terjatuh akibat terlalu yakin dengan diri sendiri

posted in: Entrepreneurship | 0

Ketika cerita tentang kondisi warungnya sekarang wajah riang senior saya itu berubah murung apalagi saat beliau bercerita tentang omsetnya yang semakin melorot di 6 bulan belakangan ini.

Kisahnya diawali dengan pembelian sebuah lahan oleh beliau karena beliau pingin semakin membesarkan warung makannya yang tadinya menurut beliau sangat tidak representatif walopun rame.

Beliau pingin membuat pelanggannya nyaman saat makan, untuk itu dibelilah sebidang tanah dari keuntungan 3 tahun buka warung makan.

Letak lokasinya memang gak strategis warungnya yang pertama, letak yang sekarang jauh masuk ke dalam kampung, beliau beli bukannya tanpa perhitungan, beliau beranggapan dengan ramainya warung yang ada sekarang dan banyaknya pelanggan setia maka jika warung dipindah ke tempat yang agak ‘masuk’ tapi di beri fasilitas lebih seperti kenyamanan dan hot spot maka pelanggan akan tetap mengejarnya apalagi kawalitas rasa dan harga murah tetap dijaga.

Ternyata dugaannya keliru banget, benar-benar salah, setelah warungnya yang jauh lebih bagus selesai berdiri dengan gagah maka yang terjadi adalah hampir gak ada pelanggannya yang datang, warungnya bener-bener sepi.

Rupanya dugaanya salah, rupanya lokasi tetep menjadi faktor penting dan utama disamping kwalitas rasa dan harga yang murah.

Rupanya jika buka warung makan yang tempatnya gak strategis, walopun pindahan dari warung yang tadinya rame dan punya pelanggan yang setia, pelanggan-pelanggan itu ternyata bisa benar-bener tidak datang.

Dan kalopun ada yang datang maka yang datang itu bener-bener pelanggan yang fanatik dan pelanggan fanatikĀ  itupun kalo datang cuman sebulan sekali kalo dia kangen aja ama makanan kegemarannya di warung senior saya itu.

Kondisi seperti itulah yang mau di sharingkan ke saya maka saya diundang ke jogja untuk mengunjungi warungnya….

Ketika saya sampai disana pertamakali saya bener-bener gak menyangka kalo ada warung makan di tengah-tengah perkampungan padat itu. Lokasi warungnya tersamar oleh rumah-rumah yang ada di sekitarnya sehingga dari ujung jalan tidah nampak.

Saya berdiri persis di depan warung makan itu, selain spanduk besar yang menutupi sebagian dindindingnya mulai dari genting sampai 1/4 dinding depan warung ndak ada tanda-tanda lain yang menunjukkan bangunan itu sebuah warung makan.

Spanduk itu hanya menjelaskan nama warung makan itu sementara menu apa yang disajikan disitu tidak mudah dibaca karena ditulis oleh huruf yang kecil-kecil. Padahal warung makan itu punya masakan unggulan yang disukai oleh pelanggannya sebelum pindah ke lokasi yang baru ini.

Semuanya gak nampak…

Saya merasa kalo nggak karena diajak singgah oleh ownernya mungkin juga gak menyangka kalo bangunan yang saya hadapi itu adalah warung makan. Wong saya yang niat mampir saja gak tau apalagi orang lain yang sekedar lewat pasti tambah nggak ngeh lagi.

Ketika saya sampaikan kondisi tersebut pada senior saya, beliaupun mengakui kalo apa yang saya sampaikan itu benar adanya. Banyak yang gak tau kebreadaan warung makannya itu, walaupun pas lewat di muka warung tersebut.

Senior itu pun menambahkan yang saya sampaikan barusan sebenernya sudah dia duga juga bahkan beliau menambahkan kalo dia juga curiga yang bikin pengunjung warungnya sepi bukan hanya gak nampak dari luar tapi juga ada kemungkinan karena mahasiswa yang kos disekitar situ takut masuk ke warungnya akibat menganggap harga di warungnya itu mahal.

Beliau juga bilang kalo rasa takut dari para mahasiswa itu timbul karena fisik bangunan warungnya itu cukup mewah untuk ukuran kampung.

Kaget juga saya kalo ternyata senior saya ini sudah mengira-ira kenapa warung makannya sepi, rupanya beliau juga sudah melakukan analisa dan analisanya itu termasuk juga yang tadinya akan saya sampaikan ke beliau.

Langsung saja saya tanya balik kalo sudah punya dugaan seperti itu kok gak langsung bergerak untuk melakukan pembenahan-pembenahan agar warungnya bisa rame dan nggak sepi berbulan-bulan seperti sekarang ini.

Langkah yang harus diambil juga simple, gak rumit dan makan biaya banyak. Paling hanya merubah spanduk saja yang akan perlu biaya semetara langkah lainnya gak perlu keluar ongkos lagi.

Saya menjelaskan, menempatkan meja pajang makanan dari dalam ruangan ke teras depan itu gak pake biaya dan akan bikin mudah terlihat dari jauh, simple banget untuk menandakan sebuah warung makan.

Para pelayan yang pada duduk di dalam ruangan sebaiknya pindah duduk di teras. Teras yang tadinya kosong agar diberi meja dan kursi supaya para pelayan bisa duduk disitu selain memberi kesan rame juga jadi lebih mudah buat menyapa pelanggan.

Saat saya menarik nafas sebelum melanjutkan saran saya, senior itu sambil tersenyum berkata bahwa dulu di warungnya yang lama apa yang saya sampaikan padanya barusan sebenernya sudah dia kerjakan.

Saya melongo…

Senior itu melanjutkan ceritanya, diwarungnya yang lama yang bangunanya lebih jelek dia melakukan promosi habisi-habisan. Seperti menaruh meja pajang makanan di depan, memasak makanan andalannya yang harus dibakarpun di depan warungnya sehingga saat masak asap masakannya yang sedap itu berhembus kemana-mana menggoda selera dan membuat orang mampir akibat kesibukan tersebut.

Bukan itu saja, bahkan beliau juga menyuruh juru masaknya tetep membuat asap bakaran itu terus mengepul seolah-olah diwarung itu banyak sekali yang pesan makanan yang terkesan dari asap harum yang tak henti-hentinya menggoda padahal kondisi sesungguhnya sedang tidak ada pelanggan šŸ™‚

Bahkan beliau juga punya trik menarik dengan membiarkan piring dan gelas kotor tetap berserak di meja dan tidak segera dibersihkan. Tujuannya agar pelanggan yang datang kemudian selalu melihat tumpukan piring dan gelas kotor bekas orang makan disitu lalu berpikir dan berasumsi kalo warung tersebut rame banget sampe gak sempat membersihkan meja sebelum pelanggan berikutnya datang.

Saya makin melongo, beliau ini ternyata punya banyak trik bagus untuk promosi yang membuat kesan warungnya selalu rame dan berhasil memanen pelanggan akibat menggunakan trik-triknya itu.

Tapi kenapa sekarang beliau tidak menggunakannya lag trik tersebut? Beliau toh gak lupa, apa beliau terlena oleh keberhasilannya sebelum pindah dan membuka warung mewah di tempat yang gak strategis ini?

Gak habis pikir saya…

Saya jadi teringat per kataan orang tua bijak itu, kalo kita bisa terjatuh akibat terlalu yakin dengan diri kita sendiri…

Apakah hal itu yang terjadi pada senior saya ini?