Pengusaha dan Pejabat Bertukar Pengalaman Bisnis

Rabu, 18 November 2009

Ekonomi Bisnis
[ Selasa, 17 November 2009 ]
Pengusaha dan Pejabat Bertukar Pengalaman Bisnis.
Gerakan entrepreneurs Ir Ciputra terus bergulir. Setelah mengadakan Training of Trainer (TOT) bagi dosen dan mahasiswa, Ciputra membuka kesempatan bagi masyarakat umum. Namanya TOT for Entrepreneurship Educators (TOT-EE). Pada forum yang dibuka awal bulan ini, segala lapisan masyarakat dirangsang saling menumbuhkan semangat berwirausaha.

VIRUS entrepreneurs yang disebarkan Pak Ci, panggilan Ir Ciputra, disambut antusias hingga ke segenap penjuru daerah. Tidak hanya melalui lembaga perguruan tinggi, sejumlah pemda pun mulai menghubunginya untuk menggelar program serupa.

Sambutan positif juga ditunjukkan pemerintah pusat. Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) melontarkan persoalan entrepreneurs ala Pak Ci itu ketika mengucapkan pidato resmi di National Summit 2009 beberapa waktu lalu.

Saat membuka forum penting itu, presiden secara khusus menyebut nama Pak Ci. SBY mengatakan mendukung gagasan Pak Ci soal entrepreneurs. Dengan cara itulah kemiskinan bangsa ini bisa diatasi. “Saya ucapkan terimakasih kepada Bapak Presiden SBY atas perhatiannya. Artinya, pemerintah juga memiliki komitmen untuk mengembangkan entrepreneurs,”ucap Pak Ci yang disambut aplaus audiens TOT-EE.

Selama pelatihan tiga bulan, banyak materi yang disampaikan. Peserta tidak hanya dibekali modul, tetapi juga dibimbing pengajar dari para pengusaha sukses yang telah mengikuti TOT sebelumnya. “Berbagai pengalaman dari pelaku pengusaha akan memacu minat peserta. Selama tiga bulan mereka akan digodok oleh pengajar,” tutur Pak Ci yang juga mengundang pemilik dan pendiri perusahaan kecantikan Martha Tilaar.

Peserta berasal dari berbagai lapisan masyarakat. Misalnya, petinju kebanggaan Indonesia Chris John, pelaku seni, guru, dan masih banyak lagi. Pelatihan ini menggunakan metode experimental dan independent learning Ciputra Way. “Peserta akan mendapatkan basic business dan business life skills. Plus creativity dan innovation for business,” terangnya.

Beberapa pengusaha muda yang sukses ikut memberikan dorongan dengan menghadiri pelatihan itu. Salah satu di antaranya adalah Nur Annisa Rahmawati. Anissa kini sukses menjadi pengusaha busana muslim di Jogyakarta. Virus entrepreneur mulai menghinggapinya ketika ia mengikuti pelatihan entrepreneurs di kampus UGM dua tahun lalu. Pelatihan itu digelar Universitas Ciputra Entrepreneurs Centre (UCEC). Pasca-pelatihan, Annisa mencoba menekuni usaha. Ia membuka butik untuk membantu ibu-ibu korban gempa di Kota Gede Jogjakarta. Bermula dari dua karyawan tetangganya, kini usahanya terus berkembang.

Kini, jumlah karyawan Annisa sudah delapan orang. Agar produk usahanya lebih variatif, Annisa melengkapi gerainya dengan koleksi jilbab plus busana pria. Kerja keras Annissa itu membuahkan hasil. Setidaknya, ia kini didaulat untuk membagi pengalaman bisnisnya kepada peserta pelatihan. “Seluruh produk dikerjakan manual, tetapi tidak diproduksi secara massal. Maksudnya supaya eksklusifitas busana tetap terjamin,”kisahnya.

Peserta pelatihan lain adalah Afgan, mahasiswa S3 Universitas Gadjah Mada (UGM). Selama melakukan penelitian, Afgan menemukan manfaat biogas yang diolah dari bahan baku limbah tandan sawit. Olahan tandan sawit itu dicampur dengan kotoran sapi. “Teknik itu bisa digunakan masyarakat untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga. Agar bisa menjadi ladang bisnis yang menggirukan, teknik itu harus mendapatkan sentuhan entrepreneurs terlebih dahulu,”ucapnya.

Tak hanya kalangan pengusaha, para pejabat daerah pun juga semangat mengikuti pelatihan. Andreas Muhrotein, wakil bupati Kubu Raya, Kalimantan Barat, misalnya, datang dengan maksud menjalin kerja sama dengan UCEC yang akan diterapkan di kabupatennya. “Bentuk kerja samanya dimulai dari kerjasama kurikulum tingkat TK hingga tataran kampus, termasuk tenaga guru dan pegawai di lingkungan Pemda Kubu Raya,” ujarnya. Sebab, lanjut Wabup, daerah Suburaya memiliki sumber daya alam yang belum dikelola secara maksimal, “Kami belum mendapatakan pengalaman dan sentuhan enterpreneurs,” tuturnya.

Semangat besar peserta itu rupanya membuat bangga Pak Ci. Pengusaha yang berjuluk Begawan Properti Indonesia itu rela menggelontorkan uang Rp 10 miliar. Dana pinjaman itu digunakan untuk mendukung program entrepreneurs di Indonesia. Kepastian itu dilontarkan Ciputra ketika mengikuti acara TOT pada minggu kedua. Tentu saja tawaran yang diberikan Pak Ci itu disambut antusias 32 peserta TOT. “Dana bergurlir sebagai modal usaha. Dana itu diberikan kepada masyarakat, mahasiswa, dan siapa saja yang ingin menjadi pengusaha. Namun calon penerimanya harus memenuhi syarat dan lolos seleksi,” kata Pak Ci.

Cara itu, lanjut Pak Ci, akan memudahkan masyarakat mendapatkan modal awal, utamanya mahasiswa yang terkadang kesulitan modal. Sebab, sebagai pemula, mahasiswa tidak memiliki jaminan usaha yang bisa diagunkan kepada bank. Keluhan itu sering kali diutarakan mahasiswa dalam setiap sesi dialog yang dilakukan Pak Ci.

“Mereka bersemangat namun tidak bisa memulai usaha karena tidak punya modal. Mau pinjam ke bank terkendala dengan fasilitas dan jaminan,”kata Pak Ci. Nah, melalui program ini diharapkan mahasiswa mampu menciptakan lapangan kerja. “Bukannya setelah lulus sibuk mencari lowongan kerja. Setiap orang bisa mengajukan proposal kepada tim yang dibentuk UCEC,” jelasnya.

Sebelum menggelar sesi dialog dengan peserta TOT, Pak Ci sempat menggelar video conference. Dialog jarak jauh itu diadakan peserta seminar entrepreneur Universitas Airlangga (Unair), Surabaya. Setidaknya 600 mahasiswa mengikut seminar itu. Meskipun hanya berdialog jarak jauh, peserta tampak antusias mendengarnya. Sita, seorang mahasiswi FISIP Unair, misalnya, menanyakan tentang berbisnis namun tidak melanggar tradisi kesopanan orang tua. “Bagaimana caranya jika kita mengajukan ide dan saran ketika sedang menjalankan bisnis namun tidak menyinggung perasaan orang tua,” tanya Sita.

Menurut Pak Ci, bisnis tetap berjalan dan ide yang disampaikan bisa saja dilakukan tanpa menyinggung kesopanan orang yang lebih tua. Caranya, program bisnis dapat dijabarkan dengan mengungkapkan lebih santun. Menurut Pak Ci, ketika memulai mendirikan PT Pembangunan Jaya dengan Pemda DKI Jakarta, usianya lebih muda dari Gubernur Ali Sadikin. “Mereka akan menerima jika konsep yang kita sampaikan riil dengan niat ihklas untuk memajukan daerah. Sekarang usia saya 78 tahun. Ketika memasuki usia 70, saya mundur dari direksi. Namun jika memulai usaha dengan niat baik, kinerja apa pun akan dimuluskan Tuhan,” paparnya.

Lain halnya yang ditanyakan Ahmad Darsada dari ITS. Ia menanyakan, bagaimana agar tetap bisa menjaga semangat entrepreneurs. ”Pak Ci supaya tetap semangat agar jadi entrepreneurs sejati bagaimana ya?” kata Ahmad Darsada.

Pertanyaan itu disambut Pak Ci dengan memberikan aplaus. Menurut Pak Ci, sebaiknya Ahmad mengikuti dan bergabung dalam komunitas entrepreneurs di kampusnya. Kegiatan komunitas itu nantinya didukung universitas. Sebab program 100 hari pemerintah akan segera dibuka Entrepreneurs Centre di 300 kampus se-Indonesia.

“Lingkungan, keluarga yang entrepreneurs akan menciptakan iklim semangat untuk terus berkobar,”ujarnya. “Pemerintah saat ini serius melakukan gerakan entrepreneurs untuk mengatasi kemiskinan. Bahkan ada dana Rp 70 triliun akan diberikan kepada masyarakat. Jika Rp 10 triliun saja digunakan untuk program bantuan entrepreneurs, itu sama saja memberikan kail kepada rakyat,” lanjutnya.

Pak Ci menegaskan, menjual dan berdagang merupakan profesi yang membanggakan. Sukses jadi pengusaha bukan karena bakat, darah biru, atau terpaksa akibat PHK. Bukan pula karena faktor mistik. “Entrepreneurs itu hanya budaya yang harus ditumbuhkan sejak kecil dari lingkungan keluarga,” tegas Pak Ci. (yer/max)

Leave a Reply