ngomong – ngucap – mikir

Purdi E Chandra Purdi E Chandra => Ngomong itu doa, maka ngomonglah yang baik baik, yang positif. Nyanyi itu juga doa. KD nyanyi lagu I am sorry goodbye…

seperti yang udah-udah, seringkali saya menyesal terhadap apa yang sudah saya ucapin dan terhadap apa yang sudah saya omongin. tapi apa boleh buat penyesalan itu berlaku sesuai dengan teori yang rame beredar – selalu datang terlambat dan setiap kejadian yang sudah terjadi gak akan mungki bisa diulang lagi.

seringkali saya kalo ngomong gak pake mikir langsung ngomong aja, ‘nyablak’ seperti kata orang betawi. karena saya sering salah ngomong, maka orang lain sering salah menafsirkan apa maksud dari omongan saya trus jadilah salah paham terhadap maksud dari kata-kata saya. apa yang inging diomongin langsung aja diucapin padahal yang keluar dari mulut saya itu belum tentu baik dan bisa berakibat fatal sehingga menyakiti hati orang lain, bikin orang lain tersinggung dan emosi sehingga terjadilah pertengkaran dengan saya.

apalagi saya punya kelemahan besar dalam hal berkomunikasi jadi semakin parahlah dengan apa yang keluar dari mulut saya ini. ngomong yang sudah dipikir dengan benar saja sering salah ucap sehingga salah tangkap maknanya, apalagi kalo saya ngomong gak pake mikir sering bisa bertambah runyam akibatnya. kemudian yang masalah kedua adalah suara saya ini keras, sehingga saya sering salah intonasi dalam mengucap yang mestinya intonasi penekanan menjadi intonasi menghentak sehingga yang tertangkap saya sedang ngamuk dan marah- marah.

serba repot deh pokoknya.

setelah saya mengikuti pelatihan entrepreneur saya jadi memahami bahwa kata-kata yang terucap dan keluar dari mulut saya ini bisa diartikan sebuah doa, sebuah keinginan.

kenapa bisa begitu, sebab yang sering tidak saya sadari, apa yang saya inginkan tapi terpendam dalam hati dan otak kecil saya bisa saja terlontar secara tiba-tiba di suatu moment yang tepat.

kenapa bisa begitu sebab hal-hal yang terimpan dan terpendam dalam hati dan otak kecil itu sebenarnya sebuah keinginan besar saya tapi karena saya ragu, tidak percaya diri dan diliputi rasa takut, hal yang jadi keinginan itu tidak kunjung terucap melainkan tetep tersembunyi jauh didalam lubuk hati.

suatu yang terpendam lama itu biasanya kuat sekali powernya – saya juga gak tau power apa ini disebutnya – tapi saya sebut saja power x. nah jika power x ini sudah benar-benar tidak tertahankan lagi, keinginan terpendam itu  bisa terlontar sepontan begitu saja tanpa sempat terpikir lagi.

saat terlontar dalam bentuk ucapan atau omongan itu bisa berupa ucapan positif atau negatif tergantung suasana hati. jika hati saya sedang gembira dan lingkungan disekitar saya sangat mendukung kegembiraan ini maka yang terlontar keluar dari mulut ini adalah kalimat-kalimat positif dan tentunya sesuatu yang positif tidak akan merusak suasana. tapi yang gawat bila hati ini sedang dalam kondisi tidak nyaman karena berbagai alasan maka yang keluar bisa jadi adalah ucapan-ucapan bernada negatif yang efeknya juga pasti negatif. gak ada ceritanya sesuatu yang negatif akan berakibat positif.

saya sering merasakan akibat positif dan negatif dari kata-kata yang terucap begitu saja dari mulut saya. dan parahnya lagi akibat itu gak mesti langsung terasa efeknya, tapi bisa juga menjadi efek tidak langsung yang baru terasa setelah berhari-hari, berbulan-bulan bahkan setelah lewat tahunan dari saat saya berkata-kata.

ada dua contoh kalimat yang terucap secara spontan pada saat saya cangkruan bersama kawan-kawan tiga atau empat tahun yang lalu.

yang pertama yang positif dulu aja. saat itu saya pernah bilang  pada kawan-kawan kalau saya ingin punya sebuah mesin gesek untuk kartu kredit agar saat saya bertransaksi gak perlu repot-repot lagi. bisa dilakukan kapan saja dan dimana saja, setiap saat saya butuh – saya lupa tepatnya kapan,  tapi akhirnya saya sekarang punya mesin tersebut untuk toko baju saya. bahkan tidak hanya satu tapi saya punya tiga unit mesin dari tiga bank yang berbeda.

ada satu lagi untuk yang positif.  pada saat saya gak punya usaha apa-apa disaat saya baru bangkrut dulu saya selalu cerita kemana-mana pada siapa saja yang bertanya ataupun yang tidak bertanya, bahkan sempat saya tulis dalam sebuah koment di dalam blog seorang kawan baik saya, kalo saya pingin punya property lebih dari jumlah jari kaki dan jari tangan saya – kini alhamdulillah apa yang saya ucapkan dulu itu hampir mencapai target, padahal saya inget banget kalo kata-kata saya itu oleh sebagian besar kawan-kawan dianggap sebagai ucapan  yang ngawur.

yang kedua ini yang negatif, saya pernah bercerita lebih tepatnya mengucapkan keluhan dalam sebuah acara cangkruan juga. ketika itu sudah lewat tengah malam sekitar jam 03 pagi dan kita saling ngobrol ngalor ngidul tentang apa yang jadi pikiran kita. saat itu semuanya bercerita tentang keinginan mereka dengan penuh semangat walaupun tubuh mungkin sudah tidak prima lagi dan setengah mengantuk. mungkin karena pengaruh suasana, kondisi capai karena habis beraktivitas seharian, tidak tidur padahal hari menjelang subuh serta gak mau kalah dengan cerita teman-teman yang bersemangat itu, tiba-tiba saya mengucapkan sutu kekhawatiran tentang kondisi saya kelak jika suatu saat perbankan tidak lagi mengucurkan kredit karena suatu sebab entah apapun itu. kawan saya ada yang memotong bicara saya agar jangan diteruskan karena dia takut hal itu benar-benar terjadi. tapi saya abaikan peringatan itu, kata-kata saya mengalir begitu saja lancar dan panjang, sepertinya saya dapat kesempatan buat mengeluarkan semua uneg-uneg dan rasa takut saya sebagai entrepreneur. semua diam dan tidak ada yangh berkomentar sampai ada seseorang yang mengalihkan pembicaraan ke topik yang lain. sekian tahun telah lewat dan kini kondisi tersebut bener-benar menghampiri saya. ya saat krisis ekonomi dunia menghajar indonesia buat yang kedua kalinya, disaat inilah saya pun merasa dihajar habis-habisan oleh realisasi dari ‘angan-angan ketakutan’ yang sempat saya ucapkan beberapa tahun lalu itu.

akibat dari semua itu yang bisa saya lakukan kini adalah, saya berusaha setengah mati untuk menjaga semua ucapan saya. saya berjuang keras agar semua ucapan yang keluar dari mulut saya sudah terpikir dengan baik dan saya selalu dalam keadaan positif sehingga yang terucap bener-bener ucapan yang baik.

bahkan ketakutan saya kini bertambah bukan hanya jangan sampe ngomong tanpa mikir,  tapi juga jangan sampe berpikir atau ngelamun yang negatif-negatif.  seperti yang saya bilang tadi pengalaman bikin saya tambah dewasa – bukan hanya dalam ucapan, tapi juga dalam pikiran. sekarang kadangkala gak usah terucap tapi baru terpikir saja sudah bisa menjadi kenyataan.

hiiiiiiiiiiii………….

always think positive and always be careful all the time !!!!!!!!

Leave a Reply