sedih rasanya…

saat ngluyur di jakarta tempo hari, saya main kerumah seorang teman sma. dianya tinggal disebuah rumah yang berukuran 3×3,5. ia hidup disana bersama dengan seorang istri dan 2 orang putranya yang sudah duduk di bangky sekolah dasar. bener-bener rumah yang gak layak disebut rumah huni – atapnya terbuat dari asbes yang bila hari semakin siang maka udara di dalam rumah yang bertembok batako tanpa plester serta lantai berkeramik yang sudah hancur di sana sini sehingga plester semennya tampak dimana-mana itu semakan panas dan pengap.

yang tampak mewah dari rumah tanpa perabot itu hanya sebuah televisi 14′ jaman dulu yang suara dan gambarnya gak jelas lagi. pintu dan tembok depannya terbuat dari seng sedang ada sebuah pintu dari seng yang berhubungan dengan halaman belakang yang sudah dilapisi plester semen. di sana ada tempat cuci piring yang menjadi satu dengan tempat cuci baju, tempat masak dan sekaligus tempat mandi. sementara supaya ad batas antara halaman belakang dengan area publik terbentang kain spanduk yang diikat disana sini agar tidak terbang tertiup angin.

rumah yang didirikan hanya berjarak kira-kira dua meter dari bak pembuangan sampah itu menghadap kearah sebuah sungai berair sangat keruh yang biasa disebut oleh warga sekitar sebagai kali malang. rumah dan sungai itu dipisah oleh jalan semi tanah yang lebarnya hanya bisa dilalui sebuah mobil. disepetak halaman yang memisahkan jalan dengan pintu rumahnya terdapat sebuah meja tua tempat istrinya meletakkan dagangan berupa snack dan minuman sashet yang jumlahnya tidak seberapa, lalu ada sebuah bekas sofa yang sudah robek dan hancur disana sini buat istrinya bila menunggu dan meramu dagangan tadi.

selain itu teras kecil ukuran 1x2m yang ditutupi terpal sebagai penghalang panas itu dipenuhi oleh gantungan pakaian kumuh yang dijemur setelah dicuci.

saat saya datang pintu rumah terbuka lebar tapi tidak ada penghuninya sehingga saya sempet clingak clinguk selama beberapa menit didepan rumah itu. mungkin sekitar lima menit saya menunggu sampai saya melihat seorang laki-laki hanya memakai celana kolor tanpa baju berjalan menujukearah saya yang berdiri didepan rumah itu. laki-laki itu berambut kribo, berkulit hitam ddan sangat dekil. dari jauh saya dah mengira dia itu teman yang saat kelas satu sma duduk tepat didepan saya. dia sempat gak mengenali saya yang melambaikan tangan tapi setelah dekat dia tersenyum lebar – rupanya wajah dan potongan tubuh saya sudah dikenalinya.

‘halo murai, loe gak berubah ya tetep gendut tapi tampaknya sekarang lebih tinggi ya’ katanya cuek menyapa saya yang menyodorkan tangan buat menjabat tangannya. dia membalas jabatan tangan dan kamipun berjabat erat.

dia mempersilahkan masuk dan mengajak duduk dilantai, lesehan. setelah menurunkan green ransel, saya pun duduk selonjor didepannya. badan yang rasanya capek banget itu, jadi berubah mendapat kenikmatan dengan duduk berselonjor dilantai berkeramik putih bersih yang remuk disana sini.

memang walaupun bangunan kecil dan sumpek itu gak layak disebut rumah, tapi kondisinya sangat bersih. berbeda jauh dengan penampilan sang tuan rumah yang sangat dekil itu.

kami pun berbas basi dan ngobrol ngalor ngidul, dia menyuguhi saya segelas air putih karena dia malas membuatkan kopi untuk saya. ‘nanti saja ya kopinya tunggu istri saya datang’ katanya cuek sambil nyengir lebar – suatu gaya khas yang gak berubah sejak jaman kelas satu sma walaupun sudah sekitar 23 tahun kami tidak berjumpa.

dia cerita kalau sudah tiga tahun menempati rumah itu yang dibelinya dari seseorang senilai 2,5juta. uang itu didapatnya dari keuntungan menjual terpal dipasar jatinegara. rupaya kawan ini mencari nafkah dengan berjualan terpat dengan gerobak dipasar itu. dua tahun dia berjuang sehingga terkumpul uang yang digunakannya buat membeli sebuah rumah sehingga dia bisa menjemput istinya dari kampung untuk tinggal bersama disana.

saya merasa sangat nyaman dirumah itu sehingga sampai merebahkan tubuh dilantai dengan kepala beralaskan ransel. tidak lama istri dan anaknya datang dan saya dikenalkan pada mereka.

kami melanjutkan ngobrol sambil saya tetep berbaring santai dan sesekali menyeruput kopi panas bikinan istri kawan itu. dia bercerita tentang pengalaman hidupnya. setelah dia menikah dan harus meninggalkan rumah dan bisnis cuci mobil milik keluarganya.

dengan modal sekitar 1-2 juta dia mulai merintis bisnis terpal dipasar jatinegara sampai bisa membeli rumah petak kecil itu seharga 2,5 juta dan mengajak anak istrinya tinggal bersama. asetnya yang berupa barang dagangan pun meningkat, jika ditotal dan dinilai dengan rupiah berkisar 4 juta-an. jadi hanya dalam dua tahun bisnisnya berkembang dan dia sudah bisa menghasilkan aset.

tapi peruntunggannya gak lama karena kemudian gerobak terpalnya terkena razia satpol pp dan habislah sudah aset barang dagangannya. dengan berbekal sisa uang yang ada dia merintis usaha lagi, kali ini jualan terpal dibarengi dengan stiker, karena uang yang ada tidak mampu di kulakkan terpal banyak-banyak, jadi kemudian dia jualan terpal dan stiker di jalan raya kalimalang dekat pom bensin kampung bali.

hidupnya ternyata gak bisa tenang lama-lama menikmati hasil jualan stiker dan terpal itu. gak lama satpol pp datang lagi dan barang dagangannya dirazia lagi. tapi kali ini petugas masih bermurah hati sehingga tidak semua barang dagangaan nya disita, sebagian dikembalikan oleh petugas.

akibat kejadian itu, kawan tadi gak berani dagang dipagi hari sebab saat itu satpol pp rajin-rajinnya berpatroli, dia hanya berani dagang di siang setelah zhuhur sampai jauh malam karena saat itu patroli satpol pp suddh berhenti. otomatis omsetnya mlorot drastis yang bikin hancur penhasilan hariannya.

rupanya nasib baik masih belum berpihak padanya, listrik yang menjadi sarana menghidupkan lampu guna penerangan saat jualan dimalam hari diputus oleh yang empunya dan dia tidak diijinkan guna memakainya lagi. habislah kini peluang berdagang malam hari dan otomatis dia hanya bisa berjualan sehabis zhuhur dan tutup menjelang maghrib.

sudah gak bisa jualan dengan bebas, kini kawan tadi malahan menjadi banyak punya waktu nggangur dipagi hari sampai saat zhuhur. untuk mengisi waktu luangnya dan untuk mencari tambahan penghasilan buat nambal cash flownya yang hancur-hancuran kawan tadi akhirnya menjadi pemulung dan pemilah barang-barang plastik dan barang lainnya yang masih layak jual dari tempat sampah yang berjarak 2 meter disamping rumahnya.

barang pilahan dari tempat pembuangan sampah, dibungkusnya dengan karung plastik lalu ditumpuk disekitar dagangan terpalnya yang kini digelar di jalan depan rumahnya karena takut dirazia lagi. karena harus menunggu sampai mencapai berat tertentu sehingga barang sampah pilahannya itu layak dijual pada pegepul, maka tumpukan tersebut semakin menggunung saya bahkan hampir menutupi dagangan terpalnya.

tadinya saya bertanya tempat dia menaruh stok terpalnya, ketika dia menunjuk tumpukan karung saya sampai melongo karena diantara tumpukan karung itu terdapat terpal dagangannya. ‘wah, saya kira tadi semua adalah sampah’ gitu komentar spontan saya. ‘trus gimana caranya orang tau kalo loe jualan terpal’ tanya saya lagi ‘sudah jualannya jauh dari jalan, tersamar oleh tumpukan sampah lagi’

sambil nyengir dia blang ‘mau gimana lagi ray, kan gak ada tempat jualan – dari pada maksa jualan deket jalan raya dan beresiko disikat ama satpol pp lagi mending ditumpiuk disini same ada yang datang nyari’

jawaban yang simple, singkat tapi jelas dan bikin bingung yang nanya karena memang itu kondisi real yang ada disana. saya bingung karena tadinya saya berpikir keras gimana caranya dia bisa berdagang terpal lagi di dekat jalan raya. rasanya buntu otak saya, akhirnya saya ikutan nyengir juga sambil nanya lagi tentang pendapatannya perhari, dengan santai dia bilang gak mesti dapat – ‘terima 20 ribu aja udah bagus banget’ jelasnya.

dengan 20 ribu per hari, itupun belum tentu rutin dan sering gak ada barang dagangannya yang laku, mana bisa mencukupi kebutuhan empat kepala yang bergantung pada satu-satunya sumber usaha tersebut. akibatnya jelas menu makanan hariannya gak jelas dan paling bagus adalah goreng tempe dan sayur bening. itu sudah mewah, karena sering saat gak ada pemasukan maka keluarga itu hanya makan nasi dan krupuk saja, bahkan sampai mencari hutangan berupa nasi, lauk dan sayur jika stok beras habis dan uang bual beli beras gak ada.

saat saya terbengong-bengong mikirin kehidupan kawan itu, ada kabar dari istrinya kalo ada orderan untuk masang stiker di sebuah sepeda motor. kawan tadi pamit karena ada kerjaan dan saya memutuskan tidur siang dilantai rumah kawan tadi. melihat saya memejamkan mata dengan santai dan beralaskan ransel buat kepala, istri kawan tadi mengambilkan sebuah bantal. walaupun kumuh tapi rasanya sarung bantal itu bersih, padahal saya tadi sempet mikir jika yang disodorkan sebuah bantal dekil, apa yang harus saya perbuat.

saya rupanya tertidur cukup lama di lantai rumah kawan tadi, terbukti saat bangun sayur bening dan tempe gorengnya sudah matang. padahal saat saya ditinggal sendirian karena ada orderan tadi saya melihat si istri masih sibuk motong- sayuran. saya buru-buru pergi karena tahu mereka mau makan siang bersama. sambil cengar-cengir anak kawan yang paling kecil bilang ‘om tadi ngoroknya keras banget’

waduh ternyata saya tidur nyenyak sampai ngorok-ngorok saat berbaring dilantai, tanpa sungkan sama sekali dengan keluarga itu. kini giliran saya yang cengar-cengir sambil pamit mau nyusul dan ngeliat proses pemasangan stiker di sebuah motor yang sedang digarap oleh kawan tadi.

saya rasa dia bekerja memasang stiker pada sebuah sepeda motor lebih dari dua jam dan ketika saya tanyakan berapa ongkos yang diterimanya adalah sekitar 40ribu. jumlah yang sangat sedikit untuk kerja yang begitu lama apalagi pekerjaan seperti itu tidak sering dia dapat. jadinya di saat-saat sepi pikirannya sering kosong, karena dia tidak lagi mampu berpikir tentang cara-cara yang harus dilakukan untuk menutup biaya hidupnya. yang bisa dilakukannya hanya bermimpi dan bermimpi saja sebab kebutuhan hidupnya semakin tinggi tapi usahanya tidak kunjung membaik.

sebenarnya dia tidak kehilangan kreativitasnya yang memang terasah sebagai entrepreneur, itu sudah dibuktikan dengan buka warung jajan ala kadarnya dan cukup rame saat siang menjelang sore dimana di sungai depan rumahnya penuh dengan anak-anak kampung yang bermain renang-renangan. ada lagi mimpinya, yaitu pingin bikin sarana bermain air yang disewakan pada anak-anak yang berenang disungai depan rumahnya itu seperti seluncuran dan berbagai perlatan lainnya.

baginya mimpi hanya sekedar mimpi karena sarana pendukung mimpinya itu seperti jauh dilangit ketujuh.

kreativitas tidak bisa hilang memang tapi daya pikir bisa hilang karena tidak pernah diasah.

dia yang saat sma jago fisika dan sering bisa menjawab soal-soalĀ  yang harus dikerjakan saat itu juga dipapan tulis atas perintah guru fisika yang terkenal killer sehingga menyelamatkan kawan-kawan sekelas dari hukuman apabila tidak dapat menjawab soal-soal tadi. dia juga lulusan sarjana tehnik dari sebuah perguruan tinggi swasta. tapi sekarang ini saat diajak ngobrol sering gak nyambung antara pertanyaan dan jawaban, kehidupan yang keras bikin semuanya berubah sampai-sampai saat diajak untuk cankruan di sebuah mall dia terkagum-kagum pada gedung-gedung bertingkat yang ada disekitar mall itu, padahal dia selama ini tinggal di salah satu sudut ibukota yan ramai dan terkenal sebagai jalur macet.

sedih rasanya melihat dan merasakan sendiri kondisi kawan tadi. saat saya tiduran dikasur empuk dikamar saya yang luas dan sejuk karena adanya alat pendingin, pikiran ini teringat saya tidur di rumah kawan saya yang ukurannya lebih kecil dari luas kamar tidur saya, dan sangat panas karena kondisinya memang tidak layak. saya merasa jauh lebih beruntung dan saya sangat mensyukui hal itu.

kini kawan-kawan saya sekelas ingin membantunya sebagai semangat solidaritas yang memang sudah kita pupuk bersama sejak jaman kita sama-sama dikelas satu sma.

‘saga one vision’ itu kelas kita saat di sma yang berarti anak-anak kelas satu tiga yang punya visi bersama yang tunggal.

semoga kita berhasil ya……

Leave a Reply