ternyata sabar itu juga harus dipelajari…

posted in: Entrepreneurship | 3

Hari ini terjadi hal yang menakjubkan dalam hidup saya. Seharian ini dalam waktu yang nggak terlalu lama di tempat yang berbeda mobil saya dua kali di tabrak dan saat itu juga saya di marahin dan di maki-maki sama yang nabrak.

Luar biasa banget, sampe-sampe saya nggak bisa berkata-kata.

Hahaha…

Pagi itu seperti biasa saya berangkat untuk beraktivitas di depan mesin atm salah satu bank swasta yang nggak jauh letaknya dari rumah. Di perempatan tempat biasanya kemacetan terjadi setelah lampu merah berganti hijau maka semua kendaraan serentak bersamaan bergerak maju. Mobil di samping saya berjalan rada ngawur, dia dengan seenaknya menyerobot jalur di depan saya, sepertinya supaya mobil tersebut bisa meluncur lebih cepat dari pada jika dia bergerak di jalurnya sendiri.

Dengan menyerobot jalur saya secara tiba-tiba membuat saya yang tadinya sudah menginjak gas dalam-dalam agar mobil saya bisa segera melaju, secara tiba-tiba terpaksa harus menginjak rem, karena takut nabrak mobil ngawur tadi. posisi mobil saya yang sudah melaju dan kemudian harus berhenti karena menginjak rem secara tiba-tiba ternyata membuat mobil di belakang saya agak nggak terkendali. Entah apa yang di lakukan oleh pengemudinya saat itu tapi yang jelas dia terlambat menginjakkan kakinya pada pedal rem sehingga mobil yang dikemudikannya menabrak mobil saya dari belakang.

Secara reflek saya langsung turun dari mobil dan menghampiri bagian belakang mobil saya yang ditabrak, trus langsung melihat seberapa parah kerusakan mobil saya yang di tabrak dari belakang itu. Berbarengan saya turun pengemudi mobil di belakang saya juga turun, trus tanpa basa basi dia langsung menggertak saya, dia mengertak dan menyalahkan saya dengan suara keras sebab menurut dia saya yang bersalah sebab saya berhenti dan ngerem secara mendadak.

Kaget juga saya di gertak seperti itu, saya tatap pengemudi mobil di belakang saya itu, sambil memandang laki-laki bertubuh kekar itu saya langsung bilang dengan suara yang keras juga, karena ributnya suara kendaraan di sekitar kami. Saya bilang padanya mana ada mobil ditabrak dari belakang tapi lantas yang di persalahkan adalah orang yang mobilnya berada di depannya.

Orang itu jelas nggak mau kalah, dia ngotot bilang kalo saya yang salah karena ngerem dan berhentio mendadak. Rupanya orang itu memang menunjukkan sikap dari awal untuk main kasar sebagai alat membela diri. Perdebatan kami terganggu karena maraknya suara klakson kendaraan lain yang merasa terganggu sebab kami memang berhenti di tengah jalan yang ramai. Orang itu mengajak saya pindah untuk menyelesaikan permasalahan kami, karena mobil saya yang berada di depan maka saya menurut dan saya menjalankan mobil untuk mencari tempat yang lebih nyaman.

Saat melewati perempatan, tanpa tanda apapun juga orang itu membelukkan mobilnya sementara saya yang berada di depan jelas-jelas berjalan lurus. Untung saya melihat, maka spontan saya langsung membanting setir dan berbelok mengikuti mobil yang sudah menabrak saya dari belakang itu.  Merasa di buntuti orang yang menabrak saya dari belakan lalu menepikan mobilnya ke pinggir dan kami sama- sama turun.

Saya lantas bilang lagi pada orang itu agar menyelesaikan perbuatannya apakan di betulkan ke bengkel atau kah berdamai pada saat itu. Si kekar bukannya minta maap malah bilang kalo mobilnya juga rusak setelah dia menabrak mobil saya yang ngerem mendadak. Saya bilang aja itu kan resiko dia, wong dia yang menabrak dari belakang.

Tapi saya rasakan orang ini memang nggak pingin menyelesaikan permasalahan secara baik-baik malahan dia semakin memancing emosi saya. akhirnya saya biang aja kalo memang nggak mau mengganti dan merasa sama-sama rusaknya maka gimana kalo saya tabrak aja mobilnya dari belakang supaya adil. Saya bilang lagi kalo itu terjadi maka mobil kita berdua akan sama-sama rusak juga, mobil saya rusak di depan dan mobil dia rusak di belakang. Kata-kata saya itu bikin amarah orang kekar itu memuncak, dia copot kaca matanya, lalu sambil misuh-misuh alias mengumpat dengan umpatan khas surabaya dia menantang saya berkelahi karena dianggapnya saya ngomong seenaknya dan meremehkan dia.

Karena kelihatan banget kalo memang orang itu sama sekali nggak menunjukkan itikad untuk menyelesaikan permasalahan dengan baik, malahan umpatannya semakin kasar dan keras sambil menantang berkelahi akhirnya rada terpaksa juga sambil merasa sebal bukan kepalang saya salami dia dan saya bilang sennang berkenalan dengan dia, saya bilang semoga rejekinya semakin baik. Lalu saya tinggal dia dan saya balik ke mobil meneruskan perjalanan saya.

Tadinya otak saya terpancing juga emosi dan pinginnya sih melayani dia berantem. Walo badanya kekar gitu kan belum tentu kalo berantem dia yang menang siapa tau pukulan saya bisa bikin dia jatoh. Tapi otak saya yang satu lagi bilang pada saya kalo siapapun yang menang dalam perkelahian itu pasti saya akan tetep terkena pukulan dan pastinya akan merasakan sakit.

Otak saya yang satu lagi juga bilang kalo akibat dari berantem itu, pastinya badan saya yang kena pukul akan terasa sakit-sakit dan mobil juga belum tentu bisa di perbaiki karena mendapat ganti rugi dari si kekar.

Entah karena masih pagi atau memang ada perasaan takut dalam hati saya, atau ada alasan yang lainnya yang saya sendiri nggak ngerti, ataukah memang pikiran waras saya sedang bekerja dengan baik maka saya lebih memilih untuk pergi meninggalkan tempat kejadian tersebut dan melanjutkan perjalanan untuk segera memulai pekerjaan yang belum sempat saya mulai.

Setelah pekerjaan di depan atm yang berhubungan dengan masalah transfer men-transfer uang selesai, maka segera saya melanjutkan perjalanan lagi untuk mencari penjual ban mobil sebab hari itu saya akan bertransaksi jual beli ban mobil. Memang dalam rencana saya pada  hari ini ada dua agenda pekerjaan yang harus segera saya selesaikan.

Ternyata nggak mudah mencari penjual ban seperti yang saya maksud, tempat dimana perkiraan saya akan ada orang berjualan ban ternyata sudah tidak ada lagi. Beberapa tempat saya datang ternyata semuanya nihil, ada kemungkinan memang sudah nggak lagi diperbolehkan berjualan disana atau juga bisa karena saya sudah lama nggak menyusuri kota surabaya sendirian, akibat seringnya saya bertugas keluar kota.

Pada suatu tempat, disebuah pertigaan, saya tenang menjalankan mobil karena memang jalan yang saya lalui saya lurus-lurus saja. Tapi di petigaan itu ada sebuah city car yang mau belok dari pertigaan untuk masuk ke jalur lurus yang sedang saya tempuh. Jalur lurus itu cukup aman karena berada di tengah kota, cukup lebar di lalui oleh dua mobil. City car itu membelok untuk masuk ke jalur saya, entah apa yang terjadi maka terjadi lagi benturan antara mobil saya dan city car itu.

Mobil kami bertabrakan. Saya kaget banget, kaget banget yang pertama mobil saya di tabrak, saya merasa di tabrak karena yang kena adalah bagian kiri samping mobil saya. dan kaget yang kedua, saya heran banget karena dalam hari yang sama dalam jangka waktu yang ngggak begitulama mobil saya di tabrak lagi. Yang pertama tadi saya di tabrak dari belakang dan yang kedua ini saya di tabrak dari samping.

Hehehe…

Otomatis, seperti biasa saya langsung meminggirkan mobil saya, begitu pun orang yang menabrak mobil saya. Lantas seperti biasa, seperti yang biasa dilakukan oleh orang-orang yang mobilnya di tabrak maka saya segera turun lalu memeriksa seberapa parah kondisi mobil saya yang kena tabrak itu.

Pada saat saya sedang meneliti body mobil saya yang hancur kena tabrak itu, orang-orang yang ada di dalam city car itu turun dan menhampiri saya. rupanya mereka adalah pasangan suami istri yang sudah cukup berumur. Yang pertama turun dan menghampiri saya adalah istrinya, dan tanpa saya duga kalimat pembukanya adalah menyalahkan saya kenapa kok mobil saya menabrak mobilnya yang mau belok. Terang saja saya melongo wong sudah jelas jalur saya berada di jalan lurus kok bisa-bisanya saya yang disalahkan. Belum selesai hilang kaget saya maka pengemudi mobil city car itu menghampiri saya setelah dia memeriksa kerusakan pada mobilnya yang sudah menabrak mobil saya.

Si pengemudi yang saya yakin adalah suami dari wanita yang pertama bicara langsung menyalahkan saya itu malah langsung membentak saya sambil marah-marah. Dia menyalahkan saya dengan kata-kata yang kasar dan nggak enak di dengar. Tentunya saya bberusaha menjelaskan lagi posisi saya, posisi jalan dan situasi pada saat itu, tapi rasanya penjelasan saya nggak didengar oleh mereka sama sekali. Mereka terus saja menyerang saya sambil ngomel-ngomel dengan suara yang keras. Suara mereka itu bikin beberapa orang yang tadinya nongkrong disitu mendekat dan turut ambil bicara, mungkin karena memang bukan saya yang salah dan memang orang-orang tersebut sedang asik nongkrong persis di lokasi kejadian jadi mereka berusaha menjelaskan kalo saya nggak salah.

Tapi sepasang suami istri itu tetep ngomel dan menyalahkan saya bahkan mengajak saya pergi untuk menyelesaikan persoalan tersebut dan meninggalkan orang-orang yang merubung mobil kami. Sepasang suami istri itu tetep tidak merasa bersalah, tetep nggak mau minta maap dan pergi begitu saja dengan alasan nggak enak dirubung orang banyak. Saya pun bergegas mengikuti mobil yang sudah nabrak saya tadi karena masih berharap ada pertanggung jawaban dari mereka. Sebelum saya menekan gas dan meninggalkan tempat kejadian seorang yang nongkrong-nongkrong tadi mengetk jendela mobil saya seakan hendak mengajak saya bicara.

Saya langsung buka jendela mobil lalu menyapa orang itu, dan benar saja orang itu mengajak saua bicara, dia bilang ke saya kalo suami istri itu jelas yang salah sudah menabrak mobil saya dan dia yakin bahwa suami istri itu juga jelas nggak akan mau mengganti kerugian yang saya alami. Maka orang itu menyarankan agar saya langsung pergi saja karena nanti jika berhenti lagi dan bicara dengan suami istri itu jelas akan bikin saya menghabiskan waktu percuma sebab mereka jelas nggak akan kasih ganti rugi walo jelas-jelas mereka telah menabrak mobil saya. Sambil termangu saya mengucapkan terima kasih pada orang itu lalu menjalankan mobil menyusul suami istri itu.

Sebenernya saya juga yakin kalo ucapan dari orang tadi itu rasanya benar, saya akan buang-buang waktu bila bicara lagi dengan suami istri itu tanpa mendapatkan hasil. Tapi entah kenapa saat saya berada di belakang city car yang dikendarai oleh suami istri itu dan ketika mereka meminggirkan mobil mereka saya lantas juga ikut-ikutan meminggirkan mobil lalu turun.

Ternyata bener juga kata orang tadi, pasangan suami istri itu tetep ngotot malah sekarang mengakihkan pembicaraan dengan menunjukkan kondisi mobilnya yang penyok itu kepada saya. dari pada kepala tambah pusing di tabrak dua kali dalam sehari dan kedua penabrak sama-sama ngotot merasa benar dengan menyalahkan saya, mending langsung saya jabat tangan mereka sambil mengucapkan terima kasih dan segera naik ke mobil saya trus langsung cabut dari tempat kejadian itu.

Walo gimanapun tetep aja jengkel banget dengan kejadian tadi itu, walopun mobil saya dilindungi oleh asuransi tetep aja dua kejadian itu menggangu pikiran saya, kenapa ya kok bisa terjadi seperti itu dan kenapa pula kedua orang yang nabrak saya itu langsung beerlagak jagoan dengan menyerang saya sebelum saya sempat berkata apa-apa. Pikir punya pikir seharusnya saya tadi itu bertindak seperti mereka, langsung aja menyerang pihak lawan dan langsung ngotot serta nggak mau kalah mestinya saya menang. Tapi otak satunya malah nggak mendukung pola pikir otak saya yang lain.

Terjadi perdebatan pada otak saya, dan itu malah bikin semua memori saya terbongkar tentang kejadian-kejadian lama yang sudah lewat. Dulu kalo mobil saya menabrak dan di tabrak, biasanya saya begitu turun mobil langsung marah-marah nggak karuan bahkan mengumpat dengan kata-kata kasar kepada orang yang mobilnya saya tabrak atau orang yang mobilnya nabrak saya.

Rasanya puas sekali jika saya bisa marah-marah duluan sebelum orang-orang itu sempat berkata apa-apa pada saya, apalagi kalo keliatan lawan saya itu tampak lemah dan nggak berdaya, maka kata-kata dan ‘pisuhan’ saya bisa menjadi lebih keras dan makin merembet kemana-mana. Yang penting saya bisa melampiaskan emosi saya pada orang itu walopun orang yang menjadi lawan tabrakan saya nggak memberikan apapapun, baik itu berupa uang ataupun bertanggung jawab dengan membetulkan mobil saya yang penyok ke bengkel. Setelah mengucapkan kata-kata keras dan kasar dan sudah memaki-maki maka dalam hati saya rasanya puas banget deh karena sudah berhasil melampiaskan semua emosi saya pada orang yang saya anggap bersalah.

Apakah ini seperti karma buat saya?

Saya beneran merasa bahwa kejadian yang saya alami hari ini tadi itu, bener-bener ditujukan pada saya, rasanya agar bisa saya jadikan pelajaran berharga bahwa dimaki-maki dan diomelin sama orang lain itu bener-bener nggak ada enaknya, apalagi jika hal tersebut terjadi pada saat saya merasa benar dan nggak berbuat sebuah kesalahan pun.

Saya merasa kalo ini beneran karma buat saya, ini diberikan pada saya supaya saya bisa merubah kelakuan buruk saya selama ini yang emosional, gampang marah, memaki-maki orang dengan alasan yang gak begitu jelas, apalagi jika orang yang saya maki itu dalam keadaaan nggak berdaya maka saya bisa lebih menjadi-jadi lagi.

Saat menghadapi kejadian nggak enak hari ini, dua kali mobil saya di tabrak dan dua kali pula saya di maki-maki sama yang nabrak, untungnya terjadi pada saat emosi saya sedang turun. Jadinya rasanya saya blas nggak pingin ngamuk-ngamuk dan marah-marah untuk mengimbangi mereka, karena memang pada saat itu saya anggap nggak ada gunanya sama sekali.

Malahan dengan kejadian yang saya alami tadi bikin saya menjadi kepikiran dan membuat saya mulai sadar kalo jadi seseorang yang emosional itu lebih banyak ruginya daripada untungnya. Jika saya ladeni mereka itu dengan emosi dan amarah yang sama mungkin sekali semua agenda pekerjaan saya yang harus saya kerjakan dan selesaikan pada hari ini bisa menjadi berantakan atau malahan nggak terselesaikan sama sekali.

Posisi saya sekarang sebagai seorang entrepreneur yang sedang menghadapi banyak tantangaan berat untuk lebih meningkatkan taraf hidup dan diri saya dalam kehidupan ini, memang lebih membutuhkan kesabaran dan ketabahan di bandingkan dengan emosional semata.

“Saya harus belajar sabar dan belajar arti sebuah kesadaran dari orang-orang yang telah memaki saya”

Antara mangkel dan sadar, tapi tetep aja lebih banyak mangkel dan jengkelnya, akhirnya saya terima kejadian hari ini sebagai teguran dan pelajaran yang berharga banget buat saya. Semua kejadian pasti sudah diatur dan jika ditelaah dengan baik pasti ada pelajaran yang bisa kita petik, begitu kata para ustadz dan para motivator setiap kali saya butuh suntikan semangat pada mereka.

Teguran untuk bisa merubah diri agar menjadi lebih baik itu bisa datang kapan saja, dimana saja dan biasanya selalu diberikan pada saat kita dalam kondisi yang sedang nggak siap menerimanya.

Sangat beruntunglah orang-orang yang selalu mendapatkan ‘teguran’ secara baik dan sopan, kali ini saya mendapat teguran dengan cara yang berbeda, saya mendapat teguran keras dengan cara yang juga keras dan sama sekali nggak meng-enak-kan buat saya. tibul lagi pikiran dalam otak saya kalo ini mungkin disebabkan karena saya sudah terlalu banyak punya kesalahan, sehingga seperti inilah teguran dengan cara seperti yang harus saya alami pada hari ini dan pelajaran yang nggak menyenangkan itulah yang harus saya terima.

Waspadalah….

Leave a Reply