ketika memberi lebih baik dari menerima

posted in: Entrepreneurship | 1

Sebagai seorang entrepreneur tindakan memberi adalah sebuah kewajiban yang indah, karena saat kita memberi maka tangan kita ada diatas dari pada tangan orang menerima pemberian kita. Selain itu dalam kehidupan sosial kita bermasyarakatpun dan dalam kondisi apapun memberi itu memang selalu lebih baik daripada orang yang diberi.

Tindakan memberi ini kedengarannya cukup sederhana dan simple tapi janganlah kita menganggap tindakan ini sebagai perbuatan yang remeh temeh. Tindakan memberi tidaklah semudah apa yang kita bayangkan. Dalam berbagai sudut dan pandangan pada kenyataannya tindakan memberi ini rawan sekali berlanjut menjadi perbuatan yang tidak pantas, bila kita tidak waspada maka kita bisa menjadi seorang yang bersifat sombong, angkuh bahkan menjadi otoriter. Spirit memberi kita sudah berubah dari sesuatu yang bersifat ikhlas menjadi sesuatu yang punya pamrih, ada keinginan tertentu dibalik tindakan memberi kita itu.

Iya sih memang dalam memberi pasti ada lah keinginan dalam hati ini, dalam memberi pastilah ada tujuan yang di harapkan, bahkan dalam kitab suci setiap agama pun tindakan memberi akan di beri ganjaran dari allah. Nah seringkali itulah yang kita harapkan, memberi dengan keinginan dan tujuan untuk mendapatkan pahala dari allah, semuanya sah-sah saja, walaupun saya sering kali gak setuju dengan faham yang sedang gencar di kampanyakan dimana-mana.

Sekarang ini sedang marak banget bahkan sudah menjadi trend dimana setiap orang bersedekah dengan membabi buta, harapan dari sedekah yang membabi buta itu adalah balasan dari allah berupa rezeki buat kita yang bersedekah, kelancaran bisnis dan jalan kita menuju kesuksesan dilapangkan oleh allah.

Kalo menurut saya memberi dalam bentuk apapun, bersedekah dalam bentuk apapun sangat baik tapi sebaiknya hanya buat kita sendiri hal itu dilakukan, orang lain gak perlu tahulah kita memberi atau tidak, toh kemampuan dan kemauan dari masing-masing dari kita berbeda-beda.

Kalo menurut saya lagi saat seperti ada sebuah teori yang bilang saat tangan kanan memberi tangan kiri kagak boleh tau, teori inilah yang saya anut selama ini. Saya memberi ya pada saat hati saya tergerak untuk memberi, jika hati saya tidak tergerak ya saya gak bakal memberi, walaupun orang terdekat saya memberi, jika hati saya gak tergerak saya gak bakal ikut memberi, tapi saya juga tidak pernah melarang untuk memberi.

Memberi ini berdasarkan hati gak bisa dipaksain, walopun sekarangpun ada teori yang bilang kalo mau memberi atau bersedekahpun gak harus ikhlas. Emang bener sih, memang dalam kondisi apapun saya merasakan saat saya memberi pasti rasanya berast sekali, saya gak pernah memberi dengan enteng.

Cuman bedanya jika saya memberi karena hati ini memang ingin memberi, yang terjadi adalah setelah sesuatu itu saya berikan pada orang lain maka saya akan langsung dengan mudah melupakannya, walopun ketika tangan ini memberikan sesuatu hati dan otak merasakan suatu perasaan yang berat untuk melepaskan.

Tapi jika saya memberi karena ada unsur himbauan atau saran yang gak mungkin saya tolak maka ketika tangan ini memberi dan proses beri memberi itu sudah selesai semuanya akan sulit saya lupakan. Rasa berat dalam hati dan otak itu lama hilangnya bahkan hilang muncul, begitu berulang kali.

Daripada memberi menjadi suatu hal yang menyebalkan pada diri saya, akhirnya saya tetep menggunakan perasaan saya sebagai patokan, ketika saya ingin saya beri dan ketika saya tidak ingin ya saya tidak berikan. Dan saya gak pernah peduli omongan orang lain terhadap kelakuan saya ini. saya ya saya sendiri bukan orang lain.

Sikap ini sering mendapat cemooh dari orang yang tidak sependapat dengan saya. Terlebih ketika saya mendapat musibah dulu itu, banyak yang bilang saya kurang memberikan sedekah atau kurang mengeluarkan bagian atau hak orang lain dalam harta saya. Saya tetep cuek saja. Saya tetep teguh pada prinsip saya, dimana pada saat itu yang tau kalo saya memberi atau tidak, cukup atau tidaknya yang saya berikan pada orang lain, hanya saya dan allah saja.

Saya juga diberi masukan dari senior-senior saya, bahwa ada juga yang patut juga kita perhatikan dalam tindakan memberi. Dalam memberi saya selalu diminta untuk belajar dan berusaha untuk selalu memberi apa yang sangat orang lain butuhkan. Pada prinsipnya dalam memberi juga harus mengetahui keinginan orang lain, keinginan orang yang ingin kita beri, sehingga pemberian itu benar-benar menjadi pemberian yang berarti. Dalam kondisi ini kita hanya cukup bila dapat memahami apa keinginan dari orang yang ingin kita beri sehingga kita dapat memberikan yang terbaik buat mereka.

Seringkali saya hanya melihat dari sudut pandang saya tentang kebutuhan dari orang yang mau kita beri, saya juga sering merasa mereka itu akan sangat senang dengan bantuan apapun yang saya berikan. Padahal itu semua belum tentu tepat, orang mau kita beri seringkali punya rencana-rencana tertentu dan berdasarkan rencana itu maka pembeian yang saya berikan jadi kurang berkenan di hati mereka walaupun tetep saja mereka gembira dan bahagia atas pemberian saya. Bila saya kenal sama orang yang mau saya beri biasanya saya disarankan untuk ngobrol dan berdialog dengan orang itu supaya saya dapat memahami apa keinginan yang ada dalam hatinya, supaya saya tau harapan-harapannya.

Paling gampang memang kalo memberi itu berupa uang, tapi berdasarkan teori diatas maka seringkali pemberian uang itu jadinya gak bermanfaat, kalo kita tau berdasarkan dialog yang kita bikin maka kita bisa mengganti pemberian uang itu menjadi berbentuk barang yang lebih bermanfaat. Siapa sih yang menolak jika diberi uang, gak bakal ada yang menolaknya, tapi pemberian uang itu seringkali malah bisa disalahgunakan pemanfaatanya oleh yang nerima.

Serba repot mungkin ya, jika memberi dengan harapan-harapan yang berlebih. Maka apapun teori yang ada saya selalu berusaha memberi bila hati saya tergerak dan saya gak pernah mikir lagi setelah memberi apakah yang kita berikan bener-bener bermanfaat atau kurang bermanfaat, atau tujuan kita memberi berbeda dengan tujuan mereka menerimanya.

Pokoknya menurut saya memberi ya focus pada tindakan memberi saja, yang lainnya urusan allah, itu saja cukup!!!

Leave a Reply