Lomba Makan di Ayam Penyet Sambel Ijo Sidomulyo

posted in: Entrepreneurship | 0

Malam itu untuk kesekian kalinya (kalo saya gak salah adalah untuk ke 3 kalinya) Lomba Makan di Ayam Penyet Sambel Ijo Sidomulyo

Seperti ciri khas orang Lamongan yang berjualan di luar wilayahnya maka rumah makan ini sederhana saja hanya berupa warung tenda yang menggelar dagangannya di pelataran parkir sebuah komplex ruko dimana menu andalannya adalah ayam goreng dengan bumbu sambal ijo.Saya nggak terlalu suka sambal tapi sambal lombok ijonya dahsyat banget rasa pedasnya jadi walaupun weenak saya lebih memilih ditemani oleh sambal terasi saat mengudap ayam goreng disana.

Menu andalan di rumah makan tenda ini adalah ayam goreng yang disajikan dengan pilihan sambal yaitu sambal terasi atau sambal ijo (sambal ijo di warung ini jagoan banget). Ciri khas standart yang gak hilang persis seperti warung tenda pengusaha penjual ayam goreng asal Lamongan lainnya yang sering saya temukan di berbagai kota yang sudah saya singgahi di penjuru Indonesia. Memang selain ayam goreng di sana juga di sediakan ayam bakar, tempe dan tahu serta hidangan hasil laut lainnya. Pokoke ciri Lamongannya kental banget deh.Pada kali ketiga saya berkunjung, saya makin bisa melihat keunikan-keunikan yang tersaji di warung yang buka mulai jam 4 sore itu.Keunikan pertama adalah adanya mesin kasir register yang rasanya lom pernah saya temui di warung tenda manapun.Kemudian saya juga melihat adanya mesin EDC atau mesin gesek untuk pemakaian atau pembayaran yang menggunakan kartu kredit yang biasanya hanya saya temui di rumah makan modern bukan warung tenda seperti ini.Selain itu ada juga spanduk besar terpampang disana yang bertuliskan huruf gede-gede ‘jumat ceria, makan apa saja gratis minum apa saja sepuasnya’Kata mas Didik ownnernya, spanduk itu artinya adalah dimana pada hari jumat para pelanggan yang makan dan menikmati hidangan disana bisa gratis minum apa saja sepuasnya.”Wah ini cara promosi yang juga diluar pakem buat warung tenda penjual ayam goreng” begitu pikir saya.

Pikiran saya melayang kemana-mana ke semua keistimewaan yang ada di warung itu walaupun nggak konsentrasi penuh sebab sebentar lagi saya akan berlomba makan ayam goreng dengan seorang senior. Kami berlomba cepet-cepetan makan 8 potong ayam goreng di sana. Saya makan 8 potong dada ayam goreng dan beliau makan 8 potong paha ayam goreng.Para penonton gak ada yang menjagokan saya sebab sang senior yang menantang saya itu setiap malam makan di ‘ayam penyet sambel ijo sidomulyo’ dan selalu memesan x potong paha ayam goreng serta menyantapnya dengan cepat sementara saya belom pernah makan disana dengan jumlah 8 potong sekali makan.

Nggak lama tersajilah pesanan kami dan mualilah kami makan dengan cepat. Terbukti memang sang senior cepat sekali dalam menghabisi potongan demi potongan paha ayam itu sementara saya agak keteteran dalam menyantap dada ayam goreng yang saya pesan.Saya santap dada ayam itu sepotong demi sepotong saya hanya makan dadanya saja, sementara sayap ayam yang melekat di potongan dada saya potek dulu untuk saya makan belakangan. Tapi walaupun begitu kecepatan sang senior memang luar biasa beliau begitu cepat dalam memakan daging paha dan sekejab hanya tinggal serpihan tulang saja.Saat tinggal 1 paha yang sedang beliau habisi pada saat yang sama sebenernya saja juga sedang menikmati dada terakhir di piring saya tapi sayap ayamnya masih utuh 8 potong, jelas saya akan kalah dalam pertandingan itu.

Otak saya berpikir cepat diantara pikiran-pikiran tentang berbagai keistimewaan yang ada di warung tanda ini. “Saya harus menang” begitu kata batin saya. “Tapi bagaimana caranya ya?”Tiba-tiba keistimewaan yang ada di warung tenda ‘ayam penyet sambel ijo sidomulyo’ berhasil mempengaruhi pola pikir otak saya dan seketika saya berteriak lantang “saya menang, dada ayam goreng yang saya pesan sudah habis bersih tinggal sayapnya saja padahal saya kan hanya pesan dada ayam nggak pesan sayap ayam”Semua terperangah atas tereakan saya itu, beberapa masih tercengang dan beberapa mulai tertawa setelah mencerna kalimat yang saya ucapkan tadi, memang lombanya adalah adu cepat makan dada dan ayam goreng dan tidak disebut-sebut sayap ayam yang melekat jadi satu pada dada ayam gorengnya.Hahahhaa, saya menang dan semua akhirnya mengakui saya menang.Rumah makan atau warung makan ‘ayam penyet sambel ijo sidomulyo’ di batam ini sungguh menginspirasi menunya tradisional tapi promosi dan fasilitasnya modern selain rasa masakannya yang memang yummy banget.Ketika saya tanya pada sang owner “tutupnya kapan pak” Beliau hanya tersenyum sambil berkata “ada dua alasan warung ini tutup yaitu ketika masakannya habis atau ketika orang yang datang habis”

@sa_murai
samurai jagoan.com
wenmit.com
facebook : samurai jagoan