yang tersisa dari Cerita Ramadhan

posted in: Entrepreneurship | 0

Jadi inget waktu bulan puasa tahun lalu. Situasinya sama dengan bulan puasa tahun ini cuman kondisinya yang bikin berbeda.

Bukan bermaksud mengingat-ingat masa lalu, sebab berdasarkan petuah para orang bijak masa lalu itu sudah lewat dan gak bisa terulang jadinya gak perlu diingat-ingat lagi. Cuman kejadiannya masih anget terasa dan begitu berbeda ramdhan tahun lalu dengan ramadhan tahun ini rasanya.

Ramadhan tahun lalu diawali dengan pindahnya saya dan keluarga kerumah baru yang lebih besar dari rumah kami yang lama.

Yang membuat berbeda adalah kalo sebelum pindah kami tinggal dirumah milik sendiri tapi sekarang kami tinggal di sebuah rumah kontrakan, walopun rumahnya memang lebih gede dari rumah kami sebelumnya.

Yang membuat berbeda adalah karena kami harus pindah dan menempati rumah kontrakan yang lebih gede ini disebabkan karena rumah kami yang lama sudadh laku di beli orang di balai lelang . Iya di balai lelang, rumah kami itu harus terjual disana sebab kami memang gagal dalam memenuhi kewajiban kami pada sebuah bank milik pemerintah.

Yang membuat berbeda adalah kami haruis pindah dalam kondisi hampir-hampir gak punya uang lagi, banyak hal penyebabnya, tapi yang terutama karena saat itu awal bulan dan sudah hampir satu bulan orderan lagi sepi-sepinya. Seperti biasa saat bulan ramadhan memang selalu begitu setiap tahunnya.

Yang membuat berbeda, saat sedang gak punya uang hampir sama sekali, kebutuhan yang harus dikeluarkan begitu besarnya, seperti ongkos pindahan, biaya renovasi selain biaya kebutuhan bulanan yang rutin. Hehehe …

Situasi yang seru ini pastinya mempengaruhi mental kami sekeluarga, banyak hal baru yang harus kami hadapi apalagi kami pindah bukan sebagai pemenang melainkan kami pindah sebagai orang yang gagal (begitu pandangan dan pendapat banyak orang) kalo dalam keluarga sendiri saya dan istri menghadapi kondisi harus bisa menjelaskan kepindahan kami ini pada si mcllyn, anak sulung kami.

Walopun rumah yang kami sekarang jauh lebih gede segala-galanya dari rumah kami yang lama, tapi anak-anak kami terutama mcllyn tau persis kenapa kami harus pindah. Jadi PR kami adalah harus bisa bikin anak-anak tetep yakin bahwa pindah itu adalah hal terbaik yang harus dilakukannya.

Jadi selama bulan puasa tahun lalu itu kami harus menyiapkan segala-galanya dalam kondisi hampir nol, memulai sesuatu yang baru di tempat yang baru dan belom tau mesti berbuat apa untuk melakukan sesuatu agar bisa bangkit lagi.

Nah dalam situasi seperti itu, kira-kira dua minggu sebelum hari raya, saat kami masih berkonsentrasi untuk mencari dana buat bekal mudik ke solo, tiba-tiba saya dapat telepon dari istri, kalo dia dan si barej anak bungsu kami sedang di kepung oleh debt collector dari pihak mobil, hehehe kami memang menunggak pembayaran mobil hampir 4 bulan, walopun diawal bulan ramadhan kami sudah melakukan pembayaran sebesar 1x angsuran. Trus singkat cerita mobil kami lantas diambil oleh gerombolan debt collector tersebut, dengan sebuah trik jitu mereka yang seolah-olah mengajak kami menghadap ke kantor leasing.

Seru banget kan, dalam kondisi gak punya duit buat mudik, dalam kondisi kehabisan duit sehabis pindahan, dalam kondisi sepi orderan dan dalam kondisi siap-siap mudik lebaran kami harus kehilangan mobil kami, sarana transportasi paling penting yang akan kami pake buat mudik. Dengan kehilangan mobil itu maka kebutuhan duit menjadi doublem 2x lipat dari sebelomnya, hehhehe…

Selain kami harus nyari duit buat bekal mudik kami juga harus nyari tambahan duit buat ongkos pulang kampung.

Seru banget kan…

Mengenai situasi keuangan kami di bulan ramadhan tahun lalu itu ada yang perlu diceritakan juga. Dalam situasi keuangan yang hampir nol itu, kira-kira baru 7 hari menikmati puasa kami harus melunasi pembayaran uang sewa rumah selama satu sebesar 16,5 juta padahal uang yang harus kami bayarkan seharusnya 17,5 juta di kali 2 tahun karena minimal ngontrak harus 2 tahun. Tapi berkat keajaiban dan kenekatan bertransaksi kami dapat jeda pembayaran tersebut sekitar empat bulan, jadi total biaya sewa sebesar 35 juta bisa kami bayar dalam dua tahapan dan hanya memberikan persekot tanda jadi 1 juta rupiah saja.

Dengan pembayaran termin pertama ongkos sewa rumah maka kondisi keuangan semakin hancur, padahal uang sebesar 16,5 juta rupiah itu pun baru kami dapatkan pada hari H-1 lho hehehe…

Trus kira-kira seminggu kemudian saat rasa lega belum hilasng karena target pembayaran sewa tercapai tapi masih panik dengan keuangan buat mudik yang belum ada maka dengan tidak terduga kendaraan yang kami punya yang tadinya akan membantu kami mudik harus dikembalikan ke leasing dengan semena-mena pula, dalam kondisi tidak terduga, padahal kami sudah bersiap-siap lho menghadapi saat buruk jika mobil diambil. Tapi kami bener-bener nggak pernah menduga jika harus mengalami situasi terburuk dimana mobil kami harus diambil debt collector disaat kami bener-bener membutuhkannya.

Jadi tahun lalu itu saat lebaran tiba, kami sekeluarga, saya, ibunya anak-anak, mcllyn dan barej harus pulang mudik dalam kondisi gak punya uang dan dengan menggunakam mobil sewaan dari rental. Berangkat mudik ke rumah ibu dari rumah kontrakan disurabaya dan kembali dari mudik dengan mobil sewaan ke rumah kontrakan.

Sempurna banget situasinya kan…

Dalam hari-hari terakhir sebelum mudik, saat rental mobil sedang sulit-sulitnya ternyata ada seorang kawan istri yang merelakan uangnya untuk kami pakai sebagai bekal menyewa mobil di rental. Dalam hari-hari terakhir saat rental mobil sedang sulit-sulitnya ternyata masih ada sebuah rental yang punya mobil sewaan persis seperti mobil kami yang diambil oleh debt collector, dan hebatnya perusahaan rental itu menyewakan dengan harga miring, lumayan sangat miring jika dibantingkan dengan harga sewa mobil sejenis ditempat lain jikapun masih ada.

Alhamdulillah, …

Akhirnya kami bisa mudik dengan mobil seperti yang kami miliki dulu dan bahkan masih dapat menikmati selisih harga sewa mobil tersebut sebagai bekal perjalanan mudik dan sekedar buat membagikan THR pada keponakan-keponakan. Seru banget kan pengalaman kami pada ramadhan tahun lalu, tertolong pada detik-detik terakhir…

Itu pengalaman di bulan puasa tahun lalu, jika dingat-ingat saya dan istri hanya bisa tersenyum bahkan tertawa ngakak, kok bisa ya kami mengalami situasi semacam itu, dan pasrah tanpa harus tau mesti berbuat apa, kecuali kembali memohon pada Allah. Sakit dan nyerinya saat itu setelah terlewati selama satu tahun ternyata bila diingat-ingat bisa membuat kami berdua tersenyum dan tertawa ngakak.

Keajaiban dari Allah memang luar biasa, buat umatnya yang percaya…

Ramadhan tahun lalu jika dibandingkan dengan ramadhan pada tahun ini, situasinya sangat berbeda jauh. Bulan ramadhan pada tahun ini punya arti tersendiri bagi kami. Sebab sekarang pada bulan yang sama dengan tahun lalu, secara nggak terasa, sudah resmi satu tahun kami berhasil full ber-adaptasi dengan rumah baru, lingkungan baru dan suasana baru. Walopun tetep sama-sama sepi orderan, tapi tetep aja kami merasa jauh lebih nyaman dan lebih tenang dalam menikmatinya di bandingkan saat kami menikmati bulan ramadhan pada tahun yang lalu.

Satu tahun berlalu, dari ramadhan ke ramadhan. Dari situ saja, dalam perjalanan satu tahun ramadhan, banyak sudah yang sudah kami hasilkan. Banyak pelajaran yang kami dapatkan disamping banyak kemajuan di sektor ekonomi yang berhasil kami raih.

Alhamdulillah…

Ini ceritaku tentang ramadhan, bagaimana ceritamu?