Pengusaha atau Pedagang

posted in: Entrepreneurship | 0

Saat di jambi kemaren saya kenalan dengan seorang pengusaha putra daerah, dari ngobrol-ngobrol sepintas sama beliau saya langsung punya kesan kalao beliau ini pasti sudah kenyang makan asam garamnya dunia bisnis.

Walaupun saat ini sedang menyusun strategi mencalonkan diri jadi bupati di sebuah kabupaten tempat kelahirannya yang sebentar lagi berlangsung lumayan cair juga gaya beliau, jadi ngobrolnya berasa asik.

Dari ngobrol-ngobrol itu ada hal menarik yang nyantol dalam otak saya, walaupun ngobrol dengan beliau baru beberapa saat aja.

Hal itu yang bikin saya selalu menajamkan telinga dan berusaha mencatat dalam otak saya setiap pernyataan yang beliau ucapkan.

Saat itu beliau bilang kalo pengusaha itu beda dengan pedagang. Walaupun tampaknya mirip tapi keduanya berbeda yang membuatnya berbeda adalah cara keduanya mengambil untung, jika pedagang itu ‘beli sepuluh jual lima belas’ sedangkan jika pengusaha itu mengadakan yang tidak ada menjadi ada’

Kemudian beliau memberikan penjelasan pada kami, beliau bilang pedagang itu mencari untung saat itu juga, pedagang harus mencari sesuatu yang berharga murah dan mejualnya dengan selisih yang harga, seperti yang beliau ibaratkan ‘beli sesuatu seharga sepuluh lalu dijual dengan harga lima belas’.

Sedangkan pengusaha itu mencari untung dengan cara ‘mengusahakan yang gak ada menjadi ada’ karena tadinya gak ada kemudian menjadi ada maka bisa menghasilkan sesuatu dan dari menghasilkan sesuatu itulah pengusaha mengambil untung.

Menurut beliau nilai investasi yang harus ditanggung oleh pengusaha relatif lebih besar daripada yang harus ditanggung oleh pedagang, sebab yang dinvestasikan itu belum tentu dapat kembali seketika.

Sebagai akibatnya seringkali pengusaha nggak merasakan untung saat itu juga tapi sekalinya mendapatkan keuntungan rasanya ibarat sebuah pukulan yang menonjok ulu hati dengan keras, terasa banget.

Sehingga menurut pendapat beliau seorang pengusaha itu pasti sudah terbiasa menghadapi tekanan secara fisik dan psikis yang nantinya akan bikin pengusaha itu menjadi pengusaha tahan banting.

Walaupun begitu semuanya harus terukur, secara sepintas beliau bilang kalo investasi itu berbeda dengan spekulasi. Dalam artian begini spekulasi itu itung-itungan matematikanya nggak jelas, sementara investasi itu itung-itungan matematikanya jelas.

Nah walaupun semuanya sudah jelas terhitung tetep saja sebuah resiko bisa datang dengan tidak terduga. Dan jika resiko itu datang maka akibatnya bisa menjadi fatal pada si pengusaha. Terutama yang berhubungan dengan tanggung jawab keuangan yang harus ditanggungnya.

Kenapa bisa begitu, soalnya menurut beliau partner si pengusaha itu yang biasa disebut dengan investor belum tentu bermental pengusaha yang siap menanggung resiko, seringkali partner si pengusaha hanya bermental pedagang yang maunya untung melulu jadi bisa nggak mau tahu terhadap resiko yang terjadi dan seharusnya ditanggung bersama.

Jadi dah biasa kalo seorang pengusaha itu diuber-uber ama debt collector, aparat berbaju coklat, berbaju doreng atau sejenisnya.

Hal-hal semacam itulah yang bakal memperkuat mental dari si pengusaha agar lebih kokoh dan keras sehingga gak sekedar menjadi pengusaha bermental ‘tempe’

Hal-hal yang membuat si pengusaha menjadi jungkir balik seibarat kepala dibawah kaki diatas nggak boleh dibikin kapok justru harus dijadikan pelajaran agar gak terulang lagi, terutama buat pengusaha generasi selanjutnya.

Walaupun begitu beliau tetep bilang, sehati-hatinya dan secermat-cermatnya kita resiko itu tetep ada dan bisa menyapa siapa saja kapan saja 🙂

Sambil berseloroh dan bergerak mengajak saya makan, beliau bilang itu adalah pilihan kita mau jadi apaan, pengusaha atau pedagang.

Hayoo siapa yang gak setuju dengan pendapat beliau?