“bisnis apa yang harus saya kerjakan?” atau “saya nggak ngerti mesti berbisnis apaan?”

posted in: Entrepreneurship | 3

“bisnis apa yang harus saya kerjakan” atau “saya nggak ngerti mesti berbisnis apaan” itu adalah pertanyaan yang selalu saya dengar di setiap seminar motivasi atau forum-forum diskusi tentang entrepreneurship.

Pertanyaan yang sama selalu muncul dari mulai saya baru belajar caranya berbisnis sampai saat ini pada saat saya sudah dianggap beberapa teman sebagai seorang entrepreneur senior.

Emang sih orang yang bertanya berbeda-beda tapi yang saya heran pertanyaan yang keluar selalu sama. Apa artinya ini, apakah artinya entrepreneur tidak berkembang di sini atau kapasitas orang sini yang sebegitu parahnya sehingga dari tahun ke tahun selalu nggak ngerti mesti berbuat apa untuk menjadi seorang entrepreneur.

Saya juga dulunya adalah salah satu yang melontarkan pertanyaan itu. Karena saya emang gak ngerti musti ngapain untuk menjadi seorang entrepreneur. Gak ada yang ngajarin saya dan gak ada tempat saya bertanya. Pelatihan entrepreneur yang saya ikuti pun tidak mampu menjawab pertanyaan itu. Sampai saya menyelesaikan pelatihan saya tetep gak ngerti mau barbisnis apaan dan tetep gak ngerti apa yang saya harus saya lakukan untuk memulai suatu bisnis

Saya rasa kendala utama yang bikin saya bingung dan ragu sebenarnya sederhana tapi sesungguhnya itu hal yang paling vital dalam dunia bisnis. Kendala saya adalah saya gak bisa jualan – itu yang bikin saya selalu bingung dalam memulai bisnis, pinginnya sih saya punya sebuah bisnis dimana saya sebagai pemiliknya gak perlu jualan untuk mendapatkan keuntunga, mungkin itu juga yang diasakan oleh kebanyakan orang sehingga selalu muncul petanyaan yang sama dari tahun – ketahun.

Emang budaya tempat saya tumbuh besar sama sekali bukan budaya yang erat dengan dunia jualan, ini berakibat pada diri saya bahwa jualan itu sulit dan sesuatu yang mengerikan.  Saya rasa banyak orang yang melontarkan pertanyaan itu pasti juga tumbuh ditempat yang punya budaya yang sama dengan saya.

Sampai sekarang saya tetep merasa gak bisa jualan dan saya juga bukanlah entrepreneur yang sesungguhnya karena saya gak bisa jualan. Tapi saat saya menyadari kelemahan yang saya miliki seusai pelatihan entrepreneur, saya langsung berusaha untuk mencari bisnis yang bisa berjalan tanpa si pemilik harus menjual produknya.

Saya langsung adakan semacam survey dan penelitian kepad bisnis yang menarik minat saya dan saya yakin bahwa bisnis itu bisa jalan tanpa si pemilik harus jualan. Yang saya survey petama kali adalah bisnis warung kopi, warung rokok dan besnis perdagangan di pasar tradisional. Saya yakin sekali para pemilik bisnis itu pasti gak bisa jualan seperti  saya. yang bikin saya penasaran adalah kenapa si pemilik gak bisa jualan tapi bisnis itu gak tutup-tutup.

Semuanya diawali dari kenyataan bahwa tukang becak langganan istri saya itu bisa punya sebuah warung kopi yang dijaga oleh istrinya dan ternyata perolehan si tukang becak dan keluarganya dari warung itu cukup lumayan menurut ukurannya karena terbukti warung itu gak pernah bankrupt dan anak-anak si tukang becak bisa bersekolah semua. Yang juga saya tau si tukang becak itu orangnya pendiam dan jarang berbicara jika tidak diajak bicara duluan. Si istri juga sama saja bukan seorang yang suka ngobrol.

Dengan kondisi seperti itu pastinya mereka berdua bukanlah tipe seorang yang jago jualan. Kira-kira sama deh kondisinya dengan saya, tapi yang membedakan adalah adanya sebuah kenyataan kalo keluarga si tukang becak itu punya bisnis yang menghasilkan.

Saking penasarannya saya tongkrongin hampir tiap hari warung kopi itu, gak pagi gak siang gak malam saya usahakan selalu nonkronk disitu. Saya bener-bener penasaran tapi juga brsemangat karena kalo ada hasil dari survey ini maka sebentar lagi saya pasti akan punya bisnis sendiri.

Selama hampir satu bulan saya lakukan survey itu dan sampailah saya pada suatu kesimpulan bahwa tetep aja sebuah warung kopi sederhana sekalipun butuh ‘marketing’ yang bertugas untuk menjual semua yang ditawarkan oleh warung itu. Tapi yang juga saya temukan bahwa yang jadi markrting yang harus berjualan itu gak harus si pemilik bisnis ittu sendiri tapi bisa dilakukan oleh orang lain secara cuma-cuma.

Dagangan di warung itu sederhana banget, kopi, gorengan, mie instant dan nasi rames dengan lauk yang standart. Sama dengan warung kopi yang lainnya gak ada yang istimewa disitu. Lalu dengan kondisi seperti itu kenapa sepasang suami istri pendiam ini bisa bertahan dengan bisnisnya itu.

Dari cerita yang saya peroleh setelah betanya pada sesame pengunjung warung itu, mereka ternyata datang karena informasi yang didengar dari mulut kemulut, informasi itu yang bikin keberadaan warung kopi tersebut diketahui banyak orang dan cara si pemilik untuk bikin semua yang datang kesitu menyampaikan ke orang lain tentang keberadaan warung itu juga sangat sederhana. Si pemilik hanya selalu mengajak kawannya untuk ngobrol sambil ngopi dan makan gorengan di warungnya, (disurabaya dikenal dengan istilah cankruan). Hanya itu saja, sesuatu yang awalnya hanya sekedar mengajak teman mampir ternyata berakibat tempat itu dijadikan pusat cankruan karena si teman yang diajak datang ternyata ngajak temannya lagi dan begitu seterusnya. Sekedar tempat ngobrol dan awalnya juga yang diajak mampir tidak membayar apa yang disantapnya. Tapi tetep saja mereka yang datang akhirnya tau diri dan membayar apa yang mereka makan dan minum, saat transaksi itu terjadi maka mulai jalanlah bisnis keluarga si tukang becak.

Ngajak mampir ngobrol – saya rasa itu bukanlah jualan dan saya rasa semua orang bisa melakukannya. Tapi cara yang sederhana itu adalah langkah awal untuk memulai suatu bisnis.

Dan saya langsung ikuti cara sederhana itu dalam setiap langkah saya memulai bisnis saya. saya ajak rekan saya untuk ngobrol di toko baju saya sehingga merka tau saya punya toko baju dan mestinya mereka juga akan bercerita pada rekannya yang lain. apalagi saat ngobrol-ngobrol saya juga suka menceritakan program-program diskon yang sedang saya praktekkan. Saya gak jualan secara langsung – yang saya lakukan hanya ngobrol tapi topic ngobrol yang saya bahas biasanya berkisar tentang toko saya karena teman yang saya ajak kesitu pasti bertanya tanya.

Ngajak datang untuk ngobrol dan ternyata obrolan pertama adalah membahas tentang bisnis saya. itu bukanlah jualan tapi ngobrol dan bercerita, secara moril saya bisa melakukannya dan saya melakukannya dengan semangat sehingga tanpa saya sadari saya berjualan dan berpromosi pada saat itu. Karena dalam kondisi tidak sadar maka semuanya berlangsung dengan mudah dan tanpa beban karena memang saya tidak merasa sedang berjualan.

Seperti warung kopi tadi saya juga selalu berusaha untuk mencari tempat usaha yang memang sudah didatangi oleh konsumen yang akan beli produk saya tanpa saya harus bersusah payah jualan dan berpromosi. Saya cari tempat usaha yang memang tempat buat dagang seperti pasar atau mall. Dilokasi seperti itu tanpa saya harus bersusah payah melakukan promosi dan menggunakan tehnik – tehnik marketing yang canggih, para calon konsumen saya sudah berdatangan dan lewat disekitar tempat usaha saya.

Jadi saya terselamatkan dari ketidakmampuan saya menjual dan akhirnya saya punya bisnis hanya berawal dari sekedar mengamati dan melihat apa yang dilakukan oleh tukang becak langganan isteri.

Melihat dan mengamati ternyata penting banget buat saya saat saya gak ngerti mau bisnis apaan. Dan yang saya lihat sertaamati juga gak terlalu sulit, hanya yang ada dilingkungan sekitar saya saja. lingkungan memberi banyak pelajaran buat saya tanpa ongkos yang mahal hanya dengan sekedar melihat dan mengamati saja.

Sekarang hamper gak ada lagi pertanyaan tentang cara memulai bisnis atau cara mengembangkan bisnis, gak ada lagi ketakutan tentang ketidak mampuan saya menjual. Solusi dan pemecahannya ada disekitar saya, dan hanya dengan saya rajin melihat, mengamati lalu menganalisa apa yang ada disekitar saya, cartanya sederhana murah dan gak rumit tapi menyelamatkan hidup saya dan selalu saya jadikan pondasi disaat saya menemukan berbagai masalah dalam mengarungi kehidupan saya sebagai entrepreneur.

Melihat, mengamati dan menganalisanya – sangat mudah dan sederhana – toh kita dikaruniai dua mata oleh allah sang pencipta……..

Leave a Reply