<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Samurai Jagoan &#187; personal loan</title>
	<atom:link href="http://www.samuraijagoan.com/tag/personal-loan/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://www.samuraijagoan.com</link>
	<description></description>
	<lastBuildDate>Tue, 07 Feb 2012 05:46:39 +0000</lastBuildDate>
	<generator>http://wordpress.org/?v=2.8.6</generator>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
			<item>
		<title>selalu di perdebatkan</title>
		<link>http://www.samuraijagoan.com/2009/06/17/selalu-didebatkan/</link>
		<comments>http://www.samuraijagoan.com/2009/06/17/selalu-didebatkan/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 17 Jun 2009 18:25:38 +0000</pubDate>
		<dc:creator>samurai</dc:creator>
				<category><![CDATA[Artikel Menarik]]></category>
		<category><![CDATA[bank]]></category>
		<category><![CDATA[bisnis]]></category>
		<category><![CDATA[entrepreneur bodoh]]></category>
		<category><![CDATA[hutang]]></category>
		<category><![CDATA[kartu kredit]]></category>
		<category><![CDATA[kredit]]></category>
		<category><![CDATA[kredit tanpa agunan]]></category>
		<category><![CDATA[personal loan]]></category>
		<category><![CDATA[toko baju]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.samuraijagoan.com/?p=483</guid>
		<description><![CDATA[pada saat saya membuka FB-nya mr. danton prabawanto seorang kawan baik saya, ada sesuatu yang menarik perhatian disana, disitu dalam kalimat di salah satu status-nya berbunyi &#8216;ingat tujuan utama adalah punya bisnis, bukan banyak2 kan hutang&#8230;&#8217; 

kalimat status ini sangat menarik perhatian saya,  bukan karena apa-apa, tapi lebih karena hampir  lima tahun terakhir ini saya [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p class="UIIntentionalStory_Message" style="text-align: justify;">pada saat saya membuka FB-nya mr. danton prabawanto seorang kawan baik saya, ada sesuatu yang menarik perhatian disana, disitu dalam kalimat di salah satu status-nya berbunyi <span style="color: #ff0000;">&#8216;ingat tujuan utama adalah punya bisnis, bukan banyak2 kan hutang&#8230;&#8217; </span><a href="http://sekitarkita.com/wp-content/uploads/2009/05/monumenhutang.jpg"><img class="alignright" src="http://sekitarkita.com/wp-content/uploads/2009/05/monumenhutang.jpg" alt="" width="195" height="205" /></a><span id="more-483"></span></p>
<p style="text-align: justify;">
<p style="text-align: justify;">kalimat status ini sangat menarik perhatian saya,  bukan karena apa-apa, tapi lebih karena hampir  lima tahun terakhir ini saya akrab sekali dengan hutang atau kredit setelah selesai pelatihan entrepreneur.</p>
<p style="text-align: justify;">memang pada awalnya saya atau kita tertarik dengan hutang karena tidak punya modal uang buat usaha. lha kalo gak punya duit mau usaha apaan, gitu pikiran saya saat itu. pikiran polos seorang pemula.  ternyata kemudian dalam pelatihan itu saya dapat sesi tentang tips dan trik bagaimana mencari kredit. nah ini sangat menarik, karena saya mengalami sendiri bagaimana sulitnya mendapatkan kredit bank. dalam pikiran polos saya membayangkan suatu saat nanti jika dapat duit kredit dari bank tentunya saya akan bisa bikin usaha baru untuk menggantikan usaha leasing saya yang gagal.</p>
<p style="text-align: justify;">hutang untuk bisnis atau bisnis untuk hutang, memang sesuatu yang ribet untuk dipilih mana yang harus didahulukan atau mana yang lebih diutamakan.  tapi yang jelas pada awalnya sebagai seorang pemula yang polos dan lugu yang tertarik mengikuti pelatihan entrepreneur, saya pastinya pingin sekali punya bisnis  sendiri setelah selesai menjalani masa pelatihan.  karena pingin punya bisnis itulah makanya saya tertarik ikut pelatihan, dan berdasarkan pengalaman pribadi saya, terasa banget susahnya kalo gak punya duit dalam menjalankan bisnis.</p>
<p style="text-align: justify;">menurut saya keduanya saling berkaitan, saling bersahabat dan saling mendukung satu sama lainnya. pada kenyataannya di lapangan memang tidak ada bank yang mau memberikan kredit pada kita jika kita tidak punya bisnis, dan kalo sudah punya pun masih harus ada kriteria tertentu yaitu lamanya menjalankan usaha minimal antara satu sampai dua tahun. bank jarang sekali mau memberikan kredit pada bisnis yang baru dirintis, lha kalo kondisinya seperti ini, seorang pemula seperti saya kapan bisanya memulai bisnis. karena seorang pemula selalu berpikiran bisnis itu hanya bisa dijalankan hanya jika punya modal duit yang salah satunya didapat dari hutang bank.</p>
<p style="text-align: justify;">ruwet kan&#8230;.. <a href="http://langkahpertama.com/wp-content/uploads/2009/05/hutang-225x300.jpg"><img class="alignnone" src="http://langkahpertama.com/wp-content/uploads/2009/05/hutang-225x300.jpg" alt="" width="181" height="200" /></a></p>
<p style="text-align: justify;">untungnya dalam pelatihan tersebut diajarkan cara-cara yang simpel dan praktis dalam mengajukan kredit. nah karena otak polos saya bilang yang saya utamakan harus duit dulu, ya kemudian semua langkah-langkah dan semua daya upaya, saya fokuskan kearah mencari kredit bank. semua trik yang saya dapatkan dari pelatihan saya terapkan apa adanya sesuai yang diajarkan, dan itu saya lakukan setiap hari, diantara waktu saya mengantar dan menjemput istri saya berangkat dan pulang dari tempatnya bekerja. pikiran saya cuman satu, kalo saya lakukan semuanya sesuai prosedur dan saya percaya bahwa hal itu akan berhasil maka pada suatu saat pasti akan berhasil beneran. tapi beneran dan sungguhan dalam otak polos saya, sama sekali tidak muncul suatu bayangkan pun yang menyatakan kapan semua yang saya kerjakan ini akan menampakkan hasilnya.</p>
<p style="text-align: justify;">saya sudah lupa mungkin tiga sampai enam bulan saya lakukan semua metode yang diajarkan setiap harinya, kemudian disela-sela waktu yang ada,  yang saya lakukan juga adalah belajar dan menganalisa segala sesuatu yang nanti jika saya sudah dapat uang dari hutang  bank langsung bisa saya puterkan disitu sebagai bisnis saya. saat itupun otak polos saya juga belum mendapatkan bayangan apapapun tentang bisnis apa yang akan saya geluti nantinya. pokoknya hari-hari saya dilewati dengan praktek tentang trik berhutang dan mencari peluang usaha.</p>
<p style="text-align: justify;">ternyata apa yang menjadi kepercayaan saya tidaklah sia-sia, akhirnya saya pun memperoleh hutang pertama saya.  nggak banyak sih cuman sekitar tiga puluh juta saja, itupun bukan murni hasil usaha saya, itu lebih dari memanfaatkan kredibilitas istri saya sebagai karyawan.  suatu kenyataan yang terjadi sesungguhnya dan bukan omong kosong kalau menjadi entrepreneur itu sulitnya minta ampun, apalagi jika kita  hanyalah  seorang  entrepreneur pemula seperti saya pada saat itu.  tidak ada satu bank pun yang percaya pada kredibilitas saya,  makanya sekitar dua puluh bank langsung menolak aplikasi permohonan kredit yang saya  ajukan.</p>
<p style="text-align: justify;">putus asa sepertinya jauh deh dari diri saya, rasa penasaranlah yang lebih sering muncul. makanya saya tetep puter otak supaya bisa dapatkan itu yang namanya hutang. saat mengikuti sebuah seminar, saya dapatkan info bahwa status sebagai karyawan suatu perusahaan akan lebih mudah untuk mengajukan dan  memperolek kredit, apalagi jika pengajuan kreditnya dilakukan secara kolektif, yaitu diajukan secara bersama-sama lebih dari satu orang karyawan di dalam suatu bagian perusahaan dan disetujui langsung oleh pimpinannya. otak polos saya langsung menuju ke satu tempat, kantor istri saya. malemnya saya olah istri saya sehingga punya visi dan misi yang sama dan selama tiga hari berikutnya gantian  istri saya  yang mengolah teman-teman dan atasannya. seperti yang bisa diduga, gak sampai seminggu kredit pun cair dan bisa dinikmati.</p>
<p style="text-align: justify;">teorinya begitu dapat hutang, langsung pakailah untuk berbisnis supaya segera mendapatkan hasil yang bisa dipakai untuk membayar angsuran hutang itu. lagi-lagi otak polos saya telat dalam menangkap dan mencari peluang bisnis. jadi saat kami dapatkan uangnya, kami belum tau mau dipakai untuk apa uang tersebut. kalaupun terpakai untuk diputer dalam &#8216;bisnis&#8217; itu juga kalo bisa disebut bisnis, jumlahnya jauh dari total uang pinjaman yang kami peroleh.</p>
<p style="text-align: justify;">akhirnya dari pada bingung-bingung, duit yang tidak terpakai itu saya masukkan saja ke dalam rekening tabungan. karena duit yang tidak terpakai itu masih sangat banyak, jadinya jumlah saldo dalam rekening langsung meningkat drastis. pemandangan itu membuat saya kagum, karena sangat menyenangkan sekali jika memandang jumlah total saldo dalam rekening tabungan saya itu. jumlah uang terbanyak yang tercantum disana setelah kegagalan bisnis leasing saya. sangat menyenangkan sekali melihatnya.</p>
<p style="text-align: justify;">otak polos saya langsung berputar saat itu. jika saya saja suka, apalagi jika saya perlihatkan pada petugas bank sesuai dengan cara-cara dan metoda yang diajarkan dalam pelatihan., mereka tentunya juga  suka. untuk membuktikanya saya langsung praktek.  gak pake mikir berlama-lama, cukup sebulan waktu yang saya pergunakan untukberpraktek, dan hasilnya kemudian segera saya pakai untuk pengajuan kredit kembali.</p>
<p style="text-align: justify;">lagi-lgi dugaan dan perkiraan saya tepat, petugas bank sangat mentukai pemandangan yang tampak pada rekening tabungan saya. nggak terlalu mulus juga sih tapi hasil yang saya dapatkan jauh lebih tinggi dari yang saya perkirakan. pastinya ada pengajuan kredit saya yang ditolak oleh beberapa  bank,   tapi  dari pengajuan kredit saya yang disetujui, bila dihitung-hitung total yang saya peroleh bisa  bisa dua kali lipat dari kredit saya yang ditolak. secara hasil keseluruhan bila saya boleh bilang secara bangga dan percaya diri, sesungguh-sungguhnya pengajuan kredit saya tidak ada yang ditolak.</p>
<p style="text-align: justify;">meskipun apa bisnis yang mau saya jalankan belum ketemu, tapi saya dapat kredit dalam jumlah yang banyak dan besar. bentuk kredit yang saya peroleh pun macam-macam ada yang berupa kartu kredit, kredit tanpa agunan, persolal loan dan banyak nama lagi. dapat diduga jadinya rekening tabungan saya langsung menggelembung, duit saya jadi banyak.  tanpa saya tau duit itu harus saya puter dalam bisnis apaan.</p>
<p style="text-align: justify;"><a href="http://1.bp.blogspot.com/_-SLg73uLahY/SAm4duJjYcI/AAAAAAAAAIY/D6Im3kpn85E/s400/mban1545l.jpg"><img class="alignleft" src="http://1.bp.blogspot.com/_-SLg73uLahY/SAm4duJjYcI/AAAAAAAAAIY/D6Im3kpn85E/s400/mban1545l.jpg" alt="" width="224" height="248" /></a>karena bingung mau dipakai untuk bisnis apa duit hutang itu, akhirnya tawaran teman untuk berivestasi saya terima. tapi memang dasar nasib bukan keuntungan yang didapat tapi malah duit saya dibawa kabur. duit hasil hutang-hutangan hilang dibawa kabur orang yang kita kenal pula,  lumrahnya pasti muncul perasaan bingung donk, sedih, pusing, gimana nanti cara mbayarnya.  semua perasaan itu gak muncul dalam diri saya dan istri, hanya perasaan gemes dan mangkel terhadap orang yang membawa kabur duit itu  yang tetep muncul dan gak bisa hilang, bahkan sampai sekarang. perasaan kami biasa-biasa saja karena otak polos kami menganggap yang hilang itu bukan uang kami sendiri, melainkan uang banklah yang hilang dibawa kabur maling. saking mudahnya mendapatkan kredit tidak ada rasa menyesal terhadap berbagai kerugian yang timbul dalam perjalannya. perasaan biasa-biasa saja ini terulang pada saat awal krisis di akhir 2008 dimana sekitar seratus juta uang yang kami tanam di bursa saham menguap begitu saja.</p>
<p style="text-align: justify;">kembali ke awal perjalanan hutang. begitu banyak dan mudah hutang yang kami dapatkan ternyata bikin pusing juga. mau diapain duit-duit ini? malahan saya penah bilang kepada teman-teman, jika nanti kredit yag saya peroleh mencapai satu milyar saya akan traktir makan-makan. gak disangka gak dinyana target itu tercapai tiga-empat bulan setelah saya bicara, tentu saja teman-teman menagihnya dan saya gak bisa menolaknya.  akhirnya makan-makanlah kita semua, merayakan perolehan hutang satu milyar saya. saya rasa,  mungkin hanya itulah kejadian pertama dan terkhir kali yang bisa dijumpai, dimana ada orang yang bikin perayaan tentang total besarnya hutang yang diperolehnya.</p>
<p style="text-align: justify;">dengan banyaknya hutang yang saya peroleh, lupalah saya terhadap tujuan utama mencari hutang tadi. awalnya tujuan utama saya berhutang adalah buat bisnis. ternyata yang terjadi diluar dugaan, percepatan perolehan hutang lebih cepat dari perkembangan bisnis itu sendiri bahkan lebih cepat dalam mencari bisnis apa yang hendak diterjuni.</p>
<p style="text-align: justify;">dan dari pada pusing-pusing karena belum menemukan bisnis yang tepat, akhirnya saya taruh uang hutang tadi dalam bursa saham, investasi emas, investasi properti dan beberapa paket investasi lain. investasi memang menghasilkan tapi pastinya lebih kecil dan lebih lambat dari hasil perputaran sebuah bisnis. tapi dari pada duit hutang itu gak muter sama sekali lebih baik diputer pelan-pelan, toh tetep menghasilkan walaupun perlahan.</p>
<p style="text-align: justify;">sampai suatu saat saya menemukan bisnis beneran, jualan baju di mall. suatu  waktu saya ditawari oleh seorang teman untuk mengelola sebuah toko baju di mall. karena saya merasa punya modal yang cukup maka tawaran itu tidak saya sia-siakan, dan hasilnya semakin membuka jalan buat saya untuk punya bisnis yang nyata. kondisi membuat teman tadi tidak bisa bertahan lama  memgelola ditoko terebut dan meminta saya untuk membeli usahanya. dan saya belilah toko tadi. punya toko ternyata sangat menyenangkan dan bikin ketagihan sehingga tidak sampai setahun toko saya di mall berkembang menjadi empat buah.</p>
<p style="text-align: justify;">lagi-lagi dengan adanya bisnis toko baju ini membuat saya menjadi sangat dipercaya oleh bank, dan mulai pada saat saya diajak join oleh kawan tadi, sampai akhirnya toko saya berkembang menjadi empat buah, begitu banyak kucuran kredit yang saya peroleh. dalam setiap bulannya sekitar lima puluh sampai seratus juta-an kredit yang saya peroleh.</p>
<p style="text-align: justify;">kalo dilihat dari perjuangan awal yang sangat sulit dalam mencari hutang,  sampai kemudian begitu mudahnya saya mendapat kucuran hutang, pastilah tidak masuk akal.  tapi itulah yang sebenarnya terjadi. dan seperti yang sudah saya sebutkan bahwa kucuran hutang lebih cepat dari perkembangan dan perputaran roda bisnis. toko-toko saya semuanya dikelola dengan benar, jika saya bingung dengan managemen saya selalu bertanya kepada teman-teman dan dari mr. danton lah saya paling sering bertanya, biasanya diskusi dimulai dari maghrib sampai menjelang subuh. diskusi kami baru berakhir saat HP saya bunyi, telepon dari istri yang bertanya apakah saya tidak pingin pulang kerumah karena hari sudah subuh.</p>
<p style="text-align: justify;">dari diskusi tersebut banyak yang saya peroleh dan semua masukan tadi saya terapkan secara serius dan sungguh-sungguh di dalam pengelolaan toko. hasilnya perkembangan toko cukup bagus walaupun tidak  bisa dibilang sangat baik karena tetep saja hasilnya belum dapat menutupi pengeluaran pembayaran semua hutang saya. mungkin jika mr. danton tidak terburu menikah, peningkatan pengelolaan toko saya akan bisa lebih bagus lagi, sayangnya beliau terburu menikah sehingga setelah itu saya jadi nggak enak lagi kalo ngajak diskusi beliau sampai pagi, apa nanti kata isterinya.</p>
<p style="text-align: justify;">dengan saran atau tanpa saran mr. danton toko tetep profesional dijalankan dan tetep ada hasilnya,   begitu pula dengan hasil yang saya peroleh dari berbagai proyek investasi saya.  tapi tetep saja semua  hasil yang saya dapatkan belum bisa menutupi biaya pembayaran angsuran seluruh hutang saya.</p>
<p style="text-align: justify;">dimata saya toko-toko yang saya miliki tetep tidak bisa dikatakan sebagai bisnis, walaupun tidak separah komentar mr. danton dalam status FB-nya yang saya jadikan ide tulisan ini, beliau tulis<span style="color: #ff0000;"><span style="color: #000000;"> disitu</span> &#8216;bisnis Kalau rugi bukan bisnis berarti&#8217;  <span style="color: #000000;">kalo saya bilang, bukan hanya yang rugi yang bukan bisnis, yang hanya jalan ditempat atau yang dalam kondisi seperti saya, dimana perputarannya belom bisa menutupi seluruh pengeluaran tetep tidak bisa dikatakan sebagai bisnis.</span></span></p>
<p style="text-align: justify;">walau belum bisa disebut sebagai bisnis,   tapi toko-toko yang saya miliki tetep menjadi sarana  penghasil hutang terbesar.  bahkan saya akhirnya mengarang sebuah teori <span style="color: #ff0000;">&#8216;jika jumlah perolehan hutang lebih besar dari semua biaya yang dikeluarkan setiap bulan maka kondisi tersebut bisa dikatakan untung&#8217;</span> banyak yang tidak setuju dan menentangnya, tapi apapun kata mereka atau apapun pendapat mereka, saya berhasil menjalankan pola tersebut selama sekitar lima tahun, dimana saat itu semua level kehidupan saya dari segi sosial, ekonomi, sampai ke pengetahuan meningkat dengan pesat, dan saya bisa sejajar dengan teman-teman yang menjalankan bisnis sesuai kaidah, bahkan bisa meninggalkan teman-teman yang lambat dalam pergerakan bisnisnya.</p>
<p style="text-align: justify;">saya bahkan memperoleh julukan atau profesi baru dari hutang-hutang saya,  yaitu sebagai konsultan. karena banyak teman yang bertanya pada saya tentang apa sesungguhnya  yang saja jalankan selama itu,  sehingga bisa hidup dengan hutang yang begitu banyak. apapun yang saya katakan mereka tetep tidak paham,  walaupun sampai berbusa mulut saya menjelaskan.  keberhasilan saya sebagai konsultan adalah bisa bikin teman-teman saya lebih mudah disetujui saat mengajukan kredit ke bank dan bagaimana cara bermain kartu kredit yang manis. semua itu berdasarkan pengalaman  pribadi saya.</p>
<p style="text-align: justify;">kembali ke awal topik yang mengingatkan<span style="color: #ff0000;"> &#8216;tujuan utama adalah punya bisnis, bukan banyak2 kan hutang&#8230;&#8217; <span style="color: #000000;">sangatlah tepat, tapi punya banyak hutang juga gak salah-salah banget. dimana boleh saja punya </span></span>hutang banyak walaupun tidak punya bisnis yang jelas dan memadai asalkan  hutang-hutang tadi bisa dibayar. dan kalo sampai waktunya  gak bisa bayar  hutang-hutang tadi tetep sudah siap menerima degan semua  resikonya.</p>
<p style="text-align: justify;">apalagi jika sampai punya hutang banyak dan bisnisnya semakin maju. itu sangat luar biasa&#8230;&#8230;&#8230;</p>
<p style="text-align: justify;">menurut saya suatu bisnis, apapun itu akan tetap bisa hidup dan berkembang jika adanya pemasukan yang lebih besar dari pengeluarannya. dan pemasukan itu bisa dari mana saja. dari jalur yang umum  seperti omset yang besar dan sesuai target atau dari jalur yang tidak umum seperti dari hutang.  ini dilihat tergantung dari sudut pandang dan pengalaman masing-masing orang, dimana setiap orang pasti tidak sama sudut pandang dan pengalamannya.</p>
<p style="text-align: justify;"><span class="text_exposed_show">poko&#8217;e hidup itu harus seimbang antara nikmat dan resiko, jangan cuman mau nikmat-nya aja&#8230;&#8230;&#8230;</span></p>
<p style="text-align: justify;">nyambung gak nyambung poko&#8217;e dibikin nyambung!</p>
<p style="text-align: justify;">
<p style="text-align: justify;">
<p style="text-align: justify;">
<p style="text-align: justify;">
<p style="text-align: justify;">
<p style="text-align: justify;">
<p style="text-align: justify;">
<p style="text-align: justify;">
<p style="text-align: justify;">
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.samuraijagoan.com/2009/06/17/selalu-didebatkan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>kejutan-kejutan menarik</title>
		<link>http://www.samuraijagoan.com/2009/06/13/kejutan-kejutan-menarik/</link>
		<comments>http://www.samuraijagoan.com/2009/06/13/kejutan-kejutan-menarik/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 13 Jun 2009 18:21:21 +0000</pubDate>
		<dc:creator>samurai</dc:creator>
				<category><![CDATA[Artikel Menarik]]></category>
		<category><![CDATA[Entrepreneurship]]></category>
		<category><![CDATA[credit card]]></category>
		<category><![CDATA[debt collector]]></category>
		<category><![CDATA[entrepreneur bodoh]]></category>
		<category><![CDATA[kredit macet]]></category>
		<category><![CDATA[personal loan]]></category>
		<category><![CDATA[solusi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.samuraijagoan.com/?p=459</guid>
		<description><![CDATA[seseorang yang sudah mempersiapkan suatu rencana pelarian bila terjadi sesuatu yang tidak beres dalam rencananya, pastilah akan segera dapat merasakan munculnya gejala-gejala negatif itu. saya rasa gak harus orang yang siap, mungkin setiap orang memang harus waspada dalam menjalani kehidupannya. karena memang terbukti hidup ini seperti bola,  kadang diatas kadang dibawah, bila kita sering [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;">seseorang yang sudah mempersiapkan suatu rencana pelarian bila terjadi sesuatu yang tidak beres dalam rencananya, pastilah akan segera dapat merasakan munculnya gejala-gejala negatif itu. saya rasa gak harus orang yang siap, mungkin setiap orang memang harus waspada dalam menjalani kehidupannya. karena memang terbukti hidup ini seperti bola, <a href="http://innaanggraeni.files.wordpress.com/2009/05/jebakan-hutang1.jpg"><img class="alignleft" src="http://innaanggraeni.files.wordpress.com/2009/05/jebakan-hutang1.jpg" alt="" width="169" height="197" /></a> kadang diatas kadang dibawah, bila kita sering diatas alangkah bahagianya, yang sedih bila posisi kita sering di bawah. <span id="more-459"></span></p>
<p style="text-align: justify;">sebagai penggemar sesuatu yang memacu adrenalin maka sewaktu lulus pelatihan entrepreneur, jalan yang paling extrim yang saya pilih. yaitu dengan jalan mencari kredit. saya sudah pernah kerja di suatu bank penerbit kartu kredit selama dua tahun di bagian collection atau penagihan, kemudian saya juga pernah kerja di perusahaan keluarga yang bergerak dibidang leasing elektronik. dimana inti usahanya adalah pemberian kredit dan penagihan, saya berkecimpung disini hampir lima tahun.</p>
<p style="text-align: justify;">dengan pengalaman bergaul dengan kredit dan penagihan selama lebih kurang tujuh tahun, secara otomatis dan ini mungkin tidak saya sadari, naluri dan jiwa saya terasah disana. menghadapi konsumen yang kreditnya macet merupakan makanan sehari-hari. gejala awal mereka macet sampai berbagai cara yang dilakukan buat menagih mungkin sudah terpatri dalam otak ini.</p>
<p style="text-align: justify;">itulah yang mungkin bikin saya mantab dengan jalur kredit saat membangun usaha lagi di tahun 2005. saya merasa sangat siap mental bila suatu saat menerima banyak uang dari kucuran kredit bank dan saya juga merasa siap bila suatu saat harus kehilangan semuanya bila bisnis saya gagal lagi. dengan kepercayaan diri yang tinggi karena mental sudah siap sayapun melangkah pasti.</p>
<p style="text-align: justify;">langkah pertama dan terpenting menurut saya adalah mempersiapkan mental istri saya. bila mentalnya sudah sesiap saya dalam mengarungi bisnis baru ini, maka saya merasa tidak ada suatu kesulitan pun yang tidak bisa diselesaikan. semuanya akan lebih terasa ringan, karena kami akan menyelesaikannya secara bersama-sama dan bahu membahu dengan kompak.</p>
<p style="text-align: justify;">karena kami sudah menyiapkan mental kami masing-masing terhadap segala sesuatu yang terjadi. maka lebih mudah buat saya saat menjelaskan ke istri bahwa kondisi keuangan kita sedang gawat. semakin lama semakin berkurang karena hampir tidak ada lagi kredit yang kita peroleh. dengan beban biaya operasional yang sedemikian besar, bila tidak ditopang oleh kucuran kredit baru jelas akan menghancurkan cash flow usaha kami.</p>
<p style="text-align: justify;">pembagian tugas pun kami lakukan, sesuai dengan spesialisasi masing-masing. istri saya lebih pandai dalam penjualan sehingga segera bertindak dalam menjual semua aset kami. sedang saya lebih telaten sebagai operasional yang akan menhadapi semua penagihan dan sebelum itu terjadi akan menghubungi semua bank untuk meminta keringanan.</p>
<p style="text-align: justify;">karena sudah pernah akrab dengan dunia penagihan maka saya sangat yakin tidak akan terjadi apa-apa. resiko terburuk yang bakal kami hadapi adalah kehilangan semua aset, masuk daftar hitam bank indonesia dan kehilangan rumah yang kami huni sehari-hari. buat saya semua aset itu hilang tidaklah menjadi masalah karena semuanya kita beli dari uang bank, tapi buat istri cukup berat. emosinya berada disana, dia inget saat-saat kami berburu, menawar dan membeli aset-aset itu. kenangan tersebut melekat erat dalam memori istri saya sehingga perasaannya cukup tertekan. tapi sebentar saja, karena dengan semangat bertahan dia langsung siap menjual semuanya demi mempertahankan minimal rumah tinggal kami dan mobilnya yang baru dibelinya.</p>
<p style="text-align: justify;">saya bilang sama istri, yang jelas semua personal loan akan sengaja kita bikin macet dan tidak dibayar karena setiap uang yang dibayar sebagai angsuran tidak bisa diambil lagi. sedang kartu kredit tetep dibayar sampai suatu titik akan di blokir oleh bank karena personal di bank sama macet. istri setuju dan siap bakal direpoti oleh telpon-telpon dari bagian penagihan berbagai bank yang kreditnya kami macetkan.</p>
<p style="text-align: justify;"><a href="http://www.detikfinance.com/images/content/2008/12/11/5/rugi-dalam.jpg"><img class="alignright" src="http://www.detikfinance.com/images/content/2008/12/11/5/rugi-dalam.jpg" alt="" width="180" height="180" /></a>personal loan mulai tidakkami bayar, kartu kredit dari bank danamon yang dimiliki oleh istri juga tidak kami bayar. hal itu kami lakukan karena istri awalnya punya empat kartu kredit dari danamon dengan limit kredit masing-masing dua puluh juta, jadi total limit dari empat kartunya adalah delapan puluh juta. tapi kemudian secara sepihak dan tanpa pemberitahuan terlebih dulu pada istri bank danamon menyatukan empat limit kartu kredit tersebut menjadi satu kredit gabungan dengan limit hanya dua puluh juta. kondisi ini pastinya sangat menjengkelkan kami karena semua pembayan akhirnya gak bisa kami ambil lagi. ya sudah bikin macet saja sekalian.</p>
<p style="text-align: justify;">toko baju yang tadinya empat segera kami tutup dua outlet sekaligus. memang yang satu pas habis masa kontraknya sedang yang satunya kurang dua bulan masa sewanya. dari pada ngeluarin uang lagi untuk diinvestkan disana mending dipake buat mbayar sebagian angsuran. toh masih ada dua toko lainnya yang sangat bagus penjualannya. akibat penutupan dua toko saya pun terpaksa harus mengurangi jumlah karyawan. ini merupakan dampak yang paling tidak menyenangkan buat kami.</p>
<p style="text-align: justify;">mobil apv yang kami miliki harus segera dijual karena sudah mendekati tanggal perpanjangan pajak, lagi pula hampir seluruh body mobil itu bermasalah, apakah penyok atau gores-gores karena pemakaian kami dan konsumen yang menyewa mobil tersebut. tentunya biaya yang akan segera kami keluarkan demi perbaikan apv akan besar. jadi gak ada pilihan selain dijual. beberapa teman yang bergerak dijual beli mobil saya hubungi, tapi apa daya harga tidak cocok. akhirnya saya hubungi teman baik sekaligus teman berkompetisi saya. sesuai dugaan dia pasti punya solusi dan betul, mobil langsung dibeli orang dengan harga sesuai kesepakatan.</p>
<p style="text-align: justify;">yang lucu dan menarik saat saya jual mobil apv ini adalah, karena yang membantu mencarikan pembeli adalah sahabat sekaligus teman bersaing saya. beliau adalah orang yang sama, dengan orang yang dulu rajin ngomporin saya agar saya segera beli mobil baru, caranya beliau selalu memamerkan dan berceria tentang berbagai keunggulan dari mobil barunya,  yang jenisnya sama persis dengan yang saya miliki, hanya beda di warnanya. karena informasinya mengandung api itu akhirnya saya beli mobil sekitar dua minggu-an setelah teman tadi beli mobil. dan sekarang saya jual mobil juga lewat jasa teman tadi dan jaraknya hampir sama yaitu dua bulan setelah dia jual mobilnya dengan alasan yang juga sama, yaitu tidak bisa bayar kreditnya. menariknya lagi pembeli dari mobil-mobil kami juga sama yaitu sales yang dulunya menawarkan mobil tersebut agar kami beli. ternyata dunia itu sempit pikir saya.</p>
<p style="text-align: justify;">saya minta pada sales tadi agar mobil jangan buru-buru dibawa karena saya ada janji untuk bertamu ke lamongan. si sales oke aja bahkan saya langsung diberi ikatan sebesar dua juta. dengan uang ikatan tersebut cukup bisa bikin saya lebih semangat buat datang ke leasing tempat saya mendapat kredit pembelian mobil. saya datang kesana hanya mengajukan permintaan keringanan, agar saya bisa meminta pengunduran  tanggal pembayaran tagihan yang jatoh temponya tinggal satu hari lagi. saya datang dengan percaya diri tinggi dan gagah karena merasa kegagalan bayar saya itu bukan karena keteledoran saya. saya gagal bayar karena baru dapat musibah, istri saya dirampok dengan nominal kerugian yang cukup besar. saya tambah yakin lagi karena ada surat polisi sebagai pendukung. tapi apa yang terjadi, tenyata semua dugaan saya sanat meleset, oleh leasing tersebut orang yang gak bisa bayar angsuran yang jatuh tempo dengan alasan apapun adalah salah dan layak dapat hukuman. disana saya, bukan hanya tidak mendapatkan  rasa  toleransi dan sikap ikut prihatin, tapi malahan saya ditakut-takuti dengan berbagai ancaman yang akan terjadi bila saya gak bisa bayar angsuran sesuai dengan tanggal jatuh tempo. telat satu hari dengan telat sebulan atau setahun atau bertahun-tahun rasanya sama saja batin saya. untung otak saya tetep jernih kalo gak pasti kunci mobil sudah saya lempar dan mobil saya serahkan langsung. sepertinya saya,  dianggap  sebagai anak kecil apa yang nggak tau apa-apa tentang kredit macet. untung saya inget masih punya janji dengan teman-teman di lamongan, jadi emosi saya tahan-tahan supaya gak sempet keluar.  ya sudahlah kalo gak mau ngasih keringanan, maka saya akan mencari keringanan sendiri versi saya. akhirnya memang mobil  apv hitam itu terjual dengan sempurna dan urusan saya dengan leasing selesai.</p>
<p style="text-align: justify;">selesai satu masalah tapi masih banyak lagi masalah yang bakal muncul. langkah berikutnya saya datangi bank penerbit personal loan dan kartu kredit buat minta keringanan dan mengabarkan baahwa saya bakal jadi seorang yang kreditnya macet. ternyata hanya dua bank yang sempat saya datangi dan hasilnya mengecewakan sehingga saya menjadi malas untuk meneruskan perjalanan. dari dua bank tersebut hampir sama jawaban yang saya terima, yaitu tidak adanya keinganan karena saya masih dalam kategori nasabah sangat baik dan lancar yang pembayarannya tidak pernah telat dan  selalu full payment.  disini juga ada pengalaman yang sangat bikin saya sebal.  karna saya masih tergolong nasabah yang sangat baik maka tidak ada petugas bank di bagian collection yang mau keluar. mereka tidak bisa buka data saya di komputer mereka yang berisi data-data orang yang kreditnya macet. bukan hanya tidak bisa buka data dan tidak ada keringanan yang bisa mereka tawarkan, tapi mereka juga tidak mau keluar menemui saya hanya karena saya  bukan konsumen macet.  akhirnya setelah lama menunggu, saya ditangani oleh satpam penjaga pintu yang menjelaskan dengan terbata2 bahwa buat nasabah yang akan macet memang tidak ada prosedur keringanan. keringanan baru akan diberikan jika nasabah tersebut minimal sudah macet tidak ada pembayaran selama tiga bulan berturut-turut.</p>
<p style="text-align: justify;">saya agak melongo juga, kaget denger keterangan itu. tapi memang gak ada pilihan lain, apalagi surat kepolisian pun gak bisa diterima, dan tidak punya pengaruh apa-apa walaupun  hanya untuk dimasukkan dlam note data saya di bank tersebut sebagai catatan yang memberi keterangan bahwa nasabah yang bersangkutan akan macet pembayarannya karena baru dapat musibah. dua bank memberikan keterangan yang hampir sama, bahwa tidak ada gunanya itikad baik yang akan melaporkan bakal macet dan tidak ada toleransi untuk itu, bahkan surat keterangan dari kepolisian pun tidak ada gunanya karena memang tidak bisa diapa-apakan. <a href="http://blog.autosourcefinancial.com/wp-content/uploads/2008/11/road_to_good_credit_1-300x295.jpg"><img class="alignleft" src="http://blog.autosourcefinancial.com/wp-content/uploads/2008/11/road_to_good_credit_1-300x295.jpg" alt="" width="190" height="186" /></a> secara tidak langsung saya seperti disarankan untuk macet dulu tiga bulan, baru balik lagi untuk minta keringanan, bahkan yang ini tidak perlu surat polisi cukup surat keterangan dari kelurahan yang menyatakan nasabah macet karena penurunan perekonomian.</p>
<p style="text-align: justify;">ya sudah, cukup dua bank saja dan saya tidak meneruskan ke bank berikutnya karena yakin pasti jawabannya sama. saya bener-bener harus gak mbayar dan membuat kredit saya macet beneran selama tiga bulan berurut-turut supaya mendapat perhatian. ini pengalaman baru buat saya. sewaktu kerja  di bank dulu saya ternyata lom dapat sesi entang ilmu sengaja gak bayar ini. tapi saya masih penasaran, lalu saya telpon teman-teman di jakarta yang dulu satu angkatan dengan saya, saat saya masih kerja di collection departemen suatu bank asing penerbit kartu kredit. teman-teman seangkatan ini sekarang sudah menyebar di berbagai bank penerbit kartu kredit dengan di berbagai posisi yang rata-rata strategis. saya telpon bukannya berniat minta tolong mereka. saya telpon mereka hanya untuk meyakinkan diri bahwa prosedur perlakuan kredit macet yang disampaikan ke saya itu tidak salah.  tepat seperti yang sudah saya duga, prosedur tersebut tidak salah. ya sudahlah, mungkin memang harus begini alur ceritanya. jadi sampai dirumah saya harus bikin target dan rencana yang bisa membuat macet pembayaran saya selama tiga bulan kedepan.</p>
<p style="text-align: justify;">jadi saya masih punya waktu tiga bulan buat bernafas lega, paling selama itu hanya bunyi telpon yang setiap hari datang mengganggu karena minta kita segera  bayar tagihan.</p>
<p style="text-align: justify;">sambil menunggu selama tiga bulan saya hunting teman-teman yang senasib denga saya. yaitu teman-teman yang kreditnya macet dan gak bisa bayar. hasilnya benar-benar diluar dugaan saya,  tidak ada  seorang pun teman yang sedang mengalami masalah.   luar biasa kaget saya menerima kenyataan yang menyatakan tidak ada seorang temanpun yang bernasib seperti saya.      menurut saya  ini  adalah  situasi yang tidak mungkin terjadi.   apakah saya yang terlalu guoblok sehingga menjadi satu-satunya yang gagal bayar  sedangkan teman-teman saya lainnya,  yang juga melakukan pola bisnis seperti saya lolos semuanya, dan tidak terimbas sama sekali, sebagai akibat sulitnya bank dalam pengucuran dana kedit. saya  gak yakin terhadap berita yang  saya terima.  yang saya yakin,  pasti ada teman yang juga kena dan senasib seperti saya. keyakinan saya ini disebabkab karena hanya saya yang paling hati-hati dalam mengelola uang dan hanya saya belajar banyak tentang berbagai ilmu kredit sehingga kredit yang daya peroleh itu bisa saya kelola dengan sangat baik. lebih yakin lagi, saat-saat masa saya berjaya di tahun 2008, hanya saya satu-satunya yang tidak pernah kekurangan uang, uang kredit saya selalu berlimpah dan selalu  siap  untuk diinvestkan. sedang teman-teman tetep sering kebingungan cari tambahan modal padahal baru dapat kredit.</p>
<p style="text-align: justify;">pendekatannya langsung saya ubah, terhadap teman yang saya curigai bermasalah saya jadikan beliau nya tempat untuk bertanya dan minta saran. saya harus meletakkan posisi lebih rendah supaya saya bisa menarik perhatian dan simpati mereka.   lagi-lagi dugaan saya benar, beberapa teman memang lagi menghadapi krisis tapi tidak mau mengakuinya. saya gak peduli, yang penting saya jadinya punya teman senasib dan teman berbagi cerita serta berbagi solusi.</p>
<p style="text-align: justify;">banyak masukan yang saya peroleh, ternyata di internet, google, tersedia banyak data tentang kredit macet. semua ada tinggal pilih sesuai kebutuhan kita. saya disarankan tetep menjalin komunikasi dengan pihak bank dan jangan sekali-kali menghindar supaya upaya keringanan bisa didapatkan. upaya keringanan juga banyak macamnya dan masing-masing bank punya cara yang berbeda. lalu yang terpenting jadikanlah debt collector sebagai teman atau sahabat disaat kita sedang menghadapi kredit macet, karena debt collector adalah orang yang paling tau solusi dalam masalah ini dari pengalaman hariannya. tidak baik menghindari debt collector dan menjadikan mereka musuh karena hanya akan menambah masalah baru. kalau mereka marah-marah ya kita harus jadi sesabar-sabarnya manusia karena memang kita layak dimarahi wong gak bisa bayar kredit.</p>
<p style="text-align: justify;">banyak masukan berharga berdasarkan pengalaman pribadi dari teman-teman itu yan bikin saya tambah tenang dalam melangkah.</p>
<p style="text-align: justify;">tetep ada berita menggembirakan disaat-saat kita sedang mengalami kesulitan. ternyata memang tidak setiap bank itu punya kebijakan yang sama. pada beberapa bank, dimana saya kenal lumayan baik dengan marketing yang dulu membantu saya dalam proses pencairan kredit, saya secara khusus menghubungi mereka dan melaporkan kondisi saya yang bermasalah. ternyatanya lagi tanggapan mereka cukup mengagetkan karena sangat berbeda dengan bank yang marketingnya tidak saya kenal.</p>
<p style="text-align: justify;">karena kenal mereka sangat perhatian terhadap masalah yang menimpa saya dan berusaha sekuatnya untuk mencari solusi terbaik yang meringankan. dalam beberapa hari setelah saya laporan datang kunjungan dari petugas bank hanya menyapaikan rasa simpati dan prihatin mereka sambil berjanji mengupayakan jalan keluar buat saya. setelah pejabat bank itu datang disusul para marketing datang sambil menawarkan program keringan pada saya.</p>
<p style="text-align: justify;">benar-benar luar biasa, banyak hal terjadi di luar perkiraan saya. ternyata bener, silaturahmi itu membawa berkah. saat bingung nyari kredit, para marketing adalah sahabat terbaik yang membantu mengupayakan segala cara agar saya bisa dapat kredit. nah saat saya macet pun mereka tidak berpangku tangan, sebelum debt collector datang menjadi sahabat baru saya, para marketing tetep memposisikan diri sebagai teman baik dengan tetep mengupayakan agar saya segera mendapat take over kredit dari bank lain.</p>
<p style="text-align: justify;">tetep orang lain yang bekerja keras buat saya, saat saya dalam kondisi terpuruk atau saat saya dalam kondisi berjaya.</p>
<p style="text-align: justify;">menyenangkan sekali!!!!</p>
<p style="text-align: justify;">
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.samuraijagoan.com/2009/06/13/kejutan-kejutan-menarik/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

