Yang Gaul Donk

Saat saya kuliah dulu teman-teman satu kos saya adalah para jomblo yang gak punya pacar, bisanya hanya mengagumi cewek dari jauh dan gak pernah berani kenalan atau pendekatan ke cewek-cewek. Teman bermain saya saat kuliah pun golongan pria-pria seperti itu. Akibatnya selama kuliah yang memakan waktu enam tahun itu saya hanya satu kali berpacaran dan waktunyapun hanya tiga bulan, itupun terjadi setahun sebelum saya lulus.

Kok bisa begitu, kenapa?

Kira-kira jawabannya karena lingkungan di sekitar saya adalah kaum joblowan sehingga itu mempengaruhi pola kehidupan dan perilaku saya. Kemudian setahun terakhir saya pindah kos, dan ditempat kos saya yang baru adaa dua teman satu kos saya mempunyai pacar-pacar yang cantik, sehingga berpengaruh pada saya untuk mulai melakukan pendekatan ke cewek dan sayapun berhasil berpacaran walaupun hanya tiga bulan lamanya.

Sungguh memalukan!

Saat tahun-tahun awal saya berbisnis dulu, saya sama sekali tidak punya teman entrepreneur. Kawan saya sehari-hari hanyalah karyawan saya dan kawan saya di luar bisnis hanyalah orang-orang yang bingung nyari kerjaan atau orang-orang yang sedang berbangga hati karena mereka baru saja keterima kerja. Jadinya kalo kita ngobrol-ngobrol gak nyambung. Saat mereka mengeluh tentang beratnya kerjaan mereka dan sedikitnya gaji yang diterima atau ngomongin dan ngejelek-jelekin bosnya, saya malah ngomongin tentang omset dan mengeluh tentang sulitnya ngrusin sdm.

Gak nyambung sama sekali, dan itu berakibat saya hidup sebagai entrepreneur sendirian. Saya selalu ragu atas pilihan saya sebagai entrepreneur dan akhirnya berakibat fatal, bisnis pertama saya gagal total dan membuat kerugian sampai ratusan juta.

Lulus kuliah saya pergi ke Jakarta, mencari kerjaan disana dan keterima sebagai karyawan di salah satu bank asing ternama.

Bangga donk.

Kerja pakai baju lengan panjang, memakai belalai di leher, memakai keplek yang menempel di saku baju, pokoknya rapi jail. Bekerja di ruang ber-ac di lantai duapuluh dua di gedung pencakar langit di jalan sudirman Jakarta.

Teman sekantor saya juga juga keren daan rapi-rapi. Teman-teman cowok saya rata-rata punya banyak relasi cewek dan mereka bergaul akrab satu sama lainnya. Walaupun mereka tidak selalu berpacaran, tapi hubungan pertemanan antara cewek dan cowok di tempat kerja saya ini akrab sekali. Tidak hanya antar rekan kerja tapi juga dengan teman-teman lain di luar kantor kita. Pengaruh lingkungan ini terasa banget buat saya, selama kerja kantoran saya jadinya punya banyak teman, lebih banyak teman cewek dari pada teman cowoknya karena pada dasarnya saya suka sekali bergaul sama cewek-cewek terutama sama cewek cakep.

Yang tadinya saya gak berani berkawan dengan cewek sekarang jadi berani, saya juga lebih mudah melakukan pendekatan ke cewek-cewek itu. Kalopun saya mengalami kesulitan saya bisa dengan mudah minta saran dan bantuan ke teman-teman yang ada. Mereka semua support saya, sehingga jika saya gak punya teman cewek baru, saya bisa minta dikenalin sama mereka ke teman-teman ceweknya yang beda kantor atau yang masih kuliah.

Akibatnya cukup fatal buat saya. Kayaknya ini seperti balas dendam buat saya, dulu saat kuliah susahnya setengah mati nyari teman cewek apalagi nyari pacar, lha sekarang saat kerja kayaknya gampang banget nyari pacar apalagi berteman. Sampai-sampai saat itu saya bisa berpacaran dengan lebih dari dua cewek sekaligus. Sehingga perlu bantuan agenda buat ngatur waktunya dan buat mengingatkan tentang apa saja yang sudah saya katakana dan saya lakukan supaya tidak berulang pada cewek yang sama tapi masih valid berlaku pada cewek yang lain.

Setelah kegagalan di bisnis pertama, saya hampir saja kembali menjadi karyawan. Tapi disaat terakhir tidak jadi karena ketemu sebuah pelatihan entrepreneur. Dalam pelatihan itu saya bertemu dengan banyak kawan baru yang mempunyai kesamaan keinginan. Kami di pelatihan ini sebagian besar sedang merintis bisnis atau sedang mencari cari bisnis untuk memulai merintis usaha baru.

Karena adanya kesamaan nasib dan keinginan ini saya dan teman-teman se-pelatihan bahkan dengan alumni pelatihan itu jadinya sering kumpul-kumpul bareng. Bercerita tentang bisnis, kesulitan apa yang dihadapi, bisnis apa yang layak dijalankan, saling membantu mencari solusi bila ada yang menghadapi masalah, saling memotivasi satu sama lainnya bila ada yang putus asa. Yang bisnisnya sudah jalan memberi contoh dan memberikan saran-saran pada yang baru mulai atau yang masih nyari-nyari bisnis.

Karena hampir tiap hari ketemu, ngobrolin bisnis atau peluang usaha, akhirnya dalam benak saya nyantol kuat niatan buat merintis usaha baru. Sudah tidak kepikiran lagi buat ngelamar pekerjaan di kantoran. Mulai deh saya nyoba ngejalanin bisnis baru. Dari jualan baju, bikin rental mobil, mencoba investasi di bisnis agro yang akhirnya duit raib dibawa kabur si pengelolanya, bahkan nyoba beli rumah dengan cara nyicil lewat kredit bank. Saya coba semua trik dan peluang usaha yang menarik hati saya. Banyak yang gagal bahkan ketipu, tapi semua itu gak bikin saya putus asa. Soalnya teman-teman saya terus memotivasi, ngomporin dan membangkitkan semangat saya.

Pelan-pelan karena selalu bergaul dikalangan entrepreneur, jiwa bisnis saya semakin terasah. Saya bertemu dengan orang yang ngajakin dan ngajarin saya buka toko pertama juga akibat saya rajin bergaul dengan teman sesama entrepreneur. Saya belajar banyak dari dia, bahkan setelah dia gak berpartner lagi dengan saya dan kembali ke dunianya sebagai guru.

Dari pengalaman buka toko pertama dan karena dikomporin oleh teman-teman entrepreneur yang lain, akhirnya saya mulai membuka toko saya yang kedua, yang ketiga sampai pada toko saya yang ke empat.

Pengalaman bergaul positif bikin saya ketagihan, saat saya bergaul dengan komunitas gaul di tempat kerja, saya akhirnya jadi tidak kesulitan saat nyari pacar. Padahal dulu saat kuliah karena bergaul dengan para jomblo yang kuper saya jadi ikutan jomblo dan kuper juga.

Saat saya berbisnis sendirian tanpa kawan dan komunitas entrepreneur, kegagalan yang saya peroleh. Kemudian saat saya menemukan kawan-kawan dari dunia entrepreneur saya jadi lebih mudah mencari dan memulai bisnis walaupun rintangan dan hambatan masih tetap menghadang, tapi itu semua gak bikin saya putus asa. saya tetap bersemangat mulai dari saya ngerintis sampai berkembang pesat seperti sekarang ini.

Semua itu berkat saya bergaul dengan lingkungan dan komunitas yang tepat dan positif mendukung saya.

Leave a Reply