ketika anak-anak merasa di teror DC & kehilang sesuatu yang mereka miliki…

posted in: Entrepreneurship | 0

Anak belajar dari lingkungan hidupnya, jika anak selalu dihantui ketakutan maka ia akan selalu hidup dalam kecemasan. Sewajarnya sebagai orang tua selalu menjaga dan membesarkan hati anaknya supaya anak tumbuh sebagai pemberani.  Akan lain ceritanya dengan anak-anak pengusaha yang orang tuanya sedang mengalami permasalah dengan kondisi finansialnya.

Pada kenyataannya, seringkali para pengusaha tidak terlepas kehidupan dengan dunia perbangkan. Dalam dunia perbangkan biasanya situasi yang terjadi adalah dia selalu bersahabat ketika para pengusaha saat para pengusaha itu mempunyai  uang untuk diambil untung oleh bank, dalam hal ini biasanya bank memberikan modal dalam bentuk credit pada para pengusaha. Dan bank akan berubah menjadi sangat kejam bila pengusaha tersebut tidak mempuyai uang atau dalam situasi sedang mengalami kesulitan keuangan yang akan di gunakan untuk membayar berbagai kewajiban creditnya pada bank.

Pada saat itu biasanya bank akan mengutus kepanjangan tangannya yang kita kenal dengan istilah Debt Collector untuk melakukan penagihan, biasanya saat itu merupakan saat-saat teror bagi keluarga nasabah yang bermasalah terutama buat anak-anak dari nasabah tersebut.

Anak memiliki fantasi yang aktif dan rentan terhadap ketakutan, sebab bukankah ketakutan sering kali muncul dari sesuatu yang dibayangkan? Anak dapat membayangkan sesuatu yang mengerikan dari banyak informasi yang ditangkapnya bisa dari film yang ditontonnya atau buku yang dibacanya. Itu sebabnya, anak harus dilindungi dari kisah-kisah yang menyeramkan, sebab apa yang telah terekam akan sukar dihapus dari memorinya.

Ketakutan yang paling sering dihadapi anak-anak adalah takut berpisah, baik dengan orang tua ataupun barang-barang yang dimiliki.

Maka ketika debt collector datang dan kita sebagai orang tua mereka terlibat ardu argumen yang keras dengan para Debt Collector….ataupun ketika Debt Collector datang ke rumah dan berteriak-teriak pada orang tuanya, rasa takut yang menyerang anak-anak adalah takut bahwa mereka (Debt Collector) mengambil atau menyakiti orang tuanya….

Anak-anak kita akan merasa para debt collector itu datang dan Mengambil sesuatu yang anak-anak itu sayangi dari dari zona nyaman mereka…

Tugas kita sebagai orang tua terutama sebagai penyebab masalah ini adalah memberi tau anak tentang kondisi yang dia liat. Tak perlu kelewat detail seperti halnya profesor memberi kuliah. Tugas orang tua sebatas memahami ketakutan anak sekaligus membantunya merasa aman.

Jangan biarkan anak-anak terus menerus membicarakan rasa takutnya. Pun begitu juga menihilkan ketakutan anak justru akan membuat anak semakin takut dan bukan tidak mungkin akhirnya malah berkembang jadi phobia yang sulit diatasi. Tugas kita adalah untuk memahami sekaligus membantu anak mengatasi ketakutannya.

Selain memberi pemahan yang dapat dimengerti anak-anak, tidak kalah penting adalah sikap kita ketika harus berhadapan dengan Debt Collector. Ketenangan kita ketika harus berhadapan langsung membuat anak-anak yakin bahwa semuanya baik-baik saja. Kalahkan ketakutan anda maka anak-anak juga akan nyaman dengan penjelasan yang kita berikan.

Apa yang sebaiknya dilakukan kepada anak-anak kita ketika Debt Collector ini mulai menteror di rumah atau di lingkungan kita?

Yang terpenting mind set yang benar harus selalu dibangun dalam diri orang tua maupun dalam diri anak. Dalam diri orang tua haruslah ditanamkan keyakinan bahwa smua hutang akan bisa diselesaikan. Walaupun sampai kapannya ga jelas ga masalah yang penting pastikan anda akan membayarnya.

Jangan sekali-kali pernah berpikiran akan ngemplang atau mangkir mambayar hutang karena itu akan mempengaruhi kredibilitas orang tua di mata anak-anak, ingat perasaan anak-anak itu halus mereka akan merasakan, walaupun orang tuanya tidak pernah membicarakannya secara langsung terbuka.

Pada saat kita memberi pamahaman dan menenangkan anak kita dari ketakutan pasti akan terbaca oleh naluri anak-anak bahwa kita akan melakukan kejahatan tidak membayar hutang maka bukannya anak kita jadi tenang malah ketakutan itu benar-benar akan menjadi phobia.

Setelah kita berhasil mengubah mind set kita barulah kita menanta mind set anak-anak kita. Berilah pemahaman yang benar tentang hutang, resiko dan Debt Collector dengan benar.

Sebagai ilustrasi dibawah ini pertanyaan yang keluar dari pemikiran anak- anak usia 5 – 10 tahun :

Pada usia ini anak-anak mulai berpikir konkret, berpijak pada pengalaman akan benda-benda konkret, bukan berdasarkan pengetahuan atau konsep-konsep abstrak. Dengan pola pikir seperti itu maka anak akhirnya mampu menghubungkan sebab-akibat yang tampak secara langsung serta mampu membuat prediksi berdasarkan hubungan sebab-akibat yang telah diketahuinya.

Knapa sey mereka (Debt Collector) datang kerumah kita, mau ngapain, kok teriak-teriak?

Pertanyaan tersebut sebagai gambaran bahwa anak-anak melihat fakta segerombolan orang datang dan berbicara dengan suara yang keras maka reaksi orang tua ketika berinteraksi dengan situasi seperti ini akan terekam di benak anak-anak. Mereka akan mulai berpikir kira-kira apa yang telah terjadi dan apa yang akan terjadi……

…..kita bisa menjelaskan dengan logika sederhana yang runtun bahwa orang tua mereka adalah pengusaha untuk mengembangkan usaha perlu meminjam uang pada bank, karna pada waktu yang disepakati kita belom bisa membayar maka mereka meminta dengan cara seperti itu…..

Knapa kok ga dibayar aja biar pergi???…..

Logika sederhana mereka akan membuat hubungan sebab akibat, klo hutang menyebabkab mereka datang (Debt. Collector) menagih kenapa tidak dibayar saja biar mereka bisa merasa nyaman kembali.

Jelaskan bahwa kita akan membayar tapi blom sekarang karena sedang tidak punya uang, dan situasi ’tidak punya uang’ itulah yang akan kita sampaikan pada mereka (Debt. Collector)

Aku benci dan ga sukak sama mereka!!!!…..

Ketika debt collector dirasakan anak-anak sebagai penyebab ketidaknyamanan maka akan timbul kebencian pada object pembawa ketidaknyamanan. Adalah salah kalau kita juga menanamkan kebencian pada Debt Collector sebagai trouble maker karna kalau mereka nanti mengetahui kondisi yang benar kita sebagai orang tua akan kehilangan kredilitas di benak anak-anak

Jelaskan bahwa memang itu tugas mereka, seperti pemain sinetron ada tokoh yang jahat ada yag baik tapi yang jahat itu dalam kehidupan sehari-hari tidak jahat seperti itu.

Aku benci sama bapak karena ga mau membayar, bisanya minjam-minjam uang ga bisa bayar……

Karena anak-anak berpikir sebab akibat, maka mereka akan mencari penyebab atau pembuat akibat yang lain. Anak-anak menjadi berpikir tidak mungkin rasanya kalau Debt Collector sebagai penyebab ketidak nyamanan itu karna kita sebagai orang tua tidak membenci Debt Collector.

Akhirnya anak-anak menghubungkan semua situasi itu dengan apa yang pernah di lakukan oleh orang tuanya dengan bertanya, dari pertanyaan-pertanyaan yang anak-anak lontarkan dan jawaban yang di sampaikan oleh orang tuanya maka anak-anak akan membuat suatu kesimpulan dan kesimpulan itu bisa membuat perasaan maarah pada orang yang membuat kondisi mereka (anak-anak) menjadi tidak nyaman.

Jelaskan bahwa orang tua mereka adalah pengusaha dan salah satu resiko dari pengusaha adalah gagal dan kehilangan modal tapi smua bisa didapet lagi denga kerja keras……

Pertanyaan-pertanyaan tersebut akan terus diulang-ulang oleh anak-anak dengan gaya bahasa dan kalimat yang berbeda sampai mereka dapat memastikan kita konsisten dengan jawaban-jawaban kita, sehingga anak-anak merasa kondisi tersebut adalah hal yang biasa yang harus dihadapi oleh orang tuanya yang berprofesi sebagai pengusaha. Seiring dengan pemahaman mereka tentang hutang dan Debt Collector anak-anak akan merasa tenang bahwa semuanya akan baik-baik saja. Mereka tidak akan kehilangan apapun.

Akan sangat mungkin ketika peristiwa itu berlangsung orang tua berada dalam kesadaran yang tidak penuh sehingga tidak bisa menjelaskan secara  kronologis dan logis. Tidak masalah kalau tidak bisa menjelaskan dengan detil tapi harus tetap logis.

Yang penting harus Singkat dan Logis.

Biasanya jika anak tidak puas dengan jawaban yang di berikan oleh orang tuanya maka mereka akan bertanya terus secara berulang-ulang, dan seringkali pertanyaan-pertanyaan itu bikin kita kehilangan kesabaran sebab kita kan juga sedang berhadapan dengan permasalahan rumit dengan para Debt Collector.

Saat paling tepat memberikan penjelaasan anak adalah saat menemani mereka ketika anak-anak sedang berangkat tidur di malam hari. Sampaikan penjelasan kita seolah-olah itu adalah sebuah dongeng pengantar tidur, sampaikan dengan suara lembut sampai anak-anak tertidur.

Saat anak-anak tidur otak mereka secara tidak langsung akan mengolah dongeng pengantar tidur ‘spesial’ yang kita sampaikan. Dalam tidur, mungkin otak mereka akan lebih bisa mengolah penjelasan yang disampaikan itu secara tenang dan berdasarkan pengalaman saya, maka biasanya saat anak-anak saya bangun esoknya maka pertanyaan-pertanyaan ‘gawat’ itu tidak akan diulangi oleh anak-anak kami.

Berdasarkan pengalaman ini akhirnya saya menyimpulkan kalo anak-anak saya merasa nyaman dan merasa terjawab oleh penjelasan kami yang disampaikan sesaat sebelum mereka tidur, pada saat mereka merasa nyaman, santai mau beristirahat malam, rasanya anak-anak akan lebih mudah menerima penjelasan apapun yang saya sampaikan.

Oleh Dian Indriastuti,

Seorang Istri, Seorang Ibu, Seorang Pengusaha, Seorang Dosen dan Seorang Inttelektual peraih Gelar Magister Sains Dari Universitas Indonesia, serta kandidat Doktor Ilmu Komunikasi dari Universitas Padjajaran.