Tomcat sebagai Brand baru

posted in: Entrepreneurship | 0

Hebohnya wabah tomcat di Surabaya akhir-akhir ini bikin saya penasaran, seperti apa sih binatan yang mampu menghebohkan media sehingga memuatnya sebagai berita hampir setiap hari.

Bukan itu saja di group BBM, juga beredar broadcast berita tentang serangga itu dengan foto-foto mengerikan dari korban yang terkena sengatannya. Hebat sekali pikir saya, dalam sekejab bikin heboh masyarakat.

Saya tonton berita di tv biar saya bisa liat wujud sebenarnya dari serangga tomcat itu, karena kalo hanya liat di foto2 yang beredar di BBM atau internet saya gak gitu sreg.

Ternyata tomcat itu serangga kecil, mungkin lebih gede dikit dari semut, kalo di internet dan group BBM keliatan gede dan menyeramkan.

Masih penasaran maka saya tunjukin foto tomcat ke mbak yang mbantu-mbantu di rumah, dia itu orang desa besar di desa, saya pingin tau apakah pernah liat serangga tomcat itu.

Nggak saya sangka mbaknya bilang kalo gambar yang saya tunjukin itu dan yang sering diberitakan di tv itu dikampungnya adalah serangga penyengat biasa yang sering disebut ‘tengu’

Kata si mbak, tengu itu biasa hidup di ladang dan sawah, sengatannya lumayan berbahaya lebih sakit dari sengatan lebah dan bekasnya hilang lebih lama. Tapi mbak bilang kalo orang desa dah biasa jika disengat tengu, nggak heboh seperti sekarang.

Masih penasaran saya bawa foto itu ke mertua saya dan saya tanya hal yang sama ke beliau, beliau ketawa dan ternyata beliau juga cerita hal yang sama seperti yang diceritakan si mbak tadi.

Mertua saya bilang tengu atau yang sekarang terkenal sebagai tomcat itu banyak di desa dan biasa kalo orang desa terkena sengatannya.

Hehehehhe…
Otak saya ketawa juga mendengar cerita dari kedua orang ini.

Otak saya berkata bahwa terlepas apakah serangga ‘tengu’ itu beneran serangga ‘tomcat’ atau bukan. Tapi yang jelas, penyakit akibat sengatan yang dianggap biasa oleh orang desa, ketika dikemas oleh media bisa menjadi sesuatu yang menghebohkan.

Ketika serangga desa yang disebut sebagai tengu maka nggak ada orang yang peduli walopun media meliputnya, tapi ketika serangga yang mirip seperti tengu disebut sebagai tomcat dan serangga itu menyerang sebuah apartement maka masyarakat peduli walaupun media agak telat meliputnya.

Cerita tentang tomcat bisa bikin saya rada melek dengan ‘nama’ kalo kita kasih nama sebaiknya mesti agak hati-hati, nama dalam bisnisa sama dengan brand atau merek.

Kasus tomcat adalah bukti bahwa nama berpengaruh besar terhadap popularitas.

Produk boleh sama tapi kalo pemilihan namanya tepat, kalo pemilihannya nama brand nya tepat maka cerita dari produk itu bisa beda. Nama yang keren akan mudah mendapat liputan dari media sehingga sangat mendukung promosi dan publisitas.

Apalagi kalo kita sebagai pengusahanya bisa bikin sebuah cerita menarik tentang latar belakang produk yang kita tawarkan. Itu bisa bikin calon pembeli tertarik.

Ternyata asik juga belajar brand dan publisitas dari kasus tomcat ini…