passion = iman = ?????

Passion Of The Christ - Songsbanyak orang bilang kalo ingin berbisnis kita harus punya passion terhadap bisnis yang akan kita kerjakan. tapi menurut saya passion itu harus dipunyai oleh setiap orang saat ia ingin melakukan sesuatu apa saja, tidak hanya dalam menjalankan bisnis saja.

saat mendengar kata passion pertama kali saya blas gak mudheng apa artinya, setelah dijelaskan beberapa kali oleh teman-teman dekat secara pelan – pelan baru saya ‘agak’ mengerti apa yang dimaksud dengan istilah passion itu. tapi kemudian segera lupa tentang maksud dari passion setelah pembahasan tentang istilah itu berhenti paling lama tiga-empat hari kemudian. maklum sebagai mahkluk yang blass gak ngerti bahasa inggris jelaslah gak akan ingat terhadap istilah-istilah yang menggunakan bahasa internasional tersebut.

akhirnya biar gak terlalu dianggap ‘oon’ saya cari padanan kata,  yang paling bikin saya  gampang mengingat istilah tersebut. sampai suatu saat saya temukan dan saya yakin bahwa istilah ‘iman’ bisa saya anggap sejajar dengan istilah ‘passion’ minimal saya sendirilah yang menganggapnya sejajar.

menurut saya setiap orang harus meng’imani’ apa yang dia kerjakan. maksudnya menurut saya bahwa seseuatu yang dikerjakan itu agar tidak menjadi suatu keterpaksaan dalam pelaksanaannya atau pengerjaannya. seperti dalam beragama, bila saya beragama muslim maka tentunya akan percaya dan ber-iman terhadap semua ajaran muslim tersebut. jika saya tidak mengeti akan suatu hal mengenai agama yang saya anut agar iman saya tidak luntur maka saya segera memcari dan mempelajari semua hal tentang muslim, semua yang menjadi kewajiban dalam beragama saya harus laksanakan dengan senang hati walaupun itu berat. kenapa harus dlaksanakan dengan senang hati, kaena memang itu konsekwensinya bila saya berniat untuk beragama muslim dan beriman terhadap semua ajarannya. bila sedikit saja muncul keterpaksaan, maka lambat laun kepercayaan saya akan luntur dan saya kemudian menjadi semakin tidak suka terhadap apa yang diperintahkan oleh agama yang saya anut.passion-clock

entah benar atau tidak, tapi begitulah menurut versi saya.

saat saya sudah membulatkan tekad untuk terjun 100% ber-entrepreneur apapun yang terjadi,  maka saya pun harus siap dengan segala konsekwensinya. supaya iman saya tidak luntur terhadap bidang entrepreneur yang saya geluti ini, maka setiap saat dalam hidup saya, saya pergunakan untuk mempelajarinya. tentunya gak mudah, karena entrepreneur itu luas banget dan saya nggak ngerti bidang mana yang saya sukai.

waktu itu hampir setahun saya mencari pola tentang bidang entrepreneur apa yang akan saya jalani. setiap kali ada bidang usaha yang saya anggap menarik perhatian, maka saya akan tonkrongin dan saya perhatikan secara sungguh-sungguh hampir setiap hari, dari pagi hingga malam. tapi biasanya setelah pengamatan selama dua mingguan saya kemudian menyerah tidak melanjutkan dalam bentuk real action karena takut akan resiko yang mungkin saya hadapi.

sempet putus asa juga saya terhadap bidang entrepreneur ini karena semakin lama di geluti semakin gak berani buat action sebab resiko yang diperkirakan bakal muncul benar-benar bikin hati ciut.

saya kemudian merenung, mikir apa sih sesungguh-sunguhnya yang musti saya kerjakan supaya saya bisa bener-bener action. dalam perenungan itu tiba-tiba saja muncul sebuah kesadaran bahwa saya itu sesungguh-sungguhnya sudah melakukan sesuatu yang rutin, bener-bener rutin karena setiap hari saya kerjakan dengan sungguh-sungguh. dari pagi, siang, sore bahkan sampai malam hari. walaupun saya tidak pernah bisa tahu secara pasti hasil apa yang akan saya peroleh dari rutinitas tadi. rutinitas tersebut masih sangat berkaitan erat dengan entrepreneurship. tapi mungkin memang gak bisa dikatakan sebagai bisnis.

saya ternyata memang bener-bener menjalankan suatu rutinitas, saya menghabiskan hari-hari saya secara sungguh-sungguh untuk mencari kredit dari bank, karena saat itu saya pikir gak mungkin saya dapat mulai membuka suatu usaha tanpa mendapatkan pinjaman modal dari bank. tanpa saya sadari upaya saya dalam pencarian kredit ini saya rencanakan dengan sunguh-sungguh dan terencana dengan baik. saya punya program-program kerja yang jelas, saya tau pasti apa yang harus saya lakukan step demi stepnya secara detail. bahkan yang tadinya anggapan saya tentang penelitian atau survey saya terhadap suatu bisnis yang menarik perhatian saya, dan rencananya akan saya geluti, merupakan kegiatan utama yang gak bisa diganggu gugat. setelah saya renungkan lagi ternyata kegiatan tersebut menjadi kegiatan kedua bahkan ketiga setelah kegiatan saya mencari kredit. jadi upaya mencari kredit merupakan kegiatan utama yang tidak boleh terganggu sedang apapun kegiatan saya lainnya tidak boleh sampai menggangu aktivitas pencarian kredit saya.

pokoknya aktivitas pencarian kredit adalah yang utama dan tidak ada suatu hal pun yang boleh menggangu dan menghambatnya.

tanpa saya sadari upaya pencarian kredit merupaka action real saya setelah saya selesai mengikuti pelatihan entrepreneur. apa yang diajarkan dalam pelatihan saya praktekkan semuanya dengan sungguh-sungguh setiap hari.

setelah saya sadar, saya bukannya menghentikan kegiatan itu tapi malahan semakin saya jadikan kegiatan utama saya. semakin saya di tolak semakin penasaran saya. semakin saya disetujui dalm mengajuan kredit yang saya minta,  maka semakin mantab lah saya dalam mejalani apa yang sudah saya geluti ini.

saya pun semakin rajin mempelajari apapun yang berbau dan berhubungangan dengan kredit. para marketing bank yang menawarkan kredit selalu saya temui jika mereka minta ijin utuk bikin janji ketemuan. saya pingin tau tentang produk-produk yang mereka tawarkan dan bagaimana upaya perolehannya.

semua kredit apapun jenisnya saya coba kenali dan saya coba aplikasikan dalam kehidupan saya. untuk itu saya harus meyakinkan istri dan mertua agar mereka bisa memahaminya. istri dengan mudah bisa memahami karena memang dia ‘kanan’ sekali. sedangkan mertua yang relatif lebih sulit selain profesinya sebagai pensiunan pegawai negeri sipil, pola pikir beliau tentang kredit sangat tradisional dan konvensional, tapi apapun beliau terpaksa harus tetap dilibatkan dalam urusan kredit saya. dan ini jelas setelah mendapat persetujuan dari istri, beliau saya daftarkan ‘sebagai keluarga tidak serumah yan bisa dihubungi’ makanya kemudian dalam masalah ini, istri saya lah yang ambil peranan paling besar.  sebab mertua itu kan orang tua kandungnya. perlahan tapi pasti mertua pun setuju dan telepon yang berdering hampir setiap hari di rumahnya yang menanyakan tentang kepastian pengajuan kredit atas nama saya atau istri akhirnya menjadi kegiatan rutin yang tidak lagi istimewa.

itulah pada akhirnya saya semakin sadar, rupanya passion saya atau iman saya dalam bidang entrepreneur terutama tertuju pada masalah kredit. saya begitu menguasai masalah kredit, bukan hanya saya, istri sebagai orang terdekat juga sangat fasih dalam hal ini. kami berdua akhirnya menjadi seperti berlomba dalam mengajukan berbagai macam kredit. siapa yang disetujui lebih dahulu atau yang memperoleh kredit limit lebih banyak itulah yang menjadi juara. yang jadi juara pastinya akan dapat reward.

dan kondisi seperti ini tidak hanya berada antara saya dan istri. tapi juga bergaung keras di kalangan teman-teman dekat. saya menjadi sedemkian populernya sebagai orang yang paling mengerti masalah tentang kredit. jadinya banyak kawan yang datang dan bertanya-tanya kepada saya tentang tips dan trik dalam pengajuan kredit. saya dengan senang hati menjelaskan karena dengan adanya orang yang bertanya pada saya, jadinya saya seperti memperoleh ladang untuk mempraktekkan teori-teori baru saya tentang kredit. rata-rata teman-teman tidak keberatan karena yang sudah-sudah lebih banyak yang di setujui pengajuannya daripada yang ditolak. dipihak lain, istri yang hanya mengamati sepak terjang saya dan sebagai pendengar yang baik dari semua cerita saya, akhirnya pun menjadi ahli tentang kredit di lingkungan teman-temannya. istri akhirnya juga menjadi tempat bertanya bagi teman-temannya.

kegiatan pencarian kredit akhirnya menjadi kegiatan utama saya dan itu merupakan kegiatan yang sangat menyenangkan. semua yang saya lakuka disitu saya lakukan dengan senang hati dan tanpa adanya keterpaksaan. efek lain yang saya dapatkan adalah saya akhirnya jadi punya bisnis real beneran. berupa toko baju, rental mobil dan pengelolaan properti yang disewakan. semuanya tanpa direncanakan dan hanya megalir begitu saja karena memang yang bener-bener direncanakan dengan baik adalah hanya pencarian kredit.

dari semua faktor yang menyenangkan itu, faktor-faktor resiko pastilah juga menjai pemikiran utama saya. dalm teori bisnis manapun selalu dikatakan ‘high return – high risk’ makaya saya tidak pernah menganggap remeh soal resiko yang bakal saya hadapi bila segala sesuatunya tiba-tiba tidak berjalan mulus sesuai rencana. orang pertama yang harus juga paham adalah istri saya, makanya saya selalu meluangkan waktu berdua untuk membahas kesiapan kami berdua bila bener-bener harus menghadapi resiko kredit macet. ternyata disini kami saling menguatkan satu sama lainnya, jadi ya sudah jalan saja terus.

apalagi saya juga tau dengan pasti di kalangan teman-teman banyak juga yang tidak setuju dan tidak suka terhadap apa yang saya kerjakan. kadang tampak nyata bahwa mereka berharap saya suatu saat akan terjungkal akibat kebanyakan kredit.

mungkin ini juga yang bikin saya yakin bahwa passion atau iman saya adalah kredit. karena di surabaya dikalangan teman-teman sudah beredar  bahwa nama samurai identik dengan kredit. seperti aqua identik dengan air mineral, atau al’quran identik dengan umat muslim, atau imam samudra identik dengan teroris atau golkar identik dengan warna kuning.

pokoknya yang kayak-kayak gitulah.

di kalangan teman-teman entrepreneur surabaya juga banyak yang passionnya jelas misalnya seperti danton identik dengn internet hosting, riano identik dengan masakan madura, samsul gendut identik denga broker atau makelar dan banyak lainnya.

entah salah entah betul, kira-kira begitulah passion menurut saya, dan passion seseorang tercermin dari apayang dilakukannnya secara rutin hari demi hari.

menurut saya lagi, jika seseorang sudah menemukan apa yang jadi passionnya, bisnis apapun atau kerjaan apapun yang digeluti biasanya berjalan relatif lancar kalo nggak menjadi sangat lancar.

entah ini juga ngawur atau enggak, menurut saya passsion seseorang bisa menggambarkan apa yang menjadi tujuan hidupnya.

pokoknya gitu deh!!!!!

Leave a Reply