takdir

saat saya nonton filem ‘Terminator Salvation’. sebuah filem yang di dalam ceritanya sang jagoan, ‘john connors’ sudah dewasa dan sedang memimpin perjuangan manusia melawan robot. saat itu kondisi pasukan manusia sudah kritis dan dalam keputus asaan tingkat tinggi. Tapi pada sebuah serangan dengan semua kekuatan terakhirnya, akhirnya pasukan manusia bisa memenangkan pertempuran dan bisa menghancurkan benteng para robot yang merupakan simbol kekuatan para robot. akibat kekalahan itu mengakibatkan para robot harus menata ulang strategi dalam menghancurkan manusia dan sebaliknya manusia punya semangat baru untuk menghancurkan robot-robot itu.

pada sesi terakhir menjelang filem habis, ada kalimat menarik yang diucapkan john connors, dia bilang “tak ada takdir yang tak bisa dirubah”

kenapa dia bilang begitu karena harusnya pada pertempuran itu pasukan manusia hancur dan serangan mereka gagal total. Tapi yang terjadi malah sebaliknya, manusia mendapat kemenangan yang gilang gemilang setelah selalu kalah dalam setiap pertempuran. Sebabnya adalah robot yang sudah dipersiapkan sejak lama untuk memata-matai pasukan manusia ternyata bersimpati pada manusia dan berbalik menentang para robot. sudah ditakdirkan gak mungkin manusia menang melawan robot yang kalau rusak bisa dibetulkan kembali sedang manusia yang mati gak mungkin hidup lagi. takdir ternyata berubah karena ‘robot manusia’ senjata andalan para robot yang digunakan untuk memata-matai dan menghancurkan manusia dari dalam ternyata malahan berusaha setengah mati melawan pengaruh robot-robot senior dan malahan membantu manusia.

walupun saya bilang filem tadi hanya fiksi tapi sebenernya ceritanya erat dengan kehidupan kita selama ini.

saya bilang pada diri saya sendiri bahwa takdir saya sebenernya jadi pegawai, dan yang terbesar kans-nya adalah menjadi pegawai negeri. kenapa begitu sebab bapak saya seorang pegawai negeri yang kebetulan punya jabatan di wilayah jawa timur, mbah saya dari bapak adalah petani tapi diangkat pemerintah belanda menjadi seorang ‘demang’ didesanya. sedang datuk saya dari ibu adalah seorang pegawai negeri juga di jaman belanda yang daerah kekuasaannya meliputi seluruh sumatra. sementara om-om dan pakde-pakde saya baik dari bapak maupun ibu, adalah pegawai negeri ataupun swasta dan rata-rata punya jabatan penting.

mestinya tidak sulit donk buat saya untuk merengek ke bapak, minta di masukkan jadi pegawai negeri di instansinya setelah saya lulus. tapi saya gak mau, saya pilih nyari kerja sendiri walaupun tetep jadi pegawai. dengan bantuan kawan saya keterima dan kerja di jakarta, tapi gak lama arena kontrak abis dan akhirnya saya pulang kampung. dirumah kembali tawaran mengalir, tawaran yang mau mbantuin saya supaya bisa keterima jadi pegawai negeri (tanpa mbayar lho) tapi saya tetep ogah dan milih kerja di perusahaan milik keluarga. tetep jadi karyawan sih awalnya, tapi karena saya trus ngelawan saudara saya yang jadi pimpinannya karena gak setuju dengan kebijakannya, dan akhirnya dari pada rame terus sesama sodara, saya di kasih perusahaan sendiri sesuai saham bapak saya. kebetulan lokasinya di surabaya, kota tempat saya berdomisili.

saya pimpin perusahaan itu sekitar lima tahun dan akhirnya KO juga, bankryt abis. relatif bukan karena kebodohan dan kesalahan saya, tapi lebih karena masa kejayaan bidang bisnisnya yang telah lewat. awalnya saya dipersalahkan semua orang tapi akhirnya keyakinan saya terbukti, 3 kantor cabang lainnya di tiga kota satu demi satu tutup juga seperti kantor di surabaya yang saya pimpin.

walaupun duit abis karena harus bayar hutang dan pesangon karyawan saya tetep aja gak mau ngelamar kerja jadi karyawan, sebab hitung-hitunganan saya bilang bahwa semua duit yang saya keluarkan buat ngelamar kerjaan nanti itu totalnya akan besar jumlahnya, apalagi kalo saya lama keterima kerjanya. memang awalnya pasti gak kerasa karena keluarnya sedikit-demi sedikit. Sedangkan dari duit yang sudah terlanjur dikeluarkan itu hasilnya belom tentu, apakah saya keterima kerja apa tidak dan kalo pun saya keterima belom tentu pekerjaan itu cocok dengan jiwa saya. nah karena sama-sama spekulasi makanya saya pilih duit yang ada di pake buat membuka bisnis saja. dan karena saya sedang krisis percaya diri maka saya inveskan duit yang gak seberapa itu buat mengikuti pelatihan entrepreneur.

pilihan ini ditentang habis oleh ibu dan adik-adik saya. saya dianggap gagal dan gak ada bakat jadi pengusaha yang ada harusnya saya jadi pegawai aja seperti seharusnya. semua sodara sudah siap memakai kekuatan kkn-nya buat masukin saya kerja termasuk ibu saya, beliau yakin sekali saya bisa dapat kerjaan, kalo gak mau ikut sodara yang lain beliau siap ngelobi di instansi tempat almarhum bapak saya bekerja dulu. keyakinan itu disebanbkan karena pejabat tinggi di instansi tersebut rata-rata adalah bekas murid dan anak buah bapak. hubungan keluarga kami dengan mereka semua erat banget soalnya saat mereka susah dulu bapaklah yang banyak memberikan bantuan dan bapak adalah orang yang supel sehingga banyak murid dan anak buahnya yang dengan tidak sungkan-sungkan menjadikannya tempat mengadu dan berkeluh kesah.

seperti biasa saya tetep ngeyel gak mau kerja jadi pegawai dan ikut orang lain. alasan utama saya adalah saya tau persis jiwa saya ini pemberontak dan sulit diatur oleh siapapun jadinya kalo saya kerja ikut orang jadi pegawai pasti umurnya gak akan lama dan bahkan nanti bisa ngerusak hubungan kami sekeluarga dengan orang yang membantu saya mendapatkan pekerjaan bila saya nanti tiba-tiba berontak terhadap peraturan yang ada disana.

tantangan terberat saya adalah harus bisa membuktikan pada ibu kalo saya bisa hidup tanpa jadi pegawai.

gitu deh saya lawan semuanya.

sampai suatu saat saya ketemu dengan seorang wartawan senior dari sebuah majalah entrepreneur yang menawarkan pada saya untuk mengikuti ajang pemberian penghargaan entrepreneur. Beliau meyakinkan saya dengan mengatakan bahwa saya berpeluang untuk dapat penghargaan itu walaupun bisnis saya saat itu belom jadi. berpeluang sebagai tokoh penggerak entrepreneur muda di daerah. alasannya karena selama beliau berkeliling daerah saat meliput kegiatan kewirausahaan didaerah-daerah, beliau belom pernah bertemu seseorang yang kerjaannya tiap hari menggerakkan orang lain supaya jadi entrepreneur.

tanpa mikir lagi saya terima tawaran beliau, gak ada salahnya mencoba, gak keluar biaya-apa karena hanya mengisi aplikasi dan mengirimkan data-data saya. saya nanti baru akan mengeluarkan biaya-biaya jika terpilih menjadi kandidat penerima award yang rencananya akan diberikan langsung oleh mentri koperasi dan ukm. itu pun hanya biaya adminstrasi dan transportasi ke jakarta lokasi tempat penghargaan itu diberikan.

bisa ditebak kan endingnya, karena gak ada lawan dan saingan, maka saya terpilih sebagai salah satu penerima award tersebut. sudah jelas berita ini saya bertahukan ke ibu dan saya minta beliau untuk hadir. saya juga undang semua sodara inti saya yang tadinya meragukan saya bisa hidup dan berprestasi sebagai entrepreneur.

sebenarnya alasan saya kenapa saya pingin ikutan ajang ini adalah semata-mata agar bisa membuktikan pada ibunda bahwa saya bisa dan berhasil melalui kehidupan ini tanpa harus menjadi pegawai seperti kehendak beliau. hanya itu saja tanpa ada alasan yang lainnya. itu saja sudah bikin saya puas luar biasa sebab setelah malam penganugrahan tersebut tidak ada lagi yang meragukan dan menyangsikan semua langkah yang saya ambil. mereka yang tadinya menentang keras semenjak malam itu selalu mengamini apa yang saya kerjakan.

yang tadinya saya selalu dipandang sebelah mata karena dianggap gagal dibandingkan adik-adik dan semua sodara saya yang lain yang memang semua punya karier hebat di tempat kerjanya masing-masing, setelah ajang itu saya mulai ‘di uwongke’ lagi.

lega rasanya, perasaan lega bikin saya lebih enteng dalam melangkah dan bertindak karena justru sebagian besar beban saya adalah bagaimana bisa membuktikan pada ibu kalau saya bisa dan mampu. beban itu lebih besar dan jauh lebih berat dari pada menghadapi masalah sehari-hari dalam bisnis.

setelah itu kalaupun saya menghadapi masalah dalam bisnis tidak ada lagi orang yang mencemooh, mereka sudah yakin dengan kemampuan saya dan kalaupun saya sedang bermasalah akan dianggap sesuatu yang wajar, karena semua aspek pasti suatu saat akan menemui masalah.

ibu saya bilang “kehidupan itu kadang diatas kadang dibawah” begitu kata beliau kini saat menyemangati saya. beda banget dengan dulu, “itulah kalau tidak mau nurut sama nasehat orang tua” dulu kata-kata ini yang selalu terucap kalau saya bercerita saya sedang punya masalah.

saya anggap semua itu adalah bukti bahwa saya mampu melawan tadir saya, saya mampu mengubah takdir saya yang harusnya jadi pegawai untuk menjadi entrepreneur. berat memang, penuh celaan karena dianggap pecundang dimana-mana. tapi itulah tantangannya.

“tak ada takdir yang tak bisa dirubah” jika ada niat dan usaha untuk mengubahnya…….

Leave a Reply