Menurunnya Rasa Percaya Diri

posted in: Sumber Daya | 6

Menurunnya Rasa Percaya Diri seperti biasa dan itu sudah lumrah bahwa kondisi terpuruk akan bikin kepercayaan diri seseorang melorot drastis bisa sampai ketitik nol. itu juga yang berlaku buat saya. saya juga megalami hal yang sama, keragu-raguan muncul dan merasa gak percaya diri saat menerima undangan untuk mengisi suatu acara bedah buku saya.

saya merasa gak pantas menjadi pembicara di sana karena sekarang kondisi bisnis saya sedang gak prima. trus saya bilang ke istri saya dan meminta saran padanya tentang apa yang saya pikirkan ini, sambil bertanya pula apakah saya harus bilang ke panitia kalo saya berhalangan untuk mengisi acara itu.

istri saya dengan nada agak tinggi menyatakan tidak setuju dengan sikap saya ini, dia bilang pada saya kalo memang sudah tugas saya untuk bercerita dan memberi pengetahuan pada orang lain tentang pengalaman saya sebagai entrepreneur. dia bilang lagi yang dibutuhkan orang yang akan hadir disana adalah pengalama saya selama ini dan sudah terbukti bahwa selama sekitar lima tahun saya memang menempuh jalur entrepreneur sebagai sumber kehidupan, itu yang harus saya bagi kepada yang hadir nanti.

istri saya melanjutkan pidatonya, kalau sekarang kondisi bisnis saya memang sedang tidak prima toh itu juga merupakan bagian dari kegiatan bisnis yang harus dihadapi oleh seorang entrepreneur. dia bilang, apa yang saya dapat saat mengikuti pelatihan entrepreneur dulu adalah ilmu untuk memulai bisnis sedangkan setelah memulai bisnis saya tidak mengikuti pelatihan lanjutan yang membahas tentang bagaimana cara mempertahankan bisnis dan meningkatkan bisnis – karena memang lembaga yang bikin pelatihan dasar entrepreneur yang saya ikuti itu tidak bikin pelatihan lanjutan – jadi itu bukan salah saya karena dalam mempertahankan bisnis saya belajar secara otodidak dan tidak ada mentor yang membimbing seperti pada saat saya memulai bisnis dulu.menurunnya rasa percaya diri

jadi wajar saja kalo saya melakukan kesalahan – bahkan kesalahan besar yang saya buat pun masih ditoleransi karena memang tidak ada petunjuk baku dan tidak ada pembimbing yang mengarahkan saya.

jika ada pelatihan lanjutan mungkin saya tidak akan melakukan kesalahan yang parah seperti sekarang, gitu kata istri saya. lagian sampai sekarangpun hampir tidak ada pelatihan entrepreneur lanjutan, kalaupun ada pasti biayanya sangat tinggi – memang sih harga tinggi cocok dengan ilmu yang diajarkan tapi apa itu akan terjangkau oleh semua kalangan, termasuk saya, istri saya melanjutkan kata-katanya masih dengan nada tinggi.

jadi apapun yang saya alami sekarang justru harus bikin saya bertambah percaya diri dan bersemangat untuk terus menjadi provokator entrepreneur tujuannya supaya jangan ada yang melakukan kesalahan seperti yang ssaya lakukan, kali ini istri saya mengatakan dengan nada penuh kelembutan.

tugas adalah kewajiban yang harus dilakukan oleh seseorang, dan orang yang menerima tugas itu tidak boleh menolak apapun yangsedang dialaminya  atau apapun sedang terjadi pada dirinya, istri saya masih terus memberikan semangat pada saya supaya rasa percaya diri saya tumbuh kembali.

kemudian istri saya memberikan contoh apa yang pernah dialami dan dikatakan pada istri saya oleh mantan dekannya almarhum.

saat itu beliau adalah seorang lulusan akademi militer dengan prestasi akademi yang prima tapi tidak pernah punya pengalaman tempur sama sekali, dan tugas pertama beliau adalah menjadi mentor yang bertugas  memberikan pembekalan untuk sebuah pasukan tempur dan materi yang disampaikan adalah tentang teori pertempuran darat.

ini sangat luar biasa karena pembekalan itu diberikan pada sebuah pasukan tempur maka peserta yang beliau ajarkan merupakan anggota militer aktive yang sudah beberapa kali mengalami pertempuran darat sungguhan di berbagai medan perang di indonesia dan kali ini disiapkan untuk dikirim ke luar negri sebagai anggota pasukan garuda.

tugas adalah tugas yang harus dikerjakan dengan sempurna, apalagi di kalangan militer tidak ada alasan apapun untuk menolaknya. jadi dengan deg-deg-an dan berkeringat dingin beliau masuk kelas dan menerangkan semua teori yang beliau dapat semasa sekolah dan dari modul yang ada. semua masih berjalan sesuai yang beliau harapkan sampai pada sesi pertanyaan dan ada perserta pelatihan yang bertanya tentang suatu kasus di medan pertempuran.

jelas beliau gak bakalan bisa menjawab pertanyaan seperti itu karena beliau belum pernah mengalaminya dan tidak ada modul yang membahasnya. tapi beliau tetap berusaha untuk menjawab pertanyaan itu dan melemparkan pada si penanya atau peserta yang lain apa yang akan mereka lakukan jika kondisi seperti itu terjadi.menurunnya rasa percaya diri

diluar dugaan para peserta dengan antusias bercerita dengan versinya masing-masing, rupanya para peserta punya rasa bangga saat bercerita apalagi pengalaman yang mereka ceritakan didengarkan dengan sungguh-sungguh oleh rekan-rekan si pelatihan dan di catat oleh si pelatih.

selesai peserta menjawab beliau berkata pada para peserta pelatihan bahwa apa yang mereka ceritakan itulah yang seharusnya dilakukan pada medan pertempuran yang sesungguhnya karena setiap medan perang kondisinya pasti berbeda-beda. kesimpulan beliau diterima oleh peserta dengan rasa puas dan loloslah beliau dari pertanyaan yang menjebak itu.

jadi kata istri saya lagi,  seseorang itu akan menerima tugas sesuai dengan bidangnya masing-masing dan harus dikerjakan serta dilaksanakan dengan benar karena memang dia harus melakukan hal tersebut, tanpa harus sok pintar dan sok hebat, karena toh pengalaman yang dialami oleh tiap orang itu berbeda-beda tidak peduli apakah dia itu mentor atau pelatih ataukah dia itu peserta pelatihan. karena pada prinsipnya suatu ilmu itu baru benar jika saling melengkapi.

saya manggut-manggut dan perlahan saya mulai percaya diri lagi untuk menghadapi tantangan kehidupan yang memang harus saya hadapi.

makasih yudiana……..

Leave a Reply