Masih teringat petualangan kuliner semalam, disepanjang jalan cokro dan agus salim madiun berjajar berderet-deret penjual pecel trotoar atau pecel tenda yang masing-masing ramai oleh pelanggannya.

Hal yang sama juga saya alami saat menikmati kuliner gudeg di kampung wijilan kota jogja. Disepanjang jalan itu yang ada hanya penjual gudeg.

Yang ada dalam pikiran saya apakah mereka tidak saling bersaing satu dengan yang lainnya ya? Padahal dagangan mereka itu sama semua dan lagian mereka itu berjualan ditempat yang juga sama berderet-deret pula.

Yang lebih menarik buat saya karena ternyata tiap warung atau rumah makan itu ada pelanggannya dan relative ramai, atau kalaupun gak rame banget, pelanggannya selalu datang dan pergi secara bergantian.

Saya berusaha mencari info ke kenapa kok kondisinya seperti itu. Bayangan saya dengan berjualan secara berjajar gitu kan tingkat persaingannya sangat tinggi.

Ketika [+]

hidup seperti air yang mengalir

Barusan saya habis liat acara tv, kisah sukses seorang penyanyi dari papua. Keren perjuangan dan kisah sukses hidupnya, tapi yang lebih nyantol diotak saya adalah ketika si penyanyi bilang begini (kalimatnya tidak tepat sepeti yang dia ucapkan di tv)

'hidup ini kalo dibikin susah, jadinya ya susah, jadi nikmati saja hidup seperti air mengalir, air mengalir apa adanya tapi selalu ada tujuannya'

Setelah acara itu berakhir lantas kalimat si penyanyi tadi kepikiran terus dalam otak saya. Lantas saya ingat-ingat dan saya perhatikanlah air.

Sifat air itu mengalir apa adanya, dimana ada jalurnya maka air itu terus mengalir. Air nggak pernah memilih tempat untuk mengalir, dimana dia bisa mengalir maka mengalirlah air. Dan air itu terus mengalir mengikuti jalur yang ada.

Bahkan air sanggup mencari jalan keluar dan menemukan jalan [+]

Sponsors
 
Tags
 
Most Popular
©2008 Demo | Designed by: Elegant Wordpress Themes & Made free by SOURCE-Promo.com Promo Items | Valid XHTML | WordPress