<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Samurai Jagoan &#187; entrepreneur university</title>
	<atom:link href="http://www.samuraijagoan.com/tag/entrepreneur-university/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://www.samuraijagoan.com</link>
	<description></description>
	<lastBuildDate>Tue, 07 Feb 2012 05:46:39 +0000</lastBuildDate>
	<generator>http://wordpress.org/?v=2.8.6</generator>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
			<item>
		<title>air mengalirpun punya tujuan, sedangkan kita?</title>
		<link>http://www.samuraijagoan.com/2012/02/07/air-mengalirpun-punya-tujuan-sedangkan-kita/</link>
		<comments>http://www.samuraijagoan.com/2012/02/07/air-mengalirpun-punya-tujuan-sedangkan-kita/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 07 Feb 2012 05:46:39 +0000</pubDate>
		<dc:creator>samurai</dc:creator>
				<category><![CDATA[Entrepreneurship]]></category>
		<category><![CDATA[bisnis]]></category>
		<category><![CDATA[bisnis joss dan kuliner mak nyuss]]></category>
		<category><![CDATA[buku]]></category>
		<category><![CDATA[bumbu pecel enak]]></category>
		<category><![CDATA[Business Success]]></category>
		<category><![CDATA[bussiness]]></category>
		<category><![CDATA[credit wisdom]]></category>
		<category><![CDATA[entrepreneur]]></category>
		<category><![CDATA[entrepreneur bodoh]]></category>
		<category><![CDATA[entrepreneur pemberontak]]></category>
		<category><![CDATA[entrepreneur university]]></category>
		<category><![CDATA[guru]]></category>
		<category><![CDATA[harian surya]]></category>
		<category><![CDATA[ilmu]]></category>
		<category><![CDATA[invest]]></category>
		<category><![CDATA[investasi]]></category>
		<category><![CDATA[investor]]></category>
		<category><![CDATA[jagoan]]></category>
		<category><![CDATA[jangan ada dusta diantara kita]]></category>
		<category><![CDATA[jangan berpikir]]></category>
		<category><![CDATA[Jangan Berpikir Jadi Pengusaha]]></category>
		<category><![CDATA[Jangan berpikir jadi pengusaha & jangan pernah berpikir menjadi entrepreneur]]></category>
		<category><![CDATA[jangan berpikir jadi pengusaha dan jangan pernah berpikir jadi entrepreneur]]></category>
		<category><![CDATA[jawa pos]]></category>
		<category><![CDATA[kaki diatas kepala di bawah]]></category>
		<category><![CDATA[kawan]]></category>
		<category><![CDATA[kommmbis]]></category>
		<category><![CDATA[konsisten]]></category>
		<category><![CDATA[koran]]></category>
		<category><![CDATA[mastermind]]></category>
		<category><![CDATA[mastermind juara]]></category>
		<category><![CDATA[mentor]]></category>
		<category><![CDATA[menulis]]></category>
		<category><![CDATA[mm juara]]></category>
		<category><![CDATA[motivator]]></category>
		<category><![CDATA[nasi pecel]]></category>
		<category><![CDATA[news]]></category>
		<category><![CDATA[pecel]]></category>
		<category><![CDATA[pecel wenmit]]></category>
		<category><![CDATA[pemberontak]]></category>
		<category><![CDATA[pembicara]]></category>
		<category><![CDATA[provokator]]></category>
		<category><![CDATA[sahabat]]></category>
		<category><![CDATA[samurai]]></category>
		<category><![CDATA[samurai membangun pondasi bisnis tanpa pedang]]></category>
		<category><![CDATA[sec]]></category>
		<category><![CDATA[seminar]]></category>
		<category><![CDATA[surabaya entrepreneur club]]></category>
		<category><![CDATA[surat kabar]]></category>
		<category><![CDATA[surya]]></category>
		<category><![CDATA[tangan diatas]]></category>
		<category><![CDATA[tda]]></category>
		<category><![CDATA[TDA nGalam]]></category>
		<category><![CDATA[tda surabaya]]></category>
		<category><![CDATA[tersesat ke jalan yang benar]]></category>
		<category><![CDATA[tiru]]></category>
		<category><![CDATA[tulis]]></category>
		<category><![CDATA[ukm]]></category>
		<category><![CDATA[ukm jatim]]></category>
		<category><![CDATA[universitas airlangga]]></category>
		<category><![CDATA[universitas airlangga surabaya]]></category>
		<category><![CDATA[wenmit]]></category>
		<category><![CDATA[wenmit pecel]]></category>
		<category><![CDATA[wirausahawan]]></category>
		<category><![CDATA[workshop]]></category>
		<category><![CDATA[writers]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.samuraijagoan.com/?p=1941</guid>
		<description><![CDATA[hidup seperti air yang mengalir
Barusan saya habis liat acara tv, kisah sukses seorang penyanyi dari papua. Keren perjuangan dan kisah sukses hidupnya, tapi yang lebih nyantol diotak saya adalah ketika si penyanyi bilang begini (kalimatnya tidak tepat sepeti yang dia ucapkan di tv)
&#8216;hidup ini kalo dibikin susah, jadinya ya susah, jadi nikmati saja hidup seperti [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;">hidup seperti air yang mengalir</p>
<p>Barusan saya habis liat acara tv, kisah sukses seorang penyanyi dari papua. Keren perjuangan dan kisah sukses hidupnya, tapi yang lebih nyantol diotak saya adalah ketika si penyanyi bilang begini (kalimatnya tidak tepat sepeti yang dia ucapkan di tv)<span id="more-1941"></span></p>
<p>&#8216;hidup ini kalo dibikin susah, jadinya ya susah, jadi nikmati saja hidup seperti air mengalir, air mengalir apa adanya tapi selalu ada tujuannya&#8217;</p>
<p>Setelah acara itu berakhir lantas kalimat si penyanyi tadi kepikiran terus dalam otak saya.<br />
Lantas saya ingat-ingat dan saya perhatikanlah air.</p>
<p>Sifat air itu mengalir apa adanya, dimana ada jalurnya maka air itu terus mengalir. Air nggak pernah memilih tempat untuk mengalir, dimana dia bisa mengalir maka mengalirlah air. Dan air itu terus mengalir mengikuti jalur yang ada.</p>
<p>Bahkan air sanggup mencari jalan keluar dan menemukan jalan untuknya terus mengalir lagi. Bukan itu saja air juga sanggup menjebol rintangan yang menghalangi jalannya&#8230;</p>
<p>Banyak yang gak setuju kalo kita bertidak begitu saja &#8217;seperti air mengalir&#8217; sebab menurut mereka air itu selalu mengalir ke tempat yang lebih rendah. Jadi jika kita hanya bertindak apa adanya seperti air mengalir maka kita dianggap hanya &#8216;pasrah&#8217; saja dan bukannya mendapatkan kesuksesan tapi malahan bisa jadi terpuruk sebab air kan mengalirnya ke bawah dan air gak bisa mengalir ke atas.</p>
<p>Saya setuju air memang mengalir selalu ketempat yang lebih rendah. Tapi apakah mengalir ketempat yang lebih rendah pasti sebuah kegagalan? Belom tentu juga kan?</p>
<p>Menurut saya air mengalir kebawah ketempat yang lebih rendah karena mencari jalan yang lebih mudah untuk mencapai tujuan akhirnya.</p>
<p>Lagian kan memang lebih mudah &#8216;menekan&#8217; dari atas ke bawah dari pada &#8216;mendorong&#8217; dari bawah ke atas.</p>
<p>Dengan menekan maka air bisa menjebol semua yang dianggapnya sebagai penghalang, yang membuatnya tidak bisa lagi mengalir.</p>
<p>Dengan mencari jalan yang dianggapnya mudah maka air tetap bisa menuju ke tempat tujuan akhirnya yang dahsyat. Semua air selalu menuju lautan, semua air dari manapun, muaranya selalu ke laut dan laut adalah sebuah tempat yang yang sangat dahsyat.</p>
<p>Walaupun jalan yang dipilihnya kebawah, walaupun air mengalir seperti tak punya semangat, walaupun nampaknya air itu gak punya rencana, tapi air punya satu tujuan yang pasti yaitu lautan.</p>
<p>&#8220;Bila pada segelas air kita berikan ucapan-ucapan yang baik maka akan terbentuk kristal-kristal cantik yang luar biasa tapi klo kita berika ucapan-ucapan yang buruk maka kristal-kristal yang terbentuk akan buruk pula&#8221; (teori Hado) &#8211; berdasarkan teori ini ternyata air itu bisa berkomunikasi dengan manusia juga.</p>
<p>Berdasarkan teori itu juga ada yang berpendapat bahwa karakter manusia itu mirip dengan air. Hal itu karena sebagian besar dari tubuh manusia terdiri dari air. Hampir 80% bagian tubuh manusia terdiri dari air, kita sudah mempelajarinya mulai dari sekolah dasar kan&#8230;</p>
<p>Jadi jika kita sebagai manusia selalu mendengar kata-kata yang buruk atau negatif maka biasanya akan negatif pula pola pikir yang kita punya, tapi sebaliknya kalo kata-kata baik dan positive yang sering didengarnya maka akan terbentuk kita sebagai manusia senang berpola pikir positive yang baik.</p>
<p>So mengalirlah dengan air kebaikan, supaya terbentuk kristal-kristal kehidupan yang luar biasa cantiknya.</p>
<p>Kita bebas menentukan jalan yang akan kita pilih karena kita manusia yang bebas. Kita boleh mengalir seperti air atau boleh bergerak sesuai apapun.</p>
<p>Asalkan selalu punya tujuan&#8230;</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.samuraijagoan.com/2012/02/07/air-mengalirpun-punya-tujuan-sedangkan-kita/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Lapangan Golf, Tempat buat ngapain ?</title>
		<link>http://www.samuraijagoan.com/2012/02/01/lapangan-golf-tempat-buat-ngapain/</link>
		<comments>http://www.samuraijagoan.com/2012/02/01/lapangan-golf-tempat-buat-ngapain/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 01 Feb 2012 08:25:30 +0000</pubDate>
		<dc:creator>samurai</dc:creator>
				<category><![CDATA[Entrepreneurship]]></category>
		<category><![CDATA[bisnis]]></category>
		<category><![CDATA[bisnis joss dan kuliner mak nyuss]]></category>
		<category><![CDATA[buku]]></category>
		<category><![CDATA[bumbu pecel enak]]></category>
		<category><![CDATA[Business Success]]></category>
		<category><![CDATA[bussiness]]></category>
		<category><![CDATA[credit wisdom]]></category>
		<category><![CDATA[entrepreneur]]></category>
		<category><![CDATA[entrepreneur bodoh]]></category>
		<category><![CDATA[entrepreneur pemberontak]]></category>
		<category><![CDATA[entrepreneur university]]></category>
		<category><![CDATA[guru]]></category>
		<category><![CDATA[harian surya]]></category>
		<category><![CDATA[ilmu]]></category>
		<category><![CDATA[invest]]></category>
		<category><![CDATA[investasi]]></category>
		<category><![CDATA[investor]]></category>
		<category><![CDATA[jagoan]]></category>
		<category><![CDATA[jangan ada dusta diantara kita]]></category>
		<category><![CDATA[jangan berpikir]]></category>
		<category><![CDATA[Jangan Berpikir Jadi Pengusaha]]></category>
		<category><![CDATA[Jangan berpikir jadi pengusaha & jangan pernah berpikir menjadi entrepreneur]]></category>
		<category><![CDATA[jangan berpikir jadi pengusaha dan jangan pernah berpikir jadi entrepreneur]]></category>
		<category><![CDATA[jawa pos]]></category>
		<category><![CDATA[kaki diatas kepala di bawah]]></category>
		<category><![CDATA[kawan]]></category>
		<category><![CDATA[kommmbis]]></category>
		<category><![CDATA[konsisten]]></category>
		<category><![CDATA[koran]]></category>
		<category><![CDATA[mastermind]]></category>
		<category><![CDATA[mastermind juara]]></category>
		<category><![CDATA[mentor]]></category>
		<category><![CDATA[menulis]]></category>
		<category><![CDATA[mm juara]]></category>
		<category><![CDATA[motivator]]></category>
		<category><![CDATA[nasi pecel]]></category>
		<category><![CDATA[news]]></category>
		<category><![CDATA[pecel]]></category>
		<category><![CDATA[pecel wenmit]]></category>
		<category><![CDATA[pemberontak]]></category>
		<category><![CDATA[pembicara]]></category>
		<category><![CDATA[provokator]]></category>
		<category><![CDATA[sahabat]]></category>
		<category><![CDATA[samurai]]></category>
		<category><![CDATA[samurai membangun pondasi bisnis tanpa pedang]]></category>
		<category><![CDATA[sec]]></category>
		<category><![CDATA[seminar]]></category>
		<category><![CDATA[surabaya entrepreneur club]]></category>
		<category><![CDATA[surat kabar]]></category>
		<category><![CDATA[surya]]></category>
		<category><![CDATA[tangan diatas]]></category>
		<category><![CDATA[tda]]></category>
		<category><![CDATA[TDA nGalam]]></category>
		<category><![CDATA[tda surabaya]]></category>
		<category><![CDATA[tersesat ke jalan yang benar]]></category>
		<category><![CDATA[tiru]]></category>
		<category><![CDATA[tulis]]></category>
		<category><![CDATA[ukm]]></category>
		<category><![CDATA[ukm jatim]]></category>
		<category><![CDATA[universitas airlangga]]></category>
		<category><![CDATA[universitas airlangga surabaya]]></category>
		<category><![CDATA[wenmit]]></category>
		<category><![CDATA[wenmit pecel]]></category>
		<category><![CDATA[wirausahawan]]></category>
		<category><![CDATA[workshop]]></category>
		<category><![CDATA[writers]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.samuraijagoan.com/?p=1937</guid>
		<description><![CDATA[Sekitar 5 tahun yang lalu saat dunia entrepreneur belom seheboh sekarang, siapa yang percaya sama tampang-tampang kami yang masih berusia sekitar 25th kebawah yang mengaku menjadi pengusaha, padahal pada kenyataannya kami adalah para pengusaha, walaupun rata-rata dari kami masih baru memulai usaha.
Kami paham dengan keterbatasan kami. Kepahaman itu berkat seringnya kami melakukan evaluasi penyebab apa [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;">Sekitar 5 tahun yang lalu saat dunia entrepreneur belom seheboh sekarang, siapa yang percaya sama tampang-tampang kami yang masih berusia sekitar 25th kebawah yang mengaku menjadi pengusaha, padahal pada kenyataannya kami adalah para pengusaha, walaupun rata-rata dari kami masih baru memulai usaha.<span id="more-1937"></span></p>
<p style="text-align: justify;">Kami paham dengan keterbatasan kami. Kepahaman itu berkat seringnya kami melakukan evaluasi penyebab apa yang membuat klient sulit penerima penawaran yang kami bikin.</p>
<p style="text-align: justify;">Kami sepakat usia memang masuh menjadi masalah di negara ini, masih banyak orang yang percaya terhadap penampilan, terhadap apa yang dilihatnya daripada melihat hasil kerja.</p>
<p style="text-align: justify;">Untuk itu kami pun mencari akal bagaimana agar penampilan kami bisa membuat calon mitra percaya pada kami di pertemuan pertama.</p>
<p style="text-align: justify;">Berdasarkan saran seorang senior kami diminta untuk berlatih golf. Pada awalnya kami tercengang cengang bukan karena kami gak mau belajar golf tapi kareana merasa kalo golf itu olah raga yang prestige banget, yang ekslusive banget.</p>
<p style="text-align: justify;">Kami merasa kalo golf itu adalah olah raga orang kaya, lah kok kami yang pemula ini malah disuruh berlatih golf, kan aneh banget.</p>
<p style="text-align: justify;">Senior itu tertawa, beliau bilang justru karena golf itu sudah popular dengan olah raganya orang kaya maka saat itulah justru yang di pake buat mendongkrak penampilan kami yang pemula.</p>
<p style="text-align: justify;">Beliau bertanya lagi pada kami apakah ada diantara kami yang pernah datang ke lapangan golf, bukan untuk main tapi hanya sekadar duduk dan melihat situasinya. Serentak kami semua menggelengkan kepala sambil berkata, kalo kami bisa minder nanti jika datang ke lapangan golf tempat mainnya orang kaya.</p>
<p style="text-align: justify;">Senyum melebar di mulut beliau, beliau bilang ke kami kalo pendapat seperti itupulalah yang ada di benak banyak orang terhadap lapangan golf. Banyak orang dan bukan hanya kami saja yang merasa minder untuk sekedar datang dan nongkrong dilapangan golf karena bukan merasa orang kaya, banyak orang termasuk kami menganggap lapangan golf itu hanya buat orang kaya dan lapangan golf itu tempat berkumpulnya orang kaya.</p>
<p style="text-align: justify;">Pikiran itu yang bikin banyak orang minder untuk datang ke lapangan golf, nah pikiran yang seperti itulah yang harus kita pake untuk meningkatkan performance diri.</p>
<p style="text-align: justify;">Dengan berada di lapangan golf maka otomatis kita dianggap bisa bermain golf, olah raganya orang kaya dengan begitu kita dianggap orang kaya juga karena nongkrong di lapangan golf apalagi jika bener-bener bisa main golf.</p>
<p style="text-align: justify;">Senior itu bertanya lagi ke kami, bagaimana jika kalian diundang untuk bertemu seseorang dilapangan golf, apa yang ada dalam pikiran kalian atau apa yang kalian rasakan ketika menerima undangan tersebut.</p>
<p style="text-align: justify;">Kami terdiam lalu menjawab dengan ragu, kami bilang kalo ada yang mengundang kami untuk bertemu dilapangan golf karena yang mengundang sedang main golf pasti kami berasumsi kalo yang mengundang itu orang kaya, sebab olahraganya saja golf.</p>
<p style="text-align: justify;">Senyum senior kami semakin lebar, beliau lantas berkata pada kami kalo itupun akan terjadi kalo kami mengundang orang untuk bertemu kami di lapangan golf, orang yang kami undang pasti juga berasumsi kalo yang mengajaknya bertemu pasti orang kaya.</p>
<p style="text-align: justify;">Serentak kami tertawa terbahak-bahak, menertawai pola pikir kami. Kami sadar jika pola pikir kami adalah pola pikir orang kebanyakan, apa yang kami pikir biasanya dipikirkan juga oleh orang kebanyakan.</p>
<p style="text-align: justify;">Oleh senior itu kami diajari untuk menggunakan pola pikir orang kebanyakan sebagai senjata untuk melakukan pembenahan diri.</p>
<p style="text-align: justify;">Cerita berlanjut, kami pun lantas datang ke lapangan golf beramai-ramai karena memang lom berani datang sendiri-sendiri.</p>
<p style="text-align: justify;">Sampai disana rupanya lapangan golf gak seseram bayangan kami, dengan berbekal stick golf pinjaman kami mendaftar di recepsionis dan kami menemukan kejutan lain disitu yang bikin tingkat kepercayaan diri kami meningkat.</p>
<p style="text-align: justify;">Disana kami menemukan kenyataan bahwa ada bagian dari permainan golf yang bisa dilakukan bersama-sama sehingga kami saat mendaftar bisa patungan (walaupun ternyata biayanya juga nggak mahal-mahal banget) hehehe&#8230;</p>
<p style="text-align: justify;">Ternyata banyak juga fasilitas yang disiapkan oleh pengelola lapangan golf buat tamu yang ingin main disitu, seperti diskon 50% buat mahasiswa, hahaha&#8230;.</p>
<p style="text-align: justify;">Dengan melihat kenyataan ini kami semakin yakin untuk mengundang klient untuk bertemu kami di lapangan golf, setelah kami datang dan mencobanya sendiri memang ternyata bener-bener tampak wah buat orang-orang yang gak tau saja.</p>
<p style="text-align: justify;">Dengan penampilan yang baik membuat tingkat kepercayaan klient pada kami pada pandangan pertamanya meningkat, selanjutnya adalah tergantung kami untuk melanjutkan dengan follow up dan service yang baik.</p>
<p style="text-align: justify;">Gimana?</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.samuraijagoan.com/2012/02/01/lapangan-golf-tempat-buat-ngapain/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>jika tidak paham, kedit adalah sebuah perangkap</title>
		<link>http://www.samuraijagoan.com/2012/01/24/jika-tidak-paham-kedit-adalah-sebuah-perangkap/</link>
		<comments>http://www.samuraijagoan.com/2012/01/24/jika-tidak-paham-kedit-adalah-sebuah-perangkap/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 24 Jan 2012 01:53:08 +0000</pubDate>
		<dc:creator>samurai</dc:creator>
				<category><![CDATA[Entrepreneurship]]></category>
		<category><![CDATA[hutang]]></category>
		<category><![CDATA[bisnis]]></category>
		<category><![CDATA[bisnis joss dan kuliner mak nyuss]]></category>
		<category><![CDATA[buku]]></category>
		<category><![CDATA[bumbu pecel enak]]></category>
		<category><![CDATA[Business Success]]></category>
		<category><![CDATA[bussiness]]></category>
		<category><![CDATA[credit wisdom]]></category>
		<category><![CDATA[entrepreneur]]></category>
		<category><![CDATA[entrepreneur bodoh]]></category>
		<category><![CDATA[entrepreneur pemberontak]]></category>
		<category><![CDATA[entrepreneur university]]></category>
		<category><![CDATA[guru]]></category>
		<category><![CDATA[harian surya]]></category>
		<category><![CDATA[ilmu]]></category>
		<category><![CDATA[invest]]></category>
		<category><![CDATA[investasi]]></category>
		<category><![CDATA[investor]]></category>
		<category><![CDATA[jagoan]]></category>
		<category><![CDATA[jangan ada dusta diantara kita]]></category>
		<category><![CDATA[jangan berpikir]]></category>
		<category><![CDATA[Jangan Berpikir Jadi Pengusaha]]></category>
		<category><![CDATA[Jangan berpikir jadi pengusaha & jangan pernah berpikir menjadi entrepreneur]]></category>
		<category><![CDATA[jangan berpikir jadi pengusaha dan jangan pernah berpikir jadi entrepreneur]]></category>
		<category><![CDATA[jawa pos]]></category>
		<category><![CDATA[kaki diatas kepala di bawah]]></category>
		<category><![CDATA[kawan]]></category>
		<category><![CDATA[kommmbis]]></category>
		<category><![CDATA[konsisten]]></category>
		<category><![CDATA[koran]]></category>
		<category><![CDATA[mastermind]]></category>
		<category><![CDATA[mastermind juara]]></category>
		<category><![CDATA[mentor]]></category>
		<category><![CDATA[menulis]]></category>
		<category><![CDATA[mm juara]]></category>
		<category><![CDATA[motivator]]></category>
		<category><![CDATA[nasi pecel]]></category>
		<category><![CDATA[news]]></category>
		<category><![CDATA[pecel]]></category>
		<category><![CDATA[pecel wenmit]]></category>
		<category><![CDATA[pemberontak]]></category>
		<category><![CDATA[pembicara]]></category>
		<category><![CDATA[provokator]]></category>
		<category><![CDATA[sahabat]]></category>
		<category><![CDATA[samurai]]></category>
		<category><![CDATA[samurai membangun pondasi bisnis tanpa pedang]]></category>
		<category><![CDATA[sec]]></category>
		<category><![CDATA[seminar]]></category>
		<category><![CDATA[surabaya entrepreneur club]]></category>
		<category><![CDATA[surat kabar]]></category>
		<category><![CDATA[surya]]></category>
		<category><![CDATA[tangan diatas]]></category>
		<category><![CDATA[tda]]></category>
		<category><![CDATA[TDA nGalam]]></category>
		<category><![CDATA[tda surabaya]]></category>
		<category><![CDATA[tersesat ke jalan yang benar]]></category>
		<category><![CDATA[tiru]]></category>
		<category><![CDATA[tulis]]></category>
		<category><![CDATA[ukm]]></category>
		<category><![CDATA[ukm jatim]]></category>
		<category><![CDATA[universitas airlangga]]></category>
		<category><![CDATA[universitas airlangga surabaya]]></category>
		<category><![CDATA[wenmit]]></category>
		<category><![CDATA[wenmit pecel]]></category>
		<category><![CDATA[wirausahawan]]></category>
		<category><![CDATA[workshop]]></category>
		<category><![CDATA[writers]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.samuraijagoan.com/?p=1932</guid>
		<description><![CDATA[Haloo pak, saya  mau tanya, begini pak, kakak saya pinjam uang di bank pakai sertifikat rumah terus katanya kalau sisa angsuran itu mau di lunasi sebelum waktunya maka kakak saya itu malah akan terkena pinalty dan denda dari pihak bank. 
Padahal  cicilan hutangnya  tinggal lima saja lho. Kemudian kakak saya juga dikasih informasi oleh petugas [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;">Haloo pak, saya  mau tanya, begini pak, kakak saya pinjam uang di bank pakai sertifikat rumah terus katanya kalau sisa angsuran itu mau di lunasi sebelum waktunya maka kakak saya itu malah akan terkena pinalty dan denda dari pihak bank. <span id="more-1932"></span></p>
<p style="text-align: justify;">Padahal  cicilan hutangnya  tinggal lima saja lho. Kemudian kakak saya juga dikasih informasi oleh petugas bank-nya kalaupun sudah dilunasi sertifikatnya juga belum bisa diambil. Saya kurang paham dengan istilah &#8216;belum bisa diambil&#8217; itu yang bagimana sih pak? Lantas apa kira-kira solusinya ya pak? Terima kasih.</p>
<p style="text-align: justify;">Memang begitulah peraturan dari bank. Kalo kredit ingin kita lunasi bank jarang memberikan diskon tapi malah memberikan sangsi berupa pinalty atau denda. Sebab menurut perhitungan bank, nasabah yang melunasi kredit lebih cepat dari waktu yang sudah disepakati dalam perjanjian akan membuat keuntungan dari pihak bank berkurang. Maka untuk itu nasabah diberikan sangsi pinalty atau denda guna menggantikan keuntungan bank yang berkurang akibat pelunasan sebelum waktunya tersebut.</p>
<p style="text-align: justify;">Seharusnya setelah kredit dilunasi sertifikat harusnya bisa diambil karena semua kewajiban sebagai nasabah yang berhutang sudah dipenuhi, tapi jika setelah lunas sertifikat tidak bisa diambil kita bisa menuntut bank tersebut karena tidak memberikan dengan segera sesuatu yang menjadi hak kita.</p>
<p style="text-align: justify;">Kata pihak bank begini pak, jika kakakku titip uang untuk 5 setoran berarti kakakku harus menunggu 7 bulan lagi untuk bisa ambil sertifikat. Kata bank 5 bulan itu adalah masa sesuai angsuran yang tersisa dan 2 bulan kemudian adalah waktu yang dipakai untuk proses pengembalian jaminan dari bank ke nasabah.</p>
<p style="text-align: justify;">Wah, kok seenaknya gitu ya bank nya bikin peraturan. Kalo menurut saya daripada ribet karena nasabahnya polos dan awam banget mending dibayar sesuai angsuran aja deh daripada kena pinalti dan denda, toh nanti lom bisa langsung diambil juga kan setelah semua lunas lebih cepat.</p>
<p style="text-align: justify;">Oh kaya gitu ya pak,terima kasih sarannya.</p>
<p style="text-align: justify;">Seep&#8230;</p>
<p style="text-align: justify;">Haloo pak, saya mau nanya lagi neeh.</p>
<p style="text-align: justify;">Begini pak kakak saya punya hutang tapi sekarang dia pergi ke luar negeri untuk kerja, selama kakak pergi rupanya kakak tidak membayar hutang-hutangnyanya maka akibatnya ada debcoletor (DC) menagih hutang kakak kerumah ibu saya.</p>
<p style="text-align: justify;">Yang saya tanyakan apakah kita sebagai keluarga juga ikut bertanggung jawab untuk membayar hutang-hutyang kakak? Sedangkan kakak saya sudah berkeluarga dan kita benar-benar tidak tahu urusan hutang-hutang itu?</p>
<p style="text-align: justify;">Sesunggu- sungguhnya tidak ada kewajiban seperti itu, tidak ada kewajiban yang mengharuskan pihak keluarga membayar hutang-hutang orang yang tagihannya macet. Hutang macet adalah tanggung jawab dari orang yang berhutang bukan tanggung jawab dari keluarganya.</p>
<p style="text-align: justify;">Atau minta surat tugas dari bank yang menyebutkan jika si DC yang datang memang ditugaskan oleh bank tersebut untuk menagih ibu, kalo gak bawa surat tugas suruh pergi saja DC-nya karena datang tidak bawa surat tugas dan datang ke tempat yang salah (yang berhutang bukan ibu dan gak ada ditempat) Apabila si DC masih tetep ngeyel segera laporkan saja ke pihak yang berwajib seperti polisi.</p>
<p style="text-align: justify;">Oh seperti itu ya pak, tapi katanya dia harus mencapai  target dan DC itu harus setor ke atasan, jadi kemarin saya kasih aja 100rb sedangkan setoran utang kakak harusnya Rp4.720.000,-  karena kurang dari yang seharusnya dibayar maka si DC itu malahan minta tambah uang bensin ke saya terus dia bilang juga kalo bulan depan dia mau datang lagi untuk menagih. Pak jadi kalau DC itu besok-besok datang lagi, saya musti bilang apa ya pak?</p>
<p style="text-align: justify;">Yang namanya DC pasti harus setor sesuai target itu kan tugasnya sebagai DC, jika target gak terpenuhi atau dia gagal mendapatkan uang maka si DC itu bisa gak dapat komisi padahal rata-rata DC gak punya gaji tapa hanya dapat fee yang dihitung berdasarkan prosentase besarnya tagihan yang berhasil ditagihnya.</p>
<p style="text-align: justify;">Waktu ngasih duit pake tanda bukti setoran gak? jangan-jangan gak pake bulti setoran lagi, jadi si DC malah bisa main-main dengan uang tagihan tadi, jangan-jangan malahan uang yang diterimanya itu gak disetorkan sebagai penerimaan dari nasabah <img src='http://www.samuraijagoan.com/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' /> </p>
<p style="text-align: justify;">Apabila  si DC itu sampe minta transport jangan dikasih karena itu bukan kewajiban nasabah, sekali dikasih biasanya bikin ketagihan dan akan datang terus minta uang transport lagi.</p>
<p style="text-align: justify;">Besok-besok kalo datang lagi minta kembalikan aja uang transport yang sudah terlanjur dikasih dan sudah dia bawa trus usir suruh pergi.</p>
<p style="text-align: justify;">Memang tidak ada bukti setoran pak sama sekali. Baik pak, nanti kalau ada yang datang lagi untuk menagih hutang kakak saya, berarti saya biarkan saja ya pak gak usah saya kasih uang lagi.</p>
<p style="text-align: justify;">Terima kasih ya pak, jadi keluarga tidak harus bertanggung jawab ya pak atas hutang-hutang kakak soalnya kakak masih pakai alamat rumah ibu. Sedangkan dirumah itu, saya cuma tinggal bersama ibu. Kadang kalau saya pergi ibu sendirian saja dirumah, kasihan ibu kadang harus hadapi DC sendirian.</p>
<p style="text-align: justify;">Titipkan aja sama tetangga atau hansip atau satpam supaya ibu ada yg bantu, beri fee pada mereka. Jadi kalo pas ada DC datang para petugas itu langsung bertindak.</p>
<p style="text-align: justify;">Ya pak, terimakasih ilmunya.</p>
<p style="text-align: justify;">Semoga bermanfaat&#8230;</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.samuraijagoan.com/2012/01/24/jika-tidak-paham-kedit-adalah-sebuah-perangkap/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>orang Indonesia selalu saja gemar bersikap sinis dan mengejek diri sendiri ‘apa mungkin orang Indonesia bikin pesawat terbang?’</title>
		<link>http://www.samuraijagoan.com/2012/01/18/orang-indonesia-selalu-saja-gemar-bersikap-sinis-dan-mengejek-diri-sendiri-%e2%80%98apa-mungkin-orang-indonesia-bikin-pesawat-terbang%e2%80%99/</link>
		<comments>http://www.samuraijagoan.com/2012/01/18/orang-indonesia-selalu-saja-gemar-bersikap-sinis-dan-mengejek-diri-sendiri-%e2%80%98apa-mungkin-orang-indonesia-bikin-pesawat-terbang%e2%80%99/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 18 Jan 2012 04:15:19 +0000</pubDate>
		<dc:creator>samurai</dc:creator>
				<category><![CDATA[Entrepreneurship]]></category>
		<category><![CDATA[bisnis]]></category>
		<category><![CDATA[bisnis joss dan kuliner mak nyuss]]></category>
		<category><![CDATA[buku]]></category>
		<category><![CDATA[bumbu pecel enak]]></category>
		<category><![CDATA[Business Success]]></category>
		<category><![CDATA[bussiness]]></category>
		<category><![CDATA[entrepreneur]]></category>
		<category><![CDATA[entrepreneur bodoh]]></category>
		<category><![CDATA[entrepreneur pemberontak]]></category>
		<category><![CDATA[entrepreneur university]]></category>
		<category><![CDATA[guru]]></category>
		<category><![CDATA[harian surya]]></category>
		<category><![CDATA[ilmu]]></category>
		<category><![CDATA[invest]]></category>
		<category><![CDATA[investasi]]></category>
		<category><![CDATA[investor]]></category>
		<category><![CDATA[jagoan]]></category>
		<category><![CDATA[jangan ada dusta diantara kita]]></category>
		<category><![CDATA[jangan berpikir]]></category>
		<category><![CDATA[Jangan Berpikir Jadi Pengusaha]]></category>
		<category><![CDATA[Jangan berpikir jadi pengusaha & jangan pernah berpikir menjadi entrepreneur]]></category>
		<category><![CDATA[jangan berpikir jadi pengusaha dan jangan pernah berpikir jadi entrepreneur]]></category>
		<category><![CDATA[jawa pos]]></category>
		<category><![CDATA[kaki diatas kepala di bawah]]></category>
		<category><![CDATA[kawan]]></category>
		<category><![CDATA[kommmbis]]></category>
		<category><![CDATA[konsisten]]></category>
		<category><![CDATA[koran]]></category>
		<category><![CDATA[mastermind]]></category>
		<category><![CDATA[mastermind juara]]></category>
		<category><![CDATA[mentor]]></category>
		<category><![CDATA[menulis]]></category>
		<category><![CDATA[mm juara]]></category>
		<category><![CDATA[motivator]]></category>
		<category><![CDATA[nasi pecel]]></category>
		<category><![CDATA[news]]></category>
		<category><![CDATA[pecel]]></category>
		<category><![CDATA[pecel wenmit]]></category>
		<category><![CDATA[pemberontak]]></category>
		<category><![CDATA[pembicara]]></category>
		<category><![CDATA[provokator]]></category>
		<category><![CDATA[sahabat]]></category>
		<category><![CDATA[samurai]]></category>
		<category><![CDATA[samurai membangun pondasi bisnis tanpa pedang]]></category>
		<category><![CDATA[sec]]></category>
		<category><![CDATA[seminar]]></category>
		<category><![CDATA[surabaya entrepreneur club]]></category>
		<category><![CDATA[surat kabar]]></category>
		<category><![CDATA[surya]]></category>
		<category><![CDATA[tangan diatas]]></category>
		<category><![CDATA[tda]]></category>
		<category><![CDATA[TDA nGalam]]></category>
		<category><![CDATA[tda surabaya]]></category>
		<category><![CDATA[tersesat ke jalan yang benar]]></category>
		<category><![CDATA[tiru]]></category>
		<category><![CDATA[tulis]]></category>
		<category><![CDATA[ukm]]></category>
		<category><![CDATA[ukm jatim]]></category>
		<category><![CDATA[universitas airlangga]]></category>
		<category><![CDATA[universitas airlangga surabaya]]></category>
		<category><![CDATA[wenmit]]></category>
		<category><![CDATA[wenmit pecel]]></category>
		<category><![CDATA[wirausahawan]]></category>
		<category><![CDATA[workshop]]></category>
		<category><![CDATA[writers]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.samuraijagoan.com/?p=1927</guid>
		<description><![CDATA[KUNJUNGAN BAPAK BJ HABIBIE
Kantor Manajemen Garuda Indonesia
Garuda City Complex, Bandara Soekarno-Hatta
12 Januari 2012
Pada usianya 74 tahun, mantan Presiden RI, BJ Habibie secara mendadak mengunjungi fasilitas Garuda Indonesia didampingi oleh putra sulung, Ilham Habibie dan keponakannya(?), Adri Subono, juragan Java Musikindo.
Kunjungan beliau dan rombongan disambut oleh President &#38; CEO, Bapak Emirsyah Satar disertai seluruh Direksi dan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;">KUNJUNGAN BAPAK BJ HABIBIE<br />
Kantor Manajemen Garuda Indonesia<br />
Garuda City Complex, Bandara Soekarno-Hatta<br />
12 Januari 2012</p>
<p style="text-align: justify;">Pada usianya 74 tahun, mantan Presiden RI, BJ Habibie secara mendadak mengunjungi fasilitas Garuda Indonesia didampingi oleh putra sulung, Ilham Habibie dan keponakannya(?), Adri Subono, juragan Java Musikindo.<span id="more-1927"></span></p>
<p style="text-align: justify;">Kunjungan beliau dan rombongan disambut oleh President &amp; CEO, Bapak Emirsyah Satar disertai seluruh Direksi dan para VP serta Area Manager yang sedang berada di Jakarta.</p>
<p style="text-align: justify;">Dalam kunjungan ini, diputar video mengenai Garuda Indonesia Experience dan presentasi perjalanan kinerja Garuda Indonesia sejak tahun 2005 hingga tahun 2015 menuju Quantum Leap.</p>
<p style="text-align: justify;">Sebagai “balasan” pak Habibie memutarkan video tentang penerbangan perdana N250 di landasan bandara Husein Sastranegara, IPTN Bandung tahun 1995 (tujuh belas tahun yang lalu!).</p>
<p style="text-align: justify;">Entah, apa pasalnya dengan memutar video ini?</p>
<p style="text-align: justify;">Video N250 bernama Gatotkaca terlihat roll-out kemudian tinggal landas secara mulus di-</p>
<p style="text-align: justify;">escort oleh satu pesawat latih dan sebuah pesawat N235. Pesawat N250 jenis Turboprop dan teknologi glass cockpit dengan kapasitas 50 penumpang terus mengudara di angkasa Bandung.</p>
<p style="text-align: justify;">Dalam video tsb, tampak para hadirin yang menyaksikan di pelataran parkir, antara lain Presiden RI Bapak Soeharto dan ibu, Wapres RI bapak Soedarmono, para Menteri dan para pejabat teras Indonesia serta para teknisi IPTN. Semua bertepuk tangan dan mengumbar senyum kebanggaan atas keberhasilan kinerja N250. Bapak Presiden kemudian berbincang melalui radio komunikasi dengan pilot N250 yang di udara, terlihat pak Habibie mencoba mendekatkan telinganya di headset yang dipergunakan oleh Presiden Soeharto karena ingin ikut mendengar dengan pilot N250.</p>
<p style="text-align: justify;">N250 sang Gatotkaca kembali pangkalan setelah melakukan pendaratan mulus di landasan&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;</p>
<p style="text-align: justify;">Di hadapan kami, BJ Habibie yang berusia 74 tahun menyampaikan cerita yang lebih kurang sbb:</p>
<p style="text-align: justify;">“Dik, anda tahu&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;..saya ini lulus SMA tahun 1954!” beliau membuka pembicaraan dengan gayanya yang khas penuh semangat dan memanggil semua hadirin dengan kata “Dik” kemudian secara lancar beliau melanjutkan&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;..“Presiden Soekarno, Bapak Proklamator RI, orator paling unggul, &#8230;&#8230;.itu sebenarnya memiliki visi yang luar biasa cemerlang! Ia adalah Penyambung Lidah Rakyat! Ia tahu persis sebagai Insinyur&#8230;&#8230;&#8230;Indonesia dengan geografis ribuan pulau, memerlukan penguasaan Teknologi yang berwawasan nasional yakni Teknologi Maritim dan Teknologi Dirgantara. Kala itu, tak ada ITB dan tak ada UI. Para pelajar SMA unggulan berbondong-bondong disekolahkan oleh Presiden Soekarno ke luar negeri untuk menimba ilmu teknologi Maritim dan teknologi dirgantara. Saya adalah rombongan kedua diantara ratusan pelajar SMA yang secara khusus dikirim ke berbagai negara. Pendidikan kami di luar negeri itu bukan pendidikan kursus kilat tapi sekolah bertahun-tahun sambil bekerja praktek. Sejak awal saya hanya tertarik dengan ‘how to build commercial aircraft’ bagi Indonesia. Jadi sebenarnya Pak Soeharto, Presiden RI kedua hanya melanjutkan saja program itu, beliau juga bukan pencetus ide penerapan ‘teknologi’ berwawasan nasional di Indonesia. Lantas kita bangun perusahaan-perusahaan strategis, ada PT PAL dan salah satunya adalah IPTN.</p>
<p style="text-align: justify;">Sekarang Dik,&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;anda semua lihat sendiri&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;..N250 itu bukan pesawat asal-asalan dibikin! Pesawat itu sudah terbang tanpa mengalami ‘Dutch Roll’ (istilah penerbangan untuk pesawat yang ‘oleng’) berlebihan, tenologi pesawat itu sangat canggih dan dipersiapkan untuk 30 tahun kedepan, diperlukan waktu 5 tahun untuk melengkapi desain awal, satu-satunya pesawat turboprop di dunia yang mempergunakan teknologi ‘Fly by Wire’ bahkan sampai hari ini. Rakyat dan negara kita ini membutuhkan itu! Pesawat itu sudah terbang 900 jam (saya lupa persisnya 900 atau 1900 jam) dan selangkah lagi masuk program sertifikasi FAA. IPTN membangun khusus pabrik pesawat N250 di Amerika dan Eropa untuk pasar negara-negara itu.Namun, orang Indonesia selalu saja gemar bersikap sinis dan mengejek diri sendiri ‘apa mungkin orang Indonesia bikin pesawat terbang?’</p>
<p style="text-align: justify;">Tiba-tiba, Presiden memutuskan agar IPTN ditutup dan begitu pula dengan industri strategis lainnya.</p>
<p style="text-align: justify;">Dik tahu&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;.di dunia ini hanya 3 negara yang menutup industri strategisnya, satu Jerman karena trauma dengan Nazi, lalu Cina (?) dan Indonesia&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;.</p>
<p style="text-align: justify;">Sekarang, semua tenaga ahli teknologi Indonesia terpaksa diusir dari negeri sendiri dan mereka bertebaran di berbagai negara, khususnya pabrik pesawat di Bazil, Canada, Amerika dan Eropa&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;.</p>
<p style="text-align: justify;">Hati siapa yang tidak sakit menyaksikan itu semua&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;?</p>
<p style="text-align: justify;">Saya bilang ke Presiden, kasih saya uang 500 juta Dollar dan N250 akan menjadi pesawat yang terhebat yang mengalahkan ATR, Bombardier, Dornier, Embraer dll dan kita tak perlu tergantung dengan negara manapun.</p>
<p style="text-align: justify;">Tapi keputusan telah diambil dan para karyawan IPTN yang berjumlah 16 ribu harus mengais rejeki di negeri orang dan gilanya lagi kita yang beli pesawat negara mereka!”</p>
<p style="text-align: justify;">Pak Habibie menghela nafas&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;..</p>
<p style="text-align: justify;">Ini pandangan saya mengenai cerita pak Habibie di atas;</p>
<p style="text-align: justify;">Sekitar tahun 1995, saya ditugaskan oleh Manager Operasi (JKTOF) kala itu, Capt. Susatyawanto untuk masuk sebagai salah satu anggota tim Airline Working Group di IPTN dalam kaitan produksi pesawat jet sekelas B737 yang dikenal sebagai N2130 (kapasitas 130 penumpang). Saya bersyukur, akhirnya ditunjuk sebagai Co-Chairman Preliminary Flight Deck Design N2130 yang langsung bekerja dibawah kepala proyek N2130 adalah Ilham Habibie. Kala itu N250 sedang uji coba terus-menerus oleh penerbang test pilot (almarhum) Erwin. Saya turut mendesain rancang-bangun kokpit N2130 yang serba canggih berdasarkan pengetahuan teknis saat menerbangkan McDonnel Douglas MD11. Kokpit N2130 akan menjadi mirip MD11 dan merupakan kokpit pesawat pertama di dunia yang mempergunakan LCD pada panel instrumen (bukan CRT sebagaimana kita lihat sekarang yang ada di pesawat B737NG). Sebagian besar fungsi tampilan layar di kokpit juga mempergunakan “track ball atau touch pad” sebagaimana kita lihat di laptop. N2130 juga merupakan pesawat jet single aisle dengan head room yang sangat besar yang memungkinkan penumpang memasuki tempat duduk tanpa perlu membungkukkan badan. Selain high speed sub-sonic, N2130 juga sangat efisien bahan bakar karena mempergunakan winglet, jauh sebelum winglet dipergunakan di beberapa pesawat generasi masa kini.</p>
<p style="text-align: justify;">Saya juga pernah menguji coba simulator N250 yang masih prototipe pertama&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;..</p>
<p style="text-align: justify;">N2130 narrow body jet engine dan N250 twin turboprop, keduanya sangat handal dan canggih kala itu&#8230;&#8230;&#8230;bahkan hingga kini.</p>
<p style="text-align: justify;">Lamunan saya ini, berkecamuk di dalam kepala manakala pak Habibie bercerita soal N250, saya memiliki kekecewaan yang yang sama dengan beliau, seandainya N2130 benar-benar lahir&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;.kita tak perlu susah-susah membeli B737 atau Airbus 320.</p>
<p style="text-align: justify;">Pak Habibie melanjutkan pembicaraannya&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;..</p>
<p style="text-align: justify;">“Hal yang sama terjadi pada prototipe pesawat jet twin engines narrow body, itu saya tunjuk Ilham sebagai Kepala Proyek N2130. Ia bukan karena anak Habibie, tapi Ilham ini memang sekolah khusus mengenai manufakturing pesawat terbang, kalau saya sebenarnya hanya ahli dalam bidang metalurgi pesawat terbang. Kalau saja N2130 diteruskan, kita semua tak perlu tergantung dari Boeing dan Airbus untuk membangun jembatan udara di Indonesia”.</p>
<p style="text-align: justify;">“Dik, dalam industri apapun kuncinya itu hanya satu QCD,</p>
<p style="text-align: justify;">- Q itu Quality, Dik, anda harus buat segala sesuatunya berkualitas tinggi dan konsisten?</p>
<p style="text-align: justify;">- C itu Cost, Dik, tekan harga serendah mungkin agar mampu bersaing dengan produsen sejenis?</p>
<p style="text-align: justify;">- D itu Delivery, biasakan semua produksi dan outcome berkualitas tinggi dengan biaya paling efisien dan disampaikan tepat waktu! Itu saja!”</p>
<p style="text-align: justify;">Pak Habibie melanjutkan penjelasan tentang QCD sbb:</p>
<p style="text-align: justify;">“Kalau saya upamakan, Q itu nilainya 1, C nilainya juga 1 lantas D nilainya 1 pula, jika dijumlah maka menjadi 3. Tapi cara kerja QCD tidak begitu Dik&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;.organisasi itu bekerja saling sinergi sehingga yang namanya QCD itu bisa menjadi 300 atau 3000 atau bahkan 30.000 sangat tergantung bagaimana anda semua mengerjakannya, bekerjanya harus pakai hati Dik&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;”</p>
<p style="text-align: justify;">Tiba-tiba, pak Habibie seperti merenung sejenak mengingat-ingat sesuatu &#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;</p>
<p style="text-align: justify;">“Dik, &#8230;&#8230;&#8230;.saya ini memulai segala sesuatunya dari bawah, sampai saya ditunjuk menjadi Wakil Dirut perusahaan terkemuka di Jerman dan akhirnya menjadi Presiden RI, itu semua bukan kejadian tiba-tiba. Selama 48 tahun saya tidak pernah dipisahkan dengan Ainun, &#8230;&#8230;&#8230;..ibu Ainun istri saya. Ia ikuti kemana saja saya pergi dengan penuh kasih sayang dan rasa sabar. Dik, kalian barangkali sudah biasa hidup terpisah dengan istri, you pergi dinas dan istri di rumah, tapi tidak dengan saya. Gini ya&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;saya mau kasih informasi&#8230;&#8230;&#8230;.. Saya ini baru tahu bahwa ibu Ainun mengidap kanker hanya 3 hari sebelumnya, tak pernah ada tanda-tanda dan tak pernah ada keluhan keluar dari ibu&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;”</p>
<p style="text-align: justify;">Pak Habibie menghela nafas panjang dan tampak sekali ia sangat emosional serta mengalami luka hati yang mendalam&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;..seisi ruangan hening dan turut serta larut dalam emosi kepedihan pak Habibie, apalagi aku tanpa terasa air mata mulai menggenang.</p>
<p style="text-align: justify;">Dengan suara bergetar dan setengah terisak pak Habibie melanjutkan&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;</p>
<p style="text-align: justify;">“Dik, kalian tau&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;..2 minggu setelah ditinggalkan ibu&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;suatu hari, saya pakai piyama tanpa alas kaki dan berjalan mondar-mandir di ruang keluarga sendirian sambil memanggil-manggil nama ibu&#8230;&#8230;&#8230; Ainun&#8230;&#8230;&#8230; Ainun &#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;.. Ainun &#8230;&#8230;&#8230;&#8230;..saya mencari ibu di semua sudut rumah.</p>
<p style="text-align: justify;">Para dokter yang melihat perkembangan saya sepeninggal ibu berpendapat ‘Habibie bisa mati dalam waktu 3 bulan jika terus begini&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;..’ mereka bilang ‘Kita (para dokter) harus tolong Habibie’.</p>
<p style="text-align: justify;">Para Dokter dari Jerman dan Indonesia berkumpul lalu saya diberinya 3 pilihan;</p>
<p style="text-align: justify;">1. Pertama, saya harus dirawat, diberi obat khusus sampai saya dapat mandiri meneruskan hidup. Artinya saya ini gila dan harus dirawat di Rumah Sakit Jiwa!<br />
2. Opsi kedua, para dokter akan mengunjungi saya di rumah, saya harus berkonsultasi terus-menerus dengan mereka dan saya harus mengkonsumsi obat khusus. Sama saja, artinya saya sudah gila dan harus diawasi terus&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;<br />
3. Opsi ketiga, saya disuruh mereka untuk menuliskan apa saja mengenai Ainun, anggaplah saya bercerita dengan Ainun seolah ibu masih hidup.</p>
<p style="text-align: justify;">Saya pilih opsi yang ketiga&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;.”</p>
<p style="text-align: justify;">Tiba-tiba, pak Habibie seperti teringat sesuatu (kita yang biasa mendengarkan beliau juga pasti maklum bahwa gaya bicara pak Habibie seperti meloncat kesana-kemari dan kadang terputus karena proses berpikir beliau sepertinya lebih cepat dibandingkan kecepatan berbicara dalam menyampaikan sesuatu) &#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;. ia melanjutkan pembicaraannya;</p>
<p style="text-align: justify;">“Dik, hari ini persis 600 hari saya ditinggal Ainun&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;..dan hari ini persis 597 hari Garuda Indonesia menjemput dan memulangkan ibu Ainun dari Jerman ke tanah air Indonesia&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;.</p>
<p style="text-align: justify;">Saya tidak mau menyampaikan ucapan terima kasih melalui surat&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;. saya menunggu hari baik, berminggu-minggu dan berbulan-bulan untuk mencari momen yang tepat guna menyampaikan isi hati saya. Hari ini didampingi anak saya Ilham dan keponakan saya, Adri maka saya, Habibie atas nama seluruh keluarga besar Habibie mengucapkan terima kasih sebesar-besarnya, kalian, Garuda Indonesia telah mengirimkan sebuah Boeing B747-400 untuk menjemput kami di Jerman dan memulangkan ibu Ainun ke tanah air bahkan memakamkannya di Taman Makam Pahlawan. Sungguh suatu kehormatan besar bagi kami sekeluarga. Sekali lagi, saya mengucapkan terima kasih atas bantuan Garuda Indonesia”</p>
<p style="text-align: justify;">Seluruh hadirin terhenyak dan saya tak kuasa lagi membendung air mata&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;</p>
<p style="text-align: justify;">Setelah jeda beberapa waktu, pak Habibie melanjutkan pembicaraannya;</p>
<p style="text-align: justify;">“Dik, sebegitu banyak ungkapan isi hati kepada Ainun, lalu beberapa kerabat menyarankan agar semua tulisan saya dibukukan saja, dan saya menyetujui&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;</p>
<p style="text-align: justify;">Buku itu sebenarnya bercerita tentang jalinan kasih antara dua anak manusia. Tak ada unsur kesukuan, agama, atau ras tertentu. Isi buku ini sangat universal, dengan muatan budaya nasional Indonesia. Sekarang buku ini atas permintaan banyak orang telah diterjemahkan ke beberapa bahasa, antara lain Inggris, Arab, Jepang&#8230;.. (saya lupa persisnya, namun pak Habibie menyebut 4 atau 5 bahasa asing).Sayangnya buku ini hanya dijual di satu toko buku (pak Habibie menyebut nama satu toko buku besar), sudah dicetak 75.000 eksemplar dan langsung habis. Banyak orang yang ingin membaca buku ini tapi tak tahu dimana belinya. Beberapa orang di daerah di luar kota besar di Indonesia juga mengeluhkan dimana bisa beli buku ini di kota mereka.</p>
<p style="text-align: justify;">Dik, asal you tahu&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;semua uang hasil penjualan buku ini tak satu rupiahpun untuk memperkaya Habibie atau keluarga Habibie. Semua uang hasil penjualan buku ini dimasukkan ke rekening Yayasan yang dibentuk oleh saya dan ibu Ainun untuk menyantuni orang cacat, salah satunya adalah para penyandang tuna netra. Kasihan mereka ini sesungguhnya bisa bekerja dengan nyaman jika bisa melihat.</p>
<p style="text-align: justify;">Saya berikan diskon 30% bagi pembeli buku yang jumlah besar bahkan saya tambahkan lagi diskon 10% bagi mereka karena saya tahu, mereka membeli banyak buku pasti untuk dijual kembali ke yang lain.</p>
<p style="text-align: justify;">Sekali lagi, buku ini kisah kasih universal anak manusia dari sejak tidak punya apa-apa sampai menjadi Presiden Republik Indonesia dan Ibu Negara. Isinya sangat inspiratif&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;.”</p>
<p style="text-align: justify;">(pada kesempatan ini pak Habibie meminta sesuatu dari Garuda Indonesia namun tidak saya tuliskan di sini mengingat hal ini masalah kedinasan).</p>
<p style="text-align: justify;">Saya menuliskan kembali pertemuan pak BJ Habibie dengan jajaran Garuda Indonesia karena banyak kisah inspiratif dari obrolan tersebut yang barangkali berguna bagi siapapun yang tidak sempat menghadiri pertemuan tsb. Sekaligus mohon maaf jika ada kekurangan penulisan disana-sini karena tulisan ini disusun berdasarkan ingatan tanpa catatan maupun rekaman apapun.</p>
<p>Jakarta, 12 Januari 2012</p>
<p>Salam,</p>
<p>Capt. Novianto Herupratomo</p>
<p>(diambil dari catatan yang diposting di milist komunitas tangan diatas: oleh : Satrio, Carik TDA Solo Raya (008-00003) FB: ksatriaku | twitter: @ksatriaku SENDEN Furniture | www.KursiLesehan.com)</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.samuraijagoan.com/2012/01/18/orang-indonesia-selalu-saja-gemar-bersikap-sinis-dan-mengejek-diri-sendiri-%e2%80%98apa-mungkin-orang-indonesia-bikin-pesawat-terbang%e2%80%99/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>terjatuh akibat terlalu yakin dengan diri sendiri</title>
		<link>http://www.samuraijagoan.com/2012/01/09/terjatuh-akibat-terlalu-yakin-dengan-diri-sendiri/</link>
		<comments>http://www.samuraijagoan.com/2012/01/09/terjatuh-akibat-terlalu-yakin-dengan-diri-sendiri/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 09 Jan 2012 02:51:31 +0000</pubDate>
		<dc:creator>samurai</dc:creator>
				<category><![CDATA[Entrepreneurship]]></category>
		<category><![CDATA[bisnis]]></category>
		<category><![CDATA[bisnis joss dan kuliner mak nyuss]]></category>
		<category><![CDATA[buku]]></category>
		<category><![CDATA[bumbu pecel enak]]></category>
		<category><![CDATA[Business Success]]></category>
		<category><![CDATA[bussiness]]></category>
		<category><![CDATA[entrepreneur]]></category>
		<category><![CDATA[entrepreneur bodoh]]></category>
		<category><![CDATA[entrepreneur pemberontak]]></category>
		<category><![CDATA[entrepreneur university]]></category>
		<category><![CDATA[guru]]></category>
		<category><![CDATA[harian surya]]></category>
		<category><![CDATA[ilmu]]></category>
		<category><![CDATA[invest]]></category>
		<category><![CDATA[investasi]]></category>
		<category><![CDATA[investor]]></category>
		<category><![CDATA[jagoan]]></category>
		<category><![CDATA[jangan ada dusta diantara kita]]></category>
		<category><![CDATA[jangan berpikir]]></category>
		<category><![CDATA[Jangan Berpikir Jadi Pengusaha]]></category>
		<category><![CDATA[Jangan berpikir jadi pengusaha & jangan pernah berpikir menjadi entrepreneur]]></category>
		<category><![CDATA[jangan berpikir jadi pengusaha dan jangan pernah berpikir jadi entrepreneur]]></category>
		<category><![CDATA[jawa pos]]></category>
		<category><![CDATA[kaki diatas kepala di bawah]]></category>
		<category><![CDATA[kawan]]></category>
		<category><![CDATA[kommmbis]]></category>
		<category><![CDATA[konsisten]]></category>
		<category><![CDATA[koran]]></category>
		<category><![CDATA[mastermind]]></category>
		<category><![CDATA[mastermind juara]]></category>
		<category><![CDATA[mentor]]></category>
		<category><![CDATA[menulis]]></category>
		<category><![CDATA[mm juara]]></category>
		<category><![CDATA[motivator]]></category>
		<category><![CDATA[nasi pecel]]></category>
		<category><![CDATA[news]]></category>
		<category><![CDATA[pecel]]></category>
		<category><![CDATA[pecel wenmit]]></category>
		<category><![CDATA[pemberontak]]></category>
		<category><![CDATA[pembicara]]></category>
		<category><![CDATA[provokator]]></category>
		<category><![CDATA[sahabat]]></category>
		<category><![CDATA[samurai]]></category>
		<category><![CDATA[samurai membangun pondasi bisnis tanpa pedang]]></category>
		<category><![CDATA[sec]]></category>
		<category><![CDATA[seminar]]></category>
		<category><![CDATA[surabaya entrepreneur club]]></category>
		<category><![CDATA[surat kabar]]></category>
		<category><![CDATA[surya]]></category>
		<category><![CDATA[tangan diatas]]></category>
		<category><![CDATA[tda]]></category>
		<category><![CDATA[TDA nGalam]]></category>
		<category><![CDATA[tda surabaya]]></category>
		<category><![CDATA[tersesat ke jalan yang benar]]></category>
		<category><![CDATA[tiru]]></category>
		<category><![CDATA[tulis]]></category>
		<category><![CDATA[ukm]]></category>
		<category><![CDATA[ukm jatim]]></category>
		<category><![CDATA[universitas airlangga]]></category>
		<category><![CDATA[universitas airlangga surabaya]]></category>
		<category><![CDATA[wenmit]]></category>
		<category><![CDATA[wenmit pecel]]></category>
		<category><![CDATA[wirausahawan]]></category>
		<category><![CDATA[workshop]]></category>
		<category><![CDATA[writers]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.samuraijagoan.com/?p=1924</guid>
		<description><![CDATA[Ketika cerita tentang kondisi warungnya sekarang wajah riang senior saya itu berubah murung apalagi saat beliau bercerita tentang omsetnya yang semakin melorot di 6 bulan belakangan ini.
Kisahnya diawali dengan pembelian sebuah lahan oleh beliau karena beliau pingin semakin membesarkan warung makannya yang tadinya menurut beliau sangat tidak representatif walopun rame.
Beliau pingin membuat pelanggannya nyaman saat [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;">Ketika cerita tentang kondisi warungnya sekarang wajah riang senior saya itu berubah murung apalagi saat beliau bercerita tentang omsetnya yang semakin melorot di 6 bulan belakangan ini.<span id="more-1924"></span></p>
<p style="text-align: justify;">Kisahnya diawali dengan pembelian sebuah lahan oleh beliau karena beliau pingin semakin membesarkan warung makannya yang tadinya menurut beliau sangat tidak representatif walopun rame.</p>
<p style="text-align: justify;">Beliau pingin membuat pelanggannya nyaman saat makan, untuk itu dibelilah sebidang tanah dari keuntungan 3 tahun buka warung makan.</p>
<p style="text-align: justify;">Letak lokasinya memang gak strategis warungnya yang pertama, letak yang sekarang jauh masuk ke dalam kampung, beliau beli bukannya tanpa perhitungan, beliau beranggapan dengan ramainya warung yang ada sekarang dan banyaknya pelanggan setia maka jika warung dipindah ke tempat yang agak &#8216;masuk&#8217; tapi di beri fasilitas lebih seperti kenyamanan dan hot spot maka pelanggan akan tetap mengejarnya apalagi kawalitas rasa dan harga murah tetap dijaga.</p>
<p style="text-align: justify;">Ternyata dugaannya keliru banget, benar-benar salah, setelah warungnya yang jauh lebih bagus selesai berdiri dengan gagah maka yang terjadi adalah hampir gak ada pelanggannya yang datang, warungnya bener-bener sepi.</p>
<p style="text-align: justify;">Rupanya dugaanya salah, rupanya lokasi tetep menjadi faktor penting dan utama disamping kwalitas rasa dan harga yang murah.</p>
<p style="text-align: justify;">Rupanya jika buka warung makan yang tempatnya gak strategis, walopun pindahan dari warung yang tadinya rame dan punya pelanggan yang setia, pelanggan-pelanggan itu ternyata bisa benar-bener tidak datang.</p>
<p style="text-align: justify;">Dan kalopun ada yang datang maka yang datang itu bener-bener pelanggan yang fanatik dan pelanggan fanatik  itupun kalo datang cuman sebulan sekali kalo dia kangen aja ama makanan kegemarannya di warung senior saya itu.</p>
<p style="text-align: justify;">Kondisi seperti itulah yang mau di sharingkan ke saya maka saya diundang ke jogja untuk mengunjungi warungnya&#8230;.</p>
<p style="text-align: justify;">Ketika saya sampai disana pertamakali saya bener-bener gak menyangka kalo ada warung makan di tengah-tengah perkampungan padat itu. Lokasi warungnya tersamar oleh rumah-rumah yang ada di sekitarnya sehingga dari ujung jalan tidah nampak.</p>
<p style="text-align: justify;">Saya berdiri persis di depan warung makan itu, selain spanduk besar yang menutupi sebagian dindindingnya mulai dari genting sampai 1/4 dinding depan warung ndak ada tanda-tanda lain yang menunjukkan bangunan itu sebuah warung makan.</p>
<p style="text-align: justify;">Spanduk itu hanya menjelaskan nama warung makan itu sementara menu apa yang disajikan disitu tidak mudah dibaca karena ditulis oleh huruf yang kecil-kecil. Padahal warung makan itu punya masakan unggulan yang disukai oleh pelanggannya sebelum pindah ke lokasi yang baru ini.</p>
<p style="text-align: justify;">Semuanya gak nampak&#8230;</p>
<p style="text-align: justify;">Saya merasa kalo nggak karena diajak singgah oleh ownernya mungkin juga gak menyangka kalo bangunan yang saya hadapi itu adalah warung makan. Wong saya yang niat mampir saja gak tau apalagi orang lain yang sekedar lewat pasti tambah nggak ngeh lagi.</p>
<p style="text-align: justify;">Ketika saya sampaikan kondisi tersebut pada senior saya, beliaupun mengakui kalo apa yang saya sampaikan itu benar adanya. Banyak yang gak tau kebreadaan warung makannya itu, walaupun pas lewat di muka warung tersebut.</p>
<p style="text-align: justify;">Senior itu pun menambahkan yang saya sampaikan barusan sebenernya sudah dia duga juga bahkan beliau menambahkan kalo dia juga curiga yang bikin pengunjung warungnya sepi bukan hanya gak nampak dari luar tapi juga ada kemungkinan karena mahasiswa yang kos disekitar situ takut masuk ke warungnya akibat menganggap harga di warungnya itu mahal.</p>
<p style="text-align: justify;">Beliau juga bilang kalo rasa takut dari para mahasiswa itu timbul karena fisik bangunan warungnya itu cukup mewah untuk ukuran kampung.</p>
<p style="text-align: justify;">Kaget juga saya kalo ternyata senior saya ini sudah mengira-ira kenapa warung makannya sepi, rupanya beliau juga sudah melakukan analisa dan analisanya itu termasuk juga yang tadinya akan saya sampaikan ke beliau.</p>
<p style="text-align: justify;">Langsung saja saya tanya balik kalo sudah punya dugaan seperti itu kok gak langsung bergerak untuk melakukan pembenahan-pembenahan agar warungnya bisa rame dan nggak sepi berbulan-bulan seperti sekarang ini.</p>
<p style="text-align: justify;">Langkah yang harus diambil juga simple, gak rumit dan makan biaya banyak. Paling hanya merubah spanduk saja yang akan perlu biaya semetara langkah lainnya gak perlu keluar ongkos lagi.</p>
<p style="text-align: justify;">Saya menjelaskan, menempatkan meja pajang makanan dari dalam ruangan ke teras depan itu gak pake biaya dan akan bikin mudah terlihat dari jauh, simple banget untuk menandakan sebuah warung makan.</p>
<p style="text-align: justify;">Para pelayan yang pada duduk di dalam ruangan sebaiknya pindah duduk di teras. Teras yang tadinya kosong agar diberi meja dan kursi supaya para pelayan bisa duduk disitu selain memberi kesan rame juga jadi lebih mudah buat menyapa pelanggan.</p>
<p style="text-align: justify;">Saat saya menarik nafas sebelum melanjutkan saran saya, senior itu sambil tersenyum berkata bahwa dulu di warungnya yang lama apa yang saya sampaikan padanya barusan sebenernya sudah dia kerjakan.</p>
<p style="text-align: justify;">Saya melongo&#8230;</p>
<p style="text-align: justify;">Senior itu melanjutkan ceritanya, diwarungnya yang lama yang bangunanya lebih jelek dia melakukan promosi habisi-habisan. Seperti menaruh meja pajang makanan di depan, memasak makanan andalannya yang harus dibakarpun di depan warungnya sehingga saat masak asap masakannya yang sedap itu berhembus kemana-mana menggoda selera dan membuat orang mampir akibat kesibukan tersebut.</p>
<p style="text-align: justify;">Bukan itu saja, bahkan beliau juga menyuruh juru masaknya tetep membuat asap bakaran itu terus mengepul seolah-olah diwarung itu banyak sekali yang pesan makanan yang terkesan dari asap harum yang tak henti-hentinya menggoda padahal kondisi sesungguhnya sedang tidak ada pelanggan <img src='http://www.samuraijagoan.com/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' /> </p>
<p style="text-align: justify;">Bahkan beliau juga punya trik menarik dengan membiarkan piring dan gelas kotor tetap berserak di meja dan tidak segera dibersihkan. Tujuannya agar pelanggan yang datang kemudian selalu melihat tumpukan piring dan gelas kotor bekas orang makan disitu lalu berpikir dan berasumsi kalo warung tersebut rame banget sampe gak sempat membersihkan meja sebelum pelanggan berikutnya datang.</p>
<p style="text-align: justify;">Saya makin melongo, beliau ini ternyata punya banyak trik bagus untuk promosi yang membuat kesan warungnya selalu rame dan berhasil memanen pelanggan akibat menggunakan trik-triknya itu.</p>
<p style="text-align: justify;">Tapi kenapa sekarang beliau tidak menggunakannya lag trik tersebut? Beliau toh gak lupa, apa beliau terlena oleh keberhasilannya sebelum pindah dan membuka warung mewah di tempat yang gak strategis ini?</p>
<p style="text-align: justify;">Gak habis pikir saya&#8230;</p>
<p style="text-align: justify;">Saya jadi teringat per kataan orang tua bijak itu, kalo kita bisa terjatuh akibat terlalu yakin dengan diri kita sendiri&#8230;</p>
<p style="text-align: justify;">Apakah hal itu yang terjadi pada senior saya ini?</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.samuraijagoan.com/2012/01/09/terjatuh-akibat-terlalu-yakin-dengan-diri-sendiri/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>sebuah diskusi ringan tentang credit, yang gak menarik&#8230;</title>
		<link>http://www.samuraijagoan.com/2011/12/16/sebuah-diskusi-ringan-tentang-credit-yang-gak-menarik/</link>
		<comments>http://www.samuraijagoan.com/2011/12/16/sebuah-diskusi-ringan-tentang-credit-yang-gak-menarik/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 16 Dec 2011 02:14:35 +0000</pubDate>
		<dc:creator>samurai</dc:creator>
				<category><![CDATA[Entrepreneurship]]></category>
		<category><![CDATA[bisnis]]></category>
		<category><![CDATA[bisnis joss dan kuliner mak nyuss]]></category>
		<category><![CDATA[buku]]></category>
		<category><![CDATA[bumbu pecel enak]]></category>
		<category><![CDATA[Business Success]]></category>
		<category><![CDATA[bussiness]]></category>
		<category><![CDATA[entrepreneur]]></category>
		<category><![CDATA[entrepreneur bodoh]]></category>
		<category><![CDATA[entrepreneur pemberontak]]></category>
		<category><![CDATA[entrepreneur university]]></category>
		<category><![CDATA[guru]]></category>
		<category><![CDATA[harian surya]]></category>
		<category><![CDATA[ilmu]]></category>
		<category><![CDATA[invest]]></category>
		<category><![CDATA[investasi]]></category>
		<category><![CDATA[investor]]></category>
		<category><![CDATA[jagoan]]></category>
		<category><![CDATA[jangan ada dusta diantara kita]]></category>
		<category><![CDATA[jangan berpikir]]></category>
		<category><![CDATA[Jangan Berpikir Jadi Pengusaha]]></category>
		<category><![CDATA[Jangan berpikir jadi pengusaha & jangan pernah berpikir menjadi entrepreneur]]></category>
		<category><![CDATA[jangan berpikir jadi pengusaha dan jangan pernah berpikir jadi entrepreneur]]></category>
		<category><![CDATA[jawa pos]]></category>
		<category><![CDATA[kaki diatas kepala di bawah]]></category>
		<category><![CDATA[kawan]]></category>
		<category><![CDATA[kommmbis]]></category>
		<category><![CDATA[konsisten]]></category>
		<category><![CDATA[koran]]></category>
		<category><![CDATA[mastermind]]></category>
		<category><![CDATA[mastermind juara]]></category>
		<category><![CDATA[mentor]]></category>
		<category><![CDATA[menulis]]></category>
		<category><![CDATA[mm juara]]></category>
		<category><![CDATA[motivator]]></category>
		<category><![CDATA[nasi pecel]]></category>
		<category><![CDATA[news]]></category>
		<category><![CDATA[pecel]]></category>
		<category><![CDATA[pecel wenmit]]></category>
		<category><![CDATA[pemberontak]]></category>
		<category><![CDATA[pembicara]]></category>
		<category><![CDATA[provokator]]></category>
		<category><![CDATA[sahabat]]></category>
		<category><![CDATA[samurai]]></category>
		<category><![CDATA[samurai membangun pondasi bisnis tanpa pedang]]></category>
		<category><![CDATA[sec]]></category>
		<category><![CDATA[seminar]]></category>
		<category><![CDATA[surabaya entrepreneur club]]></category>
		<category><![CDATA[surat kabar]]></category>
		<category><![CDATA[surya]]></category>
		<category><![CDATA[tangan diatas]]></category>
		<category><![CDATA[tda]]></category>
		<category><![CDATA[TDA nGalam]]></category>
		<category><![CDATA[tda surabaya]]></category>
		<category><![CDATA[tersesat ke jalan yang benar]]></category>
		<category><![CDATA[tiru]]></category>
		<category><![CDATA[tulis]]></category>
		<category><![CDATA[ukm]]></category>
		<category><![CDATA[ukm jatim]]></category>
		<category><![CDATA[universitas airlangga]]></category>
		<category><![CDATA[universitas airlangga surabaya]]></category>
		<category><![CDATA[wenmit]]></category>
		<category><![CDATA[wenmit pecel]]></category>
		<category><![CDATA[wirausahawan]]></category>
		<category><![CDATA[workshop]]></category>
		<category><![CDATA[writers]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.samuraijagoan.com/?p=1920</guid>
		<description><![CDATA[Sang Samurai apa kabar? Bagaimana dengan hutang-hutang Mas Samurai? Apakah Sang Samurai tetap meyakini bahwa utang harus dibayar dengan hutang? 
Haloo saya selalu dalam kondisi baik, alhamdulillah, hehehe&#8230;
Kondisi hutang-hutang saya sedang dalam proses pembayaran karena sekarang ini saya sedang bener-bener fokus untuk mencari uang agar pondasi penghasilan dan cash flow saya kembali menjadi baik sebaik [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;">Sang Samurai apa kabar? Bagaimana dengan hutang-hutang Mas Samurai? Apakah Sang Samurai tetap meyakini bahwa utang harus dibayar dengan hutang? <span id="more-1920"></span></p>
<p style="text-align: justify;">Haloo saya selalu dalam kondisi baik, alhamdulillah, hehehe&#8230;</p>
<p style="text-align: justify;">Kondisi hutang-hutang saya sedang dalam proses pembayaran karena sekarang ini saya sedang bener-bener fokus untuk mencari uang agar pondasi penghasilan dan cash flow saya kembali menjadi baik sebaik saat sebelum krisis dulu. Dengan adanya keuangan dan cash flow yang baik maka saya akan bisa memproses hutang-hutang lama saya.</p>
<p style="text-align: justify;">Saya pribadi tetep yakin seyakin-yakinnya kalo hutang itu harus tetep dibayar dengan hutang bukan dari penghasilan atau perputaran bisnis. Sebab berdasarkan yang saya ketahui bahwa hutang itu harus kita bayarkan tepat 30 hari setelah credit itu acc dan cair, sedangkan perputaran bisnis yang kita lakukan dengan menggunakan uang modal dari hutang belum tentu menghasilkan atau memberikan keuntungan pada 30 hari setelah kita gunakan uang hutang itu untuk modal.</p>
<p style="text-align: justify;">Bahkan pada masa 60-120 hari setelah uang hutang itu berputar masih belum tentu bisa memberikan hasil yang cukup untuk membayar hutang, makanya saya mending membayar hutang dengan hutang baru yang lebih mudah saya peroleh.</p>
<p style="text-align: justify;">Kecuali jika bisnis kita memang bener-bener sudah sangat sehat, penghasilan dari bisnis kita sebelum berhutang sudah bisa membayar biaya operasional sebelum kita berhutang, penghasilan dari bisnis kita sebelum berhutang juga sudah cukup untuk membayar hutang yang akan kita ambil. Jadi hutang yang kita ambil itu bener-bener bisa menumbuh kembangkan omset bisnis.</p>
<p style="text-align: justify;">Saya sih sependapat dengan Sang Samurai, bahkan menurut saya pengusaha hebat sekelas Chaerul Tanjung pun bisnis-bisnisnya belum tentu bisa melunasi hutang-hutangnya, sebab saya juga yakin seiring dengan perkembangan bisnisnya maka pasti hutang perusahaan beliau akan bertambah terus, bahkan beliau malahan membuat bank menjadi salah satu bisnisnya, saya menduga ini juga salah satu cara agar beliau gak kekurangan modal jika butuh hutang baru ?</p>
<p style="text-align: justify;">Secara bisnisnya setiap bank memang harus selalu mau ngasih tambahan pinjaman kan kepada nasabahnya yang butuh tambahan modal, dan setiap bank memang diberi target agar dana harus tersalurkan dan diputar lagi dalam bentuk kredit ke nasabahnya agar bisnis di bank tersebut juga berputar, karena pemberian kredit pada nasabah merupakan salah satu bisnis buat bank yang paling potensial. Tetapi pada kenyataannya nasabah-nasabah yang berani berhutang dengan pinjaman yang gede jarang-jarang yang mau dan berani, sehingga akhirnya yang diberi tambahan modal hutang oleh bank memang yang sudah ada dan punya hutang banyak.</p>
<p style="text-align: justify;">Bagaimana menurut Sang Samurai?</p>
<p style="text-align: justify;">Memang begitulah yang terjadi dilapangan, sering kita hanya berpikir sebagai nasabah yang butuh kredit, dimana yang butuh dan kesulitan itu cuman kita, tapi kita jarang bahkan gak pernah berpikir kalo pihak bank seringnya juga kesulitan nyari nasabah yang mau kredit padahal mereka sebagai unit bisnis yang bergerak di bidang permodalan juga punya target pengucuran dana kredit, agar bisnisnya berputar secara sehat.</p>
<p style="text-align: justify;">Buat yang sudah kebanjiran dana kredit atau modal dari bank juga mesti sadar kalo kita sebagai nasabah kredit dari lembaga perbangkan juga pasti dianggap punya batas maximal perolehan kredit oleh mereka, sehingga kalo oleh bank batas kredit yang kita peroleh sudah dianggap maksimal dan penghasilan kita juga dianggap oleh bank dah gak mungkin untuk memperoleh kredit baru maka bank pasti akan menghentikan pengucuran kredit  pada kita dan bisnis kita.</p>
<p style="text-align: justify;">Untuk itu maka maka harus punya senjata cadangan, jangan sampai bank menghentikan pemberian kredit pada kita dan bisnis kita, sebab jika hal ini terjadi dan bisnis kita belum terlalu sehat maka cahflow dan perputaran uang dalam bisnis kita bisa berantakan dan berakibat terjadinya kredit macet.</p>
<p style="text-align: justify;">Senjata Cadangan yang Sang Samurai Maksud? Apakah Maksud Sang Samurai itu adalah dengan cara membuka PT?</p>
<p style="text-align: justify;">Hahahaha, nggak harus gitu juga deh, yang penting selalu siap kalo dianggap oleh bank batas limit kredit dan hutang sudah maksimal biar gak kaget dan bingung saat itu terjadi dan bikin pola pikir kita kacau sehingga bener-bener terjadi kredit macet seperti yang pernah saya alami.</p>
<p style="text-align: justify;">Bukan hanya karena kondisi internal bisnis kita yang gak siap yang bisa berakibat terjadinya kredit macet terjadi malah yang sering terjadi kredit macet itu disebabkan karena faktor eksternal seperti ditipu oleh rekan bisnis atau kawan terdekat kita dan karena resesi ekonomi global yang semuanya gak pernak kita duga, prediksi dan kita persiapkan.</p>
<p style="text-align: justify;">Maka mesti punya rencana setiap saat&#8230;.</p>
<p style="text-align: justify;">Sang Samurai Sehat? Bagaimana buku barunya, kapan dipasarkan? Btw, bisnis apa yang oleh bank tidak bisa dinilai penuh? Dan bisnis apa yang disukai oleh bank sehingga kita selalu bisa diberi tambahan kredit?</p>
<p style="text-align: justify;">Alhamdulillah saya selalu sehat dan seep-seep aja kok ? Buku baru saya masih dalam taraf menawarkan naskahnya pada penerbit, dan menawarkan naskah buku ke penerbit itu sama sulitnya seperti menawarkan produk kita pada konsumen ?</p>
<p style="text-align: justify;">Berdasarkan pengalaman saya, bisnis yang gak bisa dinilai penuh itu adalah bisnis yang resikonya dianggap terlalu besar dan sulit diprediksi antara lain seperti kontraktor dan pertanian atau peternakan sedangkan bisnis yang disukai bank adalah bisnis perdagangan dan supplier dimana perputaran bisnisnya dianggap jelas dan pasti menurut hitungan mereka. Maka apapun bisnis kita jalani selalu bikinlah perwujudannya menjadi bisnis yang disukai oleh bank sehingga perolehan kredit yang kita inginkan selalu maksimal.</p>
<p style="text-align: justify;">Apa Kabar Sang Samurai, lagi ngurus bisnis apa akhir akhir ini?</p>
<p style="text-align: justify;">Saya tetap bisnis dan berjualan pecel kok, Wenmit Pecel Bento (http://wenmit.com/), itu memang satu-satunya bisnis yang sedang saya tekuni belakangan ini, karena bisnis kuliner memang bisnis yang saya sukai maka saya tekuni dan memang saya fokus dibidang ini.</p>
<p style="text-align: justify;">Pada kenyataanya memang bisnis kuliner apalagi jualan pecel merupakan bisnis yang kurang disukai oleh bank (tapi tidak semua bisnis kuliner itu kurang disukai oleh bank, tetep banyak bank yang suka memberikan kredit secara maksimal pada pebisnis kuliner sebab margin keuntungan dari bisnis kuliner sudah diketahui secara umum berkisar 30%-40%) dan memang agak sulit dalam bisnis yang saya jalani ini untuk memperoleh kredit yang maksimal dari bank. Karena saya menyadari nya maka saya selalu tunjukkan apa yang bank sukai dan semua persyaratan yang bank minta juga selalu saya penuhi sehingga walopun lambat kreditnya tetep bisa mengucur juga.</p>
<p style="text-align: justify;">Sang Samurai, kalo bisnis jasa (loundry) apakah kurang diminati oleh Bank untuk dibiayai?</p>
<p style="text-align: justify;">Nggak juga kok kata siapa?</p>
<p style="text-align: justify;">Kata Sang Samurai kemarin, bahwa bisnis yang disukai oleh Bank adalah perdagangan dan supplier&#8230;</p>
<p style="text-align: justify;">Yup, bener banget, tapi nggak juga terpaku secara kaku seperti itu. Yang saya sampaikan itu kan bentuk bisnis secara global dan umum.</p>
<p style="text-align: justify;">Pada kenyataan dilapangan apapun bentuk bisnisnya, jika bank merasa pada bisnis tersebut tidak mengandung resiko yang besar dan sulit diprediksi, jika bank merasa sudah mengenal bisnis tersebut, jika bank bisa menganalisa bisnis tersebut, jika bank bisa melihat secara riil bisnis itu berjalan dan berputar, jika bank bisa memonitor dengan mudah perputaran uangnya dengan melihat aktivitas laporan keuangan, mutasi rekening, nota-nota penjualan dan pembelian, jika bank bisa melihat adanya stok barang dalam bisnis tersebut, maka bank pasti suka dan akan mengucurkan kreditnya secara maksimal.</p>
<p style="text-align: justify;">Maka berdasarkan yang saya sampaikan maka yang paling umum dan gampang ditengarai perputarannya dan paling gampang di evaluasi oleh bank adalah bisnis perdagangan dan supplier yang terus tumbuh dan makin berkembang.</p>
<p style="text-align: justify;">Memang kalo dipikir lebih dalam, saya kira memang pembayaran hutang itu tidak bisa diambil dari laba bisnis, harus dibayar dengan hutang lagi. Itu sebabnya, pengusaha-pengusaha yang sudah besar, melakukan suatu trik agar dapat pinjaman gede, lalu dengan pinjaman gede itu mereka melunasi hutang-hutang mereka sebelumnya, dan begitu seterusnya, mohon tanggapan Sang Samurai.</p>
<p style="text-align: justify;">Saya kok nggak yakin mereka, para pengusaha besar itu bener-bener melunasi hutang-hutang mereka, memperbesar, menambah dan mereschedule hutang saya kira memang mereka lakukan, tapi bukan melunasi hutangnya. Kalo hutang mereka sudah lunas, lalu untuk masalah permodalan bisnisnya mereka pake apa donk? Pake investor juga bisa sih tapi rasanya akan lebih ribet dan sulit jika dibandingkan mencari modal lewat hutang bank. Dan menurut saya apakah itu dana modal dari investor atau dari bank tetep saja hutang kan, yang harus dikembalikan atau diberikan kompensasinya.</p>
<p style="text-align: justify;">Sang samurai, begini, dari beberapa literatur kisah nyata yang sempat saya baca, saya dengar dan saya ketahui, ada sebuah perusahaan yang pada awalnya punya hutang 3 milyar, lalu tahun berikutnya bank memberikan tambahan modal baru berupa kredit oleh bank, kredit tambahan atau kenaikan limit kredit yang diberikan ileh bank tersebut mulai dari nilai 500 juta sampai pada akhirnya perusahaan tersebut memperoleh kredit sebesar 15 milyar, kenaikan yang luar biasa, jika saya melihat kreditnya dimulai dari angka 3 milyar.</p>
<p style="text-align: justify;">Pada suatu saat yang dianggap tepat perusahaan itu melakukan sebuah tindakan, dia membeli sebuah hotel, dan tentunya modal pembelian hotel itu dibantu oleh bank dengan pengucuran kredit baru senilai 45 milyar. Pengusaha itu memang mengajukan kredit baru pada angka  yang jauh lebih tinggi dari harga sesungguhnya hotel yang akan dibelinya itu, karena memang dia bermaksud menggunakan uang dari kredit barunya yang dikucurkan atas pembelian hotel tadi itu sebagian saja.</p>
<p style="text-align: justify;">Dari total 45 milyar kredit yang baru dia dapatkan itu, hanya sebagian yang dia gunakan untuk modal bisnis hotelnya. Untuk bisnis hotelnya, dia hanya menggunakan sebesar 28 milyar saja sedangkan sisanya dia gunakan melunasi hutang-hutang lamanya yang total nya berjumlah sekitar 15 milyar itu&#8230;</p>
<p style="text-align: justify;">Jika itu yang dimaksudkan maka konteks yang kita bicarakan bukannya melunasi hutang, tapi melakukan pengalihan hutang, dari hutang kecil-kecil dan banyak dialihkan menjadi satu yang besar sekalian sehingga kontrol dan monitornya lebih gampang. Begitu mungkin yang dimaksudkan ya&#8230;.</p>
<p style="text-align: justify;">Saya bisa setuju dan bisa juga nggak setuju dengan situasi seperti ini.</p>
<p style="text-align: justify;">Saya setuju memang mengalihkan hutang kecil-kecil dan banyak ke sebuah hutang besar itu akan membuat kita bisa bekerja lebih efisien secara kontrol dan monitor. Tapi melunasi hutang yang kecil-kecil dengan mengubahnya menjadi hutang yang besar kan gak harus nunggu perusahaan kita gede dulu, itu bisa dilakukan kapan saja secara bertahap, dan ini biasanya kita lakukan karena kita bosan dan capek membayar angsurannya di banyak bank.</p>
<p style="text-align: justify;">Yang saya gak setuju kenapa harus menjadikan banyak hutang dari banyak bank ke satu hutang gede ke satu bank saja, itu lebih beresiko kalo menurut saya&#8230;.</p>
<p style="text-align: justify;">Maksud Sang Samurai, fokus di satu bank saja ya hutangnya&#8230;.</p>
<p style="text-align: justify;">Bukan begitu, banyak orang pinginnya gitu,  banyak orang yang pinginnya hanya fokus di satu bank saja hutangnya dan hutang itu sekalian gede di satu bank biar gak capek ngaturnya biar menjadi lebih mudah dalam pengawasannya. Tapi dengan kondisi ini malahan saya gak suka karena jadinya kita akan punya ketergantungan hanya dengan satu bank saja padahal monopoli dan ketergantungan itu dalam segala situasi kan nggak diperbolehkan sebab berbahaya sekali.</p>
<p style="text-align: justify;">Kalo saya lebih suka punya banyak hutang ke banyak bank sekaligus dan kalo bisa jumlah hutangnya gede-gede semua dengan perolehan yang maksimal semuanya ? Kemudian berdasarkan yang saya tahu jarang seorang konglonmerat yang hanya punya hutang di satu bank saja, mereka biasanya selalu punya hutang secara maksimal di beberapa bank sekaligus, minimal mereka punya hutang di tiga bank.</p>
<p style="text-align: justify;">Sang Samurai, saya barusan jalan jalan di mall, saya amati banyak bisnis di mall dan akhirnya saya pikir memang gak bisa hasil bisnis dipake untuk bayar utang, mulai dari biaya pembangunan, biaya interior, rak barang, pengadaan stok, fasilitas tambahan, biaya operasional semuanya di modali pake duit hutang kan, dan seringnya kebutuhan biaya operasional lebih gede dari uang modal apalagi jika modalnya dari hutang, nah ujung-ujungnya bisnis jadi gak bisa bayar utang, karena profit kalah cepat pertumbuhannya dari pertumbuhan kredit&#8230;..</p>
<p style="text-align: justify;">Saya kira juga begitu, ketika kita berhutang, maka angsurannya harus dibayar bulan depannya hanya sekitar 30 hari setelah kredit kita masuk ke rekening,  tapi begitu bisnis dibuka maka belum tentu 30 hari kemudian kita sudah bisa menghasilkan laba yang bisa di pake untuk perputaran bisnis, nutup biaya operasional dan untuk membayar hutang, bisnis kita yang baru kita buka itu baru bisa untung entah di bulan keberapa, bisa 3 bulan, 6 bulan bahkan lebih yang jelas jarang banget 30 hari setelah credit cair bisnis kita bisa untung.</p>
<p style="text-align: justify;">Kalo memang di semua lini bisnis seperti yang Sang Samurai katakan, lalu bagaimana dengan Banknya? Kalo Benar APA yang Sang Samurai katakan, bahwa utang harus dibayar dengan utang, kenapa sampai saat ini dunia perbankan tidak terganggu oleh kondisi tersebut??</p>
<p style="text-align: justify;">Nggak semua lini bisnis harus berhutang lagi untuk membayar hutangnya, saya sih bilangnya hanya untuk pebisnis pemula dan memang sebaiknya begitu, buat pebisnis yang bisnisnya bener-bener sudah running dan sehat maka bayarlah dengan profit sehingga hutangnya bisa menyusut.</p>
<p style="text-align: justify;">Itu jika bisnis kita memang bener-bener sudah sangat sehat, penghasilan dari bisnis kita sebelum berhutang sudah bisa membayar biaya operasional sebelum kita berhutang, penghasilan dari bisnis kita sebelum berhutang juga sudah cukup untuk membayar hutang yang akan kita ambil. Jadi hutang yang kita ambil itu bener-bener bisa menumbuh kembangkan omset bisnis.</p>
<p style="text-align: justify;">Bank sudah punya banyak keuntungan dari hutang atau kredit yang mereka berikan pada nasabahnya. Asuransi, bunga, denda, iuran tahunan, provisi, dan ancaman-serta sangsi bila hutang kita macet, itu menjadi bagian dari keuntungan bank makanya secara operasional bank tidak terpengaruh bila kita minta plafond hutang kita di naikkan terus.</p>
<p style="text-align: justify;">Apakah saldo Bank akan tergerus oleh penambahan limit kredit nasabah?? Disisi lain pada  kenyataanya dunia perbankan tetep baik baik saja, mohon pencerahannya&#8230;.</p>
<p style="text-align: justify;">Nggak lah, berapa banyak sih yang paham dan berani untuk terus menaikkan plafond pinjamannya hingga maksimal? Dibandingkan dengan seluruh jumlah penduduk indonesia, hanya sebagian kecil yang bisa memperoleh kredit dari bank, dan dari yang sebagian kecil itu hanya sedikit sekali yang paham, dan berani mengajukan kredit secara maksimal.</p>
<p style="text-align: justify;">Bahkan dari sebagian kecil orang yang bisa memperoleh kredit dari bank, lebih banyak yang gak paham memaksimalkan kredit dan gak berani meminta agar diberikan kredit secara maksimal..</p>
<p style="text-align: justify;">Jadi kalo menurut saya, jumlah hutang yang ditawarkan bank pada nasabahnya masih jauh lebih banyak daripada jumlah orang yang bisa mendapatkan kredit. Jumlah hutang yang ditawarkan bank pada nasabahnya masih jauh lebih banyak dari orang yang bisa mendapatkan kredit tapi mau dan mampu mengambil kredit secara maksimal.</p>
<p style="text-align: justify;">Kesimpulan yang ada, menurut perkiraan saya, dari melihat kondisi yang terjadi sekarang ini, terjadi jumlah plafond kredit yang ditawarkan dan menjadi target operasional bank masih jauh lebih besar dari jumlah nasabak kreditnya. Sehingga bank tetep bingung dalam menyalurkan dana kreditnya.</p>
<p style="text-align: justify;">Sang Samurai, bagaimana restrukturisasi hutang?</p>
<p style="text-align: justify;">Sebenernya restrukturisasi utang itu merupakan hak setiap nasabah bila creditnya terjadi kemacetan, tapi dilapangan banyak yang kurang paham dengan haknya ini. Ditambah lagi bank jarang sekali memberikan solusi ini sebagai jalan keluar pada nasabahnya yang macet. Bank lebih suka menakut-nakuti nasabahnya yang macet dengan cara mengirimkan tukang tagih alias debt collector untuk menagih nasabahnya dan agar nasabahnya bisa membayar lunas tagihannya yang macet itu.</p>
<p style="text-align: justify;">Sang Samurai, saya lagi baca kembali Tulisa Sang Samurai “perusahaan gede saja ngutang&#8221; nah, bagaimana sekarang kondisi hutang perusahaan gede itu? Trus mereka pake agunan apa ya?</p>
<p style="text-align: justify;">Berdasarkan berbagai literatur yang ada, baik buku, koran ataupun internet, semua memaparkan bahwa perusahaan-perusahaan gede itu semakin memperbesar hutangnya deh, dan bukannya mengurangi hutang mereka. Mereka membutuhkan hutang karena mereka butuh hutang untuk mengembangkan perusahannya dan untuk terus berekspansi, mereka memperbesar hutang karena bisa menyatakan dengan tegas kalo perusahaan mereka terus tumbuh dan selalu menghasilkan profit.</p>
<p style="text-align: justify;">Dengan laporan seperti itu bank mana yang nggak mau ngasih kredit? Semua bank pasti berlomba-lomba untuk mengucurkan kredit pada berbagai perusahaan itu. Selain bank sudah mengenal perusahaan-perusahaan itu, duit bank yang ditanamkan di perusahaan tersebut dalam bentuk piutang sudah sedemikian besar jadi bila ada keterlambatan bayar maka bank juga terkena imbasnya.</p>
<p style="text-align: justify;">Bila perusahaan-perusahaan gede itu kesulitan bayar maka mereka pasti akan mangajukan restrukturisasi pembayaran hutang dan biasanya bank akan menyetujui restrukturisasi pembayaran hutang tersebut. Selain itu pula jika ada kredit macetnya atau gagal bayar hutang maka biasanya pemerintah pasti akan turun tangan.</p>
<p style="text-align: justify;">Kelihatannya memang gak adil ya, dimana nasabah-nasabah kecil yang macet terus ditekan sedemikian rupa agar membayar tunggakannya bila terjadi kemacetan, tapi perusahaan-perusahaan gede bisa dapat fasilitas lebih dari negara ?</p>
<p style="text-align: justify;">Situasi ini tentu memberikan rasa aman pada bank dan perusahaan-perusahaan gede itu untuk selalu berhubungan dalam bentuk kerjasama hutang piutang.</p>
<p style="text-align: justify;">Sang Samurai, apakah kalo mutasi rekening seorang debitur terlihat bagus, akan mutasi rekening yang bagus tersebut dapat membantu debitur pada saat debitur krisis keuangannya?</p>
<p style="text-align: justify;">Nggak ada gunanya pak. Mutasi rekening yang bagus nggak akan ada gunanya saat debitur sedang dalam menghadapi krisis keuangan. Sebab bank hanya mau tahu kalo angsuran dari hutang-hutang tersebut dibayar oleh nasabahnya tepat pada waktunya dengan angka yang sesuai dengan yang sudah disepakati. Gak boleh kurang tapi kalo bayar lebih juga nggak dikembalikan kecuali kita mengajukan permohonan minta agar pembayaran yang lebih itu dikembalikan pada kita.</p>
<p style="text-align: justify;">Mutasi rekening yang bagus hanya berguna pada saat kita mengajukan kredit pada bank bukan pada saat kita mengalami krisis keuangan.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.samuraijagoan.com/2011/12/16/sebuah-diskusi-ringan-tentang-credit-yang-gak-menarik/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>mau makan aja kok sampai ‘inden’</title>
		<link>http://www.samuraijagoan.com/2011/12/07/mau-makan-aja-kok-sampai-%e2%80%98inden%e2%80%99/</link>
		<comments>http://www.samuraijagoan.com/2011/12/07/mau-makan-aja-kok-sampai-%e2%80%98inden%e2%80%99/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 07 Dec 2011 03:34:19 +0000</pubDate>
		<dc:creator>samurai</dc:creator>
				<category><![CDATA[Artikel Menarik]]></category>
		<category><![CDATA[bisnis]]></category>
		<category><![CDATA[bisnis joss dan kuliner mak nyuss]]></category>
		<category><![CDATA[buku]]></category>
		<category><![CDATA[bumbu pecel enak]]></category>
		<category><![CDATA[Business Success]]></category>
		<category><![CDATA[bussiness]]></category>
		<category><![CDATA[entrepreneur]]></category>
		<category><![CDATA[entrepreneur bodoh]]></category>
		<category><![CDATA[entrepreneur pemberontak]]></category>
		<category><![CDATA[entrepreneur university]]></category>
		<category><![CDATA[Entrepreneurship]]></category>
		<category><![CDATA[guru]]></category>
		<category><![CDATA[harian surya]]></category>
		<category><![CDATA[ilmu]]></category>
		<category><![CDATA[invest]]></category>
		<category><![CDATA[investasi]]></category>
		<category><![CDATA[investor]]></category>
		<category><![CDATA[jagoan]]></category>
		<category><![CDATA[jangan ada dusta diantara kita]]></category>
		<category><![CDATA[jangan berpikir]]></category>
		<category><![CDATA[Jangan Berpikir Jadi Pengusaha]]></category>
		<category><![CDATA[Jangan berpikir jadi pengusaha & jangan pernah berpikir menjadi entrepreneur]]></category>
		<category><![CDATA[jangan berpikir jadi pengusaha dan jangan pernah berpikir jadi entrepreneur]]></category>
		<category><![CDATA[jawa pos]]></category>
		<category><![CDATA[kaki diatas kepala di bawah]]></category>
		<category><![CDATA[kawan]]></category>
		<category><![CDATA[kommmbis]]></category>
		<category><![CDATA[konsisten]]></category>
		<category><![CDATA[koran]]></category>
		<category><![CDATA[mastermind]]></category>
		<category><![CDATA[mastermind juara]]></category>
		<category><![CDATA[mentor]]></category>
		<category><![CDATA[menulis]]></category>
		<category><![CDATA[mm juara]]></category>
		<category><![CDATA[motivator]]></category>
		<category><![CDATA[nasi pecel]]></category>
		<category><![CDATA[news]]></category>
		<category><![CDATA[pecel]]></category>
		<category><![CDATA[pecel wenmit]]></category>
		<category><![CDATA[pemberontak]]></category>
		<category><![CDATA[pembicara]]></category>
		<category><![CDATA[provokator]]></category>
		<category><![CDATA[sahabat]]></category>
		<category><![CDATA[samurai]]></category>
		<category><![CDATA[samurai membangun pondasi bisnis tanpa pedang]]></category>
		<category><![CDATA[sec]]></category>
		<category><![CDATA[seminar]]></category>
		<category><![CDATA[surabaya entrepreneur club]]></category>
		<category><![CDATA[surat kabar]]></category>
		<category><![CDATA[surya]]></category>
		<category><![CDATA[tangan diatas]]></category>
		<category><![CDATA[tda]]></category>
		<category><![CDATA[TDA nGalam]]></category>
		<category><![CDATA[tda surabaya]]></category>
		<category><![CDATA[tersesat ke jalan yang benar]]></category>
		<category><![CDATA[tiru]]></category>
		<category><![CDATA[tulis]]></category>
		<category><![CDATA[ukm]]></category>
		<category><![CDATA[ukm jatim]]></category>
		<category><![CDATA[universitas airlangga]]></category>
		<category><![CDATA[universitas airlangga surabaya]]></category>
		<category><![CDATA[wenmit]]></category>
		<category><![CDATA[wenmit pecel]]></category>
		<category><![CDATA[wirausahawan]]></category>
		<category><![CDATA[workshop]]></category>
		<category><![CDATA[writers]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.samuraijagoan.com/?p=1917</guid>
		<description><![CDATA[Seorang senior saya, punya usaha kuliner spesial ayam spesial pedas dan asin di dekat sebuah kampus swasta ternama di jogja, sekitar 4-5 tahun sudah beliau berbisnis kuliner ini. Disaat awal memulai bisnis ini waktu itu memang lom banyak pesaing, bahkan bisa dikatakan beliau ini pemain tunggal di wilayah itu.
Minggu lalu beliau ini mengundang saya untuk [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;">Seorang senior saya, punya usaha kuliner spesial ayam spesial pedas dan asin di dekat sebuah kampus swasta ternama di jogja, sekitar 4-5 tahun sudah beliau berbisnis kuliner ini. Disaat awal memulai bisnis ini waktu itu memang lom banyak pesaing, bahkan bisa dikatakan beliau ini pemain tunggal di wilayah itu.<span id="more-1917"></span></p>
<p style="text-align: justify;">Minggu lalu beliau ini mengundang saya untuk datang ke jogja, kota tempatnya berbisnis kuliner karena beliau ini pengin ngajak saya sharing-sharing dan diskusi tentang usaha kulinernya yang selama ini ditekuninya.</p>
<p style="text-align: justify;">Masakan ayam spesial pedas dan asin andalannya itu enak, bumbunya terasa banget, sambalnya spesial pedas menggigit dan porsinya pas buat mahasiswa apalagi harganya, murah deh.</p>
<p style="text-align: justify;">Bahkan katanya beliau sering dapat komentar dari pelanggannya kalo buat kebanyakan orang harga yang ditawarkan di warungnya itu terlampau murah, bahkan untuk kalangan mahasiswa sekalipun dengan porsi seperti itu dan rasa yang seenak itu.</p>
<p style="text-align: justify;">Karena memang bener-bener enak dan murah maka gak seberapa lama warungnya pun laris manis bahkan yang makan sampe antri-antri, padahal info itu hanya tersebar dari mulut ke mulut saja.</p>
<p style="text-align: justify;">Walopun warungnya sudah sudah rame seperti itu beliau gak berdiam diri saja, beliau tetep pingin menambah pelanggannya sehingga omsetnya bisa semakin maksimal.</p>
<p style="text-align: justify;">Untuk itu beliau mencari cara yang pas, daripada susah-susah mikir maka beliau mengambil jalur cepat dengan mencontek saja cara yang memang populer dikalangan restoran cepat saji, yaitu sistem delivery order.</p>
<p style="text-align: justify;">Cuman karena pangsa pasar warung beliau itu sebagian mahasiswa dan ‘katanya’ mahasiswa itu uangnya pas-pasan maka cara pemesanan delivery ordernya tidak mengharuskan pemesannya menelepon ke warungnya, seperti yang biasa terjadi di restoran-restoran cepat saji.</p>
<p style="text-align: justify;">Beliau melayani delivery order dengan pesanan cukup hanya melalui sms.</p>
<p style="text-align: justify;">Dan cara ini ternyata terbukti ampuh buat menjaring mahasiswa yang malas bergerak untuk nyari makan di warung dan yang kantongnya ngepas karena stok pulsanya juga pas.</p>
<p style="text-align: justify;">Delivery order via itu sms sangat efektif dikalangan mahasiswa.</p>
<p style="text-align: justify;">Dengan pemesanan via sms itu punya dua efek, yang petama menambah pelanggan sebab berhasil membuat mahasiswa yang malas keluar jadi bisa pesen makanan dengan mudah tanpa harus bergerak keluar kamar, dan yang kedua cara ini juga bener-bener berhasil membuat stok makanan di warungnya cepat habis sebelum waktunya.</p>
<p style="text-align: justify;">Stok makanan di warungnya cepat habis sebelum waktunya terjadi sebab mahasiswa yang datang dan pingin makan disitu tapi malas ngantri di jam-jam padat dan ramai seperti pas makan malam atau makan siang memilih pesan terlebih dulu via sms agar disiapkan sebelum mereka datang.</p>
<p style="text-align: justify;">Jadi selain mereka yang malas keluar kamar, pelanggan yang malas antri di keramaian memilih pesan dulu makanannya via sms sehingga saat si pemesan datang maka tinggal menyantap saja makanan yang di indennya itu gak perlu harus berlama-lama antri atau beresiko kehabisan.</p>
<p style="text-align: justify;">Dengan adanya sistem pemesanan via sms bikin pelanggan di warung itu bisa pesan dulu diawal bahkan jauh sebelum mereka makan. Kalo mereka mau makan jam 4 sore mereka dah pesan satu jam sebelumnya apalagi kalo pas jam makan yang rame maka sms sudah masuk bahkan dua jam sebelum mereka makan.</p>
<p style="text-align: justify;">Mahasiswa pesen makannya inden dulu via sms karena takut kehabisan&#8230;.</p>
<p style="text-align: justify;">Dengan cara ini membuat warung makan senior saya itu bikin penasaran pelanggan, stok masih numpuk tapi sudah dibilang habis terpesan dan untuk membuktikan bener-bener ada pesanan maka bon-bon pesanan selalu digantung ditempat yang mudah diliat pelanggan dan pada jam 19 malam maka stok yang tadi menumpuk bener-bener habis terbeli.</p>
<p style="text-align: justify;">Rasa bangga kelihatan jelas di wajah senior saya saat dia bercerita tentang kesuksesan sms deliverynya itu&#8230;.</p>
<p style="text-align: justify;">Boleh juga ya&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.samuraijagoan.com/2011/12/07/mau-makan-aja-kok-sampai-%e2%80%98inden%e2%80%99/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>godaan asap sate&#8230;.</title>
		<link>http://www.samuraijagoan.com/2011/11/21/godaan-asap-sate/</link>
		<comments>http://www.samuraijagoan.com/2011/11/21/godaan-asap-sate/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 21 Nov 2011 00:03:47 +0000</pubDate>
		<dc:creator>samurai</dc:creator>
				<category><![CDATA[Artikel Menarik]]></category>
		<category><![CDATA[bisnis]]></category>
		<category><![CDATA[bisnis joss dan kuliner mak nyuss]]></category>
		<category><![CDATA[buku]]></category>
		<category><![CDATA[bumbu pecel enak]]></category>
		<category><![CDATA[Business Success]]></category>
		<category><![CDATA[bussiness]]></category>
		<category><![CDATA[entrepreneur]]></category>
		<category><![CDATA[entrepreneur bodoh]]></category>
		<category><![CDATA[entrepreneur pemberontak]]></category>
		<category><![CDATA[entrepreneur university]]></category>
		<category><![CDATA[Entrepreneurship]]></category>
		<category><![CDATA[guru]]></category>
		<category><![CDATA[harian surya]]></category>
		<category><![CDATA[ilmu]]></category>
		<category><![CDATA[invest]]></category>
		<category><![CDATA[investasi]]></category>
		<category><![CDATA[investor]]></category>
		<category><![CDATA[jagoan]]></category>
		<category><![CDATA[jangan ada dusta diantara kita]]></category>
		<category><![CDATA[jangan berpikir]]></category>
		<category><![CDATA[Jangan Berpikir Jadi Pengusaha]]></category>
		<category><![CDATA[Jangan berpikir jadi pengusaha & jangan pernah berpikir menjadi entrepreneur]]></category>
		<category><![CDATA[jangan berpikir jadi pengusaha dan jangan pernah berpikir jadi entrepreneur]]></category>
		<category><![CDATA[jawa pos]]></category>
		<category><![CDATA[kaki diatas kepala di bawah]]></category>
		<category><![CDATA[kawan]]></category>
		<category><![CDATA[kommmbis]]></category>
		<category><![CDATA[konsisten]]></category>
		<category><![CDATA[koran]]></category>
		<category><![CDATA[mastermind]]></category>
		<category><![CDATA[mastermind juara]]></category>
		<category><![CDATA[mentor]]></category>
		<category><![CDATA[menulis]]></category>
		<category><![CDATA[mm juara]]></category>
		<category><![CDATA[motivator]]></category>
		<category><![CDATA[nasi pecel]]></category>
		<category><![CDATA[news]]></category>
		<category><![CDATA[pecel]]></category>
		<category><![CDATA[pecel wenmit]]></category>
		<category><![CDATA[pemberontak]]></category>
		<category><![CDATA[pembicara]]></category>
		<category><![CDATA[provokator]]></category>
		<category><![CDATA[sahabat]]></category>
		<category><![CDATA[samurai]]></category>
		<category><![CDATA[samurai membangun pondasi bisnis tanpa pedang]]></category>
		<category><![CDATA[sec]]></category>
		<category><![CDATA[seminar]]></category>
		<category><![CDATA[surabaya entrepreneur club]]></category>
		<category><![CDATA[surat kabar]]></category>
		<category><![CDATA[surya]]></category>
		<category><![CDATA[tangan diatas]]></category>
		<category><![CDATA[tda]]></category>
		<category><![CDATA[TDA nGalam]]></category>
		<category><![CDATA[tda surabaya]]></category>
		<category><![CDATA[tersesat ke jalan yang benar]]></category>
		<category><![CDATA[tiru]]></category>
		<category><![CDATA[tulis]]></category>
		<category><![CDATA[ukm]]></category>
		<category><![CDATA[ukm jatim]]></category>
		<category><![CDATA[universitas airlangga]]></category>
		<category><![CDATA[universitas airlangga surabaya]]></category>
		<category><![CDATA[wenmit]]></category>
		<category><![CDATA[wenmit pecel]]></category>
		<category><![CDATA[wirausahawan]]></category>
		<category><![CDATA[workshop]]></category>
		<category><![CDATA[writers]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.samuraijagoan.com/?p=1915</guid>
		<description><![CDATA[Waktu itu saya dan beberapa kawan sedang jalan-jalan dan cangkruan di tepi telaga sarangan, sebuah daerah pareiwisata yang berada tepat di perbatasan jawa tengah dan jawa timur (cuman di batasi  oleh jembatan dan gapura). 
Perut kami kebetulan sudah kenyang karena baru saja menyantap makan siang di sebuah warung di pintu masuk ke daerah wisata itu. [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;">Waktu itu saya dan beberapa kawan sedang jalan-jalan dan cangkruan di tepi telaga sarangan, sebuah daerah pareiwisata yang berada tepat di perbatasan jawa tengah dan jawa timur (cuman di batasi  oleh jembatan dan gapura). <span id="more-1915"></span></p>
<p style="text-align: justify;">Perut kami kebetulan sudah kenyang karena baru saja menyantap makan siang di sebuah warung di pintu masuk ke daerah wisata itu. yang saya nggak tau ternyata di seputaran telaga, banyak sekali pedagang yang berjualan sate, mereka berjualan sate ayam dan kelinci dengan di pikul sehingga bisa langsung menjangkau calon konsumennya seperti saya ini yang bejalan atau duduk-duduk di tepian telaga.</p>
<p>Seperti para pedagang pada umumnya tentu penjual sate itu bergantian menawari kami untuk memesan sate dagangannya. Mereka nggak henti-hentinya menawari kami, walopun mereka adalah para pedagang tradisional tapi mereka tampaknya sadar banget tentang artinya ‘sebuah penawaran’ mereka rasanya tau banget kalo mereka nggak menawarkan dagangannya pada calon konsumennya maka pasti nggak akan terjadi penjualan atau transaksi dan jika gak ada transaksi pastilah mereka nggak dapat duit.</p>
<p>Teori klasik ini ternyata di kuasai banget oleh mereka, para pedagang sate itu (memang yang gak henti-hentinya menawari saya kebetulan para penjual sate, mungkin karena postur saya yang ‘ndut’ jadi dianggap pangsa pasar yang empuk buat mereka)</p>
<p>Nah yang menarik buat saya, karena yang di lakukan oleh penjual sate itu ternyata nggak cuman menawarkan jualannya lewat suara saja dan berjalan hilir mudik di sekitar kami. Ada satu pedagang yang nampaknya sengaja menggelar dagangannya gak jauh dari tempat saya duduk.</p>
<p>Kira-kira pada jarak 4-5 orang dari saya salah seorang penjual sate itu nampak asik membakar beberapa tusuk sate, asap mengepul-ngepul dari bakaran satenya, saya heran juga padahal nggak ada orang lain disitu kecuali saya dan kawan-kawan, trus kami juga nggak ada yang memesan sate padanya, otak saya langsung berputar “jadi dia membakar sate buat siapa” begitu pertanyaan yang muncul dari otak saya.</p>
<p>Saya tanyakan ke kawan-kawan ada nggak diantara mereka yang memesan sate tanpa setahu saya, dan sesuai dugaan saya memang nggak ada yang pesan, wong kami semua masih kenyang setelah makan secara membabi buta sekitar 30 menit sebelumnya.</p>
<p>“Jadi tukang sate itu masak buat siapa?” tanya saya kepada kawan-kawan, nggak saya sangka mereka ketawa semua. Saya makin heran soalnya memang gak ada yang lucu.</p>
<p>Melihat kebingungan saya maka seorang kawan menjelaskan ke saya kalo apa yang dilakukan si tukang sate itu hanya trik saja buat menarik perhatian dan membuat calon pelanggannya tergoda karena mencium bau asap bakaran sate yang memang harum menggoda itu. Saya makin tertarik, karena memang bau asap bakaran sate itu bener-bener menggoda otak saya untuk bilang ke mulut agar berteriak memesan duapuluh tusuk sate ke tukang sate itu.</p>
<p>Kawan saya menjelaskan kalo si tukang sate itu gak bener-bener membakar sate, dia hanya seolah-olah membakar sate saja, tukang sate menyalakan bara lalu menyiram minyak ayam ke bakarannya sehingga mengeluarkan asap yang lalu dia kipas-kipas seolah-olah sedang membakar sate, sedangkan satenya sediri ditaruh di bagian bakaran yang jauh dari bara, jadi walo si tukang kelihatan sibuk membolak balik sate sebenernya dia nggak mbakar sate sama sekali.</p>
<p>Penasaran dengan penjelasan itu, saya langsung berjalan seolah-olah menuju ke suatu arah padahal tujuan saya adalah berjalan di belakang si tukang sate dan melihat apa yang dia kerjakan apakah bener seperti yang dikatakan kawan saya. Ternyata bener, walo nggak terlalu jelas kelihatan tapi tampak oleh saya kalo api dan bara ada di sisi yang berbeda dengan tusukan sate yang di bolak-balik oleh si penjual.</p>
<p>Hehehe, boleh juga cara si tukang sate itu menggoda selera calon konsumennya, dengan asap yang harum dia memang berhasil membangkitkan selera saya dan saya tergerak untuk memesan serta melupakan perut saya yangmasih kenyang.</p>
<p>Saya pernah dengar teori semacam ini di ajarkan di berbagai seminar dan worksgop bahkan juga di tulis di berbagai buku, teori ini dipake oleh berbagai usaha dan bisnis makanan mewah yang dijual di mall-mall di berbagai kota besar, yang menggugah selera konsumennya dengan bau harum masakannya untuk kemudian membuat konsumennya membeli karena tergugah oleh harum bau masakan.</p>
<p>Saya yakin si penjual sate tradisional itu nggak pernah ikut seminar, workshop dan bahkan belum tentu sudah baca buku yang membahas teori itu, tapi dia mempraktekkannya secara alami, dan apa yang dilakukannya ternyata memang terbukti berhasil&#8230;</p>
<p>Roti Boy&#8230;.</p>
<p>Adalah sebuah contoh dari brand modern kenamaan yang paling gampang disebut dan popular, mereka melakukan hal yang sama dengan yang dilakukan si tukang sate di telaga sarangan di pelosok perbatasan jawa tengan dan jawa timur.</p>
<p>Belajar dari si tukang sate, ternyata memang cara berpromosi dalam melakukan penawaran nggak harus mahal dan mengeluarkan biaya banyak, buat yang berkantong cekak ada banyak jalan untuk berpromosi tanpa harus takut sama biaya&#8230;.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.samuraijagoan.com/2011/11/21/godaan-asap-sate/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>memang gak selalu duit&#8230;</title>
		<link>http://www.samuraijagoan.com/2011/11/15/memang-gak-selalu-duit/</link>
		<comments>http://www.samuraijagoan.com/2011/11/15/memang-gak-selalu-duit/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 15 Nov 2011 08:51:45 +0000</pubDate>
		<dc:creator>samurai</dc:creator>
				<category><![CDATA[Entrepreneurship]]></category>
		<category><![CDATA[bisnis]]></category>
		<category><![CDATA[bisnis joss dan kuliner mak nyuss]]></category>
		<category><![CDATA[buku]]></category>
		<category><![CDATA[bumbu pecel enak]]></category>
		<category><![CDATA[Business Success]]></category>
		<category><![CDATA[bussiness]]></category>
		<category><![CDATA[entrepreneur]]></category>
		<category><![CDATA[entrepreneur bodoh]]></category>
		<category><![CDATA[entrepreneur pemberontak]]></category>
		<category><![CDATA[entrepreneur university]]></category>
		<category><![CDATA[guru]]></category>
		<category><![CDATA[harian surya]]></category>
		<category><![CDATA[ilmu]]></category>
		<category><![CDATA[invest]]></category>
		<category><![CDATA[investasi]]></category>
		<category><![CDATA[investor]]></category>
		<category><![CDATA[jagoan]]></category>
		<category><![CDATA[jangan ada dusta diantara kita]]></category>
		<category><![CDATA[jangan berpikir]]></category>
		<category><![CDATA[Jangan Berpikir Jadi Pengusaha]]></category>
		<category><![CDATA[Jangan berpikir jadi pengusaha & jangan pernah berpikir menjadi entrepreneur]]></category>
		<category><![CDATA[jangan berpikir jadi pengusaha dan jangan pernah berpikir jadi entrepreneur]]></category>
		<category><![CDATA[jawa pos]]></category>
		<category><![CDATA[kaki diatas kepala di bawah]]></category>
		<category><![CDATA[kawan]]></category>
		<category><![CDATA[kommmbis]]></category>
		<category><![CDATA[konsisten]]></category>
		<category><![CDATA[koran]]></category>
		<category><![CDATA[mastermind]]></category>
		<category><![CDATA[mastermind juara]]></category>
		<category><![CDATA[mentor]]></category>
		<category><![CDATA[menulis]]></category>
		<category><![CDATA[mm juara]]></category>
		<category><![CDATA[motivator]]></category>
		<category><![CDATA[nasi pecel]]></category>
		<category><![CDATA[news]]></category>
		<category><![CDATA[pecel]]></category>
		<category><![CDATA[pecel wenmit]]></category>
		<category><![CDATA[pemberontak]]></category>
		<category><![CDATA[pembicara]]></category>
		<category><![CDATA[provokator]]></category>
		<category><![CDATA[sahabat]]></category>
		<category><![CDATA[samurai]]></category>
		<category><![CDATA[samurai membangun pondasi bisnis tanpa pedang]]></category>
		<category><![CDATA[sec]]></category>
		<category><![CDATA[seminar]]></category>
		<category><![CDATA[surabaya entrepreneur club]]></category>
		<category><![CDATA[surat kabar]]></category>
		<category><![CDATA[surya]]></category>
		<category><![CDATA[tangan diatas]]></category>
		<category><![CDATA[tda]]></category>
		<category><![CDATA[TDA nGalam]]></category>
		<category><![CDATA[tda surabaya]]></category>
		<category><![CDATA[tersesat ke jalan yang benar]]></category>
		<category><![CDATA[tiru]]></category>
		<category><![CDATA[tulis]]></category>
		<category><![CDATA[ukm]]></category>
		<category><![CDATA[ukm jatim]]></category>
		<category><![CDATA[universitas airlangga]]></category>
		<category><![CDATA[universitas airlangga surabaya]]></category>
		<category><![CDATA[wenmit]]></category>
		<category><![CDATA[wenmit pecel]]></category>
		<category><![CDATA[wirausahawan]]></category>
		<category><![CDATA[workshop]]></category>
		<category><![CDATA[writers]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.samuraijagoan.com/?p=1910</guid>
		<description><![CDATA[Waktu cangkruan di Cafe Kantin 21, di pinggir pantai kota Singaraja, saya termangu-mangu mendengar kisah seorang anak muda pengusaha yang bisnisnya bergerak di bidang distro. Dari penampilannya saya mengira umurnya pasti di bawah 30th dan memang sekarang ini banyak sekali anak muda yang sukses menjadi pengusaha di usia yang relative muda.
Dia berkisah pada kawan-kawannya saat [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;">Waktu cangkruan di Cafe Kantin 21, di pinggir pantai kota Singaraja, saya termangu-mangu mendengar kisah seorang anak muda pengusaha yang bisnisnya bergerak di bidang distro. Dari penampilannya saya mengira umurnya pasti di bawah 30th dan memang sekarang ini banyak sekali anak muda yang sukses menjadi pengusaha di usia yang relative muda.<span id="more-1910"></span></p>
<p style="text-align: justify;">Dia berkisah pada kawan-kawannya saat dia memulai bisnisnya dulu, sementara saya yang berada di belakang si pemuda, ikutan mencuri dengar kisahnya sambil menyeruput minuman dingin segar.</p>
<p style="text-align: justify;">Seperti biassa, kisah sukses selalu diawali dengan kisah penderitaan, dimana dulu tokonya cuman kecil dan terhimpit di antara toko-toko besar lainnya. Barang yang ia display itulah barang dagangannya, dia nggak punya stok sama sekali karena kerterbatasan modal. Jadi kalo ada konsumen yang datang dan mencari barang dan ternyata barang itu nggak ada didisplaynya dia langsung bilang “wah baru aja di beli orang” atau “wah kita lagi nunggu kiriman dari bandung tapi kok lom dateng juga setelah sekian lama” Anak muda itu  menggunakan seribu satu alasan untuk berkelit kalo barang yang di cari konsumennya gak ada.</p>
<p style="text-align: justify;">Saya menduga kalo dia jualan dengan cara seperti itu pasti banyak calon pelanggannya akan kecewa dan nggak bakalan balik lagi datang ke tokonya. Dugaan saya ternyata tepat, sebab anak muda itu juga mengatakan hal yang sama persis seperti dugaan saya. Cuman dia kemudian menambahkan kisahnya dengan mengungkapkan triknya biar calon konsumennya itu nggak kabur.</p>
<p style="text-align: justify;">Karena memang di mengkhususkan diri jualan ke barang-barang branded maka dia tetep yakin akan tetep dikunjungi oleh calon pembeli baru, tapi dia juga gak ingin calon pembeli lamanya menghilang dan nggak muncul lagi. Yang namanya orang dagang pastilah ingin konsumennya bertambah dan meningkat bukan semakin berkurang, apalagi ini yang datang belum lagi jadi pembeli, tapi masih calon pembeli.</p>
<p style="text-align: justify;">Karena tau dan sadar modalnya minim dan stok dagangannya gak lengkap (bukan hanya model yang gak lengkap tapi juga ukuran dan warna) maka jurus yang dia andalkan adalah keramahan.</p>
<p style="text-align: justify;">Dia selalu berlaku ramah pada calon konsumennya atau pada siapa saja yang datang mengunjungi tokonya itu. Sedapat mungkin dia selalu membuka komunikasi dan selalu mengajak ngobrol pada siapasaja yang datang mengunjungi tokonya, beli ataupun tidak beli barang di tokonya. Dia sadar banget dengan keramahan, dan service yang dioptimalkan akan bikin orang yang datang akan terkesan, karena modal duit gak cukup maka modal keramahan dan komunikasilah yang dioptimalkan.</p>
<p style="text-align: justify;">Itu tips pertama yang dia ungkapkan, masih ada tips berikutnya&#8230;..</p>
<p style="text-align: justify;">Dengan keramahannya dan dengan komunikasinya yang baik, maka perlahan omsetnya makin meningkat, hingga brand atau merek beken yang disukai anak muda makin lengkap bertengger di display tokonya. Bukan itu saja dari yang tadinya dia nggak punya stok kini dia mulai punya stok barang dagangan. Kalo dulu setelah ada yang laku dia belanja lagi biar tokonya gak kosong maka kini dia sudah bisa menyiapkan stok yang cukup sehingga jika belanja grosir ke bandung misalnya dia dapat harga yang lebih murah lagi sehingga margin semakin tinggi dan profitnya semakin besar.</p>
<p style="text-align: justify;">Dengan perkembangan seperti itu, maka dia pingin lagi makin menumbuhkan bisnisnya dengan membuat brand sendiri, membuat merek sendiri, artinya dia mulai produksi sehingga dia bisa bikin margin jualnya makin tinggi lagi, sebab menurut analisanya dengan memproduksi sendiri dia bisa menekan banyak modal jika harus belanja secara grosir di tempat-tempat yang memproduksi barang yang brand nya sudah terkenal.</p>
<p style="text-align: justify;">Dia bilang asal kita punya duit maka mau produksi apa saja, mau bikin apa saja akan sangat mudah dan gampang. Masalahnya apakah kemudian kita bisa menjualnya dengan harga branded atau tidak. Dia bilang akan menjual barang produksinya itu dengan harga branded  karena selama ini toko distronyanya sudah hampir 4 tahun lebih sukses jualan barang-barang brande. Barang branded tentu harganya cukup tinggi di banding harga barang sejenis yang mereknya gak terkenal.</p>
<p style="text-align: justify;">Nah sekarang tantangannya adalah bagaimana dia bisa jual itu kaos-kaos produksinya sendiri dengan segara pernak perniknya tapi dengan harga mahal setara dengan barang-barang branded yang sudah dia jual terlebih dahulu di tokonya.</p>
<p style="text-align: justify;">Gak habis akal maka dia sispkan barang-barang produksinya di antara barang-brang branded yang dia jual di tokonya, lalu dia lebeli dengan harga 10-30 ribu lebih murah di bandingkan dengan harga barang-barang braded yang ada.</p>
<p style="text-align: justify;">Dia memakai logika konsumen, kalo sebuah toko menjual barang branded maka gak akan jual barang yang gak branded, jadi konsumen beranggapan bahwa semua barang yang ada di tokonya itu adalah barang branded, nah diantara barang branded jika terselip sesuatu yang bagus dengan nama brand yang gak gitu terdengar tapi harganya lebih murah maka biasanya barang itu yang akan di beli oleh konsumen yang berkantong cekak tapi pingin bergaya pake barang branded.</p>
<p style="text-align: justify;">Trik nya berjalan dengan baik, perlahan tapi tumbuh, gak sampai satru tahun maka brand buatannya sendiri sekarang sudah bisa di bandrol harga sejajar dengan bran-brang branded yang dia jual di toko distronya. Dengan modal yang lebih kecil tapi margin dan keuntungan yang lebih gede karena sudah berhasil menjual diantara barang-barang branded maka dia bisa menggunakan keuntungannya itu dengan berpromosi lebih untuk membuat omset barang produksinya lebih bagus lagi.</p>
<p style="text-align: justify;">Dia bilang kalo diawal dia bikin dan produksi sendiri pada saat tokonya belum terkenal seperti sekarang pastilah dia akan lebih keteteran dalam permodalan sebab ada dua faktor yaitu untuk membuat tokonya terkenal saja dia harus promosi extra apalagi yang dijual adalah barang produksinya sendiri yang mereknya gak terkenal. Tapi setelah tokonya terkenal sebagai toko distro yang direkomendasikan anak muda untuk membeli barang-barang distro terkenal maka apa yang dia jual pasti akan laku juga&#8230;.</p>
<p style="text-align: justify;">Sebuah taktik jitu yang dilakukan seorang anak muda yang berbisnis dengan modal yang terbatas&#8230;..</p>
<p style="text-align: justify;">Saya pikir ceritanya sudah selesai maka saya segera menghabiskan minuman saya dan akan beranjak untuk membayarnya tapi ternyata pemuda itu masih melanjutkan ceritanya lagi, dan itu membuat saya duduk kembali walaupun minuman dan makanan sudah habis, hehehe&#8230;</p>
<p style="text-align: justify;">Saya kembali memasang kuping saya menyimak cerita siu pemuda itu lagi.</p>
<p style="text-align: justify;">Dia bilang untuk mengungkit kembali penjualan, barang-barang produksinya sendiri jika perputarannya sudah mulai dirasakan lambat maka dia segera akan mencari group-group band indie dan melakukan promosi dengan bekerjasama dengan group band indie itu. caranya dia mengundang para personil group band dan kemudian dia suruh mereka untuk memilih sendiri barang-barang yang ada di distronya, tentu group band tersebut senang karena akan bisa pentas dengan kostum dari distro branded.</p>
<p style="text-align: justify;">Karena mendapat spnsor barang-barang branded yang di pake saat pentas atau manggung tentu toko distronya disebut sebagai sponsor oleh group band yang mendapat kostum darinya dan tentu pakaian dan asesoris yang di pake oleh band akan juga di cari oleh fans dari group band itu. Dengan cara ini dia bisa bikin toko distronya mendapat calon konsumen baru, konsumen yang datang dari fans si group band. Dengan modal yang gak terlalu gede, dari dagangannya yang sudah lambat pergerakannya dia bisa gunakan sebagai sarana promosi baru dan menghasilkan konsumen baru.</p>
<p style="text-align: justify;">Si pemuda mengakhiri ceritanya, walo saya gak dapat ngelihat wajahnya tapi saya yakin diwajah itu akan nampak senyum lebar, dia pantas tersenyum karena ceritanya luar biasa banget buat saya&#8230;.</p>
<p style="text-align: justify;">Modal memang gak selalu duit, tapi dengan bisa menjual pasti dapat menghasilkan duit!!!</p>
<p style="text-align: justify;">
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.samuraijagoan.com/2011/11/15/memang-gak-selalu-duit/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Aburizal Bakrie, &#8220;Saya Pernah Lebih Miskin dari Pengemis&#8221;</title>
		<link>http://www.samuraijagoan.com/2011/11/11/aburizal-bakrie-saya-pernah-lebih-miskin-dari-pengemis/</link>
		<comments>http://www.samuraijagoan.com/2011/11/11/aburizal-bakrie-saya-pernah-lebih-miskin-dari-pengemis/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 11 Nov 2011 10:12:26 +0000</pubDate>
		<dc:creator>samurai</dc:creator>
				<category><![CDATA[Entrepreneurship]]></category>
		<category><![CDATA[bisnis]]></category>
		<category><![CDATA[bisnis joss dan kuliner mak nyuss]]></category>
		<category><![CDATA[buku]]></category>
		<category><![CDATA[bumbu pecel enak]]></category>
		<category><![CDATA[Business Success]]></category>
		<category><![CDATA[bussiness]]></category>
		<category><![CDATA[entrepreneur]]></category>
		<category><![CDATA[entrepreneur bodoh]]></category>
		<category><![CDATA[entrepreneur pemberontak]]></category>
		<category><![CDATA[entrepreneur university]]></category>
		<category><![CDATA[guru]]></category>
		<category><![CDATA[harian surya]]></category>
		<category><![CDATA[ilmu]]></category>
		<category><![CDATA[invest]]></category>
		<category><![CDATA[investasi]]></category>
		<category><![CDATA[investor]]></category>
		<category><![CDATA[jagoan]]></category>
		<category><![CDATA[jangan ada dusta diantara kita]]></category>
		<category><![CDATA[jangan berpikir]]></category>
		<category><![CDATA[Jangan Berpikir Jadi Pengusaha]]></category>
		<category><![CDATA[Jangan berpikir jadi pengusaha & jangan pernah berpikir menjadi entrepreneur]]></category>
		<category><![CDATA[jangan berpikir jadi pengusaha dan jangan pernah berpikir jadi entrepreneur]]></category>
		<category><![CDATA[jawa pos]]></category>
		<category><![CDATA[kaki diatas kepala di bawah]]></category>
		<category><![CDATA[kawan]]></category>
		<category><![CDATA[kommmbis]]></category>
		<category><![CDATA[konsisten]]></category>
		<category><![CDATA[koran]]></category>
		<category><![CDATA[mastermind]]></category>
		<category><![CDATA[mastermind juara]]></category>
		<category><![CDATA[mentor]]></category>
		<category><![CDATA[menulis]]></category>
		<category><![CDATA[mm juara]]></category>
		<category><![CDATA[motivator]]></category>
		<category><![CDATA[nasi pecel]]></category>
		<category><![CDATA[news]]></category>
		<category><![CDATA[pecel]]></category>
		<category><![CDATA[pecel wenmit]]></category>
		<category><![CDATA[pemberontak]]></category>
		<category><![CDATA[pembicara]]></category>
		<category><![CDATA[provokator]]></category>
		<category><![CDATA[sahabat]]></category>
		<category><![CDATA[samurai]]></category>
		<category><![CDATA[samurai membangun pondasi bisnis tanpa pedang]]></category>
		<category><![CDATA[sec]]></category>
		<category><![CDATA[seminar]]></category>
		<category><![CDATA[surabaya entrepreneur club]]></category>
		<category><![CDATA[surat kabar]]></category>
		<category><![CDATA[surya]]></category>
		<category><![CDATA[tangan diatas]]></category>
		<category><![CDATA[tda]]></category>
		<category><![CDATA[TDA nGalam]]></category>
		<category><![CDATA[tda surabaya]]></category>
		<category><![CDATA[tersesat ke jalan yang benar]]></category>
		<category><![CDATA[tiru]]></category>
		<category><![CDATA[tulis]]></category>
		<category><![CDATA[ukm]]></category>
		<category><![CDATA[ukm jatim]]></category>
		<category><![CDATA[universitas airlangga]]></category>
		<category><![CDATA[universitas airlangga surabaya]]></category>
		<category><![CDATA[wenmit]]></category>
		<category><![CDATA[wenmit pecel]]></category>
		<category><![CDATA[wirausahawan]]></category>
		<category><![CDATA[workshop]]></category>
		<category><![CDATA[writers]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.samuraijagoan.com/?p=1906</guid>
		<description><![CDATA[&#8220;Saya Pernah Lebih Miskin dari Pengemis&#8221; kata Aburizal Bakrie&#8230;
Selama ini banyak orang bertanya kepada saya bagaimana rahasianya menjadi pengusaha yang sukses. Mereka berharap saya bersedia membagi pengalaman dan kiat-kiat berusaha supaya sukses. Bagi saya,  membagi pengalaman kepada orang lain menyenangkan, apalagi bila pengalaman saya tersebut bermanfaat.
Senin 5 April lalu, saya diundang oleh Universitas Islam As [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;">&#8220;Saya Pernah Lebih Miskin dari Pengemis&#8221; kata Aburizal Bakrie&#8230;</p>
<p style="text-align: justify;">Selama ini banyak orang bertanya kepada saya bagaimana rahasianya menjadi pengusaha yang sukses. Mereka berharap saya bersedia membagi pengalaman dan kiat-kiat berusaha supaya sukses. Bagi saya,  membagi pengalaman kepada orang lain menyenangkan, apalagi bila pengalaman saya tersebut bermanfaat.<span id="more-1906"></span></p>
<p style="text-align: justify;">Senin 5 April lalu, saya diundang oleh Universitas Islam As Syafiiyah, Jakarta, untuk membagi pengalaman. Dalam acara bertajuk “Studium Generale Kewirausahaan” itu saya diminta memberikan ceramah mengenai kewirausahaan dan kiat sukses berbisnis.</p>
<p style="text-align: justify;">Kepada para mahasiswa saya katakan untuk sukses berbisnis kita tidak bisa hanya belajar di bangku kuliah saja. Bangku kuliah hanya mengajarkan dasar dan teori. Sisanya kita belajar kepada mereka yang telah berhasil. Orang itu tidak harus S3 untuk menjadi pengusaha. Bisa jadi hanya S1 seperti saya, bahkan ada yang tidak memiliki ijasah.</p>
<p style="text-align: justify;">Apa langkah pertama yang harus dilakukan untuk memulai usaha dan menggapai kesuksesan? Jawabannya adalah mimpi. Kita harus berani bermimpi menjadi orang yang sukses. Sejarah juga membuktikan banyak temuan hebat dan orang sukses dimulai dari sebuah mimpi. Kalau anda bermimpi saja tidak berani, ngapain membuka usaha.</p>
<p style="text-align: justify;">Tentu saja tidak hanya berhenti sekedar mimpi untuk mencapai sukses. Setelah mimpi anda bangun, lalu pikirkanlah mimpi anda. Berfikirlah yang besar. Seperti kata miliarder Amerika Donald Trump; if you think, think big. Pikir yang besar, pikir jadi presiden, jangan pikir yang kecil-kecil.</p>
<p style="text-align: justify;">Setelah itu anda buat rencana, buat rincian, dan bentuk sebuah tabel. Terakhir, yang paling penting, segera jalankan rencana tersebut. Jika anda bertanya perlukah berdoa? saya katakan berdoa itu perlu. Tapi perencanaan juga perlu. Doa saja tanpa perencanaan saya rasa tidak akan berhasil.</p>
<p style="text-align: justify;">Dulu waktu masih kuliah, saya biasa membuat perencanaan dan membagi waktu. Saya bangun sholat Subuh, lalu latihan karate, setelah itu tidur lagi sampai pukul 10. Baru pukul 11 belajar. Wakuncar atau waktu kunjung pacar juga diatur pukul 19.00 WIB sampai pukul 22.00 WIB. Jika sudah pukul 22.00 WIB, meski lagi asyik harus pulang untuk istirahat. Intinya dengan perencanaan, masalah akan terselesaikan dengan baik. Sekarang juga begitu, saya bagi waktu untuk partai dan lainnya. Pukul sekian seminar, pukul sekian jadi pembicara, pukul sekian memutuskan calon di pilkada. Kadang 10 masalah bisa saya selesaikan sehari.</p>
<p style="text-align: justify;">Keluhan paling sering dilontarkan orang yang tidak berani berusaha adalah tidak mempunyai modal atau dana. Banyak juga yang berkata saya bisa sukses karena ayah saya pengusaha. Itu salah besar. Saat memulai usaha saya tidak mempunyai uang. Saat akan membeli Kaltim Prima Coal (KPC) saya juga tidak memiliki dana. Caranya saya datangi calon kontraktor dan tawarkan kerjasama yang menguntungkan dia, tapi saratnya dia pinjami saya dana. Saya juga mendatangi bank dan berkata demikian. Lalu dari uang yang dipinjamkan itu, saya membeli KPC dan sekarang menjadi perusahaan besar.</p>
<p style="text-align: justify;">Jangan pernah bicara tidak punya dana. Uang datang jika ada ide besar atau ada proyek yang visible. Bill Gates juga tidak mempunyai uang, tapi dia mempunyai ide bagus. Dia tidak lulus kuliah, dia bukan anak orang kaya, tapi dari garasinya dia bisa membuat Microsoft jadi perusahaan besar.</p>
<p style="text-align: justify;">Maka pikirkan ide yang bagus, lalu anda cari partner yang punya uang. Yakinkan dia dan berkerjasamalah dengan dia. Jika dalam kerjasama partner anda meminta keuntungan lebih besar, jangan persoalkan. Misal semua ide dari anda tapi anda hanya dapat 10%, itu tidak masalah. Sebab 10% itu masih untung dari pada anda tidak jadi bekerjasama dan hanya dapat nol %. Jangan lihat kantong orang, jangan lihat untung orang, lihat kantong kita ada penambahan atau tidak.</p>
<p style="text-align: justify;">Setelah anda menjalani usaha, suatu saat anda pasti akan menghadapi masalah. Hadapi saja masalah itu, karena masalah adalah bagian dari hidup yang akan terus datang. Saya sendiri juga pernah menghadapi masalah saat krisis ekonomi 1997-1998. Saat itu keadaan perekonomian sulit, semua pengusaha dan perusahaan juga sulit.</p>
<p style="text-align: justify;">Saat itu saya jatuh miskin. Bahkan saya jauh lebih miskin dari pengemis. Ini karena saya memiliki hutang yang sangat besar. Hutang saya saat itu sekitar USD 1 miliar. Di saat yang sulit ini biasanya sahabat-sahabat kita, rekan-rekan kita semua lari.</p>
<p style="text-align: justify;">Karena itu di saat yang sulit ini, kita tidak boleh memperlihatkan kita sedang terpuruk. Jangan perlihatkan kita sedang gelap. Seperti yang diajarkan ayah saya Achmad Bakrie; jangan biarkan dirimu di tempat yang gelap, karena di tempat yang gelap bayangan pun akan meninggalkanmu. Maka saat susah itu saya tetap tegar dan tidak menunjukkan keterpurukan. Bahkan saya terpilih jadi ketua umum Kamar Dagang dan Industri (Kadin) untuk yang kedua kalinya. Kalau saat itu saya tunjukkan keterpurukan, mana mau mereka memilih saya.</p>
<p style="text-align: justify;">Tapi yang penting setelah kita terpuruk, kita harus bangkit kembali. Kalau saat itu saya tidak bangkit, maka tidak bisa saya seperti saat ini. Saya berprinsip hadapi saja masalah, jangan lari. Banyak usaha yang saya lakukan, misalnya melepas saham keluarga dari 55% jadi tinggal 2,5%. Saya juga mencari pinjaman sana-sini. Bahkan saya telah pergi ke 220 bank di seluruh dunia untuk menyelesaikan masalah saya. Akhirnya dengan usaha keras pada tahun 2001 saya bisa bangkit kembali dan hutang saya bisa dilunasi dan bisnis saya membaik kembali.</p>
<p style="text-align: justify;">Itulah pengalaman saya selama ini. Saya berharap bisa menjadi ilmu yang berguna. Papatah mengatakan pengalaman adalah guru yang paling baik. Sebagai penutup saya ingin bercerita mengenai kisah telur Colombus. Suatu saat Colombus menantang orang-orang untuk membuat telur bisa berdiri. Saat itu tidak ada satupun orang yang bisa membuat telur berdiri. Kemudian Colombus memberi contoh cara membuat telur berdiri dengan memecahkan bagian bawahnya. Lalu orang-orang berkata; ah, kalau begitu caranya saya juga bisa.</p>
<p style="text-align: justify;">Nah, saya ingin menjadi Colombus. Saya tunjukkan caranya, lalu anda mengatakan; kalau begitu saya juga bisa. Kemudian anda memulai usaha dan menjadi berhasil dan sukses. Saya senang kalau anda sukses, karena semakin banyak orang sukses, semakin maju bangsa ini.</p>
<p>sumber : http://icalbakrie.com/?p=564</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.samuraijagoan.com/2011/11/11/aburizal-bakrie-saya-pernah-lebih-miskin-dari-pengemis/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

