kejutan-kejutan menarik

seseorang yang sudah mempersiapkan suatu rencana pelarian bila terjadi sesuatu yang tidak beres dalam rencananya, pastilah akan segera dapat merasakan munculnya gejala-gejala negatif itu. saya rasa gak harus orang yang siap, mungkin setiap orang memang harus waspada dalam menjalani kehidupannya. karena memang terbukti hidup ini seperti bola, kadang diatas kadang dibawah, bila kita sering diatas alangkah bahagianya, yang sedih bila posisi kita sering di bawah.

sebagai penggemar sesuatu yang memacu adrenalin maka sewaktu lulus pelatihan entrepreneur, jalan yang paling extrim yang saya pilih. yaitu dengan jalan mencari kredit. saya sudah pernah kerja di suatu bank penerbit kartu kredit selama dua tahun di bagian collection atau penagihan, kemudian saya juga pernah kerja di perusahaan keluarga yang bergerak dibidang leasing elektronik. dimana inti usahanya adalah pemberian kredit dan penagihan, saya berkecimpung disini hampir lima tahun.

dengan pengalaman bergaul dengan kredit dan penagihan selama lebih kurang tujuh tahun, secara otomatis dan ini mungkin tidak saya sadari, naluri dan jiwa saya terasah disana. menghadapi konsumen yang kreditnya macet merupakan makanan sehari-hari. gejala awal mereka macet sampai berbagai cara yang dilakukan buat menagih mungkin sudah terpatri dalam otak ini.

itulah yang mungkin bikin saya mantab dengan jalur kredit saat membangun usaha lagi di tahun 2005. saya merasa sangat siap mental bila suatu saat menerima banyak uang dari kucuran kredit bank dan saya juga merasa siap bila suatu saat harus kehilangan semuanya bila bisnis saya gagal lagi. dengan kepercayaan diri yang tinggi karena mental sudah siap sayapun melangkah pasti.

langkah pertama dan terpenting menurut saya adalah mempersiapkan mental istri saya. bila mentalnya sudah sesiap saya dalam mengarungi bisnis baru ini, maka saya merasa tidak ada suatu kesulitan pun yang tidak bisa diselesaikan. semuanya akan lebih terasa ringan, karena kami akan menyelesaikannya secara bersama-sama dan bahu membahu dengan kompak.

karena kami sudah menyiapkan mental kami masing-masing terhadap segala sesuatu yang terjadi. maka lebih mudah buat saya saat menjelaskan ke istri bahwa kondisi keuangan kita sedang gawat. semakin lama semakin berkurang karena hampir tidak ada lagi kredit yang kita peroleh. dengan beban biaya operasional yang sedemikian besar, bila tidak ditopang oleh kucuran kredit baru jelas akan menghancurkan cash flow usaha kami.

pembagian tugas pun kami lakukan, sesuai dengan spesialisasi masing-masing. istri saya lebih pandai dalam penjualan sehingga segera bertindak dalam menjual semua aset kami. sedang saya lebih telaten sebagai operasional yang akan menhadapi semua penagihan dan sebelum itu terjadi akan menghubungi semua bank untuk meminta keringanan.

karena sudah pernah akrab dengan dunia penagihan maka saya sangat yakin tidak akan terjadi apa-apa. resiko terburuk yang bakal kami hadapi adalah kehilangan semua aset, masuk daftar hitam bank indonesia dan kehilangan rumah yang kami huni sehari-hari. buat saya semua aset itu hilang tidaklah menjadi masalah karena semuanya kita beli dari uang bank, tapi buat istri cukup berat. emosinya berada disana, dia inget saat-saat kami berburu, menawar dan membeli aset-aset itu. kenangan tersebut melekat erat dalam memori istri saya sehingga perasaannya cukup tertekan. tapi sebentar saja, karena dengan semangat bertahan dia langsung siap menjual semuanya demi mempertahankan minimal rumah tinggal kami dan mobilnya yang baru dibelinya.

saya bilang sama istri, yang jelas semua personal loan akan sengaja kita bikin macet dan tidak dibayar karena setiap uang yang dibayar sebagai angsuran tidak bisa diambil lagi. sedang kartu kredit tetep dibayar sampai suatu titik akan di blokir oleh bank karena personal di bank sama macet. istri setuju dan siap bakal direpoti oleh telpon-telpon dari bagian penagihan berbagai bank yang kreditnya kami macetkan.

personal loan mulai tidakkami bayar, kartu kredit dari bank danamon yang dimiliki oleh istri juga tidak kami bayar. hal itu kami lakukan karena istri awalnya punya empat kartu kredit dari danamon dengan limit kredit masing-masing dua puluh juta, jadi total limit dari empat kartunya adalah delapan puluh juta. tapi kemudian secara sepihak dan tanpa pemberitahuan terlebih dulu pada istri bank danamon menyatukan empat limit kartu kredit tersebut menjadi satu kredit gabungan dengan limit hanya dua puluh juta. kondisi ini pastinya sangat menjengkelkan kami karena semua pembayan akhirnya gak bisa kami ambil lagi. ya sudah bikin macet saja sekalian.

toko baju yang tadinya empat segera kami tutup dua outlet sekaligus. memang yang satu pas habis masa kontraknya sedang yang satunya kurang dua bulan masa sewanya. dari pada ngeluarin uang lagi untuk diinvestkan disana mending dipake buat mbayar sebagian angsuran. toh masih ada dua toko lainnya yang sangat bagus penjualannya. akibat penutupan dua toko saya pun terpaksa harus mengurangi jumlah karyawan. ini merupakan dampak yang paling tidak menyenangkan buat kami.

mobil apv yang kami miliki harus segera dijual karena sudah mendekati tanggal perpanjangan pajak, lagi pula hampir seluruh body mobil itu bermasalah, apakah penyok atau gores-gores karena pemakaian kami dan konsumen yang menyewa mobil tersebut. tentunya biaya yang akan segera kami keluarkan demi perbaikan apv akan besar. jadi gak ada pilihan selain dijual. beberapa teman yang bergerak dijual beli mobil saya hubungi, tapi apa daya harga tidak cocok. akhirnya saya hubungi teman baik sekaligus teman berkompetisi saya. sesuai dugaan dia pasti punya solusi dan betul, mobil langsung dibeli orang dengan harga sesuai kesepakatan.

yang lucu dan menarik saat saya jual mobil apv ini adalah, karena yang membantu mencarikan pembeli adalah sahabat sekaligus teman bersaing saya. beliau adalah orang yang sama, dengan orang yang dulu rajin ngomporin saya agar saya segera beli mobil baru, caranya beliau selalu memamerkan dan berceria tentang berbagai keunggulan dari mobil barunya,  yang jenisnya sama persis dengan yang saya miliki, hanya beda di warnanya. karena informasinya mengandung api itu akhirnya saya beli mobil sekitar dua minggu-an setelah teman tadi beli mobil. dan sekarang saya jual mobil juga lewat jasa teman tadi dan jaraknya hampir sama yaitu dua bulan setelah dia jual mobilnya dengan alasan yang juga sama, yaitu tidak bisa bayar kreditnya. menariknya lagi pembeli dari mobil-mobil kami juga sama yaitu sales yang dulunya menawarkan mobil tersebut agar kami beli. ternyata dunia itu sempit pikir saya.

saya minta pada sales tadi agar mobil jangan buru-buru dibawa karena saya ada janji untuk bertamu ke lamongan. si sales oke aja bahkan saya langsung diberi ikatan sebesar dua juta. dengan uang ikatan tersebut cukup bisa bikin saya lebih semangat buat datang ke leasing tempat saya mendapat kredit pembelian mobil. saya datang kesana hanya mengajukan permintaan keringanan, agar saya bisa meminta pengunduran  tanggal pembayaran tagihan yang jatoh temponya tinggal satu hari lagi. saya datang dengan percaya diri tinggi dan gagah karena merasa kegagalan bayar saya itu bukan karena keteledoran saya. saya gagal bayar karena baru dapat musibah, istri saya dirampok dengan nominal kerugian yang cukup besar. saya tambah yakin lagi karena ada surat polisi sebagai pendukung. tapi apa yang terjadi, tenyata semua dugaan saya sanat meleset, oleh leasing tersebut orang yang gak bisa bayar angsuran yang jatuh tempo dengan alasan apapun adalah salah dan layak dapat hukuman. disana saya, bukan hanya tidak mendapatkan  rasa  toleransi dan sikap ikut prihatin, tapi malahan saya ditakut-takuti dengan berbagai ancaman yang akan terjadi bila saya gak bisa bayar angsuran sesuai dengan tanggal jatuh tempo. telat satu hari dengan telat sebulan atau setahun atau bertahun-tahun rasanya sama saja batin saya. untung otak saya tetep jernih kalo gak pasti kunci mobil sudah saya lempar dan mobil saya serahkan langsung. sepertinya saya,  dianggap  sebagai anak kecil apa yang nggak tau apa-apa tentang kredit macet. untung saya inget masih punya janji dengan teman-teman di lamongan, jadi emosi saya tahan-tahan supaya gak sempet keluar.  ya sudahlah kalo gak mau ngasih keringanan, maka saya akan mencari keringanan sendiri versi saya. akhirnya memang mobil  apv hitam itu terjual dengan sempurna dan urusan saya dengan leasing selesai.

selesai satu masalah tapi masih banyak lagi masalah yang bakal muncul. langkah berikutnya saya datangi bank penerbit personal loan dan kartu kredit buat minta keringanan dan mengabarkan baahwa saya bakal jadi seorang yang kreditnya macet. ternyata hanya dua bank yang sempat saya datangi dan hasilnya mengecewakan sehingga saya menjadi malas untuk meneruskan perjalanan. dari dua bank tersebut hampir sama jawaban yang saya terima, yaitu tidak adanya keinganan karena saya masih dalam kategori nasabah sangat baik dan lancar yang pembayarannya tidak pernah telat dan  selalu full payment.  disini juga ada pengalaman yang sangat bikin saya sebal.  karna saya masih tergolong nasabah yang sangat baik maka tidak ada petugas bank di bagian collection yang mau keluar. mereka tidak bisa buka data saya di komputer mereka yang berisi data-data orang yang kreditnya macet. bukan hanya tidak bisa buka data dan tidak ada keringanan yang bisa mereka tawarkan, tapi mereka juga tidak mau keluar menemui saya hanya karena saya  bukan konsumen macet.  akhirnya setelah lama menunggu, saya ditangani oleh satpam penjaga pintu yang menjelaskan dengan terbata2 bahwa buat nasabah yang akan macet memang tidak ada prosedur keringanan. keringanan baru akan diberikan jika nasabah tersebut minimal sudah macet tidak ada pembayaran selama tiga bulan berturut-turut.

saya agak melongo juga, kaget denger keterangan itu. tapi memang gak ada pilihan lain, apalagi surat kepolisian pun gak bisa diterima, dan tidak punya pengaruh apa-apa walaupun  hanya untuk dimasukkan dlam note data saya di bank tersebut sebagai catatan yang memberi keterangan bahwa nasabah yang bersangkutan akan macet pembayarannya karena baru dapat musibah. dua bank memberikan keterangan yang hampir sama, bahwa tidak ada gunanya itikad baik yang akan melaporkan bakal macet dan tidak ada toleransi untuk itu, bahkan surat keterangan dari kepolisian pun tidak ada gunanya karena memang tidak bisa diapa-apakan. secara tidak langsung saya seperti disarankan untuk macet dulu tiga bulan, baru balik lagi untuk minta keringanan, bahkan yang ini tidak perlu surat polisi cukup surat keterangan dari kelurahan yang menyatakan nasabah macet karena penurunan perekonomian.

ya sudah, cukup dua bank saja dan saya tidak meneruskan ke bank berikutnya karena yakin pasti jawabannya sama. saya bener-bener harus gak mbayar dan membuat kredit saya macet beneran selama tiga bulan berurut-turut supaya mendapat perhatian. ini pengalaman baru buat saya. sewaktu kerja  di bank dulu saya ternyata lom dapat sesi entang ilmu sengaja gak bayar ini. tapi saya masih penasaran, lalu saya telpon teman-teman di jakarta yang dulu satu angkatan dengan saya, saat saya masih kerja di collection departemen suatu bank asing penerbit kartu kredit. teman-teman seangkatan ini sekarang sudah menyebar di berbagai bank penerbit kartu kredit dengan di berbagai posisi yang rata-rata strategis. saya telpon bukannya berniat minta tolong mereka. saya telpon mereka hanya untuk meyakinkan diri bahwa prosedur perlakuan kredit macet yang disampaikan ke saya itu tidak salah.  tepat seperti yang sudah saya duga, prosedur tersebut tidak salah. ya sudahlah, mungkin memang harus begini alur ceritanya. jadi sampai dirumah saya harus bikin target dan rencana yang bisa membuat macet pembayaran saya selama tiga bulan kedepan.

jadi saya masih punya waktu tiga bulan buat bernafas lega, paling selama itu hanya bunyi telpon yang setiap hari datang mengganggu karena minta kita segera  bayar tagihan.

sambil menunggu selama tiga bulan saya hunting teman-teman yang senasib denga saya. yaitu teman-teman yang kreditnya macet dan gak bisa bayar. hasilnya benar-benar diluar dugaan saya,  tidak ada  seorang pun teman yang sedang mengalami masalah.   luar biasa kaget saya menerima kenyataan yang menyatakan tidak ada seorang temanpun yang bernasib seperti saya.      menurut saya  ini  adalah  situasi yang tidak mungkin terjadi.   apakah saya yang terlalu guoblok sehingga menjadi satu-satunya yang gagal bayar  sedangkan teman-teman saya lainnya,  yang juga melakukan pola bisnis seperti saya lolos semuanya, dan tidak terimbas sama sekali, sebagai akibat sulitnya bank dalam pengucuran dana kedit. saya  gak yakin terhadap berita yang  saya terima.  yang saya yakin,  pasti ada teman yang juga kena dan senasib seperti saya. keyakinan saya ini disebabkab karena hanya saya yang paling hati-hati dalam mengelola uang dan hanya saya belajar banyak tentang berbagai ilmu kredit sehingga kredit yang daya peroleh itu bisa saya kelola dengan sangat baik. lebih yakin lagi, saat-saat masa saya berjaya di tahun 2008, hanya saya satu-satunya yang tidak pernah kekurangan uang, uang kredit saya selalu berlimpah dan selalu  siap  untuk diinvestkan. sedang teman-teman tetep sering kebingungan cari tambahan modal padahal baru dapat kredit.

pendekatannya langsung saya ubah, terhadap teman yang saya curigai bermasalah saya jadikan beliau nya tempat untuk bertanya dan minta saran. saya harus meletakkan posisi lebih rendah supaya saya bisa menarik perhatian dan simpati mereka.   lagi-lagi dugaan saya benar, beberapa teman memang lagi menghadapi krisis tapi tidak mau mengakuinya. saya gak peduli, yang penting saya jadinya punya teman senasib dan teman berbagi cerita serta berbagi solusi.

banyak masukan yang saya peroleh, ternyata di internet, google, tersedia banyak data tentang kredit macet. semua ada tinggal pilih sesuai kebutuhan kita. saya disarankan tetep menjalin komunikasi dengan pihak bank dan jangan sekali-kali menghindar supaya upaya keringanan bisa didapatkan. upaya keringanan juga banyak macamnya dan masing-masing bank punya cara yang berbeda. lalu yang terpenting jadikanlah debt collector sebagai teman atau sahabat disaat kita sedang menghadapi kredit macet, karena debt collector adalah orang yang paling tau solusi dalam masalah ini dari pengalaman hariannya. tidak baik menghindari debt collector dan menjadikan mereka musuh karena hanya akan menambah masalah baru. kalau mereka marah-marah ya kita harus jadi sesabar-sabarnya manusia karena memang kita layak dimarahi wong gak bisa bayar kredit.

banyak masukan berharga berdasarkan pengalaman pribadi dari teman-teman itu yan bikin saya tambah tenang dalam melangkah.

tetep ada berita menggembirakan disaat-saat kita sedang mengalami kesulitan. ternyata memang tidak setiap bank itu punya kebijakan yang sama. pada beberapa bank, dimana saya kenal lumayan baik dengan marketing yang dulu membantu saya dalam proses pencairan kredit, saya secara khusus menghubungi mereka dan melaporkan kondisi saya yang bermasalah. ternyatanya lagi tanggapan mereka cukup mengagetkan karena sangat berbeda dengan bank yang marketingnya tidak saya kenal.

karena kenal mereka sangat perhatian terhadap masalah yang menimpa saya dan berusaha sekuatnya untuk mencari solusi terbaik yang meringankan. dalam beberapa hari setelah saya laporan datang kunjungan dari petugas bank hanya menyapaikan rasa simpati dan prihatin mereka sambil berjanji mengupayakan jalan keluar buat saya. setelah pejabat bank itu datang disusul para marketing datang sambil menawarkan program keringan pada saya.

benar-benar luar biasa, banyak hal terjadi di luar perkiraan saya. ternyata bener, silaturahmi itu membawa berkah. saat bingung nyari kredit, para marketing adalah sahabat terbaik yang membantu mengupayakan segala cara agar saya bisa dapat kredit. nah saat saya macet pun mereka tidak berpangku tangan, sebelum debt collector datang menjadi sahabat baru saya, para marketing tetep memposisikan diri sebagai teman baik dengan tetep mengupayakan agar saya segera mendapat take over kredit dari bank lain.

tetep orang lain yang bekerja keras buat saya, saat saya dalam kondisi terpuruk atau saat saya dalam kondisi berjaya.

menyenangkan sekali!!!!

Leave a Reply