jual diri

tidak ada sama sekali keinginan saya bila setamat kuliah nantinya akan bekerja menjadi sales, marketing atau apapun yang berbau menjual. saya merasa diri saya ini gak ada bakat sama sekali buat jualan. ngomong aja sulit boro-boro menawarkan sesuatu buat dibeli orang lain.

karena merasa gak bakalan mampu menjual makanya kemudian saya gak pernah berpikiran sama sekali tentang penjualan dan belajar tentang menjual sesuatu. apalagi latar belakang pendidikan saya adalah lulusan fakultas hukum di salah satu universitas swasta di jawa tengah.

setelah kuliah, saya bekerja di salah satu bank swasta asing dan ditempatkan dibagian menjualan. saya bersyukur lagi karena tidak harus jualan selama bekerja.

karenanya selama kehidupan pergaulan di kampus saya pun saya juga gak pernah jualan apa-apa. saya hanya bergaul dengan teman-teman sekos atau seangkatan saja. sampai akhirnya saya belajar buat pacaran dibawah bimbingan seorang teman baik.

selama melakukan pendekatan dengan cewek itu yang saya lakukan adalah memperkenalkan diri kemudian berusaha membuat hubungan semakin akrab antara saya dengan dia. cara yang saya lakukan adalah memberi perhatian, berusaha memahami segala sesuatu tentang sifat dan kebiasaan cewek saya itu, memberi hadiah, bahkan ngajak makan atau ngajak nonton.

saya berusaha sesering mungkin ngobrol dengan dia, saya berusaha bercerita apa saja. semua hal saya bikin menjadi bahan ngobrol, selain berusaha mengenal cewek saya itu. saya juga berusaha memperkenalkan diri saya padanya. saya cerita semua hal mengenai diri saya, pastinya yang saya ceriakan adalah semua hal yang baik dan positif. gak mungkin donk saya cerita tentang sisi jelek saya sama cewek saya itu.

saya cerita tentang hobi saya, saya cerita tentang orang tua dan adik-adik saya. bahkan teman-teman di kos atau teman main saya juga ceritakan sama dia. pokoknya saya berusaha ceritakan semuanya.

suatu hal yang sangat sulit, saat saya berusaha bercerita tentang diri saya sama cewek tadi. lebih sulit lagi saat saya harus memperkenalkan diri sama ibunya terus harus beramah tamah dengan adik atau kakak cowoknya. luar biasa beratnya pekerjaan itu. berusaha ngobrol dengan anaknya saja sulit, lha kemudian ditambah kesulitan tingkat tinggi ngajak ngobrol ibunya, kakak dan adiknya. apalagi saya juga harus berusaha bersikap sopan dan manis didepan mereka. intinya sama juga berusaha memperkenalkan semua kebaikan yang saya miliki supaya mereka memperbolehkan saya berpacaran.

memperkenalkan diri pada orang laing yang asing sungguh suatu yang berat dan sulit. tapi saya harus melakukannya karena saya punya tujuan pingin pacaran.

setelah bekerja dan semakin punya banyak teman cewek dan semakin menggebu-gebu niat saya buat pacaran maka semakin sering saya harus berkenalan sama cewek baru, ngajak ngobrol, becerita yang baik-baik tentang diri saya, berkenalan lagi dengan keluarga sicewek yang sedang saya incer. semakin sering saya pacaran semakin lincah jadinya saya berbicara tentang diri saya. yang tadinya bisa menghabiskan waktu berkali-kali apel baru si cewek terbuka dan menerima saya menjadi pacarnya. lantas karena sudah semakin terbiasa dan berpengalaman, saya jadi lebih mudah buat mbikin cewek itu suka dengan saya. bahkan sering juga terjadi hanya dengan dua kali apel saja, si cewek langsung klepek-klepek dan mau pacaran sama saya.

begitu juga saat mengambil hati ibunya, atau kakak cowoknya atau adeknya, semakin sering diasah kemampuan nge-gombal saya semakin lebih mudah saya mengambil simpati mereka. gak cuman dengan ngajak ngobrol saja, saya juga sering membawa makanan kesukaan mereka saat apel atau saat main kerumah cewek saya. berbagai cara saya lakukan supaya saya bisa pacaran.

ternyata tanpa saya sadari saya melakukan hal yang selama ini saya anggap saya tidak mampu melakukannya. tanpa sadari saya melakukan hal yang selama ini saya hindari. tanpa saya sadari ternyata saya berjualan!

setelah saya pikir-pkir dan saya renungkan lagi, apa yang saya lakukan dalam berkenalan dengan cewek, ngajakin ngobrol si cewek dan keluarganya. berusaha memahami mereka, hingga berusaha memperkenalkan semua kebaikan saya kepada mereka. saya kemudian berkesimpulan bahwa semua tindakan saya dalam mengambil simpati pacar saya dan keluarganya itu sama seperti kalo saya sedang menawarkan barang ke konsumen.

kalo saya liat, dalam kasus saya nyari pacar ini, barang yang ditawarkan adalah diri saya sendiri. saya berusaha menjual diri saya buat menarik simpati sicewek agar mau pacaran saya saya, agar mau jalan sama saya. dan saya merusaha menarik simpati ibu si cewek agar mengijinkan saya ngajakin anaknya jalan, agar mengijinkan saya ngapel berlama-lama bahkan kadang sampai larut malam

kalo saya berhasil membuat cewek kecengan saya itu akhirnya menerima diri saya menjadi pacarnya, dan kalo saya berhasil minta ijin ke orang tua pacar saya buat ngajakin anaknya jalan-jalan saat ngapel di malam minggu. secara tidak langsung menurut versi saya, sama saja dengan keberhasilan saya dalam menjual suatu barang di bisnis saya.

dalam berbagai teori penjualan yang saya pelajari dari buku dan literatur. dikatakan bahwa kalo saya mau menjual sesuatu ke konsumen maka saya harus bisa menarik simpati dari konsumen. banyak cara yang bisa saya dilakukan seperti mengajak konsumen ngobrol berbicara tentang berbagai hal, memahami kebutuhan si konsumen, mencerita tentang keunggulan barang yang mau dijual dan berbagai macam trik lainnya.

nah apabila si konsumen sudah mau ngobrol dengan saya, trus apabila saya sudah bisa membuat calon konsumen itu memperhatikan barang yang saya tawarkan maka kebehasilan saya sudah diambang pintu. dengan kondisi seperti itu maka jelas konsumen sudah tertarik pada produk saya. dan saya akan berhasil dalam penjualan bila akhirnya konsumen membeli barang yang saya tawarkan padanya.

saya sama sekali tidak menyangka kalau dalam kehidupan saya bersosialisasi, dalam kehidupan saya berpacaran ternyata secara tidak langsung mengasah kemampuan saya dalam berjualan. saat saya nyari pacar sama dengan saya nyari konsumen, saat saya bercerita tentang kebaikan diri saya sama dengan berpromosi dan menawarkan barang dagangan saya. saat saya berkenalan dengan cewek sama saat saya memberi tahu pada konsumen bahwa saya punya sesuatu yang bisa mereka beli. dan saat cinta saya diterima sama seperti saat konsumen membeli barang dagangan saya.

masih ada kesamaan yang lain seperti saat saya nratir makan seorang cewek atau ngajakin nonton itu juga bisa diartikan sebagai proses bernegosiasi. saat saya member hadiah atau membawakan makanan kesukaan si cewek atau keluarganya seperti saat saya memberikan service dan pelayanan yang terbaik pada konsumen saya.

saat saya ditolak dalam melakukan pendekatan pada seorang cewek rasanya juga sama sebelnya jika konsumen tidak jadi membeli dagangan saya. saat saya merayu pacar saya supaya gak marah lagi bila saya berbuat salah seperti saat saya merayu pembeli yang sedang kebingungan hendak memutuskan jadi membeli atau tidak.

saya akhirnya bersyukur bahwa saya banyak punya pacar, banyak berjuang dalam mencari cewek buat dijadikan pacar. sehingga sekarang saya merasa menjadi seorang marketing jempolan yang selalu sukses dalam memenuhi target pejualan. semangat ini yang saya pakai terus saat saya berjuang dalam memasarkan produk-produk bisnis saya.

Leave a Reply