kasian deh lu….

suatu malam saya kedatangan tamu, seorang marketing dari sebuah bank swasta yang sudah membantu saya mendapatkan kredit, gak banyak kok kredit yang saya peroleh dari bank itu, cuman 425jt. tapi jumlah itu gak penting yang lebih penting adalah cerita dia pada saya tentang kinerjanya. dia cerita dalam tahun 2009 ini karena adanya krisis yang menimpa dunia dan berimbas pada dunia pemberian kredit, termasuk pada bank tempat dia bekerja. akibat dari krisis tersebut, permohonan kredit yang diajukan nasabahnya menurun sehingga berakibat pada omset yang melorot. karena pemberian kredit yang terus melorot pada nasabahnya, maka bank tersebut berusaha memacu karyawan-karyawannya terutama bagian marketing untuk berlomba-lomba mencari nasabah yang mau mengajukan kredit. iming-iming yang diberikan oleh bank tersebut pada karyawannya adalah bila seorang marketing memperoleh penjualan kredit tertinggi diwilayahnya, disini wilayah surabaya, gresik dan sidoarjo, secara komulatif selama periode kerja tiga bulan-an maka dia akan memperoleh bonus berupa insentif sebesar dua juta rupiah.

akibat iming-iming bonus itu maka teman saya ini rela bekerja luar biasa ektra keras, pergi pagi-pagi dan pulang diatas jam sembilan malam, ini sudah dilakukan selama tiga bulan, sehingga dia adalah kandidat terkuat juara pertama, dan omsetnya saja sampai perengahan bulan sudah 600 juta lebih.

saya terperangah mendengar ceritanya…

buat nyari duit dua juta saja dia rela pergi pagi dan pulang malam hampir tiap hari selama tiga bulan termasuk hari sabtu dan minggu meninggalkan anak dan istrinya. mending kalo duit dua juta itu diperoleh setiap bulan, lha ini per tiga bulan sekali.

gileeee, hebat luar biasa….

betapa bahagianya teman tadi bila dapat dua juta rupiah, tapi yang lebih bahagia adalah bank tempat dia kerja, hanya dengan pancingan bonus sebesar maksimal 2 juta saja bisa bikin rata-rata karyawannya kerja gulung koming setiap hari selama tiga bulan. bisa diitung kan omset bank tadi, bila seorang karyawan seperti teman tadi dapat minimal 600 juta dikali berapa tenaga marketing dari setiap cabang dikali jumlah cabang diwilayah itu dikali tiga bulan.

padahal teman saya itu hebat lho, dia punya kemampuan luar biasa dalam mencarikan uang buat orang lain. dan uang yang dicarikannya itu jumlahnya gak main-main, bukan jumlah yang recehan. itu yang bikin saya heran, dia mau-maunya bekerja keras buat orang lain untuk penghasilan yang jumlahnya tidak seberapa.

saya pernah bertanya padanya tentang kemampuannya itu, kenapa kemampuannya yang luar biasa itu tidak digunakan untuk mencari uang buat dirinya sendiri. apa dia tidak sadar akan kemampuannya itu. dia menjawab sebenarnya dia sadar terhadap apa yang dia kerjakan selama ini. dia sadar akan kerja kerasnya, sadar akan hasil yang diperolehnya dan sadar akan berapa besar uang yang diperoleh nasabahnya atas bantuannya itu.

trus saya tanya lagi, “kalo kamu sadar kenapa kamu gak bikin usaha sendiri saja trus nyari pinjaman yang banyak ke bank, padahal kamu toh sudah sangat paham terhadap cara-caranya?” dia cuman bilang kesaya bahwa dia gak tau cara muter duit itu, dan karena dia gak tau dia gak berani melakukannya. dia hanya berani melakukan yang pasti-pasti saja walaupun harus kerja keras dan hasilnya sedikit.

teman saya itu gak berani bertindak, dia tidak berani melakukan resiko terhadap hal yang dia tidak tau. ini aneh banget menurut saya. teman tadi itu, karena jago mencarikan pinjaman ke pengusaha maka dia punya banyak relasi pengusaha. apalagi teman tadi itu selalu membina hubungan baik dengan nasabah-nasabah yang pengusaha sehingga terjadi hubungan yang akrab, seperti pertemanan antara saya dan dia. karena akrab, maka relasinya yang pengusaha, tidak segan-segan berbagi cerita tentang bisnis, tentang peluang-peluang ada, tentang solusi bila ada masalah. bahkan seringkali ada yang menawarkan akan membantu membinanya bila dia membuka usaha.

penawaran demi penawaran di perolehnya, support juga didapatnya. tapi tetep aja teman tadi gak berani bertindak gak berani berubah haluan, dan tetap dengan alasan dia gak bisa dan gak mengerti cara-caranya. ini yang juga bikin saya heran, dulu sebelom dia jadi marketing berprestasi seperti sekarang dia toh juga memulainya dari gak bisa, dari sulitnya mencari nasabah pertama yang mau ngambil kredit darinya. kondisinya sama, saat awal bekerja dia mulai dari gak bisa plus menerima resiko gak diperpanjang masa kerjanya bila target omset gak masuk. nah sekarang bila memulai usaha dia juga sama seperti dulu, mulai dari gak bisa dan tetep punya resiko yang sama kehilangan penghasilan bila terget omset gak masuk. semuanya sama, tapi dia tetep gak mau berubah. dia tetep merasa nyaman dengan kerja kerasnya yang dilakukan tiap hari hanya demi kepastian penghasilan.

emang sih tiap orang berhak bertindak sesuai dengan kenyamanan yang sesuai menurut diri masing-masing. tapi mestinya kita juga harus nyadar terhadap potensi diri yang dimiliki. karena tiap orang emang punya potensi, hebat tidaknya suatu potensi tergantung dari diri orang itu sendiri mau mengasahnya atau tidak. trus kalo sudah nyadar tentang potensi yang dimiliki kenapa harus memilih peluang buat memperkaya oran lain kenapa gak memilih peluang buat memperkaya diri sendiri.

seberapa besarnya penghasilan yang diberikan oleh orang lain pada diri kita, pasti lebih besar penghasilan orang yang memberi tadi, besarnya bisa berlipat-lipat, bisa puluhan bahkan ratusan kali lipat. dan itu semua karena kerja keras kita buat mereka.

asyik kan……..

Leave a Reply