pertanyaan dasar untuk pondasi yang kuat

posted in: Entrepreneurship | 3

mana yang lebih penting dalam memulai usaha? Modal, tekad atau koneksi?

antara modal, tekad atau koneksi semuanya penting dalam memulai usaha, karena ketiga factor itu saling melengkapi satu sama lainnya. Jadi kita hanya bisa ngakalin jika salah satunya nggak ada. Dan biasanya yang menjadi kendala atau dijadikan alasan seeorang untuk memulai usaha adalah factor modal. Jika seseorang gak punya modal maka dia akan punya banyak alasan untuk tidak memulai suatu kegiatan usaha. Padahal ini salah banget, persepsi ini terjadi karena biasanya modal ini selalu diasumsikan sebagai uang. Padahal tekad dan koneksi juga bisa dikategorikan sebagai modal.

Tanpa modal uang kita bisa memulai suatu usaha, uang dari koneksi yang mempercayai kita dalam menjalankan usaha ini. Disini posisi koneksi lebih sebagai investor artinya lagi jika kita dapat investor dari koneksi kita maka otomatis kita bisa mulai menjalankan usaha, masalah pembagian keuntungannya tergantung dari kesepakatan bersama.

Sedangkan tekad ini memang harus bener-bener kuat jika kita memang pingin berusaha. sebab berusaha itu sebenernya gampang-gampang sulit, punya banyak modal dan koneksi saja tidak menjamin suatu usaha itu akan berhasil dengan sukses jika tekad kita lemah dan tidak tahan banting  dalam menghadapi masalah. Dalam berbisnis masalah itu banyak sekali dan kita sebagai pengusaha harus sendirian dalam menghadapi masalah-masalah itu. Dan hanya dengan tekad yang kuatlah semua masalah bisa dicarikan solusinya. Dengan tekad yang kuat maka kita bisa meyakinkan koneksi kita mengenai bisnis yang hendak kita jalani tapi terhambat dalam masalah modal uang.

Punya segudang koneksi tapi ternyata gak punya tekad yang kuat maka akan bikin kita mudah menyerah pada saat menawarkan proposal bisnis kita atau saat menawarkan produk-produk kita. Bila ditolak oleh seorang koneksi yang tidak tertarik dengan konsep bisnis  yang kita tawarkan maka dengan tekad yang kuat kita bisa mencari modal uang ke koneksi lain yang kita punya tapi kalo gak ada tekad kuat pasti menyerah pada tolakan pertama atau kedua.

Dengan modal uang yang banyak apa dijamin bisa berhasil atau sukses dalam menjalankan usaha. Belum tentu! jika kita tidak punya koneksi trus kita mau jual kemana produk kita, menjual ke sembarang konsumen atau mencari konsumen dari awal tanpa ada koneksi tentulah suatu yang amat berat, mau menemui konsumen saja belum tentu bisa sekali atau dua kali janji tapi jika kita punya koneksi minimal kita akan langsung ditemui walaupun koneksi setuju terhadap apa yang kita tawarkan tapi pastinya ada kemudahan di langkah awal. Jadi ber-bisnislah dengan dan dalam kondisi apapun!!!

gimana cara  menangkap peluang usaha yang potensial tapi resiko kecil????

Sunan Bonang,  adalah salah satu wali songo yang berdakwah melalui pendekatan seni. salah satu karya monumental beliau adalah tembang “Tombo Ati” yang sekarang dipopulerkan oleh Emha Ainun Najib dan Opick. Tembang  ini berisi lima resep ampuh sebagai pelipur hati kita agar senantiasa dekat kepada-Nya. Nah salah satu dari bait-bait syair dari tembang “Tombo Ati” ini menggunakan bahasa Jawa berbunyi yaitu :

‘Kaping telu wong kang sholeh kumpulono’

Artinya kira-kira begini, berkumpul di sini adalah kita bisa bergaul, berteman, bahkan bisa memperoleh ilmu dari orang-orang yang soleh. Dengan sering bergaul, berinteraksi, dan berdiskusi dengan mereka, maka selain menambah wawasan keislaman kita juga akan semakin membuat kita berusaha mengikuti jejak mereka untuk senantiasa bertaqarrub kepada-Nya.

Trus hubungannya apa sama bisnis?

Sama aja kalo mau pinter bisnis ya harus punya sering-sering bergaul, berteman, berinteraksi, dan berdiskusi dengan para pelaku usaha dari golongan apapun baik itu pemula sampai pengusaha kakap sekalipun. Dengan begitu maka kita akan akan memperoleh ilmu dan menambah wawasan bisnis kita. Dari kita yang gak gerti apapun jika banyak mendengar saja percakapan para pengusaha itu tanpa harus ikut terlibat dalam percakapan mereka maka secara tidak langsung apa yang mereka perbincangkan itu akan meresap dalam otak kita dan berakibat ilmu serta wawasan kita terisi dengan sendirinya. Dengan terisinya otak kita dengan ilmu dan wawasan bisnis secara otomatis kita akan dapat melihat sesuatu itu potensi bisnis atau bukan, terus jika sesuatu itu berpotensi menjadi peluang bisnis maka kira-kira resikonya sebesar apa jika kita eksekusi peluang itu. Yang dianggap besar atau kecilnya suatu resiko itu juga relative, pada setiap orang tidak sama, tergantung pada keberanian seseorang itu menanggung resiko dari potensi bisnis yang bakal dia jalani.

Justru peluang usaha yang potensial seringkali muncul bukan dari presentasi bisnis di hotel-hotel mewah atau di pameran bisnis yang sekarang sedang trend diadakan dimana-mana. Tapi seringkali peluang bisnis itu muncul dari acara ngobrol santai anatara para pengusaha itu, kalau istilah suroboyoan-nya cankruan. Dari ngobrol santai ini secara tidak sengaja sering terlontar suatu gagasan tentang bisnis yag awalnya keluar begitu saja seperti sebuah guyonan tapi jika dipelajari dan ditelaah lebih dalan ternyata bisa menjadi suatu bisnis yang berpotensi besar menghasilkan banyak keuntungan.

Dengan berkumpul ini jika kita masih bingung dan nggak ngerti caranya walaupun tahu sesuatu itu adalah peluang maka kita bisa bertanya pada pengusaha teman kita yang lebih senior. Bukan hanya dapat informasi tapi juga bisa diajarin sama pengusaha senior langsung gimana caranya mengubah suatu peluang berpotensi benar-benar menjadi suatu bisnis nyata yang benar-benar menghasilkan  suatu keuntungan.

Nah jika para pengusaha yang sudah jadi saja masih suka berkumpul bersama dengan sesama pengusaha maka kenapa kita yang bukan pengusaha tapi pingin jadi pengusaha mengikuti cara itu. Modal yang dikeluarkan relative murah tapi hasilnya relative besar apalagi sekarang ini banyak sekali bermunculan berbagai komunitas pengusaha baik yang level anak kuliahan sampai yang level kakap.

kenapa kita tidak memanfaatkanya?

Leave a Reply