semua hanya pilihan

“menjadi entrepreneur adalah pilihan – memberdayakan usaha dengan mengembangkan modal melalui kredit perbankan juga pilihan – yang terpenting bagaimana saya mempertanggung jawabkan pilihan-pilihan hidup itu”

saya tadi chating dengan kawan lama saya dulu sekelas di sma. bercerita tentang kawan kita lainnya yang nasibnya tidak seberuntung kami. memang kawan tadi sebutlah di x memilih jalur entrepreneur dalam mengais rejeki dalam pertarungan hidup di dunia ini. awalnya dia punya tempat cuci mobil yang ramai karena memang tempat usahanya strategis sekali. ditambah lagi dia berasal dari suatu suku di propinsi sumatra utara yang banyak berprofesi sebagai sopir metro mini plus keramahannya bisa bikin para sopir yang sesuku tadi mencucikan bus metro nya di tempat si x. tentunya berakibat pada aliran duit yang biasa disebut omset mengalir deras sehingga kehidupan si x menjadi berkecukupan bahkan berlebih.

bumi terus berputar. kini si x sedang dalam posisi di bawah,  kondisi bisnis cuci mobilnya tetep jalan tapi tidak seramai dulu. penyebabnya bukan karena daerah disana menjadi sepi melainkan karena alasan klasik,  yaitu salah mengatur managemen keuangan dan adanya pertentangan keluarga yang merongrong di dalam bisnisnya. rupanya lahan yang dipakai buat tempat usaha adalah lahan milik keluarga sehingga ketika si kepala keluarga tidak ada, alias meninggal dunia, lahan itu menjadi rebutan. rupanya dulu pembagian hasil usaha dari tempat cuci mobil itu tetep di pegang oleh si kepala kekuarga yang sudah sepuh itu. lagi-lagi alasan klasik  ya  – memakai management tradisional. kini si x meninggalkan usaha yang sudah dibikinnya jaya dan membuatnya jaya. sepeninggal si x usaha pencucian itu langsung mlorot drastis omsetnya, tapi si x sudah tidak berminat lagi untuk mengelola apapun yang terjadi, dari pada bikin ribut katanya.  jadi lebih baik si x bikin usaha baru lagi dan merintis dari awal lagi.

merintis usaha baru tidaklah semudah membalik telapak tangan, dan si x bener – bener harus kerja keras disitu. yang dilakukannya adalah jualan tenda terpal dan jualan stker tidak jauh dari lokasi bisnis pencuciannya. berat sekali perjuangan si x karena bisnisnya sekarang murni trading atau berjualan saja tanpa melibatkan lobi-lobi bianis dengan kawan atau kenalan satu suku. dan itulah yang bener-bener dialami si x, dia harus memulai lagi semuanya dari nol dan mulai lagi mencari serta mengumpulkan lembaran rupiah dari nilai yang terkecil lagi.

itu pilihan si x apapun yang terjadi dia tetep tak bergeming ingin bekerja sendiri, ketika kami tawarkan untuk menjadi karyawan di sebuah perusahaan swasta yang cukup beken dengan penghsilan pasti perbulan dan setelah dikurangi biaya transport tetep lebih besar dari penghasilannya dari jualan stiker, si x tetep gak mau dia lebih pilih jualan dari pada jadi karyawan. emang sih tampak dari raut wajah si x, walo hidup susah dia tetep tampak bahagia dan ceria, dia bilang kalo jadi karyawan walo gajinya jauh lebih gede belom tentu dia bisa riang seperti sekarang, nanti jangan-jangan kerianggan terampas rutinitas kerja kantoran, katanya pada kami.

itu pilihan si x, tidak ada yang memaksanya jadi entrepreneur walao dalam kategori level paling rendah dengan penghasilan dibawah pas-pas-an untuk kategori tinggal di kota besar. dia teep berjuang dia tetep berusaha bertanggung jawab ats pilihannya itu dan itu dia berusaha buktikan dengan ketabahan, semangat pantang menyerahnya dan berusaha utuk tidak putus asa.

jadi entrepreneur ada yang sukses sehingga bisa jadi konglomerat dengan harta berlimpah, tapi banyak juga yang berada di level memprihatinkan dengan kondisi serba kekurangan. dan itu pilihan mereka karena gak ada yang memaksa.

dilain pihak ada kawan sekelas saya juga  saat di sma yang bestatus karyawan dengan posisi selevel manager dengan penghasilan lebih dari cukup, punya rumah dan mobil bagus. tapi saat bekerja dikantor dia tidak kenal waktu, dia terikat banget oleh waktu kerjanya yang dari pagi sampai jauh malam, ini bukan karena faktor macet atau alasan lainnya. tapi kawan ini saya sebut si y bener-bener gak bisa bergerak, sering dia harus tidur di kantor bahkan saat tanggal merah dan hari minggu pun si y ini harus masuk dan bekerja di kantornya. si y selalu mengeluh tersiksa abis dengan ritme kerjanya yang gila dan gak kenal waktu itu, tapi dia hanya bisa pasrah dan tidak berani meninggalkan kemapanannya. dia harus membayar kemapapanan hidup keluarganya dengan jam kerjayang gila-gilaan. itu juga pilihan si y, gak ada yang memaksa dia kerja disana tapi apapun yang dirasakan si y dia tetp harus mempetanggung jawabkan pilihan hidupnya itu.

ada dua pertanggung jawaban dari pilihan hidup, saya segaja gak nulis yang indah-indah karena ini juga realisasi hidup yang harus dipertanggung jawabkan. dua kawan tapi tau resiko pilihannya, tapi mereka memilih untuk tetep menanggung resiko itu apapun yang terjadi karena pilihan itulah yang masing-masing dari mereaka anggap paling nyaman.

semuanya balik lagi pada diri kita, orang lain hanya bisa ngasih saran tapi tetep kita sendiri yang nentuin pilihan ini.

trus kalo dikembalikan ke saya, ya inilah pilihan hidup saya, saya ingin bebas, ingin malas, tanpa ada ikatan apapun terkecuali ikatan tanggung jawab saya untuk menafkahi dri saya sendiri dan keluarga saya. karena pilihan hidup saya adalah  tuk jadi entrepreneur apapun yang terjadi, apa pun yang saya alami dan apapun yang saya rasakan, saya harus gak boleh mengeluh dan harus tetep bejruang untuk menghasilkan yang terbaik. terbaik buat diri saya sendiri dan keluarga saya tanpa peduli dengan omongan oranglain.

itulah bentuk pertanggung jawaban saya terhadap pilihan hidup saya. saat saya sedang jaya diatas saya nikmati dengan senyum dan tawa dan saat saya sedang jatuh terjengkang di bawah sana, saya juga harus tetep tersenyum dan tertawa bahagia.

saya harus mampu malakukannya, karena saya adalah orang yang bertanggung jawab………….

Leave a Reply