memang gak selalu duit…

posted in: Entrepreneurship | 0

Waktu cangkruan di Cafe Kantin 21, di pinggir pantai kota Singaraja, saya termangu-mangu mendengar kisah seorang anak muda pengusaha yang bisnisnya bergerak di bidang distro. Dari penampilannya saya mengira umurnya pasti di bawah 30th dan memang sekarang ini banyak sekali anak muda yang sukses menjadi pengusaha di usia yang relative muda.

Dia berkisah pada kawan-kawannya saat dia memulai bisnisnya dulu, sementara saya yang berada di belakang si pemuda, ikutan mencuri dengar kisahnya sambil menyeruput minuman dingin segar.

Seperti biassa, kisah sukses selalu diawali dengan kisah penderitaan, dimana dulu tokonya cuman kecil dan terhimpit di antara toko-toko besar lainnya. Barang yang ia display itulah barang dagangannya, dia nggak punya stok sama sekali karena kerterbatasan modal. Jadi kalo ada konsumen yang datang dan mencari barang dan ternyata barang itu nggak ada didisplaynya dia langsung bilang “wah baru aja di beli orang” atau “wah kita lagi nunggu kiriman dari bandung tapi kok lom dateng juga setelah sekian lama” Anak muda itu  menggunakan seribu satu alasan untuk berkelit kalo barang yang di cari konsumennya gak ada.

Saya menduga kalo dia jualan dengan cara seperti itu pasti banyak calon pelanggannya akan kecewa dan nggak bakalan balik lagi datang ke tokonya. Dugaan saya ternyata tepat, sebab anak muda itu juga mengatakan hal yang sama persis seperti dugaan saya. Cuman dia kemudian menambahkan kisahnya dengan mengungkapkan triknya biar calon konsumennya itu nggak kabur.

Karena memang di mengkhususkan diri jualan ke barang-barang branded maka dia tetep yakin akan tetep dikunjungi oleh calon pembeli baru, tapi dia juga gak ingin calon pembeli lamanya menghilang dan nggak muncul lagi. Yang namanya orang dagang pastilah ingin konsumennya bertambah dan meningkat bukan semakin berkurang, apalagi ini yang datang belum lagi jadi pembeli, tapi masih calon pembeli.

Karena tau dan sadar modalnya minim dan stok dagangannya gak lengkap (bukan hanya model yang gak lengkap tapi juga ukuran dan warna) maka jurus yang dia andalkan adalah keramahan.

Dia selalu berlaku ramah pada calon konsumennya atau pada siapa saja yang datang mengunjungi tokonya itu. Sedapat mungkin dia selalu membuka komunikasi dan selalu mengajak ngobrol pada siapasaja yang datang mengunjungi tokonya, beli ataupun tidak beli barang di tokonya. Dia sadar banget dengan keramahan, dan service yang dioptimalkan akan bikin orang yang datang akan terkesan, karena modal duit gak cukup maka modal keramahan dan komunikasilah yang dioptimalkan.

Itu tips pertama yang dia ungkapkan, masih ada tips berikutnya…..

Dengan keramahannya dan dengan komunikasinya yang baik, maka perlahan omsetnya makin meningkat, hingga brand atau merek beken yang disukai anak muda makin lengkap bertengger di display tokonya. Bukan itu saja dari yang tadinya dia nggak punya stok kini dia mulai punya stok barang dagangan. Kalo dulu setelah ada yang laku dia belanja lagi biar tokonya gak kosong maka kini dia sudah bisa menyiapkan stok yang cukup sehingga jika belanja grosir ke bandung misalnya dia dapat harga yang lebih murah lagi sehingga margin semakin tinggi dan profitnya semakin besar.

Dengan perkembangan seperti itu, maka dia pingin lagi makin menumbuhkan bisnisnya dengan membuat brand sendiri, membuat merek sendiri, artinya dia mulai produksi sehingga dia bisa bikin margin jualnya makin tinggi lagi, sebab menurut analisanya dengan memproduksi sendiri dia bisa menekan banyak modal jika harus belanja secara grosir di tempat-tempat yang memproduksi barang yang brand nya sudah terkenal.

Dia bilang asal kita punya duit maka mau produksi apa saja, mau bikin apa saja akan sangat mudah dan gampang. Masalahnya apakah kemudian kita bisa menjualnya dengan harga branded atau tidak. Dia bilang akan menjual barang produksinya itu dengan harga branded  karena selama ini toko distronyanya sudah hampir 4 tahun lebih sukses jualan barang-barang brande. Barang branded tentu harganya cukup tinggi di banding harga barang sejenis yang mereknya gak terkenal.

Nah sekarang tantangannya adalah bagaimana dia bisa jual itu kaos-kaos produksinya sendiri dengan segara pernak perniknya tapi dengan harga mahal setara dengan barang-barang branded yang sudah dia jual terlebih dahulu di tokonya.

Gak habis akal maka dia sispkan barang-barang produksinya di antara barang-brang branded yang dia jual di tokonya, lalu dia lebeli dengan harga 10-30 ribu lebih murah di bandingkan dengan harga barang-barang braded yang ada.

Dia memakai logika konsumen, kalo sebuah toko menjual barang branded maka gak akan jual barang yang gak branded, jadi konsumen beranggapan bahwa semua barang yang ada di tokonya itu adalah barang branded, nah diantara barang branded jika terselip sesuatu yang bagus dengan nama brand yang gak gitu terdengar tapi harganya lebih murah maka biasanya barang itu yang akan di beli oleh konsumen yang berkantong cekak tapi pingin bergaya pake barang branded.

Trik nya berjalan dengan baik, perlahan tapi tumbuh, gak sampai satru tahun maka brand buatannya sendiri sekarang sudah bisa di bandrol harga sejajar dengan bran-brang branded yang dia jual di toko distronya. Dengan modal yang lebih kecil tapi margin dan keuntungan yang lebih gede karena sudah berhasil menjual diantara barang-barang branded maka dia bisa menggunakan keuntungannya itu dengan berpromosi lebih untuk membuat omset barang produksinya lebih bagus lagi.

Dia bilang kalo diawal dia bikin dan produksi sendiri pada saat tokonya belum terkenal seperti sekarang pastilah dia akan lebih keteteran dalam permodalan sebab ada dua faktor yaitu untuk membuat tokonya terkenal saja dia harus promosi extra apalagi yang dijual adalah barang produksinya sendiri yang mereknya gak terkenal. Tapi setelah tokonya terkenal sebagai toko distro yang direkomendasikan anak muda untuk membeli barang-barang distro terkenal maka apa yang dia jual pasti akan laku juga….

Sebuah taktik jitu yang dilakukan seorang anak muda yang berbisnis dengan modal yang terbatas…..

Saya pikir ceritanya sudah selesai maka saya segera menghabiskan minuman saya dan akan beranjak untuk membayarnya tapi ternyata pemuda itu masih melanjutkan ceritanya lagi, dan itu membuat saya duduk kembali walaupun minuman dan makanan sudah habis, hehehe…

Saya kembali memasang kuping saya menyimak cerita siu pemuda itu lagi.

Dia bilang untuk mengungkit kembali penjualan, barang-barang produksinya sendiri jika perputarannya sudah mulai dirasakan lambat maka dia segera akan mencari group-group band indie dan melakukan promosi dengan bekerjasama dengan group band indie itu. caranya dia mengundang para personil group band dan kemudian dia suruh mereka untuk memilih sendiri barang-barang yang ada di distronya, tentu group band tersebut senang karena akan bisa pentas dengan kostum dari distro branded.

Karena mendapat spnsor barang-barang branded yang di pake saat pentas atau manggung tentu toko distronya disebut sebagai sponsor oleh group band yang mendapat kostum darinya dan tentu pakaian dan asesoris yang di pake oleh band akan juga di cari oleh fans dari group band itu. Dengan cara ini dia bisa bikin toko distronya mendapat calon konsumen baru, konsumen yang datang dari fans si group band. Dengan modal yang gak terlalu gede, dari dagangannya yang sudah lambat pergerakannya dia bisa gunakan sebagai sarana promosi baru dan menghasilkan konsumen baru.

Si pemuda mengakhiri ceritanya, walo saya gak dapat ngelihat wajahnya tapi saya yakin diwajah itu akan nampak senyum lebar, dia pantas tersenyum karena ceritanya luar biasa banget buat saya….

Modal memang gak selalu duit, tapi dengan bisa menjual pasti dapat menghasilkan duit!!!