pada saat saya memutuskan untuk menjadi entrepreneur saya merasa menjadi mahluk paling kesepian di dunia ini. saya merasa sangat sendirian karena gak ada yang bisa diajak ngobrol dan bertukar pikiran. lingkungan terdekat disekitar saya bukan entrepreneur, mereka terdiri dari karyawan baik swasta maupun pemerintahan. kencenderungan mereka selalu menyalahkan pilihan saya buat jadi entrepreneur terutama saat saya sedang berbuat salah atau sedang merasa putus asa dan tidak punya semangat.

saya rasa hal ini juga dialami oleh semua entrepreneur pemula dimana pada saat-saat itu selalu butuh dukungan support dan semangat. bukannya mendukung lingkungan justru malah meruntuhkan semangat dan moril.

ternyata kemudian saya merasakan hidup sendirian sebagai entrepreneur bukan hanya pada saat-saat awal merintis saja. tapi itu berlanjut pada semua fase kehidupan saya sebagai entrepreneur.

ternyata yang saya bayangkan di awal salah [+]

disini mungkin tempat paling asik buat cerita, walaupun gak ada responnya tapi paling nggak semua bisa diceritain. sebenernya mungkin sama saja dengan kalo curhat dengan seseorang. walaupun ada respon secara langsung tapi toh sampai sejauh ini tidak ada satupun yang bisa memahami apa sebenernya yang jadi masalah kenapa saya gak bisa melupakan peristiwa itu. semua komentar dan respon selalu kembali dan ditujukan pada anak-anak. kepentingan anak-anak seolah-olah menjadi kepentingan utama. semua menjadi bisa dimaafkan apabila anak-anak tidak menderita, begitu komentar semua orang yang menasehati saya.

anak-anak memang senjata utama. mungkin mudah saja buat bilang kalau segala sesuatu yang telah terjadi itu bisa diperbaiki, mana ada sih manusia yang tidak pernah berbuat salah, memafkan itu mulia apalagi memafkan orang yang khilaf. sulit, begitu kata semua orang, tapi anak-anak harus diingat sehingga [+]

©2008 Demo | Designed by: Elegant Wordpress Themes & Made free by SOURCE-Promo.com Promo Items | Valid XHTML | WordPress