
suatu saat saya minta kawan saya untuk mensponsori acara yang saya bikin. dengan janji bahwa nanti akan saya sediain alat sajinya sebanyak yang dia butuhkan, dan brosur berupa stiker yang mencantumkan nama dan nomor teleponnya yang akan saya tempel di alat saji tersebut. kawan tadilah yang saya minta untuk membiayai serta mengisinya dengan makanan.
si kawan menyetujui, dan memang mempersiapkan dengan baik semua yang dibutuhkan, tapi ternyata dalam praktek menuju hari H banyak hal tiddak diinginkan yang terjadi, ada saja halangan yang menghadang persiapan-persiapan kami.
semua sibuk, saya si kawan dan team saya memang sibuk dengan urusan dan bisnis masing-masing. 3 hari sebelum hari H, team saya yang mempersiapkan peralatan yang hendak di pakai tiba-tiba sakit sehingga berhalangan untuk belanja peralatan tadi. akibatnya anggota team saya itu baru bisa belanja [+]
dendam itu emang jelek dan gak boleh dilakukan karena akan menjadi pemicu untuk melakukan aksi balas dendam lagi. balas membalas yang tak berkesudahan. tapi ada sebuah dendam yang saya anggap baik dan harus di punyai oleh seseorang yang pingin maju dan sukses. dendam ini biasanya muncul karena sakit hati akibat pelecehan dan ketidak percayaan pada kemampuan kita. dendam ini kalau dibiarkan dan dibina dalam aura positif akan menjadi alat pemacu yang luar biasa. yang bisa memberi semangat untuk meraih prestasi dan kesuksesan.
saya teringat saat saya pertama kali mengajukan surat permintaan sponsor ke sebuah instansi pemerintah. saat itu surabaya entrepreneur club (sec) komunitas tempat saya bergabung jadi anggota berniat ingin menularkan virus [+]
- air mengalirpun punya tujuan, ...
- Lapangan Golf, Tempat buat nga...
- jika tidak paham, kedit adalah...
- orang Indonesia selalu saja ge...
- terjatuh akibat terlalu yakin ...
- sebuah diskusi ringan tentang ...
- mau makan aja kok sampai ‘in...
- godaan asap sate….
- memang gak selalu duit…
- Aburizal Bakrie, “Saya P...
- kerja efektif secara jika mau ...
- pengangguran oh pengangguran



