<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Samurai Jagoan &#187; debt collector</title>
	<atom:link href="http://www.samuraijagoan.com/tag/debt-collector/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://www.samuraijagoan.com</link>
	<description></description>
	<lastBuildDate>Thu, 22 Jul 2010 14:25:10 +0000</lastBuildDate>
	<generator>http://wordpress.org/?v=2.8.6</generator>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
			<item>
		<title>debt collector</title>
		<link>http://www.samuraijagoan.com/2010/01/02/debt-collector/</link>
		<comments>http://www.samuraijagoan.com/2010/01/02/debt-collector/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 02 Jan 2010 19:37:57 +0000</pubDate>
		<dc:creator>samurai</dc:creator>
				<category><![CDATA[Entrepreneurship]]></category>
		<category><![CDATA[hutang]]></category>
		<category><![CDATA[Business]]></category>
		<category><![CDATA[Business Success]]></category>
		<category><![CDATA[debt collector]]></category>
		<category><![CDATA[entrepreneur]]></category>
		<category><![CDATA[entrepreneur bodoh]]></category>
		<category><![CDATA[entrepreneur pemberontak]]></category>
		<category><![CDATA[entrepreneur university]]></category>
		<category><![CDATA[jawa pos]]></category>
		<category><![CDATA[mastermind]]></category>
		<category><![CDATA[mastermind juara]]></category>
		<category><![CDATA[mm juara]]></category>
		<category><![CDATA[motivator]]></category>
		<category><![CDATA[provokator]]></category>
		<category><![CDATA[sec]]></category>
		<category><![CDATA[Success]]></category>
		<category><![CDATA[surabaya entrepreneur club]]></category>
		<category><![CDATA[tangan diatas]]></category>
		<category><![CDATA[tda]]></category>
		<category><![CDATA[tda surabaya]]></category>
		<category><![CDATA[universitas airlangga]]></category>
		<category><![CDATA[universitas airlangga surabaya]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.samuraijagoan.com/?p=1370</guid>
		<description><![CDATA[ketika tagihan saya macet saya sudah tau bahwa akibat terburuk dari kelalaian saya itu adalah saya akan di datangi oleh debt collector. mereka para debt collector akan mendatangi saya untuk melakukan segala tindakan yang perlu agar saya membayar semua kewajiban saya yang macet itu.
tapi karena saya sudah tau akibat terburuk dari ketidak mampuan bayar saya [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;"><img class="alignleft" src="http://www.fairdebthelpers.com/images/intro-debt.jpg" alt="" width="215" height="113" />ketika tagihan saya macet saya sudah tau bahwa akibat terburuk dari kelalaian saya itu adalah saya akan di datangi oleh debt collector. mereka para debt collector akan mendatangi saya untuk melakukan segala tindakan yang perlu agar saya membayar semua kewajiban saya yang macet itu.<span id="more-1370"></span></p>
<p style="text-align: justify;">tapi karena saya sudah tau akibat terburuk dari ketidak mampuan bayar saya adalah didatenginara debt collector maka dari pertama saya mengambil kredit mental saya sudah saya persiapkan. bukan hanya mental saya saja tapi juga mental keluarga saya terutama mental istri saya. karena kami berdua tahu dan paham akibat kelalaian kami maka apapun yang terjadi saya dan istri harus siap menghadapi para debt collector itu dan siap bernegosiasi dengan mereka. tentu saja dalam hal ini urusan malu dan gengsi dibuang jauh-jauh dari diri kami, toh semuanya sudah terjadi dan semua itu akibat pilihan yang kami ambil saat pertama hendak menjadi etrepreneur. jadi ya sekarang dihadapi sajalah dengan tabah, toh itu juga akibat kesalahan dan kelalaian kami.</p>
<p style="text-align: justify;">sebenernya apasih debt collectot itu.<img class="alignright" src="http://rlv.zcache.com/retired_debt_collector_tshirt-p235020986610664242qw9u_400.jpg" alt="" width="144" height="144" /></p>
<p style="text-align: justify;">secara harafiah artinya adalah tukang tagih, yaitu petugas yang harus mengunjungi si kredit macet dengan harapan mengetahui kondisi si kredit macet beserta kondisi keuangannya. disini si collector biasanya akan memberikan pengertian  mengenai kewajiban si kredit macet dalam hal melakukan pembayaran angsuran, dan yang dijelaskan biasanya mengenai akibat yang dapat ditimbulkan apabila keterlambatan pembayaran tersebut tidak segera diselesaikan. supaya ada kesepakatan pembayaran dengan si kredit macet maka  si collector juga dapat memberikan kesempatan atau tenggang waktu bagi debitur untuk membayar angsurannya, karena tujuan utama dari si collector adalah menerima pembayaran dari si kredit macet.</p>
<p style="text-align: justify;">tapi jika si kredit macet ternyata tetep tidak memberikan itikad baik untuk melakukan pembayaran maka si collector tersebut  akan melakukan berbagai cara untuk melakukan kewajibannya dan menghadapi tantangan dari si kredit macet. yang dilakukannyapun dalam menggertak si kredit macet agar membayarpun bervariasi mulai dari membentak, merampas dengan paksa dan lain sebagainya.</p>
<p style="text-align: justify;">jadi disini ada dua kepentingan yang bertabrakan dimana si debt collector harus mengambil uang dari saya karena saya menunggak, sementara saya harus terus menunda pembayaran selama mungkin agar duit yang ada dapat saya putar lagi dalam bisnis, sebab tanpa duit pastinya bisnis saya tidak dapat berjalan normal bahkan bisa mati beneran.</p>
<p style="text-align: justify;">dengan segala keterpaksaan, ketakutan dan kecemasan saya terpaksa menghadapi para debt yang berdatangan kerumah saya untuk melakukan tugasnya. sedapat mungkin saya tidakmenghindari mereka, saya berusaha untuk menemui mereka sepahit apapun nanti yang terjadi. seperti yang sudah di duga para debt menggunakan berbagai cara untuk menagih saya dan saya pun berbicara apa adanya kepada mereka tentang kondisi saya.<img class="alignright" src="http://dwikisetiyawan.files.wordpress.com/2009/05/teror-debt-collector1.jpg" alt="" width="132" height="165" /></p>
<p style="text-align: justify;">karena saya selalu menemui mereka ataupun kalo saya tidak berada di tempat saya selalu menerima telepon dari mereka saya tidak pernah meneui hal-hal yang tidak menyenangkan dari perilaku mereka. mereka memang rata-rata bertampang sangar dan berusaha berbicara dengan nada tegas pada saya tapi tidak dengan nada membentak-bentak, berbeda engan para penagih yang menagih melalui telepon dan mengatas namakan pegawai bank itu, karena menagih melalui telepon mereka punya kecenderungan untuk berbicara keras, kasar dan cenderung arogan.</p>
<p style="text-align: justify;">justru dengan para debt collector yang dikirim oleh bank ini saya lebih bisa bernegosiasi dan meminta pendapat pada mereka tentang apa yang harus saya lakukan dalam menyelesaikan hutang-hutang saya.  sementara dengan para penagih lewat telepon saya tidak bisa berdialog samasekali kecuali saya dipaksa untuk mendengarkan omongan mereka yang biasanya selalu menyuruh saya membayar kewajiban saya tanpa peduli akan kondisi keuangan saya.</p>
<p style="text-align: justify;"><img class="alignleft" src="http://3.bp.blogspot.com/_BcGhVfj5kI4/SZRdGoCO2WI/AAAAAAAAAAM/2MBxtLD_v48/S220/off_duty_debt_collector_shirt.jpg" alt="" width="126" height="126" />ada beberapa kewajiban saya yang awalnya tertunggak jadinya bisa saya selesaikan bahkan bisa saya lunasi karena jasa-jasa para debt ini.   langkah-langkah para debt ini biasanya akan membantu memberikan re-schedule ulang dari seluruh hutang saya yang tertunggak, tentunya dengan persetujuan dari bank tempat saya punya kewajiban, atau merka juga menawarkan diskon yang besar kalo saya bisa melunasinya sekaligus. dan yang juga luar biasa jika bank nya tidak ada kebijakan apapun terhadap saya maka mereka menawarkan dulu pembayaran saat tanggal jatuh tempo tiba dengan kesepakatan saya akan membayar pada si debt collector tersebut setelah lewat tanggal jatuh tempo yang sudah kami sepakati bersama. dan itu semua tanpa bunga atau tanpa tambahan biaya apapun.</p>
<p style="text-align: justify;">dalam kondisi kesulitan financial yang saya alami ini, saya banyak merasa terbantu dengan saran-saran atau solusi yang ditawarkan oleh para debt collector ini. ya saya memang bercerta apaa adanya pada mereka saat mereka datang kerumah untuk menagih termasuk jika saya bener-bener gak punya dana yang di alokasikan buat membayar.</p>
<p style="text-align: justify;">ternyata debt itu adalah teman yang baik saat saya mengalami kesulitan keuangan tapi itu rasanya juga karena perilaku saya yang tidak pernah menghindari mereka dan berusaha tidak pernah melanggar janji dengan mereka. apapun mereka itu juga sama-sama manusia seperti saya yang sama-sama mencari nafkah untuk menghidupi keluarga. saya berusaha menghormati mereka apapun tingkah mereka, saya yakin mereka tidak akan mungkin selama-lamanya selalu bersikap buruk pada saya, mereka toh punya banyak target yang harus ditagih sementara saya hanya hanya menghadapi para debt collector sesuai dengan seberapa banyak bank yang saya macetkan pembayarannya.<img class="alignright" src="http://rlv.zcache.com/off_duty_debt_collector_mug-p1681294416000957452om5g_400.jpg" alt="" width="144" height="144" /></p>
<p style="text-align: justify;">terganggu pastinya karena setiap hari harus menhadapi dan berbicara serta bernegosiasi dengan debt collector yang berbeda atau yang baru lagi, tapi itu adalah ongkos yang harus saya bayar karena kesalahan saya. saya toh tetep harus menikmati dan menjalani masa sulit ini setelah sekian lama menikmati indahnya dana kredit dari bank. semuanya harus seimbang dan saya yakin saya mampu menghadapinya karena ada janji allah yang hanya memberikan cobaan sebatas seseorang itu mampu menghadapinya.</p>
<p style="text-align: justify;">resiko kedit macet adalah didatangi debt collector, resiko didatangin debt collector adalah terganggu dan malu. tapi itu semua terjadi karena memang resiko itu yang akan saya hadapi karena kesadaran saya saat bermain kredit. jadi apapun yang terjadi saya harus bisa dan mampu menghadapi dan bernegosiasi dengan para debt collector itu.</p>
<p style="text-align: justify;">
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.samuraijagoan.com/2010/01/02/debt-collector/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>rapot merah</title>
		<link>http://www.samuraijagoan.com/2009/11/25/rapot-merah/</link>
		<comments>http://www.samuraijagoan.com/2009/11/25/rapot-merah/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 25 Nov 2009 18:17:42 +0000</pubDate>
		<dc:creator>samurai</dc:creator>
				<category><![CDATA[Artikel Menarik]]></category>
		<category><![CDATA[Entrepreneurship]]></category>
		<category><![CDATA[hutang]]></category>
		<category><![CDATA[debt collector]]></category>
		<category><![CDATA[entrepreneur]]></category>
		<category><![CDATA[entrepreneur bodoh]]></category>
		<category><![CDATA[entrepreneur pemberontak]]></category>
		<category><![CDATA[entrepreneur university]]></category>
		<category><![CDATA[jawa pos]]></category>
		<category><![CDATA[kredit]]></category>
		<category><![CDATA[sec]]></category>
		<category><![CDATA[surabaya entrepreneur club]]></category>
		<category><![CDATA[tahanan]]></category>
		<category><![CDATA[tangan diatas]]></category>
		<category><![CDATA[tda]]></category>
		<category><![CDATA[tda surabaya]]></category>
		<category><![CDATA[telinga]]></category>
		<category><![CDATA[terbelenggu]]></category>
		<category><![CDATA[universitas airlangga surabaya]]></category>
		<category><![CDATA[universitas Ciputra]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.samuraijagoan.com/?p=1246</guid>
		<description><![CDATA[saya pernah diberitahu oleh seorang mentor entrepreneur saya tentang istilah &#8216;pengusaha itu selalu butuh duit buat menjalankan roda usahanya, sedangkan bank itu selalu melihat kredibilitas dalam mengucurkan dana kreditnya&#8217;
itu memang bener banget dan semua orang juga sudah tau, sebab memang itulah yang terjadi dalam kehidupan sehari-hari. siapa sih yang gak mau main aman dalam mengelola [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;"><img class="alignleft size-thumbnail wp-image-1641" title="DWS-Raport" src="http://www.samuraijagoan.com/wp-content/uploads/2009/11/DWS-Raport-150x150.jpg" alt="DWS-Raport" width="150" height="150" />saya pernah diberitahu oleh seorang mentor entrepreneur saya tentang istilah &#8216;pengusaha itu selalu butuh duit buat menjalankan roda usahanya, sedangkan bank itu selalu melihat kredibilitas dalam mengucurkan dana kreditnya&#8217;<span id="more-1246"></span></p>
<p style="text-align: justify;">itu memang bener banget dan semua orang juga sudah tau, sebab memang itulah yang terjadi dalam kehidupan sehari-hari. siapa sih yang gak mau main aman dalam mengelola uangnya apalagi jika uang tersebut harus dipinjamkan ke pada pihak lain yang notabene belom dikenal. disisi lain beneran saya ngerasain sendiri saat menjadi pengusaha bahwa memang harus mengeluarkan duit dulu buat mendapatkan duit yang lebih gede lagi, yang pada akhirnya disebut profit.</p>
<p style="text-align: justify;">jadinya seperti lingkaran yang tidak berujung pangkal &#8211; seperti sebuah jargon tentang mana yang terjadi duluan telur atau ayam -</p>
<p style="text-align: justify;">nah dalam kondisi yang begini ini terjadilah adu kepinteran antara pengusaha dengan pihak bank. yang satu supaya kredit buat modal usahanya bisa keluar, sedang yang satunya berupaya agar saat pencairan kreditnya aman dan terbayar sampai lunas.</p>
<p style="text-align: justify;">sebenernya para pengusaha itu tertutama yang bener-bener menggantungkan hidupnya dari bisnis juga gak akan mau main-main dengan uang modal apalagi uang itu hasil dari kredit.  pengusaha tetep punya keingian agar dirinya bisa mengembalikan uang hasil kredit yang diputer dibisnisnya itu tepat pada waktu jatuh tempo.  tujuannya agar semakin dipercaya oleh perbankan sehingga nilai kredit yang diperolehnya dapat naik terus. saya yakin hampir tidak ada pengusaha yang saat mendapatkan uang kredit memang berniat tidak baik untuk membawa kabur duit tersebut.<a href="http://2.bp.blogspot.com/_2zPvcfD1gvM/SmCe0t9xrgI/AAAAAAAAAFA/jLbinrtKQK8/s400/terbelenggu.jpg"><img class="alignright" src="http://2.bp.blogspot.com/_2zPvcfD1gvM/SmCe0t9xrgI/AAAAAAAAAFA/jLbinrtKQK8/s400/terbelenggu.jpg" alt="" width="192" height="144" /></a></p>
<p style="text-align: justify;">saya juga termasuk yang punya cita-cita mulia itu.  saya juga ngalamin sulitnya mendapat kepercayaan dari bank untuk memperoleh pinjaman walaupun dalam perjalanan bisnis saya, pada akhirnya uang bank yang saya kelola cukup besar. duit kredit itu bukan dibuat main-main atau buat foya-foya tapi beneran diputer dalm bisnis, sekitar lima tahun saya kelola bisnis saya dengan uang hasil kredit itu, hasil yang saya peroleh sangat baik sehingga kepercayaan bank pada saya semakin besar sehingga limit kredit saya selalu naik setiap tahunnya. dan naiknya juga gak tanggung-tanggung selalu dengan plafond yang sangat bagus.</p>
<p style="text-align: justify;">saya juga gak ada niatan buat ngemplang duit itu. tapi tidak ada seorangpun yang menduga jika diakhir tahu 2008 dan diawal tahun 2009 terjadi krisis ekonomi dunia. dimana-mana timbul masalah terutama dikalangan perbangkan. efek dari masalah tersebut, dunia pebankan mengencangkan sabuknya dalam pengucuran kredit. nah kalo bank sudah mengencangkan pengucuran kreditnya yang paling kena imbas adalah para pengusaha, termasuk saya.  tidak ada lagi dana yang bisa diharapkan untuk memutar roda bisnis sambil menunggu tagihan cair atau membeli barang dagangan yang baru.</p>
<p style="text-align: justify;">duit kredit dari bank tidak turun, roda bisnis semakin pelan muternya dan pembayaran tagihan dari  relasipun semakin tertunda, sehingga berakibat fatal bagi bisnis saya. tadinya saya pikir itu hanya terjadi pada diri saya akibat kebodohan saya dalam mengelola bisnis. ternyata saat saya mengeluh dan sharing pada banyak teman, merekapun mengalami kondisi yang sama dengan saya, bahkan seringkali terjadi kondisi mereka lebih parah dari saya.</p>
<p style="text-align: justify;">dengan kondisi rumit ini sebagai entrepreneur saya kan gak pingin mati sia-sia dalam waktu cepat. saya harus bisa bertahan memperkuat pondasi bisnis saya sehingga bisa melawati masa sulit ini. pemasukan yang berkurang membuat pengaturan cash flow dalam bisnis harus ektra hati-hati dan mau tidak mau saya juga akhirnya harus mulai menunda pembayaran tagihan-tagihan yang jatuh tempo. duitnya bukan dibuat macem-macem tapi tetep dipakai buat muterin usaha.  dulu duit yang dipake muterin bisnis, selain dari keuntungan usaha, saya dapat juga dari kredit bank.  tapi sekarang karena kredit bank tidak turun lagi maka duit yang saya pake sebagai ganti dari kredit bank adalah duit yang seharusnya digunakan untuk membayar tagihan yang sudah jatuh tempo.</p>
<p style="text-align: justify;"><a href="http://endangar.files.wordpress.com/2009/07/borgol2.jpg"><img class="alignleft" src="http://endangar.files.wordpress.com/2009/07/borgol2.jpg" alt="" width="180" height="128" /></a>saya yang tadinya selalu bayar tagihan tepat waktunya kini mulai menunda pembayaran, sehingga beberapa tagihan yang sudah jatuh tempo tidak terbayar saat jatuh temponya.</p>
<p style="text-align: justify;">saya kira ini bisa ditolerir karena toh saat tagihan bulan ini tidak saya bayar, saya sudah terkena  denda dan tambahan bunga akibat keterlambatan pembayaran tagihan tersebut.</p>
<p style="text-align: justify;">saya memang pernah kerja di salah satu bank asing saat baru lulus kuliah dulu, jadi sedikit banyak saya paham  apa yang terjadi bila saya gak bayar tagihan tepat pada waktunya. hukuman bagi seorang yang tidak bayar tagihan tepat pada waktunya ke bank adalah tidak hanya terkena bunga berbunga plus denda saja tapi juga tercatat dalam laporan negative di bank indonesia.</p>
<p style="text-align: justify;">ini yang terparah, masuk catatan negative bak indonesia.</p>
<p style="text-align: justify;">tadinya saya agak meremehkan sangsi terakhir. sansi bunga berbunga juga saya remehkan yang saya paling khawatir adalah datangnya para tukang tagih kerumah atau kekantor saya. debt kollektor yang datang itu yang paling saya khawatirkan.</p>
<p style="text-align: justify;">ternyata kekhawatiran saya salah besar.</p>
<p style="text-align: justify;">seperti bunga berbunga dan denda, debt kollektor ini ternyata bisa saya tangani.  mereka akhirnya menjadi kawan baru saya, bahkan  beberapa diantara debt kollektor itu menjadi kawan baik saya dan menjadi partner bisnis saya.</p>
<p style="text-align: justify;">catatan negative bank indonesia yang tadinya saya remehkan ternyata ini merupakan masalah terbesar yang saya terima. yang kelihatannya remeh ini justru yang paling menghancurkan efeknya dan paling berbahaya. tadinya saya beranggapan jika keterlambatan saya dalam pembayaran tagihan mulai diselesaikan pelan-pelan maka catatan itu akan membaik dengan sendirinya, memang prosesnya lama seiring dengan pembayaran saya, itu yang ada dalam pikiran saya.</p>
<p style="text-align: justify;">ternyata yang terjadi sangat mengerikan. catatan negative saya memang membaik tapi tetep saja nama saya sebagai penunggak kredit di bank gak bisa hilang begitu saja. bank tetep tidak percaya terhadap saya walaupun catatan di bank indonesia mulai menunjukkan kemajuan dalam pembayaran.</p>
<p style="text-align: justify;">untuk menjaga supaya saya gak bertambah macem-macem, walaupun saya sudah mulai membayar tagihan nya lagi, bank menutup akses saya di semua jalur kreditnya.  seperti misalnya, jika pinjaman tanpa agunan saya tertunggak maka kartu kredit saya di bank yang sama dan dalam status lancar pembayarannya tetep diblokir oleh bank, sehingga gak bisa saya pakai lagi. mungkin sistem di bank dibuat begitu supaya kerugiannya gak bertambah. tapi akibatnya sangat fatal buat saya, akses pendanaan saya di perbankan semakin tertutup.</p>
<p style="text-align: justify;">efek lainnya, rekening yang ada uangnya juga di blokir sepihak, dan dananya dipakai untuk membayar tagihan tertunggak di bank tempat saya punya rekening yang diblokir itu. dan yang terparah beberapa fasilitas perbankkan yang tadinya saya terima sebagai nasabah mulai ditarik,  karena saya punya masalah dengan bank mereka. artinya semua jalur hubungan saya dengan dunia perbangkan ditutup.</p>
<p style="text-align: justify;">dengan begitu habislah saya. <a href="http://buntomijanto.files.wordpress.com/2008/05/tidak-bebas.jpg"><img class="alignleft" src="http://buntomijanto.files.wordpress.com/2008/05/tidak-bebas.jpg" alt="" width="169" height="187" /></a></p>
<p style="text-align: justify;">bukan hanya saya, istri sayapun terkena imbasnya, sebagai istri yang bersuamikan seseorang yang punya masalah kredit dengan bank maka diapun dianggap berbahaya pula. akses kreditnya pun ditutup, walaupun statusnya di catatan bank indonesia baik.</p>
<p style="text-align: justify;">modal kerja yang selama ini bergantung dari bank terputus tus tanpa toleransi, bukan hanya di bank yang bersangkutan tempat kredit macet saya, tapi disemua bank di indonesia,  yang mengakses data diri saya berdasarkan rapot merah saya dalam catatan negative bank indonesia.</p>
<p style="text-align: justify;">yang dulu saya mudah dapat fasilitas, saya sekarang seolah-olah menjadi mahkluk mengerikan dan berbahaya yang harus dijauhi semua bank. kalo pingin membela diri sendiri saya bisa berteriak &#8220;itu kan bukan kemauan saya, saya hanya salah satu korban dari krisis, tapi kenapa akibat yang saya tanggung sedemikian berat, lagian saya kan juga terus membayar semua kewajiban saya yang ada di bank&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;">jadi cengeng memang akhirnya saya. tapi itu juga jadi salah satu tantangan lagi buat saya untuk tetep bertahan hidup dan mempertahankan perputaran roda bisnis untuk menghidupi keluarga.</p>
<p style="text-align: justify;">tidak ada toleransi &#8211; itu bila kita berhadapan dengan sistem komputer &#8211; sekali jelek ya tetep jadi jelek &#8211; karena yang menilai sistem. tapi kalo pikiran positif ini tetep bekerja dengan baik, otak saya juga akan bilang kalo ada teman saya yang minjem duit ke saya pembayarannya tersendat saya juga akan ekstra hati-hati pada pinjaman berikutnya bahkan bisa jadi tidak akan saya beri pinjaman lagi.</p>
<p style="text-align: justify;"><a href="http://1.bp.blogspot.com/_yxgqRm-MiFI/SUZC-H4oBiI/AAAAAAAAArU/N0INJYJqkLg/s320/a+woman+hiding+behind+her+turtle+nect.jpg"><img class="alignleft" src="http://1.bp.blogspot.com/_yxgqRm-MiFI/SUZC-H4oBiI/AAAAAAAAArU/N0INJYJqkLg/s320/a+woman+hiding+behind+her+turtle+nect.jpg" alt="" width="115" height="151" /></a>saya pikir-pikir lagi, ternyata apa yang ada dalam otak saya hampir sama dengan sistem di bank. bahkan seringkali terjadi hal ekstrem dalam penagihan jika pinjamannya kepada investor perseorangan. selain mereka tidak mau tahu tentang kondisi apapun yang bikin pembayaran tagihannya tertunda sering juga diiringi dengan kekerasan fisik.</p>
<p style="text-align: justify;">antara mangkel, sebel dan bersyukur bahwa saya walaupun sudah putus hubungan dengan perbangkan tetep tidak pengalami hal-hal buruk seperti yang sering di suguhkan dalam sinetron di televisi jika ada seseorang yang mengalami kredit macet.</p>
<p style="text-align: justify;">jangan menyerah &#8211; masih banyak jalan &#8211; karena kalo gak bisa lewat jalan besar masih tersedia jalan tikus, jalan rahasia atau jalan di bawah tanah.</p>
<h3 id="comments">3 Responses to “rapot merah”</h3>
<ol>
<li id="comment-3735"> <img src="http://www.gravatar.com/avatar/89640379869f7e29edf79a9371627c9d?s=32&amp;d=http%3A%2F%2Fwww.gravatar.com%2Favatar%2Fad516503a11cd5ca435acc9bb6523536%3Fs%3D32&amp;r=G" alt="" width="32" height="32" /> <cite>yoga EU31 sby</cite> Says:<br />
<small><a href="../2009/11/25/rapot-merah/#comment-3735">December 9th, 2009 at 12:55 pm</a> <a title="Edit comment" href="comment.php?action=editcomment&amp;c=3735">edit</a></small>hebat…kisah yang memotivasi!!!<br />
Trims</li>
<li id="comment-4382"> <img src="http://www.gravatar.com/avatar/5a818cb7e407a1d86a3bb565788736f9?s=32&amp;d=http%3A%2F%2Fwww.gravatar.com%2Favatar%2Fad516503a11cd5ca435acc9bb6523536%3Fs%3D32&amp;r=G" alt="" width="32" height="32" /> <cite>hilman</cite> Says:<br />
<small><a href="../2009/11/25/rapot-merah/#comment-4382">January 4th, 2010 at 9:15 am</a> <a title="Edit comment" href="comment.php?action=editcomment&amp;c=4382">edit</a></small>Pak Sam, spertinya saya akan mengalami kejadian seperti itu.</li>
<li id="comment-4383"> <img src="http://www.gravatar.com/avatar/5a818cb7e407a1d86a3bb565788736f9?s=32&amp;d=http%3A%2F%2Fwww.gravatar.com%2Favatar%2Fad516503a11cd5ca435acc9bb6523536%3Fs%3D32&amp;r=G" alt="" width="32" height="32" /> <cite>hilman</cite> Says:<br />
<small><a href="../2009/11/25/rapot-merah/#comment-4383">January 4th, 2010 at 9:26 am</a> <a title="Edit comment" href="comment.php?action=editcomment&amp;c=4383">edit</a></small>wah, kayaknya ntar lagi saya ngalami itu pak, kasih advise ya pak</li>
</ol>
<ol>
<li id="comment-6307"> <img src="http://www.gravatar.com/avatar/075848ccf8d74b0aee1bdbf30139b457?s=32&amp;d=http%3A%2F%2Fwww.gravatar.com%2Favatar%2Fad516503a11cd5ca435acc9bb6523536%3Fs%3D32&amp;r=G" alt="" width="32" height="32" /> <cite>seruni 12</cite> Says:<br />
<small><a href="../2009/11/25/rapot-merah/#comment-6307">March 11th, 2010 at 2:52 pm</a> <a title="Edit comment" href="comment.php?action=editcomment&amp;c=6307">edit</a></small></p>
<p style="text-align: justify;">saya py pengalaman yg sm, hanya telat sekali, bank udah telpon2, masih untung, teman sy sampe didatangi dept coll yg tdk sopan sampe rumah mo kantor, bikin hidup tdk nyaman. mulai saat itu jd males kalo hub dg bank. tekadku memperkuat basis modal usaha, pikir2 kalo tdak pinjam ke bank sebenarnya kita udah punya usaha bank sendiri dg minimal nasabah satu orang yaitu diri kita sendiri. klo emergency skali baru cari bank lain. lagian bank di sini kurang menarik bunganya tinggi banget 12-13%, bandingkan dgn di cina yang cuma1/3 nya, bhkn kurang, disebtkan bunga bank di indonesia masuk tertinggi di dunia, bgmn kita bisa bersaing dgn pengusaha cina? ini tidak adil. BI perlu direformasi</p>
</li>
</ol>
<p style="text-align: justify;">
<p style="text-align: justify;">
<p style="text-align: justify;">
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.samuraijagoan.com/2009/11/25/rapot-merah/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>kejutan-kejutan menarik</title>
		<link>http://www.samuraijagoan.com/2009/06/13/kejutan-kejutan-menarik/</link>
		<comments>http://www.samuraijagoan.com/2009/06/13/kejutan-kejutan-menarik/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 13 Jun 2009 18:21:21 +0000</pubDate>
		<dc:creator>samurai</dc:creator>
				<category><![CDATA[Artikel Menarik]]></category>
		<category><![CDATA[Entrepreneurship]]></category>
		<category><![CDATA[credit card]]></category>
		<category><![CDATA[debt collector]]></category>
		<category><![CDATA[entrepreneur bodoh]]></category>
		<category><![CDATA[kredit macet]]></category>
		<category><![CDATA[personal loan]]></category>
		<category><![CDATA[solusi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.samuraijagoan.com/?p=459</guid>
		<description><![CDATA[seseorang yang sudah mempersiapkan suatu rencana pelarian bila terjadi sesuatu yang tidak beres dalam rencananya, pastilah akan segera dapat merasakan munculnya gejala-gejala negatif itu. saya rasa gak harus orang yang siap, mungkin setiap orang memang harus waspada dalam menjalani kehidupannya. karena memang terbukti hidup ini seperti bola,  kadang diatas kadang dibawah, bila kita sering [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;">seseorang yang sudah mempersiapkan suatu rencana pelarian bila terjadi sesuatu yang tidak beres dalam rencananya, pastilah akan segera dapat merasakan munculnya gejala-gejala negatif itu. saya rasa gak harus orang yang siap, mungkin setiap orang memang harus waspada dalam menjalani kehidupannya. karena memang terbukti hidup ini seperti bola, <a href="http://innaanggraeni.files.wordpress.com/2009/05/jebakan-hutang1.jpg"><img class="alignleft" src="http://innaanggraeni.files.wordpress.com/2009/05/jebakan-hutang1.jpg" alt="" width="169" height="197" /></a> kadang diatas kadang dibawah, bila kita sering diatas alangkah bahagianya, yang sedih bila posisi kita sering di bawah. <span id="more-459"></span></p>
<p style="text-align: justify;">sebagai penggemar sesuatu yang memacu adrenalin maka sewaktu lulus pelatihan entrepreneur, jalan yang paling extrim yang saya pilih. yaitu dengan jalan mencari kredit. saya sudah pernah kerja di suatu bank penerbit kartu kredit selama dua tahun di bagian collection atau penagihan, kemudian saya juga pernah kerja di perusahaan keluarga yang bergerak dibidang leasing elektronik. dimana inti usahanya adalah pemberian kredit dan penagihan, saya berkecimpung disini hampir lima tahun.</p>
<p style="text-align: justify;">dengan pengalaman bergaul dengan kredit dan penagihan selama lebih kurang tujuh tahun, secara otomatis dan ini mungkin tidak saya sadari, naluri dan jiwa saya terasah disana. menghadapi konsumen yang kreditnya macet merupakan makanan sehari-hari. gejala awal mereka macet sampai berbagai cara yang dilakukan buat menagih mungkin sudah terpatri dalam otak ini.</p>
<p style="text-align: justify;">itulah yang mungkin bikin saya mantab dengan jalur kredit saat membangun usaha lagi di tahun 2005. saya merasa sangat siap mental bila suatu saat menerima banyak uang dari kucuran kredit bank dan saya juga merasa siap bila suatu saat harus kehilangan semuanya bila bisnis saya gagal lagi. dengan kepercayaan diri yang tinggi karena mental sudah siap sayapun melangkah pasti.</p>
<p style="text-align: justify;">langkah pertama dan terpenting menurut saya adalah mempersiapkan mental istri saya. bila mentalnya sudah sesiap saya dalam mengarungi bisnis baru ini, maka saya merasa tidak ada suatu kesulitan pun yang tidak bisa diselesaikan. semuanya akan lebih terasa ringan, karena kami akan menyelesaikannya secara bersama-sama dan bahu membahu dengan kompak.</p>
<p style="text-align: justify;">karena kami sudah menyiapkan mental kami masing-masing terhadap segala sesuatu yang terjadi. maka lebih mudah buat saya saat menjelaskan ke istri bahwa kondisi keuangan kita sedang gawat. semakin lama semakin berkurang karena hampir tidak ada lagi kredit yang kita peroleh. dengan beban biaya operasional yang sedemikian besar, bila tidak ditopang oleh kucuran kredit baru jelas akan menghancurkan cash flow usaha kami.</p>
<p style="text-align: justify;">pembagian tugas pun kami lakukan, sesuai dengan spesialisasi masing-masing. istri saya lebih pandai dalam penjualan sehingga segera bertindak dalam menjual semua aset kami. sedang saya lebih telaten sebagai operasional yang akan menhadapi semua penagihan dan sebelum itu terjadi akan menghubungi semua bank untuk meminta keringanan.</p>
<p style="text-align: justify;">karena sudah pernah akrab dengan dunia penagihan maka saya sangat yakin tidak akan terjadi apa-apa. resiko terburuk yang bakal kami hadapi adalah kehilangan semua aset, masuk daftar hitam bank indonesia dan kehilangan rumah yang kami huni sehari-hari. buat saya semua aset itu hilang tidaklah menjadi masalah karena semuanya kita beli dari uang bank, tapi buat istri cukup berat. emosinya berada disana, dia inget saat-saat kami berburu, menawar dan membeli aset-aset itu. kenangan tersebut melekat erat dalam memori istri saya sehingga perasaannya cukup tertekan. tapi sebentar saja, karena dengan semangat bertahan dia langsung siap menjual semuanya demi mempertahankan minimal rumah tinggal kami dan mobilnya yang baru dibelinya.</p>
<p style="text-align: justify;">saya bilang sama istri, yang jelas semua personal loan akan sengaja kita bikin macet dan tidak dibayar karena setiap uang yang dibayar sebagai angsuran tidak bisa diambil lagi. sedang kartu kredit tetep dibayar sampai suatu titik akan di blokir oleh bank karena personal di bank sama macet. istri setuju dan siap bakal direpoti oleh telpon-telpon dari bagian penagihan berbagai bank yang kreditnya kami macetkan.</p>
<p style="text-align: justify;"><a href="http://www.detikfinance.com/images/content/2008/12/11/5/rugi-dalam.jpg"><img class="alignright" src="http://www.detikfinance.com/images/content/2008/12/11/5/rugi-dalam.jpg" alt="" width="180" height="180" /></a>personal loan mulai tidakkami bayar, kartu kredit dari bank danamon yang dimiliki oleh istri juga tidak kami bayar. hal itu kami lakukan karena istri awalnya punya empat kartu kredit dari danamon dengan limit kredit masing-masing dua puluh juta, jadi total limit dari empat kartunya adalah delapan puluh juta. tapi kemudian secara sepihak dan tanpa pemberitahuan terlebih dulu pada istri bank danamon menyatukan empat limit kartu kredit tersebut menjadi satu kredit gabungan dengan limit hanya dua puluh juta. kondisi ini pastinya sangat menjengkelkan kami karena semua pembayan akhirnya gak bisa kami ambil lagi. ya sudah bikin macet saja sekalian.</p>
<p style="text-align: justify;">toko baju yang tadinya empat segera kami tutup dua outlet sekaligus. memang yang satu pas habis masa kontraknya sedang yang satunya kurang dua bulan masa sewanya. dari pada ngeluarin uang lagi untuk diinvestkan disana mending dipake buat mbayar sebagian angsuran. toh masih ada dua toko lainnya yang sangat bagus penjualannya. akibat penutupan dua toko saya pun terpaksa harus mengurangi jumlah karyawan. ini merupakan dampak yang paling tidak menyenangkan buat kami.</p>
<p style="text-align: justify;">mobil apv yang kami miliki harus segera dijual karena sudah mendekati tanggal perpanjangan pajak, lagi pula hampir seluruh body mobil itu bermasalah, apakah penyok atau gores-gores karena pemakaian kami dan konsumen yang menyewa mobil tersebut. tentunya biaya yang akan segera kami keluarkan demi perbaikan apv akan besar. jadi gak ada pilihan selain dijual. beberapa teman yang bergerak dijual beli mobil saya hubungi, tapi apa daya harga tidak cocok. akhirnya saya hubungi teman baik sekaligus teman berkompetisi saya. sesuai dugaan dia pasti punya solusi dan betul, mobil langsung dibeli orang dengan harga sesuai kesepakatan.</p>
<p style="text-align: justify;">yang lucu dan menarik saat saya jual mobil apv ini adalah, karena yang membantu mencarikan pembeli adalah sahabat sekaligus teman bersaing saya. beliau adalah orang yang sama, dengan orang yang dulu rajin ngomporin saya agar saya segera beli mobil baru, caranya beliau selalu memamerkan dan berceria tentang berbagai keunggulan dari mobil barunya,  yang jenisnya sama persis dengan yang saya miliki, hanya beda di warnanya. karena informasinya mengandung api itu akhirnya saya beli mobil sekitar dua minggu-an setelah teman tadi beli mobil. dan sekarang saya jual mobil juga lewat jasa teman tadi dan jaraknya hampir sama yaitu dua bulan setelah dia jual mobilnya dengan alasan yang juga sama, yaitu tidak bisa bayar kreditnya. menariknya lagi pembeli dari mobil-mobil kami juga sama yaitu sales yang dulunya menawarkan mobil tersebut agar kami beli. ternyata dunia itu sempit pikir saya.</p>
<p style="text-align: justify;">saya minta pada sales tadi agar mobil jangan buru-buru dibawa karena saya ada janji untuk bertamu ke lamongan. si sales oke aja bahkan saya langsung diberi ikatan sebesar dua juta. dengan uang ikatan tersebut cukup bisa bikin saya lebih semangat buat datang ke leasing tempat saya mendapat kredit pembelian mobil. saya datang kesana hanya mengajukan permintaan keringanan, agar saya bisa meminta pengunduran  tanggal pembayaran tagihan yang jatoh temponya tinggal satu hari lagi. saya datang dengan percaya diri tinggi dan gagah karena merasa kegagalan bayar saya itu bukan karena keteledoran saya. saya gagal bayar karena baru dapat musibah, istri saya dirampok dengan nominal kerugian yang cukup besar. saya tambah yakin lagi karena ada surat polisi sebagai pendukung. tapi apa yang terjadi, tenyata semua dugaan saya sanat meleset, oleh leasing tersebut orang yang gak bisa bayar angsuran yang jatuh tempo dengan alasan apapun adalah salah dan layak dapat hukuman. disana saya, bukan hanya tidak mendapatkan  rasa  toleransi dan sikap ikut prihatin, tapi malahan saya ditakut-takuti dengan berbagai ancaman yang akan terjadi bila saya gak bisa bayar angsuran sesuai dengan tanggal jatuh tempo. telat satu hari dengan telat sebulan atau setahun atau bertahun-tahun rasanya sama saja batin saya. untung otak saya tetep jernih kalo gak pasti kunci mobil sudah saya lempar dan mobil saya serahkan langsung. sepertinya saya,  dianggap  sebagai anak kecil apa yang nggak tau apa-apa tentang kredit macet. untung saya inget masih punya janji dengan teman-teman di lamongan, jadi emosi saya tahan-tahan supaya gak sempet keluar.  ya sudahlah kalo gak mau ngasih keringanan, maka saya akan mencari keringanan sendiri versi saya. akhirnya memang mobil  apv hitam itu terjual dengan sempurna dan urusan saya dengan leasing selesai.</p>
<p style="text-align: justify;">selesai satu masalah tapi masih banyak lagi masalah yang bakal muncul. langkah berikutnya saya datangi bank penerbit personal loan dan kartu kredit buat minta keringanan dan mengabarkan baahwa saya bakal jadi seorang yang kreditnya macet. ternyata hanya dua bank yang sempat saya datangi dan hasilnya mengecewakan sehingga saya menjadi malas untuk meneruskan perjalanan. dari dua bank tersebut hampir sama jawaban yang saya terima, yaitu tidak adanya keinganan karena saya masih dalam kategori nasabah sangat baik dan lancar yang pembayarannya tidak pernah telat dan  selalu full payment.  disini juga ada pengalaman yang sangat bikin saya sebal.  karna saya masih tergolong nasabah yang sangat baik maka tidak ada petugas bank di bagian collection yang mau keluar. mereka tidak bisa buka data saya di komputer mereka yang berisi data-data orang yang kreditnya macet. bukan hanya tidak bisa buka data dan tidak ada keringanan yang bisa mereka tawarkan, tapi mereka juga tidak mau keluar menemui saya hanya karena saya  bukan konsumen macet.  akhirnya setelah lama menunggu, saya ditangani oleh satpam penjaga pintu yang menjelaskan dengan terbata2 bahwa buat nasabah yang akan macet memang tidak ada prosedur keringanan. keringanan baru akan diberikan jika nasabah tersebut minimal sudah macet tidak ada pembayaran selama tiga bulan berturut-turut.</p>
<p style="text-align: justify;">saya agak melongo juga, kaget denger keterangan itu. tapi memang gak ada pilihan lain, apalagi surat kepolisian pun gak bisa diterima, dan tidak punya pengaruh apa-apa walaupun  hanya untuk dimasukkan dlam note data saya di bank tersebut sebagai catatan yang memberi keterangan bahwa nasabah yang bersangkutan akan macet pembayarannya karena baru dapat musibah. dua bank memberikan keterangan yang hampir sama, bahwa tidak ada gunanya itikad baik yang akan melaporkan bakal macet dan tidak ada toleransi untuk itu, bahkan surat keterangan dari kepolisian pun tidak ada gunanya karena memang tidak bisa diapa-apakan. <a href="http://blog.autosourcefinancial.com/wp-content/uploads/2008/11/road_to_good_credit_1-300x295.jpg"><img class="alignleft" src="http://blog.autosourcefinancial.com/wp-content/uploads/2008/11/road_to_good_credit_1-300x295.jpg" alt="" width="190" height="186" /></a> secara tidak langsung saya seperti disarankan untuk macet dulu tiga bulan, baru balik lagi untuk minta keringanan, bahkan yang ini tidak perlu surat polisi cukup surat keterangan dari kelurahan yang menyatakan nasabah macet karena penurunan perekonomian.</p>
<p style="text-align: justify;">ya sudah, cukup dua bank saja dan saya tidak meneruskan ke bank berikutnya karena yakin pasti jawabannya sama. saya bener-bener harus gak mbayar dan membuat kredit saya macet beneran selama tiga bulan berurut-turut supaya mendapat perhatian. ini pengalaman baru buat saya. sewaktu kerja  di bank dulu saya ternyata lom dapat sesi entang ilmu sengaja gak bayar ini. tapi saya masih penasaran, lalu saya telpon teman-teman di jakarta yang dulu satu angkatan dengan saya, saat saya masih kerja di collection departemen suatu bank asing penerbit kartu kredit. teman-teman seangkatan ini sekarang sudah menyebar di berbagai bank penerbit kartu kredit dengan di berbagai posisi yang rata-rata strategis. saya telpon bukannya berniat minta tolong mereka. saya telpon mereka hanya untuk meyakinkan diri bahwa prosedur perlakuan kredit macet yang disampaikan ke saya itu tidak salah.  tepat seperti yang sudah saya duga, prosedur tersebut tidak salah. ya sudahlah, mungkin memang harus begini alur ceritanya. jadi sampai dirumah saya harus bikin target dan rencana yang bisa membuat macet pembayaran saya selama tiga bulan kedepan.</p>
<p style="text-align: justify;">jadi saya masih punya waktu tiga bulan buat bernafas lega, paling selama itu hanya bunyi telpon yang setiap hari datang mengganggu karena minta kita segera  bayar tagihan.</p>
<p style="text-align: justify;">sambil menunggu selama tiga bulan saya hunting teman-teman yang senasib denga saya. yaitu teman-teman yang kreditnya macet dan gak bisa bayar. hasilnya benar-benar diluar dugaan saya,  tidak ada  seorang pun teman yang sedang mengalami masalah.   luar biasa kaget saya menerima kenyataan yang menyatakan tidak ada seorang temanpun yang bernasib seperti saya.      menurut saya  ini  adalah  situasi yang tidak mungkin terjadi.   apakah saya yang terlalu guoblok sehingga menjadi satu-satunya yang gagal bayar  sedangkan teman-teman saya lainnya,  yang juga melakukan pola bisnis seperti saya lolos semuanya, dan tidak terimbas sama sekali, sebagai akibat sulitnya bank dalam pengucuran dana kedit. saya  gak yakin terhadap berita yang  saya terima.  yang saya yakin,  pasti ada teman yang juga kena dan senasib seperti saya. keyakinan saya ini disebabkab karena hanya saya yang paling hati-hati dalam mengelola uang dan hanya saya belajar banyak tentang berbagai ilmu kredit sehingga kredit yang daya peroleh itu bisa saya kelola dengan sangat baik. lebih yakin lagi, saat-saat masa saya berjaya di tahun 2008, hanya saya satu-satunya yang tidak pernah kekurangan uang, uang kredit saya selalu berlimpah dan selalu  siap  untuk diinvestkan. sedang teman-teman tetep sering kebingungan cari tambahan modal padahal baru dapat kredit.</p>
<p style="text-align: justify;">pendekatannya langsung saya ubah, terhadap teman yang saya curigai bermasalah saya jadikan beliau nya tempat untuk bertanya dan minta saran. saya harus meletakkan posisi lebih rendah supaya saya bisa menarik perhatian dan simpati mereka.   lagi-lagi dugaan saya benar, beberapa teman memang lagi menghadapi krisis tapi tidak mau mengakuinya. saya gak peduli, yang penting saya jadinya punya teman senasib dan teman berbagi cerita serta berbagi solusi.</p>
<p style="text-align: justify;">banyak masukan yang saya peroleh, ternyata di internet, google, tersedia banyak data tentang kredit macet. semua ada tinggal pilih sesuai kebutuhan kita. saya disarankan tetep menjalin komunikasi dengan pihak bank dan jangan sekali-kali menghindar supaya upaya keringanan bisa didapatkan. upaya keringanan juga banyak macamnya dan masing-masing bank punya cara yang berbeda. lalu yang terpenting jadikanlah debt collector sebagai teman atau sahabat disaat kita sedang menghadapi kredit macet, karena debt collector adalah orang yang paling tau solusi dalam masalah ini dari pengalaman hariannya. tidak baik menghindari debt collector dan menjadikan mereka musuh karena hanya akan menambah masalah baru. kalau mereka marah-marah ya kita harus jadi sesabar-sabarnya manusia karena memang kita layak dimarahi wong gak bisa bayar kredit.</p>
<p style="text-align: justify;">banyak masukan berharga berdasarkan pengalaman pribadi dari teman-teman itu yan bikin saya tambah tenang dalam melangkah.</p>
<p style="text-align: justify;">tetep ada berita menggembirakan disaat-saat kita sedang mengalami kesulitan. ternyata memang tidak setiap bank itu punya kebijakan yang sama. pada beberapa bank, dimana saya kenal lumayan baik dengan marketing yang dulu membantu saya dalam proses pencairan kredit, saya secara khusus menghubungi mereka dan melaporkan kondisi saya yang bermasalah. ternyatanya lagi tanggapan mereka cukup mengagetkan karena sangat berbeda dengan bank yang marketingnya tidak saya kenal.</p>
<p style="text-align: justify;">karena kenal mereka sangat perhatian terhadap masalah yang menimpa saya dan berusaha sekuatnya untuk mencari solusi terbaik yang meringankan. dalam beberapa hari setelah saya laporan datang kunjungan dari petugas bank hanya menyapaikan rasa simpati dan prihatin mereka sambil berjanji mengupayakan jalan keluar buat saya. setelah pejabat bank itu datang disusul para marketing datang sambil menawarkan program keringan pada saya.</p>
<p style="text-align: justify;">benar-benar luar biasa, banyak hal terjadi di luar perkiraan saya. ternyata bener, silaturahmi itu membawa berkah. saat bingung nyari kredit, para marketing adalah sahabat terbaik yang membantu mengupayakan segala cara agar saya bisa dapat kredit. nah saat saya macet pun mereka tidak berpangku tangan, sebelum debt collector datang menjadi sahabat baru saya, para marketing tetep memposisikan diri sebagai teman baik dengan tetep mengupayakan agar saya segera mendapat take over kredit dari bank lain.</p>
<p style="text-align: justify;">tetep orang lain yang bekerja keras buat saya, saat saya dalam kondisi terpuruk atau saat saya dalam kondisi berjaya.</p>
<p style="text-align: justify;">menyenangkan sekali!!!!</p>
<p style="text-align: justify;">
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.samuraijagoan.com/2009/06/13/kejutan-kejutan-menarik/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>kaki diatas kepala dibawah</title>
		<link>http://www.samuraijagoan.com/2009/05/29/kaki-diatas-kepala-dibawah/</link>
		<comments>http://www.samuraijagoan.com/2009/05/29/kaki-diatas-kepala-dibawah/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 29 May 2009 18:58:44 +0000</pubDate>
		<dc:creator>samurai</dc:creator>
				<category><![CDATA[Artikel Menarik]]></category>
		<category><![CDATA[bank]]></category>
		<category><![CDATA[debt collector]]></category>
		<category><![CDATA[entrepreneur bodoh]]></category>
		<category><![CDATA[investasi]]></category>
		<category><![CDATA[kredit]]></category>
		<category><![CDATA[property]]></category>
		<category><![CDATA[toko baju]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.samuraijagoan.com/?p=447</guid>
		<description><![CDATA[suatu fase kehidupan sudah berlalu. tapi sebagai manusia hidup saya harus terus menjalaninya apapun yang terjadi, baik atau buruk, susah atau senang, suka atau tidak. 
semua yang terjadi dan berjalan itu sesuai dengan pilihan hidup saya ,makannya saya harus terus melewati fase-fase kehidupan berikutnya.
sebagai lulusan entrepreneur university angkatan 11 surabaya sekitar tahun 2005-2006 tentunya  saya [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;">suatu fase kehidupan sudah berlalu. tapi sebagai manusia hidup saya harus terus menjalaninya apapun yang terjadi, baik atau buruk, susah atau senang, suka atau tidak. <span id="more-447"></span><a href="http://www.mediaindonesia.com/spaw/uploads/images/article/image/20080713_081515_pedrosa.jpg"><img class="alignleft" src="http://www.mediaindonesia.com/spaw/uploads/images/article/image/20080713_081515_pedrosa.jpg" alt="" width="216" height="170" /></a></p>
<p style="text-align: justify;">semua yang terjadi dan berjalan itu sesuai dengan pilihan hidup saya ,makannya saya harus terus melewati fase-fase kehidupan berikutnya.</p>
<p style="text-align: justify;">sebagai lulusan entrepreneur university angkatan 11 surabaya sekitar tahun 2005-2006 tentunya  saya ingin sekali segera mempraktekkan dan mengamalkan semua ilmu yang didapat di masa pendidikan. semua yang diajarkan oleh para mentor segea saya praktekkan hampir tanpa mikir lagi, dengan harapan tentu saja bisa memperoleh perbaikan kehidupan setelah mengalami kebankrutan di bisnis pertama.</p>
<p style="text-align: justify;">step demi step yang diajarkan oleh para mentor saya lakukan dengan patuh padahal saat itu saya hampir tidak bisa melihat hasil atau akibat dari saya mengikuti cara-cara para mentor itu. saya nggak kenal para mentor, mereka juga gak kenal saya. saya juga sulit buat menghubungi dan berkomunikasi dengan mereka. tapi saya percaya bahwa gak mungkinlah para mentor itu membohongi anak didiknya. benar atau salah ajaran mereka biarkanlah alam semesta yang akan membuktikannya kelak, gitu pikir saya. karena memang gak ada pilihan lain buat saya saat itu, selain untuk mempraktekkan ajaran para mentor .    saya bener-bener gak pingin hidup diatur-atur oleh orang lain dan bekerja sebagai karyawan. saya pinginnya bisa ngatur diri sendiri sebebas-bebasnya.</p>
<p style="text-align: justify;">hanya itu keyakinan yang saya bawa. dengan keyakinan itu saya memulai langkah dengan mencari kredit karena konon kabarnya dengan kredit maka bisnis baru bisa jalan. itu yang saya percayai. tanpa bekal modal dan asset saya coba untuk memperoleh kredit buat menjalankan bisnis. kredit untuk menjalankan bisnis apa saya sendiripun gak ngerti. poko&#8217;e nyari kredit.</p>
<p style="text-align: justify;">seperti yang bisa diduga walaupun sudah mematuhi 100% teori EU dalam mencari kredit, ternyata bener-bener gak semudah membalikkan telapak tangan. semua aplikasi kedit saya ditolak oleh sekitar 20 bank. putus asa pastinya tapi saya gak putus-putus banget dalam membangkitkan semangat. setelah mengaca dan intropeksi diri sendiri dan memperoleh kesimpulan bahwa bank gak mau ngasih kredit ke saya  karena memang performa dan kredibilitas saya sangat meragukan. saya sendiri saja ragu apalagi orang lain.</p>
<p style="text-align: justify;">akhirnya saya mulai berinovasi dalam pengajuan kredit, bukan diri saya pribadi sebagai pebisnis yang saya ajukan tapi saya mengajukan orang lain sebagai samaran. saat itu saya ajukan istri saya yang berprofesi sebagai dosen dan seperti sudah bisa diduga pengajuan kreditnya langsung cair karena memang profesi istri saya mendukung untuk itu.http://yoeskeuranji.files.wordpress.com/2008/03/rumah-terbalik-1.jpg<a href="http://yoeskeuranji.files.wordpress.com/2008/03/rumah-terbalik-1.jpg"><img class="alignright" src="http://yoeskeuranji.files.wordpress.com/2008/03/rumah-terbalik-1.jpg" alt="" width="234" height="148" /></a></p>
<p style="text-align: justify;">kredit pertama cair sehingga saya akhirnya punya modal beneran buat mengajukan kredit-kredit brikutnya dan menjalankan bisnis. sepeti teori kuno mengatakan, memang yang pertama itu yang paling sulit, setelah itu akan lebih mudah dan setelahnya menjadi sangat mudah.</p>
<p style="text-align: justify;">jam terbang saya mulai ada karena telor sudah pecah. saya jalankan bisnis dirumah karena memang gak ingin jauh dari rumah segala aktivitas saya. karena memang modal yang didapat gak begitu besar barang yang bisa saya beli juga banyak, selain itu saya kan tetep perlu mencadangkan dana buat membayar angsurannya setiap bulannya. segera saya pakai trik yang lain. kalo gak punya barang sendiri pakailah barang orang lain dan akuilah dengan seyakin-yakinnya sebagai barang kita, gitu kan bunyi teorinya. saya pun menjalankan dengan patuh. kebetulan didepan rumah saya tinggal teman EU juga yang sama-sama berbisnis pakaian. tapi bisnisnya bener-bener nyata dan beliau punya stok barang dagangan  yang banyak dan lengkap karena memang beliau bertindak sebagai distributor.</p>
<p style="text-align: justify;">saya pinjem barang beliau satu-dua hari buat dipamerkan ke bank dalam pengajuan kredit-kredit saya. luar biasanya beliau mengijinkan walaupun saat itu kami lom terlalu saling kenal meski rumah kita hanya berjarak sekitar 100m-an. dengan cara itu saya bisa meyakinkan bank lagi dan kredit pun cair, tapikali ini benar-benar atas nama saya dan atas dasar bisnis saya.</p>
<p style="text-align: justify;">dua teori yang saya dapat dari mentor dan saya praktekkan mentah-mentah ternyata berhasil. tentu saja bikin saya bangga dan semakin tergila-gila. mulai dari itu hari-hari saya hanya saya isi dengan mencari kredit kesana dan kemari. saya benar-benar fokus dalam mencari kredit. saya baca buku-buku, saya pelajari juga lewat semua media semua hal yang berkenaan dengan kredit. karena memang saya bener-bener ingin menguasai bidang kredit maka saya harus menjiwai dan mendalami semua hal mengenai kredit.</p>
<p style="text-align: justify;">karena saya focus, rencana saya dan usaha saya pun mulai menampakkan hasil. bahkan hasilnya bener-bener sangat mengejutkan. saya menerima kredit dari berbagai bank, jenis kredit yang saya dapat juga beraneka ragam. pokoknya asal berjudul kredit saya pasti terima. hari-hari benar-benar saya lalui bersama kredit, tiap bulan ada saja kredit yang cair. jumlahnyapun sering bikin ta&#8217;jub, gak nyangka kalo saya ternyata dipercaya oleh bank buat mengelola kredit sedemikian besar. <a href="http://3.bp.blogspot.com/_vGC3rwznHvs/SbCmDS4rOFI/AAAAAAAAADE/e-Ex5Gs4GgI/S740/dogar1.JPG"><img class="alignright" src="http://3.bp.blogspot.com/_vGC3rwznHvs/SbCmDS4rOFI/AAAAAAAAADE/e-Ex5Gs4GgI/S740/dogar1.JPG" alt="" width="133" height="202" /></a></p>
<p style="text-align: justify;">karena memang mencari kredit adalah tujuan saya maka dari awalpun hal ini saya komunikasikan secara rutin terhadap istri. dari rutinitas komunikasi ini, istri sayapun setuju dengan apa yang saya  lakukan. dia sangat mendukung, bahkan dukungannya pun nyata tidak hanya di bibir saja. istri sayapun juga rajin mengajukan kredit. tentu saja yang di jual dalam pengajuan itu adalah status karyawannya.   situasi ini  berlangsung setiap hari dan akhirnya dalam rumah tangga kami seolah terjadi pelombaan, perlombaan mencari kredit.   siapa yang dapat duluan akan bersorak dan siapa yang dapat kredit dengan limit lebih besar dari yang lain akan tertawa keras sambil bersorak sorai.   bila salah satu  dari kami  kreditnya sudah disetujui dan sudah masuk ke dalam rekening,  maka hal itu kami rayakan bersama,  selayaknya suatu kemenangan.</p>
<p style="text-align: justify;">menyenangkan sekali berlomba dengan istri dalam mencapai apa yang dituju dan disukai bersama. jadinya kita berdua semakin punya persamaan yang bisa lebih bikin lebih akrab satu sama lainnya.</p>
<p style="text-align: justify;">permainan kami semakin meningkat, yang semula kredit yang kami dapat kami putar dalam perdagangan baju, maka kemudian kredit itu mulai kami belikan asset property. semakin banyak kredit yang kami peroleh maka semakin banyak kami membeli property. selain propery beberapa produk investasipun kami coba. kadang gagal tapi lebih sering berhasil. menyenangkan sekali menjlankan petualang baru ini.</p>
<p style="text-align: justify;">dari kredit,  kami bisa melalukan dan membeli apa yang kami sukai. selain itu kamipun selalu membayar  semua angsuran sesuai dengan perjanjian dan hampir tidak pernah terlambat. pembayaran yang kami lakukan juga selalu sesuai yang ditagihkan, jarang sekali kurang, mungkin malahan tidah pernah kurang, selalu full.</p>
<p style="text-align: justify;">bener-bener dari nol, tanpa asset atau jaminan tapi bisa dikucuri kredit sedemikian banyak bikin kami punya banyak cerita. dengan kredit pula pada sekitar tahun 2006-2007 saya berhasil memiliki sebuah toko baju, yang lokasinya berada di sebuah mall ditengah-tengah kota surabaya. itu bisnis nyata saya yang pertama. dengan ketambahan potensi berupa toko tersebut, nilai kredit yang kami peroleh pun semakin besar  berlipat-lipat. akibatnya maka kemudian toko ke dua sampai toko keempatpun berhasil kami dirikan dalam kurun waktu tidak lebih dari setahun.</p>
<p style="text-align: justify;">punya toko lebih dari satu pastinya bikin urusan menjadi lebih repot dan rumit. yang tadinya bisa hanya dilakukan berdua antara saya dan istri disela-sela waktunya sebagai dosen. kini urusan yang kami tangani akhirnya beraneka ragam meliputi pengelolaan karyawan, managemen, pembelian   dan  pejualan, administrasi  keuangan serta macam-macam yang lain.   meski berawal dari sekedar kredit tapi dalam pengelolaan toko kami berdua tidak main-main. kami berdua serius mengelola keempat toko kami itu. perputarannya cukup baik dan penghasilan dari situ  cukuplah buat  beli rokok saya , kosmetik istri saya   dan susu buat anak-anak saya.  walau masih jauh dari cukup untuk menutup  pembayaran kredit-kredit yang kami miliki.<a href="http://yepiye.files.wordpress.com/2009/05/wang-xiayu1.jpg"><img class="alignright" src="http://yepiye.files.wordpress.com/2009/05/wang-xiayu1.jpg" alt="" width="99" height="167" /></a></p>
<p style="text-align: justify;">kondisi ini bahkan bisa menulari dua kawan seprofesi istri saya. bukan kawan biasa, tapi kawan senior bahkan bisa dikatakan atasannya. melihat apa yang kami lakukan, terutama  setelah mereka melihat sepak terjang istri saya. itu membuat mereka akhirnya ikutan terjun dalam bisnis yang serupa.  masing-masing dalam waktu beberapa bulan saja bisa membuka dan menjalankan dua toko pakaian di mall yang sama. ini  menjadi lebih menyenangkan, karena akhirnya istri saya ternyata bisa menjadi inspirasi kawan-kawan seniornya.</p>
<p style="text-align: justify;">hari-hari terus berjalan, dengan modal kredit saya dan istri terus hidup,   bisa memiliki dan memgelola empat toko, sekian property, sekian kendaraan dan bahkan bisa jalan-jalan keluar negri.  liburan pun menjadi setiap hari karena urusan toko sudah dijalankan oleh karyawan,  semua sesuai apa  yang kami  impikan.  anak-anak pun dapat disekolahkan ditempat yang bagus. mungkin jika kami tidak  pernah mengambil kredit dan hanya hidup dari penghasilan kami perbulan sekitar dua puluhjutaan-lah, jika penghasilan saya dan istri digabung. maka pastinya kami saat ini tidak mungkin menikmati itu semua hanya dalam kurang dari masa lima tahun.  kehidupan perekonomian kami mungkin hanya pas-pasan saja.</p>
<p style="text-align: justify;">tapi kami sadar bahwa yang kami jalani ini bukannya jalan tol yang bebas hambatan. jalan yang kami pilih sangat beresiko bahkan tingkat resikonya maksimal. kami berusaha teus menyadari hal itu, berusaha terus menyadari bahayanya sehingga kami selalu barusaha siap bila menghadapi kondisi gawat. komunikasi tentang resiko ini terus kami tingkatkan. masing-masing beusaha mengingatkan yang lain dan berusaha saling menyemangati bila kondisi berunbah jadi buru.</p>
<p style="text-align: justify;">gak ada satu orangpun yang menginginkan kondisi buruk. semua orang selalu mendambakan kondisi bahagia nan sempurna selama-lamanya. pastinya gak ada kan kondisi seperti itu.</p>
<p><img class="  " src="http://justnurman.files.wordpress.com/2009/04/truk-terbalik.jpg" alt="http://justnurman.files.wordpress.com/2009/04/truk-terbalik.jpg" width="148" height="111" /></p>
<p style="text-align: justify;">sekitar lima tahun kami mengukir prestasi gemilang di bidang kredit. sampai akhirnya saat itu tiba, saat yang tidak pernah diharapkan semua orang. akhir 2008 muncullah krisis ekonomi dunia yang semakin lama semakin gawat. banyak terkena dampaknya, baik diluar negeri maupun di indonesia. perbankan yang paling terpukul dengan kondisi ini. mereka tidak ingin terkena imbas lagi sehingga masa keterpurukan perbangkan seperti tahun 1998 terulang.</p>
<p style="text-align: justify;">langka-langkah preventif dilakukan dunia perbankan, selain menaikkan suku bunga mereka juga selektif dalam pemberian kredit. tidak hanya selektif bahkan juga dengan menghentikan sementara pengucuran kredit bank. penghentian itu dilakukan dengan masa yang tidak pasti batasnya berakhirnya.</p>
<p style="text-align: justify;">nah, hantu-hantu pun mulai mendatangi kami. kegelapan mulai menyelimuti kehidupan kami. dengan dikurangi bahkan dihentikannya pengucuran kredit oleh bank maka perolehan keredit kami mulai menyusut.  perlahan tapi pasti semakin tidak ada kredit yang kami peroleh. dengan tidak adanya pemasukan dari kredit maka tidak ada lagi perputaran uang yang bisa kami lakukan.</p>
<p style="text-align: justify;">tidak ada kredit yang kami peroleh dan tidak ada perputaran yang bisa kami lakukan, berakibat dalam berbagai pembayaran angsuran yang jatuh tempo. dari awal kami sadar bahwa pendapatan dari bisnis nyata tidak akan mencukupi jika dialokasikan buat pembayaran kredit, pendapatan dari investasi juga terhenti terutama yang kami tanamkan di pasar modal, karena nilai saham-saham yang kami koleksi berguguran  dengan cepat di saat-saat awal krisis itu  datang.<a href="http://imagehost.ngobrolaja.com/files/vicams/sususegar.jpg"><img class="alignright" src="http://imagehost.ngobrolaja.com/files/vicams/sususegar.jpg" alt="" width="144" height="109" /></a></p>
<p style="text-align: justify;">kini kami benar-benar harus siap menghadapi saat-saat yang tadinya hanya berupa wacana dalam diskusi saya dan istri. pengeluaran yang berupa kewajiban jalan terus tapi pemasukan seakan berhenti. kalo pemasukan berhenti total trus kami harus menggunakan apa buat membayar semua kewajiban dan biaya operasional. itu pertanyaan yang muncul dan berputar-putar dalam pikiran saya.</p>
<p style="text-align: justify;">akhirnya yang tadinya hanya strategi dan wacana,  sekarang musti dan harus benar-benar diterapkan. supaya kehidupan kami gak tambah terpuruk. untungnya mental kami sudah disipakan lama sebelum kondisi ini benar-benar terjadi. jadi secara mental kami lebih siap. <a href="http://musadiqmarhaban.files.wordpress.com/2009/01/cease_fire2.jpg"><img class="alignleft" src="http://musadiqmarhaban.files.wordpress.com/2009/01/cease_fire2.jpg" alt="" width="104" height="152" /></a></p>
<p style="text-align: justify;">rupannya kondisi buruk tidak hanya mendatangi keuangan kami. tapi juga mendatangi kami secara phisik. dengan strategi mencari invetor kami berharap bisa mengembalikan situasi menjadi normal kembali. tapi ternyata krisis bikin investorpun sembunyi. tapi kami tetep semangat buat mencari dan mendapatkan mereka. suatu saat istri saya berhasil bernegosiasi dengan seorang investor dan bisa bikin investor itu mengucurkan dananya ke kami buat kami kelola.   istri saya senang sekali dengan keberhasilannya,  dan berita  bahagia itu segera disampaikan kesaya yang saat itu bertugas menyusun strategi di rumah.</p>
<p style="text-align: justify;">proses standart berlangsung, uang diserahkan oleh investor dan istri saya segera membawanya untuk disetor ke bank.                  situasi ini memang nampak seperti sudah diatur  oleh tangan-tangan yang tidak kelihatan.   tindakannya tidak seperti biasanya,  istri saya  sedikit terlena oleh prestasinya.   apalagi saat itu  anak-anak  diajaknya  serta karena  saya tidak bisa ikut menemaninya datang ke investor.  istri saya yang sangat bahagia karena dia berhasil menggoalkan proyek itu,   ternyata  tidak langsung menyetorkan uang yang di bawanya itu  ke bank seperti biasanya.     dia pingin seneng-seneng dulu sama anak-anak,   toh bukan sekali dua kali dia bawa uang banyak dalam tasnya dan menyopiri mobil sendiri.    hal itu sudah sering dia lakukan jadi gak ada beban dan rasa takut sama sekali saat menjalaninya.</p>
<p style="text-align: justify;">rupanya kali ini beda, seperti sudah ada sutradara yang mengaturnya. dalam perjalannya ban mobil istri saya kempes di suatu tempat dan pada saat dia turun hendak memeriksa,  tasnya yang berisi segala macam barang berharga serta uang dari investor disambar dan dibawa kabur penjahat. istri saya berteriak dan mengejar tapi lalu terjatuh saat berlari, melihat ibunya jatuh anak-anak berteriak dan menangis. kondisi semakin kacau balau gak keruan. tapi yang jelas duit investor bersama berbagai barang berharga dalam tas istri saya lenyap.</p>
<p style="text-align: justify;">yang tadinya satu lilin berhasil menyala sekarang benar-benar padam dan gelap gulita karena satu-satunya lilin yang dipunyai padam. uang yang seharusnya bisa berputar-putar hilang lenyap dan yang lebih menyenangkan adalah yang hilang itu bukan uang kami. sudah jadi kewajiban kami buat menggantinya, dan kami memang berusaha mengganti apalagi investor tadi juga sudah berbaik hati mau memberikan tempo pengembalian pada kami.       yang semestinya kami bisa menghasilkan sesuatu melalui uang tersebut, malah menjadinya tambahan beban kewajiban.</p>
<p style="text-align: justify;">skenario ini tidak pernah kami siapkan, jadinya kami sekarang harus melangkah tanpa rencana yang siap. yang paling gampang dan paling pertama muncul dalam otak kami adalah menghentikan sebanyak mungkin pengeluaran atau menghindari rencana pengeluaran baru.</p>
<p style="text-align: justify;">strategi itu yang kami jalankan kini.</p>
<p style="text-align: justify;">salah satu mobil yang kami miliki, langsung  kami kembalikan ke dealer supaya gak perlu dibayar lagi angsurannya.</p>
<p><img class="alignright" src="http://2.bp.blogspot.com/_Iv3R6_w1SVw/Snb5HvzX4NI/AAAAAAAABzw/XUhkSULYZz8/s400/kaki+paling+mahal.jpg" alt="http://2.bp.blogspot.com/_Iv3R6_w1SVw/Snb5HvzX4NI/AAAAAAAABzw/XUhkSULYZz8/s400/kaki+paling+mahal.jpg" width="144" height="152" /></p>
<p style="text-align: justify;">dua buah toko kami langsung ditutup,  karena kebetulan masa sewanya sudah habis dan kami harus segera perpanjang pembayaran sewanya bila ingin menggunakannya kembali. memperpanjang sewa kedua toko itu berarti mengakibatkan pengeluaran baru, apalagi kini harga sewanya sudah naik.  menurut kami dari pada ngeluarin uang buat sewa mending uangnya kami belikan lebih banyak produk.toh kami tetep bisa bertransaksi di rumah kami.  ada perasaan haru yang muncul dalam hati,  kami jadi teringat pada saat-saat  awal saya dan istri merintis bisnis ini lima tahun lalu, kami melakukan semuanya sendiri atau berdua  bersama-sama dari rumah.  dengan ditutupnya dua toko berarti kami juga telah memangkas biaya karyawan, karena dua karyawan yang bertugas disitu terpaksa harus di phk</p>
<p style="text-align: justify;">langkah berikutnya menjual semua property supaya bisa jadi uang kas yang bisa diputer-puter.</p>
<p style="text-align: justify;">langkah berikutnya lagi, laporan sama bank-bank yang sudah memberi kami kredit bahwa mungkin pada bulan-bulan kedepan pembayaran kami akan tersendat bahkan bisa macet.</p>
<p style="text-align: justify;">langkah paling berikut, berpikir keras buat mencari sumber keuangan baru yang bisa di pakai untuk senang-senang bersama anak-anak&#8230;&#8230;&#8230;</p>
<p style="text-align: justify;">kami sekarang sedang melakukan langkah-langkah itu, sambil menyiapkan suguhan yang layak bila kami dikunjungi oleh banyak debt collector. disamping itu kami juga harus menghafal greeting yang akan kami ucapkan bila kami deteleponi oleh mereka.</p>
<p style="text-align: justify;">menyenangkan bukan!!!!!!!!</p>
<p style="text-align: justify;">&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;-</p>
<p style="text-align: justify;">New comment on your post #447 &#8220;kaki diatas kepala dibawah&#8221;<br />
Author : online (IP: 95.132.219.123 , <a href="http://123-219-132-95.pool.ukrtel.net/" target="_blank"><span id="lw_1262749882_0">123-219-132-95.pool.ukrtel.net</span></a>)<br />
E-mail : <a href="mailto:xfersomanis@gmail.com"><span id="lw_1262749882_1">xfersomanis@gmail.com</span></a><br />
URL    : <a href="http://my-addr.com/" target="_blank"><span id="lw_1262749882_2">http://my-addr.com/</span></a><br />
Whois  : <a href="http://ws.arin.net/cgi-bin/whois.pl?queryinput=95.132.219.123" target="_blank"><span id="lw_1262749882_3">http://ws.arin.net/cgi-bin/whois.pl?queryinput=95.132.219.123</span></a><br />
Comment:<br />
<span style="color: #ff0000;">Terima kasih untuk blog yang menarik</span></p>
<p style="text-align: justify;">
<p style="text-align: justify;">
<p style="text-align: justify;">
<p style="text-align: justify;">
<p style="text-align: justify;">
<p style="text-align: justify;">
<p style="text-align: justify;">
<p style="text-align: justify;">
<p style="text-align: justify;">
<p style="text-align: justify;">
<p style="text-align: justify;">
<p style="text-align: justify;">
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.samuraijagoan.com/2009/05/29/kaki-diatas-kepala-dibawah/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>
