<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Samurai Jagoan &#187; entepreneur bodoh</title>
	<atom:link href="http://www.samuraijagoan.com/tag/entepreneur-bodoh/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://www.samuraijagoan.com</link>
	<description></description>
	<lastBuildDate>Tue, 07 Feb 2012 05:46:39 +0000</lastBuildDate>
	<generator>http://wordpress.org/?v=2.8.6</generator>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
			<item>
		<title>lubang wc atau tempat sampah</title>
		<link>http://www.samuraijagoan.com/2009/07/29/lubang-wc-atau-tempat-sampah/</link>
		<comments>http://www.samuraijagoan.com/2009/07/29/lubang-wc-atau-tempat-sampah/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 29 Jul 2009 01:55:58 +0000</pubDate>
		<dc:creator>samurai</dc:creator>
				<category><![CDATA[Artikel Menarik]]></category>
		<category><![CDATA[Entrepreneurship]]></category>
		<category><![CDATA[hutang]]></category>
		<category><![CDATA[ego]]></category>
		<category><![CDATA[entepreneur bodoh]]></category>
		<category><![CDATA[kesepian]]></category>
		<category><![CDATA[lubang wc]]></category>
		<category><![CDATA[tempat sampah]]></category>
		<category><![CDATA[toilet]]></category>
		<category><![CDATA[wc]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.samuraijagoan.com/?p=583</guid>
		<description><![CDATA[pada saat saya memutuskan untuk menjadi entrepreneur saya merasa menjadi mahluk paling kesepian di dunia ini. saya merasa sangat sendirian karena gak ada yang bisa diajak ngobrol dan bertukar pikiran. lingkungan terdekat disekitar saya bukan entrepreneur, mereka terdiri dari karyawan baik swasta maupun pemerintahan. kencenderungan mereka selalu menyalahkan pilihan saya buat jadi entrepreneur terutama saat [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;"><a href="http://ideacritik.com/blog/images/keyBoardWC.jpg"><img class="alignleft" src="http://ideacritik.com/blog/images/keyBoardWC.jpg" alt="" width="198" height="148" /></a>pada saat saya memutuskan untuk menjadi entrepreneur saya merasa menjadi mahluk paling kesepian di dunia ini. saya merasa sangat sendirian karena gak ada yang bisa diajak ngobrol dan bertukar pikiran. lingkungan terdekat disekitar saya bukan entrepreneur, mereka terdiri dari karyawan baik swasta maupun pemerintahan. kencenderungan mereka selalu menyalahkan pilihan saya buat jadi entrepreneur terutama saat saya sedang berbuat salah atau sedang merasa putus asa dan tidak punya semangat.</p>
<p style="text-align: justify;"><span id="more-583"></span>saya rasa hal ini juga dialami oleh semua entrepreneur pemula dimana pada saat-saat itu selalu butuh dukungan support dan semangat. bukannya mendukung lingkungan justru malah meruntuhkan semangat dan moril.</p>
<p style="text-align: justify;">ternyata kemudian saya merasakan hidup sendirian sebagai entrepreneur bukan hanya pada saat-saat awal merintis saja. tapi itu berlanjut pada semua fase kehidupan saya sebagai entrepreneur.</p>
<p style="text-align: justify;">ternyata yang saya bayangkan di awal salah lagi. mulanya saya mengira lingkungan terdekat akan menerima dan mendukung saya sebagai entrepreneur pada saat bisa membuktikan pada mereka bahwa saya bisa  berhasil dan menggantungkan kehidupan saya pada dunia entrepreneur, bahkan saya bisa berbagi pada sesama dari penghasilan yang saya peroleh dari situ. dugaan saya keliru, lingkungan terdekat memang akhirnya bisa menerima pilihan saya ini bahkan memuji-muji saya karena apa yang saya dapatkan dari entrepreneur begitu membanggakan mereka.</p>
<p style="text-align: justify;">tapi ya cukup sampai disitu, hanya pujian yang saya terima dan tidak lebih dari itu.   saat saya bertanya dan butuh kawan diskusi untuk menghadapi segala permasalahan yang saya temui dalam perjalanan perkembangan bisnis saya, ternyata saya menghadapi kenyataan yang sama, yaitu saya sendirian lagi.</p>
<p style="text-align: justify;">lagi-lagi lingkungan tidak bisa mendukung, lingkungan ternyata bener-bener tidak mengerti apa sesungguhnya yang saya hadapi. apapun,  lingkungan terdekat saya dipenuhi oleh kaum karyawan yang sangat berbeda dengan dunia yang saya geluti. <a href="http://sektorazalea.files.wordpress.com/2008/06/cimg1812.jpg"><img class="alignright" src="http://sektorazalea.files.wordpress.com/2008/06/cimg1812.jpg" alt="" width="269" height="216" /></a></p>
<p style="text-align: justify;">karyawan bekerja karena target-target yang diberikan oleh orang lain, mereka juga punya rasa takut pada yang disebut dengan boss (itu yang memotivasi mereka untuk terus bekerja), dan yang terutama karyawan menerima penghasilan tetap setiap bulannya. dan itu selalu mereka peroleh tidak peduli kondisi apapun yang terjadi. apakah mereka berprestasi atau tidak, perusahaan sedang masa sulit atau tidak, dan sebagainya.</p>
<p style="text-align: justify;">sedang entrepreneur sebaliknya, tidak ada yang ditakutinya karena dia adalah sosok pemegang kekuasaan tertinggi di perusahaannya.  bila tidak bekerja dengan baik dan maksimal maka dia benar-benar tidak akan berpenghasilan dan terutama dia harus rajin-rajin memberi motivasi dan membagkitkan semangatnya sendiri agar yang dikerjakannya berlangsung dengan maksimal.</p>
<p style="text-align: justify;">dua dunia yang sangat berbeda ini bagaimana bisa saling mendukung. makanya saya sebagai entrepreneur merasa sangat kesepian.</p>
<p style="text-align: justify;">saat awal merintis, kesepian saya tertolong dengan saya menemukan komunitas atau teman-teman sekelompok yang sevisi dan semisi. ini sangat membantu, terutama pada saat-saat saya butuh suport, motivasi dan solusi dari permasalahan yang saya hadapi. itu terjadi karena kedudukan saya dan teman-teman setara. itu juga karena bisnis masing-masing yang sama-sama dalam proses perintisan dan pengembangan berjalan masih setara, dalam level yang sama-sama baru merintis dan membangun.</p>
<p style="text-align: justify;">tapi kemudian satu atau dua tahun berjalan mulailah ada gap diantara kami semua sekomunitas. gap itu terjadi karena dalam perjalanannya perkembangan bisnis masing-masing tidak setara lagi.   kami tidak lagi berada pada level yang sama.   ini bisa terjadi karena pilihan bisnis yang diterjuni masing-masing dari kami berbeda, modal dasar baik yang berupa uang, prasarana atau pengetahuan juga berbeda.   tapi yang terutama menjadi penyebab adalah karena pertumbuhan bisnisnya yang berbeda,  ada yang melesat dengan cepat, ada yang jalan ditempat bahkan ada yang tutup bankrut karena berbagai sebab.</p>
<p style="text-align: justify;">pada kondisinyang berbeda-beda level ini,  mulailah terjadi kesulitan untuk berkomunikasi diantara kami, walaupun diawal kami sama-sama merintis bareng dan sering kumpul bareng karena tergabung dalam komunitas yang sama bahkan sering cankruan bareng dalam pergaulan kesehariannya.</p>
<p style="text-align: justify;">saat-saat itu kembalilah saya menjadi mahluk kesepian. kembali bingung mau ngobrol sama siapa, mau tanya sama siapa dan mau sharing sama siapa. sebenarnya saya masih bergabung dalam komunitas yang sama malah ikutan dibanyak komunitas entrepreneur yang lainnya, tapi ini lebih karena kebutuhan moril buat sharing yang luar biasa. hubungan dengan teman-teman lama  dan yang baru  juga masih berjalan baik dan akrab,  tapi kalau untuk berdiskusi sudah tidak nyambung lagi. ini yang bikin bingung dan bermasalah.</p>
<p style="text-align: justify;">level bsnis dan pengetahuan boleh beda tapi status saya dan kawan-kawan pada prinsipnya tetep sama, sebagai boss tertinggi diperusahaan masing-masing. jadinya ego kami masing-masing tetep tinggi karena merasa sama-sama setara jadi orang hebat, ada rasa tidak mau mengalah. atau ada rasa ingin menggurui saat bicara pada kawan yang bisnisnya lebih lemah. ini yang terjadi secara tidak kami sadari, tapi  akibatnya sangat mengganggu komunikasi kita semua. yang lebih repot lagi bila ada kawan yang saat merintis dulu sangat mudah ditemui buat diajak sharing, kini saat perkembangan bisnisnya melaju pesat bak meteor jadi sulit ditemui, bukan karena berubah jadi sombong, tapi karena kesibukan bisnisnya yang membuatnya bener-bener sibuk.</p>
<p style="text-align: justify;">kembali menjadi mahluk kesepian di level bisnis manapun sangat berbahaya karena pasti sangat mempengaruhi jalannya perkembangan bisnis.</p>
<p style="text-align: justify;">untungnya sampai saat ini saya bisa menemukan seorang kawan yang masih bisa diajakberbagi cerita. berbagi cerita tapi tetep sesuai ego kami masing-masing. ini terjadi karena memang level bisnis kami berbeda jauh. level saya jauh tertinggal diliat dari sudut perkembangan bisnis manapun,  baik itu jumlah karyawan, omset, network yang dibangun, pengalaman dan pendidikan bahkan secara kecerdasanpun saya masih jauh dibawah. tapi dengan gap yang sedemikian lebar itu kami tetep bisa berkomunikasi dengan baik walaupun dalam keseharian jarang sekali bertemu, baik bertemu secara fisik maupun secara alat telekomunikasi.</p>
<p style="text-align: justify;">saya dan kawan tadi masih bisa saling berbagi pengalaman dalam kesetaraan yang sama dan saat itu tidak ada ego kami yang muncul (ego yang muncul saat berkomunikasi sangat berbahaya karena bisa berakibat fatal saling ketersinggungan dan berakibat hancur hubungan pertemanan).</p>
<p style="text-align: justify;">saya kemudian berpikir apa yang terjadi, sehingga kami masih bisa berkawan dalam arti sesungguhnya.</p>
<p style="text-align: justify;">saya kemudian mengambil kesimpulan buat diri saya sendiri. rupanya saat kami berkomunikasi secara tidak sadar saya dan kawan saya tadi bisa berperan seperti tempat sampah atau sebagai lubang wc.</p>
<p style="text-align: justify;"><a href="http://farm1.static.flickr.com/109/314155092_1328b36206.jpg"><img class="alignleft" src="http://farm1.static.flickr.com/109/314155092_1328b36206.jpg" alt="" width="233" height="178" /></a>seperti jika seseorang ingin membuang sampah setelah kotoran memenuhi tempat penampungan sementara, yaitu orang trsebut tinggal angkat tempat penampungan sementara dan lempar isinya yang berupa kotoran sampah ke tempat sampah. tempat sampah tidak akan protes, dia diam saja menerima sampah dari siapa saja dan berupa apa saja yang di buang oleh orang tadi. setelah sampah dari tempat penampungan sementara kosong, orang tadi lega dan pergi lalu mengisi lagi tempat penampungan sementaranya dengan sampah-sampah baru. sampah yang dibuang pasti sudah tidak berguna bagi orang tadi, tapi tempat sampah tetep akan menerimanya.</p>
<p style="text-align: justify;">lubang wc juga sama, saat seseorang kebelet pingin buang hajat dia akan cari lubang wc, lalu cuuur atau brol, hajat orang itu dibuangnya ke lubang wc. setelah hajatnya terbuang orang tadi pastinya akan merasa lega karena sudah tidak punya beban lagi dan bisa beraktifitas normal kembali. nah lubang wc juga gak pernah protes terhadap hajat apa yang dibuang kesitu.</p>
<p style="text-align: justify;">ibarat perumpamaan ini, saya bisa berfungsi sebagai tempat sampah atau lubang wc buat kawan tadi dan begitu juga sebaliknya. saat masing-masing dari kami sumpek dan pingin ngobrol ya kami bikin janjian dan kemudian bertemu. yang punya masalah akan nyrocos terus sampai tuntas sedang yang tidak punya masalah akan mendengarkan tanpa protes. setelah selesai nyrocos dan semua masalah di keluarkan kita pun pamitan untuk berpisah. begitu saja. si punya masalah tidak minta solusi dan si pendengar juga tidak memberikan solusi tanpa diminta, karena sesungguh-sunguhnya dari kami masing-masing sudah tau apa yang jadi jawaban dari persoalan yang ada,  makanya tidak ada yang bertanya dan tidak ada yang menjawab tanpa ditanya.  persis tempat sampah atau lubang wc, hanya berfungsi sebagai tempat penampungan kotoran.</p>
<p style="text-align: justify;">kecuali bila  ada pokok bahasan yang bener-bener perlu didiskusikan maka kami akan berfungsi kembali dengan normal, yang cerdas akan menujukakkan kecerdasannya dan yang berpengalaman akan menujukkan pengalamannya.</p>
<p style="text-align: justify;">kondisi ini yang bikin saya gak kesepian lagi dan bisa bertahan hidup sampai hari ini. uniknya saat kita bertemu dan berfungsi sebagai tempat sampah atau lubang wc, waktu ngobrolnya juga bisa menjadi berjam-jam sehingga sering bikin pasangan masing-masing merasa sebel. waktu saya memang lebih flexibel dari waktu kawan tadi mungkin karena dia baru menikah dan baru punya momongan.</p>
<p style="text-align: justify;">jika dia berkunung ke tempat saya dan saya sedang berfungsi sebagai lubang wc,  akan ada timer yang berbunyi yang menunjukkan waktu kunjungan sudah berakhir. entah bagaimana caranya, pasangan kawan saya itu kok bisa tau ya, setelah kawan tadi duduk ngobrol dengan saya selama dua jam bisa dipastikan alat komunikasinya berdering dan itu pasti dari pasangannya yang menanti dengan tidak sabar kenapa kok belum pulang juga, padahal tadi janji kunjungannya hanya sebentar. selalu setelah duduk selama dua jam, hebat sekali. (dalam hati si nyonya pasti bilang &#8216;gak ada critanya ngobrol sama samurai cuman sebentar&#8217;)</p>
<p style="text-align: justify;">kalau saya yang berkunjung dan saat dia yang berperan sebagai tempat sampah atau lubang wc,  ini dulu saat beliau masih bujang,  hp saya akan bunyi setiap kali waktu subuh dan itu pasti dari ibunya anak-anak yang bertanya &#8220;ngobrol dari magrib sampe subuh apa belom cukup? trus mau pulang jam brapa?&#8221; tapi sekarang saya culup tau diri dan hanya berkunjung kekantornya setelah bikin janji pada jam-jam kerja saja.</p>
<p style="text-align: justify;">tapi jika kami masing-masing tidak punya kebutuhan ya kami tidak akan saling menyapa dan kalaupun bertemu baik sengaja ataupun tidak percakapan yang timbul hanya basa basi kurang dari lima menit. aneh memang tapi itu lebih dari cukup karena kalo dipaksain juga gak ada obrolan.</p>
<p style="text-align: justify;">dalam perkembangan berikutnya. saya menemukan lubang wc atau tempat sampah baru, tapi disini lebih tepatnya saya yang selalu berperan sebagai tempat sampah atau lubang wc bagi teman baru tadi.</p>
<p style="text-align: justify;">setiap orang beda kebutuhan dan keperluannya tapi tetep butuh tempat sampah atau lubang wc, sehingga tidak bisa joint atau sharing di lubang wc atau ditempat sampah yang sama.</p>
<p style="text-align: justify;">
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.samuraijagoan.com/2009/07/29/lubang-wc-atau-tempat-sampah/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>boong-boong</title>
		<link>http://www.samuraijagoan.com/2009/06/15/467/</link>
		<comments>http://www.samuraijagoan.com/2009/06/15/467/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 15 Jun 2009 19:14:14 +0000</pubDate>
		<dc:creator>samurai</dc:creator>
				<category><![CDATA[mine n my family]]></category>
		<category><![CDATA[amarah]]></category>
		<category><![CDATA[diskusi]]></category>
		<category><![CDATA[emosi]]></category>
		<category><![CDATA[entepreneur bodoh]]></category>
		<category><![CDATA[komunikasi]]></category>
		<category><![CDATA[pembohong]]></category>
		<category><![CDATA[penipu]]></category>
		<category><![CDATA[percaya diri]]></category>
		<category><![CDATA[sakit hati]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.samuraijagoan.com/?p=467</guid>
		<description><![CDATA[disini mungkin tempat paling asik buat cerita, walaupun gak ada responnya tapi paling nggak semua bisa diceritain. sebenernya mungkin sama saja dengan kalo curhat dengan seseorang. walaupun ada respon secara langsung tapi toh sampai sejauh ini tidak ada satupun yang bisa memahami apa sebenernya yang jadi masalah kenapa saya gak bisa melupakan peristiwa itu.  [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;">disini mungkin tempat paling asik buat cerita, walaupun gak ada responnya tapi paling nggak semua bisa diceritain. sebenernya mungkin sama saja dengan kalo curhat dengan seseorang. walaupun ada respon secara langsung tapi toh sampai sejauh ini tidak ada satupun yang bisa memahami apa sebenernya yang jadi masalah kenapa saya gak bisa melupakan peristiwa itu. <a href="http://seeker401.files.wordpress.com/2009/05/liar.jpg"><img class="alignright" src="http://seeker401.files.wordpress.com/2009/05/liar.jpg" alt="" width="163" height="153" /></a> semua komentar dan respon selalu kembali dan ditujukan pada anak-anak. kepentingan anak-anak seolah-olah menjadi kepentingan utama. semua menjadi bisa dimaafkan apabila anak-anak tidak menderita, begitu komentar semua orang yang menasehati saya.<span id="more-467"></span></p>
<p style="text-align: justify;">anak-anak memang senjata utama. mungkin mudah saja buat bilang kalau segala sesuatu yang telah terjadi itu bisa diperbaiki, mana ada sih manusia yang tidak pernah berbuat salah, memafkan itu mulia apalagi memafkan orang yang khilaf. sulit, begitu kata semua orang, tapi anak-anak harus diingat sehingga lambat laun semuanya bisa kembali normal. berat, tapi demi anak-anak semua harus dilakukan.</p>
<p style="text-align: justify;">ya mudah jika hanya sekedar bicara. tapi coba giliran saya bertanya dengan pertannyaan yang sangat sederhana, tidak ada satupun yang memberi jawaban, jawaban yang nyerempet saja tidak. apalagi jawaban yang bisa menjadi solusi. pertannyaan saya sebenernya sangat sederhana kok &#8220;apa yang harus sayal lakukan supaya saya bisa melupakan peristiwa itu?&#8221; jawaban paling sering saya dengar adalah &#8220;dengan niat baik, ingatlah segala perbuatan baiknya dulu sebelum dia berindak khilaf, dan mohonlah petunjuk pada allah&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;">okelah saya lakukan semuanya, tapi entah kenapa bukannya hilang memori itu malah bertambah sering dia muncul. kalimat-kalimat itu sering berseliweran dalam tatapan saya, sering seperti dibisikkan di telinga saya, bahkan dalam otak ini jelas sekali apa saja yang dilakukannya pada saat itu. rasanya seperti gila, bukannya hilang melainkan makin sering muncul. malahan sekarang bertambah gawat. yang tadinya saat sebelum, saat kejadian dan beberapa hari sesudah kejadian itu, dalam otak saya sama sekali tidak muncul prasangka-prasangka negatif apapun terhadap mereka. tapi sekarang meningkat dengan pesat. prasangka-prasangka negatif itu bermunculan dalam otak ini, makin hari makin lengkap dengan bumbu dan kembangannya.</p>
<p style="text-align: justify;">bertambah rusaklah sekarang pikiran saya. bertambah tidak tenang hati ini. mungkin ini juga disebabkan karena aktivitas harian saya yang semakin santai. ditambah lagi saya saat ini menjadi jarang keluar rumah untuk persiapan menyambut tamu-tamu yang akan datang. selain itupun kalau saya keluarpun bingung dengan tujuan yang hendak diambil, mau kemana? selalu pertanyaan itu yang muncul, alasannya sederhana saja, saat ini semua teman saya sudah sibuk dengan urusannya masing-masing, ditambah lagi semakin sedikit yang belum menikah. sibuk mengendalikan usahanya dan baru menikah itu membuat teman-teman saya punya keasyikan tersendiri, hidup dengan dunianya sendiri-sendiri.</p>
<p style="text-align: justify;">akibatnya saya semakin merasa sendirian. sendirian itu gawat banget ternyata. lebih menyakitkan lagi beberapa aktifitas pribadi saya menjadi tidak bisa dilakukan lagi, bukan tidak bisa tapi memang sengaja tidak dilakukan supaya terbiasa. jika biasanya dalam segala kondisi, yang saya paling sering saya lakukan adalah berkomunikasi lewat sms, penting atau tidak penting, ber-sms ria benar-benar sudah menjadi penyaluran rasa kangen saya akan komunikasi. sehari bisa lebih dari lima belas kali saya ber-sms, bila sms ke HP tidak berbalas maka saya segera kirim sms ke CDMA-nya. jika itu pun tidak ada reaksi maka saya mencoba nomor lainya. itu baru sms, belum lagi keinginan berkomunikasi lewat suara, telepon langsung! wah itu bener-bener kegiatan yang sangat menyenangkan. telepon atau sms jumlahnya dalam sehari seakan berlomba antar mereka.</p>
<p style="text-align: justify;">dari sebuah kegiatan rutin yang menyenangkan dan selaku saya nantikan, kini semua aktifitas tadi harus saya hentikan. paling sms atau telepon yang terjadi hanya bila berhubungan dengan bisnis, jadi itu bisa diitung sejumlah dengan jari satu tangan saja. semakin habis rasanya hidup ini, kenapa sih saya harus menghentikannya? saya pikir jadinya komunikasi itu akan menjadi sia-sia belaka, toh dalam otak saya tetep tidak  yakin terhadap kata-kata yang diucapkan atau terhadap sms balasan. ketidak percayaan memang menghancurkan sekali semua tindakan saya akhir-akhir ini.</p>
<p style="text-align: justify;">saya menjadi pencuriga, semua menjadi kebohongan buta dan tidak ada lagi yang bisa saya percayai.</p>
<p style="text-align: justify;">saya mungkin trauma, <a href="http://www.spirit-of-metal.com/les%20goupes/S/She%20Is%20A%20Liar/She%20Is%20A%20Liar/She%20Is%20A%20Liar.jpg"><img class="alignleft" src="http://www.spirit-of-metal.com/les%20goupes/S/She%20Is%20A%20Liar/She%20Is%20A%20Liar/She%20Is%20A%20Liar.jpg" alt="" width="250" height="257" /></a> tapi yang jelas saya kehilangan kepercayaan diri saya. terhadap diri sendiri dan orang lain. yang tadinya saya seorang apatis yang tidak terlalu peduli dengan komunikasi dan kepentingan orang lain, ditambah saya adalah seorang egois dan sangat emosional. perlahan, langkah demi langkah saya mendapakan pelajaran dan bimbingan secara sabar tentang pentingnya berkomunikasi, pentingnya memberi perhatian lebih pada seseorang dan pentingnya menahan emosi amarah.  pelajaran dan bimbingan itu secara perlahan tapi pasti membuat kejiwaan saya berubah. padahal kondisi saya sangat parah saat itu, selain memiliki banyak hal negatif dalam besosialisi, saya juga mengalami krisis kepercayaan diri, saat perusahaan kelurga yang saya tangani bankrut. saat itu saya dikecam dari segala arah, karena saya orang yang sulit berkomunikasi dan bersosialisasi kondisi saya semakin bertambah parah karena saya melawan denganpenuh emosional.</p>
<p style="text-align: justify;">sepertinya saya dikucilkan semua pihak saat itu. tapi perlahan kesabaran dan ketelatenan yang ada bikin saya bangkit, belajar lagi dan banyak membuang sifat-sifat negatif yang saya punya. kesabaran dan ketelatenan itu sebenarnya sangat berat karena yang dihadapi orang yang sangat sulit dan sant emosional pemarah seperti saya. sementara saya dapatkan ha-hal yang baik yang kelak semakin memperbaiki kejiwaan saya. justru kebalikannya, hari demi hari hal-hal yang berat harus diterima dan di tanggung. pelepasan emosional saya yang tidak mengenal waktu itu, pastinya tersimpan erat dalam sanubari, dan itu bukan dalam waktu yang singkat tapi sangat lama sekitar sembilan tahun.</p>
<p style="text-align: justify;">sembilan tahun berlalu. saya seperti memjadi orang baru, tidak seratus persen sih tapi sekitar delapan puluh persen-an pasti ada perubahan yang saya alami. sikap emosional jauh berkurang walaupun masih meledak-ledak. dari seorang yang introvert dan sulit bergaul menjadi memiliki banyak teman dan memiliki banyak kegiatan positif. dari yang sulit berkomunikasi, menjadi seorang yang suka berbicara, baik dalam pergaulan  sejari-hari ataupun berbicara dalam forum seminar dan diskusi. dari seorang yang tidak perhatian dan seenaknya sendiri menjadi mempunyai perhatian lebih dan selalu ingin berkomunikasi denganistri dan anaknya. perubahan ini mungkin tidak terlalu saya sadari tapi ternyata cukup bikin saya ketagihan. seperti bila tidak sms atau telepon ada saja perasaan tidak nyaman yang muncul, bila tidak berdiskusi atau sharing saja dalam sehari seperti ada yang kurang dalam menjalani aktifitas harian.</p>
<p style="text-align: justify;">perubahan saya kearah yang lebih positif bisa berefek kebaikan tapi juga bisa menimbulkan suasana tidak menyenangkan.</p>
<p style="text-align: justify;">dalam keseharian ditengah keluarga saat belum menikah, dalam keseharian saat berprofesi sebagai pengajar, bahkan dalam keseharian dalam membina rumah tangga, perhatian adalah sesuatu yang mahal. ditengah keluarga situasi itu terbentuk karena kondisi ekonomi yang sederhana ditambah dengan harus berbagi perhatian dengan tiga orang saudaranya. dalam lingkunannya sebagai pengajar, selalu dianggap anak kecil sehingga jarang mendapatkan kesempatan. dalam kehidupan berumah tangga, sebenarnya banyak perhatian dan kasih sayang diperoleh, tapi itu menjadi impas bahkan hilang karena tertutup sikap emosional pasangannnya.</p>
<p style="text-align: justify;">dunia seakan berubah saat dia mendapatkan suatu kesempatan pengabdian. lingkungan baru ini sungguh berbeda dari lingkungan lamanya yang sudah dialami selama 30 tahun lebih. power dan kekuasaan membuatnya dihormati dan segani. apalagi lingkungan pergaulannya menjadi sangat luas. banyak kalangan dikenali dan mengenalinya, bukan hanya dari kalangan biasa saja tapi justru lebih banyak yang dari kalangan atas dan berpengaruh. apalagi semua menaruh hormat dan memberikan pelayanan penuh. sanjungan dan pujian yang tadinya berharga mahal sekarang seakan menjadi komuditas obralan.  pola pikir dan tindakan kolot serta tradisional yang biasa setiap hari dihadapi kini berubah menjadi kebudayaan modern yang serba longgar dan tidak mengikat.</p>
<p style="text-align: justify;">perubahan sering datang tiba-tiba dan tanpa disadari pelakunya. yang satu berubah menjadi lebih baik dan sedang senang-senangnya berkomunikasi, sedang yang lainnya sedang terlena dengan sanjungan dan pujian yang tidak pernah diperolehnya selama ini. pagar yang ada hanya batasan emosional. saat emosi rendah dan menyenangkan pagar terbuka, saat emosi tinggi dan penuh amarah pagar otomatis tertutup. sayangnya emosi tinggi dan penuh amarahlah yang kerap muncul, bahkan kali ini tidak hanya sepihak, pihak lainnya juga turut menyumbangkan kondisi yang sama, dengan alasan yang sangat masuk akal, letih akibat pekerjaan.</p>
<p style="text-align: justify;">emosi berbentur dengan emosi hasilnya energi negatif yang sangat besar. di satu pihak lagi senang-senangnya berkomunikasi dengan orang yang selama ini mengajari dengan telaten, bahkan seringkali komunikasi itu terlalu berlebihan dilakukan. di pihak lain akibat selalu merasakan sakit hati berkepanjangan dan kini sedang menikmati indahnya suasana di dunia baru, justru menganggapnya sebagai hal yang mengganggu dan menyebalkan. tidak ada yang menyadari akibatnya api seperti menyala dalam sekam.</p>
<p style="text-align: justify;">jelas donk sesuatu yang menyenangkan akan lebih diutamakan dari pada situasi yang sudah menjadi rutinitas dan menyebalkan. apalagi lingkungan sangat mendukung, relasi baru sangat menyenangkan dan enak untuk diajak sharing dan berdiskusi. banyak langkah harus diambil untuk mempertahankan kondisi ini,  karena dikhawatirkan lingkungan lamanya tidak suka. ternyata dugaan tidak selamanya keliru, lingkungan lama bereaksi menyatakan protes dan ketidaksukaan terhadap lingkungan baru. tidak ada diskusi yang bisa terlaksana yang ada lebih banyak persepsi negatif, apalagi memgingat lingkunan lama sangat penuh amarah.</p>
<p style="text-align: justify;">bosan dengan suasana penuh emosi dan amarah yang tidak mengenakkan, terpaksa diambil tindakan yang dirasakan benar. lebih baik tidak jujur tapi tidak ada amarah dari pada berlaku jujur tapi berakibat naiknya kadar emosi.</p>
<p style="text-align: justify;">sesuatu yang dilakukan dengan rutin akhirnya menjadi kebiasaan. menghindari amarah dengan caranya sendiri dianggap hal yang lumrah. akibatnya mulailah tampak keanehan-keanehan dalam kesehariannya. pada orang awam mungkin tidak nampak, tapi karena terjadi hampir setiap hari dan yang memperhatikan adalah seorang yang  delapan puluh persen waktunya adalah mengamati orang lain maka perlahan tapi pasti  keanehan itu keliatan juga. bagaimana menjadi tidak kelihatan oleh orang itu, tingkah-laku kawan-kawannya saja yang tidak setiap hari bertemu bisa dibaca dengan cukup akurat. nah ini sekarang yang menjadi perhatian utama adalah sosok yang ditemui hampir lebih dari 18 jam setiap harinya.</p>
<p style="text-align: justify;">tidak tahan dengan keanehan yang terjadi, sering terjadi pembicaraan tentang kejujuran dalam bertindak. yang satu merasakan ketidak jujuran akan berakibat fatal yang lainnya karena merasa semua untuk kebaikan tidak merasa bersalah. tindakannya yang dianggap aneh selalu dijawab dengan tertawakan, karena itu adalah anggapan orang yang cengeng  dan sensitf, serta mengada-ada.</p>
<p style="text-align: justify;">yang satu semakin tidak nyaman karena bau ketidak jujuran semakin keras, yang lain santai saja karena merasa tidak melakukan sesuatu yang keliru, apalagi sikap penuh emosonal bukan lagi hal yang aneh karena sudah menjadi rutinitas selama sembilan tahun. ajakan diskusi tidak pernah diperhatikan karena yang mengajak tidak menarik, didalam dunia barunya itu ada sosok teman diskusi yang lebih menyenangkan.</p>
<p style="text-align: justify;">diskusi dengan teman yang ramah dan menyenangkan tentunya sungguh mengasyikkan. seringkali muncul perasaan agar diskusi itu jangan berakhir dan bisa berlangsung setiap saat. kebutuhan itu rupannya cukup tinggi, sehingga setelah diskusi yang tidak menyenangkan terjadi harus segera ditutup dengan teman diskusi yang lebih istimewa karena bisa memberikan masukan yang dianggap positif apalagi situasinya lebih menyenangkan. keanehan yang ditanyaka selalu disangkal. dan kebutuhan untuk berdiskusi semakin menjadi-jadi, suatu saat bahkan dilakukan pada waktu yang bersamaan dikala partner diskusinya yang tidak menyenangkan itu lengah. diskusi dengan pihak yang berbeda pada waktu yang bersamaan itu tentunya bisa bisa terjadi karena dilakukan dengan sangat tenang dan santai tanpa perasaan bersalah. bahkan bahasa yang digunakan dalam diskusi itupun merupakan bahasa gaul terlalu akrab.</p>
<p style="text-align: justify;">hal baik apalagi hal buruk tentunya tidak mungkin dapat disembunyikan terus menerus. ada saja kejadian sepele yang tidak pernah diduga atau diperkirakan sebelumnya akan mengungkap hal-hal yang disembunyikan itu.</p>
<p style="text-align: justify;">suatu saat dikala seluruh keluarganya berkumpul dan bermain bersama, itu merupakan saat berdiskusi yang baik dengan teman yang menyenangkan. apalagi teman diskusi yang menyebalkan sedang pergi seharian penuh. ajang diskusi semakin menyenangkan karena suasana bebas, nyaman dan berlangsung lama. suasana ramai saat keluarga berkunjung merupakan kondisi paling nyaman, diskusi dalam suasana tegang dengan dua pihak sekaligus dimana salah satu pihak tidak menyadari saja dapat terlaksana apalagi bila suasana nyaman dan lawan diskusinya menyenangkan.</p>
<p style="text-align: justify;">lalai dengan suasana penuh kenyamanan, salah satu berkas diskusi tertinggal tidak ikut dibereskan.</p>
<p style="text-align: justify;">ketika pulang dari bepergian memang tidak dirasa ada hal yang aneh dalam suasana saat itu.  keramaian suasana  dengan suara anak-anak bermain memang melegakan. entah kenapa justru komunikasi terjalin cukup bagus dan tanpa ditanya dibahaslah hal-hal yang selalu dianggap aneh selama ini. ditunjukkanlah semua berkas yang ada dimana memang tidak nampak ada suatu keanehan yang nampak. ketika diskusi hampir berakhir dengan senyuman secara tidak sengaja berkas tadi nampak, sungguh aneh padahal selama di pertontonkan tidak nampak berkas itu ada. <a href="http://ibepiglet.com/images/liar.jpg"><img class="alignright" src="http://ibepiglet.com/images/liar.jpg" alt="" width="202" height="217" /></a></p>
<p style="text-align: justify;">isi bahan diskusi dalam berkas itu sungguh bikin kepala panas, apalagi tidak sedikitpun muncul rasa bersalah dan tanda-tanda untuk mengaku bahwa selama ini memang ada yang aneh. semakin panas isi kepala  karena waktu di berkas itu menunjukkan bahwa telah terjadi dua diskusi pada saat yan bersamaan. tanpa diketahui oleh salah satu pihak yang terlibat diskusi.</p>
<p style="text-align: justify;">suatu kebohongan bisa dianggap tidak salah bila untuk tujuan kebenara.n tapi dilain sisi untuk seseorang yang tidak pernah berbohong pada pasangannya, itu sesuatu yang sangat menyakitkan. padahal selama berjalannya waktu bila nampak ketidak jujuran sedikit saja bisa menimbulkan amarah yang luar biasa. tapi mungkin rasa sakit hati yang dipendam bertahun-tahun karena selalu terkena terpaan amarah dan emosi serta sedang terlena dalam buaian dunia baru bisa membuat ketidak jujuran menjadi hal biasa dan dapat dilakukan hampir setiap hari dan tanpa ekspresi.</p>
<p style="text-align: justify;">apalagi rasa bangga sebagai wanita karier yang mandiri muncul membuat hilangnya rasa khawatir terhadap apapun. semua resiko diambil demi mempertahankan pendapat. walaupun diakui juga bahwa dia dapat melakukan diskusi pada saat yang bersamaan dengan dua lawan diskusi yang berbeda dan itu terjadi dengan ekspresi wajah yang wajar.</p>
<p style="text-align: justify;">shock dan terpukul sekali, apalagi perilaku itu dilakukan oleh seseorang yang selama ini mengajarinya kebaikan. dan pada saat semua tingkah jeleknya sekuat tenaga dibuang untuk kesenangan bersama. apalagi orang itu tidak merasa bersalah sama sekali terhadap perbuatan yang dilakukannya. rasa bersalah tidak pernah muncul dalam dirinya sampai saat ini.</p>
<p style="text-align: justify;">dibohongi dengan cara seperti itu gimana ya cara melupakannya? apalagi jika ingat diskusi-diskusinya  yang dilakukan dengan orang lain pada saat yang bersamaan mereka saling berdiskusi. saat lengah,  perhatian segera diarahkan pada orang lain, kemudian kembali focus bila keadaan tidak memungkinkan.</p>
<p style="text-align: justify;">nggak tau ya menurut orang lain, tapi menurut saya itu perbuatan sangat luar biasa tidak bisa dimaafkan. bagaimana cara membuktikan bila kebohongan sudah tidak ada lagi, apalagi sarana komunikasi sangat canggih, internet dengan email dan facebook atau HP.</p>
<p style="text-align: justify;">semakin lama dipertahankan semakin gila rasanya&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;</p>
<p style="text-align: justify;">menahan emosi sehingga menjadi tidak pemarah saja sudah luar biasa beratnya, dan menghilangkan kebiasaan merokok akhirnya menjadi hal biasa akibat peristiwa itu, tidak ada seorangpun yang menyadarinya, dua kejadian itu akhirnya tidak tampak oleh siapapun dan tidak menjadikan saya berprestasi.</p>
<p style="text-align: justify;">saya hanya dianggap bisa berprestasi jika bisa memaafkan&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;.</p>
<p style="text-align: justify;">saya diberi waktu enam bulan, saya yakin itu sulit terjadi, karena saya tidak bisa lagi!</p>
<p style="text-align: justify;">
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.samuraijagoan.com/2009/06/15/467/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>6</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>dipikir dengan penuh keyakinan</title>
		<link>http://www.samuraijagoan.com/2009/04/09/dipikir-dengan-penuh-keyakinan/</link>
		<comments>http://www.samuraijagoan.com/2009/04/09/dipikir-dengan-penuh-keyakinan/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 09 Apr 2009 16:15:12 +0000</pubDate>
		<dc:creator>samurai</dc:creator>
				<category><![CDATA[Artikel Menarik]]></category>
		<category><![CDATA[Sumber Daya]]></category>
		<category><![CDATA[boss bodoh]]></category>
		<category><![CDATA[entepreneur bodoh]]></category>
		<category><![CDATA[karyawan bodoh]]></category>
		<category><![CDATA[majikan bodoh]]></category>
		<category><![CDATA[peraturan bodoh]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.samuraijagoan.com/?p=416</guid>
		<description><![CDATA[masih inget dengan tulisan tentang karyawan senior saya yang saya beri kepercayaan tapi akhirnya merasa dirinya hebat dan sering berbuat ulah yang menjengkelkan? 
saya dan istri sebagai owner bener-bener hampir kehabisan cara buat merubahnya menjadi lebih kalem. karena setiap kali di ingatkan dan diberi teguran baik secara halus sampai secara tegas reaksinya selalu sama, yaitu [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;">masih inget dengan tulisan tentang <a href="http://www.samuraijagoan.com/2009/02/05/menjengkelkan-sekali/">karyawan</a> senior saya yang saya beri kepercayaan tapi akhirnya merasa dirinya hebat dan sering berbuat ulah yang menjengkelkan? <img class="alignleft" src="http://azfoo.net/places/ca/rice/pics/003_012_Hope.jpg" alt="" width="164" height="122" /><span id="more-416"></span></p>
<p style="text-align: justify;">saya dan istri sebagai owner bener-bener hampir kehabisan cara buat merubahnya menjadi lebih kalem. karena setiap kali di ingatkan dan diberi teguran baik secara halus sampai secara tegas reaksinya selalu sama, yaitu wajah cemberut, muka ditekuk dan setelah itu pekerjaannya bukannya semakin baik tapi malahan semakin parah.</p>
<p style="text-align: justify;">kondisi ini semakin menghawatirkan karena seperti diketahui, dia itu adalah karyawan senior yang menjadi lead bagi teman-temannya di tempat usaha kami. kalau habis di tegur oleh kami berdua, bukan hanya kerjaannya yang kacau tapi juga ber-efek pada kawannya yang lain. mereka yang gak ngerti apa-apa ikut kena semprot wajah cemberutnya dan yang bikin tambah sumpek situasi kerja hari itu jadi gak nyaman.</p>
<p style="text-align: justify;">bukannya kami gak mau langsung mengeluarkan keputusan tegas buat memecatnya tapi kami merasa pemecatan secara langsung bisa  membuat efek yang lebih buruk lagi. karena sebagai senior dia bisa saja kemudian mempengaruhi rekan kerjanya untuk berbuat yang tidak baik juga.</p>
<p style="text-align: justify;">tapi kami tidak bisa berdiam diri saja karena tindakan dari karyawan tadi sebenarnya tidak juga disukai oleh teman-temannya. mereka juga merasa terganggu oleh tindakan si senior itu.</p>
<p style="text-align: justify;">saya dan istri terus bertukar pikiran untuk mengambil keputusan yang terbaik buat menindak si senior tadi. bila menuruti sifat saya yang emosional ,  saya sih pinginnya langsung ambil tindakan tegas saat itu juga. tapi selalu bisa direm oleh istri saya, walaupun dia juga sebel tapi istri selalu mengingatkan tentang prestasi si senior saat awal kami membangun bisnis ini. istri saya selalu mengajak saya berpikir dengan kepala dingin tentang langkah-langkah apa yang harus kami ambil.</p>
<p style="text-align: justify;">hampir setiap hari kami berdiskusi mengenai tindakan yang harus kami lakukan dan efek-efek dari keputusan kami.</p>
<p style="text-align: justify;">akhirnya tindakan petama yang kami ambil adalah mengurang kewenangan dan tugas-tugas dari si senior, kami berusaha untuk mengajari karyawan lain untuk melalukannya. si senior sendiri supaya gak kerasa kalo porsi tugasnya dikurangi kami beri tugas untuk ngajarin karyawan yang nantinya akan menggantikan tugas-tugasnya. tentu saja kami tidak memberi tahukan alasan kami yang sebenarnya pada mereka. kami hanya kemukakan pada mereka berdua adalah bahwa sebaiknya tidak hanya seorang saja yang tahu tentang pekerjaan di perusahaan. karena bila hanya satu saja yang tau bisa menjadi masalah bila yang bersangkutan tiba-tiba berhalangan. supaya lebih halus si senior tidak hanya mengajari satu orang saja tapi dua temannya sekaligus.</p>
<p style="text-align: justify;">si senior senang karena dia bisa merasa semakin hebat. saat sisenior bertindak dan mengajari teman-temannya tampak sekali rasa bangga dalam wajahnya. sebenarnya itu yang kami harapkan karena dengan rasa bangga maka si senior tidak merasa kalau dirinya sebenarnya sedang kami manfaatkan buat menjatuhkan dirinya sendiri.</p>
<p style="text-align: justify;">selama si senior sibuk ngajarin dua teman juniornya, saya dan istri tetap berunding dan berpikir keras mengenai langkah-langkah apa yang harus kami ambil setelah ini.</p>
<p style="text-align: justify;">sebenarnya dalam pikiran kami berdua, kami sangat berharap datangnya suatu hal yang muncul diluar kendali kami, yang akan membuat si senior mengundurkan diri. kami berdua benar-benar berharap dan yakin hal tersebut akan muncul.</p>
<p style="text-align: justify;">langkah selanjutnya setelah si senior selesai meberikan latihan pada dua juniornya maka kini giliran si junior mempraktekkan semua latihan itu. artinya kini si senior bertindak sebagai pengawas yang hanya memantau apakah pekerjaannya yang dilakukan oleh dua juniornya itu secara bergantiann akan berhasil dengan baik sesuai ajarannya dan seperti saat dia mengerjakan sendiri pekerjaan itu.</p>
<p style="text-align: justify;">dalam masa pengawasan ini otomatis si senior jadinya jarang terjun ke lapangan, dia menjadi banyak berdiam di kantor dan hanya tinggal menerima laporan tentang hasil tugas yang dikerjakan oleh juniornya.</p>
<p style="text-align: justify;">sehari dua hari, sisenior tampak menikmati pekerjaan barunya itu. tapi lewat dari itu seperti dugaan kami dia mulai bosan dengan kondisi kerja yang dialaminya. yang tadinya sisenior bisa dengan leluasa keluar kantor dengan alasan menjalankan tugas-tugasnya, kini dia tidak punya alasan lag buat keluar kantor karena pekerjaannya itu sedang di uji cobakan pada juniornya.</p>
<p style="text-align: justify;">bila dia minta ijin keluar saya jadinya punya alasan buat bertanya kenapa dia harus keluar, toh dua juniornya sedang berlatih dan kemudian melarangnya buat keluar juga dengan alasan sudah gak perlu lagi dia mendampingi temannya yang dua itu karena mereka toh harus juga diberi kepercayaan.</p>
<p style="text-align: justify;">perang urat saraf antara kami dan si senior berlangsung terus. kuat-kuatan tapi kami yakin si senior pasti tidak akan bertahan lama karena memang selama dia tidak keluar kantor, dia memang tidak punya pekerjaan apa-apa. selain memang sengaja tidak diberi tugas, sisenior memang lemah dalam tugas administratif. <img class="alignright" src="http://www.kaushik.net/avinash/wp-content/uploads/2008/06/hope-1.jpg" alt="" width="204" height="137" /></p>
<p style="text-align: justify;">selang seling tugas ke luar dilakukan antara si senior dan juniornya, tapi lama-lama kami terus berusaha agar tugas keluar lebih sering dikerjakan oleh si junior.</p>
<p style="text-align: justify;">karena merasa bosan tidak ada kerjaan di kantor maka si senior ini kemudian minta ijin cuti. suatu hal yang tidak pernah dilakukannya selama ini. selama hampir lima tahun dia bekerja di tempat kami dia hanya cuti bila bener-bener kepepet, dalam artian dia diminta pulang kampung oleh keluarganya di desa.</p>
<p style="text-align: justify;">sebenarnya itu yang kami tunggu-tunggu, dengan dikemukakannya ijin cuti oleh si senior maka kami jadi punya lebih banyak waktu lagi buat menyusun strategi.</p>
<p style="text-align: justify;">antara senang dan sedih juga bila mengingat kondisi ini, jarang sekali memang karyawan yang sedemikian loyalnya, bahkan saat liburan hari raya pun sisenior lebih suka bertugas menjaga kantor dari pada harus pulang mudik. dan dia baru pulang setelah hari raya lewat dan kami kembali beraktifitas, itupun dia ijin tidak lama, tiga hari berikutnya sudah dipastikan dia akan kembali ke kantor dan beraktifitas seperti biasa.</p>
<p style="text-align: justify;">seperti yang sudah kami perkirakan sebelumnya, dengan ijin cutinya si senior kondisi kantor kami bukannya kacau karena ditinggal oleh orang yang berpengalaman tapi malah menjadi kebalikannya. kondisi kantor menjadi lebih tenang dan kami merasakan adanya hawa positif dalam kami bekerja karena gak ada lagi yang ngomel-ngomel saat di tegur dan tidak ada lagi orang yang bikin kami semua jengkel.</p>
<p style="text-align: justify;">dengan kondisi ini saya jadinya semakin yakin bahwa saya harus mengeluarkan si senior dari perusahaan saya. ternyata si senior bisa digantikan semua fungsi-fungsinya oleh staf yang lebih junior bahkan dengan hasil kerja yang lebih baik lagi.</p>
<p style="text-align: justify;">tapi dengan tidak adanya standart operasional atau peraturan yang jelas dalam perusahaan kami, jadinya kami kesulitan juga buat mencari cara  yang baik dan benar untuk memutuskan hubungan kerja kami dengan sisenior.</p>
<p style="text-align: justify;">dengan adanya kelemahan ini, kami sekarang sedang menyusun standart yang jelas dan tegas buat patokan bila terjadi  permasalahamn dengan karyawan. dengan peraturan yang jelas dan standart, kami sebagai owner atau siapapun yang ditunjuk untuk berkewenangan menangani masalah-masalah karyawan jadi punya patokan yang tegas dan jelas dalam membuat keputusan dan mengambil tindakan.</p>
<p style="text-align: justify;">karena tidak adanya patokan yang jelas tadi satu-satunya harapan kami, saya dan istri, buat mengeluarkan si senior adalah terjadi lagi suatu kejadian yang terjadi karena kebetulan.  kami berdua benar-benar berharap keajaiban akan muncul lagi.</p>
<p style="text-align: justify;">entah karena kami benar-benar berharap dengan semua energi yang ada dan entah karena pikiran kami selalu tercurah ke sana maka muncul suatu berita yang benar-benar kami harapkan.</p>
<p style="text-align: justify;">si senior selama cuti memang masih berada di sekitar kami dalam mingu-mingu awal. dia masih sering muncul dikantor, hanya buat memamerkan kalo dia sedang cuti, harapannya mungkin bisa membuat rekan kerjanya kepingin cuti seperti dia. tapi lama-lama kemunculannya dikantor mulai tidak ditanggapi secara antusias oleh kawan-kawannya, maka kemudian dia minta ijin pada kami buat pulang kampung. tentu saja kami memberikan ijin dengan senang hati, apalagi memang masa cutinya masih panjang dan belum habis.</p>
<p style="text-align: justify;">dengan kepulangan si senior ke kampungnya otomatis lama-lama bikin bayangan kami semua padanya semakin tipis. komunikasi yang terjadi hanya melalui sms saja. situasi di kantor menjadi semaki baik dan menyenangkan. bahkan saya dan istri selalu berpikir supaya si senior menghubungi kami untuk mohon ijin tidak kembali lagi bekerja di perusahaan kami.</p>
<p style="text-align: justify;">harapan tinggal harapan, begitu kata teori. tapi kami tetap tidak berhenti berharap. seperti cerita di novel-novel atau di sinetron televisi, tiba-tiba kami mendapat sms dari si senior kalau dia minta ijin tidak akan bekerja di tempat kami lagi karena dia harus menyelesaikan tugas-tugas orang tuanya di desa. rupanya si senior ini di desa menjadi tokoh hebat karena pengalaman kerjannya di perusahaan kami, dia ternyata bisa menerapkan didesanya dan diminta oleh orang tuanya  buat bekerja disana dan tidak usah kembali bekerja pada kami.</p>
<p style="text-align: justify;">tentu saja permohonan tadi segera kami setujui. karena itu memang yang kami harapkan. si senior tidak lagi bekerja pada kami dan bukan karena kami yang menghentikan kerjanya (secara kasar bisa dibilang kami pecat) tapi karena dia yang mengundurkan diri karena permintaan sendiri. apalagi yang terjadi adalah sisenior mengundurkan diri karena mendapat tawaran pekerjaan yang lebih baik dari yang kami tawarkan padanya.</p>
<p style="text-align: justify;">kalo kami pikirkan lagi kejadian ini sungguh diluar pikiran normal kami. harapan kami terkabul dan terjadi hampir seratus persen. hanya karena kami sungguh-sungguh berpikir dan berusaha supaya apa yang kami harapkan bener-bener terjadi. <img class="alignleft" src="http://api.ning.com/files/nkgsPBVAE4fs4kON58n*H2Sh6sV6oJrmjZbZN1fmqchdMJDQXp9TCDLEDuVHXo0AyIdvCYeHdQ4v390ryHAfVkxg6Y*c1-wz/hope1.jpg" alt="" width="199" height="150" /></p>
<p style="text-align: justify;">mungkin ini yang sering disebutkan oleh berbagai sumber sebagai kekuatan pikiran. kami akhirnya mengalaminya sendiri. kami bersyukur bisa mengalaminya sendiri. kekuatan pikiran memang nyata dan hasilnya luar biasa.</p>
<p style="text-align: justify;">tapi kami tetap belajar bahwa mestinya kami bisa bertindak tegas dalam menegakkan peraturan dalam bisnis kami jika kami punya pertatutan baku tentang berbagai masalah yang akan terjadi dalam pengelolaan persusahaan.</p>
<p style="text-align: justify;">
<p style="text-align: justify;">
<p style="text-align: justify;">
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.samuraijagoan.com/2009/04/09/dipikir-dengan-penuh-keyakinan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

