Negosiasi Face 2 Face

Acara inti dari perjanan ke malaysia ini adalah penawaran dari para pedagang malaysia kepada para pembeli dari negara-negara yang datang.

Cuman cara penawaran ini yang bikin sebagian dari kita suprise banget

karena langsung duduk di meja berhadapan dan melakukan negosiasi face to face. pake bahasa inggris pastinya. saya lumayan shock karena bahasa inggris saya parah banget.

Ilmu nekad yang saya bawa dari rumah akhirnya saya praktekkan, poko’e ngomong dengan bahasa inggris yang to the poin atau malah pake bahasa tarsan, misalnya mau nanya harga saya cuman bilang ‘price’ trus buat nominalnya saya pake kalkulator.

Cukup dengan cara itu ternyata bisa bikin mereka bicara panjang lebar, untung bahasa inggris pasive saya lebih bagus dari bahasa inggris active saya, jadi saya cukup mudeng dengan keterangan mereka.

Selama 2 hari kami berhadapan secara langsung dengan para supplier dari malaysia itu, dan kami saya dapat pengalaman yang sangat berharga, mereka rata-rata bukan produsen, mereka hanya broker atau para pembuat design saja sementara pabrik-pabriknya ada di cina dan india. ternyata itu yang membuat harga yang mereka tawarkan jauh lebih mahal dari harga kulakan saya di tanah abang.

Ada lagi yang lebih hebat dan pasti bikin iri. para entrepreneur dari negeri jiran itu akan langsung dapat kredit lunak dari pemerintahnya hanya dengan menunjukkan bukti transaksi, keren abis kan.

Masalah kredit di negeri jiran sangat membuat air liur menetes, para entrepreneur disana tentunya harus warganegara malaysia akan langsung di beri modal usaha sampai 100% oleh pemerintahnya bila mereka sudah memenuhi beberapa persyaratan seperti pembukuan yang baik atau lama usaha. dan setelah pemberian modal tadi bisa dikembangkan lagi mereka bisa mengajukan dana pengembangan ke pemerintah yang lolos akan mendapat fasilitas dana dengan sisten 50% hibah dan 50% lagi dengan kredit yang sanat lunak.

Sangat menggiurkan! itu kenapa entrepreneur di sana lebih maju dari pada entrepreneur di negeri kita tercinta ini. walaupun saat saya negosiasi dengan mereka secara face to face masih banyak yang modelnya ndeso jauh lebih ndeso dibandingkan kita disini tapi bila denger critanya tentang bisnis wah bikin mlongo.

Apapun selama saya disana cukup bikin saya bangga sebagai orang indonesia karena kami datang sebagai pembeli sedang orang malaysia sebagai penjualnya. pembeli tentunya berhak cerewet dan minta harga sesuai dengan yang diinginkan, sedangkan penjual harus melayani pembeli sesuai dengan kebutuhan mereka dan kemampuan mereka.

Leave a Reply