sebuah diskusi ringan tentang credit, yang gak menarik…

posted in: Entrepreneurship | 0

Sang Samurai apa kabar? Bagaimana dengan hutang-hutang Mas Samurai? Apakah Sang Samurai tetap meyakini bahwa utang harus dibayar dengan hutang?

Haloo saya selalu dalam kondisi baik, alhamdulillah, hehehe…

Kondisi hutang-hutang saya sedang dalam proses pembayaran karena sekarang ini saya sedang bener-bener fokus untuk mencari uang agar pondasi penghasilan dan cash flow saya kembali menjadi baik sebaik saat sebelum krisis dulu. Dengan adanya keuangan dan cash flow yang baik maka saya akan bisa memproses hutang-hutang lama saya.

Saya pribadi tetep yakin seyakin-yakinnya kalo hutang itu harus tetep dibayar dengan hutang bukan dari penghasilan atau perputaran bisnis. Sebab berdasarkan yang saya ketahui bahwa hutang itu harus kita bayarkan tepat 30 hari setelah credit itu acc dan cair, sedangkan perputaran bisnis yang kita lakukan dengan menggunakan uang modal dari hutang belum tentu menghasilkan atau memberikan keuntungan pada 30 hari setelah kita gunakan uang hutang itu untuk modal.

Bahkan pada masa 60-120 hari setelah uang hutang itu berputar masih belum tentu bisa memberikan hasil yang cukup untuk membayar hutang, makanya saya mending membayar hutang dengan hutang baru yang lebih mudah saya peroleh.

Kecuali jika bisnis kita memang bener-bener sudah sangat sehat, penghasilan dari bisnis kita sebelum berhutang sudah bisa membayar biaya operasional sebelum kita berhutang, penghasilan dari bisnis kita sebelum berhutang juga sudah cukup untuk membayar hutang yang akan kita ambil. Jadi hutang yang kita ambil itu bener-bener bisa menumbuh kembangkan omset bisnis.

Saya sih sependapat dengan Sang Samurai, bahkan menurut saya pengusaha hebat sekelas Chaerul Tanjung pun bisnis-bisnisnya belum tentu bisa melunasi hutang-hutangnya, sebab saya juga yakin seiring dengan perkembangan bisnisnya maka pasti hutang perusahaan beliau akan bertambah terus, bahkan beliau malahan membuat bank menjadi salah satu bisnisnya, saya menduga ini juga salah satu cara agar beliau gak kekurangan modal jika butuh hutang baru ?

Secara bisnisnya setiap bank memang harus selalu mau ngasih tambahan pinjaman kan kepada nasabahnya yang butuh tambahan modal, dan setiap bank memang diberi target agar dana harus tersalurkan dan diputar lagi dalam bentuk kredit ke nasabahnya agar bisnis di bank tersebut juga berputar, karena pemberian kredit pada nasabah merupakan salah satu bisnis buat bank yang paling potensial. Tetapi pada kenyataannya nasabah-nasabah yang berani berhutang dengan pinjaman yang gede jarang-jarang yang mau dan berani, sehingga akhirnya yang diberi tambahan modal hutang oleh bank memang yang sudah ada dan punya hutang banyak.

Bagaimana menurut Sang Samurai?

Memang begitulah yang terjadi dilapangan, sering kita hanya berpikir sebagai nasabah yang butuh kredit, dimana yang butuh dan kesulitan itu cuman kita, tapi kita jarang bahkan gak pernah berpikir kalo pihak bank seringnya juga kesulitan nyari nasabah yang mau kredit padahal mereka sebagai unit bisnis yang bergerak di bidang permodalan juga punya target pengucuran dana kredit, agar bisnisnya berputar secara sehat.

Buat yang sudah kebanjiran dana kredit atau modal dari bank juga mesti sadar kalo kita sebagai nasabah kredit dari lembaga perbangkan juga pasti dianggap punya batas maximal perolehan kredit oleh mereka, sehingga kalo oleh bank batas kredit yang kita peroleh sudah dianggap maksimal dan penghasilan kita juga dianggap oleh bank dah gak mungkin untuk memperoleh kredit baru maka bank pasti akan menghentikan pengucuran kredit  pada kita dan bisnis kita.

Untuk itu maka maka harus punya senjata cadangan, jangan sampai bank menghentikan pemberian kredit pada kita dan bisnis kita, sebab jika hal ini terjadi dan bisnis kita belum terlalu sehat maka cahflow dan perputaran uang dalam bisnis kita bisa berantakan dan berakibat terjadinya kredit macet.

Senjata Cadangan yang Sang Samurai Maksud? Apakah Maksud Sang Samurai itu adalah dengan cara membuka PT?

Hahahaha, nggak harus gitu juga deh, yang penting selalu siap kalo dianggap oleh bank batas limit kredit dan hutang sudah maksimal biar gak kaget dan bingung saat itu terjadi dan bikin pola pikir kita kacau sehingga bener-bener terjadi kredit macet seperti yang pernah saya alami.

Bukan hanya karena kondisi internal bisnis kita yang gak siap yang bisa berakibat terjadinya kredit macet terjadi malah yang sering terjadi kredit macet itu disebabkan karena faktor eksternal seperti ditipu oleh rekan bisnis atau kawan terdekat kita dan karena resesi ekonomi global yang semuanya gak pernak kita duga, prediksi dan kita persiapkan.

Maka mesti punya rencana setiap saat….

Sang Samurai Sehat? Bagaimana buku barunya, kapan dipasarkan? Btw, bisnis apa yang oleh bank tidak bisa dinilai penuh? Dan bisnis apa yang disukai oleh bank sehingga kita selalu bisa diberi tambahan kredit?

Alhamdulillah saya selalu sehat dan seep-seep aja kok ? Buku baru saya masih dalam taraf menawarkan naskahnya pada penerbit, dan menawarkan naskah buku ke penerbit itu sama sulitnya seperti menawarkan produk kita pada konsumen ?

Berdasarkan pengalaman saya, bisnis yang gak bisa dinilai penuh itu adalah bisnis yang resikonya dianggap terlalu besar dan sulit diprediksi antara lain seperti kontraktor dan pertanian atau peternakan sedangkan bisnis yang disukai bank adalah bisnis perdagangan dan supplier dimana perputaran bisnisnya dianggap jelas dan pasti menurut hitungan mereka. Maka apapun bisnis kita jalani selalu bikinlah perwujudannya menjadi bisnis yang disukai oleh bank sehingga perolehan kredit yang kita inginkan selalu maksimal.

Apa Kabar Sang Samurai, lagi ngurus bisnis apa akhir akhir ini?

Saya tetap bisnis dan berjualan pecel kok, Wenmit Pecel Bento (http://wenmit.com/), itu memang satu-satunya bisnis yang sedang saya tekuni belakangan ini, karena bisnis kuliner memang bisnis yang saya sukai maka saya tekuni dan memang saya fokus dibidang ini.

Pada kenyataanya memang bisnis kuliner apalagi jualan pecel merupakan bisnis yang kurang disukai oleh bank (tapi tidak semua bisnis kuliner itu kurang disukai oleh bank, tetep banyak bank yang suka memberikan kredit secara maksimal pada pebisnis kuliner sebab margin keuntungan dari bisnis kuliner sudah diketahui secara umum berkisar 30%-40%) dan memang agak sulit dalam bisnis yang saya jalani ini untuk memperoleh kredit yang maksimal dari bank. Karena saya menyadari nya maka saya selalu tunjukkan apa yang bank sukai dan semua persyaratan yang bank minta juga selalu saya penuhi sehingga walopun lambat kreditnya tetep bisa mengucur juga.

Sang Samurai, kalo bisnis jasa (loundry) apakah kurang diminati oleh Bank untuk dibiayai?

Nggak juga kok kata siapa?

Kata Sang Samurai kemarin, bahwa bisnis yang disukai oleh Bank adalah perdagangan dan supplier…

Yup, bener banget, tapi nggak juga terpaku secara kaku seperti itu. Yang saya sampaikan itu kan bentuk bisnis secara global dan umum.

Pada kenyataan dilapangan apapun bentuk bisnisnya, jika bank merasa pada bisnis tersebut tidak mengandung resiko yang besar dan sulit diprediksi, jika bank merasa sudah mengenal bisnis tersebut, jika bank bisa menganalisa bisnis tersebut, jika bank bisa melihat secara riil bisnis itu berjalan dan berputar, jika bank bisa memonitor dengan mudah perputaran uangnya dengan melihat aktivitas laporan keuangan, mutasi rekening, nota-nota penjualan dan pembelian, jika bank bisa melihat adanya stok barang dalam bisnis tersebut, maka bank pasti suka dan akan mengucurkan kreditnya secara maksimal.

Maka berdasarkan yang saya sampaikan maka yang paling umum dan gampang ditengarai perputarannya dan paling gampang di evaluasi oleh bank adalah bisnis perdagangan dan supplier yang terus tumbuh dan makin berkembang.

Memang kalo dipikir lebih dalam, saya kira memang pembayaran hutang itu tidak bisa diambil dari laba bisnis, harus dibayar dengan hutang lagi. Itu sebabnya, pengusaha-pengusaha yang sudah besar, melakukan suatu trik agar dapat pinjaman gede, lalu dengan pinjaman gede itu mereka melunasi hutang-hutang mereka sebelumnya, dan begitu seterusnya, mohon tanggapan Sang Samurai.

Saya kok nggak yakin mereka, para pengusaha besar itu bener-bener melunasi hutang-hutang mereka, memperbesar, menambah dan mereschedule hutang saya kira memang mereka lakukan, tapi bukan melunasi hutangnya. Kalo hutang mereka sudah lunas, lalu untuk masalah permodalan bisnisnya mereka pake apa donk? Pake investor juga bisa sih tapi rasanya akan lebih ribet dan sulit jika dibandingkan mencari modal lewat hutang bank. Dan menurut saya apakah itu dana modal dari investor atau dari bank tetep saja hutang kan, yang harus dikembalikan atau diberikan kompensasinya.

Sang samurai, begini, dari beberapa literatur kisah nyata yang sempat saya baca, saya dengar dan saya ketahui, ada sebuah perusahaan yang pada awalnya punya hutang 3 milyar, lalu tahun berikutnya bank memberikan tambahan modal baru berupa kredit oleh bank, kredit tambahan atau kenaikan limit kredit yang diberikan ileh bank tersebut mulai dari nilai 500 juta sampai pada akhirnya perusahaan tersebut memperoleh kredit sebesar 15 milyar, kenaikan yang luar biasa, jika saya melihat kreditnya dimulai dari angka 3 milyar.

Pada suatu saat yang dianggap tepat perusahaan itu melakukan sebuah tindakan, dia membeli sebuah hotel, dan tentunya modal pembelian hotel itu dibantu oleh bank dengan pengucuran kredit baru senilai 45 milyar. Pengusaha itu memang mengajukan kredit baru pada angka  yang jauh lebih tinggi dari harga sesungguhnya hotel yang akan dibelinya itu, karena memang dia bermaksud menggunakan uang dari kredit barunya yang dikucurkan atas pembelian hotel tadi itu sebagian saja.

Dari total 45 milyar kredit yang baru dia dapatkan itu, hanya sebagian yang dia gunakan untuk modal bisnis hotelnya. Untuk bisnis hotelnya, dia hanya menggunakan sebesar 28 milyar saja sedangkan sisanya dia gunakan melunasi hutang-hutang lamanya yang total nya berjumlah sekitar 15 milyar itu…

Jika itu yang dimaksudkan maka konteks yang kita bicarakan bukannya melunasi hutang, tapi melakukan pengalihan hutang, dari hutang kecil-kecil dan banyak dialihkan menjadi satu yang besar sekalian sehingga kontrol dan monitornya lebih gampang. Begitu mungkin yang dimaksudkan ya….

Saya bisa setuju dan bisa juga nggak setuju dengan situasi seperti ini.

Saya setuju memang mengalihkan hutang kecil-kecil dan banyak ke sebuah hutang besar itu akan membuat kita bisa bekerja lebih efisien secara kontrol dan monitor. Tapi melunasi hutang yang kecil-kecil dengan mengubahnya menjadi hutang yang besar kan gak harus nunggu perusahaan kita gede dulu, itu bisa dilakukan kapan saja secara bertahap, dan ini biasanya kita lakukan karena kita bosan dan capek membayar angsurannya di banyak bank.

Yang saya gak setuju kenapa harus menjadikan banyak hutang dari banyak bank ke satu hutang gede ke satu bank saja, itu lebih beresiko kalo menurut saya….

Maksud Sang Samurai, fokus di satu bank saja ya hutangnya….

Bukan begitu, banyak orang pinginnya gitu,  banyak orang yang pinginnya hanya fokus di satu bank saja hutangnya dan hutang itu sekalian gede di satu bank biar gak capek ngaturnya biar menjadi lebih mudah dalam pengawasannya. Tapi dengan kondisi ini malahan saya gak suka karena jadinya kita akan punya ketergantungan hanya dengan satu bank saja padahal monopoli dan ketergantungan itu dalam segala situasi kan nggak diperbolehkan sebab berbahaya sekali.

Kalo saya lebih suka punya banyak hutang ke banyak bank sekaligus dan kalo bisa jumlah hutangnya gede-gede semua dengan perolehan yang maksimal semuanya ? Kemudian berdasarkan yang saya tahu jarang seorang konglonmerat yang hanya punya hutang di satu bank saja, mereka biasanya selalu punya hutang secara maksimal di beberapa bank sekaligus, minimal mereka punya hutang di tiga bank.

Sang Samurai, saya barusan jalan jalan di mall, saya amati banyak bisnis di mall dan akhirnya saya pikir memang gak bisa hasil bisnis dipake untuk bayar utang, mulai dari biaya pembangunan, biaya interior, rak barang, pengadaan stok, fasilitas tambahan, biaya operasional semuanya di modali pake duit hutang kan, dan seringnya kebutuhan biaya operasional lebih gede dari uang modal apalagi jika modalnya dari hutang, nah ujung-ujungnya bisnis jadi gak bisa bayar utang, karena profit kalah cepat pertumbuhannya dari pertumbuhan kredit…..

Saya kira juga begitu, ketika kita berhutang, maka angsurannya harus dibayar bulan depannya hanya sekitar 30 hari setelah kredit kita masuk ke rekening,  tapi begitu bisnis dibuka maka belum tentu 30 hari kemudian kita sudah bisa menghasilkan laba yang bisa di pake untuk perputaran bisnis, nutup biaya operasional dan untuk membayar hutang, bisnis kita yang baru kita buka itu baru bisa untung entah di bulan keberapa, bisa 3 bulan, 6 bulan bahkan lebih yang jelas jarang banget 30 hari setelah credit cair bisnis kita bisa untung.

Kalo memang di semua lini bisnis seperti yang Sang Samurai katakan, lalu bagaimana dengan Banknya? Kalo Benar APA yang Sang Samurai katakan, bahwa utang harus dibayar dengan utang, kenapa sampai saat ini dunia perbankan tidak terganggu oleh kondisi tersebut??

Nggak semua lini bisnis harus berhutang lagi untuk membayar hutangnya, saya sih bilangnya hanya untuk pebisnis pemula dan memang sebaiknya begitu, buat pebisnis yang bisnisnya bener-bener sudah running dan sehat maka bayarlah dengan profit sehingga hutangnya bisa menyusut.

Itu jika bisnis kita memang bener-bener sudah sangat sehat, penghasilan dari bisnis kita sebelum berhutang sudah bisa membayar biaya operasional sebelum kita berhutang, penghasilan dari bisnis kita sebelum berhutang juga sudah cukup untuk membayar hutang yang akan kita ambil. Jadi hutang yang kita ambil itu bener-bener bisa menumbuh kembangkan omset bisnis.

Bank sudah punya banyak keuntungan dari hutang atau kredit yang mereka berikan pada nasabahnya. Asuransi, bunga, denda, iuran tahunan, provisi, dan ancaman-serta sangsi bila hutang kita macet, itu menjadi bagian dari keuntungan bank makanya secara operasional bank tidak terpengaruh bila kita minta plafond hutang kita di naikkan terus.

Apakah saldo Bank akan tergerus oleh penambahan limit kredit nasabah?? Disisi lain pada  kenyataanya dunia perbankan tetep baik baik saja, mohon pencerahannya….

Nggak lah, berapa banyak sih yang paham dan berani untuk terus menaikkan plafond pinjamannya hingga maksimal? Dibandingkan dengan seluruh jumlah penduduk indonesia, hanya sebagian kecil yang bisa memperoleh kredit dari bank, dan dari yang sebagian kecil itu hanya sedikit sekali yang paham, dan berani mengajukan kredit secara maksimal.

Bahkan dari sebagian kecil orang yang bisa memperoleh kredit dari bank, lebih banyak yang gak paham memaksimalkan kredit dan gak berani meminta agar diberikan kredit secara maksimal..

Jadi kalo menurut saya, jumlah hutang yang ditawarkan bank pada nasabahnya masih jauh lebih banyak daripada jumlah orang yang bisa mendapatkan kredit. Jumlah hutang yang ditawarkan bank pada nasabahnya masih jauh lebih banyak dari orang yang bisa mendapatkan kredit tapi mau dan mampu mengambil kredit secara maksimal.

Kesimpulan yang ada, menurut perkiraan saya, dari melihat kondisi yang terjadi sekarang ini, terjadi jumlah plafond kredit yang ditawarkan dan menjadi target operasional bank masih jauh lebih besar dari jumlah nasabak kreditnya. Sehingga bank tetep bingung dalam menyalurkan dana kreditnya.

Sang Samurai, bagaimana restrukturisasi hutang?

Sebenernya restrukturisasi utang itu merupakan hak setiap nasabah bila creditnya terjadi kemacetan, tapi dilapangan banyak yang kurang paham dengan haknya ini. Ditambah lagi bank jarang sekali memberikan solusi ini sebagai jalan keluar pada nasabahnya yang macet. Bank lebih suka menakut-nakuti nasabahnya yang macet dengan cara mengirimkan tukang tagih alias debt collector untuk menagih nasabahnya dan agar nasabahnya bisa membayar lunas tagihannya yang macet itu.

Sang Samurai, saya lagi baca kembali Tulisa Sang Samurai “perusahaan gede saja ngutang” nah, bagaimana sekarang kondisi hutang perusahaan gede itu? Trus mereka pake agunan apa ya?

Berdasarkan berbagai literatur yang ada, baik buku, koran ataupun internet, semua memaparkan bahwa perusahaan-perusahaan gede itu semakin memperbesar hutangnya deh, dan bukannya mengurangi hutang mereka. Mereka membutuhkan hutang karena mereka butuh hutang untuk mengembangkan perusahannya dan untuk terus berekspansi, mereka memperbesar hutang karena bisa menyatakan dengan tegas kalo perusahaan mereka terus tumbuh dan selalu menghasilkan profit.

Dengan laporan seperti itu bank mana yang nggak mau ngasih kredit? Semua bank pasti berlomba-lomba untuk mengucurkan kredit pada berbagai perusahaan itu. Selain bank sudah mengenal perusahaan-perusahaan itu, duit bank yang ditanamkan di perusahaan tersebut dalam bentuk piutang sudah sedemikian besar jadi bila ada keterlambatan bayar maka bank juga terkena imbasnya.

Bila perusahaan-perusahaan gede itu kesulitan bayar maka mereka pasti akan mangajukan restrukturisasi pembayaran hutang dan biasanya bank akan menyetujui restrukturisasi pembayaran hutang tersebut. Selain itu pula jika ada kredit macetnya atau gagal bayar hutang maka biasanya pemerintah pasti akan turun tangan.

Kelihatannya memang gak adil ya, dimana nasabah-nasabah kecil yang macet terus ditekan sedemikian rupa agar membayar tunggakannya bila terjadi kemacetan, tapi perusahaan-perusahaan gede bisa dapat fasilitas lebih dari negara ?

Situasi ini tentu memberikan rasa aman pada bank dan perusahaan-perusahaan gede itu untuk selalu berhubungan dalam bentuk kerjasama hutang piutang.

Sang Samurai, apakah kalo mutasi rekening seorang debitur terlihat bagus, akan mutasi rekening yang bagus tersebut dapat membantu debitur pada saat debitur krisis keuangannya?

Nggak ada gunanya pak. Mutasi rekening yang bagus nggak akan ada gunanya saat debitur sedang dalam menghadapi krisis keuangan. Sebab bank hanya mau tahu kalo angsuran dari hutang-hutang tersebut dibayar oleh nasabahnya tepat pada waktunya dengan angka yang sesuai dengan yang sudah disepakati. Gak boleh kurang tapi kalo bayar lebih juga nggak dikembalikan kecuali kita mengajukan permohonan minta agar pembayaran yang lebih itu dikembalikan pada kita.

Mutasi rekening yang bagus hanya berguna pada saat kita mengajukan kredit pada bank bukan pada saat kita mengalami krisis keuangan.