<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Samurai Jagoan &#187; teman</title>
	<atom:link href="http://www.samuraijagoan.com/tag/teman/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://www.samuraijagoan.com</link>
	<description></description>
	<lastBuildDate>Thu, 22 Jul 2010 14:25:10 +0000</lastBuildDate>
	<generator>http://wordpress.org/?v=2.8.6</generator>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
			<item>
		<title>friends</title>
		<link>http://www.samuraijagoan.com/2009/06/25/fiends/</link>
		<comments>http://www.samuraijagoan.com/2009/06/25/fiends/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 25 Jun 2009 09:46:42 +0000</pubDate>
		<dc:creator>samurai</dc:creator>
				<category><![CDATA[Artikel Menarik]]></category>
		<category><![CDATA[kawan]]></category>
		<category><![CDATA[sahabat]]></category>
		<category><![CDATA[soib]]></category>
		<category><![CDATA[teman]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.samuraijagoan.com/?p=497</guid>
		<description><![CDATA[
LAGU ENGKAU TETAP SAHABATKU



Iwan Fals
Engkau Tetap Sahabatku 
Album: “1910?
Dia adalah sahabatku bahkan lebih
Dia adalah yang diburu datang padaku
Sekedar lepas lelah dan sembunyi untuk berlari lagi
Dia adalah yang terbuang mengetuk pintuku
Penuh luka dipunggungnya merah hitam
Dia menjadi terbuang setelah harapannya dibuang
Bapaknya pegawai kecil kelas sendal jepit
Yang kini didalam penjara sebab bela anaknya
Untuk darah daging yang tercinta selesaikan sekolah
Sahabatku [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class="posttitle">
<h2><a title="Tautan Tetap ke LAGU ENGKAU TETAP SAHABATKU" rel="bookmark" href="http://akangckp.wordpress.com/sahabat/lagu-engkau-tetap-sahabatku/">LAGU ENGKAU TETAP SAHABATKU</a></h2>
</div>
<div class="entry">
<div class="snap_preview">
<p>Iwan Fals</p>
<p><strong>Engkau Tetap Sahabatku </strong></p>
<p>Album: “1910?</p>
<p>Dia adalah sahabatku bahkan lebih<br />
Dia adalah yang diburu datang padaku<br />
Sekedar lepas lelah dan sembunyi untuk berlari lagi<br />
Dia adalah yang terbuang mengetuk pintuku<br />
Penuh luka dipunggungnya merah hitam<br />
Dia menjadi terbuang setelah harapannya dibuang</p>
<p>Bapaknya pegawai kecil kelas sendal jepit<br />
Yang kini didalam penjara sebab bela anaknya<br />
Untuk darah daging yang tercinta selesaikan sekolah</p>
<p>Sahabatku gantikan bapaknya coba mencari kerja<br />
Namun yang didapat cemooh harga dirinya berontak<br />
Lalu dia tetapkan hati hancurkan sang pembuang<br />
Air putih aku hidangkan aku dipersimpangan<br />
Aku hitung semua lukanya seribu bahkan lebih sejuta lebih</p>
<p>Pagi buta dia berangkat diam-diam<br />
Masih sempat selimuti aku yang tertidur<br />
Aku terharu do’aku untukmu…<br />
Sebutir peluru yang tertinggal dibawah bantalnya<br />
Kuberi tali jadikan kalung lalu ku kenakan<br />
Sekedar mengingatmu kawan yang terus berlari</p>
<p>Selamat jalan kawan selamat renangi air mata<br />
Hey sahabat yang terbuang engkau sahabatku tetap sahabatku<br />
Engkau sahabatku tetap sahabatku…</p>
<p><em>• Populer pada tahun 1988</em></div>
</div>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.samuraijagoan.com/2009/06/25/fiends/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>teman-teman yang baik</title>
		<link>http://www.samuraijagoan.com/2009/05/20/teman-teman-yang-baik/</link>
		<comments>http://www.samuraijagoan.com/2009/05/20/teman-teman-yang-baik/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 20 May 2009 12:17:18 +0000</pubDate>
		<dc:creator>samurai</dc:creator>
				<category><![CDATA[Artikel Menarik]]></category>
		<category><![CDATA[begaul]]></category>
		<category><![CDATA[bicara]]></category>
		<category><![CDATA[entrepreneur bodoh]]></category>
		<category><![CDATA[komunikasi]]></category>
		<category><![CDATA[motivasi]]></category>
		<category><![CDATA[pergaulan]]></category>
		<category><![CDATA[teman]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.samuraijagoan.com/?p=442</guid>
		<description><![CDATA[menyenangkan sekali punya banyak teman itu.
dulu saat masih mengelola perusahaan keluarga saya hampir tidak punya teman sama sekali. selain karena saat itu saya baru menjadi penduduk surabaya setelah bekelana di jawa tengah dan jakarta, saya juga langsung didudukkan jadi pimpinan perusahaan oleh sodara-sodara saya, sehingga waktu saya sehari-hari habis untuk kerja dan mengenali serta mempelajari [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;">menyenangkan sekali punya banyak teman itu.</p>
<p style="text-align: justify;">dulu saat masih mengelola perusahaan keluarga saya hampir tidak punya teman sama sekali. selain karena saat itu saya baru menjadi penduduk surabaya setelah bekelana di jawa tengah dan jakarta, saya juga langsung didudukkan jadi pimpinan perusahaan oleh sodara-sodara saya, sehingga waktu saya sehari-hari habis untuk kerja dan mengenali serta mempelajari perusahaan. akibatnya saya hanya kenal dengan karyawan saya dan teman-teman karyawan saya yang sering main ke kantor.  <a href="http://cippitywitty.files.wordpress.com/2007/08/together.jpg"><img class="alignright" src="http://cippitywitty.files.wordpress.com/2007/08/together.jpg" alt="" width="251" height="166" /></a><span id="more-442"></span>tapi tentu saja pertemanan yang seperti itu sangat tidak menyenangkan karena walau bagaimanapun tetep ada gap diantara kami. saya pimpinan perusahaan dan mereka karyawan saya, jelas gak mungkin kita berbicara terus terang dengan santai, yang pasti basa basi banget sering terjadi dalam percakapan kami.</p>
<p style="text-align: justify;">gak asik blas, apalagi kemampuan saya dalam berkomunikasi dan menjalin hubungan itu sangat jelek.  mungkin ini diakibatkan karena saya sering berpindah-pindah tempat tinggal domisili waktu saya sekolah  dulu. dan itu mungkin yang membuat saya jadi malas bergaul dan membina komunikasi.</p>
<p style="text-align: justify;">saking jeleknya kemampuan berkomunikasi saya, maka sejak saya menikah dan membangun bisnis pribadi,  setiap saya akan membangun  hubungan baru atau bertemu relasi, konsumen atau pelanggan, maka saya akan mengajak istri saya untuk ikut serta.  saya mengajak istri dalam kegiatan itu,  maksudnya supaya  istri saya bisa membantu dalam membuka dan memulai percakapan.  baru setelah itu saya bisa ikuti dan terlibat  didalamnya sehingga saya akhirnya bisa masuk dengan enak dalam percakapan itu.  kalau saya berangkat sendiri dijamin pasti pertemuan tersebut lebih banyak diam-diamannya karena saya sibuk berpikir tentang pembicaraan apa yang akan saya omongkan. sedang saat masih mengelola perusahaan keluarga saya sering bersembunyi dibelakang karyawan bagian marketing dan membiarkan mereka yang memimpin pembicaraan sedang saya hanya meng-amini saja.</p>
<p style="text-align: justify;">sejak sering tandom dengan istri saya, banyak masukan yang saya terima terutama tekanan agar saya mulai belajar berbicara dan berkomunikasi. pusing kepala saya jadinya. berbicara dan berkenalan dengan relasi baru itu sama sekali berbeda dengan kalu berkenalan dan berbicara dengan cewek-cewek, lebih mudah bicara dengan cewek menurut saya karena ada kebutuhan wanita untuk dikenal cowok. tapi itupun sering kali untuk awalan saya masih sering juga ngajak teman, setelah pertemuan pertama baru saya maju sendiri. nah kalo dengan teman baru atau relasi baru, istri saya bahkan terpaksa harus ikut menemani pertemuan tersebut sampai tiga empat kali baru deh percakapan jadi lancar. istri saya gak mau saya selalu bergantung padanya setiap kali berhubungan dengan orang baru.  jadi saya harus berusaha mandiri, gitu perintahnya&#8230;&#8230;</p>
<p style="text-align: justify;">kondisi saya saat setelah perusahaan keluarga yang saya kelola itu bangrut rupanya sangat mendukung apa yang di perintahkan oleh istri saya. saya ketika itu bergabung dengan pelatihan entrepreneur, otomatis disana saya jadi kenal banyak orang yang semuanya mempunyai satu persamaan yaitu ingin berwirausaha. karena punya persamaan kepentingan, secara tidak disadari saya  akhirnya  menjadi  rajin menjalin pertemanan dan rajin berkomunikasi dengan teman-teman baru itu.  gak perlu pusing-pusing  nyari materi ngobrol, karena pokok bahasannya jelas yaitu tentang dunia entrepreneur  yang sangat banyak dan bervariasi.</p>
<p style="text-align: justify;">di sana pula saya jadi punya figur atau contoh untuk menjalin komunikasi.  mentor-mentor  yang mengajar disana itulah yang menjadi contoh figur yang terbaik buat saya.  pada setiap sesi  pelatihan  saya dapat melihat bagamana para mentor menjelaskan isi materi yang di bawakannya.  dan  melihat cara-cara mereka membangun komunikasi dengan para peserta pelatihan itu. di sana mentornya banyak dan berganti-ganti. tidak seperti saat kuliah di universitas yang dosennya terbatas. dan para dosen itu biasanya tidak mau membangun komunikasi yang baik dan cenderung menjaga jarak dengan mahasiswanya.</p>
<p style="text-align: justify;">para mentor senantiasa  selalu berusaha berkomunikasi dengan baik dengan para peserta pelatihan. teman-teman di pelatihan itupun demikian, mereka juga berusaha membangun komunikasi dan hubungan yang akrab dengan mentor-mentor yang ada. contohnya banyak dan jelas sehingga saya dapat dengan gamblang belajar dan menirunya.</p>
<p style="text-align: justify;">seperti biasa setiap awal pasti sulit.</p>
<p style="text-align: justify;">apalagi buat saya yang gak mudah bergaul. tapi lagi-lagi lingkungan sangat mendukung. karena punya persamaan kepentingan para peserta pelatihan jadi kompak dan punya rasa kebersamaan, kita jadinya sering kumpul dan berdiskusi tentang apa saja. dan itu hampir setiap hari kita lakukan kadang sampai jauh malam. pokoknya saling sharing masalah dan mencari solusinya, dan sering kali kita pergi bersama dua sampai tiga orang untuk mengunjungi mentor atau senior yang lebih berpengalaman. dengan seringnya mengikuti setiap sesi pelatihan, kumpul-kumpul dan saling berkunjung, secara tidak langsung apa yang terjadi hari demi hari itu terekam dalam otak kecil saya. karena saking seringnya dan terbiasa memperhatikan dengan tekun, maka secara tidak sengaja apa yang terekam itu muncul secara otomatis dalam tindak tanduk saya.   maksudnya  saya jadinya bisa mulai mengajak orang lain berbicara, bisa memulai percakapan dengan orang baru  dan  kemampuan itu muncul secara tidak segaja dan biasanya pada saat yang di perlukan. <a href="http://174.36.4.202/categories/Best%20Friends/bfriends%20(37).jpg"><img class="alignleft" src="http://174.36.4.202/categories/Best%20Friends/bfriends%20(37).jpg" alt="" width="144" height="144" /></a></p>
<p style="text-align: justify;">karena sering ikut kumpul-kumpul jadinya saya mulai bisa membuka pembicaraan, karena sering berkunjung ke senior saya jadinya mulai bisa berbicara dengan orang baru dan asing yang saya anggap punya kemampuan diatas kemampuan saya. dulu jika saya ketemu dengan kondisi yang demikian  maka saya benar-banar akan mejadi seorang yang pendiam, karena bingung harus ngomong apa.</p>
<p style="text-align: justify;">kenapa kemampuan itu muncul?</p>
<p style="text-align: justify;">itu juga karena tidak di sengaja, misalnya saat berkumpul cankruan ternyata yang datang adalah muka-muka baru semua yang tidak saya kenal, sedang teman-teman yang saya kenal belum ada yang datang. maka mau tidak mau akhirnya saya yang memulai percakapan duluan. begitu juga saat kunjungan dan bertemu dengan senior atau mentor, ternyata saya yang datang lebih awal dibanding teman-teman lainnya maka akhirnya saya terpaksa harus berbasa basi duluan.</p>
<p style="text-align: justify;">kondisi tepaksa itu akhirnya bisa menjadi lancar dan terbiasa karena dalam otak kecil banyak tersimpan memori tentang percakapan yang sering saya dengar. lagi pula karena saya rajin sekali ikut kumpul-kumpul dan kunjungan wajah dan nama saya jadinya mudah dikenal oleh orang lain bahkan yang saya sendiri tidak kenal. sering ada telepon masuk dari orang yang saya tidak kenal menanyakan kapan ada acara kumpul-kumpul, dari kondisi itu pun kemampuan bicara saya secara tidak langsung terasah.</p>
<p style="text-align: justify;">di dalam berbagai acara yang sering diadakan teman-teman entrepreneur pemula saat itu, karena saya termasuk yang paling rajin hadir, maka saya sering ditunjuk untuk membuka, menutup bahkan menjadi moderator-nya. dari seorang yang kesulitan untuk berbicara dan mengolah kata-kata, saya akhirnya jadi terbiasa berbicara. saya jadinya sering berbicara dengan siapa saja, apalagi alumni pelatihan itu banyak sehingga selalu ada wajah baru yang gak saya kenal saat kumpul-kumpul.</p>
<p style="text-align: justify;">jadi sering kenalan deh, dengan banyaknya teman maka otomatis jam berbicara saya semakin banyak. dari  seringnya ditunjuk jadi moderator dalam acara kumpul-kumpul maka otomatis saya jadi punya keberanian dan terbiasa berbicara di depan orang banyak dan asing, dalam artian  tidak saya kenal dengan baik.</p>
<p style="text-align: justify;">sesuatu yang menjadi kebiasaan itu ternyata bisa banyak membantu, dan bisa muncul menjadi suatu kelebihan secara tidak kita sadari.   kebiasaan kumpul-kumpul, kunjungan-kunjungan dan jadi moderator akhirnya banyak membantu saya dalam belajar bergaul dan berkomunikasi.</p>
<p style="text-align: justify;">bahkan yang lebih ajaib sekarang ini saya sering diminta jadi pembicara dalam acara-acara talk show atau seminar entrepreneur. suatu pekerjaan yang tidak pernah terbayangkan akan terjadi pada  diri saya.  bagimana mungkin bisa terbayang saat itu,  saat itu saya adalah seorang yang  nggak bisa sama sekali ngajak bicara bahkan bercakap-cakap dengan orang lain yang baru dikenal.  bahkan hampir selalu tidak pernah terlibat dalam suatu percakapan, bila percakapan itu diikuti oleh orang-orang yang tidak saya kenal.  tapi sekarang ini saya seringkali diundang menjadi seorang pembicara di depan umum yang dihadiri dan didengar oleh banyak orang.</p>
<p style="text-align: justify;">saya gak pernah membayangkan ini bisa terjadi. saya yang awalnya introvert, kuper dan jarang bergaul. bisa berubah menjadi saya yang ada sekarang ini. memang sih saat mengikuti pelatihan dulu itu sempat muncul keinginan dalam hati dimana saya pingin sekali bisa bicara sebagai mentor didepan orang banyak dan semua orang yang hadir mendengarkan dengan seksama apa yang saya katakan.</p>
<p style="text-align: justify;">memang menyenangkan punya banyak teman itu. banyak yang saya dapat dari mereka. banyak yang saya pelajari dari mereka. dari teman-teman itu, saya bisa berubah menjadi lebih baik. banyak pengalaman saya peroleh dari pergaulan, banyak ilmu yang saya dapat dari pergaulan, bahkan banyak kesempatan yang saya peroleh dari pergaulan.</p>
<p style="text-align: justify;">saya bisa menjadi seperti sekarang, semuanya berkat teman-teman saya yang baik&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;.</p>
<p style="text-align: justify;">
<p style="text-align: justify;">
<p style="text-align: justify;">
<p style="text-align: justify;">
<p style="text-align: justify;">
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.samuraijagoan.com/2009/05/20/teman-teman-yang-baik/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>kok gitu sih bentuknya!</title>
		<link>http://www.samuraijagoan.com/2009/03/07/kok-gitu-sih-bentuknya/</link>
		<comments>http://www.samuraijagoan.com/2009/03/07/kok-gitu-sih-bentuknya/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 07 Mar 2009 15:07:27 +0000</pubDate>
		<dc:creator>samurai</dc:creator>
				<category><![CDATA[Artikel Menarik]]></category>
		<category><![CDATA[artikel]]></category>
		<category><![CDATA[bentuk]]></category>
		<category><![CDATA[kere]]></category>
		<category><![CDATA[media]]></category>
		<category><![CDATA[potongan]]></category>
		<category><![CDATA[sombong]]></category>
		<category><![CDATA[teman]]></category>
		<category><![CDATA[tokoh]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.samuraijagoan.com/?p=219</guid>
		<description><![CDATA[salah satu sifat jelek saya adalah sering sekali menilai seseorang dari penampilan luarnya.setiap kali saya ketemu dengan seseorang yang saya liat pertama adalah penampilannya, bersih apa enggak, keren apa enggak, kendaraan yang dipakainya apaan, kalo mobil bagus apa enggak, pokoknya yang gitu-gitu deh. kalo hanya sekedar ketemu teman baru sih gak terlalu parah saya menilai [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>salah satu sifat jelek saya adalah sering sekali menilai seseorang dari penampilan luarnya.<span id="more-219"></span><a href="http://www.samuraijagoan.com/wp-content/uploads/2009/03/positive.gif"><img class="alignleft size-medium wp-image-228" title="positive" src="http://www.samuraijagoan.com/wp-content/uploads/2009/03/positive-300x300.gif" alt="" width="300" height="300" /></a>setiap kali saya ketemu dengan seseorang yang saya liat pertama adalah penampilannya, bersih apa enggak, keren apa enggak, kendaraan yang dipakainya apaan, kalo mobil bagus apa enggak, pokoknya yang gitu-gitu deh. kalo hanya sekedar ketemu teman baru sih gak terlalu parah saya menilai seseorang dari bentuk luarnya. yang terparah kalo pas saya ketemu dengan seorang yang saya sering dengar nama bekennya atau di puji-puji sama teman-teman dekat saya sebagai tokoh yang dikagumi atau ketemu sama orang yang artikelnya sering saya baca di media.</p>
<p>begitu ketemu sama orang-orang tadi, otak kotor saya langsung bekerja secara otomatis, &#8220;lho orang ini bentuknya aja cuman kayak gitu, gak ada potongan orang kaya blas, kok bisa ya teman-teman saya memuji-muji&#8221; begitu biasanya otak kotor saya mengolah data yang ada.</p>
<p>&#8220;dari bentuknya aja masih kerenan saya, mobilnya aja masih bagusan mobil saya, baju yang dipakai biasa aja, trus dimana kehebatannya? kok teman-teman pada memuji-muji?&#8221; gitu pertanyaan yang muncul.</p>
<p>&#8220;kok bisa-bisanya orang kayak gitu bikin orang lain terpesona, apa ya hebatnya?&#8221;</p>
<p>kayak gitu deh pertanyaan-pertanyaan yang muncul dari dalam otak kotor saya. sangat parah, saya sadar kalo pikiran kotor kayak gitu jelek banget tapi saya juga susah banget ngilanginnya. karena muncul secara otomatis, kayaknya saya berusaha keras buat ngelawannya. yang saya lakukan biasanya berusaha mencari data yang lebih banyak tentang orang-orang tadi. dari data yang saya dapat biasanya saya pake buat ngelawan pikiran kotor yang sudah bercokol duluan di otak saya.</p>
<p>bentuk, potongan seseorang kadang memang bisa menipu tapi yang gak bisa menipu adalah &#8216;aroma aura&#8217; dari orang tersebut. seseorang dengan bentuk dan potongan kere gak bakalan bisa menyembunyikan aroma aura priyayinya kalo emang dia itu pada dasarnya priyayi. tapi seseorang yang gak punya aroma aura priyayi dalam kondisi gimanapun kerennya tetep gak bakalan bisa menampakkan aura priyayinya. yang paling parah adalah sudah bentuknya gak keruan plus gak punya aroma aura priyayi, nah yang kayak gini kok bisa-bisanya jadi tokoh panutan.</p>
<p>itu yang sering bikin saya heran, gak habis pikir atau bikin keraguan dalam hati saya. trus memunculkan rasa sombong dalam diri saya, apa bener saya harus ndengerin omongannya atau apa bener saya harus bertindak sesuai dengan apa yang dia bilang. pokonya banyak deh muncul pertentangan dalam diri saya.</p>
<p>tapi dari orang-orang tadi, walau bagaimanapun bentuknya mereka dan apapun data yang saya peroleh, saya akan tetep harus salut juga pada akhirnya pada mereka, karena kepercayaan diri yang ada pada diri orang-orang tadi sudah bisa bikin orang lain terpengaruh, sudah bisa meng-inspirasi orang-orang yang ada disekitarnya.</p>
<p>bentuk jelek, gak keren, mobil butut, duit cekak ternyata gak penting-penting bener. itu cuman ada di otak kotor saya. yang terpenting ternyata adalah seberapa bisanya kita mempengaruhi orang lain disekitar kita secara positif dan membuat orang-orang disekitar kita juga jadi ikut berpikiran positif.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.samuraijagoan.com/2009/03/07/kok-gitu-sih-bentuknya/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>kasian deh lu&#8230;.</title>
		<link>http://www.samuraijagoan.com/2009/02/21/kasian-deh-lu/</link>
		<comments>http://www.samuraijagoan.com/2009/02/21/kasian-deh-lu/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 21 Feb 2009 14:39:40 +0000</pubDate>
		<dc:creator>samurai</dc:creator>
				<category><![CDATA[Artikel Menarik]]></category>
		<category><![CDATA[Entrepreneurship]]></category>
		<category><![CDATA[kerja keras]]></category>
		<category><![CDATA[memberi]]></category>
		<category><![CDATA[peluang]]></category>
		<category><![CDATA[potensi]]></category>
		<category><![CDATA[resiko]]></category>
		<category><![CDATA[teman]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.samuraijagoan.com/?p=192</guid>
		<description><![CDATA[suatu malam saya kedatangan tamu, seorang marketing dari sebuah bank swasta yang sudah membantu saya mendapatkan kredit, gak banyak kok kredit yang saya peroleh dari bank itu, cuman 425jt. tapi jumlah itu gak penting yang lebih penting adalah cerita dia pada saya tentang kinerjanya. dia cerita dalam tahun 2009 ini karena adanya krisis yang menimpa [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img class="alignright" src="http://tell.fll.purdue.edu/JapanProj/FLClipart/Adjectives/poor.gif" alt="" width="249" height="171" />suatu malam saya kedatangan tamu, seorang marketing dari sebuah bank swasta yang sudah membantu saya mendapatkan kredit, gak banyak kok kredit yang saya peroleh dari bank itu, cuman 425jt. <span id="more-192"></span>tapi jumlah itu gak penting yang lebih penting adalah cerita dia pada saya tentang kinerjanya. dia cerita dalam tahun 2009 ini karena adanya krisis yang menimpa dunia dan berimbas pada dunia pemberian kredit, termasuk pada bank tempat dia bekerja. akibat dari krisis tersebut, permohonan kredit yang diajukan nasabahnya menurun sehingga berakibat pada omset yang melorot. karena pemberian kredit yang terus melorot pada nasabahnya, maka bank tersebut berusaha memacu karyawan-karyawannya terutama bagian marketing untuk berlomba-lomba mencari nasabah yang mau mengajukan kredit. iming-iming yang diberikan oleh bank tersebut pada karyawannya adalah bila seorang marketing memperoleh penjualan kredit tertinggi diwilayahnya, disini wilayah surabaya, gresik dan sidoarjo, secara komulatif selama periode kerja tiga bulan-an maka dia akan memperoleh bonus berupa insentif sebesar dua juta rupiah.</p>
<p>akibat iming-iming bonus itu maka teman saya ini rela bekerja luar biasa ektra keras, pergi pagi-pagi dan pulang diatas jam sembilan malam, ini sudah dilakukan selama tiga bulan, sehingga dia adalah kandidat terkuat juara pertama, dan omsetnya saja sampai perengahan bulan sudah 600 juta lebih.</p>
<p>saya terperangah mendengar ceritanya&#8230;</p>
<p>buat nyari duit dua juta saja dia rela pergi pagi dan pulang malam hampir tiap hari selama tiga bulan termasuk hari sabtu dan minggu meninggalkan anak dan istrinya. mending kalo duit dua juta itu diperoleh setiap bulan, lha ini per tiga bulan sekali.</p>
<p>gileeee, hebat luar biasa&#8230;.</p>
<p>betapa bahagianya teman tadi bila dapat dua juta rupiah, tapi yang lebih bahagia adalah bank tempat dia kerja, hanya dengan pancingan bonus sebesar maksimal 2 juta saja bisa bikin rata-rata karyawannya kerja gulung koming setiap hari selama tiga bulan. bisa diitung kan omset bank tadi, bila seorang karyawan seperti teman tadi dapat minimal 600 juta dikali berapa tenaga marketing dari setiap cabang dikali jumlah cabang diwilayah itu dikali tiga bulan.</p>
<p>padahal teman saya itu hebat lho, dia punya kemampuan luar biasa dalam mencarikan uang buat orang lain. dan uang yang dicarikannya itu jumlahnya gak main-main, bukan jumlah yang recehan. itu yang bikin saya heran, dia mau-maunya bekerja keras buat orang lain untuk penghasilan yang jumlahnya tidak seberapa.</p>
<p>saya pernah bertanya padanya tentang kemampuannya itu, kenapa kemampuannya yang luar biasa itu tidak digunakan untuk mencari uang buat dirinya sendiri. apa dia tidak sadar akan kemampuannya itu. dia menjawab sebenarnya dia sadar terhadap apa yang dia kerjakan selama ini. dia sadar akan kerja kerasnya, sadar akan hasil yang diperolehnya dan sadar akan berapa besar uang yang diperoleh nasabahnya atas bantuannya itu.</p>
<p>trus saya tanya lagi, &#8220;kalo kamu sadar kenapa kamu gak bikin usaha sendiri saja trus nyari pinjaman yang banyak ke bank, padahal kamu toh sudah sangat paham terhadap cara-caranya?&#8221; dia cuman bilang kesaya bahwa dia gak tau cara muter duit itu, dan karena dia gak tau dia gak berani melakukannya. dia hanya berani melakukan yang pasti-pasti saja walaupun harus kerja keras dan hasilnya sedikit.</p>
<p>teman saya itu gak berani bertindak, dia tidak berani melakukan resiko terhadap hal yang dia tidak tau. ini aneh banget menurut saya. teman tadi itu, karena jago mencarikan pinjaman ke pengusaha maka dia punya banyak relasi pengusaha. apalagi teman tadi itu selalu membina hubungan baik dengan nasabah-nasabah yang pengusaha sehingga terjadi hubungan yang akrab, seperti pertemanan antara saya dan dia. karena akrab, maka relasinya yang pengusaha, tidak segan-segan berbagi cerita tentang bisnis, tentang peluang-peluang ada, tentang solusi bila ada masalah. bahkan seringkali ada yang menawarkan akan membantu membinanya bila dia membuka usaha.</p>
<p>penawaran demi penawaran di perolehnya, support juga didapatnya. tapi tetep aja teman tadi gak berani bertindak gak berani berubah haluan, dan tetap dengan alasan dia gak bisa dan gak mengerti cara-caranya. ini yang juga bikin saya heran, dulu sebelom dia jadi marketing berprestasi seperti sekarang dia toh juga memulainya dari gak bisa, dari sulitnya mencari nasabah pertama yang mau ngambil kredit darinya. kondisinya sama, saat awal bekerja dia mulai dari gak bisa plus menerima resiko gak diperpanjang masa kerjanya bila target omset gak masuk. nah sekarang bila memulai usaha dia juga sama seperti dulu, mulai dari gak bisa dan tetep punya resiko yang sama kehilangan penghasilan bila terget omset gak masuk. semuanya sama, tapi dia tetep gak mau berubah. dia tetep merasa nyaman dengan kerja kerasnya yang dilakukan tiap hari hanya demi kepastian penghasilan.</p>
<p>emang sih tiap orang berhak bertindak sesuai dengan kenyamanan yang sesuai menurut diri masing-masing. tapi mestinya kita juga harus nyadar terhadap potensi diri yang dimiliki. karena tiap orang emang punya potensi, hebat tidaknya suatu potensi tergantung dari diri orang itu sendiri mau mengasahnya atau tidak. trus kalo sudah nyadar tentang potensi yang dimiliki kenapa harus memilih peluang buat memperkaya oran lain kenapa gak memilih peluang buat memperkaya diri sendiri.</p>
<p>seberapa besarnya penghasilan yang diberikan oleh orang lain pada diri kita, pasti lebih besar penghasilan orang yang memberi tadi, besarnya bisa berlipat-lipat, bisa puluhan bahkan ratusan kali lipat. dan itu semua karena kerja keras kita buat mereka.</p>
<p>asyik kan&#8230;&#8230;..</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.samuraijagoan.com/2009/02/21/kasian-deh-lu/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>hawa panas menyerang&#8230;.</title>
		<link>http://www.samuraijagoan.com/2009/02/20/hawa-panas-menyerang/</link>
		<comments>http://www.samuraijagoan.com/2009/02/20/hawa-panas-menyerang/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 20 Feb 2009 03:32:05 +0000</pubDate>
		<dc:creator>samurai</dc:creator>
				<category><![CDATA[Artikel Menarik]]></category>
		<category><![CDATA[bakso kepala sapi]]></category>
		<category><![CDATA[kepepet]]></category>
		<category><![CDATA[sombong]]></category>
		<category><![CDATA[teman]]></category>
		<category><![CDATA[zona nyaman]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.samuraijagoan.com/?p=184</guid>
		<description><![CDATA[ada fenomena menarik yang saya alami. pada saat ini saya punya semakin saya banyak teman, teman-teman yang semuannya pengusaha, tapi rasanya hidup ini semakin tidak tenang rasanya.kenapa bisa begitu?
karena teman-teman saya itu semakin hari semakin menunjukkan prestasi bisnis yang gilang gemilang. yang tadinya kita sama-sama merayap untuk maju, sekarang rasanya saya sudah banyak ketinggalan karena saya masih [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>ada fenomena menarik yang saya alami. pada saat ini saya punya semakin saya banyak teman, teman-teman yang semuannya pengusaha, tapi rasanya hidup ini semakin tidak tenang rasanya.<span id="more-184"></span><img class="alignleft" src="http://mave.files.wordpress.com/2007/11/istana-pagaruyung-istano-saat-kebakaran.jpg" alt="" width="299" height="282" />kenapa bisa begitu?</p>
<p>karena teman-teman saya itu semakin hari semakin menunjukkan prestasi bisnis yang gilang gemilang. yang tadinya kita sama-sama merayap untuk maju, sekarang rasanya saya sudah banyak ketinggalan karena saya masih merangkak sedangkan banyak teman saya yang sudah berlari kencang. saking kencangnya sehingga sudah sulit lagi buat dikejar.</p>
<p>dengan banyak hal yang saya peroleh dari hasil usaha saya, agaknya bikin saya selama ini sudah kembali masuk ke dalam zona nyaman. suatu wilayah yang sangat berbahaya, dimana bisa membuat diri kita terlena. padahal zona nyaman itu seharusnya gak boleh didekati, apalagi untuk dimasuki.</p>
<p>keadaan disana sangat tenang, nyaman dan damai. kehidupan berjalan mulus tanpa ada rintangan, tanpa saingan dan kompetitor. kondisi ini bikin terlena. padahal mestinya saat kita memproklamasikan diri kita sebagai entrepreneur, zona nyaman langsung di taruh didepan kita dengan tanda perboden yang besar. harus selalu kita hindari. tapi menghindarnya ternyata sulit tidak semudah yang dibayangkan, apalagi saat usaha kita sudah bisa berputar dengan sendirinya tanpa perlu terlalu banyak campur tangan dari kita sebagai owner. saya merasakan itu sekarang ini. rasa bosan yang luar biasa datang menghampiri, sepertinya sudah gak ada tantangan lagi, saya bingung musti bikin apa dan bingung musti ngerjain apa.</p>
<p>dulu pada saat mulai, saat merintis usaha, rasanya pingin banget ditanyain sama teman-teman, relasi atau orang lain yang gak kita kenal sama sekali tentang keberhasilan bisnis yang saya miliki. pingin sekali dirubung sama teman-teman yang sedang bingung mencari bisnis, persis seperti saya dulu ngerubung para mentor yang sudah sukses bisnisnya, ngejar-ngejar mereka hanya sekedar bisa bertanya atau foto bareng. rasanya gimana gitu perasaan saya saat itu, melihat mentor-mentor saya itu dirubung murid-muridnya, ditanya macem-macem tentang bisnis. saat para mentor itu menjawab pertannyaan kita, rasanya mereka itu gagah banget, sakti mandraguna, hebat.</p>
<p>pingin sekali rasanya jadi kayak mereka, jadi mentor yang hebat, punya bisnis yang katanya bagus, yang bisa menjawab segala pertannyaan kita dengan mudahnya&#8230;.</p>
<p>sekarang ini sekian tahun berlalu,</p>
<p>rasa sombong dah datang menyerang, memasuki otak saya&#8230;</p>
<p>saya dah ngerasa jadi mentor, dirubung orang banyak yang bertanya dengan kagum pada saya, punya murid, punya toko lebih dari satu, punya asset lebih dari satu, punya hutang lancar yang banyak, punya karyawan banyak, sering diundang jadi pembicara, duduksejajar dengan para mentor, bahkan lebih dulu dapat award dari mentor-mentor saya dan masih banyak lagi perasaan yang bikin bangga.</p>
<p>semua bikin terlena, bikin mabuk, bikin melayang di awang-awang, bikin masuk di zona nyaman yang terlarang itu.</p>
<p>trus apalagi yang dicari kayaknya semua sudah terhidang didepan mata tinggal menyantap saja. apa yang dulu saya impikan, rata-rata sudah terealisasi&#8230;.</p>
<p>parah&#8230;</p>
<p>sampai suatu saat saya dapat sms dari teman, yang mengabarkan bahwa dia masuk tv, metro tv, talk show dengan rhenald khasali dan dian sastrowardoyo, hebat luar biasa.  teman baik saya itu ternyata sudah berubah menjelma menjadi raksasa yang menakutkan. anggara pemilik bakso kepala sapi yang selama ini selalu saya anggap sebagai anak kecil, anak bawang, anak kemaren sore benar-benar sudah ber&#8217;triwikrama&#8217; menjadi tokoh nasional yang fenomenal.</p>
<p>kenapa anggara bisa, saya pikir, saya renungkan sampe gak bisa tidur. ternyata yang dia lakukan sederhana kok, dia cuman mencari lingkungan baru yang membuat adrenalinnya berpacu lebih kencang, dia tinggalin surabaya tempatnya sekolah dan pulang kampung dimana dia dekat dengan orang tuanya. di surabaya dia merasa tidak ada tantangan karena lingkungan disitu tidak membuatnya berpacu, di kampungnya dia hidup lebih tidak tenang karena orang tuanya pasti akan berteriak setiap saat agar anggara segera berprestasi. di kampungnya dia lebih dekat dengan para pengusaha yang lebih sakti dimana bisa bikin dia terpacu dalam berbuisnis, ilmu-ilmu baru dapat dia peroleh jurus-jurus baru segera dapat dia kembangkan buat kesuksesannya.</p>
<p>itu menyadarkan saya seperti menampar pipi kiri dan kanan sehingga saya terbangun. wah saya harus segera berubah harus segera merombak rutinitas yang sekarang menjadi kegiatan sehari-hari. harus cari tantangan baru, harus cari kawan baru, harus cari lingkungan baru yang bisa melecut saya untuk menghasilkan suatu prestasi baru.</p>
<p>ada pesan awal yang saya dapat dari seorang mentor saat saya mulai jadi entrepreneur, dia mengatakan  seseorang dapat menjadi sesuatu yang luar biasa bila dia memulainya dalam kondisi terdesak, kepepet, ternyata sangat mengena. dan itu ternyata gak harus dilakukan oleh para pemula saja. setiap orang harus melakukannya tidak peduli siapapun dan dalam kondisi apapun.</p>
<p>saya merasa saya harus tetap dalam kondisi kepepet kalo mau selamat, kalau mau tetap maju kalau beneran pingin berubah. saya merasa gak  boleh sedetikpun merasa nyaman, saya harus bikin sendiri kondisi kepepet itu, beda dengan dulu dimana saya terjebak dalam kondisi yang benar-benar kepepet sehingga gak ada pilihan lain, selain melakukan sesuatu. take action!</p>
<p>kondisi sekarang sangat berbeda saya yang harus menciptakannya, dulu kepepet merupakan suatu hal yang dihindari, sesuatu yang menakutkan tapi sekarang kepepet merupakan sesuatu yang dicari dan dirindukan&#8230;</p>
<p>aneh kan&#8230;</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.samuraijagoan.com/2009/02/20/hawa-panas-menyerang/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>
