<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Samurai Jagoan &#187; kartu kredit</title>
	<atom:link href="http://www.samuraijagoan.com/tag/kartu-kredit/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://www.samuraijagoan.com</link>
	<description></description>
	<lastBuildDate>Tue, 07 Feb 2012 05:46:39 +0000</lastBuildDate>
	<generator>http://wordpress.org/?v=2.8.6</generator>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
			<item>
		<title>hari ke tiga &#8211; ledakan</title>
		<link>http://www.samuraijagoan.com/2009/07/26/hari-ke-tiga-ledakan/</link>
		<comments>http://www.samuraijagoan.com/2009/07/26/hari-ke-tiga-ledakan/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 26 Jul 2009 18:46:18 +0000</pubDate>
		<dc:creator>samurai</dc:creator>
				<category><![CDATA[Artikel Menarik]]></category>
		<category><![CDATA[Entrepreneurship]]></category>
		<category><![CDATA[hutang]]></category>
		<category><![CDATA[entrepreneur bodoh]]></category>
		<category><![CDATA[kartu kredit]]></category>
		<category><![CDATA[kredit tanpa agunan]]></category>
		<category><![CDATA[majalah wirausaha dan keuangan]]></category>
		<category><![CDATA[pengusaha]]></category>
		<category><![CDATA[pola bisnis]]></category>
		<category><![CDATA[sahabat]]></category>
		<category><![CDATA[sma 54]]></category>
		<category><![CDATA[teman baik]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.samuraijagoan.com/?p=566</guid>
		<description><![CDATA[di hari terakhir saya dijakarta, saya dan mas rozy janjian sama pak isdianto dari majalah wirausaha dan keuangan.  kami minta ijin beliau untuk dapat berkunjung ke dapurnya majalah wk. untungnya kami janjian berkunjung sehabis jumatan karena dipagi hari itu ada dua bom yang meledak dan mengguncang ibukota sehingga mengakibatkan jakarta dalam kondisi siaga satu. tapi [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;">di hari terakhir saya dijakarta, saya dan mas rozy janjian sama pak isdianto dari majalah wirausaha dan keuangan.  <a href="https://www.insideoutshop.de/images/BlindEgo.jpg"><img class="alignleft" src="https://www.insideoutshop.de/images/BlindEgo.jpg" alt="" width="159" height="140" /></a>kami minta ijin beliau untuk dapat berkunjung ke dapurnya majalah wk. untungnya kami janjian berkunjung sehabis jumatan karena dipagi hari itu ada dua bom yang meledak dan mengguncang ibukota sehingga mengakibatkan jakarta dalam kondisi siaga satu. tapi akibat dari ledakan bom itu juga yang menguntungkan perjalanan saya dari bintaro ke pasar minggu.  jalanan menjadi sangat lenggang sehingga perjalanan menjadi lancar selancar-lancarnya.<span id="more-566"></span></p>
<p style="text-align: justify;">kedatangan kami sudah di tunggu oleh pas isdi dan kami langsung disambut oleh sekotak nasi ayam bakar &#8216;mas mono&#8217;.  dengan sedikit agak basa basi langsung kami sikat nasi sekotak dengan lauk ayam bakar plus tempe bacem dengan potongan raksasa itu. karena memang sudah waktunya makan siang dan memang perut kami sedang keroncongan maka dalam sekejap ludeslah makanan tadi kami sikat.</p>
<p style="text-align: justify;">pak isdi ternyata seorang yang sangat lincah dan tidak bisa diam, idenya sangat banyak dan cenderung loncat-loncat.  melihat kami sudah meludeskan menu santap siang yang beliau sajikan, segera kami diajak untuk jalan-jalanuntuk melihat  bisnis kuliner yang sedang beliau kelola.  memang selain sebagai owner dari majalah wk, bisnis beliau juga macam-macam dan yang terbaru adalah bisnis kuliner.  hebatnya, beliau bisa dapatkan semua bisnis itu hampir dengan tanpa modal,  sebab sebagai owner dan wartawan utama  sebuah  majalah entrepreneur beliau bisa meliput berita apa saja yang berhubungan dengan  bidang kewirausahaan.  dari situlah biasanya beliau dapat banyak tawaran untuk mengelola bisnis yang sedang dijalankan oleh para narasumber yang sedang diliput. mungkin itulah keuntungnya punya majalah entrepreneur sendiri,  jadi mudah mendapatkan dan memilih peluang bisnis.</p>
<p style="text-align: justify;">memang ada untungnya berkeliling jakarta setelah ledakan bom, jalanan menjadi sangat lancar tanpa macet sehingga perjalanan menjadi sangat cepat.  tujuan pertama kami adalah ke warung pempek patrolnya pak isdi. sampai disana langsung kami disuruh mencicipi seporsi pempek kapal selam yang jadi andalan menu disitu, sambil menunggu masakan matang kami juga diminta untuk mencicipi cakwe goreng dan roti goreng, bisnis jajanan ini juga dimiliki beliau dan dibuka di sebelah warung pempek.</p>
<p style="text-align: justify;">sambil makan beliau cerita kalo warung-warungnya itu dikelola oleh remaja yatim piatu yang sedang beliau latih dan diberdayakan,  dari pada hanya menjadi penganggur karena kesulitan cari kerja. misi beliau mulia sekali, mungkin itulah cara beliau membagi rejeki yang selama ini didapatkan dari bisnis-bisnis beliau.</p>
<p style="text-align: justify;">pak isdi ini menurut saya rada nyentrik pola pikirnya, misalnya jawaban beliau atas pertanyaan saya tentang majalah wk yang sering tidak jelas kapan terbitnya. kadang awal bulan, kadang tengah bulan dan kadang di akhir bulan. beliau bilang itulah nikmatnya jadi pengusaha sebuah majalah,  jadinya bisa menerbitkan majalahnya sesuai kehendak hati, beliau juga bilang bahwa punya otoritas penuh untuk memerintahkan staffnya untuk mendistribusikan majalahnya,  apakah ingin ditaruh ditoko buku seperti gramedia atau hanya dijual secara eceran.  itu menjawab juga keheranan saya kenapa majalah wk kadang ada di toko buku dan kadang sulit sekali ditemukan di toko buku.</p>
<p style="text-align: justify;">ego beliau sebagai owner bermain disini.  tapi beliau juga bilang supaya tidak diprotes sama pelanggannya beliau harus akrab dengan berbagai kalangan  pengusaha yang menjadi tujuan utama konsuman pembaca majalahnya. komunitas pengusaha yang ada diberbagai kota dan pemerintah bahkan lembaga-lembaga swasta yang sangat menunjang perkembangan kemajuan dunia usaha seperti perbankan juga beliau bikin networknya. karena beliau sangat gaul diberbagai kalangan tersebut dan sangat &#8216;entengan&#8217; serta sering membantu memberikan liputan-liputan khusus bagi teman-temannya dikalangan ukm, makanya majalah wk yang terbitnya tidak jelas itu hampir tidak pernah dapat komplain bahkan jadinya menjadi majalah yang ditunggu-tunggu terbitnya.</p>
<p style="text-align: justify;">semua harus balance dan seimbang, begitu kata beliau, sehingga membuat langkah kakinya jadi lebih mudah melangkah sebab dapat dukungan dari banyak pihak. seperti bisnis kulinernya, mainan baru yang sedang beliau jalankan, mulai dari jenis bisnisnya, tempat, design outlet sampai karyawan bisa diperoleh dan dikelola beliau karena support dari pihak-pihak yang merasa berterima kasih karena sudah disupport lebih dulu lewat majalah wk dan hasil dari liputan di majalah itu sungguh luar biasa. <a href="http://www.asiafxonline.com/UserFiles/Image/emas.jpg"><img class="alignright" src="http://www.asiafxonline.com/UserFiles/Image/emas.jpg" alt="" width="184" height="157" /></a></p>
<p style="text-align: justify;">mas rozy termasuk yang merasakan hasil luar biasa akibat support dari majalah wk terhadap bisnis &#8216;raja sandalnya&#8217;. walaupun sudah beberapa bulan lewat, tapi efek dari liputan tersebut masih terasa sampai hari itu karena masih banyak saja orang yang bertanya tentang bisnis raja sandal, dan semua mengaku tau dan tertarik dengan bisnis itu akibat membaca majalah wk.</p>
<p style="text-align: justify;">saya sendiri juga merasakan walaupun berada di surabaya, banyak bisnis teman-teman saya baik yang dari surabaya entrepreneur club atau dari komunitas lain yang bertambah kencang jalannya setelah diliput oleh wk. makanya saya selalu menunggu-nunggu, walaupun dengan dengan pasrah, kiriman majalah wk setiap bulan. yang saya cari hanyalah siapa lagi dari teman-teman saya yang liputannya dimuat dalam wk edisi terbaru.</p>
<p style="text-align: justify;">sambil berusaha mengabiskan seporsi pempek, dua potong roti goreng dan dua potong cakwe yang disediakan, kuping saya tetep terbuka lebar untuk mendengarkan tuturan pak isdi.</p>
<p style="text-align: justify;">ada teori beliau yang juga unik menurut saya. kata pak isdi, dalam bisnis itu yang penting terus ekspansi dan membuka usaha lagi dan lagi. nggak terlalu penting menunggu datangnya BEP atau kondisi plus karena sudah laba. yang terpenting hanyalah pendapatan dari perputaran bisnis itu sudah bisa menutup biaya operasional perbulannya. hanya itu saja yang penting. kalo itu tepenuhi segera buka bisnis lagi. gitu seterusnya, bisnis itu juga  sebuah investasi jangka panjang. makanya jangan buru-buru pingin dapat untung.</p>
<p style="text-align: justify;">ada yang setuju dengan teori ini?</p>
<p style="text-align: justify;">teori berikutnya juga gak kalah menariknya. kalau kita sebagai seorang entrepreneur sudah menemukan pola bisnis yang tepat dan sesuai dengan karakter kita, maka bisnis apapun itu otomatis akan jalan dengan sendirinya dan menghasilkan. gak perduli jenis bisnisnya. semua bisnis pasti bisa  jalan asalkan si owner sudah menemukan jiwa atau pola yang tepat tadi.   kenapa pasti bisa, karena setelah formula tadi ketemu maka binis berikutnya yang dijalankan hanyalah sekedar &#8216;copy paste&#8217; saja dari bisnis awal.  pada prinsipnya, kata pak isdi, semua bisnis itu jadi hampir sama hanya jenis dan siapa yang mengelolanya saja yang berbeda.</p>
<p style="text-align: justify;">dan lagi kita sebagai boss atau owner gak perlu turun langsung campur tangan sendiri dalam setiap menjalankan bisnis. mulailah belajar mempercayai karyawan kita bagaimanapun caranya,  termasuk apabila kondisinya sangat sulit.</p>
<p style="text-align: justify;">yang dijadikan contoh pak isdi adalah pengusaha-pengusaha keturunan.   mereka semua rata-rata memilki banyak ragam bisnisnya dan sering kali bisnis yang dikelola tidak ada kaitan langsung satu bisnis dengan bisnis lainnya.  tapi hebatnya bisnis beraneka ragam yang mereka kelola itu berjalan, bertambah besar dan semakin mengurita. rata-rata dari mereka, walau skala bisnisnya sudah mendunia tidak dikenal oleh kebanyakan warga indonesia lainnya terutama yang pribumi. kalaupun ada satu dua yang terkenal karena memang care dengan pertumbuhan dunia entrepreneur di indonesia, sedang yang lainnya terkenal hanya namanya saja atau dikaitkan dengan nama induk perusahaannya.</p>
<p style="text-align: justify;">misalnya ciputra dengan citraland, sampoerna dengan  pabrik rokok sampoernanya di surabaya atau bob sadino dengan supermarket kem ciks-nya di kemang jakarta.</p>
<p style="text-align: justify;">padahal selain nama usahanya yang sudah terkenal itu mereka juga punya banyak jenis usaha lain yang juga maju dan berkembang.  tapi kita sebagai orang pribumi awam, bahkan yang juga entrepreneur, sering tidak mengerti bisnis apa saja yang mereka kelola.</p>
<p style="text-align: justify;">lain halnya dengan orang pribumi, baru saja mulai bisnis sudah pingin terkenal dan lalu  jadi identik dengan bisnis yang dijalankannya. karena belum menemukan pola bisnis, roh bisnis atau jiwa bisnisnya maka setelah identik dengan suatu bisnis, entrepreneur kita yang pingin mengembangkan bisnis lainnya, padahal kadang hanya brand-nya saja yang beda, menjadi sangat kesulitan. masyarakat sudah terlanjur meng-indentikkan atara seorang entrepreneur dengan suatu bisnisnya yang paling populer.   akibatnya  jika dia pingin bermain dibisnis lainnya masyarakat sulit untuk percaya.</p>
<p style="text-align: justify;">rata-rata pengusaha keturunan tidak ingin cepat-cepat terkenal walaupun bisnis yang mereka kelola sudah turun temurun,  yang mereka butuhkan adalah kemapanan bisnis.  ini kebalikan dengan rata-rata pengusaha pribumi yang pingin segera terkenal oleh publik walaupun bisnis yang dikelolanya baru seumur jagung. <a href="http://www.the-aps.org/education/sixstarscience/images/star_hg_clr.gif"><img class="alignright" src="http://www.the-aps.org/education/sixstarscience/images/star_hg_clr.gif" alt="" width="192" height="192" /></a></p>
<p style="text-align: justify;">nah karena faktor tidak terkenal tadi banyak pengusaha keturunan mudah merambah dan memajukan berbagai ragam bisnis yang ingin dijalankannya.</p>
<p style="text-align: justify;">pak isdi lalu mengembalikan ke saya dan mas rozy, pilih mana terkenal lalu stag di satu bisnis atau tidak terkenal dan lama baru terkenal setelah menjadi konglomerat. kalo saya sih pinginnya langsung terkenal dan langsung jadi konglomerat. semua orang pastinya juga sama keinginannya dengan saya, sekarang tinggal faktor kemampuan diri kita masing-masing.</p>
<p style="text-align: justify;">kita bebas memilih kok.</p>
<p style="text-align: justify;">perjalanan kami dilanjutkan ke warung baksonya pak isdi, tapi disini kami sudah tidak sanggup untuk mencobanya takut ada ledakan baru yang akan mengguncang jakarta, yaitu meledaknya perut kami karena kekenyangan.</p>
<p style="text-align: justify;">cukuplah dua teori saja dari pak isdi, karena rasanya sudah berhasil bikin otak kami berputar keras dan  hampir mejadi ledakan dahsyat. apalagi saat itu  hari sudah menjelang maghrib dan saya baru ingat kalau punya janji dinner dengan kawan-kawan lama dari tempat saya dulu kerja di salah satu bank swasta.   kami pamit dengan pak isdi dan staff-staffnya dengan segudang perasaan yang mengharu biru terhadap teori-teori beliau.</p>
<p style="text-align: justify;">karena besok saya pulang ke surabaya, mas rozy merasa cuman bisa ngobrol dengan saya malam itu saja makanya sebelum saya berangkat menuju tempat dinner, saya diculik oleh mas rozy ke sebuah stasiun pengisi bbm yang jadi satu dengan cafe dan atm dari berbagai bankgak jauh dari kantornya wk.</p>
<p style="text-align: justify;">sambil ngemil kentang goreng dan minum milk shake saya bilang sama mas rozy, saya harus ketemu teman-teman lama itu karena mereka saat ini sudah menjadi orang penting di berbagai bank di jakarta. rata-rata teman saya yang dulu seangkatan atau setingkat diatas saya, sekarang sudah menjabat menjadi kepala atau &#8216;head&#8217; dari berbagai bank penerbit kartu kredit atau kredit tanpa agunan. atau kalaupun kurang beruntung jabatan terendah yang dipikulnya adalah manager.</p>
<p style="text-align: justify;">setelah berpisah selama hampir sebelas tahun, menyenangkan sekali mendengar kalo perbankan khususnya yang berhubungan dengan kredit dikuasai oleh teman-teman main saya dulu. mungkin kesempatan bertemu langsung dengan banyak kawan secara sekaligus hanya saat itu saja.   setelah itu karena kesibukan, mereka pasti sulit buat diajak cangkruan. lagian yang bikin mereka niat kumpul bareng adalah karena undangan dinner itu datang dari mantan big boss kita (dulunya head collection) yang sekarang jadi big boss besar di arab sana, tapi tetap di bank yang sama. <a href="http://www.accountancyextra.co.uk/blog/wp-content/uploads/2009/04/break_even_point_neurmadicaestheticflickr.jpg"><img class="alignright" src="http://www.accountancyextra.co.uk/blog/wp-content/uploads/2009/04/break_even_point_neurmadicaestheticflickr.jpg" alt="" width="237" height="177" /></a></p>
<p style="text-align: justify;">saya berkesepatan mendengar dan diajak gabung dalam acara tersebut, atas informasi dari teman baik saya mr. rudi lontong. beliau ini  satu sekolah dengan saya mulai dari smp dan sma.  karena jasa beliau jugalah yang bikin saya bisa diterima satu kerjaan di bank yang sama setelah saya lulus kuliah. kemudian selama bekerja di collection departemen bank tersebut beliau jugalah yang menjadi mentor saya.  secara personal, beliaulah yang berhasil membimbing dan menjadi mentor pribadi saya sehingga saya fasih dan berpengalaman dalam dunia kaum hawa. bahkan kemudia saya keluar dari bank tersebut juga karena bersengketa secara pribadi dengan beliau. tapi uniknya saya dan mr. rudi lontong tetep jadi kawan baik sampai sekarang.</p>
<p style="text-align: justify;">tapi manusia punya rencana, tetep saja allah lah yang menentukan segalanya. saya akhirnya gak bisa dinner bareng para boss-boss itu karena tiba-tiba ibunda menelepon ngajakin dinner bareng saya dan adik-adik untuk merayakan ulang tahun keponakan perempuan saya.</p>
<p style="text-align: justify;">begitulah malam terakhir saya dijakarta dan kali ini tanpa cewek sama sekali walaupun tetep bergelimang dengan makanan yang enak-enak.</p>
<p style="text-align: justify;">cerita ngobrol saya dengan mas rozy mungkin akan ditulis di catatan saya berikutnya, itu juga dengan catatan kalo saya gak males.</p>
<p style="text-align: justify;">
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.samuraijagoan.com/2009/07/26/hari-ke-tiga-ledakan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>selalu di perdebatkan</title>
		<link>http://www.samuraijagoan.com/2009/06/17/selalu-didebatkan/</link>
		<comments>http://www.samuraijagoan.com/2009/06/17/selalu-didebatkan/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 17 Jun 2009 18:25:38 +0000</pubDate>
		<dc:creator>samurai</dc:creator>
				<category><![CDATA[Artikel Menarik]]></category>
		<category><![CDATA[bank]]></category>
		<category><![CDATA[bisnis]]></category>
		<category><![CDATA[entrepreneur bodoh]]></category>
		<category><![CDATA[hutang]]></category>
		<category><![CDATA[kartu kredit]]></category>
		<category><![CDATA[kredit]]></category>
		<category><![CDATA[kredit tanpa agunan]]></category>
		<category><![CDATA[personal loan]]></category>
		<category><![CDATA[toko baju]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.samuraijagoan.com/?p=483</guid>
		<description><![CDATA[pada saat saya membuka FB-nya mr. danton prabawanto seorang kawan baik saya, ada sesuatu yang menarik perhatian disana, disitu dalam kalimat di salah satu status-nya berbunyi &#8216;ingat tujuan utama adalah punya bisnis, bukan banyak2 kan hutang&#8230;&#8217; 

kalimat status ini sangat menarik perhatian saya,  bukan karena apa-apa, tapi lebih karena hampir  lima tahun terakhir ini saya [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p class="UIIntentionalStory_Message" style="text-align: justify;">pada saat saya membuka FB-nya mr. danton prabawanto seorang kawan baik saya, ada sesuatu yang menarik perhatian disana, disitu dalam kalimat di salah satu status-nya berbunyi <span style="color: #ff0000;">&#8216;ingat tujuan utama adalah punya bisnis, bukan banyak2 kan hutang&#8230;&#8217; </span><a href="http://sekitarkita.com/wp-content/uploads/2009/05/monumenhutang.jpg"><img class="alignright" src="http://sekitarkita.com/wp-content/uploads/2009/05/monumenhutang.jpg" alt="" width="195" height="205" /></a><span id="more-483"></span></p>
<p style="text-align: justify;">
<p style="text-align: justify;">kalimat status ini sangat menarik perhatian saya,  bukan karena apa-apa, tapi lebih karena hampir  lima tahun terakhir ini saya akrab sekali dengan hutang atau kredit setelah selesai pelatihan entrepreneur.</p>
<p style="text-align: justify;">memang pada awalnya saya atau kita tertarik dengan hutang karena tidak punya modal uang buat usaha. lha kalo gak punya duit mau usaha apaan, gitu pikiran saya saat itu. pikiran polos seorang pemula.  ternyata kemudian dalam pelatihan itu saya dapat sesi tentang tips dan trik bagaimana mencari kredit. nah ini sangat menarik, karena saya mengalami sendiri bagaimana sulitnya mendapatkan kredit bank. dalam pikiran polos saya membayangkan suatu saat nanti jika dapat duit kredit dari bank tentunya saya akan bisa bikin usaha baru untuk menggantikan usaha leasing saya yang gagal.</p>
<p style="text-align: justify;">hutang untuk bisnis atau bisnis untuk hutang, memang sesuatu yang ribet untuk dipilih mana yang harus didahulukan atau mana yang lebih diutamakan.  tapi yang jelas pada awalnya sebagai seorang pemula yang polos dan lugu yang tertarik mengikuti pelatihan entrepreneur, saya pastinya pingin sekali punya bisnis  sendiri setelah selesai menjalani masa pelatihan.  karena pingin punya bisnis itulah makanya saya tertarik ikut pelatihan, dan berdasarkan pengalaman pribadi saya, terasa banget susahnya kalo gak punya duit dalam menjalankan bisnis.</p>
<p style="text-align: justify;">menurut saya keduanya saling berkaitan, saling bersahabat dan saling mendukung satu sama lainnya. pada kenyataannya di lapangan memang tidak ada bank yang mau memberikan kredit pada kita jika kita tidak punya bisnis, dan kalo sudah punya pun masih harus ada kriteria tertentu yaitu lamanya menjalankan usaha minimal antara satu sampai dua tahun. bank jarang sekali mau memberikan kredit pada bisnis yang baru dirintis, lha kalo kondisinya seperti ini, seorang pemula seperti saya kapan bisanya memulai bisnis. karena seorang pemula selalu berpikiran bisnis itu hanya bisa dijalankan hanya jika punya modal duit yang salah satunya didapat dari hutang bank.</p>
<p style="text-align: justify;">ruwet kan&#8230;.. <a href="http://langkahpertama.com/wp-content/uploads/2009/05/hutang-225x300.jpg"><img class="alignnone" src="http://langkahpertama.com/wp-content/uploads/2009/05/hutang-225x300.jpg" alt="" width="181" height="200" /></a></p>
<p style="text-align: justify;">untungnya dalam pelatihan tersebut diajarkan cara-cara yang simpel dan praktis dalam mengajukan kredit. nah karena otak polos saya bilang yang saya utamakan harus duit dulu, ya kemudian semua langkah-langkah dan semua daya upaya, saya fokuskan kearah mencari kredit bank. semua trik yang saya dapatkan dari pelatihan saya terapkan apa adanya sesuai yang diajarkan, dan itu saya lakukan setiap hari, diantara waktu saya mengantar dan menjemput istri saya berangkat dan pulang dari tempatnya bekerja. pikiran saya cuman satu, kalo saya lakukan semuanya sesuai prosedur dan saya percaya bahwa hal itu akan berhasil maka pada suatu saat pasti akan berhasil beneran. tapi beneran dan sungguhan dalam otak polos saya, sama sekali tidak muncul suatu bayangkan pun yang menyatakan kapan semua yang saya kerjakan ini akan menampakkan hasilnya.</p>
<p style="text-align: justify;">saya sudah lupa mungkin tiga sampai enam bulan saya lakukan semua metode yang diajarkan setiap harinya, kemudian disela-sela waktu yang ada,  yang saya lakukan juga adalah belajar dan menganalisa segala sesuatu yang nanti jika saya sudah dapat uang dari hutang  bank langsung bisa saya puterkan disitu sebagai bisnis saya. saat itupun otak polos saya juga belum mendapatkan bayangan apapapun tentang bisnis apa yang akan saya geluti nantinya. pokoknya hari-hari saya dilewati dengan praktek tentang trik berhutang dan mencari peluang usaha.</p>
<p style="text-align: justify;">ternyata apa yang menjadi kepercayaan saya tidaklah sia-sia, akhirnya saya pun memperoleh hutang pertama saya.  nggak banyak sih cuman sekitar tiga puluh juta saja, itupun bukan murni hasil usaha saya, itu lebih dari memanfaatkan kredibilitas istri saya sebagai karyawan.  suatu kenyataan yang terjadi sesungguhnya dan bukan omong kosong kalau menjadi entrepreneur itu sulitnya minta ampun, apalagi jika kita  hanyalah  seorang  entrepreneur pemula seperti saya pada saat itu.  tidak ada satu bank pun yang percaya pada kredibilitas saya,  makanya sekitar dua puluh bank langsung menolak aplikasi permohonan kredit yang saya  ajukan.</p>
<p style="text-align: justify;">putus asa sepertinya jauh deh dari diri saya, rasa penasaranlah yang lebih sering muncul. makanya saya tetep puter otak supaya bisa dapatkan itu yang namanya hutang. saat mengikuti sebuah seminar, saya dapatkan info bahwa status sebagai karyawan suatu perusahaan akan lebih mudah untuk mengajukan dan  memperolek kredit, apalagi jika pengajuan kreditnya dilakukan secara kolektif, yaitu diajukan secara bersama-sama lebih dari satu orang karyawan di dalam suatu bagian perusahaan dan disetujui langsung oleh pimpinannya. otak polos saya langsung menuju ke satu tempat, kantor istri saya. malemnya saya olah istri saya sehingga punya visi dan misi yang sama dan selama tiga hari berikutnya gantian  istri saya  yang mengolah teman-teman dan atasannya. seperti yang bisa diduga, gak sampai seminggu kredit pun cair dan bisa dinikmati.</p>
<p style="text-align: justify;">teorinya begitu dapat hutang, langsung pakailah untuk berbisnis supaya segera mendapatkan hasil yang bisa dipakai untuk membayar angsuran hutang itu. lagi-lagi otak polos saya telat dalam menangkap dan mencari peluang bisnis. jadi saat kami dapatkan uangnya, kami belum tau mau dipakai untuk apa uang tersebut. kalaupun terpakai untuk diputer dalam &#8216;bisnis&#8217; itu juga kalo bisa disebut bisnis, jumlahnya jauh dari total uang pinjaman yang kami peroleh.</p>
<p style="text-align: justify;">akhirnya dari pada bingung-bingung, duit yang tidak terpakai itu saya masukkan saja ke dalam rekening tabungan. karena duit yang tidak terpakai itu masih sangat banyak, jadinya jumlah saldo dalam rekening langsung meningkat drastis. pemandangan itu membuat saya kagum, karena sangat menyenangkan sekali jika memandang jumlah total saldo dalam rekening tabungan saya itu. jumlah uang terbanyak yang tercantum disana setelah kegagalan bisnis leasing saya. sangat menyenangkan sekali melihatnya.</p>
<p style="text-align: justify;">otak polos saya langsung berputar saat itu. jika saya saja suka, apalagi jika saya perlihatkan pada petugas bank sesuai dengan cara-cara dan metoda yang diajarkan dalam pelatihan., mereka tentunya juga  suka. untuk membuktikanya saya langsung praktek.  gak pake mikir berlama-lama, cukup sebulan waktu yang saya pergunakan untukberpraktek, dan hasilnya kemudian segera saya pakai untuk pengajuan kredit kembali.</p>
<p style="text-align: justify;">lagi-lgi dugaan dan perkiraan saya tepat, petugas bank sangat mentukai pemandangan yang tampak pada rekening tabungan saya. nggak terlalu mulus juga sih tapi hasil yang saya dapatkan jauh lebih tinggi dari yang saya perkirakan. pastinya ada pengajuan kredit saya yang ditolak oleh beberapa  bank,   tapi  dari pengajuan kredit saya yang disetujui, bila dihitung-hitung total yang saya peroleh bisa  bisa dua kali lipat dari kredit saya yang ditolak. secara hasil keseluruhan bila saya boleh bilang secara bangga dan percaya diri, sesungguh-sungguhnya pengajuan kredit saya tidak ada yang ditolak.</p>
<p style="text-align: justify;">meskipun apa bisnis yang mau saya jalankan belum ketemu, tapi saya dapat kredit dalam jumlah yang banyak dan besar. bentuk kredit yang saya peroleh pun macam-macam ada yang berupa kartu kredit, kredit tanpa agunan, persolal loan dan banyak nama lagi. dapat diduga jadinya rekening tabungan saya langsung menggelembung, duit saya jadi banyak.  tanpa saya tau duit itu harus saya puter dalam bisnis apaan.</p>
<p style="text-align: justify;"><a href="http://1.bp.blogspot.com/_-SLg73uLahY/SAm4duJjYcI/AAAAAAAAAIY/D6Im3kpn85E/s400/mban1545l.jpg"><img class="alignleft" src="http://1.bp.blogspot.com/_-SLg73uLahY/SAm4duJjYcI/AAAAAAAAAIY/D6Im3kpn85E/s400/mban1545l.jpg" alt="" width="224" height="248" /></a>karena bingung mau dipakai untuk bisnis apa duit hutang itu, akhirnya tawaran teman untuk berivestasi saya terima. tapi memang dasar nasib bukan keuntungan yang didapat tapi malah duit saya dibawa kabur. duit hasil hutang-hutangan hilang dibawa kabur orang yang kita kenal pula,  lumrahnya pasti muncul perasaan bingung donk, sedih, pusing, gimana nanti cara mbayarnya.  semua perasaan itu gak muncul dalam diri saya dan istri, hanya perasaan gemes dan mangkel terhadap orang yang membawa kabur duit itu  yang tetep muncul dan gak bisa hilang, bahkan sampai sekarang. perasaan kami biasa-biasa saja karena otak polos kami menganggap yang hilang itu bukan uang kami sendiri, melainkan uang banklah yang hilang dibawa kabur maling. saking mudahnya mendapatkan kredit tidak ada rasa menyesal terhadap berbagai kerugian yang timbul dalam perjalannya. perasaan biasa-biasa saja ini terulang pada saat awal krisis di akhir 2008 dimana sekitar seratus juta uang yang kami tanam di bursa saham menguap begitu saja.</p>
<p style="text-align: justify;">kembali ke awal perjalanan hutang. begitu banyak dan mudah hutang yang kami dapatkan ternyata bikin pusing juga. mau diapain duit-duit ini? malahan saya penah bilang kepada teman-teman, jika nanti kredit yag saya peroleh mencapai satu milyar saya akan traktir makan-makan. gak disangka gak dinyana target itu tercapai tiga-empat bulan setelah saya bicara, tentu saja teman-teman menagihnya dan saya gak bisa menolaknya.  akhirnya makan-makanlah kita semua, merayakan perolehan hutang satu milyar saya. saya rasa,  mungkin hanya itulah kejadian pertama dan terkhir kali yang bisa dijumpai, dimana ada orang yang bikin perayaan tentang total besarnya hutang yang diperolehnya.</p>
<p style="text-align: justify;">dengan banyaknya hutang yang saya peroleh, lupalah saya terhadap tujuan utama mencari hutang tadi. awalnya tujuan utama saya berhutang adalah buat bisnis. ternyata yang terjadi diluar dugaan, percepatan perolehan hutang lebih cepat dari perkembangan bisnis itu sendiri bahkan lebih cepat dalam mencari bisnis apa yang hendak diterjuni.</p>
<p style="text-align: justify;">dan dari pada pusing-pusing karena belum menemukan bisnis yang tepat, akhirnya saya taruh uang hutang tadi dalam bursa saham, investasi emas, investasi properti dan beberapa paket investasi lain. investasi memang menghasilkan tapi pastinya lebih kecil dan lebih lambat dari hasil perputaran sebuah bisnis. tapi dari pada duit hutang itu gak muter sama sekali lebih baik diputer pelan-pelan, toh tetep menghasilkan walaupun perlahan.</p>
<p style="text-align: justify;">sampai suatu saat saya menemukan bisnis beneran, jualan baju di mall. suatu  waktu saya ditawari oleh seorang teman untuk mengelola sebuah toko baju di mall. karena saya merasa punya modal yang cukup maka tawaran itu tidak saya sia-siakan, dan hasilnya semakin membuka jalan buat saya untuk punya bisnis yang nyata. kondisi membuat teman tadi tidak bisa bertahan lama  memgelola ditoko terebut dan meminta saya untuk membeli usahanya. dan saya belilah toko tadi. punya toko ternyata sangat menyenangkan dan bikin ketagihan sehingga tidak sampai setahun toko saya di mall berkembang menjadi empat buah.</p>
<p style="text-align: justify;">lagi-lagi dengan adanya bisnis toko baju ini membuat saya menjadi sangat dipercaya oleh bank, dan mulai pada saat saya diajak join oleh kawan tadi, sampai akhirnya toko saya berkembang menjadi empat buah, begitu banyak kucuran kredit yang saya peroleh. dalam setiap bulannya sekitar lima puluh sampai seratus juta-an kredit yang saya peroleh.</p>
<p style="text-align: justify;">kalo dilihat dari perjuangan awal yang sangat sulit dalam mencari hutang,  sampai kemudian begitu mudahnya saya mendapat kucuran hutang, pastilah tidak masuk akal.  tapi itulah yang sebenarnya terjadi. dan seperti yang sudah saya sebutkan bahwa kucuran hutang lebih cepat dari perkembangan dan perputaran roda bisnis. toko-toko saya semuanya dikelola dengan benar, jika saya bingung dengan managemen saya selalu bertanya kepada teman-teman dan dari mr. danton lah saya paling sering bertanya, biasanya diskusi dimulai dari maghrib sampai menjelang subuh. diskusi kami baru berakhir saat HP saya bunyi, telepon dari istri yang bertanya apakah saya tidak pingin pulang kerumah karena hari sudah subuh.</p>
<p style="text-align: justify;">dari diskusi tersebut banyak yang saya peroleh dan semua masukan tadi saya terapkan secara serius dan sungguh-sungguh di dalam pengelolaan toko. hasilnya perkembangan toko cukup bagus walaupun tidak  bisa dibilang sangat baik karena tetep saja hasilnya belum dapat menutupi pengeluaran pembayaran semua hutang saya. mungkin jika mr. danton tidak terburu menikah, peningkatan pengelolaan toko saya akan bisa lebih bagus lagi, sayangnya beliau terburu menikah sehingga setelah itu saya jadi nggak enak lagi kalo ngajak diskusi beliau sampai pagi, apa nanti kata isterinya.</p>
<p style="text-align: justify;">dengan saran atau tanpa saran mr. danton toko tetep profesional dijalankan dan tetep ada hasilnya,   begitu pula dengan hasil yang saya peroleh dari berbagai proyek investasi saya.  tapi tetep saja semua  hasil yang saya dapatkan belum bisa menutupi biaya pembayaran angsuran seluruh hutang saya.</p>
<p style="text-align: justify;">dimata saya toko-toko yang saya miliki tetep tidak bisa dikatakan sebagai bisnis, walaupun tidak separah komentar mr. danton dalam status FB-nya yang saya jadikan ide tulisan ini, beliau tulis<span style="color: #ff0000;"><span style="color: #000000;"> disitu</span> &#8216;bisnis Kalau rugi bukan bisnis berarti&#8217;  <span style="color: #000000;">kalo saya bilang, bukan hanya yang rugi yang bukan bisnis, yang hanya jalan ditempat atau yang dalam kondisi seperti saya, dimana perputarannya belom bisa menutupi seluruh pengeluaran tetep tidak bisa dikatakan sebagai bisnis.</span></span></p>
<p style="text-align: justify;">walau belum bisa disebut sebagai bisnis,   tapi toko-toko yang saya miliki tetep menjadi sarana  penghasil hutang terbesar.  bahkan saya akhirnya mengarang sebuah teori <span style="color: #ff0000;">&#8216;jika jumlah perolehan hutang lebih besar dari semua biaya yang dikeluarkan setiap bulan maka kondisi tersebut bisa dikatakan untung&#8217;</span> banyak yang tidak setuju dan menentangnya, tapi apapun kata mereka atau apapun pendapat mereka, saya berhasil menjalankan pola tersebut selama sekitar lima tahun, dimana saat itu semua level kehidupan saya dari segi sosial, ekonomi, sampai ke pengetahuan meningkat dengan pesat, dan saya bisa sejajar dengan teman-teman yang menjalankan bisnis sesuai kaidah, bahkan bisa meninggalkan teman-teman yang lambat dalam pergerakan bisnisnya.</p>
<p style="text-align: justify;">saya bahkan memperoleh julukan atau profesi baru dari hutang-hutang saya,  yaitu sebagai konsultan. karena banyak teman yang bertanya pada saya tentang apa sesungguhnya  yang saja jalankan selama itu,  sehingga bisa hidup dengan hutang yang begitu banyak. apapun yang saya katakan mereka tetep tidak paham,  walaupun sampai berbusa mulut saya menjelaskan.  keberhasilan saya sebagai konsultan adalah bisa bikin teman-teman saya lebih mudah disetujui saat mengajukan kredit ke bank dan bagaimana cara bermain kartu kredit yang manis. semua itu berdasarkan pengalaman  pribadi saya.</p>
<p style="text-align: justify;">kembali ke awal topik yang mengingatkan<span style="color: #ff0000;"> &#8216;tujuan utama adalah punya bisnis, bukan banyak2 kan hutang&#8230;&#8217; <span style="color: #000000;">sangatlah tepat, tapi punya banyak hutang juga gak salah-salah banget. dimana boleh saja punya </span></span>hutang banyak walaupun tidak punya bisnis yang jelas dan memadai asalkan  hutang-hutang tadi bisa dibayar. dan kalo sampai waktunya  gak bisa bayar  hutang-hutang tadi tetep sudah siap menerima degan semua  resikonya.</p>
<p style="text-align: justify;">apalagi jika sampai punya hutang banyak dan bisnisnya semakin maju. itu sangat luar biasa&#8230;&#8230;&#8230;</p>
<p style="text-align: justify;">menurut saya suatu bisnis, apapun itu akan tetap bisa hidup dan berkembang jika adanya pemasukan yang lebih besar dari pengeluarannya. dan pemasukan itu bisa dari mana saja. dari jalur yang umum  seperti omset yang besar dan sesuai target atau dari jalur yang tidak umum seperti dari hutang.  ini dilihat tergantung dari sudut pandang dan pengalaman masing-masing orang, dimana setiap orang pasti tidak sama sudut pandang dan pengalamannya.</p>
<p style="text-align: justify;"><span class="text_exposed_show">poko&#8217;e hidup itu harus seimbang antara nikmat dan resiko, jangan cuman mau nikmat-nya aja&#8230;&#8230;&#8230;</span></p>
<p style="text-align: justify;">nyambung gak nyambung poko&#8217;e dibikin nyambung!</p>
<p style="text-align: justify;">
<p style="text-align: justify;">
<p style="text-align: justify;">
<p style="text-align: justify;">
<p style="text-align: justify;">
<p style="text-align: justify;">
<p style="text-align: justify;">
<p style="text-align: justify;">
<p style="text-align: justify;">
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.samuraijagoan.com/2009/06/17/selalu-didebatkan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

