<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Samurai Jagoan &#187; responsibilities</title>
	<atom:link href="http://www.samuraijagoan.com/tag/responsibilities/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://www.samuraijagoan.com</link>
	<description></description>
	<lastBuildDate>Mon, 30 Aug 2010 07:44:39 +0000</lastBuildDate>
	<generator>http://wordpress.org/?v=2.8.6</generator>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
			<item>
		<title>sedih rasanya&#8230;</title>
		<link>http://www.samuraijagoan.com/2009/10/18/sedih-rasanya/</link>
		<comments>http://www.samuraijagoan.com/2009/10/18/sedih-rasanya/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 18 Oct 2009 17:04:11 +0000</pubDate>
		<dc:creator>samurai</dc:creator>
				<category><![CDATA[Artikel Menarik]]></category>
		<category><![CDATA[Entrepreneurship]]></category>
		<category><![CDATA[entrepreneur]]></category>
		<category><![CDATA[entrepreneur bodoh]]></category>
		<category><![CDATA[entrepreneur pemberontak]]></category>
		<category><![CDATA[entrepreneur university]]></category>
		<category><![CDATA[gerobak]]></category>
		<category><![CDATA[kawan]]></category>
		<category><![CDATA[kopi]]></category>
		<category><![CDATA[one vision]]></category>
		<category><![CDATA[pasar]]></category>
		<category><![CDATA[razia]]></category>
		<category><![CDATA[responsibilities]]></category>
		<category><![CDATA[satpol pp]]></category>
		<category><![CDATA[sec]]></category>
		<category><![CDATA[stiker]]></category>
		<category><![CDATA[surabaya entrepreneur club]]></category>
		<category><![CDATA[tangan diatas]]></category>
		<category><![CDATA[tanggung jawab]]></category>
		<category><![CDATA[tda]]></category>
		<category><![CDATA[tda surabaya]]></category>
		<category><![CDATA[terpal]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.samuraijagoan.com/?p=1103</guid>
		<description><![CDATA[saat ngluyur di jakarta tempo hari, saya main kerumah seorang teman sma. dianya tinggal disebuah rumah yang berukuran 3&#215;3,5. ia hidup disana bersama dengan seorang istri dan 2 orang putranya yang sudah duduk di bangky sekolah dasar. bener-bener rumah yang gak layak disebut rumah huni &#8211; atapnya terbuat dari asbes yang bila hari semakin siang [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;">saat ngluyur di jakarta tempo hari, saya main kerumah seorang teman sma. dianya tinggal disebuah rumah yang berukuran 3&#215;3,5. ia hidup disana bersama dengan seorang istri dan 2 orang putranya yang sudah duduk di bangky sekolah dasar. bener-bener rumah yang gak layak disebut rumah huni &#8211; atapnya terbuat dari asbes yang bila hari semakin siang maka udara di dalam rumah yang bertembok batako tanpa plester serta lantai berkeramik yang sudah hancur di sana sini sehingga plester semennya tampak dimana-mana itu semakan panas dan pengap.<span id="more-1103"></span></p>
<p style="text-align: justify;">yang tampak mewah dari rumah tanpa perabot itu hanya sebuah televisi 14&#8242; jaman dulu yang suara dan gambarnya gak jelas lagi. pintu dan tembok depannya terbuat dari seng sedang ada sebuah pintu dari seng yang berhubungan dengan halaman belakang yang sudah dilapisi plester semen. di sana ada tempat cuci piring yang menjadi satu dengan tempat cuci baju, tempat masak dan sekaligus tempat mandi. sementara supaya ad batas antara halaman belakang dengan area publik terbentang kain spanduk yang diikat disana sini agar tidak terbang tertiup angin.</p>
<p style="text-align: justify;">rumah yang didirikan hanya berjarak kira-kira dua meter dari bak pembuangan sampah itu  menghadap kearah  sebuah sungai berair sangat keruh yang biasa disebut oleh warga sekitar sebagai kali malang. rumah dan sungai itu dipisah oleh  jalan  semi tanah yang lebarnya hanya bisa dilalui  sebuah mobil. disepetak halaman yang memisahkan jalan dengan pintu rumahnya terdapat sebuah meja tua tempat istrinya meletakkan dagangan berupa snack dan minuman sashet yang jumlahnya tidak seberapa, lalu ada sebuah bekas sofa yang sudah robek dan hancur disana sini buat istrinya bila menunggu dan meramu dagangan tadi.</p>
<p style="text-align: justify;">selain itu teras kecil ukuran 1&#215;2m yang ditutupi terpal sebagai penghalang panas itu dipenuhi oleh gantungan pakaian kumuh yang dijemur setelah dicuci.</p>
<p style="text-align: justify;">saat saya datang pintu rumah terbuka lebar tapi tidak ada penghuninya sehingga saya sempet clingak clinguk selama beberapa menit didepan rumah itu. mungkin sekitar lima menit saya menunggu sampai saya melihat seorang laki-laki hanya memakai celana kolor tanpa baju berjalan menujukearah saya yang berdiri didepan rumah itu. laki-laki itu berambut kribo, berkulit hitam ddan sangat dekil. dari jauh saya dah mengira dia itu teman yang saat kelas satu sma duduk tepat didepan saya. dia sempat gak mengenali saya yang melambaikan tangan tapi setelah dekat dia tersenyum lebar &#8211; rupanya wajah dan potongan tubuh saya sudah dikenalinya.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8216;halo murai, loe gak berubah ya tetep gendut tapi tampaknya sekarang lebih tinggi ya&#8217; katanya cuek menyapa saya yang menyodorkan tangan buat menjabat tangannya. dia membalas jabatan tangan dan kamipun berjabat erat.</p>
<p style="text-align: justify;">dia mempersilahkan masuk dan mengajak duduk dilantai, lesehan. setelah menurunkan green ransel, saya pun duduk selonjor didepannya. badan yang rasanya capek banget itu, jadi berubah mendapat kenikmatan dengan duduk berselonjor dilantai berkeramik putih bersih yang remuk disana sini.</p>
<p style="text-align: justify;">memang walaupun bangunan kecil dan sumpek itu gak layak disebut rumah, tapi kondisinya sangat bersih. berbeda jauh dengan penampilan sang tuan rumah yang sangat dekil itu.</p>
<p style="text-align: justify;">kami pun berbas basi dan ngobrol ngalor ngidul, dia menyuguhi saya segelas air putih karena dia malas membuatkan kopi untuk saya. &#8216;nanti saja ya kopinya tunggu istri saya datang&#8217; katanya cuek sambil nyengir lebar &#8211; suatu gaya khas yang gak berubah sejak jaman kelas satu sma walaupun sudah sekitar 23 tahun kami tidak berjumpa.</p>
<p style="text-align: justify;">dia cerita kalau sudah tiga tahun menempati rumah itu yang dibelinya dari seseorang senilai 2,5juta. uang itu didapatnya dari keuntungan menjual terpal dipasar jatinegara. rupaya kawan ini mencari nafkah dengan berjualan terpat dengan gerobak dipasar itu. dua tahun dia berjuang sehingga terkumpul uang yang digunakannya buat membeli sebuah rumah sehingga dia bisa menjemput istinya dari kampung untuk tinggal bersama disana.</p>
<p style="text-align: justify;">saya merasa sangat nyaman dirumah itu sehingga sampai merebahkan tubuh dilantai dengan kepala beralaskan ransel. tidak lama istri dan anaknya datang dan saya dikenalkan pada mereka.</p>
<p style="text-align: justify;">kami melanjutkan ngobrol sambil saya tetep berbaring santai dan sesekali menyeruput kopi panas bikinan istri kawan itu. dia bercerita tentang pengalaman hidupnya. setelah dia menikah dan harus meninggalkan rumah dan bisnis cuci mobil milik keluarganya.</p>
<p style="text-align: justify;">dengan modal sekitar 1-2 juta dia mulai merintis bisnis terpal dipasar jatinegara sampai bisa membeli rumah petak kecil itu seharga 2,5 juta dan mengajak anak istrinya tinggal bersama. asetnya yang berupa barang dagangan pun meningkat, jika ditotal dan dinilai dengan rupiah berkisar 4 juta-an. jadi hanya dalam dua tahun bisnisnya berkembang dan dia sudah bisa menghasilkan aset.</p>
<p style="text-align: justify;">tapi peruntunggannya gak lama karena kemudian gerobak terpalnya terkena razia satpol pp dan habislah sudah aset barang dagangannya. dengan berbekal sisa uang yang ada dia merintis usaha lagi, kali ini jualan terpal dibarengi dengan stiker, karena uang yang ada tidak mampu di kulakkan terpal banyak-banyak, jadi kemudian dia jualan terpal dan stiker di jalan raya kalimalang dekat pom bensin kampung bali.</p>
<p style="text-align: justify;">hidupnya ternyata gak bisa tenang lama-lama menikmati hasil jualan stiker dan terpal itu. gak lama satpol pp datang lagi dan barang dagangannya dirazia lagi. tapi kali ini petugas masih bermurah hati sehingga tidak semua barang dagangaan nya disita, sebagian dikembalikan oleh petugas.</p>
<p style="text-align: justify;">akibat kejadian itu, kawan tadi gak berani dagang dipagi hari sebab saat itu satpol pp rajin-rajinnya berpatroli, dia hanya berani dagang di siang setelah zhuhur sampai jauh malam karena saat itu patroli satpol pp suddh berhenti. otomatis omsetnya mlorot drastis yang bikin hancur penhasilan hariannya.</p>
<p style="text-align: justify;">rupanya nasib baik masih belum berpihak padanya, listrik yang menjadi sarana menghidupkan lampu guna penerangan saat jualan dimalam hari diputus oleh yang empunya dan dia tidak diijinkan guna memakainya lagi. habislah kini peluang berdagang malam hari dan otomatis dia hanya bisa berjualan sehabis zhuhur dan tutup menjelang maghrib.</p>
<p style="text-align: justify;">sudah gak bisa jualan dengan bebas, kini kawan tadi malahan menjadi banyak punya waktu nggangur dipagi hari sampai saat zhuhur. untuk mengisi waktu luangnya dan untuk mencari tambahan penghasilan buat nambal cash flownya yang hancur-hancuran kawan tadi akhirnya menjadi pemulung dan pemilah barang-barang plastik dan barang lainnya yang masih layak jual dari tempat sampah yang berjarak 2 meter disamping rumahnya.</p>
<p style="text-align: justify;">barang pilahan dari tempat pembuangan sampah, dibungkusnya dengan karung plastik lalu ditumpuk disekitar dagangan terpalnya yang kini digelar di jalan depan rumahnya karena takut dirazia lagi. karena harus menunggu sampai mencapai berat tertentu sehingga barang sampah pilahannya itu layak dijual pada pegepul, maka tumpukan tersebut semakin menggunung saya bahkan hampir menutupi dagangan terpalnya.</p>
<p style="text-align: justify;">tadinya saya bertanya tempat dia menaruh stok terpalnya, ketika dia menunjuk tumpukan karung saya sampai melongo karena diantara tumpukan karung itu terdapat terpal dagangannya. &#8216;wah, saya kira tadi semua adalah sampah&#8217; gitu komentar spontan saya. &#8216;trus gimana caranya orang tau kalo loe jualan terpal&#8217; tanya saya lagi &#8217;sudah jualannya jauh dari jalan, tersamar oleh tumpukan sampah lagi&#8217;</p>
<p style="text-align: justify;">sambil nyengir dia blang &#8216;mau gimana lagi ray, kan gak ada tempat jualan &#8211; dari pada maksa jualan deket jalan raya dan beresiko disikat ama satpol pp lagi mending ditumpiuk disini same ada yang datang nyari&#8217;</p>
<p style="text-align: justify;">jawaban yang simple, singkat tapi jelas dan bikin bingung yang nanya karena memang itu kondisi real yang ada disana. saya bingung karena tadinya saya berpikir keras gimana caranya dia bisa berdagang terpal lagi di dekat jalan raya. rasanya buntu otak saya, akhirnya saya ikutan nyengir juga sambil nanya lagi tentang pendapatannya perhari, dengan santai dia bilang gak mesti dapat &#8211; &#8216;terima 20 ribu aja udah bagus banget&#8217; jelasnya.</p>
<p style="text-align: justify;">dengan 20 ribu per hari, itupun belum tentu rutin dan sering gak ada barang dagangannya yang laku, mana bisa mencukupi kebutuhan empat kepala yang bergantung pada satu-satunya sumber usaha tersebut. akibatnya jelas menu makanan hariannya gak jelas dan paling bagus adalah goreng tempe dan sayur bening. itu sudah mewah, karena sering saat gak ada pemasukan maka keluarga itu hanya makan nasi dan krupuk saja, bahkan sampai mencari hutangan berupa nasi, lauk dan sayur jika stok beras habis dan uang bual beli beras gak ada.</p>
<p style="text-align: justify;">saat saya terbengong-bengong mikirin kehidupan kawan itu, ada kabar dari istrinya kalo ada orderan untuk masang stiker di sebuah sepeda motor. kawan tadi pamit karena ada kerjaan dan saya memutuskan tidur siang dilantai rumah kawan tadi. melihat saya memejamkan mata dengan santai dan beralaskan ransel buat kepala, istri kawan tadi mengambilkan sebuah bantal. walaupun kumuh tapi rasanya sarung bantal itu bersih, padahal saya tadi sempet mikir jika yang disodorkan sebuah bantal dekil, apa yang harus saya perbuat.</p>
<p style="text-align: justify;">saya rupanya tertidur cukup lama di lantai rumah kawan tadi, terbukti saat bangun sayur bening dan tempe gorengnya sudah matang. padahal saat saya ditinggal sendirian karena ada orderan tadi saya melihat si istri masih sibuk motong- sayuran. saya buru-buru pergi karena tahu mereka mau makan siang bersama. sambil cengar-cengir anak kawan yang paling kecil bilang &#8216;om tadi ngoroknya keras banget&#8217;</p>
<p style="text-align: justify;">waduh ternyata saya tidur nyenyak sampai ngorok-ngorok saat berbaring dilantai, tanpa sungkan sama sekali dengan keluarga itu. kini giliran saya yang cengar-cengir sambil pamit mau nyusul dan ngeliat proses pemasangan stiker di sebuah motor yang sedang digarap oleh kawan tadi.</p>
<p style="text-align: justify;">saya rasa dia bekerja memasang stiker pada sebuah sepeda motor lebih dari dua jam dan ketika saya tanyakan berapa ongkos yang diterimanya adalah sekitar 40ribu. jumlah yang sangat sedikit untuk kerja yang begitu lama apalagi pekerjaan seperti itu tidak sering dia dapat. jadinya di saat-saat sepi pikirannya sering kosong, karena dia tidak lagi mampu berpikir tentang cara-cara yang harus dilakukan untuk menutup biaya hidupnya. yang bisa dilakukannya hanya bermimpi dan bermimpi saja sebab kebutuhan hidupnya semakin tinggi tapi usahanya tidak kunjung membaik.</p>
<p style="text-align: justify;">sebenarnya dia tidak kehilangan kreativitasnya yang memang terasah sebagai entrepreneur, itu sudah dibuktikan dengan buka warung jajan ala kadarnya dan cukup rame saat siang menjelang sore dimana di sungai depan rumahnya penuh dengan anak-anak kampung yang bermain renang-renangan. ada lagi mimpinya, yaitu pingin bikin sarana bermain air yang disewakan pada anak-anak yang berenang disungai depan rumahnya itu seperti seluncuran dan berbagai perlatan lainnya.</p>
<p style="text-align: justify;">baginya mimpi hanya sekedar mimpi karena sarana pendukung mimpinya itu seperti jauh dilangit ketujuh.</p>
<p style="text-align: justify;">kreativitas tidak bisa hilang memang tapi daya pikir bisa hilang karena tidak pernah diasah.</p>
<p style="text-align: justify;">dia yang saat sma jago fisika dan sering bisa menjawab soal-soal  yang harus dikerjakan saat itu juga dipapan tulis atas perintah guru fisika yang terkenal killer sehingga menyelamatkan kawan-kawan sekelas dari hukuman apabila tidak dapat menjawab soal-soal tadi. dia juga lulusan sarjana tehnik dari sebuah perguruan tinggi swasta. tapi sekarang ini saat diajak ngobrol sering gak nyambung antara pertanyaan dan jawaban, kehidupan yang keras bikin semuanya berubah sampai-sampai saat diajak untuk cankruan di sebuah mall dia terkagum-kagum pada gedung-gedung bertingkat yang ada disekitar mall itu, padahal dia selama ini tinggal di salah satu sudut ibukota yan ramai dan terkenal sebagai jalur macet.</p>
<p style="text-align: justify;">sedih rasanya melihat dan merasakan sendiri kondisi kawan tadi. saat saya tiduran dikasur empuk dikamar saya yang luas dan sejuk karena adanya alat pendingin, pikiran ini teringat saya tidur di rumah kawan saya yang ukurannya lebih kecil dari luas kamar tidur saya, dan sangat panas karena kondisinya memang tidak layak. saya merasa jauh lebih beruntung dan saya sangat mensyukui hal itu.</p>
<p style="text-align: justify;">kini kawan-kawan saya sekelas ingin membantunya sebagai semangat solidaritas yang memang sudah kita pupuk bersama sejak jaman kita sama-sama dikelas satu sma.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8217;saga one vision&#8217; itu kelas kita saat di sma yang berarti anak-anak kelas satu tiga yang punya visi bersama yang tunggal.</p>
<p style="text-align: justify;">semoga kita berhasil ya&#8230;&#8230;</p>
<p style="text-align: justify;">
<p style="text-align: justify;">
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.samuraijagoan.com/2009/10/18/sedih-rasanya/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>semua hanya pilihan</title>
		<link>http://www.samuraijagoan.com/2009/10/14/semua-hanya-pilihan/</link>
		<comments>http://www.samuraijagoan.com/2009/10/14/semua-hanya-pilihan/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 14 Oct 2009 18:15:48 +0000</pubDate>
		<dc:creator>samurai</dc:creator>
				<category><![CDATA[Artikel Menarik]]></category>
		<category><![CDATA[Entrepreneurship]]></category>
		<category><![CDATA[choise]]></category>
		<category><![CDATA[entrepreneur]]></category>
		<category><![CDATA[entrepreneur bodoh]]></category>
		<category><![CDATA[entrepreneur pemberontak]]></category>
		<category><![CDATA[entrepreneur university]]></category>
		<category><![CDATA[responsibilities]]></category>
		<category><![CDATA[sec]]></category>
		<category><![CDATA[surabaya entrepreneur club]]></category>
		<category><![CDATA[tangan diatas]]></category>
		<category><![CDATA[tanggung jawab]]></category>
		<category><![CDATA[tda]]></category>
		<category><![CDATA[tda surabaya]]></category>
		<category><![CDATA[think]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.samuraijagoan.com/?p=775</guid>
		<description><![CDATA[



 Sam Urai  : 

&#8220;menjadi entrepreneur adalah pilihan &#8211; memberdayakan usaha dengan mengembangkan modal melalui kredit perbankan juga pilihan &#8211; yang terpenting bagaimana saya mempertanggung jawabkan pilihan-pilihan hidup itu&#8221;

saya tadi chating dengan kawan lama saya dulu sekelas di sma. bercerita tentang kawan kita lainnya yang nasibnya tidak seberuntung kami. memang kawan tadi sebutlah di [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class="ufi_section comment_add_row">
<div class="comments_add_box">
<div class="inline_comment_buttons clearfix">
<div class="UIStory_Hide">
<div class="UIStory_Hide"><a class="UIIntentionalStory_Pic" title="Sam Urai" onclick='ft("4:9:14:1343940194::::0::::150777584268");' href="http://www.facebook.com/profile.php?id=1343940194&amp;ref=mf" mce_href="http://www.facebook.com/profile.php?id=1343940194&amp;ref=mf"><img class="UIProfileImage UIProfileImage_LARGE" src="http://profile.ak.fbcdn.net/v225/325/28/q1343940194_1941.jpg" mce_src="http://profile.ak.fbcdn.net/v225/325/28/q1343940194_1941.jpg" alt="Sam Urai"></a> <span class="UIIntentionalStory_Names"><a onclick='ft("4:9:14:1343940194::::0::::150777584268");' href="http://www.facebook.com/profile.php?id=1343940194&amp;ref=mf" mce_href="http://www.facebook.com/profile.php?id=1343940194&amp;ref=mf">Sam Urai</a></span> <b><span class="UIStory_Message"> : </span></b></div>
<div class="UIIntentionalStory_Header">
<p style="text-align: justify;" mce_style="text-align: justify;"><font style="" color="#ff0000"><span class="UIStory_Message">&#8220;menjadi entrepreneur adalah pilihan &#8211; memberdayakan usaha dengan mengembangkan modal melalui kredit perbankan juga pilihan &#8211; yang terpenting bagaimana saya mempertanggung jawabkan pilihan-pilihan hidup itu&#8221;</span></font><img src="http://www.samuraijagoan.com/wp-includes/js/tinymce/plugins/wordpress/img/trans.gif" mce_src="http://www.samuraijagoan.com/wp-includes/js/tinymce/plugins/wordpress/img/trans.gif" alt="" class="mceWPmore mceItemNoResize" title="More..."></p>
<p style="text-align: justify;" mce_style="text-align: justify;">
<p style="text-align: justify;" mce_style="text-align: justify;"><a href="http://freddysetiawan.files.wordpress.com/2008/03/labirin2.jpg" mce_href="http://freddysetiawan.files.wordpress.com/2008/03/labirin2.jpg"><img class="alignleft" src="http://freddysetiawan.files.wordpress.com/2008/03/labirin2.jpg" mce_src="http://freddysetiawan.files.wordpress.com/2008/03/labirin2.jpg" alt="" width="144" height="108"></a>saya tadi chating dengan kawan lama saya dulu sekelas di sma. bercerita tentang kawan kita lainnya yang nasibnya tidak seberuntung kami. memang kawan tadi sebutlah di x memilih jalur entrepreneur dalam mengais rejeki dalam pertarungan hidup di dunia ini. awalnya dia punya tempat cuci mobil yang ramai karena memang tempat usahanya strategis sekali. ditambah lagi dia berasal dari suatu suku di propinsi sumatra utara yang banyak berprofesi sebagai sopir metro mini plus keramahannya bisa bikin para sopir yang sesuku tadi mencucikan bus metro nya di tempat si x. tentunya berakibat pada aliran duit yang biasa disebut omset mengalir deras sehingga kehidupan si x menjadi berkecukupan bahkan berlebih.</p>
<p style="text-align: justify;" mce_style="text-align: justify;">bumi terus berputar. kini si x sedang dalam posisi di bawah,&nbsp; kondisi bisnis cuci mobilnya tetep jalan tapi tidak seramai dulu. penyebabnya bukan karena daerah disana menjadi sepi melainkan karena alasan klasik,&nbsp; yaitu salah mengatur managemen keuangan dan adanya pertentangan keluarga yang merongrong di dalam bisnisnya. rupanya lahan yang dipakai buat tempat usaha adalah lahan milik keluarga sehingga ketika si kepala keluarga tidak ada, alias meninggal dunia, lahan itu menjadi rebutan. rupanya dulu pembagian hasil usaha dari tempat cuci mobil itu tetep di pegang oleh si kepala kekuarga yang sudah sepuh itu. lagi-lagi alasan klasik&nbsp; ya&nbsp; &#8211; memakai management tradisional. kini si x meninggalkan usaha yang sudah dibikinnya jaya dan membuatnya jaya. sepeninggal si x usaha pencucian itu langsung mlorot drastis omsetnya, tapi si x sudah tidak berminat lagi untuk mengelola apapun yang terjadi, dari pada bikin ribut katanya.&nbsp; jadi lebih baik si x bikin usaha baru lagi dan merintis dari awal lagi.</p>
<p style="text-align: justify;" mce_style="text-align: justify;">merintis usaha baru tidaklah semudah membalik telapak tangan, dan si x bener &#8211; bener harus kerja keras disitu. yang dilakukannya adalah jualan tenda terpal dan jualan stker tidak jauh dari lokasi bisnis pencuciannya. berat sekali perjuangan si x karena bisnisnya sekarang murni trading atau berjualan saja tanpa melibatkan lobi-lobi bianis dengan kawan atau kenalan satu suku. dan itulah yang bener-bener dialami si x, dia harus memulai lagi semuanya dari nol dan mulai lagi mencari serta mengumpulkan lembaran rupiah dari nilai yang terkecil lagi.</p>
<p style="text-align: justify;" mce_style="text-align: justify;">itu pilihan si x apapun yang terjadi dia tetep tak bergeming ingin bekerja sendiri, ketika kami tawarkan untuk menjadi karyawan di sebuah perusahaan swasta yang cukup beken dengan penghsilan pasti perbulan dan setelah dikurangi biaya transport tetep lebih besar dari penghasilannya dari jualan stiker, si x tetep gak mau dia lebih pilih jualan dari pada jadi karyawan. emang sih tampak dari raut wajah si x, walo hidup susah dia tetep tampak bahagia dan ceria, dia bilang kalo jadi karyawan walo gajinya jauh lebih gede belom tentu dia bisa riang seperti sekarang, nanti jangan-jangan kerianggan terampas rutinitas kerja kantoran, katanya pada kami. <a href="http://www.thereceptiondesk.com/warmonger/art/responsible.jpg" mce_href="http://www.thereceptiondesk.com/warmonger/art/responsible.jpg"><img class="alignright" src="http://www.thereceptiondesk.com/warmonger/art/responsible.jpg" mce_src="http://www.thereceptiondesk.com/warmonger/art/responsible.jpg" alt="" width="190" height="279"></a></p>
<p style="text-align: justify;" mce_style="text-align: justify;">itu pilihan si x, tidak ada yang memaksanya jadi entrepreneur walao dalam kategori level paling rendah dengan penghasilan dibawah pas-pas-an untuk kategori tinggal di kota besar. dia teep berjuang dia tetep berusaha bertanggung jawab ats pilihannya itu dan itu dia berusaha buktikan dengan ketabahan, semangat pantang menyerahnya dan berusaha utuk tidak putus asa.</p>
<p style="text-align: justify;" mce_style="text-align: justify;">jadi entrepreneur ada yang sukses sehingga bisa jadi konglomerat dengan harta berlimpah, tapi banyak juga yang berada di level memprihatinkan dengan kondisi serba kekurangan. dan itu pilihan mereka karena gak ada yang memaksa.</p>
<p style="text-align: justify;" mce_style="text-align: justify;">dilain pihak ada kawan sekelas saya juga&nbsp; saat di sma yang bestatus karyawan dengan posisi selevel manager dengan penghasilan lebih dari cukup, punya rumah dan mobil bagus. tapi saat bekerja dikantor dia tidak kenal waktu, dia terikat banget oleh waktu kerjanya yang dari pagi sampai jauh malam, ini bukan karena faktor macet atau alasan lainnya. tapi kawan ini saya sebut si y bener-bener gak bisa bergerak, sering dia harus tidur di kantor bahkan saat tanggal merah dan hari minggu pun si y ini harus masuk dan bekerja di kantornya. si y selalu mengeluh tersiksa abis dengan ritme kerjanya yang gila dan gak kenal waktu itu, tapi dia hanya bisa pasrah dan tidak berani meninggalkan kemapanannya. dia harus membayar kemapapanan hidup keluarganya dengan jam kerjayang gila-gilaan. itu juga pilihan si y, gak ada yang memaksa dia kerja disana tapi apapun yang dirasakan si y dia tetp harus mempetanggung jawabkan pilihan hidupnya itu.</p>
<p style="text-align: justify;" mce_style="text-align: justify;">ada dua pertanggung jawaban dari pilihan hidup, saya segaja gak nulis yang indah-indah karena ini juga realisasi hidup yang harus dipertanggung jawabkan. dua kawan tapi tau resiko pilihannya, tapi mereka memilih untuk tetep menanggung resiko itu apapun yang terjadi karena pilihan itulah yang masing-masing dari mereaka anggap paling nyaman.</p>
<p style="text-align: justify;" mce_style="text-align: justify;"><a href="http://www.artagogo.com/interview/owensinterview/Responsibility.jpg" mce_href="http://www.artagogo.com/interview/owensinterview/Responsibility.jpg"><img class="alignleft" src="http://www.artagogo.com/interview/owensinterview/Responsibility.jpg" mce_src="http://www.artagogo.com/interview/owensinterview/Responsibility.jpg" alt="" width="202" height="144"></a>semuanya balik lagi pada diri kita, orang lain hanya bisa ngasih saran tapi tetep kita sendiri yang nentuin pilihan ini.</p>
<p style="text-align: justify;" mce_style="text-align: justify;">trus kalo dikembalikan ke saya, ya inilah pilihan hidup saya, saya ingin bebas, ingin malas, tanpa ada ikatan apapun terkecuali ikatan tanggung jawab saya untuk menafkahi dri saya sendiri dan keluarga saya. karena pilihan hidup saya adalah&nbsp; tuk jadi entrepreneur apapun yang terjadi, apa pun yang saya alami dan apapun yang saya rasakan, saya harus gak boleh mengeluh dan harus tetep bejruang untuk menghasilkan yang terbaik. terbaik buat diri saya sendiri dan keluarga saya tanpa peduli dengan omongan oranglain.</p>
<p style="text-align: justify;" mce_style="text-align: justify;">itulah bentuk pertanggung jawaban saya terhadap pilihan hidup saya. saat saya sedang jaya diatas saya nikmati dengan senyum dan tawa dan saat saya sedang jatuh terjengkang di bawah sana, saya juga harus tetep tersenyum dan tertawa bahagia.</p>
<p style="text-align: justify;" mce_style="text-align: justify;">saya harus mampu malakukannya, karena saya adalah orang yang bertanggung jawab&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;.</p>
<p style="text-align: justify;" mce_style="text-align: justify;">
<p style="text-align: justify;" mce_style="text-align: justify;">
<p style="text-align: justify;" mce_style="text-align: justify;">
<p style="text-align: justify;" mce_style="text-align: justify;">
<p style="text-align: justify;" mce_style="text-align: justify;">
<p style="text-align: justify;" mce_style="text-align: justify;">
</div>
</div>
</div>
</div>
</div>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.samuraijagoan.com/2009/10/14/semua-hanya-pilihan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>
