pemimpin

Sam Urai

Sam Urai pemimpin itu bukanlah bakat lahir dan tidak dilahirkan begitu saja – tapi pemimpin itu dibentuk oleh waktu dan ditempa oleh banyaknya masalah yang dihadapi – jadi pemimpin itu bisa siapa saja termasuk saya atau anda bisa menjadi pemimpin yang mumpuni………..(merah putih the movie)

siang itu saya nonton merah putih the movie bareng my first son n his mom. sudah lama kami pingin nonton film perang ini karena jagoan saya yang satu ini lagi seneng-senengnya sama cerita perang indonesia lawan penjajah, tapi kami tunda-tunda terus sampai gema film ini dibioskop tidak terlalu booming lagi biar gak rame saat nonton.

menurut saya secara keseluruhan film ini ceritaya biasa saja seperti film-film perang khas buatan indonesia lainnya yang saya tonton saat saya masih kecil. dari semua adegan film itu hanya ada sebagian kecil adegan yang menarik perhatian saya dimana ada seorang mantan guru yang sejatinya adalah wakil komandan pasukan terpaksa harus beralih menjadi pemimpin pasukan karena komandannya tewas terkena peluru belanda.

guru ini tidak siap untuk jadi pucuk pimpinan. apalagi dia harus jadi pemimpin disaat-saat kritis, dimana hampir semua anggota pasukannya tewas, markas komandonya hancur dan dia harus bertindak cepat untuk menyelamatkan sisa pasukannya yang tinggal segelintir dan sedang kalut, panik dan kebingungan dari sebuan dan kepungan belanda.

keselamatan sisa pasukannya itu bergantung penuh pada komandonya, sementara dia sendiri sebenarnya juga tidak kalah panik dan bingungnya melihat satu persatu teman sepasukannya berguguran dan akhirnya mendengar berita bahwa sang komandan juga tewas. jadilah perintah sang komandan pasukan dadakan ini hanyalah mundur dan terus mundur saja, tentu saja perintah mundur itu diprotes oleh sebagian anak buahnya yang masih hidup yang gregetan pingin membalas kematian komandan dan teman-temannya. disisi lain adapula anak buahnya yang juga tak ingin bertempur dan ingin cepat-cepat pergi dari situ karena tidak ingin mati konyol.

saking panik dan bingungnya sang komandan dadakan ini hanya bisa bilang ‘aku tidak tahu harus berbuat apalagi‘ begitu berulang-ulang yang dia katakan, memang mantan giuru ini benar-benar tidak tau harus bertindak apa selanjutnya apalagi secara pribadi dia di cerca oleh anak buahnya yang mulai meragukan kepemimpinannya.

untungnya ada seorang yang masih bisa berpikiran jernih disitu. orang itu mengingatkan bahwa seorang komandan atau pemimpin boleh berkata apapun sesuai kehendak pribadinya kecuali berkata ‘ aku tidak tahu’ karena bila kalimat itu di ucapkan efeknya akan buruk sekali pada moral anak buahnya. dalam kondisi apapun serang pemimpin itu tidak boleh keliatan tidak berdaya dihadapan anak buahnya. dari pada dia berkata ngawur lebih baik sebelum berkata pemimpin itu harus menenangkan dirinya. sehingga setiap keputusan yang keluar dari mulutnya selalu merupakan hasil dari buah pikiran yang jernih dan tenang, sehingga bisa diucapkan dengan baik sebab semuanya dilakukan dan diucapkan dengan sepenuh hati.

ada lagi dialog yang juga menarik disini, sang komandan dadakan itu berkata dengan sewot pada kawannya yang menasehatinya itu ‘kenapa bukan kamu saja yang menjadi pemimpin dan memimpin pasukan ini’ dan sang kawan dengan tenang membalas ucapan itu ‘kalau saya yang jadi komandan dan memimpin pasukan ini, lalu siapa nanti yang akan menasehati saya jika saya bingung dan bimbang’

lalu cerita selanjutnya dalam film itu sudah bisa ditebak, mantan guru yang ketiban sampur jadi pemimpin pasukan itu segera berdoa minta pertunjuk pada allah dan setelah itu adegan yang ada adalah pembuktian bahwa sang komandan yang sudah mantap hatinya itu lalu mengajak semua anggota pasukannya yang tersisa untuk berunding dan mengatur siasat untuk penentuan langkah-langkah selanjutnya. dengan dialog yang terbuka dan sering antara pimpinan dan bawahan maka banyak masukan yang diperoleh sehingga jadilah sang guru itu pelan-pelan bisa membuktikan dirinya bisa menjadi seorang pemimpin yang mumpuni dan disegani oleh anak buahnya.  dalam film pembuktian itu ditunjukkan tidak hanya lewat dialog antara anak buah dan komandannya tapi juga lewat adegan pertempuran dimana tokoh guru itu memang bisa bertindak layaknya sebagai pemimpin yang baik.

kesimpulan saya setelah menoton film ini dan ini sesuai dengan buku-buku yang sudah saya baca atau dongeng yang sering saya dengar.  pemimpin itu bukanlah sebuah bakat lahir dan tidak dilahirkan begitu saja – tapi pemimpin itu dibentuk oleh waktu dan ditempa oleh banyaknya masalah yang dihadapi – jadi pemimpin itu bisa siapa saja termasuk saya atau anda bisa menjadi pemimpin yang mumpuni.

artinya lagi siapa saja bisa jadi pemimpin tanpa harus merasa minder dan kecil hati, jadi pemimpin itu tidak harus melihat status, golongan, pemdidikan atau harta kekayaan. tapi lebih pada mentalnya. mental yang sudah terasah oleh berbagai macam masalahlah yang nantinya akan membuktikan apakah saya atau siapapun layak atau tidak layak jadi pemimpin.

fakta sejarah membuktikan bahwa pemimpin yang hebat selalu lahir pada masa kekacauan dan orang itu biasanya bukan dari golongan pilihan melainkan dari masyarakat biasa dan akhirnya bisa memimpin rakyatnya untuk mengatasi kekacauan sehingga dia bisa menjadikan dirinya sebagai pimpinan tertinggi yang sah seperti kepala suku atau raja. beberapa nama bisa disebut seperti napoleon bonaparte, genghis khan, gajah mada atau panglima sudirman bahkan presiden soekarno sekalipun.

lebih lengkap lagi bila seorang pemimpin itu didampingi oleh seorang pembisik yang baik dan bijak serta didukung oleh kawan-kawan yang mumpuni dan menguasai berbagai bidang. dalam film merah putih sang guru didampingi oleh kawannya dari bali sebagai penasehat, lalu seorang serdadu dari menado yang berani dan cekatan dalam olah senjata serta seorang serdadu priyayi jawa yang pandai dan cerdas sehingga bisa membaca peta seta menguasai  sedikit ilmu kedokteran.

dalam sejarah indonesia juga diceritakan pada saat kerajaan majapahit mencapai puncak kemashurannya sang maharaja hayam wuruk didampingi oleh mahapatih yan mumpuni yaitu gajah mada serta sederet orang -orang tangguh termasuk seorang pelaut ulung bernama laksamana nala yang bisa membuat majapahit akhirnya menguasai wilayah seperti indonesia sekarang plus malaysia dan singapura.

jadilah pemimpian dan jangan takut untuk mengambil peluang itu, apabila itu sampai terjadi segera carilah team yang hebat untuk membantu dalam bertugas. sulit memang tapi tidak ada yang tidak mungkin didunia ini bila dilakukan dengan sugguh-sungguh sepenuh hati.

dalam bidang entrepreneur yang saya geluti mau tidak mau saya harus mengangkat diri saya sendiri untuk menjadi pimpinan di perusahaan saya dan saya berani mengambil resiko itu.

saya berani menjadikan diri saya seorang pemimpin diluar kewajiban saya sebagai pemimpin keluarga.

apapun yang terjadi selama ini semuanya tetap berjalan dengan baik sampai sekarang, apakah itu  dalam perusahaan maupun dalam komunitas sosial saya.

suptin haryadi Says:
February 6th, 2010 at 11:45 am edit

“Pemimpin Muncul Disaat Kritis”
Ini kalimat yang selalu mengingatkan saya beberapa kejadian kecil dilingkungan dimana saya tinggal.
Beberapa kali kejadian yang sama terjadi, yakni kebakaran rumah tetangga saya dimana damkar jarang datang.
Seperti biasanya dimana-mana ada kebakaran, orang-orang sekitar pada berdatangan, namum sebagian besar hanya ‘menonton’ tanpa berbuat banyak.
Naluri saya tidak mau diam saja melihat kebakaran tersebut dan biasanya saya akan berada paling dekat dengan titik api dan berusaha sekuat tenaga memadamkannya. Secara bersamaan tanpa saya sadari saya memberikan ‘komando’ pada teman-teman (orang-orang yang ada didekat itu walau mungkin tidak saya kenal) sambil terus memadamkan api dan berada di depan paling dekat dengan titik api. Jadilah saya ‘komandan’ pemadam kebakaran beberapa kali.



Leave a Reply