Sekotak Roti dan Secangkir Kopi

posted in: Entrepreneurship | 0

Sekotak Roti dan Secangkir Kopi – “Dealer motor ini unik setiap tamu yang datang disuguhi sekotak roti dan secangkir kopi, besok balik lagi ah belagak tanya-tanya lagi :)” itu yang terbersit dalam benak saya ketika saya datang ke dealer tersebut dalam rangka hunting motor yang harganya paling murah.

Kami bertiga sudah seharian keliling dari dealer ke dealer mencari harga dan model motor yang cocok untuk kami pake. Surprise yang menyenangkan sekali ketika tiba di dealer ini. Tanpa basa basi setelah kami dipersilahkan duduk maka sekotak roti dan secangkir kopi disuguhkan pada kami masing-masing.

Suguhan itu datang tanpa terlebih dulu kami dan sales motor di dealer tersebut ngobrol tentang motor yang kami butuhkan. Sepertinya sudah menjadi tradisi deh di dealer motor ini, setiap tamu yang datang sebelum diajak ngobrol langsung disuguhi sekotak roti dan secangkir kopi.

Tentunya suguhan sekotak roti dan secangkir kopi itu berkesan banget dalam ingatan kami, apalagi roti yang disuguhkan rasanya enak tan tekstur rotinya lembut banget. Akibatnya saat kami meninggalkan dealer ini, dalam perjalanan pulang hanya dealer ini serta servicenya yang unik tadilah yang kami bicarakan.

Secara menentukan harga memang dealer-dealer yang kami kunjungi nggak berbeda jauh dan semua berjanji akan meneruskan penawaran yang kami ajukan pada bos mereka masing-masing. Tapi kami tetep yakin kalo itu cuman basa-basi aja soale memang harga semua dealer itu sama tawaran terendahnya. Karena sama maka tinggal kami sajalah yang menentukan mau membeli motor di dealer yang mana.

Pelayanan semua dealer yang kami datangi relatif sama, sama-sama nggak mengecewakan dan sama-sama standart maka saat kami putuskan keesokan harinya mau kembali ke dealer motor yang mana untuk melakukan transaksi pembelian motor, ternyata secara kompak kami semua sepakat untuk kembali ke dealer yang menyuguhkan kopi dan sekotak roti itu.

Hehehe, padahal kami gak bersepakat lho tapi kenyataannya kami semua terkesan dengan service yang diberikan oleh dealer tadi. Mungkin harganya murah, sekotak roti dan secangkir kopi kami perkirakan harganya gak lebih dari 7ribu rupiah tapi ongkos yang gak mahal itu membuat kami sebagai calon konsumen berkesan dan memutuskan kembali serta bertransaksi disana.

Andai saja dalam satu hari ada 10 orang calon konsumen yang terkesan dan kembali ke dealer itu seperti kami, tentunya paling sedikit akan terjadi transaksi sekitar 10 motor terjual dalam satu hari.

Belum lagi kesan yang menyenangkan yang kami dapatkan akibat sekotak roti dan secangkir kopi itu kami ceritakan pada kawan-kawan dan relasi-relasi kami. Pastinya kawan-kawan dan relasi-relasi kami itu akan ikutan penasaran dan bisa jadi akan datang ke dealer tersebut karena terpengaruh cerita kami itu.

Kalo hal ini terjadi maka secara tidak langsung setiap orang yang datang ke dealer itu dan terkesan dengan sekotak roti dan secangkir kopi akan menjadi marketing gratisan yang akan meceritakan pengalaman berkesan mereka di dealer itu dengan sukarela.

Jika satu orang bercerita pada dua orang kawan atau relasi terdekatnya, maka minimal sudah ada 2 orang calon pelanggan lagi yang akan datang kesana. Jika ada 10 orang yang bercerita maka kurang lebih akan ada 20 calon konsumen yang terpromosikan, nah tinggal dihitung aja berdasarkan faktor kali.

Sekotak roti dan secangkir kopi ternyata bisa juga menjadi sarana alat promosi yang ampuh.