umat nabi yang jagoan dagang

posted in: Entrepreneurship | 2

Suatu malam saya menghadiri pembukaan pesantren entrepreneur di kota magelang. Kebetulan pada saat itu pembukaan kelas pelatihan entrepreneur untuk para santri angkatan ke empat.

Di pesantren ini, para santri yang berminat untuk memperdalam ilmu entrepreneurship akan di karantina selama 35 hari dimana mereka akan di gojlok agar menjadi entrepreneur yang tahan uji setelah selesai masa pelatihannya.

Kebetulan saya adalah seorang mentor yang ikut terlibat dalam menggembleng para santri tersebut menjadi entrepreneur yang tahan banting.

Ada hal menarik yang saya ingat ketika kyai pemilik pondok pesantren itu memberikan kata sambutannya, dan kata-kata beliau itu sangat berkesan buat saya. Saat itu kata beliau, pondok pesantren yang beliau asuh dikunjungi oleh tokoh marketing hermawan kertajaya. Nah pada saat berkunjung itu pak hermawan sempat mengemukakan sebuah hal yang menggelitik sekali.

Menurut pak hermawan, nabi muhammad yang dianut dan ditokohkan oleh orang muslim dari seluruh dunia termasuk oleh para santri di pondok pesantren ini adalah seorang pedangang yang terkenal sukses.

Tapi pada kenyataannya, umat nabi muhammad sedikit sekali yang mengikuti jejak nabi sebagai pedagang,  kata pak kyai pak hermawan membandingkan dengan nabi isa, nabi dari agama yang dianutnya, nabi isa adalah keturunan tukang kayu dan penggembala tapi pada kenyataannya umat nabi isa lebih banyak yang menjadi pedagang.

Hal ini sesuatu yang ironis sekali, umat seorang nabi yang jagoan dagang malahan banyak yang nggak jadi pedagang. Hal ini yang menggelitik pak kyai yang usianya masih sangat muda untuk membuat pesantren entrepreneur sebagai bagian khusus dari pesantren yang sudah lama di kelola oleh keluarga pak kyai tersebut.

Pak kyai juga bilang kalo sebenernya para santri sebuah pondok itu selalu diajari pola hidup mandiri dan kerja keras selama para santri itu mondok di pesantren. Sebenernya juga semuanya itu adalah modal dasar yang sangat penting bagi seorang entrepreneur dalam menjalankan bisnisnya.

Tapi pada kenyataannya jarang sekali santri yang berbisnis yang dilakukan seorang santri setelah selesai menjalani masa pendidikan biasanya kembali ke kampung halamannya lantas menjadi guru mengaji disana sambil terus melamar dan mecari pekerjaan sebagai karyawan di perusahaan orang lain.

Menurut pak kyai yang kurangnya para santri yang menjadi pengusaha hanyalah karena faktor keberanian belaka sebab memang selama masa pendidikan para santri biasanya hanya berhubungan dengan rekan sejawatnya dan para ustadznya saja. Para santri jarang bertemu dengan pihak lain terutama dengan kaum pedadgang yang notabene sekarang di sebut dengan istilah beken entrepreneur.

Jika para santri nya ini sering di ketemukan dengan para pedangan dan entrepreneur maka pak kyai berharap para pedagang itu bisa menularkan pengalaman dan keberanian mereka pada para santrinya sehingga para santrinya bisa tertular menjadi berani dan mentalnya menjadi kuat untuk berprofesi sebagai pedagang alias entrepreneur.

Selain itu pak kyai juga menyebutkan angka-angka yang jumlahnya tidak sedikit mengenai jumlah semua santri di berbagai pondok pesantren yang ada di seluruh indonesia menurut data satistik yang ada. Dengan jumlah sebesar itu saja tentunya para santri bisa menjadi pangsa pasar yang cukup luas untuk di jadikan konsumen oleh santri lain yang sudah berprofesi menjadi pedagang.

Minimal jika mereka berdagang di pondok pesantrennya sendiri maka anggota pondok pesantren tersebut sudah bisa dijadikan konsumen yang loyal. Dan barang dagangannya juga nggak usah yang terlalu mewah atau berlebihan, paling tidak barang kebutuhan sehari-hari dari para santri itu terpenuhi maka sudah besar perputaran uang harian di dalam pondok, belum lagi jika ada warga disekitar pondok yang ikut menjadi konsemennya.

Pak kyai juga bilang setiap ada pejabat pemerintah yang datang jarang sekali yang berkata seperti pak hermawan yang menantang para santri untuk menjadi pedagang, para pejabat yang datang malahan selalu menawarkan lowongan pekerjaan untuk para santri untuk dijadikan buruh dan karyawan. Dengan tawaran dan janji-janji seperti itu dari para pejabat tentunya melemahkan semangat para santri untuk merubah hidupnya menlalui jalur pedagang dan entrepreneur.

Santri di pondok pesantren adalah pangsa pasar yang luas dan solid. Mereka biasanya menurut apa kata kyainya, maka tentunya sangat menyenangkan bila bisa bekerja sama dengan dunia pondok pesantren untuk berdagang sebab disana adalah pangsa pasar yang luar biasa. Belum lagi pasra alumni dadri podok pesantren yang biasanya juga menjadi ustadz yang pengikutnya juga nggak sedikit.

Itu yang dikatakan oleh pak kyai muda itu kepada para hadirin yang datang di pembukaan pesantren entrepreneur angkatan ke empat, dimana kata-kata beliau sangat menarik sekali dan juga menantang, menggugah kesadaran saya jika ada pangsa pasar yang dahsyat dan luar biasa besar yang ada di sekitar kita yang belum tergarap sama sekali.

Menjadi pengusaha memang membutuhkan sebuah keberanian dan seringkali keberanian seperti itu dipunyai oleh banyak orang. Dibutuhkan banyak tenaga untuk menjadi mentor yang bersedia membimbing dikalangan pondok pesantren agar semakin banyak santri yang bisa menjadi pedagang dan entrepreneur seperti nabi muhammad saw.

Yuk, yuk, yuk!!!!

Leave a Reply