<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Samurai Jagoan &#187; kredit</title>
	<atom:link href="http://www.samuraijagoan.com/tag/kredit/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://www.samuraijagoan.com</link>
	<description></description>
	<lastBuildDate>Tue, 07 Feb 2012 05:46:39 +0000</lastBuildDate>
	<generator>http://wordpress.org/?v=2.8.6</generator>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
			<item>
		<title>rapot merah</title>
		<link>http://www.samuraijagoan.com/2009/11/25/rapot-merah/</link>
		<comments>http://www.samuraijagoan.com/2009/11/25/rapot-merah/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 25 Nov 2009 18:17:42 +0000</pubDate>
		<dc:creator>samurai</dc:creator>
				<category><![CDATA[Artikel Menarik]]></category>
		<category><![CDATA[Entrepreneurship]]></category>
		<category><![CDATA[hutang]]></category>
		<category><![CDATA[debt collector]]></category>
		<category><![CDATA[entrepreneur]]></category>
		<category><![CDATA[entrepreneur bodoh]]></category>
		<category><![CDATA[entrepreneur pemberontak]]></category>
		<category><![CDATA[entrepreneur university]]></category>
		<category><![CDATA[jawa pos]]></category>
		<category><![CDATA[kredit]]></category>
		<category><![CDATA[sec]]></category>
		<category><![CDATA[surabaya entrepreneur club]]></category>
		<category><![CDATA[tahanan]]></category>
		<category><![CDATA[tangan diatas]]></category>
		<category><![CDATA[tda]]></category>
		<category><![CDATA[tda surabaya]]></category>
		<category><![CDATA[telinga]]></category>
		<category><![CDATA[terbelenggu]]></category>
		<category><![CDATA[universitas airlangga surabaya]]></category>
		<category><![CDATA[universitas Ciputra]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.samuraijagoan.com/?p=1246</guid>
		<description><![CDATA[saya pernah diberitahu oleh seorang mentor entrepreneur saya tentang istilah &#8216;pengusaha itu selalu butuh duit buat menjalankan roda usahanya, sedangkan bank itu selalu melihat kredibilitas dalam mengucurkan dana kreditnya&#8217;
itu memang bener banget dan semua orang juga sudah tau, sebab memang itulah yang terjadi dalam kehidupan sehari-hari. siapa sih yang gak mau main aman dalam mengelola [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;"><img class="alignleft size-thumbnail wp-image-1641" title="DWS-Raport" src="http://www.samuraijagoan.com/wp-content/uploads/2009/11/DWS-Raport-150x150.jpg" alt="DWS-Raport" width="150" height="150" />saya pernah diberitahu oleh seorang mentor entrepreneur saya tentang istilah &#8216;pengusaha itu selalu butuh duit buat menjalankan roda usahanya, sedangkan bank itu selalu melihat kredibilitas dalam mengucurkan dana kreditnya&#8217;<span id="more-1246"></span></p>
<p style="text-align: justify;">itu memang bener banget dan semua orang juga sudah tau, sebab memang itulah yang terjadi dalam kehidupan sehari-hari. siapa sih yang gak mau main aman dalam mengelola uangnya apalagi jika uang tersebut harus dipinjamkan ke pada pihak lain yang notabene belom dikenal. disisi lain beneran saya ngerasain sendiri saat menjadi pengusaha bahwa memang harus mengeluarkan duit dulu buat mendapatkan duit yang lebih gede lagi, yang pada akhirnya disebut profit.</p>
<p style="text-align: justify;">jadinya seperti lingkaran yang tidak berujung pangkal &#8211; seperti sebuah jargon tentang mana yang terjadi duluan telur atau ayam -</p>
<p style="text-align: justify;">nah dalam kondisi yang begini ini terjadilah adu kepinteran antara pengusaha dengan pihak bank. yang satu supaya kredit buat modal usahanya bisa keluar, sedang yang satunya berupaya agar saat pencairan kreditnya aman dan terbayar sampai lunas.</p>
<p style="text-align: justify;">sebenernya para pengusaha itu tertutama yang bener-bener menggantungkan hidupnya dari bisnis juga gak akan mau main-main dengan uang modal apalagi uang itu hasil dari kredit.  pengusaha tetep punya keingian agar dirinya bisa mengembalikan uang hasil kredit yang diputer dibisnisnya itu tepat pada waktu jatuh tempo.  tujuannya agar semakin dipercaya oleh perbankan sehingga nilai kredit yang diperolehnya dapat naik terus. saya yakin hampir tidak ada pengusaha yang saat mendapatkan uang kredit memang berniat tidak baik untuk membawa kabur duit tersebut.<a href="http://2.bp.blogspot.com/_2zPvcfD1gvM/SmCe0t9xrgI/AAAAAAAAAFA/jLbinrtKQK8/s400/terbelenggu.jpg"><img class="alignright" src="http://2.bp.blogspot.com/_2zPvcfD1gvM/SmCe0t9xrgI/AAAAAAAAAFA/jLbinrtKQK8/s400/terbelenggu.jpg" alt="" width="192" height="144" /></a></p>
<p style="text-align: justify;">saya juga termasuk yang punya cita-cita mulia itu.  saya juga ngalamin sulitnya mendapat kepercayaan dari bank untuk memperoleh pinjaman walaupun dalam perjalanan bisnis saya, pada akhirnya uang bank yang saya kelola cukup besar. duit kredit itu bukan dibuat main-main atau buat foya-foya tapi beneran diputer dalm bisnis, sekitar lima tahun saya kelola bisnis saya dengan uang hasil kredit itu, hasil yang saya peroleh sangat baik sehingga kepercayaan bank pada saya semakin besar sehingga limit kredit saya selalu naik setiap tahunnya. dan naiknya juga gak tanggung-tanggung selalu dengan plafond yang sangat bagus.</p>
<p style="text-align: justify;">saya juga gak ada niatan buat ngemplang duit itu. tapi tidak ada seorangpun yang menduga jika diakhir tahu 2008 dan diawal tahun 2009 terjadi krisis ekonomi dunia. dimana-mana timbul masalah terutama dikalangan perbangkan. efek dari masalah tersebut, dunia pebankan mengencangkan sabuknya dalam pengucuran kredit. nah kalo bank sudah mengencangkan pengucuran kreditnya yang paling kena imbas adalah para pengusaha, termasuk saya.  tidak ada lagi dana yang bisa diharapkan untuk memutar roda bisnis sambil menunggu tagihan cair atau membeli barang dagangan yang baru.</p>
<p style="text-align: justify;">duit kredit dari bank tidak turun, roda bisnis semakin pelan muternya dan pembayaran tagihan dari  relasipun semakin tertunda, sehingga berakibat fatal bagi bisnis saya. tadinya saya pikir itu hanya terjadi pada diri saya akibat kebodohan saya dalam mengelola bisnis. ternyata saat saya mengeluh dan sharing pada banyak teman, merekapun mengalami kondisi yang sama dengan saya, bahkan seringkali terjadi kondisi mereka lebih parah dari saya.</p>
<p style="text-align: justify;">dengan kondisi rumit ini sebagai entrepreneur saya kan gak pingin mati sia-sia dalam waktu cepat. saya harus bisa bertahan memperkuat pondasi bisnis saya sehingga bisa melawati masa sulit ini. pemasukan yang berkurang membuat pengaturan cash flow dalam bisnis harus ektra hati-hati dan mau tidak mau saya juga akhirnya harus mulai menunda pembayaran tagihan-tagihan yang jatuh tempo. duitnya bukan dibuat macem-macem tapi tetep dipakai buat muterin usaha.  dulu duit yang dipake muterin bisnis, selain dari keuntungan usaha, saya dapat juga dari kredit bank.  tapi sekarang karena kredit bank tidak turun lagi maka duit yang saya pake sebagai ganti dari kredit bank adalah duit yang seharusnya digunakan untuk membayar tagihan yang sudah jatuh tempo.</p>
<p style="text-align: justify;"><a href="http://endangar.files.wordpress.com/2009/07/borgol2.jpg"><img class="alignleft" src="http://endangar.files.wordpress.com/2009/07/borgol2.jpg" alt="" width="180" height="128" /></a>saya yang tadinya selalu bayar tagihan tepat waktunya kini mulai menunda pembayaran, sehingga beberapa tagihan yang sudah jatuh tempo tidak terbayar saat jatuh temponya.</p>
<p style="text-align: justify;">saya kira ini bisa ditolerir karena toh saat tagihan bulan ini tidak saya bayar, saya sudah terkena  denda dan tambahan bunga akibat keterlambatan pembayaran tagihan tersebut.</p>
<p style="text-align: justify;">saya memang pernah kerja di salah satu bank asing saat baru lulus kuliah dulu, jadi sedikit banyak saya paham  apa yang terjadi bila saya gak bayar tagihan tepat pada waktunya. hukuman bagi seorang yang tidak bayar tagihan tepat pada waktunya ke bank adalah tidak hanya terkena bunga berbunga plus denda saja tapi juga tercatat dalam laporan negative di bank indonesia.</p>
<p style="text-align: justify;">ini yang terparah, masuk catatan negative bak indonesia.</p>
<p style="text-align: justify;">tadinya saya agak meremehkan sangsi terakhir. sansi bunga berbunga juga saya remehkan yang saya paling khawatir adalah datangnya para tukang tagih kerumah atau kekantor saya. debt kollektor yang datang itu yang paling saya khawatirkan.</p>
<p style="text-align: justify;">ternyata kekhawatiran saya salah besar.</p>
<p style="text-align: justify;">seperti bunga berbunga dan denda, debt kollektor ini ternyata bisa saya tangani.  mereka akhirnya menjadi kawan baru saya, bahkan  beberapa diantara debt kollektor itu menjadi kawan baik saya dan menjadi partner bisnis saya.</p>
<p style="text-align: justify;">catatan negative bank indonesia yang tadinya saya remehkan ternyata ini merupakan masalah terbesar yang saya terima. yang kelihatannya remeh ini justru yang paling menghancurkan efeknya dan paling berbahaya. tadinya saya beranggapan jika keterlambatan saya dalam pembayaran tagihan mulai diselesaikan pelan-pelan maka catatan itu akan membaik dengan sendirinya, memang prosesnya lama seiring dengan pembayaran saya, itu yang ada dalam pikiran saya.</p>
<p style="text-align: justify;">ternyata yang terjadi sangat mengerikan. catatan negative saya memang membaik tapi tetep saja nama saya sebagai penunggak kredit di bank gak bisa hilang begitu saja. bank tetep tidak percaya terhadap saya walaupun catatan di bank indonesia mulai menunjukkan kemajuan dalam pembayaran.</p>
<p style="text-align: justify;">untuk menjaga supaya saya gak bertambah macem-macem, walaupun saya sudah mulai membayar tagihan nya lagi, bank menutup akses saya di semua jalur kreditnya.  seperti misalnya, jika pinjaman tanpa agunan saya tertunggak maka kartu kredit saya di bank yang sama dan dalam status lancar pembayarannya tetep diblokir oleh bank, sehingga gak bisa saya pakai lagi. mungkin sistem di bank dibuat begitu supaya kerugiannya gak bertambah. tapi akibatnya sangat fatal buat saya, akses pendanaan saya di perbankan semakin tertutup.</p>
<p style="text-align: justify;">efek lainnya, rekening yang ada uangnya juga di blokir sepihak, dan dananya dipakai untuk membayar tagihan tertunggak di bank tempat saya punya rekening yang diblokir itu. dan yang terparah beberapa fasilitas perbankkan yang tadinya saya terima sebagai nasabah mulai ditarik,  karena saya punya masalah dengan bank mereka. artinya semua jalur hubungan saya dengan dunia perbangkan ditutup.</p>
<p style="text-align: justify;">dengan begitu habislah saya. <a href="http://buntomijanto.files.wordpress.com/2008/05/tidak-bebas.jpg"><img class="alignleft" src="http://buntomijanto.files.wordpress.com/2008/05/tidak-bebas.jpg" alt="" width="169" height="187" /></a></p>
<p style="text-align: justify;">bukan hanya saya, istri sayapun terkena imbasnya, sebagai istri yang bersuamikan seseorang yang punya masalah kredit dengan bank maka diapun dianggap berbahaya pula. akses kreditnya pun ditutup, walaupun statusnya di catatan bank indonesia baik.</p>
<p style="text-align: justify;">modal kerja yang selama ini bergantung dari bank terputus tus tanpa toleransi, bukan hanya di bank yang bersangkutan tempat kredit macet saya, tapi disemua bank di indonesia,  yang mengakses data diri saya berdasarkan rapot merah saya dalam catatan negative bank indonesia.</p>
<p style="text-align: justify;">yang dulu saya mudah dapat fasilitas, saya sekarang seolah-olah menjadi mahkluk mengerikan dan berbahaya yang harus dijauhi semua bank. kalo pingin membela diri sendiri saya bisa berteriak &#8220;itu kan bukan kemauan saya, saya hanya salah satu korban dari krisis, tapi kenapa akibat yang saya tanggung sedemikian berat, lagian saya kan juga terus membayar semua kewajiban saya yang ada di bank&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;">jadi cengeng memang akhirnya saya. tapi itu juga jadi salah satu tantangan lagi buat saya untuk tetep bertahan hidup dan mempertahankan perputaran roda bisnis untuk menghidupi keluarga.</p>
<p style="text-align: justify;">tidak ada toleransi &#8211; itu bila kita berhadapan dengan sistem komputer &#8211; sekali jelek ya tetep jadi jelek &#8211; karena yang menilai sistem. tapi kalo pikiran positif ini tetep bekerja dengan baik, otak saya juga akan bilang kalo ada teman saya yang minjem duit ke saya pembayarannya tersendat saya juga akan ekstra hati-hati pada pinjaman berikutnya bahkan bisa jadi tidak akan saya beri pinjaman lagi.</p>
<p style="text-align: justify;"><a href="http://1.bp.blogspot.com/_yxgqRm-MiFI/SUZC-H4oBiI/AAAAAAAAArU/N0INJYJqkLg/s320/a+woman+hiding+behind+her+turtle+nect.jpg"><img class="alignleft" src="http://1.bp.blogspot.com/_yxgqRm-MiFI/SUZC-H4oBiI/AAAAAAAAArU/N0INJYJqkLg/s320/a+woman+hiding+behind+her+turtle+nect.jpg" alt="" width="115" height="151" /></a>saya pikir-pikir lagi, ternyata apa yang ada dalam otak saya hampir sama dengan sistem di bank. bahkan seringkali terjadi hal ekstrem dalam penagihan jika pinjamannya kepada investor perseorangan. selain mereka tidak mau tahu tentang kondisi apapun yang bikin pembayaran tagihannya tertunda sering juga diiringi dengan kekerasan fisik.</p>
<p style="text-align: justify;">antara mangkel, sebel dan bersyukur bahwa saya walaupun sudah putus hubungan dengan perbangkan tetep tidak pengalami hal-hal buruk seperti yang sering di suguhkan dalam sinetron di televisi jika ada seseorang yang mengalami kredit macet.</p>
<p style="text-align: justify;">jangan menyerah &#8211; masih banyak jalan &#8211; karena kalo gak bisa lewat jalan besar masih tersedia jalan tikus, jalan rahasia atau jalan di bawah tanah.</p>
<h3 id="comments">3 Responses to “rapot merah”</h3>
<ol>
<li id="comment-3735"> <img src="http://www.gravatar.com/avatar/89640379869f7e29edf79a9371627c9d?s=32&amp;d=http%3A%2F%2Fwww.gravatar.com%2Favatar%2Fad516503a11cd5ca435acc9bb6523536%3Fs%3D32&amp;r=G" alt="" width="32" height="32" /> <cite>yoga EU31 sby</cite> Says:<br />
<small><a href="../2009/11/25/rapot-merah/#comment-3735">December 9th, 2009 at 12:55 pm</a> <a title="Edit comment" href="comment.php?action=editcomment&amp;c=3735">edit</a></small>hebat…kisah yang memotivasi!!!<br />
Trims</li>
<li id="comment-4382"> <img src="http://www.gravatar.com/avatar/5a818cb7e407a1d86a3bb565788736f9?s=32&amp;d=http%3A%2F%2Fwww.gravatar.com%2Favatar%2Fad516503a11cd5ca435acc9bb6523536%3Fs%3D32&amp;r=G" alt="" width="32" height="32" /> <cite>hilman</cite> Says:<br />
<small><a href="../2009/11/25/rapot-merah/#comment-4382">January 4th, 2010 at 9:15 am</a> <a title="Edit comment" href="comment.php?action=editcomment&amp;c=4382">edit</a></small>Pak Sam, spertinya saya akan mengalami kejadian seperti itu.</li>
<li id="comment-4383"> <img src="http://www.gravatar.com/avatar/5a818cb7e407a1d86a3bb565788736f9?s=32&amp;d=http%3A%2F%2Fwww.gravatar.com%2Favatar%2Fad516503a11cd5ca435acc9bb6523536%3Fs%3D32&amp;r=G" alt="" width="32" height="32" /> <cite>hilman</cite> Says:<br />
<small><a href="../2009/11/25/rapot-merah/#comment-4383">January 4th, 2010 at 9:26 am</a> <a title="Edit comment" href="comment.php?action=editcomment&amp;c=4383">edit</a></small>wah, kayaknya ntar lagi saya ngalami itu pak, kasih advise ya pak</li>
</ol>
<ol>
<li id="comment-6307"> <img src="http://www.gravatar.com/avatar/075848ccf8d74b0aee1bdbf30139b457?s=32&amp;d=http%3A%2F%2Fwww.gravatar.com%2Favatar%2Fad516503a11cd5ca435acc9bb6523536%3Fs%3D32&amp;r=G" alt="" width="32" height="32" /> <cite>seruni 12</cite> Says:<br />
<small><a href="../2009/11/25/rapot-merah/#comment-6307">March 11th, 2010 at 2:52 pm</a> <a title="Edit comment" href="comment.php?action=editcomment&amp;c=6307">edit</a></small></p>
<p style="text-align: justify;">saya py pengalaman yg sm, hanya telat sekali, bank udah telpon2, masih untung, teman sy sampe didatangi dept coll yg tdk sopan sampe rumah mo kantor, bikin hidup tdk nyaman. mulai saat itu jd males kalo hub dg bank. tekadku memperkuat basis modal usaha, pikir2 kalo tdak pinjam ke bank sebenarnya kita udah punya usaha bank sendiri dg minimal nasabah satu orang yaitu diri kita sendiri. klo emergency skali baru cari bank lain. lagian bank di sini kurang menarik bunganya tinggi banget 12-13%, bandingkan dgn di cina yang cuma1/3 nya, bhkn kurang, disebtkan bunga bank di indonesia masuk tertinggi di dunia, bgmn kita bisa bersaing dgn pengusaha cina? ini tidak adil. BI perlu direformasi</p>
</li>
</ol>
<p style="text-align: justify;">
<p style="text-align: justify;">
<p style="text-align: justify;">
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.samuraijagoan.com/2009/11/25/rapot-merah/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>3</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>passion = iman = ?????</title>
		<link>http://www.samuraijagoan.com/2009/07/11/passion-iman/</link>
		<comments>http://www.samuraijagoan.com/2009/07/11/passion-iman/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 11 Jul 2009 16:06:54 +0000</pubDate>
		<dc:creator>samurai</dc:creator>
				<category><![CDATA[Artikel Menarik]]></category>
		<category><![CDATA[Entrepreneurship]]></category>
		<category><![CDATA[hutang]]></category>
		<category><![CDATA[bank]]></category>
		<category><![CDATA[entrepreneur bodoh]]></category>
		<category><![CDATA[entrepreneur university]]></category>
		<category><![CDATA[iman]]></category>
		<category><![CDATA[jagoan hosting]]></category>
		<category><![CDATA[kredit]]></category>
		<category><![CDATA[passion]]></category>
		<category><![CDATA[reng oneng]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.samuraijagoan.com/?p=519</guid>
		<description><![CDATA[banyak orang bilang kalo ingin berbisnis kita harus punya passion terhadap bisnis yang akan kita kerjakan. tapi menurut saya passion itu harus dipunyai oleh setiap orang saat ia ingin melakukan sesuatu apa saja, tidak hanya dalam menjalankan bisnis saja.
saat mendengar kata passion pertama kali saya blas gak mudheng apa artinya, setelah dijelaskan beberapa kali oleh [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;"><img class="alignleft size-thumbnail wp-image-1623" title="Passion Of The Christ - Songs" src="http://www.samuraijagoan.com/wp-content/uploads/2009/07/Passion-Of-The-Christ-Songs-150x150.jpg" alt="Passion Of The Christ - Songs" width="150" height="150" />banyak orang bilang kalo ingin berbisnis kita harus punya passion terhadap bisnis yang akan kita kerjakan. tapi menurut saya passion itu harus dipunyai oleh setiap orang saat ia ingin melakukan sesuatu apa saja, tidak hanya dalam menjalankan bisnis saja.</p>
<p style="text-align: justify;"><span id="more-519"></span>saat mendengar kata passion pertama kali saya blas gak mudheng apa artinya, setelah dijelaskan beberapa kali oleh teman-teman dekat secara pelan &#8211; pelan baru saya &#8216;agak&#8217; mengerti apa yang dimaksud dengan istilah passion itu. tapi kemudian segera lupa tentang maksud dari passion setelah pembahasan tentang istilah itu berhenti paling lama tiga-empat hari kemudian. maklum sebagai mahkluk yang blass gak ngerti bahasa inggris jelaslah gak akan ingat terhadap istilah-istilah yang menggunakan bahasa internasional tersebut.</p>
<p style="text-align: justify;">akhirnya biar gak terlalu dianggap &#8216;oon&#8217; saya cari padanan kata,  yang paling bikin saya  gampang mengingat istilah tersebut. sampai suatu saat saya temukan dan saya yakin bahwa istilah &#8216;iman&#8217; bisa saya anggap sejajar dengan istilah &#8216;passion&#8217; minimal saya sendirilah yang menganggapnya sejajar.</p>
<p style="text-align: justify;">menurut saya setiap orang harus meng&#8217;imani&#8217; apa yang dia kerjakan. maksudnya menurut saya bahwa seseuatu yang dikerjakan itu agar tidak menjadi suatu keterpaksaan dalam pelaksanaannya atau pengerjaannya. seperti dalam beragama, bila saya beragama muslim maka tentunya akan percaya dan ber-iman terhadap semua ajaran muslim tersebut. jika saya tidak mengeti akan suatu hal mengenai agama yang saya anut agar iman saya tidak luntur maka saya segera memcari dan mempelajari semua hal tentang muslim, semua yang menjadi kewajiban dalam beragama saya harus laksanakan dengan senang hati walaupun itu berat. kenapa harus dlaksanakan dengan senang hati, kaena memang itu konsekwensinya bila saya berniat untuk beragama muslim dan beriman terhadap semua ajarannya. bila sedikit saja muncul keterpaksaan, maka lambat laun kepercayaan saya akan luntur dan saya kemudian menjadi semakin tidak suka terhadap apa yang diperintahkan oleh agama yang saya anut.<img class="alignright size-thumbnail wp-image-1624" title="passion-clock" src="http://www.samuraijagoan.com/wp-content/uploads/2009/07/passion-clock-150x150.jpg" alt="passion-clock" width="150" height="150" /></p>
<p style="text-align: justify;">entah benar atau tidak, tapi begitulah menurut versi saya.</p>
<p style="text-align: justify;">saat saya sudah membulatkan tekad untuk terjun 100% ber-entrepreneur apapun yang terjadi,  maka saya pun harus siap dengan segala konsekwensinya. supaya iman saya tidak luntur terhadap bidang entrepreneur yang saya geluti ini, maka setiap saat dalam hidup saya, saya pergunakan untuk mempelajarinya. tentunya gak mudah, karena entrepreneur itu luas banget dan saya nggak ngerti bidang mana yang saya sukai.</p>
<p style="text-align: justify;">waktu itu hampir setahun saya mencari pola tentang bidang entrepreneur apa yang akan saya jalani. setiap kali ada bidang usaha yang saya anggap menarik perhatian, maka saya akan tonkrongin dan saya perhatikan secara sungguh-sungguh hampir setiap hari, dari pagi hingga malam. tapi biasanya setelah pengamatan selama dua mingguan saya kemudian menyerah tidak melanjutkan dalam bentuk real action karena takut akan resiko yang mungkin saya hadapi.</p>
<p style="text-align: justify;">sempet putus asa juga saya terhadap bidang entrepreneur ini karena semakin lama di geluti semakin gak berani buat action sebab resiko yang diperkirakan bakal muncul benar-benar bikin hati ciut.</p>
<p style="text-align: justify;">saya kemudian merenung, mikir apa sih sesungguh-sunguhnya yang musti saya kerjakan supaya saya bisa bener-bener action. dalam perenungan itu tiba-tiba saja muncul sebuah kesadaran bahwa saya itu sesungguh-sungguhnya sudah melakukan sesuatu yang rutin, bener-bener rutin karena setiap hari saya kerjakan dengan sungguh-sungguh. dari pagi, siang, sore bahkan sampai malam hari. walaupun saya tidak pernah bisa tahu secara pasti hasil apa yang akan saya peroleh dari rutinitas tadi. rutinitas tersebut masih sangat berkaitan erat dengan entrepreneurship. tapi mungkin memang gak bisa dikatakan sebagai bisnis.</p>
<p style="text-align: justify;">saya ternyata memang bener-bener menjalankan suatu rutinitas, saya menghabiskan hari-hari saya secara sungguh-sungguh untuk mencari kredit dari bank, karena saat itu saya pikir gak mungkin saya dapat mulai membuka suatu usaha tanpa mendapatkan pinjaman modal dari bank. tanpa saya sadari upaya saya dalam pencarian kredit ini saya rencanakan dengan sunguh-sungguh dan terencana dengan baik. saya punya program-program kerja yang jelas, saya tau pasti apa yang harus saya lakukan step demi stepnya secara detail. bahkan yang tadinya anggapan saya tentang penelitian atau survey saya terhadap suatu bisnis yang menarik perhatian saya, dan rencananya akan saya geluti, merupakan kegiatan utama yang gak bisa diganggu gugat. setelah saya renungkan lagi ternyata kegiatan tersebut menjadi kegiatan kedua bahkan ketiga setelah kegiatan saya mencari kredit. jadi upaya mencari kredit merupakan kegiatan utama yang tidak boleh terganggu sedang apapun kegiatan saya lainnya tidak boleh sampai menggangu aktivitas pencarian kredit saya.</p>
<p style="text-align: justify;">pokoknya aktivitas pencarian kredit adalah yang utama dan tidak ada suatu hal pun yang boleh menggangu dan menghambatnya.</p>
<p style="text-align: justify;">tanpa saya sadari upaya pencarian kredit merupaka action real saya setelah saya selesai mengikuti pelatihan entrepreneur. apa yang diajarkan dalam pelatihan saya praktekkan semuanya dengan sungguh-sungguh setiap hari.</p>
<p style="text-align: justify;">setelah saya sadar, saya bukannya menghentikan kegiatan itu tapi malahan semakin saya jadikan kegiatan utama saya. semakin saya di tolak semakin penasaran saya. semakin saya disetujui dalm mengajuan kredit yang saya minta,  maka semakin mantab lah saya dalam mejalani apa yang sudah saya geluti ini.</p>
<p style="text-align: justify;">saya pun semakin rajin mempelajari apapun yang berbau dan berhubungangan dengan kredit. para marketing bank yang menawarkan kredit selalu saya temui jika mereka minta ijin utuk bikin janji ketemuan. saya pingin tau tentang produk-produk yang mereka tawarkan dan bagaimana upaya perolehannya.</p>
<p style="text-align: justify;"><a href="http://farm1.static.flickr.com/46/148280826_65b23fd93d.jpg"><img class="alignleft" src="http://farm1.static.flickr.com/46/148280826_65b23fd93d.jpg" alt="" width="113" height="145" /></a>semua kredit apapun jenisnya saya coba kenali dan saya coba aplikasikan dalam kehidupan saya. untuk itu saya harus meyakinkan istri dan mertua agar mereka bisa memahaminya. istri dengan mudah bisa memahami karena memang dia &#8216;kanan&#8217; sekali. sedangkan mertua yang relatif lebih sulit selain profesinya sebagai pensiunan pegawai negeri sipil, pola pikir beliau tentang kredit sangat tradisional dan konvensional, tapi apapun beliau terpaksa harus tetap dilibatkan dalam urusan kredit saya. dan ini jelas setelah mendapat persetujuan dari istri, beliau saya daftarkan &#8217;sebagai keluarga tidak serumah yan bisa dihubungi&#8217; makanya kemudian dalam masalah ini, istri saya lah yang ambil peranan paling besar.  sebab mertua itu kan orang tua kandungnya. perlahan tapi pasti mertua pun setuju dan telepon yang berdering hampir setiap hari di rumahnya yang menanyakan tentang kepastian pengajuan kredit atas nama saya atau istri akhirnya menjadi kegiatan rutin yang tidak lagi istimewa.</p>
<p style="text-align: justify;">itulah pada akhirnya saya semakin sadar, rupanya passion saya atau iman saya dalam bidang entrepreneur terutama tertuju pada masalah kredit. saya begitu menguasai masalah kredit, bukan hanya saya, istri sebagai orang terdekat juga sangat fasih dalam hal ini. kami berdua akhirnya menjadi seperti berlomba dalam mengajukan berbagai macam kredit. siapa yang disetujui lebih dahulu atau yang memperoleh kredit limit lebih banyak itulah yang menjadi juara. yang jadi juara pastinya akan dapat reward.</p>
<p style="text-align: justify;">dan kondisi seperti ini tidak hanya berada antara saya dan istri. tapi juga bergaung keras di kalangan teman-teman dekat. saya menjadi sedemkian populernya sebagai orang yang paling mengerti masalah tentang kredit. jadinya banyak kawan yang datang dan bertanya-tanya kepada saya tentang tips dan trik dalam pengajuan kredit. saya dengan senang hati menjelaskan karena dengan adanya orang yang bertanya pada saya, jadinya saya seperti memperoleh ladang untuk mempraktekkan teori-teori baru saya tentang kredit. rata-rata teman-teman tidak keberatan karena yang sudah-sudah lebih banyak yang di setujui pengajuannya daripada yang ditolak. dipihak lain, istri yang hanya mengamati sepak terjang saya dan sebagai pendengar yang baik dari semua cerita saya, akhirnya pun menjadi ahli tentang kredit di lingkungan teman-temannya. istri akhirnya juga menjadi tempat bertanya bagi teman-temannya.</p>
<p style="text-align: justify;">kegiatan pencarian kredit akhirnya menjadi kegiatan utama saya dan itu merupakan kegiatan yang sangat menyenangkan. semua yang saya lakuka disitu saya lakukan dengan senang hati dan tanpa adanya keterpaksaan. efek lain yang saya dapatkan adalah saya akhirnya jadi punya bisnis real beneran. berupa toko baju, rental mobil dan pengelolaan properti yang disewakan. semuanya tanpa direncanakan dan hanya megalir begitu saja karena memang yang bener-bener direncanakan dengan baik adalah hanya pencarian kredit.</p>
<p style="text-align: justify;">dari semua faktor yang menyenangkan itu, faktor-faktor resiko pastilah juga menjai pemikiran utama saya. dalm teori bisnis manapun selalu dikatakan &#8216;high return &#8211; high risk&#8217; makaya saya tidak pernah menganggap remeh soal resiko yang bakal saya hadapi bila segala sesuatunya tiba-tiba tidak berjalan mulus sesuai rencana. orang pertama yang harus juga paham adalah istri saya, makanya saya selalu meluangkan waktu berdua untuk membahas kesiapan kami berdua bila bener-bener harus menghadapi resiko kredit macet. ternyata disini kami saling menguatkan satu sama lainnya, jadi ya sudah jalan saja terus.</p>
<p style="text-align: justify;">apalagi saya juga tau dengan pasti di kalangan teman-teman banyak juga yang tidak setuju dan tidak suka terhadap apa yang saya kerjakan. kadang tampak nyata bahwa mereka berharap saya suatu saat akan terjungkal akibat kebanyakan kredit.</p>
<p style="text-align: justify;">mungkin ini juga yang bikin saya yakin bahwa passion atau iman saya adalah kredit. karena di surabaya dikalangan teman-teman sudah beredar  bahwa nama samurai identik dengan kredit. seperti aqua identik dengan air mineral, atau al&#8217;quran identik dengan umat muslim, atau imam samudra identik dengan teroris atau golkar identik dengan warna kuning.</p>
<p style="text-align: justify;">pokoknya yang kayak-kayak gitulah. <a href="http://zenhabits.net/fotos/20080805passion.jpg"><img class="alignright" src="http://zenhabits.net/fotos/20080805passion.jpg" alt="" width="128" height="117" /></a></p>
<p style="text-align: justify;">di kalangan teman-teman entrepreneur surabaya juga banyak yang passionnya jelas misalnya seperti danton identik dengn internet hosting, riano identik dengan masakan madura, samsul gendut identik denga broker atau makelar dan banyak lainnya.</p>
<p style="text-align: justify;">entah salah entah betul, kira-kira begitulah passion menurut saya, dan passion seseorang tercermin dari apayang dilakukannnya secara rutin hari demi hari.</p>
<p style="text-align: justify;">menurut saya lagi, jika seseorang sudah menemukan apa yang jadi passionnya, bisnis apapun atau kerjaan apapun yang digeluti biasanya berjalan relatif lancar kalo nggak menjadi sangat lancar.</p>
<p style="text-align: justify;">entah ini juga ngawur atau enggak, menurut saya passsion seseorang bisa menggambarkan apa yang menjadi tujuan hidupnya.</p>
<p style="text-align: justify;">pokoknya gitu deh!!!!!</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.samuraijagoan.com/2009/07/11/passion-iman/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>selalu di perdebatkan</title>
		<link>http://www.samuraijagoan.com/2009/06/17/selalu-didebatkan/</link>
		<comments>http://www.samuraijagoan.com/2009/06/17/selalu-didebatkan/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 17 Jun 2009 18:25:38 +0000</pubDate>
		<dc:creator>samurai</dc:creator>
				<category><![CDATA[Artikel Menarik]]></category>
		<category><![CDATA[bank]]></category>
		<category><![CDATA[bisnis]]></category>
		<category><![CDATA[entrepreneur bodoh]]></category>
		<category><![CDATA[hutang]]></category>
		<category><![CDATA[kartu kredit]]></category>
		<category><![CDATA[kredit]]></category>
		<category><![CDATA[kredit tanpa agunan]]></category>
		<category><![CDATA[personal loan]]></category>
		<category><![CDATA[toko baju]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.samuraijagoan.com/?p=483</guid>
		<description><![CDATA[pada saat saya membuka FB-nya mr. danton prabawanto seorang kawan baik saya, ada sesuatu yang menarik perhatian disana, disitu dalam kalimat di salah satu status-nya berbunyi &#8216;ingat tujuan utama adalah punya bisnis, bukan banyak2 kan hutang&#8230;&#8217; 

kalimat status ini sangat menarik perhatian saya,  bukan karena apa-apa, tapi lebih karena hampir  lima tahun terakhir ini saya [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p class="UIIntentionalStory_Message" style="text-align: justify;">pada saat saya membuka FB-nya mr. danton prabawanto seorang kawan baik saya, ada sesuatu yang menarik perhatian disana, disitu dalam kalimat di salah satu status-nya berbunyi <span style="color: #ff0000;">&#8216;ingat tujuan utama adalah punya bisnis, bukan banyak2 kan hutang&#8230;&#8217; </span><a href="http://sekitarkita.com/wp-content/uploads/2009/05/monumenhutang.jpg"><img class="alignright" src="http://sekitarkita.com/wp-content/uploads/2009/05/monumenhutang.jpg" alt="" width="195" height="205" /></a><span id="more-483"></span></p>
<p style="text-align: justify;">
<p style="text-align: justify;">kalimat status ini sangat menarik perhatian saya,  bukan karena apa-apa, tapi lebih karena hampir  lima tahun terakhir ini saya akrab sekali dengan hutang atau kredit setelah selesai pelatihan entrepreneur.</p>
<p style="text-align: justify;">memang pada awalnya saya atau kita tertarik dengan hutang karena tidak punya modal uang buat usaha. lha kalo gak punya duit mau usaha apaan, gitu pikiran saya saat itu. pikiran polos seorang pemula.  ternyata kemudian dalam pelatihan itu saya dapat sesi tentang tips dan trik bagaimana mencari kredit. nah ini sangat menarik, karena saya mengalami sendiri bagaimana sulitnya mendapatkan kredit bank. dalam pikiran polos saya membayangkan suatu saat nanti jika dapat duit kredit dari bank tentunya saya akan bisa bikin usaha baru untuk menggantikan usaha leasing saya yang gagal.</p>
<p style="text-align: justify;">hutang untuk bisnis atau bisnis untuk hutang, memang sesuatu yang ribet untuk dipilih mana yang harus didahulukan atau mana yang lebih diutamakan.  tapi yang jelas pada awalnya sebagai seorang pemula yang polos dan lugu yang tertarik mengikuti pelatihan entrepreneur, saya pastinya pingin sekali punya bisnis  sendiri setelah selesai menjalani masa pelatihan.  karena pingin punya bisnis itulah makanya saya tertarik ikut pelatihan, dan berdasarkan pengalaman pribadi saya, terasa banget susahnya kalo gak punya duit dalam menjalankan bisnis.</p>
<p style="text-align: justify;">menurut saya keduanya saling berkaitan, saling bersahabat dan saling mendukung satu sama lainnya. pada kenyataannya di lapangan memang tidak ada bank yang mau memberikan kredit pada kita jika kita tidak punya bisnis, dan kalo sudah punya pun masih harus ada kriteria tertentu yaitu lamanya menjalankan usaha minimal antara satu sampai dua tahun. bank jarang sekali mau memberikan kredit pada bisnis yang baru dirintis, lha kalo kondisinya seperti ini, seorang pemula seperti saya kapan bisanya memulai bisnis. karena seorang pemula selalu berpikiran bisnis itu hanya bisa dijalankan hanya jika punya modal duit yang salah satunya didapat dari hutang bank.</p>
<p style="text-align: justify;">ruwet kan&#8230;.. <a href="http://langkahpertama.com/wp-content/uploads/2009/05/hutang-225x300.jpg"><img class="alignnone" src="http://langkahpertama.com/wp-content/uploads/2009/05/hutang-225x300.jpg" alt="" width="181" height="200" /></a></p>
<p style="text-align: justify;">untungnya dalam pelatihan tersebut diajarkan cara-cara yang simpel dan praktis dalam mengajukan kredit. nah karena otak polos saya bilang yang saya utamakan harus duit dulu, ya kemudian semua langkah-langkah dan semua daya upaya, saya fokuskan kearah mencari kredit bank. semua trik yang saya dapatkan dari pelatihan saya terapkan apa adanya sesuai yang diajarkan, dan itu saya lakukan setiap hari, diantara waktu saya mengantar dan menjemput istri saya berangkat dan pulang dari tempatnya bekerja. pikiran saya cuman satu, kalo saya lakukan semuanya sesuai prosedur dan saya percaya bahwa hal itu akan berhasil maka pada suatu saat pasti akan berhasil beneran. tapi beneran dan sungguhan dalam otak polos saya, sama sekali tidak muncul suatu bayangkan pun yang menyatakan kapan semua yang saya kerjakan ini akan menampakkan hasilnya.</p>
<p style="text-align: justify;">saya sudah lupa mungkin tiga sampai enam bulan saya lakukan semua metode yang diajarkan setiap harinya, kemudian disela-sela waktu yang ada,  yang saya lakukan juga adalah belajar dan menganalisa segala sesuatu yang nanti jika saya sudah dapat uang dari hutang  bank langsung bisa saya puterkan disitu sebagai bisnis saya. saat itupun otak polos saya juga belum mendapatkan bayangan apapapun tentang bisnis apa yang akan saya geluti nantinya. pokoknya hari-hari saya dilewati dengan praktek tentang trik berhutang dan mencari peluang usaha.</p>
<p style="text-align: justify;">ternyata apa yang menjadi kepercayaan saya tidaklah sia-sia, akhirnya saya pun memperoleh hutang pertama saya.  nggak banyak sih cuman sekitar tiga puluh juta saja, itupun bukan murni hasil usaha saya, itu lebih dari memanfaatkan kredibilitas istri saya sebagai karyawan.  suatu kenyataan yang terjadi sesungguhnya dan bukan omong kosong kalau menjadi entrepreneur itu sulitnya minta ampun, apalagi jika kita  hanyalah  seorang  entrepreneur pemula seperti saya pada saat itu.  tidak ada satu bank pun yang percaya pada kredibilitas saya,  makanya sekitar dua puluh bank langsung menolak aplikasi permohonan kredit yang saya  ajukan.</p>
<p style="text-align: justify;">putus asa sepertinya jauh deh dari diri saya, rasa penasaranlah yang lebih sering muncul. makanya saya tetep puter otak supaya bisa dapatkan itu yang namanya hutang. saat mengikuti sebuah seminar, saya dapatkan info bahwa status sebagai karyawan suatu perusahaan akan lebih mudah untuk mengajukan dan  memperolek kredit, apalagi jika pengajuan kreditnya dilakukan secara kolektif, yaitu diajukan secara bersama-sama lebih dari satu orang karyawan di dalam suatu bagian perusahaan dan disetujui langsung oleh pimpinannya. otak polos saya langsung menuju ke satu tempat, kantor istri saya. malemnya saya olah istri saya sehingga punya visi dan misi yang sama dan selama tiga hari berikutnya gantian  istri saya  yang mengolah teman-teman dan atasannya. seperti yang bisa diduga, gak sampai seminggu kredit pun cair dan bisa dinikmati.</p>
<p style="text-align: justify;">teorinya begitu dapat hutang, langsung pakailah untuk berbisnis supaya segera mendapatkan hasil yang bisa dipakai untuk membayar angsuran hutang itu. lagi-lagi otak polos saya telat dalam menangkap dan mencari peluang bisnis. jadi saat kami dapatkan uangnya, kami belum tau mau dipakai untuk apa uang tersebut. kalaupun terpakai untuk diputer dalam &#8216;bisnis&#8217; itu juga kalo bisa disebut bisnis, jumlahnya jauh dari total uang pinjaman yang kami peroleh.</p>
<p style="text-align: justify;">akhirnya dari pada bingung-bingung, duit yang tidak terpakai itu saya masukkan saja ke dalam rekening tabungan. karena duit yang tidak terpakai itu masih sangat banyak, jadinya jumlah saldo dalam rekening langsung meningkat drastis. pemandangan itu membuat saya kagum, karena sangat menyenangkan sekali jika memandang jumlah total saldo dalam rekening tabungan saya itu. jumlah uang terbanyak yang tercantum disana setelah kegagalan bisnis leasing saya. sangat menyenangkan sekali melihatnya.</p>
<p style="text-align: justify;">otak polos saya langsung berputar saat itu. jika saya saja suka, apalagi jika saya perlihatkan pada petugas bank sesuai dengan cara-cara dan metoda yang diajarkan dalam pelatihan., mereka tentunya juga  suka. untuk membuktikanya saya langsung praktek.  gak pake mikir berlama-lama, cukup sebulan waktu yang saya pergunakan untukberpraktek, dan hasilnya kemudian segera saya pakai untuk pengajuan kredit kembali.</p>
<p style="text-align: justify;">lagi-lgi dugaan dan perkiraan saya tepat, petugas bank sangat mentukai pemandangan yang tampak pada rekening tabungan saya. nggak terlalu mulus juga sih tapi hasil yang saya dapatkan jauh lebih tinggi dari yang saya perkirakan. pastinya ada pengajuan kredit saya yang ditolak oleh beberapa  bank,   tapi  dari pengajuan kredit saya yang disetujui, bila dihitung-hitung total yang saya peroleh bisa  bisa dua kali lipat dari kredit saya yang ditolak. secara hasil keseluruhan bila saya boleh bilang secara bangga dan percaya diri, sesungguh-sungguhnya pengajuan kredit saya tidak ada yang ditolak.</p>
<p style="text-align: justify;">meskipun apa bisnis yang mau saya jalankan belum ketemu, tapi saya dapat kredit dalam jumlah yang banyak dan besar. bentuk kredit yang saya peroleh pun macam-macam ada yang berupa kartu kredit, kredit tanpa agunan, persolal loan dan banyak nama lagi. dapat diduga jadinya rekening tabungan saya langsung menggelembung, duit saya jadi banyak.  tanpa saya tau duit itu harus saya puter dalam bisnis apaan.</p>
<p style="text-align: justify;"><a href="http://1.bp.blogspot.com/_-SLg73uLahY/SAm4duJjYcI/AAAAAAAAAIY/D6Im3kpn85E/s400/mban1545l.jpg"><img class="alignleft" src="http://1.bp.blogspot.com/_-SLg73uLahY/SAm4duJjYcI/AAAAAAAAAIY/D6Im3kpn85E/s400/mban1545l.jpg" alt="" width="224" height="248" /></a>karena bingung mau dipakai untuk bisnis apa duit hutang itu, akhirnya tawaran teman untuk berivestasi saya terima. tapi memang dasar nasib bukan keuntungan yang didapat tapi malah duit saya dibawa kabur. duit hasil hutang-hutangan hilang dibawa kabur orang yang kita kenal pula,  lumrahnya pasti muncul perasaan bingung donk, sedih, pusing, gimana nanti cara mbayarnya.  semua perasaan itu gak muncul dalam diri saya dan istri, hanya perasaan gemes dan mangkel terhadap orang yang membawa kabur duit itu  yang tetep muncul dan gak bisa hilang, bahkan sampai sekarang. perasaan kami biasa-biasa saja karena otak polos kami menganggap yang hilang itu bukan uang kami sendiri, melainkan uang banklah yang hilang dibawa kabur maling. saking mudahnya mendapatkan kredit tidak ada rasa menyesal terhadap berbagai kerugian yang timbul dalam perjalannya. perasaan biasa-biasa saja ini terulang pada saat awal krisis di akhir 2008 dimana sekitar seratus juta uang yang kami tanam di bursa saham menguap begitu saja.</p>
<p style="text-align: justify;">kembali ke awal perjalanan hutang. begitu banyak dan mudah hutang yang kami dapatkan ternyata bikin pusing juga. mau diapain duit-duit ini? malahan saya penah bilang kepada teman-teman, jika nanti kredit yag saya peroleh mencapai satu milyar saya akan traktir makan-makan. gak disangka gak dinyana target itu tercapai tiga-empat bulan setelah saya bicara, tentu saja teman-teman menagihnya dan saya gak bisa menolaknya.  akhirnya makan-makanlah kita semua, merayakan perolehan hutang satu milyar saya. saya rasa,  mungkin hanya itulah kejadian pertama dan terkhir kali yang bisa dijumpai, dimana ada orang yang bikin perayaan tentang total besarnya hutang yang diperolehnya.</p>
<p style="text-align: justify;">dengan banyaknya hutang yang saya peroleh, lupalah saya terhadap tujuan utama mencari hutang tadi. awalnya tujuan utama saya berhutang adalah buat bisnis. ternyata yang terjadi diluar dugaan, percepatan perolehan hutang lebih cepat dari perkembangan bisnis itu sendiri bahkan lebih cepat dalam mencari bisnis apa yang hendak diterjuni.</p>
<p style="text-align: justify;">dan dari pada pusing-pusing karena belum menemukan bisnis yang tepat, akhirnya saya taruh uang hutang tadi dalam bursa saham, investasi emas, investasi properti dan beberapa paket investasi lain. investasi memang menghasilkan tapi pastinya lebih kecil dan lebih lambat dari hasil perputaran sebuah bisnis. tapi dari pada duit hutang itu gak muter sama sekali lebih baik diputer pelan-pelan, toh tetep menghasilkan walaupun perlahan.</p>
<p style="text-align: justify;">sampai suatu saat saya menemukan bisnis beneran, jualan baju di mall. suatu  waktu saya ditawari oleh seorang teman untuk mengelola sebuah toko baju di mall. karena saya merasa punya modal yang cukup maka tawaran itu tidak saya sia-siakan, dan hasilnya semakin membuka jalan buat saya untuk punya bisnis yang nyata. kondisi membuat teman tadi tidak bisa bertahan lama  memgelola ditoko terebut dan meminta saya untuk membeli usahanya. dan saya belilah toko tadi. punya toko ternyata sangat menyenangkan dan bikin ketagihan sehingga tidak sampai setahun toko saya di mall berkembang menjadi empat buah.</p>
<p style="text-align: justify;">lagi-lagi dengan adanya bisnis toko baju ini membuat saya menjadi sangat dipercaya oleh bank, dan mulai pada saat saya diajak join oleh kawan tadi, sampai akhirnya toko saya berkembang menjadi empat buah, begitu banyak kucuran kredit yang saya peroleh. dalam setiap bulannya sekitar lima puluh sampai seratus juta-an kredit yang saya peroleh.</p>
<p style="text-align: justify;">kalo dilihat dari perjuangan awal yang sangat sulit dalam mencari hutang,  sampai kemudian begitu mudahnya saya mendapat kucuran hutang, pastilah tidak masuk akal.  tapi itulah yang sebenarnya terjadi. dan seperti yang sudah saya sebutkan bahwa kucuran hutang lebih cepat dari perkembangan dan perputaran roda bisnis. toko-toko saya semuanya dikelola dengan benar, jika saya bingung dengan managemen saya selalu bertanya kepada teman-teman dan dari mr. danton lah saya paling sering bertanya, biasanya diskusi dimulai dari maghrib sampai menjelang subuh. diskusi kami baru berakhir saat HP saya bunyi, telepon dari istri yang bertanya apakah saya tidak pingin pulang kerumah karena hari sudah subuh.</p>
<p style="text-align: justify;">dari diskusi tersebut banyak yang saya peroleh dan semua masukan tadi saya terapkan secara serius dan sungguh-sungguh di dalam pengelolaan toko. hasilnya perkembangan toko cukup bagus walaupun tidak  bisa dibilang sangat baik karena tetep saja hasilnya belum dapat menutupi pengeluaran pembayaran semua hutang saya. mungkin jika mr. danton tidak terburu menikah, peningkatan pengelolaan toko saya akan bisa lebih bagus lagi, sayangnya beliau terburu menikah sehingga setelah itu saya jadi nggak enak lagi kalo ngajak diskusi beliau sampai pagi, apa nanti kata isterinya.</p>
<p style="text-align: justify;">dengan saran atau tanpa saran mr. danton toko tetep profesional dijalankan dan tetep ada hasilnya,   begitu pula dengan hasil yang saya peroleh dari berbagai proyek investasi saya.  tapi tetep saja semua  hasil yang saya dapatkan belum bisa menutupi biaya pembayaran angsuran seluruh hutang saya.</p>
<p style="text-align: justify;">dimata saya toko-toko yang saya miliki tetep tidak bisa dikatakan sebagai bisnis, walaupun tidak separah komentar mr. danton dalam status FB-nya yang saya jadikan ide tulisan ini, beliau tulis<span style="color: #ff0000;"><span style="color: #000000;"> disitu</span> &#8216;bisnis Kalau rugi bukan bisnis berarti&#8217;  <span style="color: #000000;">kalo saya bilang, bukan hanya yang rugi yang bukan bisnis, yang hanya jalan ditempat atau yang dalam kondisi seperti saya, dimana perputarannya belom bisa menutupi seluruh pengeluaran tetep tidak bisa dikatakan sebagai bisnis.</span></span></p>
<p style="text-align: justify;">walau belum bisa disebut sebagai bisnis,   tapi toko-toko yang saya miliki tetep menjadi sarana  penghasil hutang terbesar.  bahkan saya akhirnya mengarang sebuah teori <span style="color: #ff0000;">&#8216;jika jumlah perolehan hutang lebih besar dari semua biaya yang dikeluarkan setiap bulan maka kondisi tersebut bisa dikatakan untung&#8217;</span> banyak yang tidak setuju dan menentangnya, tapi apapun kata mereka atau apapun pendapat mereka, saya berhasil menjalankan pola tersebut selama sekitar lima tahun, dimana saat itu semua level kehidupan saya dari segi sosial, ekonomi, sampai ke pengetahuan meningkat dengan pesat, dan saya bisa sejajar dengan teman-teman yang menjalankan bisnis sesuai kaidah, bahkan bisa meninggalkan teman-teman yang lambat dalam pergerakan bisnisnya.</p>
<p style="text-align: justify;">saya bahkan memperoleh julukan atau profesi baru dari hutang-hutang saya,  yaitu sebagai konsultan. karena banyak teman yang bertanya pada saya tentang apa sesungguhnya  yang saja jalankan selama itu,  sehingga bisa hidup dengan hutang yang begitu banyak. apapun yang saya katakan mereka tetep tidak paham,  walaupun sampai berbusa mulut saya menjelaskan.  keberhasilan saya sebagai konsultan adalah bisa bikin teman-teman saya lebih mudah disetujui saat mengajukan kredit ke bank dan bagaimana cara bermain kartu kredit yang manis. semua itu berdasarkan pengalaman  pribadi saya.</p>
<p style="text-align: justify;">kembali ke awal topik yang mengingatkan<span style="color: #ff0000;"> &#8216;tujuan utama adalah punya bisnis, bukan banyak2 kan hutang&#8230;&#8217; <span style="color: #000000;">sangatlah tepat, tapi punya banyak hutang juga gak salah-salah banget. dimana boleh saja punya </span></span>hutang banyak walaupun tidak punya bisnis yang jelas dan memadai asalkan  hutang-hutang tadi bisa dibayar. dan kalo sampai waktunya  gak bisa bayar  hutang-hutang tadi tetep sudah siap menerima degan semua  resikonya.</p>
<p style="text-align: justify;">apalagi jika sampai punya hutang banyak dan bisnisnya semakin maju. itu sangat luar biasa&#8230;&#8230;&#8230;</p>
<p style="text-align: justify;">menurut saya suatu bisnis, apapun itu akan tetap bisa hidup dan berkembang jika adanya pemasukan yang lebih besar dari pengeluarannya. dan pemasukan itu bisa dari mana saja. dari jalur yang umum  seperti omset yang besar dan sesuai target atau dari jalur yang tidak umum seperti dari hutang.  ini dilihat tergantung dari sudut pandang dan pengalaman masing-masing orang, dimana setiap orang pasti tidak sama sudut pandang dan pengalamannya.</p>
<p style="text-align: justify;"><span class="text_exposed_show">poko&#8217;e hidup itu harus seimbang antara nikmat dan resiko, jangan cuman mau nikmat-nya aja&#8230;&#8230;&#8230;</span></p>
<p style="text-align: justify;">nyambung gak nyambung poko&#8217;e dibikin nyambung!</p>
<p style="text-align: justify;">
<p style="text-align: justify;">
<p style="text-align: justify;">
<p style="text-align: justify;">
<p style="text-align: justify;">
<p style="text-align: justify;">
<p style="text-align: justify;">
<p style="text-align: justify;">
<p style="text-align: justify;">
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.samuraijagoan.com/2009/06/17/selalu-didebatkan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>kaki diatas kepala dibawah</title>
		<link>http://www.samuraijagoan.com/2009/05/29/kaki-diatas-kepala-dibawah/</link>
		<comments>http://www.samuraijagoan.com/2009/05/29/kaki-diatas-kepala-dibawah/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 29 May 2009 18:58:44 +0000</pubDate>
		<dc:creator>samurai</dc:creator>
				<category><![CDATA[Artikel Menarik]]></category>
		<category><![CDATA[bank]]></category>
		<category><![CDATA[debt collector]]></category>
		<category><![CDATA[entrepreneur bodoh]]></category>
		<category><![CDATA[investasi]]></category>
		<category><![CDATA[kredit]]></category>
		<category><![CDATA[property]]></category>
		<category><![CDATA[toko baju]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.samuraijagoan.com/?p=447</guid>
		<description><![CDATA[suatu fase kehidupan sudah berlalu. tapi sebagai manusia hidup saya harus terus menjalaninya apapun yang terjadi, baik atau buruk, susah atau senang, suka atau tidak. 
semua yang terjadi dan berjalan itu sesuai dengan pilihan hidup saya ,makannya saya harus terus melewati fase-fase kehidupan berikutnya.
sebagai lulusan entrepreneur university angkatan 11 surabaya sekitar tahun 2005-2006 tentunya  saya [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;">suatu fase kehidupan sudah berlalu. tapi sebagai manusia hidup saya harus terus menjalaninya apapun yang terjadi, baik atau buruk, susah atau senang, suka atau tidak. <span id="more-447"></span><a href="http://www.mediaindonesia.com/spaw/uploads/images/article/image/20080713_081515_pedrosa.jpg"><img class="alignleft" src="http://www.mediaindonesia.com/spaw/uploads/images/article/image/20080713_081515_pedrosa.jpg" alt="" width="216" height="170" /></a></p>
<p style="text-align: justify;">semua yang terjadi dan berjalan itu sesuai dengan pilihan hidup saya ,makannya saya harus terus melewati fase-fase kehidupan berikutnya.</p>
<p style="text-align: justify;">sebagai lulusan entrepreneur university angkatan 11 surabaya sekitar tahun 2005-2006 tentunya  saya ingin sekali segera mempraktekkan dan mengamalkan semua ilmu yang didapat di masa pendidikan. semua yang diajarkan oleh para mentor segea saya praktekkan hampir tanpa mikir lagi, dengan harapan tentu saja bisa memperoleh perbaikan kehidupan setelah mengalami kebankrutan di bisnis pertama.</p>
<p style="text-align: justify;">step demi step yang diajarkan oleh para mentor saya lakukan dengan patuh padahal saat itu saya hampir tidak bisa melihat hasil atau akibat dari saya mengikuti cara-cara para mentor itu. saya nggak kenal para mentor, mereka juga gak kenal saya. saya juga sulit buat menghubungi dan berkomunikasi dengan mereka. tapi saya percaya bahwa gak mungkinlah para mentor itu membohongi anak didiknya. benar atau salah ajaran mereka biarkanlah alam semesta yang akan membuktikannya kelak, gitu pikir saya. karena memang gak ada pilihan lain buat saya saat itu, selain untuk mempraktekkan ajaran para mentor .    saya bener-bener gak pingin hidup diatur-atur oleh orang lain dan bekerja sebagai karyawan. saya pinginnya bisa ngatur diri sendiri sebebas-bebasnya.</p>
<p style="text-align: justify;">hanya itu keyakinan yang saya bawa. dengan keyakinan itu saya memulai langkah dengan mencari kredit karena konon kabarnya dengan kredit maka bisnis baru bisa jalan. itu yang saya percayai. tanpa bekal modal dan asset saya coba untuk memperoleh kredit buat menjalankan bisnis. kredit untuk menjalankan bisnis apa saya sendiripun gak ngerti. poko&#8217;e nyari kredit.</p>
<p style="text-align: justify;">seperti yang bisa diduga walaupun sudah mematuhi 100% teori EU dalam mencari kredit, ternyata bener-bener gak semudah membalikkan telapak tangan. semua aplikasi kedit saya ditolak oleh sekitar 20 bank. putus asa pastinya tapi saya gak putus-putus banget dalam membangkitkan semangat. setelah mengaca dan intropeksi diri sendiri dan memperoleh kesimpulan bahwa bank gak mau ngasih kredit ke saya  karena memang performa dan kredibilitas saya sangat meragukan. saya sendiri saja ragu apalagi orang lain.</p>
<p style="text-align: justify;">akhirnya saya mulai berinovasi dalam pengajuan kredit, bukan diri saya pribadi sebagai pebisnis yang saya ajukan tapi saya mengajukan orang lain sebagai samaran. saat itu saya ajukan istri saya yang berprofesi sebagai dosen dan seperti sudah bisa diduga pengajuan kreditnya langsung cair karena memang profesi istri saya mendukung untuk itu.http://yoeskeuranji.files.wordpress.com/2008/03/rumah-terbalik-1.jpg<a href="http://yoeskeuranji.files.wordpress.com/2008/03/rumah-terbalik-1.jpg"><img class="alignright" src="http://yoeskeuranji.files.wordpress.com/2008/03/rumah-terbalik-1.jpg" alt="" width="234" height="148" /></a></p>
<p style="text-align: justify;">kredit pertama cair sehingga saya akhirnya punya modal beneran buat mengajukan kredit-kredit brikutnya dan menjalankan bisnis. sepeti teori kuno mengatakan, memang yang pertama itu yang paling sulit, setelah itu akan lebih mudah dan setelahnya menjadi sangat mudah.</p>
<p style="text-align: justify;">jam terbang saya mulai ada karena telor sudah pecah. saya jalankan bisnis dirumah karena memang gak ingin jauh dari rumah segala aktivitas saya. karena memang modal yang didapat gak begitu besar barang yang bisa saya beli juga banyak, selain itu saya kan tetep perlu mencadangkan dana buat membayar angsurannya setiap bulannya. segera saya pakai trik yang lain. kalo gak punya barang sendiri pakailah barang orang lain dan akuilah dengan seyakin-yakinnya sebagai barang kita, gitu kan bunyi teorinya. saya pun menjalankan dengan patuh. kebetulan didepan rumah saya tinggal teman EU juga yang sama-sama berbisnis pakaian. tapi bisnisnya bener-bener nyata dan beliau punya stok barang dagangan  yang banyak dan lengkap karena memang beliau bertindak sebagai distributor.</p>
<p style="text-align: justify;">saya pinjem barang beliau satu-dua hari buat dipamerkan ke bank dalam pengajuan kredit-kredit saya. luar biasanya beliau mengijinkan walaupun saat itu kami lom terlalu saling kenal meski rumah kita hanya berjarak sekitar 100m-an. dengan cara itu saya bisa meyakinkan bank lagi dan kredit pun cair, tapikali ini benar-benar atas nama saya dan atas dasar bisnis saya.</p>
<p style="text-align: justify;">dua teori yang saya dapat dari mentor dan saya praktekkan mentah-mentah ternyata berhasil. tentu saja bikin saya bangga dan semakin tergila-gila. mulai dari itu hari-hari saya hanya saya isi dengan mencari kredit kesana dan kemari. saya benar-benar fokus dalam mencari kredit. saya baca buku-buku, saya pelajari juga lewat semua media semua hal yang berkenaan dengan kredit. karena memang saya bener-bener ingin menguasai bidang kredit maka saya harus menjiwai dan mendalami semua hal mengenai kredit.</p>
<p style="text-align: justify;">karena saya focus, rencana saya dan usaha saya pun mulai menampakkan hasil. bahkan hasilnya bener-bener sangat mengejutkan. saya menerima kredit dari berbagai bank, jenis kredit yang saya dapat juga beraneka ragam. pokoknya asal berjudul kredit saya pasti terima. hari-hari benar-benar saya lalui bersama kredit, tiap bulan ada saja kredit yang cair. jumlahnyapun sering bikin ta&#8217;jub, gak nyangka kalo saya ternyata dipercaya oleh bank buat mengelola kredit sedemikian besar. <a href="http://3.bp.blogspot.com/_vGC3rwznHvs/SbCmDS4rOFI/AAAAAAAAADE/e-Ex5Gs4GgI/S740/dogar1.JPG"><img class="alignright" src="http://3.bp.blogspot.com/_vGC3rwznHvs/SbCmDS4rOFI/AAAAAAAAADE/e-Ex5Gs4GgI/S740/dogar1.JPG" alt="" width="133" height="202" /></a></p>
<p style="text-align: justify;">karena memang mencari kredit adalah tujuan saya maka dari awalpun hal ini saya komunikasikan secara rutin terhadap istri. dari rutinitas komunikasi ini, istri sayapun setuju dengan apa yang saya  lakukan. dia sangat mendukung, bahkan dukungannya pun nyata tidak hanya di bibir saja. istri sayapun juga rajin mengajukan kredit. tentu saja yang di jual dalam pengajuan itu adalah status karyawannya.   situasi ini  berlangsung setiap hari dan akhirnya dalam rumah tangga kami seolah terjadi pelombaan, perlombaan mencari kredit.   siapa yang dapat duluan akan bersorak dan siapa yang dapat kredit dengan limit lebih besar dari yang lain akan tertawa keras sambil bersorak sorai.   bila salah satu  dari kami  kreditnya sudah disetujui dan sudah masuk ke dalam rekening,  maka hal itu kami rayakan bersama,  selayaknya suatu kemenangan.</p>
<p style="text-align: justify;">menyenangkan sekali berlomba dengan istri dalam mencapai apa yang dituju dan disukai bersama. jadinya kita berdua semakin punya persamaan yang bisa lebih bikin lebih akrab satu sama lainnya.</p>
<p style="text-align: justify;">permainan kami semakin meningkat, yang semula kredit yang kami dapat kami putar dalam perdagangan baju, maka kemudian kredit itu mulai kami belikan asset property. semakin banyak kredit yang kami peroleh maka semakin banyak kami membeli property. selain propery beberapa produk investasipun kami coba. kadang gagal tapi lebih sering berhasil. menyenangkan sekali menjlankan petualang baru ini.</p>
<p style="text-align: justify;">dari kredit,  kami bisa melalukan dan membeli apa yang kami sukai. selain itu kamipun selalu membayar  semua angsuran sesuai dengan perjanjian dan hampir tidak pernah terlambat. pembayaran yang kami lakukan juga selalu sesuai yang ditagihkan, jarang sekali kurang, mungkin malahan tidah pernah kurang, selalu full.</p>
<p style="text-align: justify;">bener-bener dari nol, tanpa asset atau jaminan tapi bisa dikucuri kredit sedemikian banyak bikin kami punya banyak cerita. dengan kredit pula pada sekitar tahun 2006-2007 saya berhasil memiliki sebuah toko baju, yang lokasinya berada di sebuah mall ditengah-tengah kota surabaya. itu bisnis nyata saya yang pertama. dengan ketambahan potensi berupa toko tersebut, nilai kredit yang kami peroleh pun semakin besar  berlipat-lipat. akibatnya maka kemudian toko ke dua sampai toko keempatpun berhasil kami dirikan dalam kurun waktu tidak lebih dari setahun.</p>
<p style="text-align: justify;">punya toko lebih dari satu pastinya bikin urusan menjadi lebih repot dan rumit. yang tadinya bisa hanya dilakukan berdua antara saya dan istri disela-sela waktunya sebagai dosen. kini urusan yang kami tangani akhirnya beraneka ragam meliputi pengelolaan karyawan, managemen, pembelian   dan  pejualan, administrasi  keuangan serta macam-macam yang lain.   meski berawal dari sekedar kredit tapi dalam pengelolaan toko kami berdua tidak main-main. kami berdua serius mengelola keempat toko kami itu. perputarannya cukup baik dan penghasilan dari situ  cukuplah buat  beli rokok saya , kosmetik istri saya   dan susu buat anak-anak saya.  walau masih jauh dari cukup untuk menutup  pembayaran kredit-kredit yang kami miliki.<a href="http://yepiye.files.wordpress.com/2009/05/wang-xiayu1.jpg"><img class="alignright" src="http://yepiye.files.wordpress.com/2009/05/wang-xiayu1.jpg" alt="" width="99" height="167" /></a></p>
<p style="text-align: justify;">kondisi ini bahkan bisa menulari dua kawan seprofesi istri saya. bukan kawan biasa, tapi kawan senior bahkan bisa dikatakan atasannya. melihat apa yang kami lakukan, terutama  setelah mereka melihat sepak terjang istri saya. itu membuat mereka akhirnya ikutan terjun dalam bisnis yang serupa.  masing-masing dalam waktu beberapa bulan saja bisa membuka dan menjalankan dua toko pakaian di mall yang sama. ini  menjadi lebih menyenangkan, karena akhirnya istri saya ternyata bisa menjadi inspirasi kawan-kawan seniornya.</p>
<p style="text-align: justify;">hari-hari terus berjalan, dengan modal kredit saya dan istri terus hidup,   bisa memiliki dan memgelola empat toko, sekian property, sekian kendaraan dan bahkan bisa jalan-jalan keluar negri.  liburan pun menjadi setiap hari karena urusan toko sudah dijalankan oleh karyawan,  semua sesuai apa  yang kami  impikan.  anak-anak pun dapat disekolahkan ditempat yang bagus. mungkin jika kami tidak  pernah mengambil kredit dan hanya hidup dari penghasilan kami perbulan sekitar dua puluhjutaan-lah, jika penghasilan saya dan istri digabung. maka pastinya kami saat ini tidak mungkin menikmati itu semua hanya dalam kurang dari masa lima tahun.  kehidupan perekonomian kami mungkin hanya pas-pasan saja.</p>
<p style="text-align: justify;">tapi kami sadar bahwa yang kami jalani ini bukannya jalan tol yang bebas hambatan. jalan yang kami pilih sangat beresiko bahkan tingkat resikonya maksimal. kami berusaha teus menyadari hal itu, berusaha terus menyadari bahayanya sehingga kami selalu barusaha siap bila menghadapi kondisi gawat. komunikasi tentang resiko ini terus kami tingkatkan. masing-masing beusaha mengingatkan yang lain dan berusaha saling menyemangati bila kondisi berunbah jadi buru.</p>
<p style="text-align: justify;">gak ada satu orangpun yang menginginkan kondisi buruk. semua orang selalu mendambakan kondisi bahagia nan sempurna selama-lamanya. pastinya gak ada kan kondisi seperti itu.</p>
<p><img class="  " src="http://justnurman.files.wordpress.com/2009/04/truk-terbalik.jpg" alt="http://justnurman.files.wordpress.com/2009/04/truk-terbalik.jpg" width="148" height="111" /></p>
<p style="text-align: justify;">sekitar lima tahun kami mengukir prestasi gemilang di bidang kredit. sampai akhirnya saat itu tiba, saat yang tidak pernah diharapkan semua orang. akhir 2008 muncullah krisis ekonomi dunia yang semakin lama semakin gawat. banyak terkena dampaknya, baik diluar negeri maupun di indonesia. perbankan yang paling terpukul dengan kondisi ini. mereka tidak ingin terkena imbas lagi sehingga masa keterpurukan perbangkan seperti tahun 1998 terulang.</p>
<p style="text-align: justify;">langka-langkah preventif dilakukan dunia perbankan, selain menaikkan suku bunga mereka juga selektif dalam pemberian kredit. tidak hanya selektif bahkan juga dengan menghentikan sementara pengucuran kredit bank. penghentian itu dilakukan dengan masa yang tidak pasti batasnya berakhirnya.</p>
<p style="text-align: justify;">nah, hantu-hantu pun mulai mendatangi kami. kegelapan mulai menyelimuti kehidupan kami. dengan dikurangi bahkan dihentikannya pengucuran kredit oleh bank maka perolehan keredit kami mulai menyusut.  perlahan tapi pasti semakin tidak ada kredit yang kami peroleh. dengan tidak adanya pemasukan dari kredit maka tidak ada lagi perputaran uang yang bisa kami lakukan.</p>
<p style="text-align: justify;">tidak ada kredit yang kami peroleh dan tidak ada perputaran yang bisa kami lakukan, berakibat dalam berbagai pembayaran angsuran yang jatuh tempo. dari awal kami sadar bahwa pendapatan dari bisnis nyata tidak akan mencukupi jika dialokasikan buat pembayaran kredit, pendapatan dari investasi juga terhenti terutama yang kami tanamkan di pasar modal, karena nilai saham-saham yang kami koleksi berguguran  dengan cepat di saat-saat awal krisis itu  datang.<a href="http://imagehost.ngobrolaja.com/files/vicams/sususegar.jpg"><img class="alignright" src="http://imagehost.ngobrolaja.com/files/vicams/sususegar.jpg" alt="" width="144" height="109" /></a></p>
<p style="text-align: justify;">kini kami benar-benar harus siap menghadapi saat-saat yang tadinya hanya berupa wacana dalam diskusi saya dan istri. pengeluaran yang berupa kewajiban jalan terus tapi pemasukan seakan berhenti. kalo pemasukan berhenti total trus kami harus menggunakan apa buat membayar semua kewajiban dan biaya operasional. itu pertanyaan yang muncul dan berputar-putar dalam pikiran saya.</p>
<p style="text-align: justify;">akhirnya yang tadinya hanya strategi dan wacana,  sekarang musti dan harus benar-benar diterapkan. supaya kehidupan kami gak tambah terpuruk. untungnya mental kami sudah disipakan lama sebelum kondisi ini benar-benar terjadi. jadi secara mental kami lebih siap. <a href="http://musadiqmarhaban.files.wordpress.com/2009/01/cease_fire2.jpg"><img class="alignleft" src="http://musadiqmarhaban.files.wordpress.com/2009/01/cease_fire2.jpg" alt="" width="104" height="152" /></a></p>
<p style="text-align: justify;">rupannya kondisi buruk tidak hanya mendatangi keuangan kami. tapi juga mendatangi kami secara phisik. dengan strategi mencari invetor kami berharap bisa mengembalikan situasi menjadi normal kembali. tapi ternyata krisis bikin investorpun sembunyi. tapi kami tetep semangat buat mencari dan mendapatkan mereka. suatu saat istri saya berhasil bernegosiasi dengan seorang investor dan bisa bikin investor itu mengucurkan dananya ke kami buat kami kelola.   istri saya senang sekali dengan keberhasilannya,  dan berita  bahagia itu segera disampaikan kesaya yang saat itu bertugas menyusun strategi di rumah.</p>
<p style="text-align: justify;">proses standart berlangsung, uang diserahkan oleh investor dan istri saya segera membawanya untuk disetor ke bank.                  situasi ini memang nampak seperti sudah diatur  oleh tangan-tangan yang tidak kelihatan.   tindakannya tidak seperti biasanya,  istri saya  sedikit terlena oleh prestasinya.   apalagi saat itu  anak-anak  diajaknya  serta karena  saya tidak bisa ikut menemaninya datang ke investor.  istri saya yang sangat bahagia karena dia berhasil menggoalkan proyek itu,   ternyata  tidak langsung menyetorkan uang yang di bawanya itu  ke bank seperti biasanya.     dia pingin seneng-seneng dulu sama anak-anak,   toh bukan sekali dua kali dia bawa uang banyak dalam tasnya dan menyopiri mobil sendiri.    hal itu sudah sering dia lakukan jadi gak ada beban dan rasa takut sama sekali saat menjalaninya.</p>
<p style="text-align: justify;">rupanya kali ini beda, seperti sudah ada sutradara yang mengaturnya. dalam perjalannya ban mobil istri saya kempes di suatu tempat dan pada saat dia turun hendak memeriksa,  tasnya yang berisi segala macam barang berharga serta uang dari investor disambar dan dibawa kabur penjahat. istri saya berteriak dan mengejar tapi lalu terjatuh saat berlari, melihat ibunya jatuh anak-anak berteriak dan menangis. kondisi semakin kacau balau gak keruan. tapi yang jelas duit investor bersama berbagai barang berharga dalam tas istri saya lenyap.</p>
<p style="text-align: justify;">yang tadinya satu lilin berhasil menyala sekarang benar-benar padam dan gelap gulita karena satu-satunya lilin yang dipunyai padam. uang yang seharusnya bisa berputar-putar hilang lenyap dan yang lebih menyenangkan adalah yang hilang itu bukan uang kami. sudah jadi kewajiban kami buat menggantinya, dan kami memang berusaha mengganti apalagi investor tadi juga sudah berbaik hati mau memberikan tempo pengembalian pada kami.       yang semestinya kami bisa menghasilkan sesuatu melalui uang tersebut, malah menjadinya tambahan beban kewajiban.</p>
<p style="text-align: justify;">skenario ini tidak pernah kami siapkan, jadinya kami sekarang harus melangkah tanpa rencana yang siap. yang paling gampang dan paling pertama muncul dalam otak kami adalah menghentikan sebanyak mungkin pengeluaran atau menghindari rencana pengeluaran baru.</p>
<p style="text-align: justify;">strategi itu yang kami jalankan kini.</p>
<p style="text-align: justify;">salah satu mobil yang kami miliki, langsung  kami kembalikan ke dealer supaya gak perlu dibayar lagi angsurannya.</p>
<p><img class="alignright" src="http://2.bp.blogspot.com/_Iv3R6_w1SVw/Snb5HvzX4NI/AAAAAAAABzw/XUhkSULYZz8/s400/kaki+paling+mahal.jpg" alt="http://2.bp.blogspot.com/_Iv3R6_w1SVw/Snb5HvzX4NI/AAAAAAAABzw/XUhkSULYZz8/s400/kaki+paling+mahal.jpg" width="144" height="152" /></p>
<p style="text-align: justify;">dua buah toko kami langsung ditutup,  karena kebetulan masa sewanya sudah habis dan kami harus segera perpanjang pembayaran sewanya bila ingin menggunakannya kembali. memperpanjang sewa kedua toko itu berarti mengakibatkan pengeluaran baru, apalagi kini harga sewanya sudah naik.  menurut kami dari pada ngeluarin uang buat sewa mending uangnya kami belikan lebih banyak produk.toh kami tetep bisa bertransaksi di rumah kami.  ada perasaan haru yang muncul dalam hati,  kami jadi teringat pada saat-saat  awal saya dan istri merintis bisnis ini lima tahun lalu, kami melakukan semuanya sendiri atau berdua  bersama-sama dari rumah.  dengan ditutupnya dua toko berarti kami juga telah memangkas biaya karyawan, karena dua karyawan yang bertugas disitu terpaksa harus di phk</p>
<p style="text-align: justify;">langkah berikutnya menjual semua property supaya bisa jadi uang kas yang bisa diputer-puter.</p>
<p style="text-align: justify;">langkah berikutnya lagi, laporan sama bank-bank yang sudah memberi kami kredit bahwa mungkin pada bulan-bulan kedepan pembayaran kami akan tersendat bahkan bisa macet.</p>
<p style="text-align: justify;">langkah paling berikut, berpikir keras buat mencari sumber keuangan baru yang bisa di pakai untuk senang-senang bersama anak-anak&#8230;&#8230;&#8230;</p>
<p style="text-align: justify;">kami sekarang sedang melakukan langkah-langkah itu, sambil menyiapkan suguhan yang layak bila kami dikunjungi oleh banyak debt collector. disamping itu kami juga harus menghafal greeting yang akan kami ucapkan bila kami deteleponi oleh mereka.</p>
<p style="text-align: justify;">menyenangkan bukan!!!!!!!!</p>
<p style="text-align: justify;">&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;-</p>
<p style="text-align: justify;">New comment on your post #447 &#8220;kaki diatas kepala dibawah&#8221;<br />
Author : online (IP: 95.132.219.123 , <a href="http://123-219-132-95.pool.ukrtel.net/" target="_blank"><span id="lw_1262749882_0">123-219-132-95.pool.ukrtel.net</span></a>)<br />
E-mail : <a href="mailto:xfersomanis@gmail.com"><span id="lw_1262749882_1">xfersomanis@gmail.com</span></a><br />
URL    : <a href="http://my-addr.com/" target="_blank"><span id="lw_1262749882_2">http://my-addr.com/</span></a><br />
Whois  : <a href="http://ws.arin.net/cgi-bin/whois.pl?queryinput=95.132.219.123" target="_blank"><span id="lw_1262749882_3">http://ws.arin.net/cgi-bin/whois.pl?queryinput=95.132.219.123</span></a><br />
Comment:<br />
<span style="color: #ff0000;">Terima kasih untuk blog yang menarik</span></p>
<p style="text-align: justify;">
<p style="text-align: justify;">
<p style="text-align: justify;">
<p style="text-align: justify;">
<p style="text-align: justify;">
<p style="text-align: justify;">
<p style="text-align: justify;">
<p style="text-align: justify;">
<p style="text-align: justify;">
<p style="text-align: justify;">
<p style="text-align: justify;">
<p style="text-align: justify;">
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.samuraijagoan.com/2009/05/29/kaki-diatas-kepala-dibawah/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>6</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>seperti mencari pacar&#8230;.</title>
		<link>http://www.samuraijagoan.com/2009/03/17/seperti-mencari-pacar/</link>
		<comments>http://www.samuraijagoan.com/2009/03/17/seperti-mencari-pacar/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 17 Mar 2009 17:44:57 +0000</pubDate>
		<dc:creator>samurai</dc:creator>
				<category><![CDATA[Artikel Menarik]]></category>
		<category><![CDATA[Entrepreneurship]]></category>
		<category><![CDATA[bank]]></category>
		<category><![CDATA[cewek]]></category>
		<category><![CDATA[jomblo]]></category>
		<category><![CDATA[kredit]]></category>
		<category><![CDATA[pacar]]></category>
		<category><![CDATA[permodalan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.samuraijagoan.com/?p=334</guid>
		<description><![CDATA[setiap kali ngobrol tentang bisnis atau tentang entrepreneur atau membaca tentang profil atau liputan tentang pengusaha pemula atau pengusaha ukm tradisional, diujung uraian atau percakapan selalu ada keluhan tentang masalah permodalan. kenapa sih modal selalu dijadiin alasan klasik buat segitu banyak entrepreneur yang membuatnya kesulitan dalam mengembangkan usaha.  
emang sih menurut saya nyari modal [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;">setiap kali ngobrol tentang bisnis atau tentang entrepreneur atau membaca tentang profil atau liputan tentang pengusaha pemula atau pengusaha ukm tradisional, diujung uraian atau percakapan selalu ada keluhan tentang masalah permodalan. kenapa sih modal selalu dijadiin alasan klasik buat segitu banyak entrepreneur yang membuatnya kesulitan dalam mengembangkan usaha. <img class="alignleft" src="http://1.bp.blogspot.com/_rlW5JENkQg8/SXWCyfi890I/AAAAAAAAAEs/_twm3HHPlWU/s320/pacaran.JPG" alt="" width="232" height="178" /> <span id="more-334"></span></p>
<p style="text-align: justify;">emang sih menurut saya nyari modal buat bikin usaha atau buat ngembangin usaha itu susah-susah gampang. dibilang susah juga enggak di bilang gampang juga enggak.</p>
<p style="text-align: justify;">tapi sebenernya kenapa sih kebanyakan orang itu selalu bilang kesulitan nyari modal. kalo saya bilang yang kesulitan nyari modal itu pastinya kurang deh pengenalan atau pendekatannya sama bank sebagai pemberi dana.</p>
<p style="text-align: justify;">ini ibaratnya saya cowok mau nyari pacar, apabila saya ngicer seorang cewek dari jauh aja kemudian tidak pernah berusaha kenalan, ngajak ngobrol, dan mencari perhatiannya, mana mau cewek itu jadi pacar saya.</p>
<p style="text-align: justify;">bank juga sama, ibarat dia calon cewek saya, saya harus kenalan dulu sama bank, dan bank sebagai calon pacar saya harus tau dulu seperti apa sih kondisi cowok yang naksir dan minta di jadiin pacar.</p>
<p style="text-align: justify;">buat ngejadiin cewek inceran kita sebagai pacar, setelah kenalan saya musti sering apel, sering ngajak jalan bahkan sering ngajak makan. bahkan saat penjajakan itu calon cewek saya itu juga sering saya ajak ke tempat saya nonkrong dan saya kenalin sama teman-teman saya. maksudnya saat si cewek sudah mau jadi pacar saya dia tidak kaget lagi dengan lingkungan saya.</p>
<p style="text-align: justify;">saat saya mau ngajuin kredit ke bank saya juga lakukan langkah yang hampir sama. saya datang ke bank inceran saya. kemudian saya berkenalan dengan membuka rekening di bank tadi. gak cukup kenalan dengan buka rekening, saya juga harus sering apel ke bank itu dengan sering setoran duit saya kesana. berapapun duit yang saya dapat harus sesering mungkin disetorkan, walaupun setelah disetor kemudian saya ambil lagi karena emang saya perlukan buat perputaran bisnis saya. dengan sering datang dan setor uang ke bank saya berharap si bank akan mulai menaruh perhatian pada saya. dari setoran-setoran saya tadi bank akan bisa menilai berapa besarnya perputaran uang di bisnis saya.</p>
<p style="text-align: justify;">semakin sering saya setor ke bank itu apalagi bila nilai duit yang disetorkan gede-gede maka si bank akan semakin yakin akan kemampuan financial saya. seperti cewek inceran saya yang akan bertambah yakin dengan keseriusan saya bila saya sering main kerumahnya, tidak hanya saat apel dimalam minggu. keseriusan saya pada cewek itu juga teruji dengan seringnya saya ngajak dia nonton atau nraktir makan, walau gak harus selalu  saya yang bayarin tapi niat untuk nraktir aja sudah dapat poin dimata calon cewek saya.</p>
<p style="text-align: justify;">saat pendekatan sama cewek inceran saya itu biasanya saya akan menjadi mahluk paling penurut. apapun yang calon cewek saya minta biasanya akan saya usahakan buat penuhi. kalo dia minta jemput saya pasti akan bela-belain jemput, kalo dia minta hadiah boneka pas ulang tahunnya saya dengan senang hati akan penuhi buat nunjukin sama calon cewek saya itu saya bener-bener serius ngejadiin dia sebagai pacar saya. bahkan kalo lagi ngegombal saya sering bilang &#8220;apapun yang kamu minta akan saya penuhi, bila perlu gunung akan kudaki dan  lautan akan kusebrangi&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;">pokoknya gombal abis deh!</p>
<p style="text-align: justify;">nah saat ngajuin kredit di bank saya juga harus penuhi segala permintaan bank walaupun kadang sulit. persis seperti saat saya ngegombal sama calon cewek saya itu. saat ngajuin kredit, biasanya bank minta surat ijin usaha perdagangan (siup) yang kemudian saya bikin di kantor departemen perdagangan. trus saat bank minta nomor pokok wajib pajak (npwp) saya langsung bergegas bikin di kantor pajak. setelah itu bank akan minta saya perlihatkan rekening tabungan saya tiga sampai enam bulan terakhir. karena saya sering ngapel ke bank dan kalo datang pati setor duit maka bank pastinya akan yakin dengan kemampuan financial saya.</p>
<p style="text-align: justify;">walaupun saya sudah nunjukin niat serius saya buat macarin cewek kecengan saya itu , sering kali si cewek masih jual mahal dia masih belom yakin akan kesungguhan niat tulus saya. apalagi kalo cewek itu tau saya itu badung dia pasti akan mencari bukti-bukti yang bisa bikin dia yakin bahwa saya adalah calon pacar yang tepat buat dia. cewek itu biasanya akan ngirim temen-temen seganknya buat nanya-nanya tentang saya pada teman-teman saya. biasanya kalo temen-temen sicewek memperoleh data yang akurat tentang diri saya dan mereka yakin bahwa saya adalah cowok baik-baik, maka otomatis si cewek idaman saya akan dengan senang hati menjadikan saya pacarnya.</p>
<p style="text-align: justify;">bank juga sama, buat meyakinkan bahwa saya adalah calon kreditur yang baik mereka akan kirimkan analis kredit buat melakukan pemeriksaan terhadap saya. mereka akan teliti apakah bisnis saya beneran ada, apakah saya punya kredit macet pada pihak lain atau tidak, apakah bisnis saya memang layak diberikan kredit dan apakah saya bila diberi kredit akan mampu membayarnya sampai lunas. kalo semua pemeriksaan itu berhasil menunjukkan bahwa saya memang seorang yang kredibel tentu saja bank tidak akan ragu-ragu mengucurkan dana kredit buat saya.</p>
<p style="text-align: justify;">kadang saat saya nyari cewek buat dijadikan pacar begitu gampangnya sehingga saya tidak memerlukan waktu yang lama buat jadian dan pacaran sama cewek itu. tapi seringkali saat saya begitu ngebetnya pingin pacaran, malah saya gak dapat-dapat cewek. bukannya bisa cepet menaklukan hati sang cewek pujaan trus kemudian bisa pacaran, eh malahan tolakan yang saya dapetin.</p>
<p style="text-align: justify;">gitu juga saat nyari kredit di bank, saat bener-bener butuh dan harus cepet ngedapetinnya malahan saya ditolak oleh bank. kadang dengan berbagai alasan yang sering gak masuk akal. makanya kejadian seperti itu kemudian saya jadiin pelajaran, kalo nyari kredit gak boleh buru-buru harus santai dengan persiapan matang.</p>
<p style="text-align: justify;">asik emang kalo begitu saya ngicer cewek kemudian gak pake pendekatan yang lama cewek itu lantas langsung klepek-klepek jatoh dalam pelukan saya. tapi kalo emang buat naklukin si cewek perlu perjuangan ekstra saya biasanya tetep ngejar terus sampek cewek itu bener-bener gak mau sama saya.</p>
<p style="text-align: justify;">ya memang kalo begitu saya ngajukan kredit trus langsung di setujui tanpa perlu bersusah payah tentu bikin hati saya senang, tapi sering kali saya bener-bener harus berjuang keras buat meyakinkan pihak bank, sudah prosesnya lama dan sulit, hasilnya bukannya disetujui malahan tolakan yang saya dapatkan.</p>
<p style="text-align: justify;">kalo sampai saya sudah berusaha keras tapi cewek itu bener-bener gak mau sama saya, pastinya saya gak akan teruskan usaha yang sia-sia itu. saya akan alihkan perhatian saya ke cewek lain. kan masih banyak cewek lain yang lebih cantik, lebih sexy, lebih kece dan lebih baik dari cewek yang nolak saya tadi. tinggal memompa semangat saya saja untuk memulai perjuangan yang baru lagi. <img class="alignright" src="http://www.lenzing.com/fibers/media/etikett_Modal_neu.jpg" alt="" width="139" height="139" /></p>
<p style="text-align: justify;">kalo sampe permohonan kredit saya gak disetujui sama bank yang saya incer, saya pasti akan mengalihkan perhatian ke bank lain. toh  banyak bank di indonesia dan semuanya berlomba-lomba mencari nasabah buat di kucuri dana kredit.  kalo saya  langsung putus  asa begitu sekali ditolak, tentunya saya gak akan seperti sekarang dipercaya oleh banyak bank mengelola kredit yang mereka kucurkan pada saya.</p>
<p style="text-align: justify;">biasanya dulu saat saya nyari cewek buat dijadiin pacar, kecengan saya tidak cuman satu. saya punya beberapa cewek yang saya taksir, makanya saya sering mengadakan pendekatan kebeberapa cewek sekaligus. jadi kalo ditolak satu masih ada calon yang lain. karena punya beberapa kecengan yang di prospek sekaligus, sering malahan saya harus berpacaran dengan lebih dari satu cewek dalam saat yang bersamaan. tentunya saat itu saya harus pinter-pinter bagi waktu dan perhatian.</p>
<p style="text-align: justify;">kebiasaan itu ternyata terbawa sampai sekarang, saat saya ngajukan permohonan kredit, biasanya saya tidak cuman berpatokan pada satu bank saja. saya ajukan aplikasi pada banyak bank, dengan harapan kalo satu di tolak, bank yang lain akan menyetujuinya. dengan cara seperti itu, beberapa kali saya bahkan memperoleh kredit yang bersamaan dari beberapa bank.</p>
<p style="text-align: justify;">saya yakin kok, setiap orang yang pernah pacaran dan tidak menjadi jomblo seumur hidup, akan mudah mendapatkan kredit, bila dia mau melakukan pengenalan dan pendekatan yang intensip pada pihak perbankan.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;-</p>
<p style="text-align: justify;">
<p style="text-align: justify;">
<h3 id="comments">One Response to “seperti mencari pacar….”</h3>
<ol class="commentlist">
<li id="comment-2323" class="alt"><img class="avatar avatar-32" src="http://www.gravatar.com/avatar/c2f1b016c2a8e174e44213dc9b2706bb?s=32&amp;d=http%3A%2F%2Fwww.gravatar.com%2Favatar%2Fad516503a11cd5ca435acc9bb6523536%3Fs%3D32&amp;r=G" alt="" width="32" height="32" /> <cite>bagus </cite>(<span id="lw_1254762201_0" class="yshortcuts"><a href="http://us.mc388.mail.yahoo.com/mc/compose?to=bagus_bpd@yahoo.co.id">bagus_bpd@yahoo.co.id</a>)</span> Says : <span style="font-size: 11px;"><a href="http://www.samuraijagoan.com/2009/03/17/seperti-mencari-pacar/#comment-2323">October 3rd, 2009 at 8:25 am</a> <a title="Edit comment" href="http://www.samuraijagoan.com/wp-admin/comment.php?action=editcomment&amp;c=2323">edit</a> =&gt; <span style="font-size: 13px;">artikel yang bagus sekali kawan </span></span></li>
</ol>
<p style="text-align: justify;">
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.samuraijagoan.com/2009/03/17/seperti-mencari-pacar/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

