun tentang bisnis apa yang akan saya geluti nantinya. pokoknya hari-hari saya dilewati dengan praktek tentang trik berhutang dan mencari peluang usaha.</p>
<p style="text-align: justify;">ternyata apa yang menjadi kepercayaan saya tidaklah sia-sia, akhirnya saya pun memperoleh hutang pertama saya.  nggak banyak sih cuman sekitar tiga puluh juta saja, itupun bukan murni hasil usaha saya, itu lebih dari memanfaatkan kredibilitas istri saya sebagai karyawan.  suatu kenyataan yang terjadi sesungguhnya dan bukan omong kosong kalau menjadi entrepreneur itu sulitnya minta ampun, apalagi jika kita  hanyalah  seorang  entrepreneur pemula seperti saya pada saat itu.  tidak ada satu bank pun yang percaya pada kredibilitas saya,  makanya sekitar dua puluh bank langsung menolak aplikasi permohonan kredit yang saya  ajukan.</p>
<p style="text-align: justify;">putus asa sepertinya jauh deh dari diri saya, rasa penasaranlah yang lebih sering muncul. makanya saya tetep puter otak supaya bisa dapatkan itu yang namanya hutang. saat mengikuti sebuah seminar, saya dapatkan info bahwa status sebagai karyawan suatu perusahaan akan lebih mudah untuk mengajukan dan  memperolek kredit, apalagi jika pengajuan kreditnya dilakukan secara kolektif, yaitu diajukan secara bersama-sama lebih dari satu orang karyawan di dalam suatu bagian perusahaan dan disetujui langsung oleh pimpinannya. otak polos saya langsung menuju ke satu tempat, kantor istri saya. malemnya saya olah istri saya sehingga punya visi dan misi yang sama dan selama tiga hari berikutnya gantian  istri saya  yang mengolah teman-teman dan atasannya. seperti yang bisa diduga, gak sampai seminggu kredit pun cair dan bisa dinikmati.</p>
<p style="text-align: justify;">teorinya begitu dapat hutang, langsung pakailah untuk berbisnis supaya segera mendapatkan hasil yang bisa dipakai untuk membayar angsuran hutang itu. lagi-lagi otak polos saya telat dalam menangkap dan mencari peluang bisnis. jadi saat kami dapatkan uangnya, kami belum tau mau dipakai untuk apa uang tersebut. kalaupun terpakai untuk diputer dalam &#8216;bisnis&#8217; itu juga kalo bisa disebut bisnis, jumlahnya jauh dari total uang pinjaman yang kami peroleh.</p>
<p style="text-align: justify;">akhirnya dari pada bingung-bingung, duit yang tidak terpakai itu saya masukkan saja ke dalam rekening tabungan. karena duit yang tidak terpakai itu masih sangat banyak, jadinya jumlah saldo dalam rekening langsung meningkat drastis. pemandangan itu membuat saya kagum, karena sangat menyenangkan sekali jika memandang jumlah total saldo dalam rekening tabungan saya itu. jumlah uang terbanyak yang tercantum disana setelah kegagalan bisnis leasing saya. sangat menyenangkan sekali melihatnya.</p>
<p style="text-align: justify;">otak polos saya langsung berputar saat itu. jika saya saja suka, apalagi jika saya perlihatkan pada petugas bank sesuai dengan cara-cara dan metoda yang diajarkan dalam pelatihan., mereka tentunya juga  suka. untuk membuktikanya saya langsung praktek.  gak pake mikir berlama-lama, cukup sebulan waktu yang saya pergunakan untukberpraktek, dan hasilnya kemudian segera saya pakai untuk pengajuan kredit kembali.</p>
<p style="text-align: justify;">lagi-lgi dugaan dan perkiraan saya tepat, petugas bank sangat mentukai pemandangan yang tampak pada rekening tabungan saya. nggak terlalu mulus juga sih tapi hasil yang saya dapatkan jauh lebih tinggi dari yang saya perkirakan. pastinya ada pengajuan kredit saya yang ditolak oleh beberapa  bank,   tapi  dari pengajuan kredit saya yang disetujui, bila dihitung-hitung total yang saya peroleh bisa  bisa dua kali lipat dari kredit saya yang ditolak. secara hasil keseluruhan bila saya boleh bilang secara bangga dan percaya diri, sesungguh-sungguhnya pengajuan kredit saya tidak ada yang ditolak.</p>
<p style="text-align: justify;">meskipun apa bisnis yang mau saya jalankan belum ketemu, tapi saya dapat kredit dalam jumlah yang banyak dan besar. bentuk kredit yang saya peroleh pun macam-macam ada yang berupa kartu kredit, kredit tanpa agunan, persolal loan dan banyak nama lagi. dapat diduga jadinya rekening tabungan saya langsung menggelembung, duit saya jadi banyak.  tanpa saya tau duit itu harus saya puter dalam bisnis apaan.</p>
<p style="text-align: justify;"><a href="http://1.bp.blogspot.com/_-SLg73uLahY/SAm4duJjYcI/AAAAAAAAAIY/D6Im3kpn85E/s400/mban1545l.jpg"><img class="alignleft" src="http://1.bp.blogspot.com/_-SLg73uLahY/SAm4duJjYcI/AAAAAAAAAIY/D6Im3kpn85E/s400/mban1545l.jpg" alt="" width="224" height="248" /></a>karena bingung mau dipakai untuk bisnis apa duit hutang itu, akhirnya tawaran teman untuk berivestasi saya terima. tapi memang dasar nasib bukan keuntungan yang didapat tapi malah duit saya dibawa kabur. duit hasil hutang-hutangan hilang dibawa kabur orang yang kita kenal pula,  lumrahnya pasti muncul perasaan bingung donk, sedih, pusing, gimana nanti cara mbayarnya.  semua perasaan itu gak muncul dalam diri saya dan istri, hanya perasaan gemes dan mangkel terhadap orang yang membawa kabur duit itu  yang tetep muncul dan gak bisa hilang, bahkan sampai sekarang. perasaan kami biasa-biasa saja karena otak polos kami menganggap yang hilang itu bukan uang kami sendiri, melainkan uang banklah yang hilang dibawa kabur maling. saking mudahnya mendapatkan kredit tidak ada rasa menyesal terhadap berbagai kerugian yang timbul dalam perjalannya. perasaan biasa-biasa saja ini terulang pada saat awal krisis di akhir 2008 dimana sekitar seratus juta uang yang kami tanam di bursa saham menguap begitu saja.</p>
<p style="text-align: justify;">kembali ke awal perjalanan hutang. begitu banyak dan mudah hutang yang kami dapatkan ternyata bikin pusing juga. mau diapain duit-duit ini? malahan saya penah bilang kepada teman-teman, jika nanti kredit yag saya peroleh mencapai satu milyar saya akan traktir makan-makan. gak disangka gak dinyana target itu tercapai tiga-empat bulan setelah saya bicara, tentu saja teman-teman menagihnya dan saya gak bisa menolaknya.  akhirnya makan-makanlah kita semua, merayakan perolehan hutang satu milyar saya. saya rasa,  mungkin hanya itulah kejadian pertama dan terkhir kali yang bisa dijumpai, dimana ada orang yang bikin perayaan tentang total besarnya hutang yang diperolehnya.</p>
<p style="text-align: justify;">dengan banyaknya hutang yang saya peroleh, lupalah saya terhadap tujuan utama mencari hutang tadi. awalnya tujuan utama saya berhutang adalah buat bisnis. ternyata yang terjadi diluar dugaan, percepatan perolehan hutang lebih cepat dari perkembangan bisnis itu sendiri bahkan lebih cepat dalam mencari bisnis apa yang hendak diterjuni.</p>
<p style="text-align: justify;">dan dari pada pusing-pusing karena belum menemukan bisnis yang tepat, akhirnya saya taruh uang hutang tadi dalam bursa saham, investasi emas, investasi properti dan beberapa paket investasi lain. investasi memang menghasilkan tapi pastinya lebih kecil dan lebih lambat dari hasil perputaran sebuah bisnis. tapi dari pada duit hutang itu gak muter sama sekali lebih baik diputer pelan-pelan, toh tetep menghasilkan walaupun perlahan.</p>
<p style="text-align: justify;">sampai suatu saat saya menemukan bisnis beneran, jualan baju di mall. suatu  waktu saya ditawari oleh seorang teman untuk mengelola sebuah toko baju di mall. karena saya merasa punya modal yang cukup maka tawaran itu tidak saya sia-siakan, dan hasilnya semakin membuka jalan buat saya untuk punya bisnis yang nyata. kondisi membuat teman tadi tidak bisa bertahan lama  memgelola ditoko terebut dan meminta saya untuk membeli usahanya. dan saya belilah toko tadi. punya toko ternyata sangat menyenangkan dan bikin ketagihan sehingga tidak sampai setahun toko saya di mall berkembang menjadi empat buah.</p>
<p style="text-align: justify;">lagi-lagi dengan adanya bisnis toko baju ini membuat saya menjadi sangat dipercaya oleh bank, dan mulai pada saat saya diajak join oleh kawan tadi, sampai akhirnya toko saya berkembang menjadi empat buah, begitu banyak kucuran kredit yang saya peroleh. dalam setiap bulannya sekitar lima puluh sampai seratus juta-an kredit yang saya peroleh.</p>
<p style="text-align: justify;">kalo dilihat dari perjuangan awal yang sangat sulit dalam mencari hutang,  sampai kemudian begitu mudahnya saya mendapat kucuran hutang, pastilah tidak masuk akal.  tapi itulah yang sebenarnya terjadi. dan seperti yang sudah saya sebutkan bahwa kucuran hutang lebih cepat dari perkembangan dan perputaran roda bisnis. toko-toko saya semuanya dikelola dengan benar, jika saya bingung dengan managemen saya selalu bertanya kepada teman-teman dan dari mr. danton lah saya paling sering bertanya, biasanya diskusi dimulai dari maghrib sampai menjelang subuh. diskusi kami baru berakhir saat HP saya bunyi, telepon dari istri yang bertanya apakah saya tidak pingin pulang kerumah karena hari sudah subuh.</p>
<p style="text-align: justify;">dari diskusi tersebut banyak yang saya peroleh dan semua masukan tadi saya terapkan secara serius dan sungguh-sungguh di dalam pengelolaan toko. hasilnya perkembangan toko cukup bagus walaupun tidak  bisa dibilang sangat baik karena tetep saja hasilnya belum dapat menutupi pengeluaran pembayaran semua hutang saya. mungkin jika mr. danton tidak terburu menikah, peningkatan pengelolaan toko saya akan bisa lebih bagus lagi, sayangnya beliau terburu menikah sehingga setelah itu saya jadi nggak enak lagi kalo ngajak diskusi beliau sampai pagi, apa nanti kata isterinya.</p>
<p style="text-align: justify;">dengan saran atau tanpa saran mr. danton toko tetep profesional dijalankan dan tetep ada hasilnya,   begitu pula dengan hasil yang saya peroleh dari berbagai proyek investasi saya.  tapi tetep saja semua  hasil yang saya dapatkan belum bisa menutupi biaya pembayaran angsuran seluruh hutang saya.</p>
<p style="text-align: justify;">dimata saya toko-toko yang saya miliki tetep tidak bisa dikatakan sebagai bisnis, walaupun tidak separah komentar mr. danton dalam status FB-nya yang saya jadikan ide tulisan ini, beliau tulis<span style="color: #ff0000;"><span style="color: #000000;"> disitu</span> &#8216;bisnis Kalau rugi bukan bisnis berarti&#8217;  <span style="color: #000000;">kalo saya bilang, bukan hanya yang rugi yang bukan bisnis, yang hanya jalan ditempat atau yang dalam kondisi seperti saya, dimana perputarannya belom bisa menutupi seluruh pengeluaran tetep tidak bisa dikatakan sebagai bisnis.</span></span></p>
<p style="text-align: justify;">walau belum bisa disebut sebagai bisnis,   tapi toko-toko yang saya miliki tetep menjadi sarana  penghasil hutang terbesar.  bahkan saya akhirnya mengarang sebuah teori <span style="color: #ff0000;">&#8216;jika jumlah perolehan hutang lebih besar dari semua biaya yang dikeluarkan setiap bulan maka kondisi tersebut bisa dikatakan untung&#8217;</span> banyak yang tidak setuju dan menentangnya, tapi apapun kata mereka atau apapun pendapat mereka, saya berhasil menjalankan pola tersebut selama sekitar lima tahun, dimana saat itu semua level kehidupan saya dari segi sosial, ekonomi, sampai ke pengetahuan meningkat dengan pesat, dan saya bisa sejajar dengan teman-teman yang menjalankan bisnis sesuai kaidah, bahkan bisa meninggalkan teman-teman yang lambat dalam pergerakan bisnisnya.</p>
<p style="text-align: justify;">saya bahkan memperoleh julukan atau profesi baru dari hutang-hutang saya,  yaitu sebagai konsultan. karena banyak teman yang bertanya pada saya tentang apa sesungguhnya  yang saja jalankan selama itu,  sehingga bisa hidup dengan hutang yang begitu banyak. apapun yang saya katakan mereka tetep tidak paham,  walaupun sampai berbusa mulut saya menjelaskan.  keberhasilan saya sebagai konsultan adalah bisa bikin teman-teman saya lebih mudah disetujui saat mengajukan kredit ke bank dan bagaimana cara bermain kartu kredit yang manis. semua itu berdasarkan pengalaman  pribadi saya.</p>
<p style="text-align: justify;">kembali ke awal topik yang mengingatkan<span style="color: #ff0000;"> &#8216;tujuan utama adalah punya bisnis, bukan banyak2 kan hutang&#8230;&#8217; <span style="color: #000000;">sangatlah tepat, tapi punya banyak hutang juga gak salah-salah banget. dimana boleh saja punya </span></span>hutang banyak walaupun tidak punya bisnis yang jelas dan memadai asalkan  hutang-hutang tadi bisa dibayar. dan kalo sampai waktunya  gak bisa bayar  hutang-hutang tadi tetep sudah siap menerima degan semua  resikonya.</p>
<p style="text-align: justify;">apalagi jika sampai punya hutang banyak dan bisnisnya semakin maju. itu sangat luar biasa&#8230;&#8230;&#8230;</p>
<p style="text-align: justify;">menurut saya suatu bisnis, apapun itu akan tetap bisa hidup dan berkembang jika adanya pemasukan yang lebih besar dari pengeluarannya. dan pemasukan itu bisa dari mana saja. dari jalur yang umum  seperti omset yang besar dan sesuai target atau dari jalur yang tidak umum seperti dari hutang.  ini dilihat tergantung dari sudut pandang dan pengalaman masing-masing orang, dimana setiap orang pasti tidak sama sudut pandang dan pengalamannya.</p>
<p style="text-align: justify;"><span class="text_exposed_show">poko&#8217;e hidup itu harus seimbang antara nikmat dan resiko, jangan cuman mau nikmat-nya aja&#8230;&#8230;&#8230;</span></p>
<p style="text-align: justify;">nyambung gak nyambung poko&#8217;e dibikin nyambung!</p>
<p style="text-align: justify;">
<p style="text-align: justify;">
<p style="text-align: justify;">
<p style="text-align: justify;">
<p style="text-align: justify;">
<p style="text-align: justify;">
<p style="text-align: justify;">
<p style="text-align: justify;">
<p style="text-align: justify;">
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.samuraijagoan.com/2009/06/17/selalu-didebatkan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>kaki diatas kepala dibawah</title>
		<link>http://www.samuraijagoan.com/2009/05/29/kaki-diatas-kepala-dibawah/</link>
		<comments>http://www.samuraijagoan.com/2009/05/29/kaki-diatas-kepala-dibawah/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 29 May 2009 18:58:44 +0000</pubDate>
		<dc:creator>samurai</dc:creator>
				<category><![CDATA[Artikel Menarik]]></category>
		<category><![CDATA[bank]]></category>
		<category><![CDATA[debt collector]]></category>
		<category><![CDATA[entrepreneur bodoh]]></category>
		<category><![CDATA[investasi]]></category>
		<category><![CDATA[kredit]]></category>
		<category><![CDATA[property]]></category>
		<category><![CDATA[toko baju]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.samuraijagoan.com/?p=447</guid>
		<description><![CDATA[suatu fase kehidupan sudah berlalu. tapi sebagai manusia hidup saya harus terus menjalaninya apapun yang terjadi, baik atau buruk, susah atau senang, suka atau tidak. 
semua yang terjadi dan berjalan itu sesuai dengan pilihan hidup saya ,makannya saya harus terus melewati fase-fase kehidupan berikutnya.
sebagai lulusan entrepreneur university angkatan 11 surabaya sekitar tahun 2005-2006 tentunya  saya [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;">suatu fase kehidupan sudah berlalu. tapi sebagai manusia hidup saya harus terus menjalaninya apapun yang terjadi, baik atau buruk, susah atau senang, suka atau tidak. <span id="more-447"></span><a href="http://www.mediaindonesia.com/spaw/uploads/images/article/image/20080713_081515_pedrosa.jpg"><img class="alignleft" src="http://www.mediaindonesia.com/spaw/uploads/images/article/image/20080713_081515_pedrosa.jpg" alt="" width="216" height="170" /></a></p>
<p style="text-align: justify;">semua yang terjadi dan berjalan itu sesuai dengan pilihan hidup saya ,makannya saya harus terus melewati fase-fase kehidupan berikutnya.</p>
<p style="text-align: justify;">sebagai lulusan entrepreneur university angkatan 11 surabaya sekitar tahun 2005-2006 tentunya  saya ingin sekali segera mempraktekkan dan mengamalkan semua ilmu yang didapat di masa pendidikan. semua yang diajarkan oleh para mentor segea saya praktekkan hampir tanpa mikir lagi, dengan harapan tentu saja bisa memperoleh perbaikan kehidupan setelah mengalami kebankrutan di bisnis pertama.</p>
<p style="text-align: justify;">step demi step yang diajarkan oleh para mentor saya lakukan dengan patuh padahal saat itu saya hampir tidak bisa melihat hasil atau akibat dari saya mengikuti cara-cara para mentor itu. saya nggak kenal para mentor, mereka juga gak kenal saya. saya juga sulit buat menghubungi dan berkomunikasi dengan mereka. tapi saya percaya bahwa gak mungkinlah para mentor itu membohongi anak didiknya. benar atau salah ajaran mereka biarkanlah alam semesta yang akan membuktikannya kelak, gitu pikir saya. karena memang gak ada pilihan lain buat saya saat itu, selain untuk mempraktekkan ajaran para mentor .    saya bener-bener gak pingin hidup diatur-atur oleh orang lain dan bekerja sebagai karyawan. saya pinginnya bisa ngatur diri sendiri sebebas-bebasnya.</p>
<p style="text-align: justify;">hanya itu keyakinan yang saya bawa. dengan keyakinan itu saya memulai langkah dengan mencari kredit karena konon kabarnya dengan kredit maka bisnis baru bisa jalan. itu yang saya percayai. tanpa bekal modal dan asset saya coba untuk memperoleh kredit buat menjalankan bisnis. kredit untuk menjalankan bisnis apa saya sendiripun gak ngerti. poko&#8217;e nyari kredit.</p>
<p style="text-align: justify;">seperti yang bisa diduga walaupun sudah mematuhi 100% teori EU dalam mencari kredit, ternyata bener-bener gak semudah membalikkan telapak tangan. semua aplikasi kedit saya ditolak oleh sekitar 20 bank. putus asa pastinya tapi saya gak putus-putus banget dalam membangkitkan semangat. setelah mengaca dan intropeksi diri sendiri dan memperoleh kesimpulan bahwa bank gak mau ngasih kredit ke saya  karena memang performa dan kredibilitas saya sangat meragukan. saya sendiri saja ragu apalagi orang lain.</p>
<p style="text-align: justify;">akhirnya saya mulai berinovasi dalam pengajuan kredit, bukan diri saya pribadi sebagai pebisnis yang saya ajukan tapi saya mengajukan orang lain sebagai samaran. saat itu saya ajukan istri saya yang berprofesi sebagai dosen dan seperti sudah bisa diduga pengajuan kreditnya langsung cair karena memang profesi istri saya mendukung untuk itu.http://yoeskeuranji.files.wordpress.com/2008/03/rumah-terbalik-1.jpg<a href="http://yoeskeuranji.files.wordpress.com/2008/03/rumah-terbalik-1.jpg"><img class="alignright" src="http://yoeskeuranji.files.wordpress.com/2008/03/rumah-terbalik-1.jpg" alt="" width="234" height="148" /></a></p>
<p style="text-align: justify;">kredit pertama cair sehingga saya akhirnya punya modal beneran buat mengajukan kredit-kredit brikutnya dan menjalankan bisnis. sepeti teori kuno mengatakan, memang yang pertama itu yang paling sulit, setelah itu akan lebih mudah dan setelahnya menjadi sangat mudah.</p>
<p style="text-align: justify;">jam terbang saya mulai ada karena telor sudah pecah. saya jalankan bisnis dirumah karena memang gak ingin jauh dari rumah segala aktivitas saya. karena memang modal yang didapat gak begitu besar barang yang bisa saya beli juga banyak, selain itu saya kan tetep perlu mencadangkan dana buat membayar angsurannya setiap bulannya. segera saya pakai trik yang lain. kalo gak punya barang sendiri pakailah barang orang lain dan akuilah dengan seyakin-yakinnya sebagai barang kita, gitu kan bunyi teorinya. saya pun menjalankan dengan patuh. kebetulan didepan rumah saya tinggal teman EU juga yang sama-sama berbisnis pakaian. tapi bisnisnya bener-bener nyata dan beliau punya stok barang dagangan  yang banyak dan lengkap karena memang beliau bertindak sebagai distributor.</p>
<p style="text-align: justify;">saya pinjem barang beliau satu-dua hari buat dipamerkan ke bank dalam pengajuan kredit-kredit saya. luar biasanya beliau mengijinkan walaupun saat itu kami lom terlalu saling kenal meski rumah kita hanya berjarak sekitar 100m-an. dengan cara itu saya bisa meyakinkan bank lagi dan kredit pun cair, tapikali ini benar-benar atas nama saya dan atas dasar bisnis saya.</p>
<p style="text-align: justify;">dua teori yang saya dapat dari mentor dan saya praktekkan mentah-mentah ternyata berhasil. tentu saja bikin saya bangga dan semakin tergila-gila. mulai dari itu hari-hari saya hanya saya isi dengan mencari kredit kesana dan kemari. saya benar-benar fokus dalam mencari kredit. saya baca buku-buku, saya pelajari juga lewat semua media semua hal yang berkenaan dengan kredit. karena memang saya bener-bener ingin menguasai bidang kredit maka saya harus menjiwai dan mendalami semua hal mengenai kredit.</p>
<p style="text-align: justify;">karena saya focus, rencana saya dan usaha saya pun mulai menampakkan hasil. bahkan hasilnya bener-bener sangat mengejutkan. saya menerima kredit dari berbagai bank, jenis kredit yang saya dapat juga beraneka ragam. pokoknya asal berjudul kredit saya pasti terima. hari-hari benar-benar saya lalui bersama kredit, tiap bulan ada saja kredit yang cair. jumlahnyapun sering bikin ta&#8217;jub, gak nyangka kalo saya ternyata dipercaya oleh bank buat mengelola kredit sedemikian besar. <a href="http://3.bp.blogspot.com/_vGC3rwznHvs/SbCmDS4rOFI/AAAAAAAAADE/e-Ex5Gs4GgI/S740/dogar1.JPG"><img class="alignright" src="http://3.bp.blogspot.com/_vGC3rwznHvs/SbCmDS4rOFI/AAAAAAAAADE/e-Ex5Gs4GgI/S740/dogar1.JPG" alt="" width="133" height="202" /></a></p>
<p style="text-align: justify;">karena memang mencari kredit adalah tujuan saya maka dari awalpun hal ini saya komunikasikan secara rutin terhadap istri. dari rutinitas komunikasi ini, istri sayapun setuju dengan apa yang saya  lakukan. dia sangat mendukung, bahkan dukungannya pun nyata tidak hanya di bibir saja. istri sayapun juga rajin mengajukan kredit. tentu saja yang di jual dalam pengajuan itu adalah status karyawannya.   situasi ini  berlangsung setiap hari dan akhirnya dalam rumah tangga kami seolah terjadi pelombaan, perlombaan mencari kredit.   siapa yang dapat duluan akan bersorak dan siapa yang dapat kredit dengan limit lebih besar dari yang lain akan tertawa keras sambil bersorak sorai.   bila salah satu  dari kami  kreditnya sudah disetujui dan sudah masuk ke dalam rekening,  maka hal itu kami rayakan bersama,  selayaknya suatu kemenangan.</p>
<p style="text-align: justify;">menyenangkan sekali berlomba dengan istri dalam mencapai apa yang dituju dan disukai bersama. jadinya kita berdua semakin punya persamaan yang bisa lebih bikin lebih akrab satu sama lainnya.</p>
<p style="text-align: justify;">permainan kami semakin meningkat, yang semula kredit yang kami dapat kami putar dalam perdagangan baju, maka kemudian kredit itu mulai kami belikan asset property. semakin banyak kredit yang kami peroleh maka semakin banyak kami membeli property. selain propery beberapa produk investasipun kami coba. kadang gagal tapi lebih sering berhasil. menyenangkan sekali menjlankan petualang baru ini.</p>
<p style="text-align: justify;">dari kredit,  kami bisa melalukan dan membeli apa yang kami sukai. selain itu kamipun selalu membayar  semua angsuran sesuai dengan perjanjian dan hampir tidak pernah terlambat. pembayaran yang kami lakukan juga selalu sesuai yang ditagihkan, jarang sekali kurang, mungkin malahan tidah pernah kurang, selalu full.</p>
<p style="text-align: justify;">bener-bener dari nol, tanpa asset atau jaminan tapi bisa dikucuri kredit sedemikian banyak bikin kami punya banyak cerita. dengan kredit pula pada sekitar tahun 2006-2007 saya berhasil memiliki sebuah toko baju, yang lokasinya berada di sebuah mall ditengah-tengah kota surabaya. itu bisnis nyata saya yang pertama. dengan ketambahan potensi berupa toko tersebut, nilai kredit yang kami peroleh pun semakin besar  berlipat-lipat. akibatnya maka kemudian toko ke dua sampai toko keempatpun berhasil kami dirikan dalam kurun waktu tidak lebih dari setahun.</p>
<p style="text-align: justify;">punya toko lebih dari satu pastinya bikin urusan menjadi lebih repot dan rumit. yang tadinya bisa hanya dilakukan berdua antara saya dan istri disela-sela waktunya sebagai dosen. kini urusan yang kami tangani akhirnya beraneka ragam meliputi pengelolaan karyawan, managemen, pembelian   dan  pejualan, administrasi  keuangan serta macam-macam yang lain.   meski berawal dari sekedar kredit tapi dalam pengelolaan toko kami berdua tidak main-main. kami berdua serius mengelola keempat toko kami itu. perputarannya cukup baik dan penghasilan dari situ  cukuplah buat  beli rokok saya , kosmetik istri saya   dan susu buat anak-anak saya.  walau masih jauh dari cukup untuk menutup  pembayaran kredit-kredit yang kami miliki.<a href="http://yepiye.files.wordpress.com/2009/05/wang-xiayu1.jpg"><img class="alignright" src="http://yepiye.files.wordpress.com/2009/05/wang-xiayu1.jpg" alt="" width="99" height="167" /></a></p>
<p style="text-align: justify;">kondisi ini bahkan bisa menulari dua kawan seprofesi istri saya. bukan kawan biasa, tapi kawan senior bahkan bisa dikatakan atasannya. melihat apa yang kami lakukan, terutama  setelah mereka melihat sepak terjang istri saya. itu membuat mereka akhirnya ikutan terjun dalam bisnis yang serupa.  masing-masing dalam waktu beberapa bulan saja bisa membuka dan menjalankan dua toko pakaian di mall yang sama. ini  menjadi lebih menyenangkan, karena akhirnya istri saya ternyata bisa menjadi inspirasi kawan-kawan seniornya.</p>
<p style="text-align: justify;">hari-hari terus berjalan, dengan modal kredit saya dan istri terus hidup,   bisa memiliki dan memgelola empat toko, sekian property, sekian kendaraan dan bahkan bisa jalan-jalan keluar negri.  liburan pun menjadi setiap hari karena urusan toko sudah dijalankan oleh karyawan,  semua sesuai apa  yang kami  impikan.  anak-anak pun dapat disekolahkan ditempat yang bagus. mungkin jika kami tidak  pernah mengambil kredit dan hanya hidup dari penghasilan kami perbulan sekitar dua puluhjutaan-lah, jika penghasilan saya dan istri digabung. maka pastinya kami saat ini tidak mungkin menikmati itu semua hanya dalam kurang dari masa lima tahun.  kehidupan perekonomian kami mungkin hanya pas-pasan saja.</p>
<p style="text-align: justify;">tapi kami sadar bahwa yang kami jalani ini bukannya jalan tol yang bebas hambatan. jalan yang kami pilih sangat beresiko bahkan tingkat resikonya maksimal. kami berusaha teus menyadari hal itu, berusaha terus menyadari bahayanya sehingga kami selalu barusaha siap bila menghadapi kondisi gawat. komunikasi tentang resiko ini terus kami tingkatkan. masing-masing beusaha mengingatkan yang lain dan berusaha saling menyemangati bila kondisi berunbah jadi buru.</p>
<p style="text-align: justify;">gak ada satu orangpun yang menginginkan kondisi buruk. semua orang selalu mendambakan kondisi bahagia nan sempurna selama-lamanya. pastinya gak ada kan kondisi seperti itu.</p>
<p><img class="  " src="http://justnurman.files.wordpress.com/2009/04/truk-terbalik.jpg" alt="http://justnurman.files.wordpress.com/2009/04/truk-terbalik.jpg" width="148" height="111" /></p>
<p style="text-align: justify;">sekitar lima tahun kami mengukir prestasi gemilang di bidang kredit. sampai akhirnya saat itu tiba, saat yang tidak pernah diharapkan semua orang. akhir 2008 muncullah krisis ekonomi dunia yang semakin lama semakin gawat. banyak terkena dampaknya, baik diluar negeri maupun di indonesia. perbankan yang paling terpukul dengan kondisi ini. mereka tidak ingin terkena imbas lagi sehingga masa keterpurukan perbangkan seperti tahun 1998 terulang.</p>
<p style="text-align: justify;">langka-langkah preventif dilakukan dunia perbankan, selain menaikkan suku bunga mereka juga selektif dalam pemberian kredit. tidak hanya selektif bahkan juga dengan menghentikan sementara pengucuran kredit bank. penghentian itu dilakukan dengan masa yang tidak pasti batasnya berakhirnya.</p>
<p style="text-align: justify;">nah, hantu-hantu pun mulai mendatangi kami. kegelapan mulai menyelimuti kehidupan kami. dengan dikurangi bahkan dihentikannya pengucuran kredit oleh bank maka perolehan keredit kami mulai menyusut.  perlahan tapi pasti semakin tidak ada kredit yang kami peroleh. dengan tidak adanya pemasukan dari kredit maka tidak ada lagi perputaran uang yang bisa kami lakukan.</p>
<p style="text-align: justify;">tidak ada kredit yang kami peroleh dan tidak ada perputaran yang bisa kami lakukan, berakibat dalam berbagai pembayaran angsuran yang jatuh tempo. dari awal kami sadar bahwa pendapatan dari bisnis nyata tidak akan mencukupi jika dialokasikan buat pembayaran kredit, pendapatan dari investasi juga terhenti terutama yang kami tanamkan di pasar modal, karena nilai saham-saham yang kami koleksi berguguran  dengan cepat di saat-saat awal krisis itu  datang.<a href="http://imagehost.ngobrolaja.com/files/vicams/sususegar.jpg"><img class="alignright" src="http://imagehost.ngobrolaja.com/files/vicams/sususegar.jpg" alt="" width="144" height="109" /></a></p>
<p style="text-align: justify;">kini kami benar-benar harus siap menghadapi saat-saat yang tadinya hanya berupa wacana dalam diskusi saya dan istri. pengeluaran yang berupa kewajiban jalan terus tapi pemasukan seakan berhenti. kalo pemasukan berhenti total trus kami harus menggunakan apa buat membayar semua kewajiban dan biaya operasional. itu pertanyaan yang muncul dan berputar-putar dalam pikiran saya.</p>
<p style="text-align: justify;">akhirnya yang tadinya hanya strategi dan wacana,  sekarang musti dan harus benar-benar diterapkan. supaya kehidupan kami gak tambah terpuruk. untungnya mental kami sudah disipakan lama sebelum kondisi ini benar-benar terjadi. jadi secara mental kami lebih siap. <a href="http://musadiqmarhaban.files.wordpress.com/2009/01/cease_fire2.jpg"><img class="alignleft" src="http://musadiqmarhaban.files.wordpress.com/2009/01/cease_fire2.jpg" alt="" width="104" height="152" /></a></p>
<p style="text-align: justify;">rupannya kondisi buruk tidak hanya mendatangi keuangan kami. tapi juga mendatangi kami secara phisik. dengan strategi mencari invetor kami berharap bisa mengembalikan situasi menjadi normal kembali. tapi ternyata krisis bikin investorpun sembunyi. tapi kami tetep semangat buat mencari dan mendapatkan mereka. suatu saat istri saya berhasil bernegosiasi dengan seorang investor dan bisa bikin investor itu mengucurkan dananya ke kami buat kami kelola.   istri saya senang sekali dengan keberhasilannya,  dan berita  bahagia itu segera disampaikan kesaya yang saat itu bertugas menyusun strategi di rumah.</p>
<p style="text-align: justify;">proses standart berlangsung, uang diserahkan oleh investor dan istri saya segera membawanya untuk disetor ke bank.                  situasi ini memang nampak seperti sudah diatur  oleh tangan-tangan yang tidak kelihatan.   tindakannya tidak seperti biasanya,  istri saya  sedikit terlena oleh prestasinya.   apalagi saat itu  anak-anak  diajaknya  serta karena  saya tidak bisa ikut menemaninya datang ke investor.  istri saya yang sangat bahagia karena dia berhasil menggoalkan proyek itu,   ternyata  tidak langsung menyetorkan uang yang di bawanya itu  ke bank seperti biasanya.     dia pingin seneng-seneng dulu sama anak-anak,   toh bukan sekali dua kali dia bawa uang banyak dalam tasnya dan menyopiri mobil sendiri.    hal itu sudah sering dia lakukan jadi gak ada beban dan rasa takut sama sekali saat menjalaninya.</p>
<p style="text-align: justify;">rupanya kali ini beda, seperti sudah ada sutradara yang mengaturnya. dalam perjalannya ban mobil istri saya kempes di suatu tempat dan pada saat dia turun hendak memeriksa,  tasnya yang berisi segala macam barang berharga serta uang dari investor disambar dan dibawa kabur penjahat. istri saya berteriak dan mengejar tapi lalu terjatuh saat berlari, melihat ibunya jatuh anak-anak berteriak dan menangis. kondisi semakin kacau balau gak keruan. tapi yang jelas duit investor bersama berbagai barang berharga dalam tas istri saya lenyap.</p>
<p style="text-align: justify;">yang tadinya satu lilin berhasil menyala sekarang benar-benar padam dan gelap gulita karena satu-satunya lilin yang dipunyai padam. uang yang seharusnya bisa berputar-putar hilang lenyap dan yang lebih menyenangkan adalah yang hilang itu bukan uang kami. sudah jadi kewajiban kami buat menggantinya, dan kami memang berusaha mengganti apalagi investor tadi juga sudah berbaik hati mau memberikan tempo pengembalian pada kami.       yang semestinya kami bisa menghasilkan sesuatu melalui uang tersebut, malah menjadinya tambahan beban kewajiban.</p>
<p style="text-align: justify;">skenario ini tidak pernah kami siapkan, jadinya kami sekarang harus melangkah tanpa rencana yang siap. yang paling gampang dan paling pertama muncul dalam otak kami adalah menghentikan sebanyak mungkin pengeluaran atau menghindari rencana pengeluaran baru.</p>
<p style="text-align: justify;">strategi itu yang kami jalankan kini.</p>
<p style="text-align: justify;">salah satu mobil yang kami miliki, langsung  kami kembalikan ke dealer supaya gak perlu dibayar lagi angsurannya.</p>
<p><img class="alignright" src="http://2.bp.blogspot.com/_Iv3R6_w1SVw/Snb5HvzX4NI/AAAAAAAABzw/XUhkSULYZz8/s400/kaki+paling+mahal.jpg" alt="http://2.bp.blogspot.com/_Iv3R6_w1SVw/Snb5HvzX4NI/AAAAAAAABzw/XUhkSULYZz8/s400/kaki+paling+mahal.jpg" width="144" height="152" /></p>
<p style="text-align: justify;">dua buah toko kami langsung ditutup,  karena kebetulan masa sewanya sudah habis dan kami harus segera perpanjang pembayaran sewanya bila ingin menggunakannya kembali. memperpanjang sewa kedua toko itu berarti mengakibatkan pengeluaran baru, apalagi kini harga sewanya sudah naik.  menurut kami dari pada ngeluarin uang buat sewa mending uangnya kami belikan lebih banyak produk.toh kami tetep bisa bertransaksi di rumah kami.  ada perasaan haru yang muncul dalam hati,  kami jadi teringat pada saat-saat  awal saya dan istri merintis bisnis ini lima tahun lalu, kami melakukan semuanya sendiri atau berdua  bersama-sama dari rumah.  dengan ditutupnya dua toko berarti kami juga telah memangkas biaya karyawan, karena dua karyawan yang bertugas disitu terpaksa harus di phk</p>
<p style="text-align: justify;">langkah berikutnya menjual semua property supaya bisa jadi uang kas yang bisa diputer-puter.</p>
<p style="text-align: justify;">langkah berikutnya lagi, laporan sama bank-bank yang sudah memberi kami kredit bahwa mungkin pada bulan-bulan kedepan pembayaran kami akan tersendat bahkan bisa macet.</p>
<p style="text-align: justify;">langkah paling berikut, berpikir keras buat mencari sumber keuangan baru yang bisa di pakai untuk senang-senang bersama anak-anak&#8230;&#8230;&#8230;</p>
<p style="text-align: justify;">kami sekarang sedang melakukan langkah-langkah itu, sambil menyiapkan suguhan yang layak bila kami dikunjungi oleh banyak debt collector. disamping itu kami juga harus menghafal greeting yang akan kami ucapkan bila kami deteleponi oleh mereka.</p>
<p style="text-align: justify;">menyenangkan bukan!!!!!!!!</p>
<p style="text-align: justify;">&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;-</p>
<p style="text-align: justify;">New comment on your post #447 &#8220;kaki diatas kepala dibawah&#8221;<br />
Author : online (IP: 95.132.219.123 , <a href="http://123-219-132-95.pool.ukrtel.net/" target="_blank"><span id="lw_1262749882_0">123-219-132-95.pool.ukrtel.net</span></a>)<br />
E-mail : <a href="mailto:xfersomanis@gmail.com"><span id="lw_1262749882_1">xfersomanis@gmail.com</span></a><br />
URL    : <a href="http://my-addr.com/" target="_blank"><span id="lw_1262749882_2">http://my-addr.com/</span></a><br />
Whois  : <a href="http://ws.arin.net/cgi-bin/whois.pl?queryinput=95.132.219.123" target="_blank"><span id="lw_1262749882_3">http://ws.arin.net/cgi-bin/whois.pl?queryinput=95.132.219.123</span></a><br />
Comment:<br />
<span style="color: #ff0000;">Terima kasih untuk blog yang menarik</span></p>
<p style="text-align: justify;">
<p style="text-align: justify;">
<p style="text-align: justify;">
<p style="text-align: justify;">
<p style="text-align: justify;">
<p style="text-align: justify;">
<p style="text-align: justify;">
<p style="text-align: justify;">
<p style="text-align: justify;">
<p style="text-align: justify;">
<p style="text-align: justify;">
<p style="text-align: justify;">
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.samuraijagoan.com/2009/05/29/kaki-diatas-kepala-dibawah/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>hobiku belanja</title>
		<link>http://www.samuraijagoan.com/2009/03/24/hobiku-belanja/</link>
		<comments>http://www.samuraijagoan.com/2009/03/24/hobiku-belanja/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 24 Mar 2009 18:34:34 +0000</pubDate>
		<dc:creator>samurai</dc:creator>
				<category><![CDATA[Artikel Menarik]]></category>
		<category><![CDATA[Entrepreneurship]]></category>
		<category><![CDATA[baju wanita]]></category>
		<category><![CDATA[belanja]]></category>
		<category><![CDATA[kyosaki]]></category>
		<category><![CDATA[properti]]></category>
		<category><![CDATA[retire rich retire young]]></category>
		<category><![CDATA[shopping]]></category>
		<category><![CDATA[toko baju]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.samuraijagoan.com/?p=400</guid>
		<description><![CDATA[saat saya kuliah dulu walaupun termasuk yang gak ngikutin mode, tapi saya tetep jaga penampilan. minimal celana saya jens levis 501, trus sepatu saya nike.&#160; kalo atasan sih cukup kaos oblong aja, tapi rata-rata buatan c-59 bandung. minimal tiap bulan pasti ada aja duit kiriman orang tua yang saya belanjain buat beli kaos, karena saya [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;" mce_style="text-align: justify;">saat saya kuliah dulu walaupun termasuk yang gak ngikutin mode, tapi saya tetep jaga penampilan. minimal celana saya jens levis 501, trus sepatu saya nike.&nbsp; <a href="http://www.sxc.hu/pic/m/l/lu/lusi/512327_go_shopping_1.jpg" mce_href="http://www.sxc.hu/pic/m/l/lu/lusi/512327_go_shopping_1.jpg"><img class="alignleft" src="http://www.sxc.hu/pic/m/l/lu/lusi/512327_go_shopping_1.jpg" mce_src="http://www.sxc.hu/pic/m/l/lu/lusi/512327_go_shopping_1.jpg" alt="" width="143" height="143"></a><img src="http://www.samuraijagoan.com/wp-includes/js/tinymce/plugins/wordpress/img/trans.gif" mce_src="http://www.samuraijagoan.com/wp-includes/js/tinymce/plugins/wordpress/img/trans.gif" alt="" class="mceWPmore mceItemNoResize" title="More...">kalo atasan sih cukup kaos oblong aja, tapi rata-rata buatan c-59 bandung. minimal tiap bulan pasti ada aja duit kiriman orang tua yang saya belanjain buat beli kaos, karena saya maniac banget sama kaos oblong. hampir sebagian besar duit kiriman saya pake buat blanja or buat jajan. dan hanya sebagian kecil yang saya tabungin di bank. saya hampir tidak ada duit buat buat beli buku bahan kuliah. dari pada buat beli buku, mending saya ngopi catatan temen aja pas mau ujian. duit yang ada ya buat beli kebutuhan ngeceng donk.</p>
<p style="text-align: justify;" mce_style="text-align: justify;">biar jomblo tapi belanja buat penampilan tetep nomor satu.</p>
<p style="text-align: justify;" mce_style="text-align: justify;">saat saya udah lulus dan kemudian kerja di salah satu bank swasta asing di jakarta, naluri belanja saya semakin gila. ini didukung sama lingkungan saya yang menuntut berpenampilan rapi bahkan mahal. baru tiga bulan kerja aja saya sudah kena pengaruh buruk itu, apalagi saya kan perlu tampil keren di hadapan teman-teman cewek saya. kalo belanja pakaian kerja saya pasti nyari arrow atau valino, nyari dompet pake louis vitton, trus gesper pake merek hugo boss, sepatu pake apa ya? lupa deh merknya, tapi yang saya inget waktu tahun 1996 aja kalo saya beli sepatu selalu dikisaran harga 800 ribuan. koleksi dasi saya lebih dari dua puluhan potong. sedang kalo belanja buat keperluan main, masih tetep beli kaos oblong dan levis 501 plus sepatu reebok atau nike.</p>
<p style="text-align: justify;" mce_style="text-align: justify;">habis dah gaji bulanan saya buat belanja dan buat jaga penampilan. tapi saat itu belanja barang mahal emang perlu banget buat gaul. saya musti harus tampak keren dan wangi soale teman cewek saya banyak banget.</p>
<p style="text-align: justify;" mce_style="text-align: justify;">saat saya mulai bisnis dulu, pengaruh kebiasan blanja barang-barang mewah itu masih terasa pengaruhnya, apalagi saat itu saya sedang bangga-bangganya jadi boss di perusahaan sendiri dengan sekitar lima puluh orang karyawan, baik karyawan yang tetap ataupun yang freelance. saya merasa sebagai boss saya harus menunjukkan performance saya dengan berpenampilan keren dan parlente. akibatnya duit dari bisnis sebagian besar juga habis percuma buat belanja barang-barang yang gak terlalu perlu itu.</p>
<p style="text-align: justify;" mce_style="text-align: justify;">kesadaran saya mulai timbul saat bisnis saya mulai goyah dan hampir bangkut. sedangkan saya dituntut buat mencari bisnis alternatif buat kelangsungan hidup saya. dari semua pola seminar, pelatihan dan bacaan yang saya pelajari akhirnya bukunya karangan kyosakilah yang cukup membuka mata saya lebar-lebar. bukunya yang saya baca pertama kali adalah &#8216;retire rich retire young&#8217;. dari bacaan itu saya lantas berpikir, kalo nantinya saya harus mengulang berbisnis mulai dari tahap awal lagi, saya gak mau lama-lama kerja tapi segera pingin jadi pensiunan muda yang kaya raya.</p>
<p style="text-align: justify;" mce_style="text-align: justify;">dari buku itu saya baru tau bahwa ada yang namanya &#8216;asset&#8217; dan ada yang namanya &#8216;kewajiban&#8217;. kira-kira gambarannya begini kalau menurut versi saya. aset itu adalah barang yang saya miliki, barang yang nilainya tiap tahun bisa bertambah naik dan bahkan bisa mengasilkan uang masuk buat nambahin penghasilan saya. sedangkan kalo kewajiban itu adalah sesuatu yang harus saya bayarkan setiap saat secara rutin dan nilainya setiap tahun akan mengalami penurunan.</p>
<p style="text-align: justify;" mce_style="text-align: justify;">setelah mbaca buku itu sampai selesai, saya kemudian jadi mikir lagi, bahwa belanja yang menjadi salah satu hobi saya ini adalah salah besar. bukannya menghasilkan malah bikin duit amblas. mengasilkan pacar-pacar baru iya, tapi juga berakibat buruk yang menipiskan duit di saldio rekening bank saya. <img class="alignleft" src="http://www.shareasale.com/image/girlfriend22.gif" mce_src="http://www.shareasale.com/image/girlfriend22.gif" alt="" width="198" height="179"></p>
<p style="text-align: justify;" mce_style="text-align: justify;">tapi ada lagi yang saya pelajari dari buku itu. ternyata saya gak harus menghapuskan hobi belanja saya. saya hanya cukup menggesernya dari belanja yang boros menjadi belanja yang produktif. ini cukup melegakan buat saya karena saya bener-bener sulit menghilangkan penyakit hobi belanja itu tadi.</p>
<p style="text-align: justify;" mce_style="text-align: justify;">parah dah&#8230;</p>
<p style="text-align: justify;" mce_style="text-align: justify;">saya harus bertekat kuat mengubah gaya hidup saya. saya mulai mempraktekkan segala teori dalam buku itu. saya simpulkan sendiri dari artikel dalam buku itu, bahwa kalo mau belanja, maka belanjalah sesuatu yang bisa menghasilkan uang lagi. jadi kalo tadinya saya belanja sepotong baju mahal buat saya pake sendiri yang akhirnya kalo sudah lusuh harus saya buang, maka kemudian saya mulai belanja baju dalam jumlah banyak yang sebagian buat dipake sendiri dan sebagian buat dijual lagi.</p>
<p style="text-align: justify;" mce_style="text-align: justify;">karena harus belanja dalam jumlah yang banyak akhirnya saya tidak belanja baju yang mahal-mahal lagi. melainkan baju-baju yang biasa saja tapi bisa memiliki nilai jual yang tinggi. ya saya akhirnya kula&#8217;an baju buat saya jual lagi. gak cuman baju tapi juga asesorisnya yang lain. berat tapi saya harus tetep nyoba. dan seperti bisa ditebak saya gagal dalam menjalankan ide bisnis ini.</p>
<p style="text-align: justify;" mce_style="text-align: justify;">saya gagal karena saya gak pinter dalam hal jual-menjual. tapi nasib baik masih mengikuti saya. sebab pacar terakhir saya, bukanlah dari kalangan &#8216;the have&#8217; seperti pacar-pacar saya yang lalu. dia dari kalangan biasa saja yang duitnya pas-pasan. karena saya pacaran sama dia, saya kemudian gak lagi harus berpenampilan yang glamour. bukannya gak punya duit tapi karena dia juga gak tau barang yang saya pake itu mahal-mahal. bahkan kadang dia sampe terbengong-bengong kalo saya cerita tentang harga barang saya.</p>
<p style="text-align: justify;" mce_style="text-align: justify;">sebel kan, ternyata gak semua orang bisa membedakan barang mahal. komentarnya yang paling bikin sebel, &#8220;mosok sih harga bajumu itu segitu mahal kok kayaknya modelnya biasa aja, seperti yang ada di pasar&#8221;.</p>
<p style="text-align: justify;" mce_style="text-align: justify;">kesel banget deh&#8230;</p>
<p style="text-align: justify;" mce_style="text-align: justify;">apalagi bukan hanya dia yang berkondisi seperti itu, lingkungan tempat tinggalnya dan lingkungan kawan-kawan deketnya juga sama aja. dari pada sakit hati berkelanjutan, saya akhirnya gak lagi pake barang mahal. saya akhirnya mulai pake barang yang biasa-biasa aja. toh di mata pacar saya itu, gak ada bedanya mahal atau murah barang yang saya pake. saya tetep aja keren.</p>
<p style="text-align: justify;" mce_style="text-align: justify;">karena jarang beli barang mahal lagi, duit saya mulai numpuk di tabungan. duit di rekening tabungan saya bisa semakin banyak bila dipake blanja barang dagangan. tapi saya kemudian gak lagi belanja barang dagangan buat cowok, saya akhirnya belanja barang dagangan buat cewek-cewek. <img class="alignright" src="http://drjt.files.wordpress.com/2008/03/irrr-jualan-obat.jpg" mce_src="http://drjt.files.wordpress.com/2008/03/irrr-jualan-obat.jpg" alt="" width="169" height="225"></p>
<p style="text-align: justify;" mce_style="text-align: justify;">kok bisa berubah?</p>
<p style="text-align: justify;" mce_style="text-align: justify;">ya bisalah. soalnya pacar saya itu selama kuliah juga jualan baju-baju yang disupplay ke teman-teman cewek di kampusnya. pacar saya itu sudah biasa jualan sendiri, sedangkan saya nggak biasa. karena alasan itu saya mulai mengubah lagi kebiasaan belanja saya menjadi belanja baju-baju cewek buat dagangan pacar saya.</p>
<p style="text-align: justify;" mce_style="text-align: justify;">belanja itu suatu yang mengasikkan, jadi gak mungkin saya tinggal begitu saja. ada yang hilang rasanya bila saya tidak melakukannya. tapi dengan tetap belanja barang, buat memperbanyak dagangan sang pacar, akhirnya saya tetep tidak kehilangan momen buat belanja. belanja barang-barang cewek itu sangat mengasikkan karena disana kita tetep bisa ngeceng para pembeli yang biasannya juga cewek-cewek juga trus pas nganterin pacar saya jualan saya tetep bisa nglirik-nglirik temen-temennya yang bening-bening.</p>
<p style="text-align: justify;" mce_style="text-align: justify;">itu awalnya kenapa akhirnya saya jualan baju cewek. berdasarkan kesimpulan saya dari hasil membaca  bukunya kyosaki, belanja yang seperti itu tidak bikin kewajiban saya semakin membesar. tapi berdasarkan kesimpulan dan evaluasi dari penerapan saya terhadap buku kyosaki itu, ternyata masih ada yang belom saya lakukan. saya masih belom punya aset.</p>
<p style="text-align: justify;" mce_style="text-align: justify;">setelah dagang maju mulai lancar, dan hobi belanja tetap tersalurkan. saya pingin meningkatkannya dengan hal-hal baru yang gak jauh-jauh banget dari hobi saya, yaitu belanja. sekarang saya harus mulai belajar belanja aset. mulai deh saya atur-atur duit saya lagi. saya mulai lirik-lirik nih aset apa yang harus saya beli. kyosaki sih bilang aset properti yang paling keren. jadinya saya nurut. saya mulai hunting properti, huntingnya persis seperti kalo saya hunting baju dan asesoris mahal kesukaan saya. tanya kiri kanan, minta saran-saran dan sebagainya. akhirnya sukses saya bisa beli properti pertama saya sebuah rumah kecil di dalam kampung secara cash. tapi itu gak bikin saya puas, saya masih pingin belanja lagi. kebetulan pas saya baca surat kabar ada developer yang njual rumah-rumahnya dengan angsuran dan dp yang sesuai dengan kantong saya. jelas akhirnya saya beli rumah itu secara mengangsur. dibantu oleh kredit bank. <img class="alignright" src="http://ipoh.info/Rumah_Rehat_Adeline/images/rumah_rehat_adeline3.jpg" mce_src="http://ipoh.info/Rumah_Rehat_Adeline/images/rumah_rehat_adeline3.jpg" alt="" width="233" height="182"></p>
<p style="text-align: justify;" mce_style="text-align: justify;">saya jadinya bisa belanja dua rumah, rumah yang kedua baru jadi dalam waktu enam bulan, sedang rumah pertama sudah siap huni. setelah saya poles-poles trus rumah pertama tadi saya kontrakin, dari situ dapet deh duit sewa pertama saya. gak lama setelah rumah kedua jadi, saya pun menyewakannya juga.</p>
<p style="text-align: justify;" mce_style="text-align: justify;">walaupun gak seratuspersen mematuhi teori kyosaki, tapi tetep aja saya sudah punya aset yang menghasilkan walau tetep masih punya kewajiban yang harus dibayarkan. saya gak peduli, yang penting saya masih tetep bisa belanja.</p>
<p style="text-align: justify;" mce_style="text-align: justify;">pelan-pelan tapi pasti saya akhirnya bisa merubah hobi belanja saya. saya mulai menikmati belanja baju wanita buat dijual lagi. saya bahkan sangat menikmati saat saya belanja properti. saya tetep tidak kehilangan hobi belanja saya. saya tetep tidak kehilangan kebiasaan saya bergaya didepan orang lain terutama cewek-cewek.</p>
<p style="text-align: justify;" mce_style="text-align: justify;">kalo dulu yang saya pake buat ngegaet simpati cewek adalah baju dan asesoris mahal. maka kini yang saya pake adalah properti-properti yang saya miliki dan koleksi toko baju yang saya kelola.</p>
<p><!-- You can start editing here. --></p>
<h3 id="comments">One Response to “hobiku belanja”</h3>
<ol>
<li id="comment-6187"> <img src="http://www.gravatar.com/avatar/9c78f98e0d72bd928badfbd344b7fa95?s=32&amp;d=http%3A%2F%2Fwww.gravatar.com%2Favatar%2Fad516503a11cd5ca435acc9bb6523536%3Fs%3D32&amp;r=G" mce_src="http://www.gravatar.com/avatar/9c78f98e0d72bd928badfbd344b7fa95?s=32&amp;d=http%3A%2F%2Fwww.gravatar.com%2Favatar%2Fad516503a11cd5ca435acc9bb6523536%3Fs%3D32&amp;r=G" alt="" width="32" height="32"> <cite><a rel="external nofollow" href="http://aksesorismutiaramaggie.com/category/mutiara" mce_href="http://aksesorismutiaramaggie.com/category/mutiara">Koleksi Mutiara</a></cite> Says:<br />
<small><a href="../2009/03/24/hobiku-belanja/#comment-6187" mce_href="../2009/03/24/hobiku-belanja/#comment-6187">March 6th, 2010 at 3:03 am</a> <a title="Edit comment" href="comment.php?action=editcomment&amp;c=6187" mce_href="comment.php?action=editcomment&amp;c=6187">edit</a></small> info yang menarik, makasih ya <img src="../wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif" mce_src="../wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif" alt=":)"></li>
</ol>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.samuraijagoan.com/2009/03/24/hobiku-belanja/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>
