lubang wc atau tempat sampah

pada saat saya memutuskan untuk menjadi entrepreneur saya merasa menjadi mahluk paling kesepian di dunia ini. saya merasa sangat sendirian karena gak ada yang bisa diajak ngobrol dan bertukar pikiran. lingkungan terdekat disekitar saya bukan entrepreneur, mereka terdiri dari karyawan baik swasta maupun pemerintahan. kencenderungan mereka selalu menyalahkan pilihan saya buat jadi entrepreneur terutama saat saya sedang berbuat salah atau sedang merasa putus asa dan tidak punya semangat.

saya rasa hal ini juga dialami oleh semua entrepreneur pemula dimana pada saat-saat itu selalu butuh dukungan support dan semangat. bukannya mendukung lingkungan justru malah meruntuhkan semangat dan moril.

ternyata kemudian saya merasakan hidup sendirian sebagai entrepreneur bukan hanya pada saat-saat awal merintis saja. tapi itu berlanjut pada semua fase kehidupan saya sebagai entrepreneur.

ternyata yang saya bayangkan di awal salah lagi. mulanya saya mengira lingkungan terdekat akan menerima dan mendukung saya sebagai entrepreneur pada saat bisa membuktikan pada mereka bahwa saya bisa  berhasil dan menggantungkan kehidupan saya pada dunia entrepreneur, bahkan saya bisa berbagi pada sesama dari penghasilan yang saya peroleh dari situ. dugaan saya keliru, lingkungan terdekat memang akhirnya bisa menerima pilihan saya ini bahkan memuji-muji saya karena apa yang saya dapatkan dari entrepreneur begitu membanggakan mereka.

tapi ya cukup sampai disitu, hanya pujian yang saya terima dan tidak lebih dari itu.   saat saya bertanya dan butuh kawan diskusi untuk menghadapi segala permasalahan yang saya temui dalam perjalanan perkembangan bisnis saya, ternyata saya menghadapi kenyataan yang sama, yaitu saya sendirian lagi.

lagi-lagi lingkungan tidak bisa mendukung, lingkungan ternyata bener-bener tidak mengerti apa sesungguhnya yang saya hadapi. apapun,  lingkungan terdekat saya dipenuhi oleh kaum karyawan yang sangat berbeda dengan dunia yang saya geluti.

karyawan bekerja karena target-target yang diberikan oleh orang lain, mereka juga punya rasa takut pada yang disebut dengan boss (itu yang memotivasi mereka untuk terus bekerja), dan yang terutama karyawan menerima penghasilan tetap setiap bulannya. dan itu selalu mereka peroleh tidak peduli kondisi apapun yang terjadi. apakah mereka berprestasi atau tidak, perusahaan sedang masa sulit atau tidak, dan sebagainya.

sedang entrepreneur sebaliknya, tidak ada yang ditakutinya karena dia adalah sosok pemegang kekuasaan tertinggi di perusahaannya.  bila tidak bekerja dengan baik dan maksimal maka dia benar-benar tidak akan berpenghasilan dan terutama dia harus rajin-rajin memberi motivasi dan membagkitkan semangatnya sendiri agar yang dikerjakannya berlangsung dengan maksimal.

dua dunia yang sangat berbeda ini bagaimana bisa saling mendukung. makanya saya sebagai entrepreneur merasa sangat kesepian.

saat awal merintis, kesepian saya tertolong dengan saya menemukan komunitas atau teman-teman sekelompok yang sevisi dan semisi. ini sangat membantu, terutama pada saat-saat saya butuh suport, motivasi dan solusi dari permasalahan yang saya hadapi. itu terjadi karena kedudukan saya dan teman-teman setara. itu juga karena bisnis masing-masing yang sama-sama dalam proses perintisan dan pengembangan berjalan masih setara, dalam level yang sama-sama baru merintis dan membangun.

tapi kemudian satu atau dua tahun berjalan mulailah ada gap diantara kami semua sekomunitas. gap itu terjadi karena dalam perjalanannya perkembangan bisnis masing-masing tidak setara lagi.   kami tidak lagi berada pada level yang sama.   ini bisa terjadi karena pilihan bisnis yang diterjuni masing-masing dari kami berbeda, modal dasar baik yang berupa uang, prasarana atau pengetahuan juga berbeda.   tapi yang terutama menjadi penyebab adalah karena pertumbuhan bisnisnya yang berbeda,  ada yang melesat dengan cepat, ada yang jalan ditempat bahkan ada yang tutup bankrut karena berbagai sebab.

pada kondisinyang berbeda-beda level ini,  mulailah terjadi kesulitan untuk berkomunikasi diantara kami, walaupun diawal kami sama-sama merintis bareng dan sering kumpul bareng karena tergabung dalam komunitas yang sama bahkan sering cankruan bareng dalam pergaulan kesehariannya.

saat-saat itu kembalilah saya menjadi mahluk kesepian. kembali bingung mau ngobrol sama siapa, mau tanya sama siapa dan mau sharing sama siapa. sebenarnya saya masih bergabung dalam komunitas yang sama malah ikutan dibanyak komunitas entrepreneur yang lainnya, tapi ini lebih karena kebutuhan moril buat sharing yang luar biasa. hubungan dengan teman-teman lama  dan yang baru  juga masih berjalan baik dan akrab,  tapi kalau untuk berdiskusi sudah tidak nyambung lagi. ini yang bikin bingung dan bermasalah.

level bsnis dan pengetahuan boleh beda tapi status saya dan kawan-kawan pada prinsipnya tetep sama, sebagai boss tertinggi diperusahaan masing-masing. jadinya ego kami masing-masing tetep tinggi karena merasa sama-sama setara jadi orang hebat, ada rasa tidak mau mengalah. atau ada rasa ingin menggurui saat bicara pada kawan yang bisnisnya lebih lemah. ini yang terjadi secara tidak kami sadari, tapi  akibatnya sangat mengganggu komunikasi kita semua. yang lebih repot lagi bila ada kawan yang saat merintis dulu sangat mudah ditemui buat diajak sharing, kini saat perkembangan bisnisnya melaju pesat bak meteor jadi sulit ditemui, bukan karena berubah jadi sombong, tapi karena kesibukan bisnisnya yang membuatnya bener-bener sibuk.

kembali menjadi mahluk kesepian di level bisnis manapun sangat berbahaya karena pasti sangat mempengaruhi jalannya perkembangan bisnis.

untungnya sampai saat ini saya bisa menemukan seorang kawan yang masih bisa diajakberbagi cerita. berbagi cerita tapi tetep sesuai ego kami masing-masing. ini terjadi karena memang level bisnis kami berbeda jauh. level saya jauh tertinggal diliat dari sudut perkembangan bisnis manapun,  baik itu jumlah karyawan, omset, network yang dibangun, pengalaman dan pendidikan bahkan secara kecerdasanpun saya masih jauh dibawah. tapi dengan gap yang sedemikian lebar itu kami tetep bisa berkomunikasi dengan baik walaupun dalam keseharian jarang sekali bertemu, baik bertemu secara fisik maupun secara alat telekomunikasi.

saya dan kawan tadi masih bisa saling berbagi pengalaman dalam kesetaraan yang sama dan saat itu tidak ada ego kami yang muncul (ego yang muncul saat berkomunikasi sangat berbahaya karena bisa berakibat fatal saling ketersinggungan dan berakibat hancur hubungan pertemanan).

saya kemudian berpikir apa yang terjadi, sehingga kami masih bisa berkawan dalam arti sesungguhnya.

saya kemudian mengambil kesimpulan buat diri saya sendiri. rupanya saat kami berkomunikasi secara tidak sadar saya dan kawan saya tadi bisa berperan seperti tempat sampah atau sebagai lubang wc.

seperti jika seseorang ingin membuang sampah setelah kotoran memenuhi tempat penampungan sementara, yaitu orang trsebut tinggal angkat tempat penampungan sementara dan lempar isinya yang berupa kotoran sampah ke tempat sampah. tempat sampah tidak akan protes, dia diam saja menerima sampah dari siapa saja dan berupa apa saja yang di buang oleh orang tadi. setelah sampah dari tempat penampungan sementara kosong, orang tadi lega dan pergi lalu mengisi lagi tempat penampungan sementaranya dengan sampah-sampah baru. sampah yang dibuang pasti sudah tidak berguna bagi orang tadi, tapi tempat sampah tetep akan menerimanya.

lubang wc juga sama, saat seseorang kebelet pingin buang hajat dia akan cari lubang wc, lalu cuuur atau brol, hajat orang itu dibuangnya ke lubang wc. setelah hajatnya terbuang orang tadi pastinya akan merasa lega karena sudah tidak punya beban lagi dan bisa beraktifitas normal kembali. nah lubang wc juga gak pernah protes terhadap hajat apa yang dibuang kesitu.

ibarat perumpamaan ini, saya bisa berfungsi sebagai tempat sampah atau lubang wc buat kawan tadi dan begitu juga sebaliknya. saat masing-masing dari kami sumpek dan pingin ngobrol ya kami bikin janjian dan kemudian bertemu. yang punya masalah akan nyrocos terus sampai tuntas sedang yang tidak punya masalah akan mendengarkan tanpa protes. setelah selesai nyrocos dan semua masalah di keluarkan kita pun pamitan untuk berpisah. begitu saja. si punya masalah tidak minta solusi dan si pendengar juga tidak memberikan solusi tanpa diminta, karena sesungguh-sunguhnya dari kami masing-masing sudah tau apa yang jadi jawaban dari persoalan yang ada,  makanya tidak ada yang bertanya dan tidak ada yang menjawab tanpa ditanya.  persis tempat sampah atau lubang wc, hanya berfungsi sebagai tempat penampungan kotoran.

kecuali bila  ada pokok bahasan yang bener-bener perlu didiskusikan maka kami akan berfungsi kembali dengan normal, yang cerdas akan menujukakkan kecerdasannya dan yang berpengalaman akan menujukkan pengalamannya.

kondisi ini yang bikin saya gak kesepian lagi dan bisa bertahan hidup sampai hari ini. uniknya saat kita bertemu dan berfungsi sebagai tempat sampah atau lubang wc, waktu ngobrolnya juga bisa menjadi berjam-jam sehingga sering bikin pasangan masing-masing merasa sebel. waktu saya memang lebih flexibel dari waktu kawan tadi mungkin karena dia baru menikah dan baru punya momongan.

jika dia berkunung ke tempat saya dan saya sedang berfungsi sebagai lubang wc,  akan ada timer yang berbunyi yang menunjukkan waktu kunjungan sudah berakhir. entah bagaimana caranya, pasangan kawan saya itu kok bisa tau ya, setelah kawan tadi duduk ngobrol dengan saya selama dua jam bisa dipastikan alat komunikasinya berdering dan itu pasti dari pasangannya yang menanti dengan tidak sabar kenapa kok belum pulang juga, padahal tadi janji kunjungannya hanya sebentar. selalu setelah duduk selama dua jam, hebat sekali. (dalam hati si nyonya pasti bilang ‘gak ada critanya ngobrol sama samurai cuman sebentar’)

kalau saya yang berkunjung dan saat dia yang berperan sebagai tempat sampah atau lubang wc,  ini dulu saat beliau masih bujang,  hp saya akan bunyi setiap kali waktu subuh dan itu pasti dari ibunya anak-anak yang bertanya “ngobrol dari magrib sampe subuh apa belom cukup? trus mau pulang jam brapa?” tapi sekarang saya culup tau diri dan hanya berkunjung kekantornya setelah bikin janji pada jam-jam kerja saja.

tapi jika kami masing-masing tidak punya kebutuhan ya kami tidak akan saling menyapa dan kalaupun bertemu baik sengaja ataupun tidak percakapan yang timbul hanya basa basi kurang dari lima menit. aneh memang tapi itu lebih dari cukup karena kalo dipaksain juga gak ada obrolan.

dalam perkembangan berikutnya. saya menemukan lubang wc atau tempat sampah baru, tapi disini lebih tepatnya saya yang selalu berperan sebagai tempat sampah atau lubang wc bagi teman baru tadi.

setiap orang beda kebutuhan dan keperluannya tapi tetep butuh tempat sampah atau lubang wc, sehingga tidak bisa joint atau sharing di lubang wc atau ditempat sampah yang sama.

Leave a Reply