Makanan Khas

posted in: Entrepreneurship | 0

Lucu juga kalo ingat petualangan di jambi kemaren itu.

Untuk sarapan pagi saya diajak untuk menikmati soto jakarta paling enak disana.

Pas waktunya makan siang, kami semua ditraktir oleh seorang kawan di sebuah rumah makan nasi padang.

Ketika rasa lapar melanda sore-sore maka kami semua lantas mengganjal perut di sebuah warung yang menjual mie aceh.

Trus malam harinya saya diajak mereka untuk dinner di rumah makan sate kambing khas tegal.

Saat waktunya pulang ke surabaya tiba saya dikasih oleh-oleh pempek satu kardus gede.

Bukannya saya nggak tau rasa terima kasih dan nggak bisa bersyukur tapi dalam hati saya terus bertanya-tanya apa sih sesungguhnya makanan khas jambi itu?

Saya tulis kondisi yang saya alami itu dalam sebuah status di facebook dan ternyata status saya itu jadi bahan diskusi buat kawan-kawan saya yang tinggal di jambi, baik yang asli jambi maupun yang memang sudah lama tinggal di jambi.

Melalui perdebatan yang lumayan seru tetep aja gak ketemu apa makanan khas jambi dan apa oleh-oleh khas jambi itu.

Trus karena status yang saya tulis itu akhirnya saya diajak untuk menikmati ‘tempoyak’ yang katanya merupakan makanan khas jambi, yaitu semacam sup ikan dengan rasa asam pedas yang bahan dasar pembuatannya adalah sari fermentasi buah durian.

Tapi walaupun terbuat dari durian ketika saya coba aroma dan rasa duriannya gak berasa sama sekali, lumayan banget sebab pada dasarnya saya gak pernah bisa suka ama durian soalnya, hahaha…

Ternyata nyari masakan tempoyak ini susah juga, hampir gak ada warung makan di jambi yang jualan, tapi tetep aja kalo gak mengenal putus asa pasti ada solusinya.

Masakan tempoyak akhirnya bisa kami temukan di sebuah warung di belakang rumah sakit DKT, lokasinya lumayan tersembunyi 🙂

Sampai selesai makan akhirnya saya mengambil kesimpulan kalo di jambi memang gak ada makanan yang khas, kalo pun ada maka sulit ditemui.

Fenomena yang saya sampaikan ini disetujui oleh kawan-kawan saya, dan mereka juga bilang bahwa sesungguhnya sesuatu yang sulit itu bisa jadi sebuah peluang bisnis 🙂

Diskusi sehabis makan tempoyak pun berlanjut. Saya sempat sampaikan cerita ketika saya berkunjung ke batam. Saya bilang berdasarkan informasi yang saya peroleh batam itu dulunya juga gak punya makanan khas, gak ada oleh-oleh yang khas untuk kota seramai itu.

Sampai pada suatu saat ada seorang pengusaha muda yang sukses ‘menciptakan’ oleh-oleh khas batam yaitu cake pisang.

Kenapa dalam diskusi itu saya sebut dengan kata ‘menciptakan’ sebab berdasarkan informasi yang juga saya dapatkan kota batam katanya bukan penghasil pisang. Jadi gak mungkin kan pisang bisa dijadikan oleh-oleh khas nya, hehheehe…

Karena kejeniusan pengusaha itu saja sesuatu yang gak ada bisa beliau adakan ditambah dengan tehnik promosi dan marketingnya maka produk cake pisang nya bisa menjadi terkenal dan fenomenal.

Hampir setiap orang yang saya lihat di bandara batam menenteng cake pisang produksi perusahaannya dan memang akhirnya cake pisang jadinya bener-bener terkenal sebagai oleh-oleh khas batam.

Maka dengan tidak adanya makanan yang khas di jambi justru itu bisa jadi peluang usaha yang dahsyat, apa saja bisa diciptakan jadi oleh-oleh dan makanan khas jambi.

Tapi tentunya promosi dan tehnik marketing harus benar-benar diperhatikan supaya bener-bener terwujud.

Walaupun gak ada dan merupakan sebuah peluang dahsyat jika promosi dan tehnik marketingnya gak di perhatikan dengan baik dan benar semuanya akan tetep sia-sia belaka.

Kalo boleh saya simpulkan sebenernya oleh-oleh khas daerah itu nggak harus benar-benar berasal daerah itu sendiri tapi bisa juga diciptakan dari hanya sekedar ide sederhana.

Kira-kira siapa yah nanti yang memulainya duluan?