<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Samurai Jagoan &#187; komunikasi</title>
	<atom:link href="http://www.samuraijagoan.com/tag/komunikasi/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://www.samuraijagoan.com</link>
	<description></description>
	<lastBuildDate>Thu, 22 Jul 2010 14:25:10 +0000</lastBuildDate>
	<generator>http://wordpress.org/?v=2.8.6</generator>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
			<item>
		<title>boong-boong</title>
		<link>http://www.samuraijagoan.com/2009/06/15/467/</link>
		<comments>http://www.samuraijagoan.com/2009/06/15/467/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 15 Jun 2009 19:14:14 +0000</pubDate>
		<dc:creator>samurai</dc:creator>
				<category><![CDATA[mine n my family]]></category>
		<category><![CDATA[amarah]]></category>
		<category><![CDATA[diskusi]]></category>
		<category><![CDATA[emosi]]></category>
		<category><![CDATA[entepreneur bodoh]]></category>
		<category><![CDATA[komunikasi]]></category>
		<category><![CDATA[pembohong]]></category>
		<category><![CDATA[penipu]]></category>
		<category><![CDATA[percaya diri]]></category>
		<category><![CDATA[sakit hati]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.samuraijagoan.com/?p=467</guid>
		<description><![CDATA[disini mungkin tempat paling asik buat cerita, walaupun gak ada responnya tapi paling nggak semua bisa diceritain. sebenernya mungkin sama saja dengan kalo curhat dengan seseorang. walaupun ada respon secara langsung tapi toh sampai sejauh ini tidak ada satupun yang bisa memahami apa sebenernya yang jadi masalah kenapa saya gak bisa melupakan peristiwa itu.  [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;">disini mungkin tempat paling asik buat cerita, walaupun gak ada responnya tapi paling nggak semua bisa diceritain. sebenernya mungkin sama saja dengan kalo curhat dengan seseorang. walaupun ada respon secara langsung tapi toh sampai sejauh ini tidak ada satupun yang bisa memahami apa sebenernya yang jadi masalah kenapa saya gak bisa melupakan peristiwa itu. <a href="http://seeker401.files.wordpress.com/2009/05/liar.jpg"><img class="alignright" src="http://seeker401.files.wordpress.com/2009/05/liar.jpg" alt="" width="163" height="153" /></a> semua komentar dan respon selalu kembali dan ditujukan pada anak-anak. kepentingan anak-anak seolah-olah menjadi kepentingan utama. semua menjadi bisa dimaafkan apabila anak-anak tidak menderita, begitu komentar semua orang yang menasehati saya.<span id="more-467"></span></p>
<p style="text-align: justify;">anak-anak memang senjata utama. mungkin mudah saja buat bilang kalau segala sesuatu yang telah terjadi itu bisa diperbaiki, mana ada sih manusia yang tidak pernah berbuat salah, memafkan itu mulia apalagi memafkan orang yang khilaf. sulit, begitu kata semua orang, tapi anak-anak harus diingat sehingga lambat laun semuanya bisa kembali normal. berat, tapi demi anak-anak semua harus dilakukan.</p>
<p style="text-align: justify;">ya mudah jika hanya sekedar bicara. tapi coba giliran saya bertanya dengan pertannyaan yang sangat sederhana, tidak ada satupun yang memberi jawaban, jawaban yang nyerempet saja tidak. apalagi jawaban yang bisa menjadi solusi. pertannyaan saya sebenernya sangat sederhana kok &#8220;apa yang harus sayal lakukan supaya saya bisa melupakan peristiwa itu?&#8221; jawaban paling sering saya dengar adalah &#8220;dengan niat baik, ingatlah segala perbuatan baiknya dulu sebelum dia berindak khilaf, dan mohonlah petunjuk pada allah&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;">okelah saya lakukan semuanya, tapi entah kenapa bukannya hilang memori itu malah bertambah sering dia muncul. kalimat-kalimat itu sering berseliweran dalam tatapan saya, sering seperti dibisikkan di telinga saya, bahkan dalam otak ini jelas sekali apa saja yang dilakukannya pada saat itu. rasanya seperti gila, bukannya hilang melainkan makin sering muncul. malahan sekarang bertambah gawat. yang tadinya saat sebelum, saat kejadian dan beberapa hari sesudah kejadian itu, dalam otak saya sama sekali tidak muncul prasangka-prasangka negatif apapun terhadap mereka. tapi sekarang meningkat dengan pesat. prasangka-prasangka negatif itu bermunculan dalam otak ini, makin hari makin lengkap dengan bumbu dan kembangannya.</p>
<p style="text-align: justify;">bertambah rusaklah sekarang pikiran saya. bertambah tidak tenang hati ini. mungkin ini juga disebabkan karena aktivitas harian saya yang semakin santai. ditambah lagi saya saat ini menjadi jarang keluar rumah untuk persiapan menyambut tamu-tamu yang akan datang. selain itupun kalau saya keluarpun bingung dengan tujuan yang hendak diambil, mau kemana? selalu pertanyaan itu yang muncul, alasannya sederhana saja, saat ini semua teman saya sudah sibuk dengan urusannya masing-masing, ditambah lagi semakin sedikit yang belum menikah. sibuk mengendalikan usahanya dan baru menikah itu membuat teman-teman saya punya keasyikan tersendiri, hidup dengan dunianya sendiri-sendiri.</p>
<p style="text-align: justify;">akibatnya saya semakin merasa sendirian. sendirian itu gawat banget ternyata. lebih menyakitkan lagi beberapa aktifitas pribadi saya menjadi tidak bisa dilakukan lagi, bukan tidak bisa tapi memang sengaja tidak dilakukan supaya terbiasa. jika biasanya dalam segala kondisi, yang saya paling sering saya lakukan adalah berkomunikasi lewat sms, penting atau tidak penting, ber-sms ria benar-benar sudah menjadi penyaluran rasa kangen saya akan komunikasi. sehari bisa lebih dari lima belas kali saya ber-sms, bila sms ke HP tidak berbalas maka saya segera kirim sms ke CDMA-nya. jika itu pun tidak ada reaksi maka saya mencoba nomor lainya. itu baru sms, belum lagi keinginan berkomunikasi lewat suara, telepon langsung! wah itu bener-bener kegiatan yang sangat menyenangkan. telepon atau sms jumlahnya dalam sehari seakan berlomba antar mereka.</p>
<p style="text-align: justify;">dari sebuah kegiatan rutin yang menyenangkan dan selaku saya nantikan, kini semua aktifitas tadi harus saya hentikan. paling sms atau telepon yang terjadi hanya bila berhubungan dengan bisnis, jadi itu bisa diitung sejumlah dengan jari satu tangan saja. semakin habis rasanya hidup ini, kenapa sih saya harus menghentikannya? saya pikir jadinya komunikasi itu akan menjadi sia-sia belaka, toh dalam otak saya tetep tidak  yakin terhadap kata-kata yang diucapkan atau terhadap sms balasan. ketidak percayaan memang menghancurkan sekali semua tindakan saya akhir-akhir ini.</p>
<p style="text-align: justify;">saya menjadi pencuriga, semua menjadi kebohongan buta dan tidak ada lagi yang bisa saya percayai.</p>
<p style="text-align: justify;">saya mungkin trauma, <a href="http://www.spirit-of-metal.com/les%20goupes/S/She%20Is%20A%20Liar/She%20Is%20A%20Liar/She%20Is%20A%20Liar.jpg"><img class="alignleft" src="http://www.spirit-of-metal.com/les%20goupes/S/She%20Is%20A%20Liar/She%20Is%20A%20Liar/She%20Is%20A%20Liar.jpg" alt="" width="250" height="257" /></a> tapi yang jelas saya kehilangan kepercayaan diri saya. terhadap diri sendiri dan orang lain. yang tadinya saya seorang apatis yang tidak terlalu peduli dengan komunikasi dan kepentingan orang lain, ditambah saya adalah seorang egois dan sangat emosional. perlahan, langkah demi langkah saya mendapakan pelajaran dan bimbingan secara sabar tentang pentingnya berkomunikasi, pentingnya memberi perhatian lebih pada seseorang dan pentingnya menahan emosi amarah.  pelajaran dan bimbingan itu secara perlahan tapi pasti membuat kejiwaan saya berubah. padahal kondisi saya sangat parah saat itu, selain memiliki banyak hal negatif dalam besosialisi, saya juga mengalami krisis kepercayaan diri, saat perusahaan kelurga yang saya tangani bankrut. saat itu saya dikecam dari segala arah, karena saya orang yang sulit berkomunikasi dan bersosialisasi kondisi saya semakin bertambah parah karena saya melawan denganpenuh emosional.</p>
<p style="text-align: justify;">sepertinya saya dikucilkan semua pihak saat itu. tapi perlahan kesabaran dan ketelatenan yang ada bikin saya bangkit, belajar lagi dan banyak membuang sifat-sifat negatif yang saya punya. kesabaran dan ketelatenan itu sebenarnya sangat berat karena yang dihadapi orang yang sangat sulit dan sant emosional pemarah seperti saya. sementara saya dapatkan ha-hal yang baik yang kelak semakin memperbaiki kejiwaan saya. justru kebalikannya, hari demi hari hal-hal yang berat harus diterima dan di tanggung. pelepasan emosional saya yang tidak mengenal waktu itu, pastinya tersimpan erat dalam sanubari, dan itu bukan dalam waktu yang singkat tapi sangat lama sekitar sembilan tahun.</p>
<p style="text-align: justify;">sembilan tahun berlalu. saya seperti memjadi orang baru, tidak seratus persen sih tapi sekitar delapan puluh persen-an pasti ada perubahan yang saya alami. sikap emosional jauh berkurang walaupun masih meledak-ledak. dari seorang yang introvert dan sulit bergaul menjadi memiliki banyak teman dan memiliki banyak kegiatan positif. dari yang sulit berkomunikasi, menjadi seorang yang suka berbicara, baik dalam pergaulan  sejari-hari ataupun berbicara dalam forum seminar dan diskusi. dari seorang yang tidak perhatian dan seenaknya sendiri menjadi mempunyai perhatian lebih dan selalu ingin berkomunikasi denganistri dan anaknya. perubahan ini mungkin tidak terlalu saya sadari tapi ternyata cukup bikin saya ketagihan. seperti bila tidak sms atau telepon ada saja perasaan tidak nyaman yang muncul, bila tidak berdiskusi atau sharing saja dalam sehari seperti ada yang kurang dalam menjalani aktifitas harian.</p>
<p style="text-align: justify;">perubahan saya kearah yang lebih positif bisa berefek kebaikan tapi juga bisa menimbulkan suasana tidak menyenangkan.</p>
<p style="text-align: justify;">dalam keseharian ditengah keluarga saat belum menikah, dalam keseharian saat berprofesi sebagai pengajar, bahkan dalam keseharian dalam membina rumah tangga, perhatian adalah sesuatu yang mahal. ditengah keluarga situasi itu terbentuk karena kondisi ekonomi yang sederhana ditambah dengan harus berbagi perhatian dengan tiga orang saudaranya. dalam lingkunannya sebagai pengajar, selalu dianggap anak kecil sehingga jarang mendapatkan kesempatan. dalam kehidupan berumah tangga, sebenarnya banyak perhatian dan kasih sayang diperoleh, tapi itu menjadi impas bahkan hilang karena tertutup sikap emosional pasangannnya.</p>
<p style="text-align: justify;">dunia seakan berubah saat dia mendapatkan suatu kesempatan pengabdian. lingkungan baru ini sungguh berbeda dari lingkungan lamanya yang sudah dialami selama 30 tahun lebih. power dan kekuasaan membuatnya dihormati dan segani. apalagi lingkungan pergaulannya menjadi sangat luas. banyak kalangan dikenali dan mengenalinya, bukan hanya dari kalangan biasa saja tapi justru lebih banyak yang dari kalangan atas dan berpengaruh. apalagi semua menaruh hormat dan memberikan pelayanan penuh. sanjungan dan pujian yang tadinya berharga mahal sekarang seakan menjadi komuditas obralan.  pola pikir dan tindakan kolot serta tradisional yang biasa setiap hari dihadapi kini berubah menjadi kebudayaan modern yang serba longgar dan tidak mengikat.</p>
<p style="text-align: justify;">perubahan sering datang tiba-tiba dan tanpa disadari pelakunya. yang satu berubah menjadi lebih baik dan sedang senang-senangnya berkomunikasi, sedang yang lainnya sedang terlena dengan sanjungan dan pujian yang tidak pernah diperolehnya selama ini. pagar yang ada hanya batasan emosional. saat emosi rendah dan menyenangkan pagar terbuka, saat emosi tinggi dan penuh amarah pagar otomatis tertutup. sayangnya emosi tinggi dan penuh amarahlah yang kerap muncul, bahkan kali ini tidak hanya sepihak, pihak lainnya juga turut menyumbangkan kondisi yang sama, dengan alasan yang sangat masuk akal, letih akibat pekerjaan.</p>
<p style="text-align: justify;">emosi berbentur dengan emosi hasilnya energi negatif yang sangat besar. di satu pihak lagi senang-senangnya berkomunikasi dengan orang yang selama ini mengajari dengan telaten, bahkan seringkali komunikasi itu terlalu berlebihan dilakukan. di pihak lain akibat selalu merasakan sakit hati berkepanjangan dan kini sedang menikmati indahnya suasana di dunia baru, justru menganggapnya sebagai hal yang mengganggu dan menyebalkan. tidak ada yang menyadari akibatnya api seperti menyala dalam sekam.</p>
<p style="text-align: justify;">jelas donk sesuatu yang menyenangkan akan lebih diutamakan dari pada situasi yang sudah menjadi rutinitas dan menyebalkan. apalagi lingkungan sangat mendukung, relasi baru sangat menyenangkan dan enak untuk diajak sharing dan berdiskusi. banyak langkah harus diambil untuk mempertahankan kondisi ini,  karena dikhawatirkan lingkungan lamanya tidak suka. ternyata dugaan tidak selamanya keliru, lingkungan lama bereaksi menyatakan protes dan ketidaksukaan terhadap lingkungan baru. tidak ada diskusi yang bisa terlaksana yang ada lebih banyak persepsi negatif, apalagi memgingat lingkunan lama sangat penuh amarah.</p>
<p style="text-align: justify;">bosan dengan suasana penuh emosi dan amarah yang tidak mengenakkan, terpaksa diambil tindakan yang dirasakan benar. lebih baik tidak jujur tapi tidak ada amarah dari pada berlaku jujur tapi berakibat naiknya kadar emosi.</p>
<p style="text-align: justify;">sesuatu yang dilakukan dengan rutin akhirnya menjadi kebiasaan. menghindari amarah dengan caranya sendiri dianggap hal yang lumrah. akibatnya mulailah tampak keanehan-keanehan dalam kesehariannya. pada orang awam mungkin tidak nampak, tapi karena terjadi hampir setiap hari dan yang memperhatikan adalah seorang yang  delapan puluh persen waktunya adalah mengamati orang lain maka perlahan tapi pasti  keanehan itu keliatan juga. bagaimana menjadi tidak kelihatan oleh orang itu, tingkah-laku kawan-kawannya saja yang tidak setiap hari bertemu bisa dibaca dengan cukup akurat. nah ini sekarang yang menjadi perhatian utama adalah sosok yang ditemui hampir lebih dari 18 jam setiap harinya.</p>
<p style="text-align: justify;">tidak tahan dengan keanehan yang terjadi, sering terjadi pembicaraan tentang kejujuran dalam bertindak. yang satu merasakan ketidak jujuran akan berakibat fatal yang lainnya karena merasa semua untuk kebaikan tidak merasa bersalah. tindakannya yang dianggap aneh selalu dijawab dengan tertawakan, karena itu adalah anggapan orang yang cengeng  dan sensitf, serta mengada-ada.</p>
<p style="text-align: justify;">yang satu semakin tidak nyaman karena bau ketidak jujuran semakin keras, yang lain santai saja karena merasa tidak melakukan sesuatu yang keliru, apalagi sikap penuh emosonal bukan lagi hal yang aneh karena sudah menjadi rutinitas selama sembilan tahun. ajakan diskusi tidak pernah diperhatikan karena yang mengajak tidak menarik, didalam dunia barunya itu ada sosok teman diskusi yang lebih menyenangkan.</p>
<p style="text-align: justify;">diskusi dengan teman yang ramah dan menyenangkan tentunya sungguh mengasyikkan. seringkali muncul perasaan agar diskusi itu jangan berakhir dan bisa berlangsung setiap saat. kebutuhan itu rupannya cukup tinggi, sehingga setelah diskusi yang tidak menyenangkan terjadi harus segera ditutup dengan teman diskusi yang lebih istimewa karena bisa memberikan masukan yang dianggap positif apalagi situasinya lebih menyenangkan. keanehan yang ditanyaka selalu disangkal. dan kebutuhan untuk berdiskusi semakin menjadi-jadi, suatu saat bahkan dilakukan pada waktu yang bersamaan dikala partner diskusinya yang tidak menyenangkan itu lengah. diskusi dengan pihak yang berbeda pada waktu yang bersamaan itu tentunya bisa bisa terjadi karena dilakukan dengan sangat tenang dan santai tanpa perasaan bersalah. bahkan bahasa yang digunakan dalam diskusi itupun merupakan bahasa gaul terlalu akrab.</p>
<p style="text-align: justify;">hal baik apalagi hal buruk tentunya tidak mungkin dapat disembunyikan terus menerus. ada saja kejadian sepele yang tidak pernah diduga atau diperkirakan sebelumnya akan mengungkap hal-hal yang disembunyikan itu.</p>
<p style="text-align: justify;">suatu saat dikala seluruh keluarganya berkumpul dan bermain bersama, itu merupakan saat berdiskusi yang baik dengan teman yang menyenangkan. apalagi teman diskusi yang menyebalkan sedang pergi seharian penuh. ajang diskusi semakin menyenangkan karena suasana bebas, nyaman dan berlangsung lama. suasana ramai saat keluarga berkunjung merupakan kondisi paling nyaman, diskusi dalam suasana tegang dengan dua pihak sekaligus dimana salah satu pihak tidak menyadari saja dapat terlaksana apalagi bila suasana nyaman dan lawan diskusinya menyenangkan.</p>
<p style="text-align: justify;">lalai dengan suasana penuh kenyamanan, salah satu berkas diskusi tertinggal tidak ikut dibereskan.</p>
<p style="text-align: justify;">ketika pulang dari bepergian memang tidak dirasa ada hal yang aneh dalam suasana saat itu.  keramaian suasana  dengan suara anak-anak bermain memang melegakan. entah kenapa justru komunikasi terjalin cukup bagus dan tanpa ditanya dibahaslah hal-hal yang selalu dianggap aneh selama ini. ditunjukkanlah semua berkas yang ada dimana memang tidak nampak ada suatu keanehan yang nampak. ketika diskusi hampir berakhir dengan senyuman secara tidak sengaja berkas tadi nampak, sungguh aneh padahal selama di pertontonkan tidak nampak berkas itu ada. <a href="http://ibepiglet.com/images/liar.jpg"><img class="alignright" src="http://ibepiglet.com/images/liar.jpg" alt="" width="202" height="217" /></a></p>
<p style="text-align: justify;">isi bahan diskusi dalam berkas itu sungguh bikin kepala panas, apalagi tidak sedikitpun muncul rasa bersalah dan tanda-tanda untuk mengaku bahwa selama ini memang ada yang aneh. semakin panas isi kepala  karena waktu di berkas itu menunjukkan bahwa telah terjadi dua diskusi pada saat yan bersamaan. tanpa diketahui oleh salah satu pihak yang terlibat diskusi.</p>
<p style="text-align: justify;">suatu kebohongan bisa dianggap tidak salah bila untuk tujuan kebenara.n tapi dilain sisi untuk seseorang yang tidak pernah berbohong pada pasangannya, itu sesuatu yang sangat menyakitkan. padahal selama berjalannya waktu bila nampak ketidak jujuran sedikit saja bisa menimbulkan amarah yang luar biasa. tapi mungkin rasa sakit hati yang dipendam bertahun-tahun karena selalu terkena terpaan amarah dan emosi serta sedang terlena dalam buaian dunia baru bisa membuat ketidak jujuran menjadi hal biasa dan dapat dilakukan hampir setiap hari dan tanpa ekspresi.</p>
<p style="text-align: justify;">apalagi rasa bangga sebagai wanita karier yang mandiri muncul membuat hilangnya rasa khawatir terhadap apapun. semua resiko diambil demi mempertahankan pendapat. walaupun diakui juga bahwa dia dapat melakukan diskusi pada saat yang bersamaan dengan dua lawan diskusi yang berbeda dan itu terjadi dengan ekspresi wajah yang wajar.</p>
<p style="text-align: justify;">shock dan terpukul sekali, apalagi perilaku itu dilakukan oleh seseorang yang selama ini mengajarinya kebaikan. dan pada saat semua tingkah jeleknya sekuat tenaga dibuang untuk kesenangan bersama. apalagi orang itu tidak merasa bersalah sama sekali terhadap perbuatan yang dilakukannya. rasa bersalah tidak pernah muncul dalam dirinya sampai saat ini.</p>
<p style="text-align: justify;">dibohongi dengan cara seperti itu gimana ya cara melupakannya? apalagi jika ingat diskusi-diskusinya  yang dilakukan dengan orang lain pada saat yang bersamaan mereka saling berdiskusi. saat lengah,  perhatian segera diarahkan pada orang lain, kemudian kembali focus bila keadaan tidak memungkinkan.</p>
<p style="text-align: justify;">nggak tau ya menurut orang lain, tapi menurut saya itu perbuatan sangat luar biasa tidak bisa dimaafkan. bagaimana cara membuktikan bila kebohongan sudah tidak ada lagi, apalagi sarana komunikasi sangat canggih, internet dengan email dan facebook atau HP.</p>
<p style="text-align: justify;">semakin lama dipertahankan semakin gila rasanya&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;</p>
<p style="text-align: justify;">menahan emosi sehingga menjadi tidak pemarah saja sudah luar biasa beratnya, dan menghilangkan kebiasaan merokok akhirnya menjadi hal biasa akibat peristiwa itu, tidak ada seorangpun yang menyadarinya, dua kejadian itu akhirnya tidak tampak oleh siapapun dan tidak menjadikan saya berprestasi.</p>
<p style="text-align: justify;">saya hanya dianggap bisa berprestasi jika bisa memaafkan&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;.</p>
<p style="text-align: justify;">saya diberi waktu enam bulan, saya yakin itu sulit terjadi, karena saya tidak bisa lagi!</p>
<p style="text-align: justify;">
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.samuraijagoan.com/2009/06/15/467/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>teman-teman yang baik</title>
		<link>http://www.samuraijagoan.com/2009/05/20/teman-teman-yang-baik/</link>
		<comments>http://www.samuraijagoan.com/2009/05/20/teman-teman-yang-baik/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 20 May 2009 12:17:18 +0000</pubDate>
		<dc:creator>samurai</dc:creator>
				<category><![CDATA[Artikel Menarik]]></category>
		<category><![CDATA[begaul]]></category>
		<category><![CDATA[bicara]]></category>
		<category><![CDATA[entrepreneur bodoh]]></category>
		<category><![CDATA[komunikasi]]></category>
		<category><![CDATA[motivasi]]></category>
		<category><![CDATA[pergaulan]]></category>
		<category><![CDATA[teman]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.samuraijagoan.com/?p=442</guid>
		<description><![CDATA[menyenangkan sekali punya banyak teman itu.
dulu saat masih mengelola perusahaan keluarga saya hampir tidak punya teman sama sekali. selain karena saat itu saya baru menjadi penduduk surabaya setelah bekelana di jawa tengah dan jakarta, saya juga langsung didudukkan jadi pimpinan perusahaan oleh sodara-sodara saya, sehingga waktu saya sehari-hari habis untuk kerja dan mengenali serta mempelajari [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;">menyenangkan sekali punya banyak teman itu.</p>
<p style="text-align: justify;">dulu saat masih mengelola perusahaan keluarga saya hampir tidak punya teman sama sekali. selain karena saat itu saya baru menjadi penduduk surabaya setelah bekelana di jawa tengah dan jakarta, saya juga langsung didudukkan jadi pimpinan perusahaan oleh sodara-sodara saya, sehingga waktu saya sehari-hari habis untuk kerja dan mengenali serta mempelajari perusahaan. akibatnya saya hanya kenal dengan karyawan saya dan teman-teman karyawan saya yang sering main ke kantor.  <a href="http://cippitywitty.files.wordpress.com/2007/08/together.jpg"><img class="alignright" src="http://cippitywitty.files.wordpress.com/2007/08/together.jpg" alt="" width="251" height="166" /></a><span id="more-442"></span>tapi tentu saja pertemanan yang seperti itu sangat tidak menyenangkan karena walau bagaimanapun tetep ada gap diantara kami. saya pimpinan perusahaan dan mereka karyawan saya, jelas gak mungkin kita berbicara terus terang dengan santai, yang pasti basa basi banget sering terjadi dalam percakapan kami.</p>
<p style="text-align: justify;">gak asik blas, apalagi kemampuan saya dalam berkomunikasi dan menjalin hubungan itu sangat jelek.  mungkin ini diakibatkan karena saya sering berpindah-pindah tempat tinggal domisili waktu saya sekolah  dulu. dan itu mungkin yang membuat saya jadi malas bergaul dan membina komunikasi.</p>
<p style="text-align: justify;">saking jeleknya kemampuan berkomunikasi saya, maka sejak saya menikah dan membangun bisnis pribadi,  setiap saya akan membangun  hubungan baru atau bertemu relasi, konsumen atau pelanggan, maka saya akan mengajak istri saya untuk ikut serta.  saya mengajak istri dalam kegiatan itu,  maksudnya supaya  istri saya bisa membantu dalam membuka dan memulai percakapan.  baru setelah itu saya bisa ikuti dan terlibat  didalamnya sehingga saya akhirnya bisa masuk dengan enak dalam percakapan itu.  kalau saya berangkat sendiri dijamin pasti pertemuan tersebut lebih banyak diam-diamannya karena saya sibuk berpikir tentang pembicaraan apa yang akan saya omongkan. sedang saat masih mengelola perusahaan keluarga saya sering bersembunyi dibelakang karyawan bagian marketing dan membiarkan mereka yang memimpin pembicaraan sedang saya hanya meng-amini saja.</p>
<p style="text-align: justify;">sejak sering tandom dengan istri saya, banyak masukan yang saya terima terutama tekanan agar saya mulai belajar berbicara dan berkomunikasi. pusing kepala saya jadinya. berbicara dan berkenalan dengan relasi baru itu sama sekali berbeda dengan kalu berkenalan dan berbicara dengan cewek-cewek, lebih mudah bicara dengan cewek menurut saya karena ada kebutuhan wanita untuk dikenal cowok. tapi itupun sering kali untuk awalan saya masih sering juga ngajak teman, setelah pertemuan pertama baru saya maju sendiri. nah kalo dengan teman baru atau relasi baru, istri saya bahkan terpaksa harus ikut menemani pertemuan tersebut sampai tiga empat kali baru deh percakapan jadi lancar. istri saya gak mau saya selalu bergantung padanya setiap kali berhubungan dengan orang baru.  jadi saya harus berusaha mandiri, gitu perintahnya&#8230;&#8230;</p>
<p style="text-align: justify;">kondisi saya saat setelah perusahaan keluarga yang saya kelola itu bangrut rupanya sangat mendukung apa yang di perintahkan oleh istri saya. saya ketika itu bergabung dengan pelatihan entrepreneur, otomatis disana saya jadi kenal banyak orang yang semuanya mempunyai satu persamaan yaitu ingin berwirausaha. karena punya persamaan kepentingan, secara tidak disadari saya  akhirnya  menjadi  rajin menjalin pertemanan dan rajin berkomunikasi dengan teman-teman baru itu.  gak perlu pusing-pusing  nyari materi ngobrol, karena pokok bahasannya jelas yaitu tentang dunia entrepreneur  yang sangat banyak dan bervariasi.</p>
<p style="text-align: justify;">di sana pula saya jadi punya figur atau contoh untuk menjalin komunikasi.  mentor-mentor  yang mengajar disana itulah yang menjadi contoh figur yang terbaik buat saya.  pada setiap sesi  pelatihan  saya dapat melihat bagamana para mentor menjelaskan isi materi yang di bawakannya.  dan  melihat cara-cara mereka membangun komunikasi dengan para peserta pelatihan itu. di sana mentornya banyak dan berganti-ganti. tidak seperti saat kuliah di universitas yang dosennya terbatas. dan para dosen itu biasanya tidak mau membangun komunikasi yang baik dan cenderung menjaga jarak dengan mahasiswanya.</p>
<p style="text-align: justify;">para mentor senantiasa  selalu berusaha berkomunikasi dengan baik dengan para peserta pelatihan. teman-teman di pelatihan itupun demikian, mereka juga berusaha membangun komunikasi dan hubungan yang akrab dengan mentor-mentor yang ada. contohnya banyak dan jelas sehingga saya dapat dengan gamblang belajar dan menirunya.</p>
<p style="text-align: justify;">seperti biasa setiap awal pasti sulit.</p>
<p style="text-align: justify;">apalagi buat saya yang gak mudah bergaul. tapi lagi-lagi lingkungan sangat mendukung. karena punya persamaan kepentingan para peserta pelatihan jadi kompak dan punya rasa kebersamaan, kita jadinya sering kumpul dan berdiskusi tentang apa saja. dan itu hampir setiap hari kita lakukan kadang sampai jauh malam. pokoknya saling sharing masalah dan mencari solusinya, dan sering kali kita pergi bersama dua sampai tiga orang untuk mengunjungi mentor atau senior yang lebih berpengalaman. dengan seringnya mengikuti setiap sesi pelatihan, kumpul-kumpul dan saling berkunjung, secara tidak langsung apa yang terjadi hari demi hari itu terekam dalam otak kecil saya. karena saking seringnya dan terbiasa memperhatikan dengan tekun, maka secara tidak sengaja apa yang terekam itu muncul secara otomatis dalam tindak tanduk saya.   maksudnya  saya jadinya bisa mulai mengajak orang lain berbicara, bisa memulai percakapan dengan orang baru  dan  kemampuan itu muncul secara tidak segaja dan biasanya pada saat yang di perlukan. <a href="http://174.36.4.202/categories/Best%20Friends/bfriends%20(37).jpg"><img class="alignleft" src="http://174.36.4.202/categories/Best%20Friends/bfriends%20(37).jpg" alt="" width="144" height="144" /></a></p>
<p style="text-align: justify;">karena sering ikut kumpul-kumpul jadinya saya mulai bisa membuka pembicaraan, karena sering berkunjung ke senior saya jadinya mulai bisa berbicara dengan orang baru dan asing yang saya anggap punya kemampuan diatas kemampuan saya. dulu jika saya ketemu dengan kondisi yang demikian  maka saya benar-banar akan mejadi seorang yang pendiam, karena bingung harus ngomong apa.</p>
<p style="text-align: justify;">kenapa kemampuan itu muncul?</p>
<p style="text-align: justify;">itu juga karena tidak di sengaja, misalnya saat berkumpul cankruan ternyata yang datang adalah muka-muka baru semua yang tidak saya kenal, sedang teman-teman yang saya kenal belum ada yang datang. maka mau tidak mau akhirnya saya yang memulai percakapan duluan. begitu juga saat kunjungan dan bertemu dengan senior atau mentor, ternyata saya yang datang lebih awal dibanding teman-teman lainnya maka akhirnya saya terpaksa harus berbasa basi duluan.</p>
<p style="text-align: justify;">kondisi tepaksa itu akhirnya bisa menjadi lancar dan terbiasa karena dalam otak kecil banyak tersimpan memori tentang percakapan yang sering saya dengar. lagi pula karena saya rajin sekali ikut kumpul-kumpul dan kunjungan wajah dan nama saya jadinya mudah dikenal oleh orang lain bahkan yang saya sendiri tidak kenal. sering ada telepon masuk dari orang yang saya tidak kenal menanyakan kapan ada acara kumpul-kumpul, dari kondisi itu pun kemampuan bicara saya secara tidak langsung terasah.</p>
<p style="text-align: justify;">di dalam berbagai acara yang sering diadakan teman-teman entrepreneur pemula saat itu, karena saya termasuk yang paling rajin hadir, maka saya sering ditunjuk untuk membuka, menutup bahkan menjadi moderator-nya. dari seorang yang kesulitan untuk berbicara dan mengolah kata-kata, saya akhirnya jadi terbiasa berbicara. saya jadinya sering berbicara dengan siapa saja, apalagi alumni pelatihan itu banyak sehingga selalu ada wajah baru yang gak saya kenal saat kumpul-kumpul.</p>
<p style="text-align: justify;">jadi sering kenalan deh, dengan banyaknya teman maka otomatis jam berbicara saya semakin banyak. dari  seringnya ditunjuk jadi moderator dalam acara kumpul-kumpul maka otomatis saya jadi punya keberanian dan terbiasa berbicara di depan orang banyak dan asing, dalam artian  tidak saya kenal dengan baik.</p>
<p style="text-align: justify;">sesuatu yang menjadi kebiasaan itu ternyata bisa banyak membantu, dan bisa muncul menjadi suatu kelebihan secara tidak kita sadari.   kebiasaan kumpul-kumpul, kunjungan-kunjungan dan jadi moderator akhirnya banyak membantu saya dalam belajar bergaul dan berkomunikasi.</p>
<p style="text-align: justify;">bahkan yang lebih ajaib sekarang ini saya sering diminta jadi pembicara dalam acara-acara talk show atau seminar entrepreneur. suatu pekerjaan yang tidak pernah terbayangkan akan terjadi pada  diri saya.  bagimana mungkin bisa terbayang saat itu,  saat itu saya adalah seorang yang  nggak bisa sama sekali ngajak bicara bahkan bercakap-cakap dengan orang lain yang baru dikenal.  bahkan hampir selalu tidak pernah terlibat dalam suatu percakapan, bila percakapan itu diikuti oleh orang-orang yang tidak saya kenal.  tapi sekarang ini saya seringkali diundang menjadi seorang pembicara di depan umum yang dihadiri dan didengar oleh banyak orang.</p>
<p style="text-align: justify;">saya gak pernah membayangkan ini bisa terjadi. saya yang awalnya introvert, kuper dan jarang bergaul. bisa berubah menjadi saya yang ada sekarang ini. memang sih saat mengikuti pelatihan dulu itu sempat muncul keinginan dalam hati dimana saya pingin sekali bisa bicara sebagai mentor didepan orang banyak dan semua orang yang hadir mendengarkan dengan seksama apa yang saya katakan.</p>
<p style="text-align: justify;">memang menyenangkan punya banyak teman itu. banyak yang saya dapat dari mereka. banyak yang saya pelajari dari mereka. dari teman-teman itu, saya bisa berubah menjadi lebih baik. banyak pengalaman saya peroleh dari pergaulan, banyak ilmu yang saya dapat dari pergaulan, bahkan banyak kesempatan yang saya peroleh dari pergaulan.</p>
<p style="text-align: justify;">saya bisa menjadi seperti sekarang, semuanya berkat teman-teman saya yang baik&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;.</p>
<p style="text-align: justify;">
<p style="text-align: justify;">
<p style="text-align: justify;">
<p style="text-align: justify;">
<p style="text-align: justify;">
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.samuraijagoan.com/2009/05/20/teman-teman-yang-baik/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>
