target….

posted in: Entrepreneurship | 6

saat yang paling saya tidak sukai pada saat kami sedang bermaster mind adalah pada saat-saat penutupan. bukannya sok romantis yang merasa sedih karena harus berpisah dengan teman-teman se-master mind. tapi saat itu ada suatu tugas dari pak ketua yang menurut saya terasa teramat berat dan sulit. dimana saat saya mengerjakan tugas itu saya dituntut untuk berpikir keras. tugas itu adalah bikin target yang akan dicapai saat bermaster mind dua minggu kemudian.

gak tau ya buat saya susah banget buat menentukan target-target itu. mungkin karena selama ini saya gak terbiasa menentukan target yang harus saya capai dalam hidup dan bisnis saya. menurut saya dalam menempuh hidup ini harus dibiarkan mengalir apa adanya saja,  gak perlu harus ditekan dan dibatasi oleh target yang mengikat.

hidup ini cuman sekali dan sering kali berjalan tidak sesuai dengan rencana kita, bahkan dalam menjalaninya sering kita juga di hadapkan pada banyak tantangan dan rintangan serta kesulitan yang harus kita hadapi. nah kehidupan yang sudah begitu sulit kenapa lagi harus ditambah lagi dengan beban sebuah target yang harus kita hadapi. jadinya kapan kita bisa menikmati kehidupan ini, padahal hidup itu juga singkat dan kita gak pernah tau kapan kita meninggalkan kehidupan ini.

makanya dalam menempuh kehidupan saya ini, saya hampir gak punya target. tapi saya juga gak membiarkan kehidupan saya berjalan bebas tanpa arah sama sekali. tetep harus ada batasan-batasan yang saya bikin supaya apa yang saya mau bisa tercapai.

mungkin target pertama yang saya bikin buat memperlancar arah hidup saya adalah kelulusan saya dari kampus tempat saya kuliah. saya sudah terlalu lama kuliah, padahal saya hanya belajar di fakultas hukum tapi itu saya tempuh hampir enam tahun. gak kerasa memang, tapi trus saya bosen berada di kampus terus, saya pingin lulus. makanya kemudian saya merancang strategi yang harus saya lakukan supaya saya bisa cepat lulus kuliah. strategi itu sederhana saja, cuman pengambilan mata kuliah yang lebih selektif dan di barengi sambil mengerjakan skripsi. indeks prestasi yang saya kejar juga gak muluk-muluk, saya pingin dapat IPK 2,5 karena saat itu syarat minimal buat mencari pekerjaan adalah IPK harus 2,5.

rencana yang saya bikin tenyata gak berjalan mulus, strategi saya gagal total, skripsi saya terbentur bentur di pengujian, dan itu bikin saya sangat frustasi dan hampir yakin bahwa saya gak bakal lulus sesuai yang saya inginkan. meski frustasi saya tetep berusaha, saya gak pernah berhenti berusaha. tiba-tiba ada suatu keajaiban, kampus tempat saya belajar gonjang ganjing karena perebutan kekuasaan. para dosen saling berhadapan satu sama lainnya. termasuk salah satunya dosen pembimbing saya. beliau termasuk orang yang harus disingkirkan dari kampus. karena sadar dia akan disingkirkan dari fakultas, dosen tadi langsung memerintahkan semua mahasiswa bimbingannya menyerahkan skipsi masing-masing dan langsung maju ujian. saya terselamatkan, hanya empat – lima bulanan saya frustasi terombang-ambing oleh tingkah para dosen penguji. karena pak dosen pembimbing ini menggunakan otoritasnya maka dosen penguji lainnya gak bisa berbuat apa-apa dan saya bisa maju ujian dengan mulus. saya lulus dengan IPK 2,5 dan saya adalah segelintir orang yang bisa lulus di periode kedua ujian skipsi buat angkatan saya, padahal pada periode pertama hanya lima orang mahasiswa dari angkatan saya yang lulus. sedangkan di belakang saya masih ada sekitar seratusan teman angkatan yang ngantri buat maju ujian.

walau saya bisa lulus sebelum target kelulusan saya terlewati, (target kelulusan saya adalah, saya harus lulus lebih cepat dari teman-teman satu kos saya) kejadian itu tetep bikin saya trauma sampai sekarang, saya tetep takut setengah mati kalau harus sekolah lagi dan harus menghadapi ujian di kampus lagi.

kemudian dalam kehidupan yang selanjutnya saya terpaksa harus bikin target baru lagi, itu juga karena faktor umur yang kian uzur. saat itu ditengah-tengah nikmatnya menikmati masa muda saya terpaksa harus bikin target untuk menikah, saya harus menikah pada usia sebelum 30 tahun. target itu saya bikin hanya karena saat itu cowok yang menikah pada minimal usia 30 tahun akan disebut sebagai ‘bujang lapuk’. saya gak mau dapat sebutan seperti itu, makanya pada usia 27 tahun saya bikin target. di saat awal sepertinya target akan mudah tercapai, karena saya akhirnya bisa memantabkan hati saya sama seorang cewek dari sekian banyak teman cewek saya. saat itu saya bisa pacaran dengan cewek itu melewati tiga bulan, itu suatu rekor luar biasa buat saya, karena biasanya masa pacaran saya paling lama adalah tiga bulan. justru dalam berpacaran saya punya target ketat sama cewek-cewek yang saya pacari, pendekatan sekian minggu, sekian minggu kemudian harus bisa dapetin yang lain-lain dari cewek itu. dan biasanya saat bulan ketiga saya dah dapet semua sehingga yang tinggal hanya konflik saja yang kemudian berakibat pada putus dari status berpacaran.

nah cewek yang saya sukai itu bener-bener saya dapetin dengan perjuangan berat, saingan saya luar biasa dalam hal jumlah dan materi, eh gak di sangka malah saya yang dipilih sama cewek itu . dan saya jadi pacarnya hanya karena saya sok cuek sama dia. trus kemudian cewek itu ngajak saya menikah, pucuk dicinta uulam tiba nih ada yang ngajakin kawin sebelum target terlewati dan yang ngajakin cewek yang saya suka pula. tapi ternyata kehidupan gak semudah itu. kita ditentang masing-masing ortu karena beda agama. ya sudah akhirnya putuslah dah gak jadi menikahlah saya.

kondisi frustasi terulang, walau gak separah saat kelulusan kuliah. tapi dalam hati saya bilang mau prei nyari cewek buat dijadikan pacar. lama juga saya ngambek, gak disangka disaat-saat usia saya mencapai akhir 28 tahun saya ketemu seorang cewek luar biasa yang bisa bikin hati saya pontang panting, trus empat bulan kenalan saya langsung ngelamar cewek itu buat ngajak dia menikah sama saya. dan akhirnya kita bener- bener nikah di usia saya 29 tahun lebih sebulan. target tercapai lagi secara ajaib.

sejak itu saya hampir gak punya target apa-apa, saya bener-bener menikmati hidup saya mengalir sesuai irama alam. otak saya kosong gak punya keinginan selain menikmati hidup. walaupun kehidupan saat itu juga gak mudah. mungkin ini sebenarnya juga bisa disebut target kali ya saya cuman pingin bisa menikmati hari-hari saya tanpa masalah yang berarti. ternyata target setengah-setengah tadi gagal total, tahun 2005 saya dapat musibah beruntun. ayah saya meninggal dunia setelah sakit parah sekian lama dan perusahaan keluarga yang saya kelola tutup karena bankrut.

sejak itu kehidupan sya mulai dari nol lagi, bener-bener dari nol! Terpuruk dan dilecehkan dimana-mana terutama dikalangan keluarga. saat itu saya mulai lah belajar belajar merajut mimpi, bukan bikin target ketat seperti dulu tapi mulai membuat suatu keinginan. dari banyak buku yang saya baca dan berbagai pelatihan yang saya ikuti akhirnya saya mempunyai dua keinginan yang selalu saya katakan pada setiap orang yang bertanya tentang tujuan hidup saya.

saat itu saya selalu bilang kalo saya pingin punya properti lebih dari jari tangan dan jari kaki saya,  dan kemudian saya harus bisa sukses mengembalikan kehidupan saya yang hilang sebelum usia 40 tahun. dua target itu yang selalu saya bawa dalam otak dan hati saya.

pada kenyataannya saya kemudian berhasil menjalani kehidupan saya sampai hari ini. terget tadi lom tercapai sepenuhnya tapi sebagian terwujud. saya sekarang punya sekitar 15 property dan saya relatif sangat mapan dibanding empat tahun lalu saat saya bangkrut sedangkan usia saya saat ini masih 38 tahun.

dalam melewati hari demi hari menjalani kehidupan setelah keterpurukan itu saya tidak punya ambisi apa-apa. pikiran saya kosong hati saya juga kosong. saya hanya punya dua keinginan tadi yang saya sendiri gak tau harus melakukan apa demi memperolehnya. cuman dua keinginan tadi tetap menancap dalam pikiran dan hati saya. ternyata keinginan yang kuat tanpa ngerti cara memperoleh dan meraihnya itu yang menuntun kehidupan saya selanjutnya. saya kemudian berusaha melaksanakan apa yang saya baca dan yang saya peroleh dari berbagai pelatihan dengan sungguh-sungguh hanya dengan harapan bisa mencapai dua tujuan tadi.

tahun pertama terlewati dengan selamat. kami, saya dan istri mencoba melihat dan menghitung apa yang kami capai. ternyata saat itu kami mulai bisa punya property sendiri dan sektor keuangan kami mulai membaik. pada saat itu saya dan istri kemudian cuman berkeinginan bisa melewati tahun kedua dengan selamat. begitu seterusnya, keinginan kami berdua hanya supaya bisa melewati tahun berikutnya dengan selamat. sampai hari ini kami selamat dengan semua hasil ini yang kami dapatkan.

bisa nggak ya itu disebut target? atau itu semua hanya keinginan dan mimpi?

tapi yang sangat saya rasakan dengan apa yang saya lalui selama ini kehidupan saya jadinya gak kem-rungsung atau serasa dikejar-kejar. saya bisa hidup dengan santai, muncul di mana saja dengan santai, ngobrol dengan siapa saja dengan santai.

nikmatnya hidup seperti itu. hidup jadinya serasa tanpa beban………

tapi bener gak ya yang seperti ini?

dalam langkah saya sampai hari ini saya bertemu dan bergabung dengan sebuah komunitas yang mengajarkan anggota untuk mengejar target-target. target pertama yang saya kenal dari komunitas itu adalah ‘go double’ dan target berikutnya adalah ‘go triple’. semua anggota wajib menjalaninya dan mecari serta mencapai target masing- masing. target yang dimaksud bisa omset dalam berbisnis bisa juga target lain dalam kehidupan yang mau dicapai.

saya bingung banget sampai sekarang, target ‘go double’ dan ‘go triple’ apa yang mau saya capai. nggak ngerti saya, berarti saya harus mengupayakan target omset toko dan target pemilikan property saya mencapai ‘go double dan go triple’ tadi. saya jadinya musti ngoyo dan bekerja keras donk. itu bertentan gan bener dengan hati nurani saya. tapi saya wajib punya target yang harus saya kejar. ya sudahlah saya harus tetep bikin dan mengejar target itu.

buat ‘go double’ saya berencana, agar saya dan keluarga¬† bisa tetap hidup selamat sampai delapan tahun kedepan mulai hari ini. dan buat ‘go triple’ saya dan keluarga musti bisa hidup selamat dua belas tahun kedepan setelah hari delapa tahun yang akan datang.

amin, semoga tercapai….

Leave a Reply