sec awalnya

Awalnya…….

Tahun 2009 banyak sekali komunitas entrepreneur yang bermunculan di Surabaya. Mereka menggunakan berbagai nama, tapi pada intinya tetep satu tujuan yaitu untuk menyebarkan virus entrepreneur. Tapi saat itu sekitar tahun 2005 – 2006 kondisi jagat entrepreneur di Surabaya belum seramai seperti sekarang ini. Susah banget waktu itu buat nyari tokoh entrepreneur yang mau berbagi dan membimbing seseorang yang ingin merubah haluan hidupnya menjadi seorang entrepreneur.

Seperti yang diketahui bersama, entrepreneur adalah suatu cara menghasilkan uang sendiri oleh si individual tersebut tanpa harus bekerja atau menggantungkan diri pada orang lain. Sulitnya bukan main karena hamper tidak ada contoh dan kalaupun ada, sang tokoh itu sudah terlalu berkibar-kibar bisnisnya sehingga sulit terjangkau oleh para pemula.

Apalagi pandangan masyarakat terhadap dunia entrepreneur masih sangat rendah malah diberbagai tempat, bertindak sebagai entrepreneneur adalah sesuatu yang tabu dan akan mendapat banyak dicemoohan. Sungguh perjuangan yang berat saat itu buat menjadi seorang entrepreneur.

Pada tahun itu juga sekitar pertengahan 2005 beberapa orang alumnus peserta suatu pelatihan entrepreneur di Surabaya merasa kebingungan. Mereka bingung karena setelah selesai pelatihan itu mereka sangat bersemangat untuk mulai berbisnis, tapi mereka nggak ngerti musti bertindak apa jika mereka menemui suatu permasalahan dalam perjalanan bisnisnya.

Mereka tidak tahu harus bertanya dan berkonsultasi kemana. Memang dalam pelatihan entrepreneur itu dijanjikan buat para pesertanya berhak berkonsultasi gratis dan setiap saat bila menghadapi masalah. Masalah muncul setiap saat dan sering kali dating pada saat yang tidak diduga-duga, sementara para mentor dalam pelatihan entrepreneur itu tidak setiap saat bisa dimintai pendapatnya.

Dalam kebingungan itu para alumnus peserta pelatihan yang punya kesamaan nasib dan dalam kondisi kebingungan smua akhirnya jadi sering berkumpul bersama. Mereka menjadi cepat akrab karena selain punya persamaan nasib ingin jadi entrepreneur tapi kebingungan mencari jalan untuk menenpuhnya juga karena mereka itu rata-rata usianya belum lagi mencapai 30 tahun-an. Usia mereka sekitar 24-28 tahun. Rata-rata juga masih bujangan dan belum menikah, juga mereka semua para (calon) entrepreneur muda yang memulai bisnis benar-benar dari bawah.

Setiap kali berkumpul bersama yang dalam istilah pergaulan disurabaya disebut ‘cankruan’ yang dibahas gak jauh dari masalah bisnis yang mereka alami. Lagi-lagi karena semuanya adalah pemula maka masalah yang dialami oleh mereka masing-masing jadinya hampir-hampir sama satu dengan lainya. Ya sudah, semakin menjadilah diskusi mereka ini jadinya. Yang satu melontarkan masalah dan yang lain yang sudah mengalami, dan melewati masalah itu lalu memberikan saran solusi pemecahannya.

Hampir setiap hari cankruan itu mereka lakukan kadang kala mulai pagi sampai jauh malam bahkan sampai pagi lagi. Mereka saling butuh semangat dan mereka saling menyemangati satu sama lainnya sehingga cankruan ‘bergizi’ itu jadinya membuat ketagihan dan semakin menjadi agenda rutin. Tempat kumpulnya juga bisa dimana saja, yang paling sering mereka cankruan di warung kopi yang banyak bertebaran di kota Surabaya.

Bila dua orang diantara mereka sudah berkumpul, maka mereka akan berusaha menghubungi kawan-kawan yang lainnya. Dan kawan-kawan yang lain yang sedang longgar dari aktivitasnya akan bergabung sehingga cankruan akan semakin seru dan semakin bergizi.

Akirnya melihat aktivitas bingung dari alumni pelatihan itu salah seorang mentor yang kebetulan juga berdomisili disurabaya, mengusulkan untuk menghidupkan sebuah komunitas entrepreneur Surabaya yang sempat beliau kelola bersama kawan-kawan segenerasinya pada tahun 2002 tapi kemudian menjadi mati suri pada tahun-tahun berikutnya karena para motor penggeraknya menjadi sibuk mengelola bisnisnya masing-masing yang semakin tumbuh besar. Komunitas itu mereka namakan Surabaya Entrepreneur Club atau biasa disingkat SEC. Mentor ini mengajak para alumnus yang sedang bingung ini untuk menghidupkan kembali komunitas itu, supaya mereka bisa punya wadah cankruan yang lebih bonafit dari pada sekedar cankruan yang walaupun penuh gizi tapi seringkali tanpa arah tujuan.

Tentu saja usulan itu disambut gembira oleh seemuanya. Sehingga tahun 2005 itu resmi kembali dihidupkannya komunitas Surabaya Entrepreneur Club.

Sebagai ketua dupilihlah Faisol Pilar seorang entrepreneur yang bergerak dalam bidang property untuk menggerakkan organisasi ini. Tapi ternyata dalam perjalanan yang hanya hitungan bulan Faisol Pilar tidak sanggup untuk rutin mengumpulkan kawan-kawan yang lain untuk berkumpul dan berdiskusi bersama.

Lalu dipilihlah Zainal Fanani untuk menggantikannya.

Di era kepenguran Zainal Fanani SEC berjalan cepat dengan sering diadakan berbagai kegiatan. Karena para anggota aktif SEC masih muda dan masih baru dalam berbisnis format kegiatan dari SEC ini juga gak jauh-jauh dari jiwa mereka yang masih muda. Agenda rutin dari komunitas ini adalah sharing bisnis. Sharing bisnis adalah acara kumpul-kumpul yang bernuansa serius tapi santai dikemas tetap dalam format cankruan, tapi tempatnya agak dirubah sedikit yang tadinya diwarung-warung kini diadakan dirumah anggotanya. Biasanya cankruan ini diadakan setiap dua minggu sekali. Disini para anggota yang jadi peserta sharing atau cankruan itu akan diajak untuk merubah wawasan atau mindsetnya. Dimana para anggota saling berbagi satu sama lainnya tentang pengalaman bisnis mereka, masalah-masalah yang dihadapi dalam keseharian menjalankan bisnis dan menemukan solusi yang tepat untuk itu.

Pada prinsipnya kegiatan mereka masih tetep sama cuman formatnya saja yang berbeda. Sebagai penambah semangat dan penambah wawasan karena sudah punya wadah komunitas maka kini SEC sudah bisa mengundang pembicara tamu yang memberikan materi dalam forum-forum SEC.

Rupanya Zainal Fanani tidak bisa juga bertahan lama sebagai ketua walaupun semangatnya masih besar dalam membesarkan komunitas dan menularkan virus entrepreneur. Posisinya yang masih sebagai karyawan suatu perusahaanbesar di Indonesia tidak memungkinkan lagi untuk berkiprah, Zainal mendapat promosi kenaikan pangkat sehingga sering harus keluar daerah bahkan sering harus berkunjung ke pulau-pulau di wilayah Indonesia timur yang merupakan wilayah kerjanya.

Seringnya Zainal berpergian membuat kegiatan SEC berantakan lagi, seperti anak ayam kehilangan induk, membuat para anggota SEC bingung harus berbuat apalagi dalam berkumpul untuk sharing. Beerapa bulan kegiatan SEC menjai vakum, padahal anggotanya semakin banyak. Karena pada akhirnya yang datang di sharing cankruan ini gak melulu mereka yang sudah punya usaha sendiri, tapi juga yang belom punya bisnis tetapi punya keinginan kuat untuk mulai berbisnis juga boleh ikut. Juga walaupun pada awalnya dirintis dan digawangi oleh para alumni suatu pelatihan entrepreneur tapi kemudian siapa saja yang bukan alumni pun tertarik dating dan bergabung dengan SEC. Intinya siapa saja boleh ikut meramaikan sharing cankruan ini malah yang usianya bukan kategori anak muda juga banyak yang datang, kata mereka supaya ketularan semangatnya.

Kevakuman forum SEC bikin gelisah karena kebutuhan akan forum-forum cankruan yang bergizi ini seakan mendarah daging buat angota-angotanya yang aktif , baik saat cakruan juga aktif dalam meng-aplikasikannya di lapangan bisnis masing-masing.

Mereka sadar berbagi ilmu dan membangun jaringan sangat penting untuk pengembangan bisnis kedepan. Salah satu cara berbagi ilmu dan membangun jaringan yang termurah biayanya adalah mengikuti komunitas. Dengan berkomunitas akan membentuk networking, padahal membangun jejaring bisnis adalah salah satu sarat dalam pengembangan bisnis. Tidak ada satupun alasan bagi entrepreneur untuk mengabaikan pentingnya jaringan.

Akhirnya diawal tahun 2006 dengan dipelopori oleh sepuluh anak muda yang bersemangat yaitu, Priyo Husodo, Andi Sufariyanto, Samurai, Brian Fauzan, Mudji Harmanto, Dimas Bre, Agus Ariyanto, Riano DP, Samsul Hidayat, Danton prabawanto, dan Bowo Sumiko akhirnya SEC beraktivitas kembali.

Kali ini kesepuluh anak muda itu sepakat untuk memilih Priyo Husodo yang akan memimpin mereka semua dalam membesarkan dan mengelola SEC.

Selain acara rutin forum dan cankruannya yang sudah terkenal itu SEC sebagai sebuah komunitas entrepreneur tetep harus sering berinteraksi dengan banyak pihak, selain untuk menambah networks juga berbagi pengalaman dan mencari ide-ide baru. Jadi forum sharing SEC gak melulu di format seperti cankruan tapi juga bikin semacam seminar kecil yang mendatangkan pembicara dari luar yang lebih ahli di bidang ilmu bisnis seperti pakar francise, pakar managemen, pebisnis radio, pebisnis restoran atau rumah makan yang lebih senior di Surabaya. Bahkan juga mendatangkan pembicara dari Jogjakarta dan Jakarta.

Makanya kemudia Priyo Husodo sebagai ketua ketiga SEC kemudian juga sering mengadakan kunjungan bisnis ke berbagai tempat seperti ke radio-radio bisnis dan anak muda Surabaya supaya lebih banyak dapat ilmu dan bisa berbagi dengan masyarakat yang lom sempat datang ke forum cankruaannya SEC. pokoknya visi dan misi komunitas ini adalah menyebarkan virus entrepreneur sebanyak-banyaknya dikalangan muda mahasiswa pada khususnya dan masyarakat luas pada umumnya.

Dibawah kepemimpinan Priyo Husodo pun, SEC tetep mempertahankan budaya cankruannya yang terkenal itu. Sebab seringkali setelah forum atau cankruan “resmi’ yang diadakan dirumah salah seorang anggota, beberapa anggota yang belum puas diskusi, pingin melanjutkan obrolan ke tempat lain, seperti asal muasal para dedengkot cankruan dulu, yaitu warung kopi atau warung pecel dan biasanya juga tetep berlangsung diskusi diselingi canda tawa dan gojlokan-gojlokan sampai pagi.

SEC tetep berbudaya tradisional tapi berwawasan global sehingga terus maju berkembang pesat tanpa meninggalkan akar budaya jawatimurnya yang kental.

Leave a Reply