<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Samurai Jagoan &#187; bento</title>
	<atom:link href="http://www.samuraijagoan.com/tag/bento/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://www.samuraijagoan.com</link>
	<description></description>
	<lastBuildDate>Tue, 07 Feb 2012 05:46:39 +0000</lastBuildDate>
	<generator>http://wordpress.org/?v=2.8.6</generator>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
			<item>
		<title>pengangguran oh pengangguran</title>
		<link>http://www.samuraijagoan.com/2011/09/28/pengangguran-oh-pengangguran/</link>
		<comments>http://www.samuraijagoan.com/2011/09/28/pengangguran-oh-pengangguran/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 28 Sep 2011 06:57:19 +0000</pubDate>
		<dc:creator>samurai</dc:creator>
				<category><![CDATA[Sumber Daya]]></category>
		<category><![CDATA[bento]]></category>
		<category><![CDATA[bisnis]]></category>
		<category><![CDATA[bisnis joss dan kuliner mak nyuss]]></category>
		<category><![CDATA[buku]]></category>
		<category><![CDATA[bumbu pecel enak]]></category>
		<category><![CDATA[Business Success]]></category>
		<category><![CDATA[bussiness]]></category>
		<category><![CDATA[entrepreneur]]></category>
		<category><![CDATA[entrepreneur bodoh]]></category>
		<category><![CDATA[entrepreneur pemberontak]]></category>
		<category><![CDATA[entrepreneur university]]></category>
		<category><![CDATA[Entrepreneurship]]></category>
		<category><![CDATA[guru]]></category>
		<category><![CDATA[harian surya]]></category>
		<category><![CDATA[ilmu]]></category>
		<category><![CDATA[invest]]></category>
		<category><![CDATA[investasi]]></category>
		<category><![CDATA[investor]]></category>
		<category><![CDATA[jagoan]]></category>
		<category><![CDATA[jangan ada dusta diantara kita]]></category>
		<category><![CDATA[jangan berpikir]]></category>
		<category><![CDATA[Jangan Berpikir Jadi Pengusaha]]></category>
		<category><![CDATA[Jangan berpikir jadi pengusaha & jangan pernah berpikir menjadi entrepreneur]]></category>
		<category><![CDATA[jangan berpikir jadi pengusaha dan jangan pernah berpikir jadi entrepreneur]]></category>
		<category><![CDATA[jawa pos]]></category>
		<category><![CDATA[kaki diatas kepala di bawah]]></category>
		<category><![CDATA[kawan]]></category>
		<category><![CDATA[kommmbis]]></category>
		<category><![CDATA[konsisten]]></category>
		<category><![CDATA[koran]]></category>
		<category><![CDATA[mastermind]]></category>
		<category><![CDATA[mastermind juara]]></category>
		<category><![CDATA[mentor]]></category>
		<category><![CDATA[menulis]]></category>
		<category><![CDATA[mm juara]]></category>
		<category><![CDATA[motivator]]></category>
		<category><![CDATA[nasi pecel]]></category>
		<category><![CDATA[news]]></category>
		<category><![CDATA[pecel]]></category>
		<category><![CDATA[pecel wenmit]]></category>
		<category><![CDATA[pemberontak]]></category>
		<category><![CDATA[pembicara]]></category>
		<category><![CDATA[provokator]]></category>
		<category><![CDATA[sahabat]]></category>
		<category><![CDATA[samurai]]></category>
		<category><![CDATA[samurai membangun pondasi bisnis tanpa pedang]]></category>
		<category><![CDATA[sec]]></category>
		<category><![CDATA[seminar]]></category>
		<category><![CDATA[surabaya entrepreneur club]]></category>
		<category><![CDATA[surat kabar]]></category>
		<category><![CDATA[surya]]></category>
		<category><![CDATA[tangan diatas]]></category>
		<category><![CDATA[tda]]></category>
		<category><![CDATA[TDA nGalam]]></category>
		<category><![CDATA[tda surabaya]]></category>
		<category><![CDATA[tersesat ke jalan yang benar]]></category>
		<category><![CDATA[tiru]]></category>
		<category><![CDATA[tulis]]></category>
		<category><![CDATA[ukm]]></category>
		<category><![CDATA[ukm jatim]]></category>
		<category><![CDATA[universitas airlangga]]></category>
		<category><![CDATA[universitas airlangga surabaya]]></category>
		<category><![CDATA[wenmit]]></category>
		<category><![CDATA[wenmit pecel]]></category>
		<category><![CDATA[wirausahawan]]></category>
		<category><![CDATA[workshop]]></category>
		<category><![CDATA[writers]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.samuraijagoan.com/?p=1894</guid>
		<description><![CDATA[ada yang nanya samurai itu bisnisnya apaan?
saya jawab : samurai nggak punya bisnis, dia pengangguran&#8230;.
Hehehe, lumayan panas juga nih kuping waktu ditanyain seperti itu, mana nanyanya full gaya pula seperti jagoan&#8230; Tapi pada kenyataannya saya memang merasa selalu seperti pengangguran, saya merasa nggak pernah kerja dan saya merasa nggak pernah bisnis. Yang saya lakukan cuman [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>ada yang nanya samurai itu bisnisnya apaan?<br />
saya jawab : samurai nggak punya bisnis, dia pengangguran&#8230;.<span id="more-1894"></span></p>
<p style="text-align: justify;">Hehehe, lumayan panas juga nih kuping waktu ditanyain seperti itu, mana nanyanya full gaya pula seperti jagoan&#8230; Tapi pada kenyataannya saya memang merasa selalu seperti pengangguran, saya merasa nggak pernah kerja dan saya merasa nggak pernah bisnis. Yang saya lakukan cuman luntang lantung, cangkruk sana dan cangkruk sini. Itu saja yang saya kerjakan hampir tiap hari selama kurun waktu lima tahun lebih dimulai dari sekitar tahun 2005.</p>
<p style="text-align: justify;">Dan cangkruan saya juga bukan hanya di kota surabaya saja, saya cangkruan atau memburu cangkruan sampe ke luar kota surabaya, saya suka sekali cangkruan sebab saya merasa mendapatkan banyak ilmu dari cangkruan-cangkruan itu. Ilmu yang saya dapatkan dari berbagai forum cangkruan bahkan saking bermanfaatnya tidak hanya berguna buat saya tapi juga berguna buat kawan-kawan yang ngajak saya cangkruan dan bertanya sertya ngobrol dengan saya.</p>
<p style="text-align: justify;">Saya bisa berbagi pengetahuan yang saya peroleh dari sebuah forum cangkruan di forum cangkruan lainnya. Seringnya dalam berbagai forum cangkruan saya selalu berusaha menjadi pendengar yang baik saja, wong memang niatnya saya pingin belajar. Eh nggak disangka-sangka apa yang saya dengar itu selalu jadi topik hangat di forum cangkruan yang lain, dan kadang celetukan-celetukan yang saya ucapkan ternyata bisa menjadi bermanfaat.  Padahal celetukan yang saya ucapkan itu merupakan topik hangat yang di bahas dan dijadikan topik pembicaraan seru dalam forum cangkruan sebelumnya yang saya ikuti&#8230;</p>
<p style="text-align: justify;">Hehehe&#8230;</p>
<p style="text-align: justify;">Kala itu memang belum ada sosial media semacam facebook atau twetter seperti sekarang jadi buat cangkruan memang harus bener-bener bertemu secara fisik dan ngobrolnya juga harus bertatap muka. Saat itu pulsa masih mahal, BB juga belum ada jadi memang harus cangkruan fisik. Saat saya bosan dan kesepian dirumah maka saya langsung main dan silaturahmi ke tempat busnis, tempat usaha atau rumah kawan-kawan saya di surabaya.</p>
<p style="text-align: justify;">Saat mereka sibuk membangun bisnis mereka, saat mereka sibuk merintis bisnis mereka saya datang ketempat mereka ngajakin ngobrol dan ngobrol. Mungkin kegiatan ini dianggap nmenggangu mereka tapi saya menyukainya, dari ngobriol danb memperhatikan saya banyak dapat sekali pengetahuan yang nggak ada dalam buku-buku atau diajarkan di sekolah-sekolah dimanapun.</p>
<p style="text-align: justify;">Saat mereka sibuk saya justru nongkrong saja di tempat usaha mereka, memperhatikan apa yang mereka lakukasn. Jika mereka sedang enggan ngobrol saya pun nggak akan ngajakin ngobrol tapi saya duduk saja hampir seharian di tempat usaha mereka. Jika saya bosan atau mereka sudah kelihatan bener merasa terganggu maka saya pun pamit, lalu pindah ke tempat kawan yang lain. Gitu saja yang saya lakukan setiap hari&#8230;</p>
<p style="text-align: justify;">Sekarang ini sosial media sangat maraknya, komunikasi jadi gampang dan cangkruan juga nggak lagi harus bertatap fisik, jadinya hari-hari saya banyak dihapiskan untuk ‘ngeloni’ laptop saya, bermain di facebook, twetter, BB dan banyak lainnya. Saya merasa yang saya lakukan juga seperti cangkruan walopun nggak seru seperti kalo cangkruan beneran, bertatap muka, ketemu secara fisik.</p>
<p style="text-align: justify;">Saya merasa lima tahun yang lalu dan sekarang ini yang saya lakukan juga sama, cangkruan dan cangkruan hampir sepanjang hari tapi dengan media yang berbeda. Kalo bosan maka saya jalan-jalan sama istri, nonton sama anak-anak atau jajan bareng sekeluarga. Itu saja aktivitas saya hampir setyiap hari sepanjang hampir lima tahunan ini&#8230;</p>
<p style="text-align: justify;">Hehehe&#8230;</p>
<p style="text-align: justify;">Saya rasa hanya itulah yang dilakukan oleh saya sebagai seorang pengangguran, cangkruan, cangkruan dan cangkruan. Menyenangkan sekali&#8230;.</p>
<p style="text-align: justify;">Setahu saya yang namanya seorang pengusaha yang punya bisnis itu dia selalu bekerja untuk membesarkan bisnisnya, active dalam penjualan dengan berbagai cara sehingga omsetnya membesar bahkan meledak sehingga berpengaruh dengan penghasilannya.</p>
<p style="text-align: justify;">Saya rasa saya nggak melakukan itu, yang saya lakukan hanya ngobrol dan ngobrol dalam forum cangkruan sambil kadang membanggakan diri sendiri yang sekarang beken dengan istilah narsis.</p>
<p style="text-align: justify;">Hanya itu saja yang rutin saya lakukan.</p>
<p style="text-align: justify;">Atau saya kadang menyempatkan diri menuliskan pengalaman-pengalaman atau hal yang menarik yang saya dapatkan saat saya cangkruan. Saya tuliskan sebagai catatan harian saya dalam sebuah blog di internet. Itu juga supaya nggak lupa dengan kejadian atau pengalaman atau informasi menarik yang baru saya peroleh. Eh nggak disangka ada yang suka dan banyak membaca kata mereka tulisan saya menginspirasi mereka. Tentu saja saya senang donk dan tambah bersemangat untuk cangkruan dan menulis.</p>
<p style="text-align: justify;">Dari berbagai forum cangkruan dan karena tulisan saya semakin banyak mendapatkan kawan, bahkan kawan yang nggak hanya berasal dari pulau jawa saja bahkan dari luar jawa. Saya nggak pernah menjual saya hampir nggak pernah menawarkan sesuat atau produk saya, saya merasa bukan seorang marketing, sales atau penjual yang baik sebab terlalu sering ditolak dan di sepelekan orang lain, maka saya sangat menikmati cangkruan dimana saya cukup berperan sebagai pendengar yang baik.</p>
<p style="text-align: justify;">Seorang pendengar dalam forum cangkruan seringkali tidak dianggap oleh forum itu sebab memang yang dilakukannya hanya mendengar dan memperhatikan saja. dan itu yang sering saya lakukan karena saya sangat menikmatinya.</p>
<p style="text-align: justify;">Kini saat kawan-kawan saya yang dulu sering saya ajak cangkruan atau mengajak saya saya cangkruan mulai menikmati kejayaan bisnisnya, mulai menikmati kemajuan dalam kariernya atau bahkan menghilang karena berbagai masalah yang dihadapinya, saya masih saja cangkruan dari forum cangkruan yang satu ke forum cangkruan yang lain.</p>
<p style="text-align: justify;">Dari dulu saya hanya cangkruan dan sampai sekarang saya juga cangkruan dimana-mana, bukankah itu yang dilakukan oleh seorang penganguran?</p>
<p style="text-align: justify;">Yup saya hanyalah seorang penganguran&#8230;</p>
<p style="text-align: justify;">Yup Samurai hanyalah seorang pengangguran&#8230;..</p>
<p style="text-align: justify;">Kalo seorang pengangguran saja sudah bisa hidup layak dan berkecukupan mestinya seseorang yang berprofesi sebagai pengusaha, entrepreneur, karyawan, buruh, kuli atau apapun bisa hidup dengan lebih baik lagi dari pada kehidupan si pengangguran kan&#8230;</p>
<p style="text-align: justify;">(oh ya, cangkruan itu adalah istilah suroboyoan untuk nongkrong-nongkrong di warung,   ngobrolin berbagai topik yang menarik saat ini sambil ngopi-ngopi dan maem cemilan, dalam cangkruan biasanya arek suroboyo ngobrolin segala persoalan mulai dari masalah pribadi hingga masalah negara, semua &#8220;bisa didiskusikan&#8221; hingga menemukan gambaran yang lengkap menurut versi para peserta cangkruan itu)</p>
<p style="text-align: justify;">Hehehe&#8230;</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.samuraijagoan.com/2011/09/28/pengangguran-oh-pengangguran/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>ketika anak-anak merasa di teror DC &amp; kehilang sesuatu yang mereka miliki&#8230;</title>
		<link>http://www.samuraijagoan.com/2011/09/13/ketika-anak-anak-merasa-di-teror-dc-kehilang-sesuatu-yang-mereka-miliki/</link>
		<comments>http://www.samuraijagoan.com/2011/09/13/ketika-anak-anak-merasa-di-teror-dc-kehilang-sesuatu-yang-mereka-miliki/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 13 Sep 2011 02:19:44 +0000</pubDate>
		<dc:creator>samurai</dc:creator>
				<category><![CDATA[Entrepreneurship]]></category>
		<category><![CDATA[bento]]></category>
		<category><![CDATA[bisnis]]></category>
		<category><![CDATA[bisnis joss dan kuliner mak nyuss]]></category>
		<category><![CDATA[buku]]></category>
		<category><![CDATA[bumbu pecel enak]]></category>
		<category><![CDATA[Business Success]]></category>
		<category><![CDATA[bussiness]]></category>
		<category><![CDATA[entrepreneur]]></category>
		<category><![CDATA[entrepreneur bodoh]]></category>
		<category><![CDATA[entrepreneur pemberontak]]></category>
		<category><![CDATA[entrepreneur university]]></category>
		<category><![CDATA[guru]]></category>
		<category><![CDATA[harian surya]]></category>
		<category><![CDATA[ilmu]]></category>
		<category><![CDATA[invest]]></category>
		<category><![CDATA[investasi]]></category>
		<category><![CDATA[investor]]></category>
		<category><![CDATA[jagoan]]></category>
		<category><![CDATA[jangan ada dusta diantara kita]]></category>
		<category><![CDATA[jangan berpikir]]></category>
		<category><![CDATA[Jangan Berpikir Jadi Pengusaha]]></category>
		<category><![CDATA[Jangan berpikir jadi pengusaha & jangan pernah berpikir menjadi entrepreneur]]></category>
		<category><![CDATA[jangan berpikir jadi pengusaha dan jangan pernah berpikir jadi entrepreneur]]></category>
		<category><![CDATA[jawa pos]]></category>
		<category><![CDATA[kaki diatas kepala di bawah]]></category>
		<category><![CDATA[kawan]]></category>
		<category><![CDATA[kommmbis]]></category>
		<category><![CDATA[konsisten]]></category>
		<category><![CDATA[koran]]></category>
		<category><![CDATA[mastermind]]></category>
		<category><![CDATA[mastermind juara]]></category>
		<category><![CDATA[mentor]]></category>
		<category><![CDATA[menulis]]></category>
		<category><![CDATA[mm juara]]></category>
		<category><![CDATA[motivator]]></category>
		<category><![CDATA[nasi pecel]]></category>
		<category><![CDATA[news]]></category>
		<category><![CDATA[pecel]]></category>
		<category><![CDATA[pecel wenmit]]></category>
		<category><![CDATA[pemberontak]]></category>
		<category><![CDATA[pembicara]]></category>
		<category><![CDATA[provokator]]></category>
		<category><![CDATA[sahabat]]></category>
		<category><![CDATA[samurai]]></category>
		<category><![CDATA[samurai membangun pondasi bisnis tanpa pedang]]></category>
		<category><![CDATA[sec]]></category>
		<category><![CDATA[seminar]]></category>
		<category><![CDATA[surabaya entrepreneur club]]></category>
		<category><![CDATA[surat kabar]]></category>
		<category><![CDATA[surya]]></category>
		<category><![CDATA[tangan diatas]]></category>
		<category><![CDATA[tda]]></category>
		<category><![CDATA[TDA nGalam]]></category>
		<category><![CDATA[tda surabaya]]></category>
		<category><![CDATA[tersesat ke jalan yang benar]]></category>
		<category><![CDATA[tiru]]></category>
		<category><![CDATA[tulis]]></category>
		<category><![CDATA[ukm]]></category>
		<category><![CDATA[ukm jatim]]></category>
		<category><![CDATA[universitas airlangga]]></category>
		<category><![CDATA[universitas airlangga surabaya]]></category>
		<category><![CDATA[wenmit]]></category>
		<category><![CDATA[wenmit pecel]]></category>
		<category><![CDATA[wirausahawan]]></category>
		<category><![CDATA[workshop]]></category>
		<category><![CDATA[writers]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.samuraijagoan.com/?p=1892</guid>
		<description><![CDATA[Anak belajar dari lingkungan hidupnya, jika anak selalu dihantui ketakutan maka ia akan selalu hidup dalam kecemasan. Sewajarnya sebagai orang tua selalu menjaga dan membesarkan hati anaknya supaya anak tumbuh sebagai pemberani.  Akan lain ceritanya dengan anak-anak pengusaha yang orang tuanya sedang mengalami permasalah dengan kondisi finansialnya.
Pada kenyataannya, seringkali para pengusaha tidak terlepas kehidupan dengan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;">Anak belajar dari lingkungan hidupnya, jika anak selalu dihantui ketakutan maka ia akan selalu hidup dalam kecemasan. Sewajarnya sebagai orang tua selalu menjaga dan membesarkan hati anaknya supaya anak tumbuh sebagai pemberani.  Akan lain ceritanya dengan anak-anak pengusaha yang orang tuanya sedang mengalami permasalah dengan kondisi finansialnya.<span id="more-1892"></span></p>
<p style="text-align: justify;">Pada kenyataannya, seringkali para pengusaha tidak terlepas kehidupan dengan dunia perbangkan. Dalam dunia perbangkan biasanya situasi yang terjadi adalah dia selalu bersahabat ketika para pengusaha saat para pengusaha itu mempunyai  uang untuk diambil untung oleh bank, dalam hal ini biasanya bank memberikan modal dalam bentuk credit pada para pengusaha. Dan bank akan berubah menjadi sangat kejam bila pengusaha tersebut tidak mempuyai uang atau dalam situasi sedang mengalami kesulitan keuangan yang akan di gunakan untuk membayar berbagai kewajiban creditnya pada bank.</p>
<p style="text-align: justify;">Pada saat itu biasanya bank akan mengutus kepanjangan tangannya yang kita kenal dengan istilah Debt Collector untuk melakukan penagihan, biasanya saat itu merupakan saat-saat teror bagi keluarga nasabah yang bermasalah terutama buat anak-anak dari nasabah tersebut.</p>
<p style="text-align: justify;">Anak memiliki fantasi yang aktif dan rentan terhadap ketakutan, sebab bukankah ketakutan sering kali muncul dari sesuatu yang dibayangkan? Anak dapat membayangkan sesuatu yang mengerikan dari banyak informasi yang ditangkapnya bisa dari film yang ditontonnya atau buku yang dibacanya. Itu sebabnya, anak harus dilindungi dari kisah-kisah yang menyeramkan, sebab apa yang telah terekam akan sukar dihapus dari memorinya.</p>
<p style="text-align: justify;">Ketakutan yang paling sering dihadapi anak-anak adalah takut berpisah, baik dengan orang tua ataupun barang-barang yang dimiliki.</p>
<p style="text-align: justify;">Maka ketika debt collector datang dan kita sebagai orang tua mereka terlibat ardu argumen yang keras dengan para Debt Collector&#8230;.ataupun ketika Debt Collector datang ke rumah dan berteriak-teriak pada orang tuanya, rasa takut yang menyerang anak-anak adalah takut bahwa mereka (Debt Collector) mengambil atau menyakiti orang tuanya&#8230;.</p>
<p style="text-align: justify;">Anak-anak kita akan merasa para debt collector itu datang dan Mengambil sesuatu yang anak-anak itu sayangi dari dari zona nyaman mereka&#8230;</p>
<p style="text-align: justify;">Tugas kita sebagai orang tua terutama sebagai penyebab masalah ini adalah memberi tau anak tentang kondisi yang dia liat. Tak perlu kelewat detail seperti halnya profesor memberi kuliah. Tugas orang tua sebatas <em>memahami ketakutan anak sekaligus membantunya merasa aman.</em></p>
<p style="text-align: justify;"><em>Jangan biarkan anak-anak terus menerus membicarakan rasa takutnya. Pun begitu juga </em>menihilkan ketakutan anak justru akan membuat anak semakin takut dan bukan tidak mungkin akhirnya malah berkembang jadi phobia yang sulit diatasi. Tugas kita adalah <em>untuk memahami sekaligus membantu anak mengatasi ketakutannya. </em></p>
<p style="text-align: justify;">Selain memberi pemahan yang dapat dimengerti anak-anak, tidak kalah penting adalah sikap kita ketika harus berhadapan dengan Debt Collector. Ketenangan kita ketika harus berhadapan langsung membuat anak-anak yakin bahwa semuanya baik-baik saja. Kalahkan ketakutan anda maka anak-anak juga akan nyaman dengan penjelasan yang kita berikan.</p>
<p style="text-align: justify;">Apa yang sebaiknya dilakukan kepada anak-anak kita ketika Debt Collector ini mulai menteror di rumah atau di lingkungan kita?</p>
<p style="text-align: justify;">Yang terpenting mind set yang benar harus selalu dibangun dalam diri orang tua maupun dalam diri anak. Dalam diri orang tua haruslah ditanamkan keyakinan bahwa smua hutang akan bisa diselesaikan. Walaupun sampai kapannya ga jelas ga masalah yang penting pastikan anda akan membayarnya.</p>
<p style="text-align: justify;">Jangan sekali-kali pernah berpikiran akan ngemplang atau mangkir mambayar hutang karena itu akan mempengaruhi kredibilitas orang tua di mata anak-anak, ingat perasaan anak-anak itu halus mereka akan merasakan, walaupun orang tuanya tidak pernah membicarakannya secara langsung terbuka.</p>
<p style="text-align: justify;">Pada saat kita memberi pamahaman dan menenangkan anak kita dari ketakutan pasti akan terbaca oleh naluri anak-anak bahwa kita akan melakukan kejahatan tidak membayar hutang maka bukannya anak kita jadi tenang malah ketakutan itu benar-benar akan menjadi phobia.</p>
<p style="text-align: justify;">Setelah kita berhasil mengubah mind set kita barulah kita menanta mind set anak-anak kita. Berilah pemahaman yang benar tentang hutang, resiko dan Debt Collector dengan benar.</p>
<p style="text-align: justify;">Sebagai ilustrasi dibawah ini pertanyaan yang keluar dari pemikiran anak- anak usia 5 &#8211; 10 tahun :</p>
<p style="text-align: justify;">Pada usia ini anak-anak mulai berpikir konkret, berpijak pada pengalaman akan benda-benda konkret, bukan berdasarkan pengetahuan atau konsep-konsep abstrak. Dengan pola pikir seperti itu maka anak akhirnya mampu menghubungkan sebab-akibat yang tampak secara langsung serta mampu membuat prediksi berdasarkan hubungan sebab-akibat yang telah diketahuinya.</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>Knapa sey mereka (Debt Collector) datang kerumah kita, mau ngapain, kok teriak-teriak? </strong></p>
<p style="text-align: justify;">Pertanyaan tersebut sebagai gambaran bahwa anak-anak melihat fakta segerombolan orang datang dan berbicara dengan suara yang keras maka reaksi orang tua ketika berinteraksi dengan situasi seperti ini akan terekam di benak anak-anak. Mereka akan mulai berpikir kira-kira apa yang telah terjadi dan apa yang akan terjadi……</p>
<p style="text-align: justify;"><em>&#8230;..kita bisa menjelaskan dengan logika sederhana yang runtun bahwa orang tua mereka adalah pengusaha untuk mengembangkan usaha perlu meminjam uang pada bank, karna pada waktu yang disepakati kita belom bisa membayar maka mereka meminta dengan cara seperti itu&#8230;..</em></p>
<p style="text-align: justify;"><strong>Knapa kok ga dibayar aja biar pergi???&#8230;..</strong></p>
<p style="text-align: justify;">Logika sederhana mereka akan membuat hubungan sebab akibat, klo hutang menyebabkab mereka datang <em>(Debt. Collector)</em> menagih kenapa tidak dibayar saja biar mereka bisa merasa nyaman kembali.</p>
<p style="text-align: justify;"><em>Jelaskan bahwa kita akan membayar tapi blom sekarang karena sedang tidak punya uang, dan situasi ’tidak punya uang’ itulah yang akan kita sampaikan pada mereka (Debt. Collector)</em></p>
<p style="text-align: justify;"><strong>Aku benci dan ga sukak sama mereka!!!!&#8230;..</strong></p>
<p style="text-align: justify;">Ketika debt collector dirasakan anak-anak sebagai penyebab ketidaknyamanan maka akan timbul kebencian pada object pembawa ketidaknyamanan. Adalah salah kalau kita juga menanamkan kebencian pada Debt Collector sebagai trouble maker karna kalau mereka nanti mengetahui kondisi yang benar kita sebagai orang tua akan kehilangan kredilitas di benak anak-anak</p>
<p style="text-align: justify;"><em>Jelaskan bahwa memang itu tugas mereka, seperti pemain sinetron ada tokoh yang jahat ada yag baik tapi yang jahat itu dalam kehidupan sehari-hari tidak jahat seperti itu.</em></p>
<p style="text-align: justify;"><strong>Aku benci sama bapak karena ga mau membayar, bisanya minjam-minjam uang ga bisa bayar&#8230;&#8230;</strong></p>
<p style="text-align: justify;">Karena anak-anak berpikir sebab akibat, maka mereka akan mencari penyebab atau pembuat akibat yang lain. Anak-anak menjadi berpikir tidak mungkin rasanya kalau Debt Collector sebagai penyebab ketidak nyamanan itu karna kita sebagai orang tua tidak membenci Debt Collector.</p>
<p style="text-align: justify;">Akhirnya anak-anak menghubungkan semua situasi itu dengan apa yang pernah di lakukan oleh orang tuanya dengan bertanya, dari pertanyaan-pertanyaan yang anak-anak lontarkan dan jawaban yang di sampaikan oleh orang tuanya maka anak-anak akan membuat suatu kesimpulan dan kesimpulan itu bisa membuat perasaan maarah pada orang yang membuat kondisi mereka (anak-anak) menjadi tidak nyaman.</p>
<p style="text-align: justify;"><em>Jelaskan bahwa orang tua mereka adalah pengusaha dan salah satu resiko dari pengusaha adalah gagal dan kehilangan modal tapi smua bisa didapet lagi denga kerja keras&#8230;&#8230;</em></p>
<p style="text-align: justify;">Pertanyaan-pertanyaan tersebut akan terus diulang-ulang oleh anak-anak dengan gaya bahasa dan kalimat yang berbeda sampai mereka dapat memastikan kita konsisten dengan jawaban-jawaban kita, sehingga anak-anak merasa kondisi tersebut adalah hal yang biasa yang harus dihadapi oleh orang tuanya yang berprofesi sebagai pengusaha. Seiring dengan pemahaman mereka tentang hutang dan Debt Collector anak-anak akan merasa tenang bahwa semuanya akan baik-baik saja. Mereka tidak akan kehilangan apapun.</p>
<p style="text-align: justify;">Akan sangat mungkin ketika peristiwa itu berlangsung orang tua berada dalam kesadaran yang tidak penuh sehingga tidak bisa menjelaskan secara  kronologis dan logis. Tidak masalah kalau tidak bisa menjelaskan dengan detil tapi harus tetap logis.</p>
<p style="text-align: justify;">Yang penting harus Singkat dan Logis.</p>
<p style="text-align: justify;">Biasanya jika anak tidak puas dengan jawaban yang di berikan oleh orang tuanya maka mereka akan bertanya terus secara berulang-ulang, dan seringkali pertanyaan-pertanyaan itu bikin kita kehilangan kesabaran sebab kita kan juga sedang berhadapan dengan permasalahan rumit dengan para Debt Collector.</p>
<p style="text-align: justify;">Saat paling tepat memberikan penjelaasan anak adalah saat menemani mereka ketika anak-anak sedang berangkat tidur di malam hari. Sampaikan penjelasan kita seolah-olah itu adalah sebuah dongeng pengantar tidur, sampaikan dengan suara lembut sampai anak-anak tertidur.</p>
<p style="text-align: justify;">Saat anak-anak tidur otak mereka secara tidak langsung akan mengolah dongeng pengantar tidur ‘spesial’ yang kita sampaikan. Dalam tidur, mungkin otak mereka akan lebih bisa mengolah penjelasan yang disampaikan itu secara tenang dan berdasarkan pengalaman saya, maka biasanya saat anak-anak saya bangun esoknya maka pertanyaan-pertanyaan ‘gawat’ itu tidak akan diulangi oleh anak-anak kami.</p>
<p style="text-align: justify;">Berdasarkan pengalaman ini akhirnya saya menyimpulkan kalo anak-anak saya merasa nyaman dan merasa terjawab oleh penjelasan kami yang disampaikan sesaat sebelum mereka tidur, pada saat mereka merasa nyaman, santai mau beristirahat malam, rasanya anak-anak akan lebih mudah menerima penjelasan apapun yang saya sampaikan.</p>
<p style="text-align: justify;"><em><strong>Oleh Dian Indriastuti,</strong></em></p>
<p style="text-align: justify;"><em><strong>Seorang Istri, Seorang Ibu, Seorang Pengusaha, Seorang Dosen dan Seorang Inttelektual peraih Gelar Magister Sains Dari Universitas Indonesia, serta kandidat Doktor Ilmu Komunikasi dari Universitas Padjajaran.</strong></em></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.samuraijagoan.com/2011/09/13/ketika-anak-anak-merasa-di-teror-dc-kehilang-sesuatu-yang-mereka-miliki/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>berilah pada mereka kepercayaan, berani?</title>
		<link>http://www.samuraijagoan.com/2011/09/12/berilah-pada-mereka-kepercayaan-berani/</link>
		<comments>http://www.samuraijagoan.com/2011/09/12/berilah-pada-mereka-kepercayaan-berani/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 12 Sep 2011 02:32:46 +0000</pubDate>
		<dc:creator>samurai</dc:creator>
				<category><![CDATA[Entrepreneurship]]></category>
		<category><![CDATA[bento]]></category>
		<category><![CDATA[bisnis]]></category>
		<category><![CDATA[bisnis joss dan kuliner mak nyuss]]></category>
		<category><![CDATA[buku]]></category>
		<category><![CDATA[bumbu pecel enak]]></category>
		<category><![CDATA[Business Success]]></category>
		<category><![CDATA[bussiness]]></category>
		<category><![CDATA[entrepreneur]]></category>
		<category><![CDATA[entrepreneur bodoh]]></category>
		<category><![CDATA[entrepreneur pemberontak]]></category>
		<category><![CDATA[entrepreneur university]]></category>
		<category><![CDATA[guru]]></category>
		<category><![CDATA[harian surya]]></category>
		<category><![CDATA[ilmu]]></category>
		<category><![CDATA[invest]]></category>
		<category><![CDATA[investasi]]></category>
		<category><![CDATA[investor]]></category>
		<category><![CDATA[jagoan]]></category>
		<category><![CDATA[jangan ada dusta diantara kita]]></category>
		<category><![CDATA[jangan berpikir]]></category>
		<category><![CDATA[Jangan Berpikir Jadi Pengusaha]]></category>
		<category><![CDATA[Jangan berpikir jadi pengusaha & jangan pernah berpikir menjadi entrepreneur]]></category>
		<category><![CDATA[jangan berpikir jadi pengusaha dan jangan pernah berpikir jadi entrepreneur]]></category>
		<category><![CDATA[jawa pos]]></category>
		<category><![CDATA[kaki diatas kepala di bawah]]></category>
		<category><![CDATA[kawan]]></category>
		<category><![CDATA[kommmbis]]></category>
		<category><![CDATA[konsisten]]></category>
		<category><![CDATA[koran]]></category>
		<category><![CDATA[mastermind]]></category>
		<category><![CDATA[mastermind juara]]></category>
		<category><![CDATA[mentor]]></category>
		<category><![CDATA[menulis]]></category>
		<category><![CDATA[mm juara]]></category>
		<category><![CDATA[motivator]]></category>
		<category><![CDATA[nasi pecel]]></category>
		<category><![CDATA[news]]></category>
		<category><![CDATA[pecel]]></category>
		<category><![CDATA[pecel wenmit]]></category>
		<category><![CDATA[pemberontak]]></category>
		<category><![CDATA[pembicara]]></category>
		<category><![CDATA[provokator]]></category>
		<category><![CDATA[sahabat]]></category>
		<category><![CDATA[samurai]]></category>
		<category><![CDATA[samurai membangun pondasi bisnis tanpa pedang]]></category>
		<category><![CDATA[sec]]></category>
		<category><![CDATA[seminar]]></category>
		<category><![CDATA[surabaya entrepreneur club]]></category>
		<category><![CDATA[surat kabar]]></category>
		<category><![CDATA[surya]]></category>
		<category><![CDATA[tangan diatas]]></category>
		<category><![CDATA[tda]]></category>
		<category><![CDATA[TDA nGalam]]></category>
		<category><![CDATA[tda surabaya]]></category>
		<category><![CDATA[tersesat ke jalan yang benar]]></category>
		<category><![CDATA[tiru]]></category>
		<category><![CDATA[tulis]]></category>
		<category><![CDATA[ukm]]></category>
		<category><![CDATA[ukm jatim]]></category>
		<category><![CDATA[universitas airlangga]]></category>
		<category><![CDATA[universitas airlangga surabaya]]></category>
		<category><![CDATA[wenmit]]></category>
		<category><![CDATA[wenmit pecel]]></category>
		<category><![CDATA[wirausahawan]]></category>
		<category><![CDATA[workshop]]></category>
		<category><![CDATA[writers]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.samuraijagoan.com/?p=1888</guid>
		<description><![CDATA[Mendapatkan kepercayaan dari orang  lain adalah sesuatu hal yang tidak mudah sebab kepercayaan itu begitu  agung dan bernilai sangat tinggi. Sungguh rasanya hidup ini tidak ada  gunanya jika kita hidup dalam suatu lingkungan tapi tidak dipercaya oleh  orang yang ada disekitar kita.
Padahal sebagai seorang entrepreneur  tentu sangat penting untuk bisa [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;">Mendapatkan kepercayaan dari orang  lain adalah sesuatu hal yang tidak mudah sebab kepercayaan itu begitu  agung dan bernilai sangat tinggi. Sungguh rasanya hidup ini tidak ada  gunanya jika kita hidup dalam suatu lingkungan tapi tidak dipercaya oleh  orang yang ada disekitar kita.<span id="more-1888"></span></p>
<p style="text-align: justify;">Padahal sebagai seorang entrepreneur  tentu sangat penting untuk bisa memperoleh kepercayaan dari berbagai  pihak, karena tanpa adanya kepercayaan maka bisnis kita akan mati  sebelum sempat tumbuh.</p>
<p style="text-align: justify;">Trus gimana caranya ngedapetin  kepercayaan dari orang lain itu?</p>
<p style="text-align: justify;">Apalagi sebagai seorang entrepreneur,  sebuah kepercayaan, terutama dari rekan atau partner bisnis sangatlah  penting sekali. Ada sebuah teori yang sudah terbukti sangat manjur dan  selalu di praktekkan secara turun temurun, <em>&#8216;</em><em>untuk  membangun sebuah kepercayaan dari orang lain maka berilah pada mereka  kepercayaan terlebih dahulu&#8217;. </em></p>
<p style="text-align: justify;">Pada prinsipnya kitalah yang  pertama-tama harus aktif terlebih dahulu dalam memberikan kepercayaan  baik itu secara tindakan nyata atau hanya lewat perkataan saja. dengan  memberikan kepercayaan terlebih dahulu pada orang lain kita mengharapkan  orang itu lantas akan memberikan kepercayaannya pada kita.</p>
<p style="text-align: justify;">Paling gampang memang mempercayai  orang yang sering kita temui, saya memang lebih cenderung percaya pada  orang yang telah saya kenal baik daripada orang asing yang belum pernah  saya kenal sebelumnya. Cuman ini ada kelemahannya, sebab sekali orang  yang saya kenal itu berbuat salah maka semakin berkuranglah daftar orang  yang jadi kepercayaan saya, belon lagi jika ternyata dari daftar orang  yang saya kenal itu gak ada yang sesuai dengan kriteria teman atau  parner yang saya butuhkan, maka pilihannya saya akan tinggalkan peluang  itu atau cari orang baru yang belon saya kenal dan memberikan sebuah  kepercayaan padanya.</p>
<p style="text-align: justify;">Berdasarkan pengalaman itu saya harus  mulai mempercayai orang asing dalam kehidupan saya, karena memang  kedekatan fisik saja ternyata belum lengkap dalam membangun kepercayaan.  Kedekatan intelektual perlu diterapkan juga agar kepercayaan tidak  hanya pada permukaan saja, tapi juga bisa meraih ke pikiran. Yang  dibidik dari kedekatan intelektual adalah keinginan untuk dimengerti.  Jika kondisi saling mengerti bisa diciptakan maka kepercayaan pun lebih  mudah untuk dibangun antara kedua belah pihak.</p>
<p style="text-align: justify;">Bedasarkan hal itulah maka mulailah  saya rajin bergaul kemana-mana untuk membangun sebuah kepercayaan pada  orang yang baru saya kenal.</p>
<p style="text-align: justify;">Dalam kehidupan sehari-hari, pasti  kita banyak bertemu dengan orang dari berbagai starata sosial, seperti  lumrahnya manusia saya juga bertindak yang sama. Saya cenderung untuk  lebih mempercayai seseorang yang baru dikenal apabila dia berpenampilan  keren dan parlente daripada orang yang berpenampilanm biasa saja apalagi  yang lusuh, walo sama sama baru saya kenal secara sepintas.</p>
<p style="text-align: justify;">Penampilan memang nomor satu untuk  mendapatkan kepercayaan dari orang lain, itu yang sering  saya gak sadar dan saya tetep terlena dengan penampilan. Jadinya saya  tetep mengutamakan yang keren daripada yang gak keren dalam memberikan  sebuah kepercayaan pada seseorang.</p>
<p style="text-align: justify;">Disini saya nggak membahas apakah  orang-orang itu baik atau benar dalam mengelola sebuah kepercayaan yang  saya berikan pada mereka. Yang mau saya ceritakan dan bahas disini  adalah pengalaman saya dalam memberikan kepercayaan berdasarkan  penampilan seseorang. Ternyata bila saya memberikan sebuah kepercayaan  pada si keren maka belum tentu saya mendapatkan prioritas utama dari  sikeren sebab banyak orang lain pun melakukan hal yang sama pada si  keren itu. trus yang teerjadi malah sebaliknya justru sikeren inilah  yang jadinya milih mau mempercayai siapa dulu? Dia lihat performance  saya ganti, keren apa nggak jika nggak maka dia akan memberikan  kepercayaannnya pada orang lain yang lebih keren dari saya minimal.</p>
<p style="text-align: justify;">Sakit kan!!!</p>
<p style="text-align: justify;">Akibat dari pengalaman itu saya baru  sadar bahwa memberikan kepercayaan itu jangan terlalu berdasarkan segi  phisik atau penampilan belaka, perlu juga saya mengutamakan feeling atau  perasaan positive yang saya punya terhadap seseorang yang baru saya  temui walaupun kadangkala penampilannya blass gak keren alias biasa  banget.</p>
<p style="text-align: justify;">Biasanya orang-orang seperti ini juga  punya masalah yang hampir sama dengan saya (saya gak keren dan  sembarangan berpenampilan) punya kesulitan untuk mendapatkan kepercayaan  dari orang yang dianggapnya keren. Dari kesadaran berdasarkan  pengalaman yang saya dapatkan dari sikeren maka saya sekarang punya  kecenderungan untuk memberikan kepercayaan pada teman yang gak keren,  yang biasa atau yang gak oke secara phisik.</p>
<p style="text-align: justify;">Justru mereka-mereka itulah yang  memang harus mendapatkan kepercayaan dari saya, sebab dengan mendapatkan  kepercayaan dari saya mereka yang merasa gak keren akan tersanjung luar  biasa dan akan membalasnya dengan memberikan kepercayaan tingkat tinggi  mereka pada saya. Akibatnya saya bisa mendapatkan kepercayaan darei  orang lain dengan lebih mudah karena memang saya berani memberikan  kepercayaan saya pada mereka.</p>
<p style="text-align: justify;">Sebagai seorang entrepreneur maka  kepercayaan adalah sebuah fondasi dasar yang utama untuk membangun  jejaring sosial kita secara lebih kuat lagi. Dan untuk mendapatkan  sebuah kepercayaan kita nggak mesti harus menunggu dulu, kepercayaan gak  mungkin kita dapatkan begitu saja secara tiba-tiba, sebuah kepercayaan  akan kita dapatkan jika kita membangun terlebih dahulu kepercayaan  terhadap orang lain.</p>
<p style="text-align: justify;">Beri dulu baru ambil!!!</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.samuraijagoan.com/2011/09/12/berilah-pada-mereka-kepercayaan-berani/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>air mata &amp; canda tawa</title>
		<link>http://www.samuraijagoan.com/2011/09/08/air-mata-canda-tawa/</link>
		<comments>http://www.samuraijagoan.com/2011/09/08/air-mata-canda-tawa/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 08 Sep 2011 11:15:33 +0000</pubDate>
		<dc:creator>samurai</dc:creator>
				<category><![CDATA[Entrepreneurship]]></category>
		<category><![CDATA[bento]]></category>
		<category><![CDATA[bisnis]]></category>
		<category><![CDATA[bisnis joss dan kuliner mak nyuss]]></category>
		<category><![CDATA[buku]]></category>
		<category><![CDATA[bumbu pecel enak]]></category>
		<category><![CDATA[Business Success]]></category>
		<category><![CDATA[bussiness]]></category>
		<category><![CDATA[entrepreneur]]></category>
		<category><![CDATA[entrepreneur bodoh]]></category>
		<category><![CDATA[entrepreneur pemberontak]]></category>
		<category><![CDATA[entrepreneur university]]></category>
		<category><![CDATA[guru]]></category>
		<category><![CDATA[harian surya]]></category>
		<category><![CDATA[ilmu]]></category>
		<category><![CDATA[invest]]></category>
		<category><![CDATA[investasi]]></category>
		<category><![CDATA[investor]]></category>
		<category><![CDATA[jagoan]]></category>
		<category><![CDATA[jangan ada dusta diantara kita]]></category>
		<category><![CDATA[jangan berpikir]]></category>
		<category><![CDATA[Jangan Berpikir Jadi Pengusaha]]></category>
		<category><![CDATA[Jangan berpikir jadi pengusaha & jangan pernah berpikir menjadi entrepreneur]]></category>
		<category><![CDATA[jangan berpikir jadi pengusaha dan jangan pernah berpikir jadi entrepreneur]]></category>
		<category><![CDATA[jawa pos]]></category>
		<category><![CDATA[kaki diatas kepala di bawah]]></category>
		<category><![CDATA[kawan]]></category>
		<category><![CDATA[kommmbis]]></category>
		<category><![CDATA[konsisten]]></category>
		<category><![CDATA[koran]]></category>
		<category><![CDATA[mastermind]]></category>
		<category><![CDATA[mastermind juara]]></category>
		<category><![CDATA[mentor]]></category>
		<category><![CDATA[menulis]]></category>
		<category><![CDATA[mm juara]]></category>
		<category><![CDATA[motivator]]></category>
		<category><![CDATA[nasi pecel]]></category>
		<category><![CDATA[news]]></category>
		<category><![CDATA[pecel]]></category>
		<category><![CDATA[pecel wenmit]]></category>
		<category><![CDATA[pemberontak]]></category>
		<category><![CDATA[pembicara]]></category>
		<category><![CDATA[provokator]]></category>
		<category><![CDATA[sahabat]]></category>
		<category><![CDATA[samurai]]></category>
		<category><![CDATA[samurai membangun pondasi bisnis tanpa pedang]]></category>
		<category><![CDATA[sec]]></category>
		<category><![CDATA[seminar]]></category>
		<category><![CDATA[surabaya entrepreneur club]]></category>
		<category><![CDATA[surat kabar]]></category>
		<category><![CDATA[surya]]></category>
		<category><![CDATA[tangan diatas]]></category>
		<category><![CDATA[tda]]></category>
		<category><![CDATA[TDA nGalam]]></category>
		<category><![CDATA[tda surabaya]]></category>
		<category><![CDATA[tersesat ke jalan yang benar]]></category>
		<category><![CDATA[tiru]]></category>
		<category><![CDATA[tulis]]></category>
		<category><![CDATA[ukm]]></category>
		<category><![CDATA[ukm jatim]]></category>
		<category><![CDATA[universitas airlangga]]></category>
		<category><![CDATA[universitas airlangga surabaya]]></category>
		<category><![CDATA[wenmit]]></category>
		<category><![CDATA[wenmit pecel]]></category>
		<category><![CDATA[wirausahawan]]></category>
		<category><![CDATA[workshop]]></category>
		<category><![CDATA[writers]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.samuraijagoan.com/?p=1885</guid>
		<description><![CDATA[‘Ternyata memang dibalik sebuah kesuksesan selalu diiringi dengan kerja keras bahkan air mata cuman jarang sekali yang menceritakannya secara jelas dan detail, tapi hal itu akan jadi canda tawa sebuah nostagia yang indah saat diceritakan ulang pada saat sukses bersama kawan-kawan lama yang tau persis kejadiannya’
Kemaren malam saya di bbm oleh pak Sam S Hidayat  [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;"><span style="color: #ff0000;">‘Ternyata memang dibalik sebuah kesuksesan selalu diiringi dengan kerja keras bahkan air mata cuman jarang sekali yang menceritakannya secara jelas dan detail, tapi hal itu akan jadi canda tawa sebuah nostagia yang indah saat diceritakan ulang pada saat sukses bersama kawan-kawan lama yang tau persis kejadiannya’<em><span id="more-1885"></span></em></span></p>
<p style="text-align: justify;">Kemaren malam saya di bbm oleh pak Sam S Hidayat  seorang senior saya yang sudah lama nggak ketemu. Beliau mengajak saya cangkruan di foodfestival di complex perumahan Pakuwon City di Kawasan Surabaya Timur. Beliau ngajak saya cangkruan secara mendadak karna beliau dapat kabar kalo mas Hendy Setiono, tokoh entrepreneur muda Indonesia sedang liburan di Surabaya. Beliau juga bilang dalam bbm itu kalo beliau juga mengajak beberapa kawan lainnya.</p>
<p style="text-align: center;"><img src="http://a3.sphotos.ak.fbcdn.net/hphotos-ak-ash4/315567_10150296310394197_155805614196_7483399_82229943_n.jpg" alt="http://a3.sphotos.ak.fbcdn.net/hphotos-ak-ash4/315567_10150296310394197_155805614196_7483399_82229943_n.jpg" /></p>
<p style="text-align: justify;">Tadinya saya agak malas untuk datang sebab beliau mengundang secara mendadak banget dan saat itu saya lagi asik-asiknya main sama dua jagoan saya, padahal biasanya saya paling seneng dan paling semangat kalo diajak cangkruan. Apalagi ini yang ngajakin cangkruan ini adalah teman-teman lama yang sudah nggak pernah lagi ketemu. Tapi seperti biasanya saat saya bilang sama ibunya anak-anak lewat sms kalo saya diajakin cangkruan secara mendadak malam itu, dia bilang saya harus berangkat soale yang ngundang dan yang ngajakin adalah kawan-kawan masa lalu saya.</p>
<p style="text-align: justify;">Disemangatin gitu jelas akhirnya saya berangkat deh&#8230;.</p>
<p style="text-align: justify;">Singkatnya saya nyampek juga di tempat yang sudah sipekati dan satu persatu kawan-kawan lama ini bermunculan untuk cangkruan bareng. Kami semua duduk dan ngobrol bareng disana ada Hendi Setiono &amp; istri, Danton Prabawanto, Samsul Hidayat, Saiful &#8216;ipul&#8217;, Yuan Arief Benigno Partogi, Bowo Samiko dan Lie Lim Hwa.</p>
<p style="text-align: justify;">
<p style="text-align: justify;">Kalo kawan lama yang dah jarang bareng ketemu berkumpul pastilah yang diceritakan kabar masing-masing dulu baru kemudian ngobrol ngalor ngidur sambil ketawa tiwi penuh dengan gojlokan dan guyonan.</p>
<p style="text-align: justify;">
<p style="text-align: justify;">Dan guyonan yang paling seru dan paling memicu tawa adalah saat ada yang bercerita tentang pengalaman kawan lainnya saat merintis usaha dulu, lima tahun yang lalu. Saat ada yang terbanting-banting melakukan kesalahan bisnis, saat ada yang melakukan kesalahan dalam bisnis atau pada saat ada cerita tentang memori cangkruan bareng saat lima tahun yang lalu saat semuanya belum sesukses sekarang.</p>
<p style="text-align: justify;">
<p style="text-align: justify;">Siapa sih yang gak kenal Hendi Setiono, tokoh muda bangsa ini yang menjadi jargon entrepreneur sukses belia di Indonesia. Siapa sangka tokoh sesukses beliau yang bahkan sudah mendapatkan pengakukan international sebagai entrepreneur sukses dari berbagai negara di dunia pada saat memulai usahanya dulu juga melakukan tindakan-tindakan konyol yang bikin malu.</p>
<p style="text-align: justify;">
<p style="text-align: justify;">Belum lagi pak Samsul Hidayat pemilik perusahaan outsourcing Terminal Jasa, yang sekarang lebih terkenal dengan sapaan ’abah’ ini, kita ketahui bersama memulai usahanya di sebuah kamar kos-kosan yang kumuh di salah satu sudut kota surabaya. Dari sebuah sebuah kamar kos-kosan sekarang bisnis beliau merambah dunia international bahkan jarak surabaya – makkah serasa dekat karena dalam sebulan saja beliau bisa melakukan lebih dari 3x perjalanan bisnis dan ibadah kesana.</p>
<p style="text-align: justify;">
<p style="text-align: justify;">Lalu Danton Prabawanto, tokoh bisnis di dunia maya yang terkenal dengan ’Jagoan Hosting’nya, ada Saiful ’ipul’ pebisnis pupuk, batubara dan beras serta Bowo Samiko dan <span style="color: #000000;">Yuan Arief Benigno Partogi</span><strong> </strong><strong>s</strong>alah seorang pemain rental mobil yang cukup di perhitungkan di surabaya serta Lie Lim Hwa yang punya toko ’pita’ cukup beken di pasar atom yang hampir tiap bulan kalo belanja di cina bisa sekapal penuh,</p>
<p style="text-align: justify;">
<p style="text-align: justify;">hehehe&#8230;</p>
<p style="text-align: justify;">
<p style="text-align: justify;">Nggak kebayang lima tahun yang lalu hampir tiap hari kita cangkruan bareng, ngobrolin bisnis dan kesuksesan masa depan yang alhamdulillah ternyata tercapai semua sekarang, berkat kerja keras dari masing-masing. Kekonyolan-kekonyolan dan kesalahan-kesalahan dalam melaukan bisnis, penderitaan dan celaan serta cemoohan di masa lalu jadinya bagaikan cerita lucu yang sekarang dijadikan jokes sebagai tanda keakraban diantara kami.</p>
<p style="text-align: justify;">
<p style="text-align: justify;">Saat itu memang hanya mimpi yang menjadi pedoman buat masing-masing dari kami untuk bekerja keras mewujudkannya. Kami tetep setia di jalur masing-masing dan tetep setia dengan mimpi masing-masing. Saat itu kami saling mengingatkan dan saling menyemangati satu dengan lainnya.</p>
<p style="text-align: justify;">
<p style="text-align: justify;">Dan terbukti kini, mimpi kami sebagian besar pelan-pelan telah menjadi kenyataan, tapi yang paling asik dibalik kesuksesan itu kami tetep sama seperti kami yang dulu tetep konyol dan senang bercanda, semoga langgeng dan abadi &#8230;</p>
<p style="text-align: justify;">
<p style="text-align: justify;">Kawan-kawan baru bermunculan, tokoh sukses dan dan yang lebih sukses kini menjadi kawan padahal lima tahun yang lalu mereka-mereka itu adalah mentor atau tokoh panutan yang rasanya nggak bakalan terjangkau. Tapi mimpi, konsistensi dan kerja keras membuktikan semuanya bisa tercapai. Ada banyak air mata saat menggapainya tapi saat tergapai air mata itu berubah menjadi canda tawa yang lucu.</p>
<p style="text-align: justify;">
<p style="text-align: justify;">Saat berkumpul dengan kawan-kawan lama yang sekarang dah pada sukses ini, saat kami ngobrol-ngobrol dan ketawa ketiwi bareng ini, saya ternyata sempet-sempetnya juga kepikiran, rasanya kok belum pernah saya bertemu atau menemukan orang yang selama hidupnya selalu sukses. Dan rasanya saya jadi yakin kalau-pun ada orang seperti itu pasti saat-saat gagalnya tidak pernah di ceritakan dan hanya disimpan buat dirinya sendiri.</p>
<p style="text-align: justify;">
<p style="text-align: justify;">Hal yang tadinya dianggap sulit begitu ada seseorang yang berhasil melakukannya maka kemudian menjadi biasa, terbukti dengan kemudian banyak orang yang berhasil melakukannya, kalo yang lain bisa kenapa kita mesti nggak bisa? Cuman seringkali kita hanya terlena pada kisah sukses saja dan mengabaikan prosesnya dan memang kisah sukses adalah yang paling indah untuk di ceritakan buat motivasi sedangkan ’proses’ jarang banget di jadikan bahan cerita.</p>
<p style="text-align: justify;">
<p style="text-align: justify;">Maka yang penting tujuannnya apa dulu, temukan dulu tujuannya baru bekerja untuk mencapai tujuan itu, selalu ada proses dalam mencapai tujuan dan proses itu seringkali memang nggak enak untuk di ceritakan&#8230;</p>
<p style="text-align: justify;">
<p style="text-align: justify;">Konsisten sajalah, tapi dengan terus merusaha memperbaiki diri&#8230;</p>
<p style="text-align: justify;">
<p style="text-align: justify;">Seperti biasa, cangkruan yang di mulai jam 21 malam itu baru berakhir ketika azan subuh yang di kumandangkan oleh ‘muazin’ terdengar bersahut-sahutan, memeriahkan suasana pagi yang dingin ini.</p>
<p style="text-align: justify;">
<p style="text-align: justify;">
<p style="text-align: justify;">
<p style="text-align: justify;">
<p style="text-align: justify;">
<p style="text-align: justify;">
<p style="text-align: justify;">
<p style="text-align: justify;">
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.samuraijagoan.com/2011/09/08/air-mata-canda-tawa/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>ketika memberi lebih baik dari menerima</title>
		<link>http://www.samuraijagoan.com/2011/09/05/ketika-memberi-lebih-baik-dari-menerima/</link>
		<comments>http://www.samuraijagoan.com/2011/09/05/ketika-memberi-lebih-baik-dari-menerima/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 05 Sep 2011 02:23:34 +0000</pubDate>
		<dc:creator>samurai</dc:creator>
				<category><![CDATA[Entrepreneurship]]></category>
		<category><![CDATA[bento]]></category>
		<category><![CDATA[bisnis]]></category>
		<category><![CDATA[bisnis joss dan kuliner mak nyuss]]></category>
		<category><![CDATA[buku]]></category>
		<category><![CDATA[bumbu pecel enak]]></category>
		<category><![CDATA[Business Success]]></category>
		<category><![CDATA[bussiness]]></category>
		<category><![CDATA[entrepreneur]]></category>
		<category><![CDATA[entrepreneur bodoh]]></category>
		<category><![CDATA[entrepreneur pemberontak]]></category>
		<category><![CDATA[entrepreneur university]]></category>
		<category><![CDATA[guru]]></category>
		<category><![CDATA[harian surya]]></category>
		<category><![CDATA[ilmu]]></category>
		<category><![CDATA[invest]]></category>
		<category><![CDATA[investasi]]></category>
		<category><![CDATA[investor]]></category>
		<category><![CDATA[jagoan]]></category>
		<category><![CDATA[jangan ada dusta diantara kita]]></category>
		<category><![CDATA[jangan berpikir]]></category>
		<category><![CDATA[Jangan Berpikir Jadi Pengusaha]]></category>
		<category><![CDATA[Jangan berpikir jadi pengusaha & jangan pernah berpikir menjadi entrepreneur]]></category>
		<category><![CDATA[jangan berpikir jadi pengusaha dan jangan pernah berpikir jadi entrepreneur]]></category>
		<category><![CDATA[jawa pos]]></category>
		<category><![CDATA[kaki diatas kepala di bawah]]></category>
		<category><![CDATA[kawan]]></category>
		<category><![CDATA[kommmbis]]></category>
		<category><![CDATA[konsisten]]></category>
		<category><![CDATA[koran]]></category>
		<category><![CDATA[mastermind]]></category>
		<category><![CDATA[mastermind juara]]></category>
		<category><![CDATA[mentor]]></category>
		<category><![CDATA[menulis]]></category>
		<category><![CDATA[mm juara]]></category>
		<category><![CDATA[motivator]]></category>
		<category><![CDATA[nasi pecel]]></category>
		<category><![CDATA[news]]></category>
		<category><![CDATA[pecel]]></category>
		<category><![CDATA[pecel wenmit]]></category>
		<category><![CDATA[pemberontak]]></category>
		<category><![CDATA[pembicara]]></category>
		<category><![CDATA[provokator]]></category>
		<category><![CDATA[sahabat]]></category>
		<category><![CDATA[samurai]]></category>
		<category><![CDATA[samurai membangun pondasi bisnis tanpa pedang]]></category>
		<category><![CDATA[sec]]></category>
		<category><![CDATA[seminar]]></category>
		<category><![CDATA[surabaya entrepreneur club]]></category>
		<category><![CDATA[surat kabar]]></category>
		<category><![CDATA[surya]]></category>
		<category><![CDATA[tangan diatas]]></category>
		<category><![CDATA[tda]]></category>
		<category><![CDATA[TDA nGalam]]></category>
		<category><![CDATA[tda surabaya]]></category>
		<category><![CDATA[tersesat ke jalan yang benar]]></category>
		<category><![CDATA[tiru]]></category>
		<category><![CDATA[tulis]]></category>
		<category><![CDATA[ukm]]></category>
		<category><![CDATA[ukm jatim]]></category>
		<category><![CDATA[universitas airlangga]]></category>
		<category><![CDATA[universitas airlangga surabaya]]></category>
		<category><![CDATA[wenmit]]></category>
		<category><![CDATA[wenmit pecel]]></category>
		<category><![CDATA[wirausahawan]]></category>
		<category><![CDATA[workshop]]></category>
		<category><![CDATA[writers]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.samuraijagoan.com/?p=1882</guid>
		<description><![CDATA[Sebagai seorang entrepreneur tindakan memberi adalah sebuah  kewajiban yang indah, karena saat kita memberi maka tangan kita ada  diatas dari pada tangan orang menerima pemberian kita. Selain itu dalam  kehidupan sosial kita bermasyarakatpun dan dalam kondisi apapun memberi  itu memang selalu lebih baik daripada orang yang diberi.
Tindakan memberi ini  kedengarannya [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;">Sebagai seorang entrepreneur tindakan memberi adalah sebuah  kewajiban yang indah, karena saat kita memberi maka tangan kita ada  diatas dari pada tangan orang menerima pemberian kita. Selain itu dalam  kehidupan sosial kita bermasyarakatpun dan dalam kondisi apapun memberi  itu memang selalu lebih baik daripada orang yang diberi.<span id="more-1882"></span></p>
<p style="text-align: justify;">Tindakan memberi ini  kedengarannya cukup sederhana dan simple tapi janganlah kita menganggap  tindakan ini sebagai perbuatan yang remeh temeh. Tindakan memberi  tidaklah semudah apa yang kita bayangkan. Dalam berbagai sudut dan  pandangan pada kenyataannya tindakan memberi ini rawan sekali berlanjut  menjadi perbuatan yang tidak pantas, bila kita tidak waspada maka kita  bisa menjadi seorang yang bersifat sombong, angkuh bahkan menjadi  otoriter. Spirit memberi kita sudah berubah dari sesuatu yang bersifat  ikhlas menjadi sesuatu yang punya pamrih, ada keinginan tertentu dibalik  tindakan memberi kita itu.</p>
<p style="text-align: justify;">Iya sih memang dalam memberi pasti ada lah  keinginan dalam hati ini, dalam memberi pastilah ada tujuan yang di  harapkan, bahkan dalam kitab suci setiap agama pun tindakan memberi akan  di beri ganjaran dari allah. Nah seringkali itulah yang kita harapkan,  memberi dengan keinginan dan tujuan untuk mendapatkan pahala dari allah,  semuanya sah-sah saja, walaupun saya sering kali gak  setuju dengan faham yang sedang gencar di kampanyakan dimana-mana.</p>
<p style="text-align: justify;">Sekarang ini sedang marak  banget bahkan sudah menjadi trend dimana setiap orang bersedekah dengan  membabi buta, harapan dari sedekah yang membabi buta itu adalah balasan  dari allah berupa rezeki buat kita yang bersedekah, kelancaran bisnis  dan jalan kita menuju kesuksesan dilapangkan oleh allah.</p>
<p style="text-align: justify;">Kalo menurut saya memberi  dalam bentuk apapun, bersedekah dalam bentuk apapun sangat baik tapi  sebaiknya hanya buat kita sendiri hal itu dilakukan, orang lain gak  perlu tahulah kita memberi atau tidak, toh kemampuan dan kemauan dari  masing-masing dari kita berbeda-beda.</p>
<p style="text-align: justify;">Kalo menurut saya lagi saat seperti ada sebuah  teori yang bilang saat tangan kanan memberi tangan kiri kagak boleh  tau, teori inilah yang saya anut selama ini. Saya memberi ya pada saat  hati saya tergerak untuk memberi, jika hati saya tidak tergerak ya saya  gak bakal memberi, walaupun orang terdekat saya memberi, jika hati saya  gak tergerak saya gak bakal ikut memberi, tapi saya juga tidak pernah  melarang untuk memberi.</p>
<p style="text-align: justify;">Memberi ini berdasarkan hati gak bisa  dipaksain, walopun sekarangpun ada teori yang bilang kalo mau memberi  atau bersedekahpun gak harus ikhlas. Emang bener sih, memang dalam  kondisi apapun saya merasakan saat saya memberi pasti rasanya berast  sekali, saya gak pernah memberi dengan enteng.</p>
<p style="text-align: justify;">Cuman bedanya jika saya  memberi karena hati ini memang ingin memberi, yang terjadi adalah  setelah sesuatu itu saya berikan pada orang lain maka saya akan langsung  dengan mudah melupakannya, walopun ketika tangan ini memberikan sesuatu  hati dan otak merasakan suatu perasaan yang berat untuk melepaskan.</p>
<p style="text-align: justify;">Tapi jika saya memberi  karena ada unsur himbauan atau saran yang gak mungkin saya tolak maka  ketika tangan ini memberi dan proses beri memberi itu sudah selesai  semuanya akan sulit saya lupakan. Rasa berat dalam hati dan otak itu  lama hilangnya bahkan hilang muncul, begitu berulang kali.</p>
<p style="text-align: justify;">Daripada memberi menjadi  suatu hal yang menyebalkan pada diri saya, akhirnya saya tetep menggunakan  perasaan saya sebagai patokan, ketika saya ingin saya beri dan ketika  saya tidak ingin ya saya tidak berikan. Dan saya gak pernah peduli  omongan orang lain terhadap kelakuan saya ini. saya ya saya sendiri  bukan orang lain.</p>
<p style="text-align: justify;">Sikap ini sering mendapat cemooh dari orang yang tidak sependapat  dengan saya. Terlebih ketika saya mendapat musibah dulu itu, banyak  yang bilang saya kurang memberikan sedekah atau kurang mengeluarkan  bagian atau hak orang lain dalam harta saya. Saya tetep cuek saja. Saya  tetep teguh pada prinsip saya, dimana pada saat itu yang tau kalo saya  memberi atau tidak, cukup atau tidaknya yang saya berikan pada orang  lain, hanya saya dan allah saja.</p>
<p style="text-align: justify;">Saya juga diberi masukan dari senior-senior  saya, bahwa ada juga yang patut juga kita perhatikan dalam tindakan  memberi. Dalam memberi saya selalu diminta untuk belajar dan berusaha  untuk selalu memberi apa yang sangat orang lain butuhkan. Pada  prinsipnya dalam memberi juga harus mengetahui keinginan orang lain,  keinginan orang yang ingin kita beri, sehingga pemberian itu benar-benar  menjadi pemberian yang berarti. Dalam kondisi ini kita hanya cukup bila  dapat memahami apa keinginan dari orang yang ingin kita beri sehingga  kita dapat memberikan yang terbaik buat mereka.</p>
<p style="text-align: justify;">Seringkali saya hanya  melihat dari sudut pandang saya tentang kebutuhan dari orang yang mau  kita beri, saya juga sering merasa mereka itu akan sangat senang dengan  bantuan apapun yang saya berikan. Padahal itu semua belum tentu tepat,  orang mau kita beri seringkali punya rencana-rencana tertentu dan  berdasarkan rencana itu maka pembeian yang saya berikan jadi kurang  berkenan di hati mereka walaupun tetep saja mereka gembira dan bahagia  atas pemberian saya. Bila saya kenal sama orang yang mau saya beri  biasanya saya disarankan untuk ngobrol dan berdialog dengan orang itu  supaya saya dapat memahami apa keinginan yang ada dalam hatinya, supaya  saya tau harapan-harapannya.</p>
<p style="text-align: justify;">Paling gampang memang kalo memberi itu berupa  uang, tapi berdasarkan teori diatas maka seringkali pemberian uang itu  jadinya gak bermanfaat, kalo kita tau berdasarkan dialog yang kita bikin  maka kita bisa mengganti pemberian uang itu menjadi berbentuk barang  yang lebih bermanfaat. Siapa sih yang menolak jika diberi uang, gak  bakal ada yang menolaknya, tapi pemberian uang itu seringkali malah bisa  disalahgunakan pemanfaatanya oleh yang nerima.</p>
<p style="text-align: justify;">Serba repot mungkin ya, jika  memberi dengan harapan-harapan yang berlebih. Maka apapun teori yang  ada saya selalu berusaha memberi bila hati saya tergerak dan saya gak  pernah mikir lagi setelah memberi apakah yang kita berikan bener-bener  bermanfaat atau kurang bermanfaat, atau tujuan kita memberi berbeda  dengan tujuan mereka menerimanya.</p>
<p style="text-align: justify;">Pokoknya menurut saya memberi ya focus pada  tindakan memberi saja, yang lainnya urusan allah, itu saja cukup!!!</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.samuraijagoan.com/2011/09/05/ketika-memberi-lebih-baik-dari-menerima/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>dasar anak-anak</title>
		<link>http://www.samuraijagoan.com/2011/08/25/dasar-anak-anak/</link>
		<comments>http://www.samuraijagoan.com/2011/08/25/dasar-anak-anak/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 25 Aug 2011 10:27:13 +0000</pubDate>
		<dc:creator>samurai</dc:creator>
				<category><![CDATA[Entrepreneurship]]></category>
		<category><![CDATA[bento]]></category>
		<category><![CDATA[bisnis]]></category>
		<category><![CDATA[bisnis joss dan kuliner mak nyuss]]></category>
		<category><![CDATA[buku]]></category>
		<category><![CDATA[bumbu pecel enak]]></category>
		<category><![CDATA[Business Success]]></category>
		<category><![CDATA[bussiness]]></category>
		<category><![CDATA[entrepreneur]]></category>
		<category><![CDATA[entrepreneur bodoh]]></category>
		<category><![CDATA[entrepreneur pemberontak]]></category>
		<category><![CDATA[entrepreneur university]]></category>
		<category><![CDATA[guru]]></category>
		<category><![CDATA[harian surya]]></category>
		<category><![CDATA[ilmu]]></category>
		<category><![CDATA[invest]]></category>
		<category><![CDATA[investasi]]></category>
		<category><![CDATA[investor]]></category>
		<category><![CDATA[jagoan]]></category>
		<category><![CDATA[jangan ada dusta diantara kita]]></category>
		<category><![CDATA[jangan berpikir]]></category>
		<category><![CDATA[Jangan Berpikir Jadi Pengusaha]]></category>
		<category><![CDATA[Jangan berpikir jadi pengusaha & jangan pernah berpikir menjadi entrepreneur]]></category>
		<category><![CDATA[jangan berpikir jadi pengusaha dan jangan pernah berpikir jadi entrepreneur]]></category>
		<category><![CDATA[jawa pos]]></category>
		<category><![CDATA[kaki diatas kepala di bawah]]></category>
		<category><![CDATA[kawan]]></category>
		<category><![CDATA[kommmbis]]></category>
		<category><![CDATA[konsisten]]></category>
		<category><![CDATA[koran]]></category>
		<category><![CDATA[mastermind]]></category>
		<category><![CDATA[mastermind juara]]></category>
		<category><![CDATA[mentor]]></category>
		<category><![CDATA[menulis]]></category>
		<category><![CDATA[mm juara]]></category>
		<category><![CDATA[motivator]]></category>
		<category><![CDATA[nasi pecel]]></category>
		<category><![CDATA[news]]></category>
		<category><![CDATA[pecel]]></category>
		<category><![CDATA[pecel wenmit]]></category>
		<category><![CDATA[pemberontak]]></category>
		<category><![CDATA[pembicara]]></category>
		<category><![CDATA[provokator]]></category>
		<category><![CDATA[sahabat]]></category>
		<category><![CDATA[samurai]]></category>
		<category><![CDATA[samurai membangun pondasi bisnis tanpa pedang]]></category>
		<category><![CDATA[sec]]></category>
		<category><![CDATA[seminar]]></category>
		<category><![CDATA[surabaya entrepreneur club]]></category>
		<category><![CDATA[surat kabar]]></category>
		<category><![CDATA[surya]]></category>
		<category><![CDATA[tangan diatas]]></category>
		<category><![CDATA[tda]]></category>
		<category><![CDATA[TDA nGalam]]></category>
		<category><![CDATA[tda surabaya]]></category>
		<category><![CDATA[tersesat ke jalan yang benar]]></category>
		<category><![CDATA[tiru]]></category>
		<category><![CDATA[tulis]]></category>
		<category><![CDATA[ukm]]></category>
		<category><![CDATA[ukm jatim]]></category>
		<category><![CDATA[universitas airlangga]]></category>
		<category><![CDATA[universitas airlangga surabaya]]></category>
		<category><![CDATA[wenmit]]></category>
		<category><![CDATA[wenmit pecel]]></category>
		<category><![CDATA[wirausahawan]]></category>
		<category><![CDATA[workshop]]></category>
		<category><![CDATA[writers]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.samuraijagoan.com/?p=1880</guid>
		<description><![CDATA[Nggak kerasa juga kalo anak saya yang paling gede yang saya kasih nama Mcllynitho Raffy ternyata sekarang sudah kelas lima SD dan dia sudah berusia  sepuluh tahun lebih. Baru deh kali inget sama anak saya saya baru ngerasa sudah tua, tapi kalo pas lagi gak inget ya saya masih ngerasas seperti anak muda saja&#8230;
Hehehe&#8230;

Saya mau [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Nggak kerasa juga kalo anak saya yang paling gede yang saya kasih nama Mcllynitho Raffy ternyata sekarang sudah kelas lima SD dan dia sudah berusia  sepuluh tahun lebih. Baru deh kali inget sama anak saya saya baru ngerasa sudah tua, tapi kalo pas lagi gak inget ya saya masih ngerasas seperti anak muda saja&#8230;</p>
<p>Hehehe&#8230;</p>
<p><span id="more-1880"></span></p>
<p>Saya mau cerita tentang anak saya, si Mcllyn yang dalam bayangan saya masih kecil aja. Agak kaget juga saya saat kemaren dia bilang sama ibunya kalo dia mau nonton filem di boskop bareng sama kawan-kawan sekelasnya. Wah hebat banget kata saya dalam hati, anak kelas lima SD sudah pada janjian mau nonton filem bareng di bioskop. Kami kasih ijin tentu saja ke Mcllyn maksud kami supaya dia bisa merasakan pergi tanpa kawalan orang tuanya atau kawalan guru-gurunya di sekolah.</p>
<p>Begitu mendapatkan ijin si Mcllyn sibuk dan bersemangat, dia meneleponi kawan-kawannya untuk memastikan keberangkatan mereka, dia juga sibuk browsing di internet untuk mencari jadwal filem yang mereka ingin tonton. Dan malamnya di tempat tidur, Mcllyn gelisah, jam sudah menunjukkan pukul sebelas malam tapi matanya belom lagi mau dipejamkan, saya bisa membayangkan apa yang dia rasakan, pasti Mcllyn dia pingin hari cepat berganti menjadi esok.</p>
<p>Hahaha&#8230;</p>
<p>Besoknya, si Mcllyn yang bisanya bangun siang disaat liburan, bikin heran orang serumah,  karena jam enam pagi dia sudah bangun dan nggak bisa tidur lagi, padahal tadi dia juga sahur dan tidurnya setelah sahur juga barengan sama yang lainnya.</p>
<p>Begitu bangun dia langsung sibuk menyiapkan baju yang mau di pakenya nonton, dia bilang minta diantar kerumah kawannya itu sekitar jam sepuluhan karena mau nonton filem yang mainnya jam dua belas siang.</p>
<p>Dari kemaren saya memang hanya memperhatikan saja kelakuan Mcllyn yang memang lebih banyak bercerita pada ibunya tentang keinginannya nonton filem di bioskop bareng kawan-kawannya,  melihat kesibukan Mcllyn yang makin menjadi akhirnya saya tanya tentang filem yang mau di tontonnya itu dan Mcllyn bilang kalo dia dan kawan-kawannya sekelas mau nonton filem ‘Tendangan Dari Langit’</p>
<p>Jam sembilan pagi dia sudah rapi dan nggak sabar minta sama mbaknya untuk segera mengantarnya ke sekolah tempat dia dan kawan-kawanya berangkat bareng menuju bioskop. Terang saja mbaknya nggak mau nganter karena toh masih lama jam sepuluh mau berangkat kok jam sembilan pagi sudah gelisah minta dianter.</p>
<p>Jam sepuluh mcllyn berangkat ke sekolahnya diantar sama mbaknya naik sepeda motor dan dalam waktu dua puluh menit kurang lebih dia sudah berada di sekolahnya, sekolahnya nggak gitu jauh dari rumah kami apalagi kondisi jalan relatif sepi karena anak sekolah pada libur ramadhan minggu pertama.</p>
<p>Dan menurut informasi si mbak, Mcllyn orang pertama yang sampe di sekolah,</p>
<p>hahaha&#8230;</p>
<p>Walopun Mcllyn bawa hape tapi kami sengaja nggak menghubungi dia sama sekali, kami pingin memberikan kepercayaan penuh pada Mcllyn dan pingin tau ceritanya langsung, pengalaman pertamanya nonton bioskop tanpa kawalan orang tuanya.</p>
<p>Sekitar jam empat sore Mcllyn telpon minta di jemput di sekolahnya, rupanya dia sudah kembali, dia sudah selesai nonton. Si mbak segera berangkat menjemput dan sekitar jam lima sore sampailah Mcllyn di rumah. Ternyata dia membawa sebuah bungkusan dalam kantong plastik kecil. Ketika saya bertanya pada mcllyn ttentang isi bungkusan itu, maka dengan senyuman lebar Mcllyn menjelaskan kalo dia tadi setelah nonton beli jajanan yang di bungkus untuk camilan berbuka.</p>
<p>Trus saya tanya lagi tentang jajanan apaan yang Mcllyn beli dan di bungku di bawa pulang untuk berbuka puasa. Mcllyn tersenyum makin lebar, dia bilang kalo dia beli sushi (makanan jepang dari beras ketan dan ikan mentah)  saya tercengang juga mendengar jawaban Mcllyn tentang apa yang dia beli, bayangan saya paling di mbungkus burger atau ayam goreng crispy seperti kesukaan anak-anak pada umumnya. Tapi ternyata yang di beli mcllyn bukan itu dia ternyata beli makanan yang di idam-idamkannya selama ini (sushi) karena adeknya dan ibunya kalo diajak makan sushi pasti mengeluarkan berbagai alasan.</p>
<p>Kesempatan ternyata langsung diambil Mcllyn saat dia tau kalo kami memberikan kebebasan padanya untuk pergi seharian tanpa pengawasan dan pengawalan kami. Karena penasaran saya lantas bertanya lagi padanya, tentang apa yang di beli oleh kawan-kawannya pada saat mereka punya kesempatan untuk beli jajanan.</p>
<p>Ternyata dugaan saya nggak terlalu meleset, kawan-kawan Mcllyn membeli burger pada kesempatan jajan bersama itu dan hanya Mcllyn yang gak terpengaruh untuk ikutan beli burger seperti kawannya yang lain tapi memilih membeli sushi pada kesempatan itu begitu Mcllyn tau uang saku yang di bawanya cukup untuk membeli sesuatu yang memang diidamkannya.</p>
<p>Seneng juga melihat Mcllyn punya sikap sendiri, nggak tergiur ikut-ikutan dengan apa yang dilakukan oleh banyak kawannya yang lain&#8230;.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.samuraijagoan.com/2011/08/25/dasar-anak-anak/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>7</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>“menyerah pun belum tentu kalah asal terus berusaha mencapai yang diinginkan dengan cara yang berbeda&#8230;.”</title>
		<link>http://www.samuraijagoan.com/2011/07/18/%e2%80%9cmenyerah-pun-belum-tentu-kalah-asal-terus-berusaha-mencapai-yang-diinginkan-dengan-cara-yang-berbeda-%e2%80%9d/</link>
		<comments>http://www.samuraijagoan.com/2011/07/18/%e2%80%9cmenyerah-pun-belum-tentu-kalah-asal-terus-berusaha-mencapai-yang-diinginkan-dengan-cara-yang-berbeda-%e2%80%9d/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 18 Jul 2011 09:27:40 +0000</pubDate>
		<dc:creator>samurai</dc:creator>
				<category><![CDATA[Entrepreneurship]]></category>
		<category><![CDATA[bento]]></category>
		<category><![CDATA[bisnis]]></category>
		<category><![CDATA[bisnis joss dan kuliner mak nyuss]]></category>
		<category><![CDATA[buku]]></category>
		<category><![CDATA[Business Success]]></category>
		<category><![CDATA[bussiness]]></category>
		<category><![CDATA[entrepreneur]]></category>
		<category><![CDATA[entrepreneur bodoh]]></category>
		<category><![CDATA[entrepreneur pemberontak]]></category>
		<category><![CDATA[entrepreneur university]]></category>
		<category><![CDATA[guru]]></category>
		<category><![CDATA[harian surya]]></category>
		<category><![CDATA[ilmu]]></category>
		<category><![CDATA[invest]]></category>
		<category><![CDATA[investasi]]></category>
		<category><![CDATA[investor]]></category>
		<category><![CDATA[jagoan]]></category>
		<category><![CDATA[jangan ada dusta diantara kita]]></category>
		<category><![CDATA[jangan berpikir]]></category>
		<category><![CDATA[Jangan Berpikir Jadi Pengusaha]]></category>
		<category><![CDATA[Jangan berpikir jadi pengusaha & jangan pernah berpikir menjadi entrepreneur]]></category>
		<category><![CDATA[jangan berpikir jadi pengusaha dan jangan pernah berpikir jadi entrepreneur]]></category>
		<category><![CDATA[jawa pos]]></category>
		<category><![CDATA[kaki diatas kepala di bawah]]></category>
		<category><![CDATA[kawan]]></category>
		<category><![CDATA[kommmbis]]></category>
		<category><![CDATA[konsisten]]></category>
		<category><![CDATA[koran]]></category>
		<category><![CDATA[mastermind]]></category>
		<category><![CDATA[mastermind juara]]></category>
		<category><![CDATA[mentor]]></category>
		<category><![CDATA[menulis]]></category>
		<category><![CDATA[mm juara]]></category>
		<category><![CDATA[motivator]]></category>
		<category><![CDATA[nasi pecel]]></category>
		<category><![CDATA[news]]></category>
		<category><![CDATA[pecel]]></category>
		<category><![CDATA[pecel wenmit]]></category>
		<category><![CDATA[pemberontak]]></category>
		<category><![CDATA[pembicara]]></category>
		<category><![CDATA[provokator]]></category>
		<category><![CDATA[sahabat]]></category>
		<category><![CDATA[samurai]]></category>
		<category><![CDATA[samurai membangun pondasi bisnis tanpa pedang]]></category>
		<category><![CDATA[sec]]></category>
		<category><![CDATA[seminar]]></category>
		<category><![CDATA[surabaya entrepreneur club]]></category>
		<category><![CDATA[surat kabar]]></category>
		<category><![CDATA[surya]]></category>
		<category><![CDATA[tangan diatas]]></category>
		<category><![CDATA[tda]]></category>
		<category><![CDATA[TDA nGalam]]></category>
		<category><![CDATA[tda surabaya]]></category>
		<category><![CDATA[tersesat ke jalan yang benar]]></category>
		<category><![CDATA[tiru]]></category>
		<category><![CDATA[tulis]]></category>
		<category><![CDATA[ukm]]></category>
		<category><![CDATA[ukm jatim]]></category>
		<category><![CDATA[universitas airlangga]]></category>
		<category><![CDATA[universitas airlangga surabaya]]></category>
		<category><![CDATA[wenmit]]></category>
		<category><![CDATA[wenmit pecel]]></category>
		<category><![CDATA[wirausahawan]]></category>
		<category><![CDATA[workshop]]></category>
		<category><![CDATA[writers]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.samuraijagoan.com/?p=1875</guid>
		<description><![CDATA[Kalo mau diruntut mestinya kondisi yang saya alami seperti sekarang ini bisa dikatakan saya menyerah tanpa syarat karena membiarkan semua yang saya mliki diambil oleh bank karena saya mengalami kesulitan keuangan yang mengakibatkan pembayaran credit saya menjadi macet.

Saya memang memberikan apa yang saya jaminkan ke bank untuk diambil, saya sudah nggak berminat lagi mempertahankannya sebab [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<h4 style="text-align: justify;">Kalo mau diruntut mestinya kondisi yang saya alami seperti sekarang ini bisa dikatakan saya menyerah tanpa syarat karena membiarkan semua yang saya mliki diambil oleh bank karena saya mengalami kesulitan keuangan yang mengakibatkan pembayaran credit saya menjadi macet.<span id="more-1875"></span></h4>
<h4></h4>
<h4 style="text-align: justify;">Saya memang memberikan apa yang saya jaminkan ke bank untuk diambil, saya sudah nggak berminat lagi mempertahankannya sebab jika saya pertahankan pasti energi saya terserap secara total disana, akibatnya saya nggak focus lagi ke tujuan utama yaitu mengembangkan bisnis.</h4>
<h4></h4>
<h4 style="text-align: justify;">Saya memang menyerah tapi saya nggak berhenti begitu saja dalam mempertahankan apa yang pernah saya punyai, saya tetep berusaha selama mungkin apa yang saya miliki tetep bertahan pada saya sebelum diambil sama yang berhak dan cara yang saya lakukan juga tidak menimbulkan konfrontasi sehingga hubungan saya dengan bank (paling tidak dengan marketing dan analisnya tetep baik secara personal).</h4>
<h4></h4>
<h4 style="text-align: justify;">Dalam kasus ini cerita dan pokok bahasan saya mengenai property, saya akan ceritakan cara saya berusaha mempertahankan rumah saya selama mungkin ketika saya menyerah tanpa syarat pada bank.</h4>
<h4></h4>
<h4 style="text-align: justify;">Dua tahun lalu saya jaminkan rumah yang saya tinggali ke bank karna suatu kebutuhan bisnis, dengan menjaminkan property saya itu maka saya mendapatkan sejumlah uang yang berbentuk credit dari bank. Kebetulan saya mengambil creditnya dengan system pinjaman rekening koran, maksudnya dalam pinjaman ini jika belum mampu mengembalikan pokok pinjaman yang susdah dipakai maka kita hanya wajib membayar bunganya saja setiap bulan selama jangka waktu satu tahun.</h4>
<h4></h4>
<h4 style="text-align: justify;">Dengan penuh kesungguhan saya bayarkan bunga yang menjadi kewajiban saya pada bank yang memberikan pinjaman setiap bulan selama satu tahun penuh tanpa pernah terlambat. Sampai pada suatu saat saya mengalami kesulitan financial karena bisnis saya mengalami kemunduran, kondisi ini terjadi pada saat pembayaran credit saya memasuki tahun kedua. Selama satu tahun karena pembayaran saya bagus maka bank memberikan perpajangan pinjaman untuk tahun kedua, dengan tingkat suku bunga yang lebih rendah dari tahun sebelumnya.</h4>
<h4></h4>
<h4 style="text-align: justify;">Nggak disangka pada bulan-bulan awal bisnis saya terganggu karena krisis dan berakibat pada masalah penjualan sehingga perputaran keuangan menjadi tersendat, akibatnya saya jadi nggak mampu membayarkan kewajiban saya pada bank. Yang tadinya pembayaran bunga lancar setiap bulannya maka pada periode tahun kedua pembayaran saya menjadi tidak lengkap, dalam kurun waktu tiga bulan saya baru mampu membayar satu angsuran yang menjadi kewajiban saya.</h4>
<h4></h4>
<h4 style="text-align: justify;">Saya tetap memasukkan sejumlah uang ke dalam rekening saya tapi tidak sesuai dengan kewajiban saya yang seharusnya. Misalnya setiap bulan saya yang seharusnya bayar bunga ke bank sebesar 7,5 juta. Tapi kewajiban sebesar itu akibat kesulitan keuangan maka tidak dapat saya penuhi, walopun begitu saya tetep nggak berhenti membayar, saya tetep membayar tapi tidak sebesar kewajiban saya. Setiap bulan saya paksakan diri saya untuk membayar sesuai dengan kemampuan yang ada, saya saat itu hanya mampu bayar sekitar 2,5 juta setiap bulannya dan itulah yang saya lakukan.</h4>
<h4></h4>
<h4 style="text-align: justify;">Jadinya kewajiban setiap bulan yang harusnya sebesar 7,5 juta baru klop terbayar pada bulan ketiga. Tentunya akibat cara bayar yang demikian itu bank nggak diam saja. Saya mendapatkan beberapa surat peringatan mulai dari surat peringatan satu sampai surat peringatan tiga. Yang kira-kira intinya jika saya nggak mampu membayar maka property saya terancam akan di lelang oleh bank.</h4>
<h4></h4>
<h4 style="text-align: justify;">Agak kaget juga saya mendapat surat seperti itu, wah saya bisa kehilangan rumah tinggal neeh, begitu gejolak otak saya. Seperti biasa kondisi ini nggak saya diamkan begitu saja, saya selalu bicarakan dan saya diskusikan dengan istri semuanya. Saya cenderung panic dan gampang sekali panic sedangkan istri saya lebih tenang, paling tidak dia selalu memaksakan diri untuk tenang jika melihat saya panic. Jika istri saya bicara dengan tenang maka kepanikan yang muncul pada diri saya juga bisa cepat turunnya jadi saya bisa mikir dengan lebih tenang. Untunglah itu yang terjadi pada kami, jadi kalo yang satu panic maka yang lain berusaha untuk lebih menahan diri, apa jadinya jika kami berdua sama-sama panic. Tapi yang jelas kemampuan istri saya menahan diri dan bersikap tenang jauh diatas saya.</h4>
<h4></h4>
<h4 style="text-align: justify;">Dari saran istri saya maka saya lantas mengontak petugas yang biasa memantau perkembangan pembayaran credit saya di bank itu. Kira-kira saat saya berusaha menghubungi petugas itu sudah masuk ke bulan keempat dari periode tahun kedua dan pada saat itu saya juga sudah nggak mampu lagi melakukan pembayaran walaupun hanya sebesar 2,5 juta saja.</h4>
<h4></h4>
<h4 style="text-align: justify;">Petugas tadi menanggapi dengan baik ketika saya menghubunginya lalu kami membuat janji untuk bertemu dan membicarakan kasus serta kesulitan yang sedang saya alami ini. Pada hari yang sudah ditentukan saya dan istri dating ke bank tersebut dan langsung menemui petugas tersebut. Tanpa basa basi lagi saya ceritakan semua permasalahan saya padanya.</h4>
<h4></h4>
<h4 style="text-align: justify;">Sebelum saya bertemu dengan petugas itu di kantornya, di rumah yang tagihannya sedang macet itu kami pasang spanduk besar. Spanduk besar itu kami pasang di pagar rumah kami sehingga mudah dilihat dari jauh dan spanduk besar itu berisikan tulisan kalo rumah kami itu dijual lengkap beserta keterangan nomor telepon yang bisa di hubungi supaya jika ada yang berminat dan menyakan tentang harga melalui telepon dapat dengan mudah di akses.</h4>
<h4></h4>
<h4 style="text-align: justify;">Jadi ketika saya bertemu dengan petugas dari bank saya bercerita padanya tentang semua kesulitan dan permasalahan kami serta keinginan kami untuk menjual rumah itu agar nanti uangnya bisa kkami pake untuk membayar tunggakan kami disana. Kami juga minta kesediaan petugas bank agar mau membantu kami untuk menjualkan rumah kami itu pada relasi-relasinya.</h4>
<h4></h4>
<h4 style="text-align: justify;">Rupanya si petugas terkesan dengan sikap kami yang kooperatif dan mau bekerjasama sehingga tidak menyulitkannya dalam bertindak. Dia bilang kalo biasanya banyak nasabahnya yang creditnya macet karena nggak mbayar di minta untuk menjual rumahnya yang dijaminkan tapi nggak mau. (saya mbatin dalam hati, siapa juga yang mau dengan sukarela menjual rumah satu-satunya hanya untuk membayar hutangnya pada bank) Saya menanggapi kata-kata petugas itu kalo kami sebenernya nggak rela menjual rumah kami itu, tapi akhirnya kami bulatkan tekad untuk menjual saja supaya permasalahan credit mact kami ini bisa terselesaikan pelan-pelan.</h4>
<h4></h4>
<h4 style="text-align: justify;">Ngobrol punya ngobrol dan terjadilah negosiasi antara kami dengan petugas itu. Petugas menyarankan agar kami membuat rekening baru di banknya, rekening tabungan biasa gunanya agar kalo kami punya uang maka kami bisa setorkan uang kami tersebut dalam rekening baru tanpa terdebet untuk pembayaran credit macet kami. Petugas menyarankan jika kami rutin menyetorkan duit ke rekening baru kami itu maka jika petugas menganggap saldo yang terkumpul dalam 2-3 bulan kedepan cukup untuk membayar satu ansuran maka petugas akan membantu mendebitnya. Sementara itu rekening credit kami  macet akan dia bantu bekukan agar bunga berjalan dan denda-denda nggak di bebankan lagi pada kami. Jadi nanti duit yang terkumpul di rekening baru itu jika di bayarkan pada credit macet kapi akan langsung mengurang pokoknya tanpa denda dan bunga lagi.</h4>
<h4></h4>
<h4 style="text-align: justify;">Alhamdulillah,</h4>
<h4></h4>
<h4 style="text-align: justify;">saya dan istri mengucapkan terima kasih pada petugas itu karena berkenan membantu kami menghentikan bunga dan denda yang akan terus berjalan karena keterlambatan saya dalam membayar tagihan. Saya nggak nanya secara terang-terangan pada petugas itu tapi rasanya memang akan ada bantuan keringanan dari bank buat nasabah credit macetnya yang mau diajak kerjasama dan kooperative.</h4>
<h4></h4>
<h4 style="text-align: justify;">Saya berusaha untuk membuktikan itikad baik saya dalam membayar credit macet saya itu. Saya buka rekening baru lantas pada akhir bulan uang yang terkumpul di dalam rekening baru tadi totalnya sekitar 3 juta rupiah. Tapi ternyata usaha saya terbentur lagi perputaranroda bisnis saya makin lambat jadinya nggak ada lagi dana yang bisa dianggarkan untuk disertorkan dalam rekening baru saya itu. Selama saya macet dan selama saya punya rekening baru hanya sekitar 3 juta itu saja yang bisa saya setorkan ke dalamnya.</h4>
<h4></h4>
<h4 style="text-align: justify;">Parah ya, kemampuan financial saya &#8230;</h4>
<h4></h4>
<h4 style="text-align: justify;">Dua bulan setelah saya berhenti menyetor uang dalam rekening baru, maka rumah saya di kunjungi oleh 3 orang petugas dari bank tempat credit saya macet. Saat itu saya dan istri sedang nggak ada di rumah, saya sedang keliling di daerah-daerah luar jawa sedangkan istri masih di bandung sibuk kuliah S3 disana. Yang bertemu dengan ketiga petugas itu hanya mbak yang mengasuh anak-anak dan anak sulung saya. Kepada si mbak mereka memperkenalkan diri, yang pertama adalah petugas analis dan marketing yang selama ini menangani credit saya mulai saya memprosesnya dulu diawal saya mengajukan credit sampai akhirnya saya kesulitan membayarnya. Kemudian yang kedua. Mengaku sebagai petugas collection yang menangani kasus credit macet saya, dia juga mengaku sebagai kepala collection di kantor cabang bank tempat saya mecet. Dan yang ketiga, seorang wanita yang mengaku sebagai petugas legal yang menangani permasalahan hukum yang muncul karena adanya wantprestasi (atau kasus melanggar perjanjian antara saya dan bank).</h4>
<h4></h4>
<h4 style="text-align: justify;">Karena saya dan istri nggak ada maka si mbak bilang terus terang pada mereka kalo kami berdua nggak ada di rumah. Seperti yang sudah kami pesan berulang-ulang pada si mbak agar jangan pernah mengijinkan orang bank siapapun mereka untuk masuk ke dalam halaman kami. Maka si mbak ketika ber bicara dengan mereka tetep di balik pagar sedangkan ke tiga petugas itu berbicara di luar pagar alias di jalanan.</h4>
<h4></h4>
<h4 style="text-align: justify;">Sambil berbicara di balik pagar, salah seorang dari petugas itu memotret rumah kami, kata si mbak yang di foto lebih di tujukan pada spanduk yang mengumumkan kalo kami menjual rumah kami itu. Sementara petugas yang sering berkomunikasi dengan saya beberapa kali menghubungi saya lewat telepon selular. Saya yang sedang dilapangan tentu saja nggak bisa menjawab telepon si petugas saat itu juga.</h4>
<h4></h4>
<h4 style="text-align: justify;">Karena kami nggak ada di rumah dan saya nggak bisa mereka hubungi maka mereka pamit kepada si mbak setelah puas dan selesai memotret rumah dan spanduk penjualan  yang kami pasang itu. Mereka juga berpesan pada si mbak agar kalo kami datang agar segera menemui mereka di kantornya.</h4>
<h4></h4>
<h4 style="text-align: justify;">Setelah mereka pergi maka si mbak menghubungi saya dan istri, tapi karna kami juga nggak bisa di telepon di hape kami masing-masing maka si mbak lantas kirim sms dan menjelaskan persoalan yang baru dialaminya pada kami.</h4>
<h4></h4>
<h4 style="text-align: justify;">Setelah urusan saya selesai. Setelah saya membaca sms dari si mbak saya langsung menghubungi petugas itu. Saya simpan nomor hapenya karena kami selalu berhubungan dan berkomunikasi terus. Ketika hubungan telepon tersambung saya bilang saya nggak ada di surabaya karena sedang di daerah, saya juga bilang ke ptugas itu tentang apa tujuannya datang dan apa yang harus saya lakukan. Si petugas bilang itu hanya kunjungan rutin biasa untuk melihat kondisi nasabah yang creditnya sedang macet lantas jika bertemu dengan si nasabah maka mereka akan berdialog dan bernegosiasi tentang pembayaran dari si nasabah.</h4>
<h4></h4>
<h4 style="text-align: justify;">Petugas itu nggak mau berbicara lebih lama di telepon, dia meminta saya untuk datang menemuinya atau menemui kepala collection dan bagian legal begitu saya sampai di surabaya. Saya lantas menyanggupi untuk datang ke kantor mereka setelah saya atur jadwal dulu dengan istri saya, saya bilang pada mereka dua atau tiga hari lagi saya dan istri sampai di surabaya dan begitu sampai paling lambat besoknya kami akan segera menghadap di kantor mereka. Si petugas rupanya puas dengan jawaban saya dan minta saya benar-benar datang pada saat yang sudah di sepakati.</h4>
<h4></h4>
<h4 style="text-align: justify;">Pada hari yang kami sepakati, saya dan istri datang menemui petugas-petugas itu di kantornya. Saya datang pagi sesuai dengan keinginan yang suudah kami sepakati bersama. Ternyata pada saat saya dan istri datang kantor mereka kosong, saya heran juga padahal kita sudah bikin janji. Salah seorang pejabat bank yang menyambut kami bilang kalo ada acara mendadak di kantor wilayah sehingga banyak petugas yang di minta ke kantor pusat mendampingi kepala cabang. Si pejabat itu menghubungi ketiga orang yang mencari saya di rumah tapi nggak ketemu. Petugas yang biasa membantu saya rupanya sedang cuti menikah sedangkan dua petugas lain yang mengaku dari legal dan collection rupanya sedang ke kantor ilayah mendampingi kepala cabang.</h4>
<h4></h4>
<h4 style="text-align: justify;">Kepada kami mereka minta agar kami mau menunggu kurang lebig satu jam dimana mereka akan berusaha kembali ke kantor untuk menemui kami. Kami menyanggupi saja, karena agenda saya dan istri pada hari itu memang khusus menemui dan bernegosiasi dengan para petugas bank itu.</h4>
<h4></h4>
<h4 style="text-align: justify;">Saya menunggu di ruang tunggu yang sudah mereka sipakan. Hampir satu jam saya dan istri menunggu mereka datang sampai tiba-tiba petugas yang mengaku pejabat bank itu datang menemui kami dan menyampaikan jika acara di kantor wilayah menjadi molor dan bisa sampai sore. Dia bilang pada kami untuk kembali esok pagi saja. Saya saling pandang dengan istri lalu kami menyanggupi kalo kami besok pagi bisa datang lagi tapi saya minta kepastian kalo saya dan istri datang lagi maka harus dipastikan petugasnya ada. Si pejabat lantas menjawab tegas kalo besok pagi bisa dipastikan akan ada petugas yang menemui kami. Mendengar jawaban itu maka kami segera berpamitan untuk kembali lagi besok pagi.</h4>
<h4></h4>
<h4 style="text-align: justify;">Besok paginya saya dan istri kembali ke kantor bank itu untuk bernegosiasi dengan para petugas. Dan ternyata memang benar salah seorang dari petugas itu sudah siap menunggu kedatangan kami. Petugas yang mengaku kepala collection itu sudah menunggu kedatangan kami. Sikapnya tegas tapi tidak berkesan sok galak tapi teep menjaga jarak dengan kami walaupun keramahannya nggak hilang.</h4>
<h4></h4>
<h4 style="text-align: justify;">Dia membuka percakapan dengan menjelaskan siapa dirinya. Dia bilang selama kariernya di bank dari awal sudah ditempatkan di bagian collection dan mungkin karena dianggap berprestasi maka dia sering dipindah ke daerah-daerah yang credit macetnya tinggi, dan biasanya setelah dia datang dan menangani situasi maka credit macet di daerah itu bisa turun prosentasennya.</h4>
<h4></h4>
<h4 style="text-align: justify;">Saya dan istri mendengarkan saja apa yang dia sampaikan tanpa menjawab sama sekali.</h4>
<h4></h4>
<h4 style="text-align: justify;">Selama karernya bukan sekali dua kali dia diancam oleh nasabah credit macet dengan berbagai cara, tapi dia bilang selalu dapat menyelesaikannya dengan baik, orang yang tadinya mengancam akhirnya bisa tunduk dan bisa diajak bicara baik-baik.</h4>
<h4></h4>
<h4 style="text-align: justify;">Dia juga bilang kalo cara yang dipakainya nggak dengan kekerasan atau emosi tapi dia selalu menggunakan cara bernegosiasi baik-baik tapi tegas. Nah kalo nasabah tetep saja nggak bisa ditangani dengan cara yang baik maka jalur hukumlah yang ditempuhnya dari mulai jalur hukum biasa sampai jalur hukum di pengadilan. Dia juga bilang kalo cabang bank tempat dia bertugas sekarang ini sedang mengalami pengawasan ketat dari pusat karena tingkat credit macet nya yang tinggi, maka oleh orang pusat dia di kirim untuk bertugas disana. Dia juga bilang kalo baru satu dua bulan bertugas disana.</h4>
<h4></h4>
<h4 style="text-align: justify;">Setelah puas bercerita tentang kehebatan kinerjanya maka petugas itu mengalihkan pembicaraan pada kasus kami dan bertanya pada kami bagaimana rencana kami dalam menyelesaikan tunggakan kami. Sebelum dia mengakhiri pembicaraan dan mendengar jawaban kami dia juga bilang bahwa semua prosedur sudah dia jalankan mulai dari surat peringatan satu sampai surat peringatan ke tiga, pemanggilan nasabah berulang ulang untuk bernegosiasi sampai mengunjungi nasabah di tempat domisilinya. Nah dia bilang cara yang belum dilakukan hanya prosesi penjualan property yang di jaminkan di balai lelang.</h4>
<h4></h4>
<h4 style="text-align: justify;">Dia lantas memandang wajah kami berdua sebagai tanda kalo dia selesai mengakhiri kata-kata panjangnya.</h4>
<h4></h4>
<h4 style="text-align: justify;">Saya merasa kalo orang itu menunggu penjelasan dari saya maka lantas saya memberikan penjelasan padanya. Saya bilang kalo sudah berusaha untuk menjual property saya itu dengan harga di bawah harga pasar, saya juga bilang kalo sudah menghubungi semua broker yang ada di surabaya baik itu broker tradisional atau broker profesional untuk membantu menjualkan dengan cepat. Saya bahkan juga bilang apa saya perlu menunjukkan kerjasama dengan broker yang kami sebutkan.</h4>
<h4></h4>
<h4 style="text-align: justify;">Ternyata petugas itu menjawab nggak perlu karena dia juga sudah mengunjungi rumah kami dan melihat sendiri spanduk penjualan yang kami pasang di pagar rumah.</h4>
<h4></h4>
<h4 style="text-align: justify;">Mendengar itu saya melanjutkan laporan saya kalo harga penjualan di perumahan kami terutama di deretan rumah kami jadi hancur sebab ada sebuah rumah yag letaknya hanya  empat atau lima rumah sajadari rumah kami, tapi luas tanahnya lebig besar, bangunannya lebih bagus dan terdiri dari dua lantai itu dijual oleh pemiliknya dengan harga sangat murah. Rumah yang harusnya bisa di jual dengan harga sekitar 1,5 milyar hanya di jual dengan harga 650 juta saja. Padahal harga 650 juta itu adalah harga pasaran rumah yang type nya persis dengan rumah yang mau kami jual. Kami bilang orang itu butuh cepat menjual rumahnya karena pindah ke luar pulau sehingga harga jual rumahnya ngawur banget dan berakibat menjatuhka harga pasaran rumah-rumah lainnya.</h4>
<h4></h4>
<h4 style="text-align: justify;">Akibat dari harga jual yang ngawur itu maka harga jual rumah kami hancur dan akibatnya beberapa orang yang sudah deal harga menjadi mundur. Sebab transaksi penjualan rumah besar didekat kami ditangani oleh agen broker property propesional sehingga beritanya dengan cepat menyebar di kalangan agen broker property. Alasan itu yang kami sampaikan pada petugas, bahkan kami juga minta tolong padanya agar rumah kami dijual dengan harga yang bisa menutup tunggakan hutang kami.</h4>
<h4></h4>
<h4 style="text-align: justify;">Jawaban saya yang sungguh-sungguh dan di amii oleh istri itu rupanya dianggap masuk akal oleh si petugas, saya sebenernya merasa kalo dia sudah melakukan survey pasar untuk menentukan kisaran harga normal dari property kami yang macet itu. Dari wajahnya saya merasa kalo orang itu hanya memancing alasan dan jawaban saya saja, apakah saya menjawab dengan jujur atau hanya alasan yang dibikin-bikin. Karena memang jawaban saya dan istri apa adanya dan nggak ada yang di buat-buat untuk alasannya maka yang kami kemukakan semuanya berdasarkan kondisi sebenernya yang terjadi dilapangan.</h4>
<h4></h4>
<h4 style="text-align: justify;">Berdasarkan alasan itu maka petugas memberikan kami waktu lagi untuk menjual property kami supaya hasil penjualan nya bisa dipake untuk membayar tunggakan kami. Dia menyarankan agar bisa menjual sesuai dengan pokok hutang kami, dia juga bilang kalo dia juga sudah memberikan keringanan pada kami dengan menghentikan bunga dan denda akibat keterlambatan kami jadi kewajiban yang harus kami bayarkkan hanya pokoknya saja. Dia juga menyarankan agar kalo punya uang minimal 10 juta langsung saja di laporkan padanya agar bisa di pake untuk pembayaran dan langsung mengurangi pokok hutangnya.</h4>
<h4></h4>
<h4 style="text-align: justify;">Saya bilang padanya kalo kami akan berusaha mengusahakannya walo dalam hati saya bilang untuk mengumpulkan uang 2,5 juta sebulan saja susah banget apalagi mengumpulkan uang sampai 10 juta dalam waktu kurang dari 3 bulan. Saya tidak mau berjanji saya hanya bilang akan mengusahakannya semaksimal saya, insyaallah!!!</h4>
<h4></h4>
<h4 style="text-align: justify;">Petugas itu rupanya suka dengan jawaban dan kerjasama kami dalam bernegosiasi dengannya. Kata istri saya saat kami bertiga berbicara wajah orang itu cerah terus, makanya istri saya menyimpulkan seperti itu, kata istri saya lagi kalo dia tidak suka denga proses negosiasi yang terjadi hari itu tentunya wajah orang itu nggak akan cerah dari awal sampai pada saat kami pamit pulang.</h4>
<h4></h4>
<h4 style="text-align: justify;">Kami berdua pamit pulang, saya lega istri juga lega sebab sampai sejauh ini semua proses negosiasi kami dengan pihak bank nggak ada yang berakhir dengan emosi negative, semua yang kami ingikan bisa kami dapatkan, kami memang menginginkan penundaan dan ternyata memang penundaan yang kami peroleh selama ini. Secara apapun berdasarkan hitungan dan presdiksi yang selalu kami bacarakan antara saya dan istri di setiap kesempatan maka kemampuan financial yang kami miliki nggak akan mampu menebus jaminan yang saya taroh ke bank.</h4>
<h4></h4>
<h4 style="text-align: justify;">Jadi satu-satunya jalan yang kami tempuh adalah menyerah tanpa syarat pada bank, tunduk pada semua keputusan yang bank bikin apapun itu agar kami dapat mengatur nafas, menyusun rencana baru terutama rencana keuangan agar kami bisa bergerak lagi dengan lebih leluasa saat kami nggak lagi terbebani oleh kewajiban membayar tagihan.</h4>
<h4></h4>
<h4 style="text-align: justify;">Karena kami menyerah tanpa syarat maka kami nggak melakukan perlawanan sama sekali dalam mempertahankan property kami. Kami pasrah saja, kami selalu bernegosiasi dan selalu berupaya menjalin komunikasi dengan para petugas dari pihak bank. Dengan menjalin komunikasi yang baik dan membangun kerjasama dengan mereka serta menuruti apa yang mereka inginkan maka kami pun dapat memperoleh apa yang kami inginkan&#8230;.</h4>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.samuraijagoan.com/2011/07/18/%e2%80%9cmenyerah-pun-belum-tentu-kalah-asal-terus-berusaha-mencapai-yang-diinginkan-dengan-cara-yang-berbeda-%e2%80%9d/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>4</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>ilmu balon&#8230;.</title>
		<link>http://www.samuraijagoan.com/2011/07/10/ilmu-balon/</link>
		<comments>http://www.samuraijagoan.com/2011/07/10/ilmu-balon/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 10 Jul 2011 10:31:29 +0000</pubDate>
		<dc:creator>samurai</dc:creator>
				<category><![CDATA[Entrepreneurship]]></category>
		<category><![CDATA[balon]]></category>
		<category><![CDATA[bento]]></category>
		<category><![CDATA[bisnis]]></category>
		<category><![CDATA[bisnis joss dan kuliner mak nyuss]]></category>
		<category><![CDATA[buku]]></category>
		<category><![CDATA[Business Success]]></category>
		<category><![CDATA[bussiness]]></category>
		<category><![CDATA[entrepreneur]]></category>
		<category><![CDATA[entrepreneur bodoh]]></category>
		<category><![CDATA[entrepreneur pemberontak]]></category>
		<category><![CDATA[entrepreneur university]]></category>
		<category><![CDATA[guru]]></category>
		<category><![CDATA[harian surya]]></category>
		<category><![CDATA[ilmu]]></category>
		<category><![CDATA[invest]]></category>
		<category><![CDATA[investasi]]></category>
		<category><![CDATA[investor]]></category>
		<category><![CDATA[jagoan]]></category>
		<category><![CDATA[jangan ada dusta diantara kita]]></category>
		<category><![CDATA[jangan berpikir]]></category>
		<category><![CDATA[Jangan Berpikir Jadi Pengusaha]]></category>
		<category><![CDATA[Jangan berpikir jadi pengusaha & jangan pernah berpikir menjadi entrepreneur]]></category>
		<category><![CDATA[jangan berpikir jadi pengusaha dan jangan pernah berpikir jadi entrepreneur]]></category>
		<category><![CDATA[jawa pos]]></category>
		<category><![CDATA[kaki diatas kepala di bawah]]></category>
		<category><![CDATA[kawan]]></category>
		<category><![CDATA[kommmbis]]></category>
		<category><![CDATA[konsisten]]></category>
		<category><![CDATA[koran]]></category>
		<category><![CDATA[mastermind]]></category>
		<category><![CDATA[mastermind juara]]></category>
		<category><![CDATA[mentor]]></category>
		<category><![CDATA[menulis]]></category>
		<category><![CDATA[mm juara]]></category>
		<category><![CDATA[motivator]]></category>
		<category><![CDATA[nasi pecel]]></category>
		<category><![CDATA[news]]></category>
		<category><![CDATA[pecel]]></category>
		<category><![CDATA[pecel wenmit]]></category>
		<category><![CDATA[pemberontak]]></category>
		<category><![CDATA[pembicara]]></category>
		<category><![CDATA[provokator]]></category>
		<category><![CDATA[sahabat]]></category>
		<category><![CDATA[samurai]]></category>
		<category><![CDATA[samurai membangun pondasi bisnis tanpa pedang]]></category>
		<category><![CDATA[sec]]></category>
		<category><![CDATA[seminar]]></category>
		<category><![CDATA[surabaya entrepreneur club]]></category>
		<category><![CDATA[surat kabar]]></category>
		<category><![CDATA[surya]]></category>
		<category><![CDATA[tangan diatas]]></category>
		<category><![CDATA[tda]]></category>
		<category><![CDATA[TDA nGalam]]></category>
		<category><![CDATA[tda surabaya]]></category>
		<category><![CDATA[tersesat ke jalan yang benar]]></category>
		<category><![CDATA[tiru]]></category>
		<category><![CDATA[tulis]]></category>
		<category><![CDATA[ukm]]></category>
		<category><![CDATA[ukm jatim]]></category>
		<category><![CDATA[universitas airlangga]]></category>
		<category><![CDATA[universitas airlangga surabaya]]></category>
		<category><![CDATA[wenmit]]></category>
		<category><![CDATA[wenmit pecel]]></category>
		<category><![CDATA[wirausahawan]]></category>
		<category><![CDATA[workshop]]></category>
		<category><![CDATA[writers]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.samuraijagoan.com/?p=1872</guid>
		<description><![CDATA[Ketika itu saya lagi chatting sama seorang senior saya yang tinggal di kota balikpapan kalimantan timur, kami berdua sedang asyik berdiskusi tentang kebangkitan seseorang dari permasalahan keuangan jika bisnisnya bangkrut.
Beliau bilang pada saya jika seseorang yang sedang terpuruk keuangannya dan pingin segera  bangkit lagi mesti pinter-pinter untuk make ilmu balon. Ilmu balon yang di maksudkan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;">Ketika itu saya lagi chatting sama seorang senior saya yang tinggal di kota balikpapan kalimantan timur, kami berdua sedang asyik berdiskusi tentang kebangkitan seseorang dari permasalahan keuangan jika bisnisnya bangkrut.<span id="more-1872"></span></p>
<p style="text-align: justify;">Beliau bilang pada saya jika seseorang yang sedang terpuruk keuangannya dan pingin segera  bangkit lagi mesti pinter-pinter untuk make ilmu balon. Ilmu balon yang di maksudkan adalah, balon itu baru bisa terbang jika dalam kondisi ringan, jika balon itu berat maka dia nggak akan mungkin bisa terbang melayang dengan cepat.</p>
<p style="text-align: justify;">Ilmu sederhana ini juga di pake saat manusia bikin roket untuk keruang angkasa, coba liat saja di acara televisi, jika roket tersebut mencapai ketinggian tertentu maka roket itu akan melepaskan bebannya, dengan beban yang terlepas maka roket itu akan dapat terbang semakin tinggi sampai akhirnya bisa menembus atmosfir bumi dan mencapai ruang angkasa dengan beban yang sudah terlepas sama sekali.</p>
<p style="text-align: justify;"><strong><em>“lepas semua beban maka bisa terbang melayang &#8211; semakin banyak beban semakin nggak bisa terbang”</em></strong></p>
<p style="text-align: justify;">Itulah inti dari ilmu balon, ilmu ini dahsyat sekali jika kita mau mempraktekkannya pada kehidupan nyata diluar ilmu pengetahuan. Secara teori yang bikin seseorang itu sulit sekali bisa melakukan hal-hal yang baru yang dapat menyelamatkan dirinya dari permasalahan keuangan, seperti beban hutang atau permasalahan dalam bisnisnya adalah keengganan untuk melepaskan beban yang selama ini sedang dipikulnya.</p>
<p style="text-align: justify;">Padahal beban itu berat banget sehingga bikin langkah yang dipake buat melangkah menjadi terseok-seok, untuk bangkit saja susah apalagi untuk melangkah.</p>
<p style="text-align: justify;">Rasa gengsi kita sebagai mahluk sosial yang membuat kita berat meninggalkan benan yang sedang kita panggul. Beban saya sangat banyak, saya menanggung rumah, mobil dan apartemen. Rumahpun jumlahnya nggak cuman satu begitupun dengan apartemen. Pada saat saya jaya dengan keuangan yang stabil banyak maka semua angsuran yang harus saya bayar untuk memiliki itu semua bisa saya bayarkan tepat pada waktunya dan nggak pernah terlambat.</p>
<p style="text-align: justify;">Tapi pada saat bisnis saya drop dan keuangan saya berubah menjadi stabil sedikit dan tidak tetap lagi maka semua itu yang tadinya nggak kepikir akhirnya sekarang menjadi sebuah beban berat yang menyita pikiran banget.</p>
<p style="text-align: justify;">Pembayaran saya menjadi tersendat dan sebagai akibat keterlambatan tadi maka surat cinta dari bank pemberi kredit berdatangan, yang isinya  memberikan peringatan akan keterlambatan pembayaran saya pada mereka. Tentunya semua itu bikin pikiran bertambah nggak tenang, dan dengan pikiran yang nggak tenang maka semua hal bisa menjadi berantakan sebab konsentrasi untuk melakukan sesuatu menjadi sangat terhambat.</p>
<p style="text-align: justify;">Dalam hati saya dan istri tetep punya keyakinan untuk membayar semua itu walaupun dengan berat dan perlu kerja extra yang luar biasa. Kami nggak mau mengecewakan pihak bank yang sudah mempercayai kami dan memberikan kredit pada kami dengan jumlah yang gak main-main. Apalagi oleh semua motivator yang kami dengarkan dan dalam semua buku-buku motivasi yang kami baca dikatakan harus selalu optimis dan nggak boleh berputus asa. Kami berusaha keras.</p>
<p style="text-align: justify;">Alasan yang juga tetep bikin harus selalu opotimis adalah kami nggak pingin kehilangan semua barang, semua aset dan semua harta yang sudah kami kumpulkan dengan susah payah itu. Kami nggak pingin kehilangan semua yang sudah kami dapatkan dengan susah payah dari keringat dan tenaga kami. Dalam pikiran ini jika semuanya itu hilang, kami jual atau kami lepaskan apa yang akan terjadi pada diri kami? Pastinya sungguh sangat memalukan banget kan, apa kata orang lain yang mendengar berita ini? apa kata dunia?</p>
<p style="text-align: justify;">Semua alasan demi gengsi itulah yang bikin semua penghasilan yang kami peroleh justru habis karena di pake hanya untuk membayar dan membayar, penghasilan kami dari hasil kerja keras kami nggak lagi ada yang tersisa untuk mengembangkan usaha kami yang sedang terpuruk. Semua duit yang ada hanya terfokus pada upya membayar hutang demi bisa mempertahankan gengsi kami.</p>
<p style="text-align: justify;">Saat chatting tadi saya tersadar,</p>
<p style="text-align: justify;">plak, plak, plak&#8230;.</p>
<p style="text-align: justify;">Rasanya pipi ini serasa di tampar oleh pukulan yang kuat. Saya jadi ingat tentang apa yang dilakukan oleh kawan senior saya itu ketika sedang mengalami hal yang sama. Beliau baru saja terpuruk karena ekspansi gila-gilaan dalam bisnisnya, karena kurang cermat dan terbawa emosi bisnis beliau hancur, semuanya terpaksa di lepas pada pihak ketiga, apakah itu toko bajunya, rukonya dan aset lainnya. tapi yang bikin saya melek dan melotot adalah ketika saya melihat beliau berboncengan dengan istrinya berkunjung ke hotel tempat saya menginap. Beliau dan istri berboncengan naik motor.</p>
<p style="text-align: justify;">Luar bisa banget dan mereka tetep tersenyu lebar. Senyum yang dari hati dan tanpa di buat-buat, saya yakin itu semua bisa terjadi karena rasanya mereka sudah berhasil membuang jauh-jauh gengsi yang dulu mereka pikul demi meningggalkan beban yang harus mereka pikiu. Saya juga ingat mobil mereka jauh lebih bagus dari saya, bahkan saya sering di tegur sama beliau ketika kami jalan bareng hanya karena saya selalu menutup pintu mobil bagusnya terlalu keras.</p>
<p style="text-align: justify;"><em>“mobil nya baru kok pak, jadi nutup pintunya pelan aja, gak perlu di banting” </em></p>
<p style="text-align: justify;">Selalu tersenyum saya kalo mengingat kalimat teguran ini. Mobil kesangan nya yang sangat di banggakan harus dilepaskan demi meringankan beban keuangan.</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>Dan mereka bisa!!!!!!</strong></p>
<p style="text-align: justify;">Itu yang harus saya tiru, itu yang harus saya contoh. Saya harus bisa melepaskan semua beban keuangan yang saya miliki supaya keuangan saya bisa menjadi lebih longgar, sehingga saya bisa bernnafas lebih lega dan bisa mengatur lagi, memulai lagi dari awal lagi. Secara logika saja dengan meniru apa yang dilakukan oleh senior saya itu, jika beliau melepas mobilnya ke pihak ketiga artinya beban yang harus di bayarkan tiap bulan sudah pasti berkurang.</p>
<p style="text-align: justify;">Anggap saja angsuran mobil itu beban angsuran yang harus dibayar sekitar lima juta sebulannya. Nah, jika mobil tadi sudah nggak, bisa di jual atau bisa juga di kembalikan pada leasingnya, maka jika penghasilannya tetap, pasti akan ada setiap bulan duit sebesar lima juta yang tadinya harus dipake untuk mbayar angsuran, dan duit itu akan menjadi free, sebab nggak ada lagi tagihan mobil yang harus di bayar.</p>
<p style="text-align: justify;">Dengan tidak adanya posko pembayaran lagi maka uang lima juta perbulan yang di hasilkan oleh senior saya ini bisa di putar llagi dalam bisnisnya dan dengan perputaran bisnis maka uang lima juta tadi pasti akan berkembang biak menjadi profit.</p>
<p style="text-align: justify;">Yang saya bisa ceritakan sebagai keterangan dalam kisah ini bahwa bisnis senior saya ini nggak tutup, hanya drop saja kok, omsetnya melorot drastis, turun drastis, ini karena  sebelumnya senior saya ini kurang konsentrasi dalam mengelola bisnis ininya, beliau menganggap bisnis intinya itu sudah bisa ditinggal-tinggal dan tanggung jawab operasionalnya sudah bisa diserahkan pada karyawannya. Akibat optimisme nya itu beliau kemudian malahan kemudian sibuk bereksperimen dengan bisnis-bisnis yang baru alias merintis bisnis baru.</p>
<p style="text-align: justify;">Pelajaran dan pengalaman yang dilakukan oleh senior saya itu yang sedang saya coba terapkan pada diri saya di surabaya. Saya harus melepas semua beban dengan artian saya harus memulai dari awal lagi tanpa fasilitas dan tanpa gengsi yang tadinya sudah melekat erat pada saya. saya harus mulai berusaha menjadi bukan siapa-siapa lagi padahal kondisi saya sekarang sangat berbeda dari saat saya memulainya dulu.</p>
<p style="text-align: justify;">Harga diri dan gengsi saya, disini yang menjadi tantangan. Saya harus bisa menahan malu, dan harus bisa hidup tanpa fasilitas. Itu yang terberat dan memang sangat berat. Itu lebih berat dari harus kehilangan semua harta benda. Tapi itu tantangan buat saya.</p>
<p style="text-align: justify;">Yang pertama saya harus bisa meninggalkan semua beban saya, saya harus bisa menutup jalur duit keluar, saya harus bisa menahan agar duit keluar bukan lagi untuk mbayar utang tapi sebagai duit yang bisa diputar. Saya berusaha mengikhlaskan semuanya. Kalo memang harus hilang sekarang ya saya harus siap, harus bisa mempersiapkan hati dan otak saya atas semua kehilangan ini</p>
<p style="text-align: justify;"><strong><em>“yang saya maksudkan hilang dalam cerita ini artinya bisa jadi dijual murah atau diambil lagi oleh pemilknya, yang dalam cerita ini pemiliknya adalah leasing dan bank”</em></strong></p>
<p style="text-align: justify;">Jika saya bisa melakukan itu, seperti yang senior saya lakukan maka otomatis beban saya gak ada lagi, minimal akan jauh berkurang, akibatnya pikiran saya menjadi semakin tenang sehingga langkah yang akan saya ambil bisa semakin cepat dan jitu.</p>
<p style="text-align: justify;">Nah buat memenangkan otak dan hati saya maka saya selalu mengatakan pada diri saya sendiri kalo semua itu berhasil beban-beban yang hilang karena tadinya memberatkan saya toh pasti bisa kita saya ambili lagi kan satu persatu.</p>
<p style="text-align: justify;">Persis seperti ilmu balon, untuk bisa terbang kosongkan semua beban yang ada agar bisa membumbung tinggi dengan cepat dan ketika kita bisa meluncur dengan kecepatan penuh maka gunakan beban untuk menghambat kecepatan</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.samuraijagoan.com/2011/07/10/ilmu-balon/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>6</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>umat nabi yang jagoan dagang</title>
		<link>http://www.samuraijagoan.com/2011/06/08/umat-nabi-yang-jagoan-dagang/</link>
		<comments>http://www.samuraijagoan.com/2011/06/08/umat-nabi-yang-jagoan-dagang/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 08 Jun 2011 10:13:11 +0000</pubDate>
		<dc:creator>samurai</dc:creator>
				<category><![CDATA[Entrepreneurship]]></category>
		<category><![CDATA[bento]]></category>
		<category><![CDATA[bisnis]]></category>
		<category><![CDATA[bisnis joss dan kuliner mak nyuss]]></category>
		<category><![CDATA[buku]]></category>
		<category><![CDATA[Business Success]]></category>
		<category><![CDATA[bussiness]]></category>
		<category><![CDATA[entrepreneur]]></category>
		<category><![CDATA[entrepreneur bodoh]]></category>
		<category><![CDATA[entrepreneur pemberontak]]></category>
		<category><![CDATA[entrepreneur university]]></category>
		<category><![CDATA[guru]]></category>
		<category><![CDATA[harian surya]]></category>
		<category><![CDATA[invest]]></category>
		<category><![CDATA[investasi]]></category>
		<category><![CDATA[investor]]></category>
		<category><![CDATA[jagoan]]></category>
		<category><![CDATA[jangan ada dusta diantara kita]]></category>
		<category><![CDATA[jangan berpikir]]></category>
		<category><![CDATA[Jangan Berpikir Jadi Pengusaha]]></category>
		<category><![CDATA[Jangan berpikir jadi pengusaha & jangan pernah berpikir menjadi entrepreneur]]></category>
		<category><![CDATA[jangan berpikir jadi pengusaha dan jangan pernah berpikir jadi entrepreneur]]></category>
		<category><![CDATA[jawa pos]]></category>
		<category><![CDATA[kaki diatas kepala di bawah]]></category>
		<category><![CDATA[kawan]]></category>
		<category><![CDATA[kommmbis]]></category>
		<category><![CDATA[konsisten]]></category>
		<category><![CDATA[koran]]></category>
		<category><![CDATA[mastermind]]></category>
		<category><![CDATA[mastermind juara]]></category>
		<category><![CDATA[mentor]]></category>
		<category><![CDATA[menulis]]></category>
		<category><![CDATA[mm juara]]></category>
		<category><![CDATA[motivator]]></category>
		<category><![CDATA[nasi pecel]]></category>
		<category><![CDATA[news]]></category>
		<category><![CDATA[pecel]]></category>
		<category><![CDATA[pecel wenmit]]></category>
		<category><![CDATA[pemberontak]]></category>
		<category><![CDATA[pembicara]]></category>
		<category><![CDATA[provokator]]></category>
		<category><![CDATA[sahabat]]></category>
		<category><![CDATA[samurai]]></category>
		<category><![CDATA[samurai membangun pondasi bisnis tanpa pedang]]></category>
		<category><![CDATA[sec]]></category>
		<category><![CDATA[seminar]]></category>
		<category><![CDATA[surabaya entrepreneur club]]></category>
		<category><![CDATA[surat kabar]]></category>
		<category><![CDATA[surya]]></category>
		<category><![CDATA[tangan diatas]]></category>
		<category><![CDATA[tda]]></category>
		<category><![CDATA[TDA nGalam]]></category>
		<category><![CDATA[tda surabaya]]></category>
		<category><![CDATA[tersesat ke jalan yang benar]]></category>
		<category><![CDATA[tiru]]></category>
		<category><![CDATA[tulis]]></category>
		<category><![CDATA[ukm]]></category>
		<category><![CDATA[ukm jatim]]></category>
		<category><![CDATA[universitas airlangga]]></category>
		<category><![CDATA[universitas airlangga surabaya]]></category>
		<category><![CDATA[wenmit]]></category>
		<category><![CDATA[wenmit pecel]]></category>
		<category><![CDATA[wirausahawan]]></category>
		<category><![CDATA[workshop]]></category>
		<category><![CDATA[writers]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.samuraijagoan.com/?p=1869</guid>
		<description><![CDATA[Suatu malam saya menghadiri pembukaan pesantren entrepreneur di kota  magelang. Kebetulan pada saat itu pembukaan kelas pelatihan entrepreneur  untuk para santri angkatan ke empat.
Di pesantren ini, para santri yang  berminat untuk memperdalam ilmu entrepreneurship akan di karantina  selama 35 hari dimana mereka akan di gojlok agar menjadi entrepreneur  yang tahan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;">Suatu malam saya menghadiri pembukaan pesantren entrepreneur di kota  magelang. Kebetulan pada saat itu pembukaan kelas pelatihan entrepreneur  untuk para santri angkatan ke empat.</p>
<p style="text-align: justify;">Di pesantren ini, para santri yang  berminat untuk memperdalam ilmu entrepreneurship akan di karantina  selama 35 hari dimana mereka akan di gojlok agar menjadi entrepreneur  yang tahan uji setelah selesai masa pelatihannya.<span id="more-1869"></span></p>
<p style="text-align: justify;">Kebetulan  saya adalah seorang mentor yang ikut terlibat dalam menggembleng para  santri tersebut menjadi entrepreneur yang tahan banting.</p>
<p style="text-align: justify;">Ada  hal menarik yang saya ingat ketika kyai pemilik pondok pesantren itu  memberikan kata sambutannya, dan kata-kata beliau itu sangat berkesan  buat saya. Saat itu kata beliau, pondok pesantren yang beliau asuh  dikunjungi oleh tokoh marketing hermawan kertajaya. Nah pada saat  berkunjung itu pak hermawan sempat mengemukakan sebuah hal yang  menggelitik sekali.</p>
<p style="text-align: justify;">Menurut pak hermawan, nabi muhammad  yang dianut dan ditokohkan oleh orang muslim dari seluruh dunia  termasuk oleh para santri di pondok pesantren ini adalah seorang  pedangang yang terkenal sukses.</p>
<p style="text-align: justify;">Tapi pada kenyataannya, umat nabi  muhammad sedikit sekali yang mengikuti jejak nabi sebagai pedagang,   kata pak kyai pak hermawan membandingkan dengan nabi isa, nabi dari  agama yang dianutnya, nabi isa adalah keturunan tukang kayu dan  penggembala tapi pada kenyataannya umat nabi isa lebih banyak yang  menjadi pedagang.</p>
<p style="text-align: justify;">Hal ini sesuatu yang ironis sekali,  umat seorang nabi yang jagoan dagang malahan banyak yang nggak jadi  pedagang. Hal ini yang menggelitik pak kyai yang usianya masih sangat  muda untuk membuat pesantren entrepreneur sebagai bagian khusus dari  pesantren yang sudah lama di kelola oleh keluarga pak kyai tersebut.</p>
<p style="text-align: justify;">Pak  kyai juga bilang kalo sebenernya para santri sebuah pondok itu selalu  diajari pola hidup mandiri dan kerja keras selama para santri itu mondok  di pesantren. Sebenernya juga semuanya itu adalah modal dasar yang  sangat penting bagi seorang entrepreneur dalam menjalankan bisnisnya.</p>
<p style="text-align: justify;">Tapi pada kenyataannya jarang sekali santri yang berbisnis yang  dilakukan seorang santri setelah selesai menjalani masa pendidikan  biasanya kembali ke kampung halamannya lantas menjadi guru mengaji  disana sambil terus melamar dan mecari pekerjaan sebagai karyawan di  perusahaan orang lain.</p>
<p style="text-align: justify;">Menurut pak kyai yang kurangnya  para santri yang menjadi pengusaha hanyalah karena faktor keberanian  belaka sebab memang selama masa pendidikan para santri biasanya hanya  berhubungan dengan rekan sejawatnya dan para ustadznya saja. Para santri  jarang bertemu dengan pihak lain terutama dengan kaum pedadgang yang  notabene sekarang di sebut dengan istilah beken entrepreneur.</p>
<p style="text-align: justify;">Jika para  santri nya ini sering di ketemukan dengan para pedangan dan entrepreneur  maka pak kyai berharap para pedagang itu bisa menularkan pengalaman dan  keberanian mereka pada para santrinya sehingga para santrinya bisa  tertular menjadi berani dan mentalnya menjadi kuat untuk berprofesi  sebagai pedagang alias entrepreneur.</p>
<p style="text-align: justify;">Selain itu pak  kyai juga menyebutkan angka-angka yang jumlahnya tidak sedikit mengenai  jumlah semua santri di berbagai pondok pesantren yang ada di seluruh  indonesia menurut data satistik yang ada. Dengan jumlah sebesar itu saja  tentunya para santri bisa menjadi pangsa pasar yang cukup luas untuk di  jadikan konsumen oleh santri lain yang sudah berprofesi menjadi  pedagang.</p>
<p style="text-align: justify;">Minimal jika mereka berdagang di pondok pesantrennya sendiri  maka anggota pondok pesantren tersebut sudah bisa dijadikan konsumen  yang loyal. Dan barang dagangannya juga nggak usah yang terlalu mewah  atau berlebihan, paling tidak barang kebutuhan sehari-hari dari para  santri itu terpenuhi maka sudah besar perputaran uang harian di dalam  pondok, belum lagi jika ada warga disekitar pondok yang ikut menjadi  konsemennya.</p>
<p style="text-align: justify;">Pak kyai juga bilang setiap ada pejabat  pemerintah yang datang jarang sekali yang berkata seperti pak hermawan  yang menantang para santri untuk menjadi pedagang, para pejabat yang  datang malahan selalu menawarkan lowongan pekerjaan untuk para santri  untuk dijadikan buruh dan karyawan. Dengan tawaran dan janji-janji  seperti itu dari para pejabat tentunya melemahkan semangat para santri  untuk merubah hidupnya menlalui jalur pedagang dan entrepreneur.</p>
<p style="text-align: justify;">Santri  di pondok pesantren adalah pangsa pasar yang luas dan solid. Mereka  biasanya menurut apa kata kyainya, maka tentunya sangat menyenangkan  bila bisa bekerja sama dengan dunia pondok pesantren untuk berdagang  sebab disana adalah pangsa pasar yang luar biasa. Belum lagi pasra  alumni dadri podok pesantren yang biasanya juga menjadi ustadz yang  pengikutnya juga nggak sedikit.</p>
<p style="text-align: justify;">Itu yang dikatakan oleh  pak kyai muda itu kepada para hadirin yang datang di pembukaan  pesantren entrepreneur angkatan ke empat, dimana kata-kata beliau sangat  menarik sekali dan juga menantang, menggugah kesadaran saya jika ada  pangsa pasar yang dahsyat dan luar biasa besar yang ada di sekitar kita  yang belum tergarap sama sekali.</p>
<p style="text-align: justify;">Menjadi pengusaha  memang membutuhkan sebuah keberanian dan seringkali keberanian seperti  itu dipunyai oleh banyak orang. Dibutuhkan banyak tenaga untuk menjadi  mentor yang bersedia membimbing dikalangan pondok pesantren agar semakin  banyak santri yang bisa menjadi pedagang dan entrepreneur seperti nabi  muhammad saw.</p>
<p style="text-align: justify;">Yuk, yuk, yuk!!!!</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.samuraijagoan.com/2011/06/08/umat-nabi-yang-jagoan-dagang/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>ternyata sabar itu juga harus dipelajari&#8230;</title>
		<link>http://www.samuraijagoan.com/2011/05/31/ternyata-sabar-itu-juga-harus-dipelajari/</link>
		<comments>http://www.samuraijagoan.com/2011/05/31/ternyata-sabar-itu-juga-harus-dipelajari/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 31 May 2011 01:52:46 +0000</pubDate>
		<dc:creator>samurai</dc:creator>
				<category><![CDATA[Entrepreneurship]]></category>
		<category><![CDATA[bento]]></category>
		<category><![CDATA[bisnis]]></category>
		<category><![CDATA[bisnis joss dan kuliner mak nyuss]]></category>
		<category><![CDATA[buku]]></category>
		<category><![CDATA[Business Success]]></category>
		<category><![CDATA[bussiness]]></category>
		<category><![CDATA[entrepreneur]]></category>
		<category><![CDATA[entrepreneur bodoh]]></category>
		<category><![CDATA[entrepreneur pemberontak]]></category>
		<category><![CDATA[entrepreneur university]]></category>
		<category><![CDATA[guru]]></category>
		<category><![CDATA[harian surya]]></category>
		<category><![CDATA[invest]]></category>
		<category><![CDATA[investasi]]></category>
		<category><![CDATA[investor]]></category>
		<category><![CDATA[jagoan]]></category>
		<category><![CDATA[jangan ada dusta diantara kita]]></category>
		<category><![CDATA[jangan berpikir]]></category>
		<category><![CDATA[Jangan Berpikir Jadi Pengusaha]]></category>
		<category><![CDATA[Jangan berpikir jadi pengusaha & jangan pernah berpikir menjadi entrepreneur]]></category>
		<category><![CDATA[jangan berpikir jadi pengusaha dan jangan pernah berpikir jadi entrepreneur]]></category>
		<category><![CDATA[jawa pos]]></category>
		<category><![CDATA[kaki diatas kepala di bawah]]></category>
		<category><![CDATA[kawan]]></category>
		<category><![CDATA[kommmbis]]></category>
		<category><![CDATA[konsisten]]></category>
		<category><![CDATA[koran]]></category>
		<category><![CDATA[mastermind]]></category>
		<category><![CDATA[mastermind juara]]></category>
		<category><![CDATA[mentor]]></category>
		<category><![CDATA[menulis]]></category>
		<category><![CDATA[mm juara]]></category>
		<category><![CDATA[motivator]]></category>
		<category><![CDATA[nasi pecel]]></category>
		<category><![CDATA[news]]></category>
		<category><![CDATA[pecel]]></category>
		<category><![CDATA[pecel wenmit]]></category>
		<category><![CDATA[pemberontak]]></category>
		<category><![CDATA[pembicara]]></category>
		<category><![CDATA[provokator]]></category>
		<category><![CDATA[sahabat]]></category>
		<category><![CDATA[samurai]]></category>
		<category><![CDATA[samurai membangun pondasi bisnis tanpa pedang]]></category>
		<category><![CDATA[sec]]></category>
		<category><![CDATA[seminar]]></category>
		<category><![CDATA[surabaya entrepreneur club]]></category>
		<category><![CDATA[surat kabar]]></category>
		<category><![CDATA[surya]]></category>
		<category><![CDATA[tangan diatas]]></category>
		<category><![CDATA[tda]]></category>
		<category><![CDATA[TDA nGalam]]></category>
		<category><![CDATA[tda surabaya]]></category>
		<category><![CDATA[tersesat ke jalan yang benar]]></category>
		<category><![CDATA[tiru]]></category>
		<category><![CDATA[tulis]]></category>
		<category><![CDATA[ukm]]></category>
		<category><![CDATA[ukm jatim]]></category>
		<category><![CDATA[universitas airlangga]]></category>
		<category><![CDATA[universitas airlangga surabaya]]></category>
		<category><![CDATA[wenmit]]></category>
		<category><![CDATA[wenmit pecel]]></category>
		<category><![CDATA[wirausahawan]]></category>
		<category><![CDATA[workshop]]></category>
		<category><![CDATA[writers]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.samuraijagoan.com/?p=1866</guid>
		<description><![CDATA[Hari ini terjadi hal yang menakjubkan dalam hidup saya. Seharian ini  dalam waktu yang nggak terlalu lama di tempat yang berbeda mobil saya  dua kali di tabrak dan saat itu juga saya di marahin dan di maki-maki  sama yang nabrak.
Luar biasa banget, sampe-sampe saya nggak bisa berkata-kata.
Hahaha&#8230;
Pagi  itu seperti biasa saya [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Hari ini terjadi hal yang menakjubkan dalam hidup saya. Seharian ini  dalam waktu yang nggak terlalu lama di tempat yang berbeda mobil saya  dua kali di tabrak dan saat itu juga saya di marahin dan di maki-maki  sama yang nabrak.</p>
<p>Luar biasa banget, sampe-sampe saya nggak bisa berkata-kata.</p>
<p>Hahaha&#8230;</p>
<p>Pagi  itu seperti biasa saya berangkat untuk beraktivitas di depan mesin atm  salah satu bank swasta yang nggak jauh letaknya dari rumah. Di  perempatan tempat biasanya kemacetan terjadi setelah lampu merah  berganti hijau maka semua kendaraan serentak bersamaan bergerak maju.  Mobil di samping saya berjalan rada ngawur, dia dengan seenaknya  menyerobot jalur di depan saya, sepertinya supaya mobil tersebut bisa  meluncur lebih cepat dari pada jika dia bergerak di jalurnya sendiri.</p>
<p>Dengan  menyerobot jalur saya secara tiba-tiba membuat saya yang tadinya sudah  menginjak gas dalam-dalam agar mobil saya bisa segera melaju, secara  tiba-tiba terpaksa harus menginjak rem, karena takut nabrak mobil ngawur  tadi. posisi mobil saya yang sudah melaju dan kemudian harus berhenti  karena menginjak rem secara tiba-tiba ternyata membuat mobil di belakang  saya agak nggak terkendali. Entah apa yang di lakukan oleh pengemudinya  saat itu tapi yang jelas dia terlambat menginjakkan kakinya pada pedal  rem sehingga mobil yang dikemudikannya menabrak mobil saya dari  belakang.</p>
<p>Secara reflek saya langsung turun dari mobil  dan menghampiri bagian belakang mobil saya yang ditabrak, trus langsung  melihat seberapa parah kerusakan mobil saya yang di tabrak dari belakang  itu. Berbarengan saya turun pengemudi mobil di belakang saya juga  turun, trus tanpa basa basi dia langsung menggertak saya, dia mengertak  dan menyalahkan saya dengan suara keras sebab menurut dia saya yang  bersalah sebab saya berhenti dan ngerem secara mendadak.</p>
<p>Kaget  juga saya di gertak seperti itu, saya tatap pengemudi mobil di belakang  saya itu, sambil memandang laki-laki bertubuh kekar itu saya langsung  bilang dengan suara yang keras juga, karena ributnya suara kendaraan di  sekitar kami. Saya bilang padanya mana ada mobil ditabrak dari belakang  tapi lantas yang di persalahkan adalah orang yang mobilnya berada di  depannya.</p>
<p>Orang itu jelas nggak mau kalah, dia ngotot  bilang kalo saya yang salah karena ngerem dan berhentio mendadak.  Rupanya orang itu memang menunjukkan sikap dari awal untuk main kasar  sebagai alat membela diri. Perdebatan kami terganggu karena maraknya  suara klakson kendaraan lain yang merasa terganggu sebab kami memang  berhenti di tengah jalan yang ramai. Orang itu mengajak saya pindah  untuk menyelesaikan permasalahan kami, karena mobil saya yang berada di  depan maka saya menurut dan saya menjalankan mobil untuk mencari tempat  yang lebih nyaman.</p>
<p>Saat melewati perempatan, tanpa  tanda apapun juga orang itu membelukkan mobilnya sementara saya yang  berada di depan jelas-jelas berjalan lurus. Untung saya melihat, maka  spontan saya langsung membanting setir dan berbelok mengikuti mobil yang  sudah menabrak saya dari belakang itu.  Merasa di buntuti orang yang  menabrak saya dari belakan lalu menepikan mobilnya ke pinggir dan kami  sama- sama turun.</p>
<p>Saya lantas bilang lagi pada orang itu agar  menyelesaikan perbuatannya apakan di betulkan ke bengkel atau kah  berdamai pada saat itu. Si kekar bukannya minta maap malah bilang kalo  mobilnya juga rusak setelah dia menabrak mobil saya yang ngerem  mendadak. Saya bilang aja itu kan resiko dia, wong dia yang menabrak  dari belakang.</p>
<p>Tapi saya rasakan orang ini memang nggak  pingin menyelesaikan permasalahan secara baik-baik malahan dia semakin  memancing emosi saya. akhirnya saya biang aja kalo memang nggak mau  mengganti dan merasa sama-sama rusaknya maka gimana kalo saya tabrak aja  mobilnya dari belakang supaya adil. Saya bilang lagi kalo itu terjadi  maka mobil kita berdua akan sama-sama rusak juga, mobil saya rusak di  depan dan mobil dia rusak di belakang. Kata-kata saya itu bikin amarah  orang kekar itu memuncak, dia copot kaca matanya, lalu sambil  misuh-misuh alias mengumpat dengan umpatan khas surabaya dia menantang  saya berkelahi karena dianggapnya saya ngomong seenaknya dan meremehkan  dia.</p>
<p>Karena kelihatan banget kalo memang orang itu sama  sekali nggak menunjukkan itikad untuk menyelesaikan permasalahan dengan  baik, malahan umpatannya semakin kasar dan keras sambil menantang  berkelahi akhirnya rada terpaksa juga sambil merasa sebal bukan kepalang  saya salami dia dan saya bilang sennang berkenalan dengan dia, saya  bilang semoga rejekinya semakin baik. Lalu saya tinggal dia dan saya  balik ke mobil meneruskan perjalanan saya.</p>
<p>Tadinya otak saya  terpancing juga emosi dan pinginnya sih melayani dia berantem. Walo  badanya kekar gitu kan belum tentu kalo berantem dia yang menang siapa  tau pukulan saya bisa bikin dia jatoh. Tapi otak saya yang satu lagi  bilang pada saya kalo siapapun yang menang dalam perkelahian itu pasti  saya akan tetep terkena pukulan dan pastinya akan merasakan sakit.</p>
<p>Otak  saya yang satu lagi juga bilang kalo akibat dari berantem itu, pastinya  badan saya yang kena pukul akan terasa sakit-sakit dan mobil juga belum  tentu bisa di perbaiki karena mendapat ganti rugi dari si kekar.</p>
<p>Entah  karena masih pagi atau memang ada perasaan takut dalam hati saya, atau  ada alasan yang lainnya yang saya sendiri nggak ngerti, ataukah memang  pikiran waras saya sedang bekerja dengan baik maka saya lebih memilih  untuk pergi meninggalkan tempat kejadian tersebut dan melanjutkan  perjalanan untuk segera memulai pekerjaan yang belum sempat saya mulai.</p>
<p>Setelah  pekerjaan di depan atm yang berhubungan dengan masalah transfer  men-transfer uang selesai, maka segera saya melanjutkan perjalanan lagi  untuk mencari penjual ban mobil sebab hari itu saya akan bertransaksi  jual beli ban mobil. Memang dalam rencana saya pada  hari ini ada dua  agenda pekerjaan yang harus segera saya selesaikan.</p>
<p>Ternyata  nggak mudah mencari penjual ban seperti yang saya maksud, tempat dimana  perkiraan saya akan ada orang berjualan ban ternyata sudah tidak ada  lagi. Beberapa tempat saya datang ternyata semuanya nihil, ada  kemungkinan memang sudah nggak lagi diperbolehkan berjualan disana atau  juga bisa karena saya sudah lama nggak menyusuri kota surabaya  sendirian, akibat seringnya saya bertugas keluar kota.</p>
<p>Pada  suatu tempat, disebuah pertigaan, saya tenang menjalankan mobil karena  memang jalan yang saya lalui saya lurus-lurus saja. Tapi di petigaan itu  ada sebuah city car yang mau belok dari pertigaan untuk masuk ke jalur  lurus yang sedang saya tempuh. Jalur lurus itu cukup aman karena berada  di tengah kota, cukup lebar di lalui oleh dua mobil. City car itu  membelok untuk masuk ke jalur saya, entah apa yang terjadi maka terjadi  lagi benturan antara mobil saya dan city car itu.</p>
<p>Mobil  kami bertabrakan. Saya kaget banget, kaget banget yang pertama mobil  saya di tabrak, saya merasa di tabrak karena yang kena adalah bagian  kiri samping mobil saya. dan kaget yang kedua, saya heran banget karena  dalam hari yang sama dalam jangka waktu yang ngggak begitulama mobil  saya di tabrak lagi. Yang pertama tadi saya di tabrak dari belakang dan  yang kedua ini saya di tabrak dari samping.</p>
<p>Hehehe&#8230;</p>
<p>Otomatis,  seperti biasa saya langsung meminggirkan mobil saya, begitu pun orang  yang menabrak mobil saya. Lantas seperti biasa, seperti yang biasa  dilakukan oleh orang-orang yang mobilnya di tabrak maka saya segera  turun lalu memeriksa seberapa parah kondisi mobil saya yang kena tabrak  itu.</p>
<p>Pada saat saya sedang meneliti body mobil saya  yang hancur kena tabrak itu, orang-orang yang ada di dalam city car itu  turun dan menhampiri saya. rupanya mereka adalah pasangan suami istri  yang sudah cukup berumur. Yang pertama turun dan menghampiri saya adalah  istrinya, dan tanpa saya duga kalimat pembukanya adalah menyalahkan  saya kenapa kok mobil saya menabrak mobilnya yang mau belok. Terang saja  saya melongo wong sudah jelas jalur saya berada di jalan lurus kok  bisa-bisanya saya yang disalahkan. Belum selesai hilang kaget saya maka  pengemudi mobil city car itu menghampiri saya setelah dia memeriksa  kerusakan pada mobilnya yang sudah menabrak mobil saya.</p>
<p>Si  pengemudi yang saya yakin adalah suami dari wanita yang pertama bicara  langsung menyalahkan saya itu malah langsung membentak saya sambil  marah-marah. Dia menyalahkan saya dengan kata-kata yang kasar dan nggak  enak di dengar. Tentunya saya bberusaha menjelaskan lagi posisi saya,  posisi jalan dan situasi pada saat itu, tapi rasanya penjelasan saya  nggak didengar oleh mereka sama sekali. Mereka terus saja menyerang saya  sambil ngomel-ngomel dengan suara yang keras. Suara mereka itu bikin  beberapa orang yang tadinya nongkrong disitu mendekat dan turut ambil  bicara, mungkin karena memang bukan saya yang salah dan memang  orang-orang tersebut sedang asik nongkrong persis di lokasi kejadian  jadi mereka berusaha menjelaskan kalo saya nggak salah.</p>
<p>Tapi  sepasang suami istri itu tetep ngomel dan menyalahkan saya bahkan  mengajak saya pergi untuk menyelesaikan persoalan tersebut dan  meninggalkan orang-orang yang merubung mobil kami. Sepasang suami istri  itu tetep tidak merasa bersalah, tetep nggak mau minta maap dan pergi  begitu saja dengan alasan nggak enak dirubung orang banyak. Saya pun  bergegas mengikuti mobil yang sudah nabrak saya tadi karena masih  berharap ada pertanggung jawaban dari mereka. Sebelum saya menekan gas  dan meninggalkan tempat kejadian seorang yang nongkrong-nongkrong tadi  mengetk jendela mobil saya seakan hendak mengajak saya bicara.</p>
<p>Saya  langsung buka jendela mobil lalu menyapa orang itu, dan benar saja  orang itu mengajak saua bicara, dia bilang ke saya kalo suami istri itu  jelas yang salah sudah menabrak mobil saya dan dia yakin bahwa suami  istri itu juga jelas nggak akan mau mengganti kerugian yang saya alami.  Maka orang itu menyarankan agar saya langsung pergi saja karena nanti  jika berhenti lagi dan bicara dengan suami istri itu jelas akan bikin  saya menghabiskan waktu percuma sebab mereka jelas nggak akan kasih  ganti rugi walo jelas-jelas mereka telah menabrak mobil saya. Sambil  termangu saya mengucapkan terima kasih pada orang itu lalu menjalankan  mobil menyusul suami istri itu.</p>
<p>Sebenernya saya juga  yakin kalo ucapan dari orang tadi itu rasanya benar, saya akan  buang-buang waktu bila bicara lagi dengan suami istri itu tanpa  mendapatkan hasil. Tapi entah kenapa saat saya berada di belakang city  car yang dikendarai oleh suami istri itu dan ketika mereka meminggirkan  mobil mereka saya lantas juga ikut-ikutan meminggirkan mobil lalu turun.</p>
<p>Ternyata  bener juga kata orang tadi, pasangan suami istri itu tetep ngotot malah  sekarang mengakihkan pembicaraan dengan menunjukkan kondisi mobilnya  yang penyok itu kepada saya. dari pada kepala tambah pusing di tabrak  dua kali dalam sehari dan kedua penabrak sama-sama ngotot merasa benar  dengan menyalahkan saya, mending langsung saya jabat tangan mereka  sambil mengucapkan terima kasih dan segera naik ke mobil saya trus  langsung cabut dari tempat kejadian itu.</p>
<p>Walo gimanapun  tetep aja jengkel banget dengan kejadian tadi itu, walopun mobil saya  dilindungi oleh asuransi tetep aja dua kejadian itu menggangu pikiran  saya, kenapa ya kok bisa terjadi seperti itu dan kenapa pula kedua orang  yang nabrak saya itu langsung beerlagak jagoan dengan menyerang saya  sebelum saya sempat berkata apa-apa. Pikir punya pikir seharusnya saya  tadi itu bertindak seperti mereka, langsung aja menyerang pihak lawan  dan langsung ngotot serta nggak mau kalah mestinya saya menang. Tapi  otak satunya malah nggak mendukung pola pikir otak saya yang lain.</p>
<p>Terjadi  perdebatan pada otak saya, dan itu malah bikin semua memori saya  terbongkar tentang kejadian-kejadian lama yang sudah lewat. Dulu kalo  mobil saya menabrak dan di tabrak, biasanya saya begitu turun mobil  langsung marah-marah nggak karuan bahkan mengumpat dengan kata-kata  kasar kepada orang yang mobilnya saya tabrak atau orang yang mobilnya  nabrak saya.</p>
<p>Rasanya puas sekali jika saya bisa  marah-marah duluan sebelum orang-orang itu sempat berkata apa-apa pada  saya, apalagi kalo keliatan lawan saya itu tampak lemah dan nggak  berdaya, maka kata-kata dan ‘pisuhan’ saya bisa menjadi lebih keras dan  makin merembet kemana-mana. Yang penting saya bisa melampiaskan emosi  saya pada orang itu walopun orang yang menjadi lawan tabrakan saya nggak  memberikan apapapun, baik itu berupa uang ataupun bertanggung jawab  dengan membetulkan mobil saya yang penyok ke bengkel. Setelah  mengucapkan kata-kata keras dan kasar dan sudah memaki-maki maka dalam  hati saya rasanya puas banget deh karena sudah berhasil melampiaskan  semua emosi saya pada orang yang saya anggap bersalah.</p>
<p>Apakah ini seperti karma buat saya?</p>
<p>Saya  beneran merasa bahwa kejadian yang saya alami hari ini tadi itu,  bener-bener ditujukan pada saya, rasanya agar bisa saya jadikan  pelajaran berharga bahwa dimaki-maki dan diomelin sama orang lain itu  bener-bener nggak ada enaknya, apalagi jika hal tersebut terjadi pada  saat saya merasa benar dan nggak berbuat sebuah kesalahan pun.</p>
<p>Saya  merasa kalo ini beneran karma buat saya, ini diberikan pada saya supaya  saya bisa merubah kelakuan buruk saya selama ini yang emosional,  gampang marah, memaki-maki orang dengan alasan yang gak begitu jelas,  apalagi jika orang yang saya maki itu dalam keadaaan nggak berdaya maka  saya bisa lebih menjadi-jadi lagi.</p>
<p>Saat menghadapi  kejadian nggak enak hari ini, dua kali mobil saya di tabrak dan dua kali  pula saya di maki-maki sama yang nabrak, untungnya terjadi pada saat  emosi saya sedang turun. Jadinya rasanya saya blas nggak pingin  ngamuk-ngamuk dan marah-marah untuk mengimbangi mereka, karena memang  pada saat itu saya anggap nggak ada gunanya sama sekali.</p>
<p>Malahan  dengan kejadian yang saya alami tadi bikin saya menjadi kepikiran dan  membuat saya mulai sadar kalo jadi seseorang yang emosional itu lebih  banyak ruginya daripada untungnya. Jika saya ladeni mereka itu dengan  emosi dan amarah yang sama mungkin sekali semua agenda pekerjaan saya  yang harus saya kerjakan dan selesaikan pada hari ini bisa menjadi  berantakan atau malahan nggak terselesaikan sama sekali.</p>
<p>Posisi  saya sekarang sebagai seorang entrepreneur yang sedang menghadapi  banyak tantangaan berat untuk lebih meningkatkan taraf hidup dan diri  saya dalam kehidupan ini, memang lebih membutuhkan kesabaran dan  ketabahan di bandingkan dengan emosional semata.</p>
<p><strong><em>“Saya harus belajar sabar dan belajar arti sebuah kesadaran dari orang-orang yang telah memaki saya”</em></strong></p>
<p><strong><em> </em></strong></p>
<p><strong><em> </em></strong></p>
<p>Antara  mangkel dan sadar, tapi tetep aja lebih banyak mangkel dan jengkelnya,  akhirnya saya terima kejadian hari ini sebagai teguran dan pelajaran  yang berharga banget buat saya. Semua kejadian pasti sudah diatur dan  jika ditelaah dengan baik pasti ada pelajaran yang bisa kita petik,  begitu kata para ustadz dan para motivator setiap kali saya butuh  suntikan semangat pada mereka.</p>
<p>Teguran untuk bisa  merubah diri agar menjadi lebih baik itu bisa datang kapan saja, dimana  saja dan biasanya selalu diberikan pada saat kita dalam kondisi yang  sedang nggak siap menerimanya.</p>
<p>Sangat beruntunglah  orang-orang yang selalu mendapatkan ‘teguran’ secara baik dan sopan,  kali ini saya mendapat teguran dengan cara yang berbeda, saya mendapat  teguran keras dengan cara yang juga keras dan sama sekali nggak  meng-enak-kan buat saya. tibul lagi pikiran dalam otak saya kalo ini  mungkin disebabkan karena saya sudah terlalu banyak punya kesalahan,  sehingga seperti inilah teguran dengan cara seperti yang harus saya  alami pada hari ini dan pelajaran yang nggak menyenangkan itulah yang  harus saya terima.</p>
<p>Waspadalah&#8230;.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.samuraijagoan.com/2011/05/31/ternyata-sabar-itu-juga-harus-dipelajari/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>3</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

