kompor yang panas

kalo mau diinget-inget lagi dan mau dipikir-pikir lagi, sebenarnya apa sih yang bikin saya bertahan di dalam dunia yang perlu ekstra kemandirian ini.

mungkin yang pertama adalah sifat saya yang egois, mau menang sendiri dan tidak suka diatur-atur. tampaknya semua sifat yang ada dan saya miliki itu mencerminkan sifat-sifat dasar manusia yang negatif. ya memang bener, tapi bila dilihat secara sudut pandang yang lebih positif maka sifat yang saya miliki ini biasanya adalah sifat khas yang dimiliki oleh para entrepreneur. tidak semuanya sifat negatif itu akan membawa pengaruh negatif pada pemiliknya tapi bisa juga sifat negatif itu menjadi positif bila pemiliknya bisa mengasah dan mengaturnya dengan baik.

ketiga sifat tadi membuat pemiliknya tidak bisa hidup dibawah tekanan atau perintah orang lain, ini sifat negatif. kalau tetap dipaksakan maka pemilik ketiga sifat tadi akan menjadi seorang pemberontak sejati. tapi tiga sifat tadi akan berubah menjadi sifat-sifat yang positif jika berhasil membawa pemiliknya menjadi seseorang yang mandiri sehingga tidak perlu berada dibawah perintah dan tekanan orang lain dalam memenuhi segala kebutuhannya.

nah itu yang terjadi dengan saya, saat lulus dan diterima kerja di suatu bank swasta di jakarta, selain karena masa kontraknya yang memang tidak diperpanjang, juga karena prestasi kerja saya menurun drastis akibat berontak terhadap peintah-perintah atasan. kemudian ketika bergabung dalam bisnis keluarga, hal yang sama terjadi dimana saat kantor surabaya masih menjadi bagian dari kantor jakarta maka hampir seluruh perintah dan peraturan yang datang dari jakarta saya langgar sehingga akhirnya oleh rapat komisaris supaya tidak terjadi bentrok yang berkepanjangan antar saudara, maka cabang surabaya yang saya pimpin diberi hak otonomi khusus. semenjak peubahan status itu maka kinerja saya di sana menjadi lebih baik dan tenang.

faktor lainnya mungkin adalah dukungan dari lingkungan. secara tidak langsung kedua orang tua saya tidak memaksakan saya untuk menjadi pegawai negeri walaupun sebenarnya bapak saya punya kekuasaan untuk melakukan itu. beliau jug tidak melarang saya untuk mengeluti bisnis keluarga disaat saya kembali ke surabaya ketika kontrak kerja di jakarta habis. beliau berdua memang beberapa kali membujuk saya untuk mau jadi pegawai negeri dan mengusulkan agar perusahaan keluarga itu dibiarkan dikelola oleh orang lain saja. ketika saya tetep menolak juga tidak ada omelan yang berarti.

tapi karena saya jadi pimpinan perusahaan yang ada dilingkungan pegawai negeri dan karyawan swasta maka jiwa dan pribadi saya masih belum mandiri, saya masih belum  terbiasa berpikir, berinisiatif dan mengambil keputusan sendiri. saya masih terbiasa untuk menerima perintah dan petunjuk dari yang lebih senior.

pelan-pelan jiwa kemandirian saya itu mulai terasah saat perusahaan keluarga kami bankrut susul menyusul karena tidak sanggup melawan kompetitor yang berupa kartu kredit dan personal loan.  saat itu yang saya lakukan tetep tidak terpengaruh oleh permintaan ibunda yang meminta agar saya melamar pekerjaan sebagai karyawan swasta dengan bantuan adik ipar dan kakak sepupu saya yang masing-masing punya jabatan di perusahaannya masing-masing, yang jika saya mau pasti saya akan dapat pekerjaan dengan posisi yang lumayan ditempat kerja mereka.

walaupun duit cekak dan pas-pas-an saya malah ikut pelatihan entrepreneur. pelatihan yang hanya memakan waktu tiga buan itu,  pastinya tidak akan menghasilkan apa-apa  jika saya sendiri tidak mau berusaha setelah masa pelatihan berakhir.  selain semangat yang membara untuk berusaha sendiri dalam mencari uang. mindset dan pola pikir saya banyak berubah setelah ikut pelatihan itu. tapi bukan pelatihannya yang merupakan faktor terpenting dalam memperkuat jiwa kewirausahaan dalam diri saya melainkan pergaulan dengan kawan-kawan sesama alumni pelatihan itulah yang paling banyak membentuk kepribadian entrepreneur dalam diri saya.

walaupun ibu tidak terlalu setuju dengan apa yang saya lakukan tapi beliau juga tidak melarang. beliau tetap memberi kebebasan terhadap apa yag saya lakukan, walaupun lebih sering terucap kata-kata agar saya segera melamar dan mencari pekerjaan. sikap beliau yang setengah-setengah ini memang agak mengendurkan semangat saya. tapi lingkungan paling dekat dengan diri saya yaitu istri sangat mendukung tujuan saya untuk mandiri. oleh karenanya selama  kurang lebih setahun masa transisi saya,  dimana saat itu saya tidak punya penghasilan sama sekali, istri juga tidak ngomel, bahkan terus memompa semangat saya. istri saya juga yang saat itu memikul seratus persen beban dan biaya rumah tangga dari penghasilannya sebagai dosen.

tapi faktor terpenting dari lingkungan yang paling membentuk mental saya adalah teman-teman sesama alumni pelatihan. hampir setiap hari kami berkumpul dan berdiskusi, istilah kami dulu adalah ‘cankruan’ untuk membahas apa saja yang dapat mewujudkan cita-cita kami buat jadi pengusaha. sekali cankruan waktunya juga gak main-main kaena bisa berlangsung dari habis maghrib sampai menjelang subuh. pokoknya waktu saya saat itu,  benar-benar tercurah dan hampir setiap hari habis untuk cankruan.   tapi hasilnya bener-bener saya dapatkan, racun itu melekat kuat dalam jiwa saya.

yang paling melegakan istri mengerti dan sangat mendukung apa yang saya kerjakan saat itu, walaupun tiap hari cuman cankruan.

sekitar lima belas orang teman yang sering cankruan, lima tahun lalu bener-bener tidak punya bisnis atau sedang merintis bisnisnya.  masa itu kami sering dijuluki sebagai ‘gerombolan penganguran’ karena memang belum banyak yang bisa kami hasilkan dari apa yang kami rintis.   kalaupun sudah ada dan berbisnis pun belum banyak yang bisa dibanggakan walaupun sudah menghasilkan.

sisa dari gerombolan penganguran yang  masih bertahan sampai kini dan tidak tersandung masalah yang membuat mereka hilang dari peredaran, rata-rata kalo tidak bisa dikatakan seluruhnya saat ini sudah  berhasil menjadi entrepreneur beneran yang punya bisnis beneran yang sangat menghasilkan dan bisa dibanggakan, apalagi kemudian bisa memperoleh berbagai penghargaan  bisnis dari berbagai lembaga baik swasta maupun pemerintahan.

lingkungan petemanan inilah yang sangat membentuk jiwa kemandirian saya. andaikata saya tidak selalu terlibat aktif dalam kegiatan cankruan itu, mungkin saya juga sudah berhenti ditengah jalan dan bener-bener ngelamar pekerjaan lagi jadi karyawan.

kenapa sih kegiatan cankruan ini begitu menarik buat saya dan seperti bikin saya ketagihan. alasannya sangat sederhana, begitu banyaknya ilmu entrepreneur yang kami diskusikan sehingga  akhirnya bisa kami terapkan dalam praktek sehari-hari dengan resiko yang relatif minim, karena pasti sudah dilakukan oleh yang lebih senior sehingga kami tinggal mengulang dengan lebih sedikit resiko. sharing pengalaman dan berbagi solusi dari berbagai masalah bisnis yang kami hadapi tiap hari itulah yang biki ketagihan

kegiatan sehari-hari saya dalam aktifitas ‘gerombolan pengagur’ itu sangat tinggi sehingga bisa dibilang aktifitas harian saya adalah bergerak terus dalam setiap kegiatan gerombolan penganggur. akibatnya mental entrepreneur melekat kuat, karena selain mencari bisnis kami juga sering menjadi kompor pemanas yang memacu orang lain agar menjadi entrepreneur. perlahan tapi pasti karena kegiatan kami selalu didunia entrepreneur, satu persatu mulai menemukan bisnis yang sesuai dengan jiwa masing-masing, termasuk saya juga.

ligkungan pergaulan dalam gerombolan penganggur itu tidak hanya bikin kami masing-masing jadinya memiliki bisnis sendiri tapi juga bikin kami dikenal sebagai tokoh penggerak entrepreneur muda surabaya.  kami tergabung dalam komunitas surabaya entrepreneur club. sekitar tahun 2007-2008 nama-nama kami sangat dikenal. saat itu semua yang berkecimpung di dunia entrepreneur pasti tahu nama-nama seperti mudji harmanto, riano ‘rengoneng’, danton prabawanto, samurai,  dimas ‘bre’, agus ‘vitabean’, andi sufarianto, brian fauzan, bowo samiko, samsul ‘gendut’ dan beberapa lainnya.

sampai sekarang surabaya entrepreneur club (sec) masih melekat dalam benak orang surabaya dan sekitarnya walaupun komunitas ini sudah tidak terlalu aktif bergerak lagi. penyebabnya apalagi kalo para dedengkotnya sudah sangat sibuk dengan bisnisnya masing-masing yang terus berkembang atau ditambah lagi kesibukan menjadi ketua yang memimpin komunitas bisnis lainnya.

dari cerita diatas ada dua faktor yang membentuk saya menjadi seperti sekarang ini, yaitu sifat dasar dan lingkungan pergaulan. secara tidak terlalu formil dan secara iseng kita sering menilai sifat dan tindak tanduk serta lingkungan dari para dedengkot sec ini.  hasil evaluasi terhadap para dedengkot ini cukup menarik karena sifat-sifat dasar tadi dimiliki dan melekat erat dalam diri masing-masing dedengkot. sifat mana yang dominan memang berbeda di tiap individu, tapi tiga sifat dasar tadi rata dimiliki oleh anggota gerombolan penganggur.

kemudian kesamaan lingkungan juga ada pada diri saya dan teman-teman. jadi kalau kami tidak berkumpul bersama dalam gerombolan penganggur, maka orang-orang yang dekat dan menjadi teman bergaul kami  diluar sec juga dari kalangan pengusaha dan independen.

apa yang kami kerjakan juga tidak jauh berbeda satu dan lainnya,  selain bekerja  membesarkan bisnis  masing-masing. kami juga aktif dalam kegiatan penyebaran virus entrepreneur dengan cara  kami masing-masing dan sering tidak ada koordinasi antara kami satu dengan yang lainnya,  tapi karena sifat kegiatannya sama maka akhirnya saat dilapangan kami bertemu lagi.

akhirnya pada masa setelah lima  tahun merintis dan membangun bisnis masing-masing, ternyata hasil yang dimiliki oleh kami tidaklah jauh berbeda. prestasi kami hampir sama dan rata,  aset yang dimiliki juga begitu,  karena kami juga saling menjadadi kompor buat yang lainnya.  walaupun dibilang rata tapi tetap saja ada yang  melejit melebihi yang lain, itu benar-benar karena prestasi pribadi selain faktor modal dan financial yang lebih dari yang lain. kondisi seperi itu tetep tidak menimbulka gab diantara kami tapi lebih sering digunakan sebagai srana belajar dan pemicu semangat.

selain lingkungan pertemanan, lingkugan dalam juga sangat berperan penting dalam perklembangan saya dan teman-teman di sec. yang didukung seratus persen oleh pasangan dan orang tuanya akan melejit dan berprestasi jauh lebih unggul dalam perkembangan bisnisnya. yang hanya didukung oleh pasangan perkembangan bisnis bagus dan maju tapi tidak terlalu luar biasa,  yang terparah adalah yang tidak didukung pasangan dan orang tuanya sebagai entrepreneur, perkembangan bisnisnya lambat dan tersendat-sendat.

karena sampai saat ini sifat-sifat dasar itu masih saya miliki. dan saya juga telah  berhasil mencari lingkungan baru dari berbagai komunitas lain, yang tetep bisa membuat saya terpacu dan bersemangat. lingkungan itu tidak hanya dari yang sebaya tapi juga dari lingkungan yang beda usianya jauh dibawa saya. dengan beda usia yang mencolok itu justru saya bisa tetep menjaga motivasi dan adrenalin saya tetep tinggi sehingga saya selalu siap menghadapi apapun yang bakal terjadi dalam dunia entrepreneur.

Leave a Reply