Kata Siapa Promosi Itu Sulit?

posted in: Entrepreneurship | 0

Promosi untuk lokasi yang gak strategis

Istri saya dapat bbm dari kawan satu groupnya yang isinya diminta kesediaannya untuk bersedia diikutkan semacam undian yang hadiahnya berupa 33 potong kue dari sebuah toko roti yang lagi naik daun namanya di Surabaya. Isi bbm itu menjelaskan kalo nanti setelah nama kita di kirimkan ke customer service dari toko roti itu, maka selang beberapa hari mereka akan menelepon ke nomor yang kita sertakan untuk mengkonfirmasi ulang kesediaannya untuk mengambil 33 potong kue dari toko roti itu. tentu saja tawaran tersebut nggak kami sia-siakan, kami langsung ikutan dalam undian tersebut.

Bener aja nggak lama kemudian ada telepon masuk ke nomor hape istri saya, ternyata dari customer service toko roti itu yang meminta istri saya datang ke tokonya sebelum batas maksimal pengambilan. Nggak ada syarat apapun saat mengambil 33 potong kue yang dihadiahkan kecuali mereferensikan 3-5 nama lagi yang akan di undi dalam undian berikutnya. Wah kok kayaknya enak banget ya undian ini, saya jadi makin penasaran aja dibuatnya sebab jarang-jaran ada undian dari toko roti apalagi undiannya berupa bagi-bagi roti secara cuma-cuma.

Segera saya dan istri datang ke alamat tempat toko itu berada, setahu saya di surabaya sudah ada 3 cabang dari toko roti tersebut. Rupanya cukup sulit juga mencari alamat toko mereka, setelah bertanya kesana kemari sampai jugalah kami ke salah satu cabang dari toko tersebut. Tempatnya cukup tersembunyi, bukan di jalan utama, jadi buat orang yang gak ngarti pasti kesulitan mencarinya, kami aja yang lumayan afal jalan di surabaya, sempat berputar-putar mencari.

Otak saya mulai berputar mencari benang merah dari tujuan undian toko ini.

Yang membuat saya mulai tertarik adalah ketika saya agak tersesat dan mulai bertanya pada tukang becak dan warung rokok, maka orang-orang yang saya tanya itu sigap menjelaskan arah toko roti itu secara lengkap, sepertinya mereka sudah  terbiasa menjelaskan pada orang yang bertanya, mereka fasih sekali dalam menerangkan arah-arahnya.

Tentu saja saya langsung bertanya pada mereka, “kok kayaknya sering menjelaskan arah toko roti ini ya” begitu pertanyaan saya pada mereka, dan mereka jawab sejak satu bulan yang lalu hampir setiap hari ada saja orang yang bertanya alamat toko roti itu dan dalam sehari yang bertanya bukan cuman 1-2 orang saja tapi cukup banyak. Wah, pantas saja orang-orang yang saya tanyain itu fasih dalam menjawab arah toko roti itu, ternyata mereka jadi hafal sebab banyak yang nanyain alamat toko roti itu karena tersasar saat mencarinya.

Balik ke toko roti lagi, emang tempatnya cukup tersembunyi, bukan di jalan utama walaupun jalan di depannya cukup gede bisa sampe 3 mobil bejalan bareng, lokasinya juga sebenernya nggak terlalu pelosok sih karena tepat di belakang sebuah toko buah ternama, cuman emang jarang-jarang ada yang ngelewatin jalan di depan toko roti itu, dan bener-bener bukan jalan utama.

Saya dan istri langsung masuk ke toko roti itu, istri saya menemui customer sevicenya sementara saya melihat-lihat aneka rori dan kue yang siap saji di meja display, menggiurkan banget wujudnya, menggoda mata untuk membeli. Saya nggak sendirian ada juga benerapa orang yang seperti saya melihat-lihat meja display, lantas comot sana comot sini, ditaru di nampan lalu dibawa ke meja kasir, ada juga yang comot lantas ditaruh dipiring trus langsung di santap. Saya hampir bertindak seperti mereka tapi tertahan sebab saya masih tertarik mengamati situasi di toko roti ini.

Saya intip istri saya, rupanya dia masih mengantri sebab si customer service mesih melayani beberapa tamu. Sepertinya para tamu ini datangnya juga seperti saya dan istri karena mendapat hadiah undian. Tiba giliran istri saya untuk ngobrol sama si customer service, sementara saya masih asik mengamati situasi, ternyata beberapa orang yang tadi comot sana comot sini itu gak sendirian, mereka datang bersama-sama dengan kawannya atau pasangannya yang menemui si customer service.

Rupanya godaan dari roti yang tersaji cukup kuat sehingga mata dari orang-orang yang menunggu ini tergoda, karena tergoda mereka pun membeli roti-roti yang membuatnya tergoda, mereka membelinya walaupun mereka tau kalo mereka dapat hadiah. Bukan itu saja, beberapa orang yang selesai bertemu dengan customer service, dan datang sendirianpun sempat tergoda juga oleh roti-roti yang tersaji itu dan merekapun membeli beberapa potong.

Menarik juga fenomena ini, cukup menggangu otak saya dan memaksa otak ini untuk berpikir. Pertanyaan di otak saya baru terjawab, setelah istri saya keluar dan mengajak saya pulang, saya jadi tambah heran kok dia ngajak pulang padahal dia gak bawa 33 potong roti yang di janjikan sebagai hadiah.
Menurut istri saya 33 potong roti yang menjadi hadiah itu harus dipesan dulu nggak bisa serta merta di bawa pulang saat itu juga. Dan pemesanan hari ini baru bisa diambil besok harinya mulai jam 7 pagi.

Nah mulai deh kejawab kenapa kok pada tertarik untuk beli produk roti yang di pajang itu, walopun bentuknya menarik tapi mestinya pada bisa menahan diri donk untuk gak beli, kan mau dapat hadiah 33 potong roti.

Jadi selain lapar mata yang membuat mereka beli roti untuk di bawa pulang ada dukungan kondisi pula yang membuat mereka bener-bener harus beli roti itu saat lapar mata, kondisi itu adalah si konsumen mesti kembali lagi besok untuk mengambil roti yang dijanjikan sebagai hadiah, sementara konsumen seperti saya pasti sudah berharap langsung membawa 33 potong roti hadiah itu hari itu juga setelah datang ke toko roti ini.

Karena ada harapan yang gak terpenuhi, yaitu pulang dengan membawa 33 potong roti apalagi display roti-roti di meja pajang begitu menggoda dan membuat mata ini menjadi ‘lapar’ maka kebanyakan dari pemenang undian itu pulang dengan membeli produk toko roti itu dan besok kembali lagi untuk mengambil hadiahnya. Mmmm lumayan juga, jadinya ada omset setiap harinya, padahal kalo nggak dengan cara ini belum tentu ada yang datang kesitu belanja roti disana.

Saat berkendara pulang istri saya bilang ada persyaratan yang harus dipenuhi saat mau mengambil ke 33 potong roti hadiah itu, yaitu harus mereferensikan 3-5 nama lagi untuk diundi oleh toko roti itu. Wah, itu berarti omset berkesinambungan donk, begitu pikiran saya berkata, sesaat setelah istri saya selesai bercerita tentang percakapannya dengan customer servise toko roti itu.

Singkatnya kami keesokan harinya datang lagi jam 7 pagi untuk mengambil 33 potong roti hadiah yang kami pesan. Mereka sudah menyiapkan tepat pada waktu yang sudah kami sepakati bersama. Rotinya enak, sesuai dengan tampilannya yang menggoda, dan sepertinya kami akan pesan roti disana lagi jika memerlukannya dan akan mereferensikan kepada orang lain jika ada yang bertanya pada kami tentang toko roti yang oke di surabaya.

Promosi yang mengena bener ke kami. Dari pengalaman dengan toko kue itu saya jadi dapat ilmu baru tentang tehnik promosi.

Dengan cara referensi dan undian ini jadinya semacam promosi dari mulut kemulut. Biaya mungkin sama aja gedenya atau mungkin lebih gede di bandingkan sebar brosur atau pasang iklan di koran tapi saya rasa kalo sebar brosur atau pasang iklan di koran belom tentu langsung kena ke segmen pembeli langsung atau yang biasa di sebur end user.

Dengan cara undian dengan iming-iming hadiah ini maka yang namanya terdaftar dan di konfirmasi otomatis akan datang ke toko untuk mengambil hadiahnya, walaupun belum tentu namanya diundi karena bisa saja memang di istilahkan sebagai undian tapi nama yang masuk pasti akan dapat undian.

Dengan banyaknya orang yang datang, maka tempat tersembunyi atau tidak strategis bukan lagi masalah, sebab karena banyak yang mencari dan bertanya maka orang-orang yang ditanyai secara otomatis bisa menjadi semacam petunjuk yang nggak perlu dibayar lagi, lagian kalo orang yang ditanyai fasih dalam menjelaskan sering timbul kesan pada yang bertanya, “wah ternyata lokasi itu terkenal juga ya…”

Dengan banyaknya orang yang datang, toko yang letaknya gak strategis bisa menjadi ramai, karena biasanya jarang-jarang ada konsumen yang datang sendiri dalam mencari alamat yang tidak dipahaminya. Secara nggak langsung calon konsumen jadinya bertambah minimal 1 orang, yaitu rekan dari orang yang namanya dapat hadiah.

Dengan datangnya konsumen karena iming-iming hadiah maka konsumen dan bisa jadi konsumen plus 1 orang kawannya akan tergoda oleh aneka roti yang tersaji dimeja display. Sajian aneka roti akan bikin konsumen dan kawannya jadi ‘lapar mata’ dan bisa tergoda membeli.

Dengan menyatakan pada konsumen bahwa hadiah harus dipesan dulu, secara gal langsung bikin konsyumen jadi ‘kecewa’ sebab harapannya untuk pulang membawa hadiah harus tertunda. Nah kekecewaan konsumen itu bisa terlampiaskan dengan membeli aneka roti yang ada di display pajang yang memang sejak konsumen datang sudah dibikin sedemikian rupa untuk membuatnya ‘lapar mata’. Jika konsumen membeli itu artinya omset, dan jika ada yang beli akan menarik minat orang yang ada disekitar situ yang sedang menunggu jadi ikut-ikutan membeli dan itu artinya omset ganda.

Dengan rasa yang enak, tampilan yang menggoda serta pengalaman ‘menang undian’ dan dapat hadiah, bisa bikin konsumen ‘nggak gampang’ melupakan pengalamannya itu. Mulai dari mendapat undian, tersasar dalam mencari alamat, kecewa dan terpaksa balik lagi untuk mengambil hadiah, mereferensikan kawan dekatnya untuk dapat undian dan akhirnya menikmati kelezatan rasa merupakan serangkaian pengalaman yang tidak gampang di lupakan.

Dengan pengalaman berkesan yang menyenangkan akan membuat konsumen secara sukarela mereferensikan toko itu kepada siapapun yang membutuhkan saat di tanya ataupun jika tidak ditanya oleh orang lain. Dan ini berarti promosi gratis yang penuh semangat.

Ternyata promosi gak hanya sebar brosur dan iklan di koran aja kan…

“inspirasi cerita dari LARITTA, traditional snack and bakery shop”