rapot merah

DWS-Raportsaya pernah diberitahu oleh seorang mentor entrepreneur saya tentang istilah ‘pengusaha itu selalu butuh duit buat menjalankan roda usahanya, sedangkan bank itu selalu melihat kredibilitas dalam mengucurkan dana kreditnya’

itu memang bener banget dan semua orang juga sudah tau, sebab memang itulah yang terjadi dalam kehidupan sehari-hari. siapa sih yang gak mau main aman dalam mengelola uangnya apalagi jika uang tersebut harus dipinjamkan ke pada pihak lain yang notabene belom dikenal. disisi lain beneran saya ngerasain sendiri saat menjadi pengusaha bahwa memang harus mengeluarkan duit dulu buat mendapatkan duit yang lebih gede lagi, yang pada akhirnya disebut profit.

jadinya seperti lingkaran yang tidak berujung pangkal – seperti sebuah jargon tentang mana yang terjadi duluan telur atau ayam –

nah dalam kondisi yang begini ini terjadilah adu kepinteran antara pengusaha dengan pihak bank. yang satu supaya kredit buat modal usahanya bisa keluar, sedang yang satunya berupaya agar saat pencairan kreditnya aman dan terbayar sampai lunas.

sebenernya para pengusaha itu tertutama yang bener-bener menggantungkan hidupnya dari bisnis juga gak akan mau main-main dengan uang modal apalagi uang itu hasil dari kredit.  pengusaha tetep punya keingian agar dirinya bisa mengembalikan uang hasil kredit yang diputer dibisnisnya itu tepat pada waktu jatuh tempo.  tujuannya agar semakin dipercaya oleh perbankan sehingga nilai kredit yang diperolehnya dapat naik terus. saya yakin hampir tidak ada pengusaha yang saat mendapatkan uang kredit memang berniat tidak baik untuk membawa kabur duit tersebut.

saya juga termasuk yang punya cita-cita mulia itu.  saya juga ngalamin sulitnya mendapat kepercayaan dari bank untuk memperoleh pinjaman walaupun dalam perjalanan bisnis saya, pada akhirnya uang bank yang saya kelola cukup besar. duit kredit itu bukan dibuat main-main atau buat foya-foya tapi beneran diputer dalm bisnis, sekitar lima tahun saya kelola bisnis saya dengan uang hasil kredit itu, hasil yang saya peroleh sangat baik sehingga kepercayaan bank pada saya semakin besar sehingga limit kredit saya selalu naik setiap tahunnya. dan naiknya juga gak tanggung-tanggung selalu dengan plafond yang sangat bagus.

saya juga gak ada niatan buat ngemplang duit itu. tapi tidak ada seorangpun yang menduga jika diakhir tahu 2008 dan diawal tahun 2009 terjadi krisis ekonomi dunia. dimana-mana timbul masalah terutama dikalangan perbangkan. efek dari masalah tersebut, dunia pebankan mengencangkan sabuknya dalam pengucuran kredit. nah kalo bank sudah mengencangkan pengucuran kreditnya yang paling kena imbas adalah para pengusaha, termasuk saya.  tidak ada lagi dana yang bisa diharapkan untuk memutar roda bisnis sambil menunggu tagihan cair atau membeli barang dagangan yang baru.

duit kredit dari bank tidak turun, roda bisnis semakin pelan muternya dan pembayaran tagihan dari  relasipun semakin tertunda, sehingga berakibat fatal bagi bisnis saya. tadinya saya pikir itu hanya terjadi pada diri saya akibat kebodohan saya dalam mengelola bisnis. ternyata saat saya mengeluh dan sharing pada banyak teman, merekapun mengalami kondisi yang sama dengan saya, bahkan seringkali terjadi kondisi mereka lebih parah dari saya.

dengan kondisi rumit ini sebagai entrepreneur saya kan gak pingin mati sia-sia dalam waktu cepat. saya harus bisa bertahan memperkuat pondasi bisnis saya sehingga bisa melawati masa sulit ini. pemasukan yang berkurang membuat pengaturan cash flow dalam bisnis harus ektra hati-hati dan mau tidak mau saya juga akhirnya harus mulai menunda pembayaran tagihan-tagihan yang jatuh tempo. duitnya bukan dibuat macem-macem tapi tetep dipakai buat muterin usaha.  dulu duit yang dipake muterin bisnis, selain dari keuntungan usaha, saya dapat juga dari kredit bank.  tapi sekarang karena kredit bank tidak turun lagi maka duit yang saya pake sebagai ganti dari kredit bank adalah duit yang seharusnya digunakan untuk membayar tagihan yang sudah jatuh tempo.

saya yang tadinya selalu bayar tagihan tepat waktunya kini mulai menunda pembayaran, sehingga beberapa tagihan yang sudah jatuh tempo tidak terbayar saat jatuh temponya.

saya kira ini bisa ditolerir karena toh saat tagihan bulan ini tidak saya bayar, saya sudah terkena  denda dan tambahan bunga akibat keterlambatan pembayaran tagihan tersebut.

saya memang pernah kerja di salah satu bank asing saat baru lulus kuliah dulu, jadi sedikit banyak saya paham  apa yang terjadi bila saya gak bayar tagihan tepat pada waktunya. hukuman bagi seorang yang tidak bayar tagihan tepat pada waktunya ke bank adalah tidak hanya terkena bunga berbunga plus denda saja tapi juga tercatat dalam laporan negative di bank indonesia.

ini yang terparah, masuk catatan negative bak indonesia.

tadinya saya agak meremehkan sangsi terakhir. sansi bunga berbunga juga saya remehkan yang saya paling khawatir adalah datangnya para tukang tagih kerumah atau kekantor saya. debt kollektor yang datang itu yang paling saya khawatirkan.

ternyata kekhawatiran saya salah besar.

seperti bunga berbunga dan denda, debt kollektor ini ternyata bisa saya tangani.  mereka akhirnya menjadi kawan baru saya, bahkan  beberapa diantara debt kollektor itu menjadi kawan baik saya dan menjadi partner bisnis saya.

catatan negative bank indonesia yang tadinya saya remehkan ternyata ini merupakan masalah terbesar yang saya terima. yang kelihatannya remeh ini justru yang paling menghancurkan efeknya dan paling berbahaya. tadinya saya beranggapan jika keterlambatan saya dalam pembayaran tagihan mulai diselesaikan pelan-pelan maka catatan itu akan membaik dengan sendirinya, memang prosesnya lama seiring dengan pembayaran saya, itu yang ada dalam pikiran saya.

ternyata yang terjadi sangat mengerikan. catatan negative saya memang membaik tapi tetep saja nama saya sebagai penunggak kredit di bank gak bisa hilang begitu saja. bank tetep tidak percaya terhadap saya walaupun catatan di bank indonesia mulai menunjukkan kemajuan dalam pembayaran.

untuk menjaga supaya saya gak bertambah macem-macem, walaupun saya sudah mulai membayar tagihan nya lagi, bank menutup akses saya di semua jalur kreditnya.  seperti misalnya, jika pinjaman tanpa agunan saya tertunggak maka kartu kredit saya di bank yang sama dan dalam status lancar pembayarannya tetep diblokir oleh bank, sehingga gak bisa saya pakai lagi. mungkin sistem di bank dibuat begitu supaya kerugiannya gak bertambah. tapi akibatnya sangat fatal buat saya, akses pendanaan saya di perbankan semakin tertutup.

efek lainnya, rekening yang ada uangnya juga di blokir sepihak, dan dananya dipakai untuk membayar tagihan tertunggak di bank tempat saya punya rekening yang diblokir itu. dan yang terparah beberapa fasilitas perbankkan yang tadinya saya terima sebagai nasabah mulai ditarik,  karena saya punya masalah dengan bank mereka. artinya semua jalur hubungan saya dengan dunia perbangkan ditutup.

dengan begitu habislah saya.

bukan hanya saya, istri sayapun terkena imbasnya, sebagai istri yang bersuamikan seseorang yang punya masalah kredit dengan bank maka diapun dianggap berbahaya pula. akses kreditnya pun ditutup, walaupun statusnya di catatan bank indonesia baik.

modal kerja yang selama ini bergantung dari bank terputus tus tanpa toleransi, bukan hanya di bank yang bersangkutan tempat kredit macet saya, tapi disemua bank di indonesia,  yang mengakses data diri saya berdasarkan rapot merah saya dalam catatan negative bank indonesia.

yang dulu saya mudah dapat fasilitas, saya sekarang seolah-olah menjadi mahkluk mengerikan dan berbahaya yang harus dijauhi semua bank. kalo pingin membela diri sendiri saya bisa berteriak “itu kan bukan kemauan saya, saya hanya salah satu korban dari krisis, tapi kenapa akibat yang saya tanggung sedemikian berat, lagian saya kan juga terus membayar semua kewajiban saya yang ada di bank”

jadi cengeng memang akhirnya saya. tapi itu juga jadi salah satu tantangan lagi buat saya untuk tetep bertahan hidup dan mempertahankan perputaran roda bisnis untuk menghidupi keluarga.

tidak ada toleransi – itu bila kita berhadapan dengan sistem komputer – sekali jelek ya tetep jadi jelek – karena yang menilai sistem. tapi kalo pikiran positif ini tetep bekerja dengan baik, otak saya juga akan bilang kalo ada teman saya yang minjem duit ke saya pembayarannya tersendat saya juga akan ekstra hati-hati pada pinjaman berikutnya bahkan bisa jadi tidak akan saya beri pinjaman lagi.

saya pikir-pikir lagi, ternyata apa yang ada dalam otak saya hampir sama dengan sistem di bank. bahkan seringkali terjadi hal ekstrem dalam penagihan jika pinjamannya kepada investor perseorangan. selain mereka tidak mau tahu tentang kondisi apapun yang bikin pembayaran tagihannya tertunda sering juga diiringi dengan kekerasan fisik.

antara mangkel, sebel dan bersyukur bahwa saya walaupun sudah putus hubungan dengan perbangkan tetep tidak pengalami hal-hal buruk seperti yang sering di suguhkan dalam sinetron di televisi jika ada seseorang yang mengalami kredit macet.

jangan menyerah – masih banyak jalan – karena kalo gak bisa lewat jalan besar masih tersedia jalan tikus, jalan rahasia atau jalan di bawah tanah.

3 Responses to “rapot merah”

  1. yoga EU31 sby Says:
    December 9th, 2009 at 12:55 pm edithebat…kisah yang memotivasi!!!
    Trims
  2. hilman Says:
    January 4th, 2010 at 9:15 am editPak Sam, spertinya saya akan mengalami kejadian seperti itu.
  3. hilman Says:
    January 4th, 2010 at 9:26 am editwah, kayaknya ntar lagi saya ngalami itu pak, kasih advise ya pak
  1. seruni 12 Says:
    March 11th, 2010 at 2:52 pm edit

    saya py pengalaman yg sm, hanya telat sekali, bank udah telpon2, masih untung, teman sy sampe didatangi dept coll yg tdk sopan sampe rumah mo kantor, bikin hidup tdk nyaman. mulai saat itu jd males kalo hub dg bank. tekadku memperkuat basis modal usaha, pikir2 kalo tdak pinjam ke bank sebenarnya kita udah punya usaha bank sendiri dg minimal nasabah satu orang yaitu diri kita sendiri. klo emergency skali baru cari bank lain. lagian bank di sini kurang menarik bunganya tinggi banget 12-13%, bandingkan dgn di cina yang cuma1/3 nya, bhkn kurang, disebtkan bunga bank di indonesia masuk tertinggi di dunia, bgmn kita bisa bersaing dgn pengusaha cina? ini tidak adil. BI perlu direformasi

Leave a Reply