Menggali Ilmu Bertanya untuk Menjadi Kaya

posted in: Artikel Menarik, Entrepreneurship | 16

Kamis, 15 Juli 2010

Menggali Ilmu Bertanya untuk Menjadi Kaya

  • Senin, 12 Juli 2010 | 09:06 WIB

Menjelang Duel Maut Samurai Vs Takonology,


Surabaya – SURYA-
Kalau Anda ingin berbisnis, mana yang didahulukan: lakukan dulu, mikir belakangan; ataukah pikir dulu dengan masak, baru melakukan? Dua pilihan itu tampaknya sederhana, tapi sebetulnya mencerminkan dua arus besar (mainstream) pemikiran dalam dunia bisnis, dan bahkan kehidupan.

Dua arus pemikiran itulah yang akan dipaparkan oleh Samurai, 39, seorang wirausahawan muda Surabaya yang sedang menanjak, dan penemu “ilmu bertanya” takonology, yakni Lupeng Magnum, 37. Setelah pemaparan, keduanya bakal beradu taktik dan jurus dalam meningkatkan profit dan karakter pada sebuah acara yang akan digelar Harian Surya dan Kiyoe Production, Selasa (13/7) esok.

Samurai —yang menulis buku “Jangan BERPIKIR Jadi Pengusaha”— dan Lupeng Magnum merupakan sosok-sosok yang mewakili dua arus pemikiran berbeda tersebut.

Samurai condong pada pilihan “kerjakan dulu, jangan banyak berpikir dan pertimbangan”, sedangkan Lupeng cenderung “buatlah pertimbangan yang masak, baru kemudian lakukan”. Mana yang benar?

Menurut Samurai (yang memiliki sejumlah jaringan waralaba makanan dan juga Ketua Surabaya Entrepreneurs Club), untuk memulai usaha, tindakan atau bergerak adalah penting. Bahkan tak hanya bergerak, tapi bergerak cepat. Dia punya pengalaman pribadi soal itu.

Ketika memulai usaha “Wenmit Pecel Bento”, modal dia hanya Rp 10 juta. Untuk bikin gerobak dagangan membutuhkan Rp 6 juta, sehingga tersisa Rp 4 juta. Sembari menunggu pembuatan gerobak selama 2 minggu, Sam —panggilan Samurai— tak ingin diam.

Dengan sisa modal Rp 4 juta, dia mendesain iklan dan kemudian mengiklankan bisnis Wenmit-nya yang baru berupa “janin” itu ke media massa. Total duit yang dikeluarkan untuk itu Rp 2 juta, sehingga tinggal Rp 2 juta yang tercadangkan untuk biaya operasional dan biaya tak terduga kelak ketika Wenmit mulai dioperasikan.

Kecepatan Sam bertindak, yang bagi beberapa orang disamakan dengan spekulasi, ternyata membawa hasil. Iklan itu mendapat respons, dia menerima banyak telepon dari orang-orang yang ingin bekerja sama dengan Wenmit. Akhirnya, beberapa orang deal untuk bermitra dan bahkan mereka sudah mau membayar uang muka 50 persen dari harga jual kemitraan yang dipatok Sam sebesar Rp 15 juta. Dengan kata lain, bisnis belum mulai, untung sudah di tangan.

“Bahkan, ada mitra yang mau melunasi sendiri biaya gerobak. Kuncinya adalah kepercayaan, dan saya memang menjaga itu,” kata Sam, yang berbisnis juga di bidang properti dan garmen serta aktif di organisasi Usaha Kecil Menengah (UKM) Jatim.

Bagi Sam, jika terlalu banyak berpikir, orang tidak akan berani bergerak, sehingga akan tertinggal. “Kalau bertindak dan salah, ya anggap itu sebagai pengalaman. Guru yang bernilai adalah pengalaman,” tegas dia.

Lain lagi dengan Lupeng Magnum. Pria asal Pati, Jawa Tengah, ini pernah sukses sebagai eksportir furnitur dengan omzet rata-rata Rp 8 miliar per tahun. Ia juga penah memiliki Disna FC —sebuah klub sepak bola terkenal di Pati.

Memulai usaha dengan modal dengkul pada tahun 2002, Lupeng kemudian meraih kejayaan selama 2004-2006. Di masa itu, ia pun mengembangkan sayap mendirikan usaha konveksi serta toko olahraga di dua kota.

Namun, karena kesuksesan dalam waktu relatif singkat itu, Lupeng menjadi terlalu percaya diri. Tawaran-tawaran bisnis yang datang, tanpa pikir panjang, dia sambar. “Karena terlalu percaya diri, saya waktu itu pokoknya bertindak dan bertindak saja saat melakukan ekspansi usaha. Mikirnya belakangan,” kata Lupeng, jebolan Universitas Gadjah Mada Jogjakarta ini.

Ujung-ujungnya, tak hanya sejumlah bisnis barunya gagal, bisnis utamanya pun juga goyah dan bahkan jatuh pada tahun 2009. Ia juga ditipu mitranya. “Karena terlalu percaya diri, saya jadi spekulatif,” katanya.

Belajar dari pengalaman itu, di tengah kehancuran bisnis, Lupeng kemudian melakukan perenungan. Lahirlah ilmu baru dari perenungan itu, yang disebutnya takonology. Dia juga mendirikan Takonology Institute. Takonology berasal dari takon, kata bahasa Jawa yang berarti “tanya” atau “bertanya”, serta logy (dari asal kata logos) yang berarti “ilmu”. Jadi, takonology adalah ilmu atau seni bertanya yang berkualitas.

Intinya, Lupeng kini justru menganjurkan orang untuk bertanya dulu dengan benar, kemudian melakukan pertimbangan, dan baru bertindak. Secara ekstrem bisa dikatakan, Lupeng berada di pemikiran yang beda dengan Samurai. Tapi, betulkah demikian? Apakah dua pemikiran itu tak bisa dikompromikan dan diambil yang terbaik dari masing-masing?

Untuk jelasnya, kita bisa mengikuti paparan dan adu taktik serta jurus antara Lupeng dan Samurai dalam acara “Duel Maut Samurai Vs Takonology” yang digelar di Kantor Harian Surya pada Selasa (13/7) besok. Informasi kepesertaan bisa menghubungi telepon (031) 83357590 atau (031) 91679872. sunarko

Leave a Reply