
ketika tagihan saya macet saya sudah tau bahwa akibat terburuk dari kelalaian saya itu adalah saya akan di datangi oleh debt collector. mereka para debt collector akan mendatangi saya untuk melakukan segala tindakan yang perlu agar saya membayar semua kewajiban saya yang macet itu.
tapi karena saya sudah tau akibat terburuk dari ketidak mampuan bayar saya adalah didatenginara debt collector maka dari pertama saya mengambil kredit mental saya sudah saya persiapkan. bukan hanya mental saya saja tapi juga mental keluarga saya terutama mental istri saya. karena kami berdua tahu dan paham akibat kelalaian kami maka apapun yang terjadi saya dan istri harus siap menghadapi para debt collector itu dan siap bernegosiasi dengan mereka. tentu saja dalam hal ini urusan malu dan gengsi dibuang jauh-jauh dari diri kami, toh semuanya sudah terjadi [+]
saya pernah diberitahu oleh seorang mentor entrepreneur saya tentang istilah 'pengusaha itu selalu butuh duit buat menjalankan roda usahanya, sedangkan bank itu selalu melihat kredibilitas dalam mengucurkan dana kreditnya'
itu memang bener banget dan semua orang juga sudah tau, sebab memang itulah yang terjadi dalam kehidupan sehari-hari. siapa sih yang gak mau main aman dalam mengelola uangnya apalagi jika uang tersebut harus dipinjamkan ke pada pihak lain yang notabene belom dikenal. disisi lain beneran saya ngerasain sendiri saat menjadi pengusaha bahwa memang harus mengeluarkan duit dulu buat mendapatkan duit yang lebih gede lagi, yang pada akhirnya disebut profit.
jadinya seperti lingkaran yang tidak berujung pangkal - seperti sebuah jargon tentang mana yang terjadi duluan telur atau ayam -
nah dalam kondisi yang begini ini terjadilah adu [+]



